BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Berikut ini merupakan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian :
Tabel 2.1
Tinjauan Penelitian Terdahulu No Nama Peneliti Judul Variabel
Penelitian
2 Robana Tarigan
4 Yudi Pratama
Dividen
Sumber: berbagai jurnal dan penelitian terdahulu
H1
H3
H5 H6
H7 H2
H4 2.3 Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian
2.3.1 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual Penelitian
Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa penelitian ini menggunakan variabel independen (X) yaitu Arus Kas Operasi (X1), Profitabilitas (X2), dan Pertumbuhan Penjualan (X3), sedangkan variabel dependen (Y) yang digunakan adalah Harga Saham serta penambahan variabel moderating (Z) yaitu Kebijakan Dividen.
Arus Kas Operasi (X1)
Pertumbuhan penjualan (X3)
Profitabilitas (ROE) (X2)
Harga Saham (Y)
Kebijakan Dividen (Z)
2.3.2 Hipotesis Penelitian
Hipotesis memiliki makna simpulan yang sifatnya masih rendah. Secara singkat hipotesis dapat dinyatakan sebagai simpulan sementara penelitian.
Hipotesis berfungsi sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan yang sedang diteliti. Kegunaannya untuk menjadikan arah penelitian semakin jelas atau memberikan arah bagi peneliti untuk melaksanakan penelitiannya secara baik.
2.3.2.1 Arus Kas Operasi terhadap Harga Saham
Arus kas mengekspresikan laba bersih ditambah depresiasi, yang secara aktual didistribusikan kepada investor, yakni setelah perusahaan menanamkan investasi di fixed assed dan modal kerjanya yang penting untuk kelanjutan operasi. Jadi “nilai perusahaan berhubungan dengan kemampuannya menghasilkan arus kas sehingga jika arus kasnya meningkat nilai perusahaan akan naik, yang selanjutnya juga akan menaikkan harga saham” (Brigham et al, 2001:110 dalam Ariandi, 2015). Aktivitas operasi adalah siklus kegiatan jangka pendek yang merupakan aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan. Semakin tinggi saldo kas bersih dari aktivitas operasi suatu perusahaan, diharapkan dapat meyakinkan investor bahwa operasi perusahaan dapat menghasilkan kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber luar sehingga harga saham dapat meningkat. Hasil penelitian
oleh Yudi Pramata Ariandi (2015) dan Novy Budi Adiliawan (2010) mengatakan bahwa arus kas operasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Atas dasar uraian tersebut, maka penelitian ini mengajukan hipotesis pertama sebagai berikut:
H1 : Arus Kas Operasi berpengaruh terhadap Harga Saham.
2.3.2.2 Profitabilitas terhadap Harga Saham
Rasio profitabilitas merupakan suatu model analisis yang berupa perbandingan data keuangan sehingga informasi keuangan tersebut menjadi lebih berarti. Analisis ini sering digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan, selain itu rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas perusahaan dalam manajemennya. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Untuk mencerminkan profitabilitas tersebut, salah satu rasio yang digunakan adalah Return On Equity (ROE). Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba berdasarkan modal sendiri yang dimiliki. Semakin tinggi tingkat laba yang diperoleh, maka kemampuan perusahaan untuk membayar dividen juga akan semakin tinggi dan harga saham yang akan dihasilkan perusahaan akan semakin tinggi pula.
Syamsudin (2009:64) berpendapat bahwa “ROE merupakan suatu pengukuran dari penghasilan yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun saham preferen) atas
modal yang mereka investasikan di dalam perusahaan”. Secara umum tentu saja semakin tinggi return atau penghasilan yang diperoleh semakin baik kedudukan pemilik perusahaan. Atas dasar uraian tersebut, maka penelitian ini mengajukan hipotesis kedua sebagai berikut:
H 2 : ROE berpengaruh terhadap harga saham.
2.3.2.3 Pertumbuhan Penjualan terhadap Harga Saham
Pertumbuhan penjualan suatu perusahaan mencerminkan bagaimana keberhasilan investasi periode masa lalu dan dapat dijadikan sebagai prediksi untuk melihat bagaimana kondisi pertumbuhan di masa yang akan datang. Laju pertumbuhan penjualan suatu perusahaan akan mempengaruhi perusahaan mempertahankan keuntungan demi kelangsungan perusahaan. Dalam penelitian Deitiana (2011) menyatakan bahwa pertumbuhan penjualan akan menimbulkan konsekuensi pada peningkatan atas investasi aktiva perusahaan dan akhirnya membutuhkan penyediaan dana untuk membeli aktiva. Untuk meningkatkan angka pertumbuhan dilakukan penetapan akan angka jumla produk atau jasa yang dijual kepada pelanggan. Jadi angka pertumbuhan akan dilakukan sesuai dengan kemampuan keuangan perusahaan.
Pada umumnya, pertumbuhan penjualan dapat diketahui dari selisih penjualan tahun berjalan dengan penjualan tahun sebelumnya
dibagi dengan penjualan tahun sebelumnya. Dari pertumbuhan penjualan akan diketahui bagaimana kenaikan pendapatan yang diperoleh perusahaan karena untuk mendapatkan pendapatan yang tinggi maka perusahaan harus melakukan penjualan yang tinggi.
Pendapatan yang diperoleh dapat mencerminkan tingkat keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan. Jika perusahaan memperoleh keuntungan yang besar atau selalu mengalami pertumbuhan maka dividen yang dibagikan kepada pemegang saham juga akan semakin naik. Dividen yang tinggi akan meningkatkan kinerja yang baik bagi perusahaan karena dapat menarik perhatian para calon investor untuk menanamkan sahamnya sehingga operasi perusahaan dapat dipertahankan. Hal ini akan mendorong naiknya harga saham perusahaan. Atas dasar uraian tersebut, maka penelitian ini mengajukan hipotesis ketiga sebagai berikut:
H 3 : Pertumbuhan penjualan berpengaruh terhadap harga saham
H 4 : Arus kas operasi, ROE dan pertumbuhan penjualan secara bersama- sama (simultan) berpengaruh terhadap harga saham.
2.3.2.4 Arus Kas Operasi terhadap Harga Saham dengan Kebijakan Dividen sebagai Variabel Moderating
Hubungan antara arus kas operasi terhadap harga saham perusahaan dapat dipengaruhi oleh kebijakan dividen. Kebijakan dividen dapat memperlemah maupun memperkuat (sebagai variabel
moderating) hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Arus kas operasi yang besar menunjukkan bahwa dana yang tersedia di perusahaan cukup besar untuk didistribusikan. Jika dana yang tersedia dari arus kas operasi cukup besar maka dana untuk pembayaran dividen juga cukup besar sehingga kesempatan membagikan dividen akan tinggi dan dividend payut ratio akan tinggi.
Arus kas operasi secara normatif adalah positif. Perusahaan yang tidak mengalami masalah operasional, yaitu laba dan modal kerja, arus operasionalnya positif. Arus kas operasi yang bernilai positif akan menambah dana bagi perusahaan. Jika arus kas operasi bernilai positif menandakan tersedianya laba bersih bagi perusahaan untuk membagikan labanya dalam bentuk dividen maupun laba ditahan dalam jumlah besar. Jika dividen yang dibagikan perusahaan kepada pemegang saham tinggi, maka harga saham juga akan meningkat. Atas dasar uraian tersebut, maka penelitian ini mengajukan hipotesis kelima sebagai berikut:
H5 : Arus Kas Operasi berpengaruh signifikan terhadap harga saham dengan kebijakan dividen sebagai variabel moderating.
2.3.2.5 Profitabilitas terhadap Harga Saham dengan Kebijakan Dividen sebagai Variabel Moderating
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aset maupun modal sendiri.
Profitabilitas diproksikan dengan ROE, ROE yang tinggi akan menujukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang tinggi pula, sehingga kesempatan membagikan dividen akan tinggi dan hal ini terlihat dari DPR yang tinggi. Semakin besar keuntungan yang diperoleh perusahaan akan mendorong perusahaan untuk membagikan dividen lebih tinggi dan harga saham yang akan dihasilkan perusahaan akan semakin tinggi pula. Oleh sebab itu setelah dividen suatu perusahaan diumumkan, harga saham perusahaan tersebut akan berubah sebagai akibat reaksi investor terhadap sinyal yang diperoleh dari pengumuman dividen. Atas dasar uraian tersebut, maka penelitian ini mengajukan hipotesis keenam sebagai berikut:
H6 : ROE berpengaruh signifikan terhadap harga saham dengan
kebijakan dividen sebagai variabel moderating.
2.3.2.6 Pertumbuhan Penjualan terhadap Harga Saham dengan Kebijakan Dividen sebagai Variabel Moderating
Perusahaan yang memiliki pertumbuhan penjualan yang tinggi akan memiliki laba atau keuntungan yang juga tinggi. Laba perusahaan yang tinggi akan memberikan kesempatan pembagian dividen yang tinggi sehingga pembayaran dividen akan naik begitu juga dividend payout ratio akan naik. Pertumbuhan penjualan juga mencerminkan manisfestasi keberhasilan investasi periode masa lalu, dan dapat dijadikan sebagai prediksi pertumbuhan masa yang akan datang. Laju pertumbuhan suatu perusahaan akan mempengaruhi kemampuan
mempertahankan keuntungan dalam mendanai kesempatan-kesempatan pada masa yang akan datang (Barton et al, 1989 dalam Tita Deitiana, 2011). Pertumbuhan penjualan tinggi, maka akan mencerminkan pendapatan meningkat sehingga pembayaran deviden cenderung meningkat. Dividen yang tinggi akan meningkatkan kinerja yang baik bagi perusahaan karena dapat menarik perhatian para calon investor untuk menanamkan sahamnya sehingga operasi perusahaan dapat dipertahankan. Hal ini akan mendorong naiknya harga saham perusahaan. Atas dasar uraian tersebut, maka penelitian ini mengajukan hipotesis ketujuh sebagai berikut:
H7 : Pertumbuhan penjualan berpengaruh signifikan terhadap harga saham dengan kebijakan dividen sebagai variabel moderating.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini tergolong penelitian asosiatif yang bersifat kausal yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Penelitian ini menguji hubungan antara variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y) dengan variabel Z sebagai variabel pemoderasi. Dimana penelitian ini bertujuan untuk melihat seberapa besar variabel bebas (X) mempengaruhi variabel terikat (Y) dan apakah variabel Z mampu memoderasi pengaruh antara variabel X terhadap variabel Y tersebut. Penelitian ini berusaha menjelaskan pengaruh Arus Kas Operasi, Profitabilitas dan Pertumbuhan Penjualan sebagai variabel independen terhadap Harga Saham sebagai variabel dependen dimana Kebijakan Dividen sebagai variabel moderating pada perusahaan manufaktur terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
3.2 Batasan Operasional
Untuk menghindari kesimpangsiuran dalam pembahasan penelitian, maka luas penelitian dibatasi dan hanya menyangkut pengaruh Arus Kas Operasi (X1), Proftabilitas (X2) dan Pertumbuhan Penjualan (X3) terhadap Harga Saham (Y) dengan Kebijakan Dividen (Z) sebagai variabel moderating pada perusahaan- perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2013-2015.
3.3 Definisi Operasional dan Variabel
Variabel yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah variabel independen, variabel dependen dan variabel moderating.
1. Variabel Dependen (Y)
“Variabel dependen (terikat) merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas” (Idrus, 2009: 79).
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah harga saham. Harga saham merupakan harga yang terbentuk di bursa saham dan umumnya harga saham itu diperoleh untuk menghitung nilai saham. Pengukuran dari variabel harga saham ini yaitu harga penutupan saham (closing price) tiap perusahaan yang diperoleh dari harga saham pada periode akhir tahun yang dilogaritma normalkan.
2. Variabel Independen (X) terdiri dari:
“Variabel independen (bebas) merupakan variabel yang menjadi sebab berubahnya atau timbulnya variael terikat” (Idrus, 2009:79). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah:
a) Arus Kas Operasi (X1)
Arus kas operasi merupakan selisih bersih dari penerimaan dan pengeluaran kas dari aktivitas operasi dalam satu periode. Arus kas operasi diukur dengan rasio:
Arus Kas Operasi = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐴𝑟𝑢𝑠 𝐾𝑎𝑠 𝑂𝑝𝑒𝑟𝑎𝑠𝑖 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑎ℎ𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟
b) Profitabilitas (X2)
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba.
Indikator profitabilitas dalam penelitian ini adalah Return on Equity (ROE). Return on Equity adalah rasio laba bersih setelah pajak terhadap modal sendiri. Return on Equity dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
ROE = 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝐴𝑓𝑡𝑒𝑟 𝑇𝑎𝑥𝑒𝑠 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦
c) Pertumbuhan Penjualan (X3)
Pertumbuhan penjualan merupakan kenaikan jumlah penjualan dari waktu ke waktu. Pertumbuhan penjualan mencerminkan manisfestasi keberhasilan investasi periode masa lalu, dan dapat dijadikan sebagai prediksi pertumbuhan masa yang akan datang. Pertumbuhan penjualan juga merupakan indikator permintaan dan daya saing perusahaan dalam suatu industri. Maka rumus untuk menghitung pertumbuhan penjualan yaitu:
Pertumbuhan Penjualan = 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 𝑡 – 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 𝑡−1 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 𝑡−1
3. Variabel Moderating (Z)
“Variabel Moderating adalah variabel independen yang akan memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel independen lainnya terhadap variabel dependen” (Ghozali, 2006:163). Variabel moderating (Z) dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan kebijakan dividen. Kebijakan
dividen adalah pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Kebijakan dividen dalam penelitian ini diwakili oleh Dividend Payout Ratio (DPR).
Rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) menunjukkan berapa persen dari laba perusahaan yang dibayarkan kepada investor atau pemegang saham dalam bentuk dividen. Secara matematis, DPR diformulasikan sebagai berikut:
Dividend Payout Ratio = 𝑑𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 𝑙𝑎𝑏𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑒𝑚𝑏𝑎𝑟 𝑠𝑎ℎ𝑎𝑚 Tabel 3.1
Definisi Operasional Variabel
Variabel Definisi Indikator Skala
Harga Saham
(closing price) per tahun Rasio
Arus Kas
merupakan
perbandingan antara dividen per lembar saham biasa dengan laba yang tersedia bagi para pemegang saham biasa.
Sumber: berbagai penelitian terdahulu
3.4 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013 sampai tahun 2015. Sampel dalam penelitaian ini dipilih dengan cara purposive sampling, yaitu salah satu teknik pengambilan sampel yang dilakukan berdasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu. Adapun kriteria yang dingunakan peneliti dalam penentuan sampelnya adalah :
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI selama periode penelitian (2013-2015)
2. Perusahaan manufaktur yang menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit secara lengkap di Bursa Efek Indonesia periode (2013-2015) 3. Perusahaan manufaktur yang membagikan dividen tunai secara kontinyu
periode (2013-2015)
4. Penyajian laporan keuangan menggunakan kurs rupiah (Rp)
Proses seleksi dalam menentukan kriteria yang telah ditentukan dapat dilihat pada Tabel 3.2 berikut ini:
Tabel 3.2
36 Goodyear Indonesia Tbk GDYR
56 Industri Jamu dan Farmasi Sido
Muncul Tbk SIDO
75 Lion Metal Works Tbk LION
114 Sri Rejeki Isman Tbk SRIL
120 Supreme Cable Manufacturing and
Commerce Tbk SCCO
132 Ultrajaya Milk Industry and Trading
Company Tbk ULTJ
Berdasarkan kriteria penelitian sampel tersebut dari 138 perusahaan manufaktur diperoleh sampel perusahaan berjumlah 15 perusahaan dengan 3 tahun pengamatan, sehingga total sampel adalah 45.
3.5 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan
perusahaan-perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2013-2015 yang diperoleh dari website Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu www.idx.co.id.
3.6 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan :
a. Metode dokumentasi yaitu dengan cara mencatat atau mendokumentasikan data seperti laporan keuangan perusahaan sesuai data yang diperlukan yang tercantum pada Bursa Efek Indonesia, www.idx.co.id
b. Metode studi pustaka yaitu dengan mengkaji berbagai literatur pustaka seperti jurnal, makalah, dan sumber-sumber lainnya yang berkaitan dengan topik penelitian.
3.7 Teknik Analisis Data
Data yang siap diolah akan dilakukan pengujian statistik dengan menggunakan program SPSS versi 22.0. Untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan, maka dalam penelitian ini digunakan metode analisis data sebagai berikut:
3.7.1 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif berfungsi sebagai penganalisis data dengan menggambarkan sampel data yang telah dikumpulkan. Penelitian ini menjabarkan jumlah data, rata-rata, nilai minimum dan maksimum serta standar deviasi.
3.7.2 Uji Asumsi Klasik
Sebelum model regresi digunakan untuk menguji hipotesis, model tersebut harus bebas dari gejala asumsi klasik untuk memenuhi kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). Adapun uji asumsi klasik yang digunakan adalah sebagai berikut:
3.7.2.1 Uji Normalitas
“Uji normalitas data bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal” (Ghozali, 2006:110). Ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik.
a. Analisis Grafik
Salah satu cara termudah untuk melihat normalitas residual adalah dengan melihat grafik hidtogram yang membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal. Namun demikian hanya dengan melihat histogram hal ini dapat menyesatkan khusunya untuk jumlah sampel yang kecil. Metode yang lenih handal adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi kumulatif dari distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal, dan ploting data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi data residual normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya. Dasar pengambilan keputusannya adalah:
1. jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola berdistribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas,
2. jika data menyebar jauh dari diagonal dan tidak mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogram
tidak menunjukkan data berdistribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
b. Analisis Statistik
Uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan kalau tidak hati-hati secara visual kelihatan normal, pada hal secara statistik bisa sebaliknya. Oleh sebab itu dianjurkan disamping uji grafik dilengkapi dengan uji statistik. Uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S). Uji K-S dibuat dengan membuat hipotesis:
Ho : Data residual berdistribusi normal Ha : Data residual tidak berdistribusi normal
Apabila probabilitas > 0,05, maka distribusi data normal dan dapat digunakan regresi berganda. Apabila probabilitas
< 0.05, maka distribusi data dikatakan tidak normal, untuk itu perlu dilakukan transformasi data atau menambah maupun mengurangi data (Ghozali, 2006: 110-112)
3.7.2.2 Uji Multikoloniearitas
“Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen)”
(Ghozali, 2006:91). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Multikolinieritas dapat dilihat dengan Variance Inflation Factor (VIF), bila nilai VIF < 10 dan nilai tolerance > 0,10 maka tidak terdapat gejala multikolinieritas.
3.7.2.3 Uji Autokolerasi
“Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya)” (Ghozali, 2006:95). Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang tahun yang berkaitan satu dengan yang lainnya, hal ini
sering ditemukan pada time series. Pada data crossection, masalah autokorelasi relatif tidak terjadi.
Salah satu cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi adalah dengan Uji Durbin-Watson (DW test). Nilai statistik dari uji Durbin-Watson yang lebih kecil dari 1 atau lebih besar dari 3 diindikasi terjadi autokorelasi.
3.7.2.4 Uji Heteroskedastisitas
“Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain” (Ghozali, 2006:105). Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homokedasitas dan jika berbeda disebut heterokedasitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedasitas atau tidak terjadi heterokedasitas.
Untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedasitas dapat dilihat dari grafik Scatterplot antara nilai prediksi variabel dependen yaitu ZPRED dengan residualnya SRESID. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur, maka telah terjadi heterokedasitas. Sebaliknya jika tidak ada pola yang jelas, serta titi-titik yang menyebar maka tidak terjadi heterokedasitas.
Menurut Ghozali (2006:105), yang menjadi dasar analisis untuk menentukan ada atau tidaknya heterokedastisitas yaitu :
1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedatisitas.
2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedatisitas.
3.7.3 Analisis Regresi
3.7.3.1 Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis regresi berganda dalam penelitian ini digunakan untuk menyatakan hubungan fungsional antara variabel independen dan variabel dependen. Adapun bentuk model regresi yang digunakan sebagai dasar adalah bentuk fungsi linear yakni:
Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e dimana:
a = Konstanta Y = Harga Saham X1 = Arus kas Operasi X2 = ROE
X3 = Pertumbuhan Penjualan
b1.. b2.. b3.. .. = koefisien regresi masing-masing variabel independen
e = faktor penggangu
3.7.3.2 Analisis Regresi Moderasi (Moderated Regression Analysis) Tujuan analisis ini untuk mengetahui apakah variabel moderating akan memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Terdapat tiga model pengujian regresi dengan variabel moderating, yaitu uji interaksi (MRA), uji nilai selisih mutlak, dan uji residual.
Pengujian variabel moderating dengan uji interaksi maupun uji nilai selisih mutlak mempunyai kecenderungan akan terjadi multikolonieritas yang tinggi antar variabel independen dan hal ini menyalahi asumsi klasik dalam regresi ordinary least square (OLS) (Ghozali, 2006:171) . Oleh sebab itu dalam penelitian ini menggunakan uji residual dalam menguji moderating. Model ini menggunakan konsep lack of fit yaitu hipotesis moderating ini diterima terjadi jika terdapat ketidakcocokan yang diperoleh dari deviasi hubungan linier antara variabel independen. Hipotesis moderating diterima jika nilai t hitung adalah negatif dan signifikan.
Z = α + β1X1 + e
|e| = α + β1Y Z = α + β2X2 + e
|e| = α + β2Y Z = α + β3X3 + e
|e| = α + β3Y
Keterangan : Y = Harga Saham
α = Konstanta
X1 = Arus Kas Opersi X2 = Profitabilitas
X3 = Pertumbuhan Penjualan Z = Kebijakan Dividen
3.7.4 Uji Hipotesis
3.7.4.1 Uji Statistik F
“Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh bersama-sama terhadap variabel dependen/terikat” (Ghozali, 2006:84). Setelah F garis regresi ditentukan hasilnya, kemudian dibandingkan dengan F tabel. Untuk menentukan nilai F tabel, tingkat signifikansi yang digunakan adalah sebesar α = 5%
dengan tingkat kebebasan (degree of freedom) df1= (k-1) dan df2= (n-k) dimana k adalah jumlah variabel (bebas dan terikat) dan n adalah jumlah observasi. Jika F hitung> Ftabel maka hal ini berarti variabel bebas mampu menjelaskan variabel terikat secara bersama-sama. Hal ini berarti bahwa persamaan regresi yang diperoleh dapat diandalkan atau model yang digunakan sudah fix.
3.7.4.2 Uji Statistik t
“Uji Statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen” (Ghozali, 2006:84).
Dengan menggunakan tingkat signifikan (α) 5%, jika nilai sig.t
> 0,05 maka Ho diterima, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat. Sebaliknya, jika nilai sig.t < 0,05 maka Ha diterima, artinya ada pengaruh yang signifikan antara variabel bebas terhadap variabel terikat. Nilai thitung juga dapat dibandingkan dengan nilai ttabel. Kriteria pengambilan keputusannya yaitu:
Ho diterima dan Ha ditolak jika thitung < ttabel
Ho ditolak dan Ha diterima jika thitung > ttabel.
3.7.4.3 Uji Koefisien Determinasi (R2)
“Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen”
(Ghozali,2006:83). Koefisien determinasi menunjukkan seberapa besar pengaruh arus kas operasi, profitabilitas dan pertumbuhan penjualan terhadap harga saham dengan kebijakan dividen sebagai variabel
(Ghozali,2006:83). Koefisien determinasi menunjukkan seberapa besar pengaruh arus kas operasi, profitabilitas dan pertumbuhan penjualan terhadap harga saham dengan kebijakan dividen sebagai variabel