Pasar modal (capital market) dipandang sebagai salah satu elemen penting dan tolak ukur kemajuan perekonomian pada suatu negara. Salah satu ciri-ciri negara industri maju maupun negara industri baru adalah dengan adanya pasar modal yang tumbuh dan berkembang dengan baik.
Pasar modal juga bisa dijadikan sebagai sarana untuk mengundang masuk investor asing dan dana-dana asing guna membantu kemajuan perekonomian negara (Iswi & Dibyo, 2010).
Pasar modal juga didefinisikan sebagai pasar ekuitas dengan masa pengembalian pinjaman lebih dari satu tahun, berbeda dengan pasar surat berharga yang lain dengan masa pengembalian jangka pendek, yaitu kurang dari satu tahun seperti pasar uang (Jogiyanto, 2008). Pasar modal menjembatani pihak yang memiliki kelebihan dana untuk menginvestasikan dananya dengan return yang lebih besar daripada menyimpan dananya di bank dan pihak yang membutuhkan dana untuk mengembangkan bisnisnya dengan sistem pengembalian jangka panjang, sehingga menjadikan pasar modal memiliki peran yang penting untuk pengembangan perekonomian di seluruh dunia.
Keadaan pasar modal di suatu negara menggambarkan kesehatan serta pertumbuhan ekonomi yang telah berlangsung di negara tersebut. Saat
kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dan kondisi negara tersebut bagus pada sudut pandang investor, biasanya harga-harga saham akan meningkat, kondisi tersebut tentunya akan meningkatkan nilai indeks harga saham gabungan dari negara tersebut, tetapi apabila kondisi perekonomian negara tersebut sedang buruk, biasanya harga saham negara tersebut akan terpuruk juga. Oleh karena itu suatu negara akan melakukan berbagai macam usaha untuk meminimalisasi risiko yang ada serta mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki. Salah satu usaha yang dilakukan adalah integrasi ekonomi terutama pasar modal yang memberikan gambaran kegiatan pasar yang sebenarnya terjadi.
Dengan adanya integrasi pasar, suatu informasi akan datangnya krisis keuangan pada suatu wilayah, akan berimbas kepada wilayah lainnya. Krisis keuangan global yang terjadi di suatu negara maju dapat mempengaruhi negara lainnya terutama dalam kaitannya dengan pasar modal. Hal tersebut terjadi dikarenakan adanya efek penularan sehingga banyak investor yang menarik kembali investasinya karena tidak ingin merugi. Hal ini merupakan salah satu dari proses terciptanya integrasi pasar modal. Integrasi satu pasar modal dengan pasar modal negara lain dapat dilihat dari spillover effect yang terjadi ketika adanya shocks yang melanda satu pasar dan berdampak pada pasar lainnya (Kim & Lee, 2012).
Salah satu kejadian yang menjadi highlight bagi pasar saham dunia adalah terjadinya krisis ekonomi global di Amerika pada pertengahan tahun 2007 dan memuncak pada September tahun 2008. Amerika sendiri
merupakan negara maju dengan ekonomi terbesar di dunia dengan nilai PDB sebesar USD 21,2 Triliun (International Finance Statistics, 2020) pada akhir tahun 2020. Sebelum terjadinya krisis tersebut, pertumbuhan perekonomian ekonomi Amerika Serikat cenderung stabil dan menyebabkan tingkat pengangguran serta inflasi di Amerika rendah. Pada tahun 2007, tingkat pengangguran di Amerika Serikat sebesar 4,4% dengan tingkat inflai 2,1%. Sedangkan saat terjadinya krisis di tahun 2008, tingkat pengangguran di Amerika Serikat meningkat menjadi 6,8% dengan tingkat inflasi sebesar 5,6% (International Finance Statistics).
Krisis yang terjadi di Amerika Serikat tersebut diawali oleh kredit macet perumahan (subprime mortgage) yang membuat jatuhnya perusahaan sekuritas besar dunia Lehman Brothers. Saham-saham perusahaan dotcom yaitu perusahaan yang menjalankan sebagian bisnisnya di internet seperti Amazon, Amcy, E-loft dan sebagainya mengalami kolaps, sehingga perusahaan-perusahaan yang menerbitkan saham tersebut tidak mampu membayar pinjaman ke bank. Untuk mengatasi hal tersebut, The Fed (Bank Sentral AS) menurunkan suku bunga. Suku bunga yang rendah tersebut dimanfaatkan oleh para perusahaan developer dan perusahaan pembiayaan perumahan. Rumah-rumah yang dibangun oleh developer dan dibiayai oleh perusahaan pembiayaan perumahan tersebut adalah rumah-rumah murah yang kemudian dijual kepada masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak memiliki jaminan keuangan yang memadai (Humas Bank Indonesia, 2010).
Kejadian itu membuat nilai saham perusahaan-perusahaan tersebut runtuh, karena bank menghadapi gagal bayar dari para debiturnya (developer dan perusahaan pembiayaan perumahan). Berikut merupakan pergerakan dari Indeks National Association of Securities Dealers Automated Quotations (NASDAQ) yang merupakan salah satu indeks acuan yang menjadi indikator utama dari pergerakan pasar saham di Amerika dari tahun 2008 hingga 2020.
Gambar 1. 1 Pergerakan Indeks NASDAQ (Sumber: Investing.Com )
Dari Gambar 1.1 dapat dilihat bahwa Indeks NASDAQ menunjukkan penurunan pada saat krisis subprime mortgage terjadi, yaitu pada bulan kedua tahun 2009 dengan nilai 1377,84. Kemudian setelah tahun 2009 sampai dengan 2020 mengalami tren peningkatan yang baik.
Penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli sebelumnya menunjukkan bahwa perekonomian suatu negara akan dipengaruhi oleh perekonomian negara lain. Terutama pada perekonomian negara maju akan cenderung dapat mempengaruhi perekonomian pada negara-negara lain. Contohnya
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000
2008M01 2008M07 2009M01 2009M07 2010M01 2010M07 2011M01 2011M07 2012M01 2012M07 2013M01 2013M07 2014M01 2014M07 2015M01 2015M07 2016M01 2016M07 2017M01 2017M07 2018M01 2018M07 2019M01 2019M07 2020M01 2020M07
pada krisis yang terjadi dapat membawa efek positif maupun negatif bagi negara lain. Selain itu, krisis juga dapat membawa pengaruh jangka panjang ataupun jangka pendek terhadap perekonomian negara yang berada disekitarnya.
Meluasnya krisis ekonomi global merupakan salah satu contoh dari resiko integrasi pasar modal yang terjadi di dunia. Berdasarkan penelitian terdahulu yang telah dijelaskan sebelumnya, dampak dari krisis subprime mortgage di Amerika membuat lembaga pada pasar modal dunia mengalami penurunan, tidak terkecuali harga saham pasar modal pada negara-negara di Asia. Negara-negara di Asia sendiri memiliki status ekonomi serta pengaturan peraturannya yang unik, jika dilihat dari perpekstif global Asia dianggap penting karena Asia terdiri dari beberapa pasar saham terbesar yang ada di negara maju dan berkembang (The WFE Statistics Team, 2016).
Pada tahun 2007, para pimpinan negara anggota ASEAN menyetujui adaya cetak biru AEC (ASEAN Economic Community/Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang diusung pada akhir tahun 2015. Cetak biru AEC direncanakan supaya terciptanya liberalisasi jasa-jasa keuangan diantara negara anggota ASEAN dengan tujuan untuk mempercepat perkembangan serta integrasi pasar modal. Selain itu adanya rencana pengurangan bahkan penghilangan Batasan lalu lintas permodalan untuk mencapai arus modal yang lebih bebas di Kawasan antar negara anggota ASEAN (Robiyanto &
Hartanto. 2018)
Gambar 1. 2 Pergerakan Indeks ASEAN-5 +3 (Sumber: Investing.Com)
Dari gambar 1.2 menunjukkan bahwa pergerakan Indeks ASEAN-5 +3 juga mengalami penurunan pada akhir 2008 sampai awal tahun 2009 seperti halnya yang terjadi pada pergerakan indeks NASDAQ, hal tersebut mengindikasikan bahwa negara-negara tersebut juga terdampak dari krisis finansial subprime mortgage yang terjadi di Amerika.
ASEAN sendiri berdiri pada 8 agustus tahun 1967 di Bangkok, Thailand pada saat negara-negara pendiri ASEAN mendeklarasikan persatuan mereka. Berdirinya ASEAN diawali oleh lima negara anggota yaitu Indonesia, Malaysia, Phillipina, Singapura, dan Thailand. Setelah itu pada tahun 1984 Brunei Darussalam menjadi negara ke enam yang bergabung kedalam ASEAN. Pada tahun 1992 Cambodja, Laos, dan Myanmar juga menyatakan bergabung kedalam ASEAN. Tujuan utama dari
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000
2008M01 2008M08 2009M03 2009M10 2010M05 2010M12 2011M07 2012M02 2012M09 2013M04 2013M11 2014M06 2015M01 2015M08 2016M03 2016M10 2017M05 2017M12 2018M07 2019M02 2019M09 2020M04 2020M11
DJIA IHSG KLCI
PSEi STI SET
Nikkei225 KOSPI Hang Seng
berdirinya asosiasi tersebut adalah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan keuntungan kolaborasi yang ada, serta menjunjung perdamaian antar negara dan fokus terhadap pendidikan (Www.Aseansec.Org).
Terbentuknya ASEAN+3 dimulai pada tahun 1997, semenjak itu hubungan antara negara-negara ASEAN, Jepang, Korea Selatan, dan China (Hong Kong) berkembang serta mencakup ke berbagai area. Beberapa hal positif yang diharapkan dari terjadinya integrasi keuangan di Kawasan ASEAN+3 terutama pada sektor pasar modal adalah:
1. Integrasi keuangan ini dapat mendorong adanya aliran modal dari negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan ke negara berkembang ASEAN, karena menurunnya biaya transaksi keuangan lintas batas. Peningkatan aliran modal dari negara seperti Jepang ke negara berkembang akan mendorong konvergensi pertumbuhan ekonomi antar negara anggota Kawasan.
2. Integrasi keuangan melalui Chiang Mai Initiative diharapkan mampu menjaga risiko penurunan mata uang serta mencegah menularnya krisis mata uang dari satu negara ke negara yang lain di kawasan.
3. ASEAN+3 Bond Market Initiative yang mendorong penerbitan obligasi dalam mata uang lokal, diharapkan dapat menurunkan ketergantungan atas US Dollar dalam memenuhi kebutuhan modal
jangka panjang bagi perusahaan-perusahaan yang berada di kawasan ASEAN+3.
4. Integrasi keuangan dapat mendorong terbentuknya ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) yang berpusat di Singapura, dan bertugas melakukan monitor atas perkembangan indikator makroekonomi serta keuangan di kawasan Asia Timur dan Tenggara. AMRO diharapkan mampu menciptakan sistem pengawasan dini (early warning system) bagi kestabilan makroekonomi dan keuangan di kawasan.
5. Integrasi keuangan kawasan dapat mendorong iklim kompetisi bagi perusahaan jasa keuangan. Peningkatan kompetisi pada umumnya akan membawa peningkatan efisiensi pada sektor keuangan, dan berujung pada perlindungan konsumen yang lebih baik (Www.Aseansec.Org).
Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan dibentuknya ASEAN-5 +3 adalah untuk mengurangi ketergantungan pasar ASEAN terhadap Amerika, namun secara historis ketika pasar Amerika mengalami kejatuhan, dampaknya dirasakan oleh pasar ASEAN. Penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah pasar Amerika masih memiliki pengaruh terhadap pasar-pasar yang ada di ASEAN, khususnya pasar-pasar ASEAN-5 +3 yang telah membuat sebuah kerja sama.
Penelitian yang berhubungan dengan integrasi pasar modal pernah dilakukan oleh Kao et al., (2019) yang menguji integrasi pasar modal pada
negara Amerika, tujuh pasar saham utama di Asia, dua belas pasar saham utama di Eropa serta empat pasar saham utama di Amerika Utara dan Amerika Selatan dengan menggunakan metode Momentum Threshold Autoregressive (MTAR) dan Logistic Smooth Transition Co-integration (LSTC). Gkillas et al., (2019) juga menguji integrasi pasar modal namun pada pasar modal Internasional di 68 Negara. Pengujian penelitian ini dengan metode Capital Asset Pricing Model (CAPM) dan GARCH.
Aladesanmi et al., (2019) menguji integrasi pasar modal pada negara Amerika dan Inggris. Pengujian dilakukan dengan metode analisis Error Correction Model (ECM) dan Generalized AutoRegressive Conditional Heteroskedasticity (GARCH). Batten et al., (2019) menguji integrasi pasar modal pada 10 negara di Asia. Pengujian dilakukan dengan metode CAPM dan ECM.
Penelitian lain yang memiliki hasil yang berbeda dilakukan oleh Robiyanto dan Hartanto (2018) menguji integrasi pasar modal pada negara Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Jepang, Inggris, Jerman, Prancis, Spanyol, dan Amerika. Pengujian dilakukan dengan metode analisis VAR dan Uji Kausalitas Granger.
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Ardana (2017) menguji integrasi pasar modal pada negara Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Jepang, Inggris, Jerman, Prancis, Spanyol, dan Amerika.
Pengujian dilakukan dengan metode Unit Root Test, Uji Stabilitas VAR, Uji
Kointegrasi Johansen, VECM dan Uji Kausalitas Granger. Adisetiawan, (2017) menguji integrasi pasar modal pada negara Indonesia dan Pasar modal negara-negara di dunia. Pengujian dilakukan dengan metode Uji Regresi Berganda, Uji Kointegrasi Johansen, Uji Kausalitas Granger.
Setiawan dan Taufik (2016) yang menguji integrasi pasar modal pada negara Amerika dan Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Pengujian dilakukan dengan metode uji statistik t dan uji chow.
Al Nasser dan Hajilee (2016) menguji integrasi pasar modal pada negara Brasil, Cina, Meksiko, Rusia dan Turki. Pengujian dilakukan dengan metode ECM dan Uji Kointegrasi. Seth dan Sharma (2015) yang menguji efisiensi dan integrasi pasar modal pada negara India, China, Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Jepang, Singapura, Korea, Taiwan, Israel, Pakistan, dan Amerika. Pengujian dilakukan dengan metode GARCH dan Johansen Cointegration.
Penelitian mengenai integrasi pasar modal merupakan topik yang menarik untuk dikaji karena senantiasa berkembang seiring dengan perkembangan waktu serta kondisi yang terjadi pada pasar modal-pasar modal yang ada di dunia. Perbedaan penelitian ini dari penelitian yang pernah dilakukan, berdasarkan sepengetahuan penulis masih belum ada yang mengambil sampel pada indeks pasar modal Amerika dan indeks pasar modal ASEAN-5 +3 sehingga penulis menggunakan sampel tersebut. Selain itu, penelitian ini menggunakan data yang relatif panjang mencapai 12 tahun
agar dapat mengurangi bias yang terjadi. Krisis ekonomi global juga menjadi pertimbangan penulis untuk dimasukkan dalam penelitian.