• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen FRANSISCA KRISTIANI PASARIBU (Halaman 21-0)

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain sebagai berikut:

1. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti mengenai pasar modal dan mekanisme dalam penentuan harga saham.

2. Bagi Perusahaan, penelitian diharapkan mampu memberikan kontribusi praktis dalam mengelola perusahaan dan mengambil kebijakan finansial guna meningkatkan kinerja perusahaan.

3. Bagi Investor, hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pembelajaran untuk dapat memprediksi harga saham di masa yang akan datang sehingga dapat membantu pengambilan keputusan jual beli saham.

4. Bagi Akademis dan Peneliti Selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi mahasiswa yang meneliti masalah sejenis khususnya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham. Diharapkan juga dapat mendorong munculnya penelitian selanjutnya yang lebih mendalam dan dapat memperkaya penelitian-penelitian sebelumnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Laporan Arus Kas

“Laporan arus kas menyediakan ringkasan aliran kas masuk dan keluar selama satu periode akuntansi” (Sadalia, 2010:33). “Arus Kas Bersih adalah kas yang dihasilkan oleh perusahaan dalam tahun tertentu” (Brigham &

Houston, 2010:97). Namun, fakta bahwa suatu perusahaan menghasilkan arus kas yang tinggi tidak selalu berarti kas yang dilaporkan didalam neraca juga tinggi. “Laporan arus kas adalah laporan keuangan yang memperlihatkan penerimaan kas dan pengeluaran kas suatu perusahaan selama satu periode akuntansi” (Sudana, 2011:18). Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa laporan arus kas adalah laporan yang menguraikan tentang arus kas masuk dan arus kas keluar perusahaan selama satu periode tertentu.

Tujuan laporan arus kas sebagai berikut :

Informasi tentang arus kas entitas berguna dalam menyediakan pengguna laporan keuangan dasar untuk menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas serta menilai kebutuhan entitas untuk menggunakan arus kas tersebut. Dalam proses pengambilan keputusan ekonomik oleh pengguna mensyaratkan evaluasi kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kepastian perolehannya. Tujuan pernyataan ini adalah untuk mensyaratkan ketentuan atas informasi mengenai perubahan historis dalam kas dan setara kas suatu entitas melalui laporan arus kas yang mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan selama suatu periode. (IAI 2014, PSAK No. 2).

Sedangkan tujuan laporan arus kas menurut Keiso et al (2011:204 ) adalah :

To provide relevant information about cash receipts and cash payment of an enterprise during a period . To achieve this purpose, the statement of cash flow report the following: (1) the cash effect of operation during a periode, (2) investing transaction, (3) financing transaction, and (4) the net increase or decrease in cash during the period.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa tujuan dari laporan arus kas adalah menyediakan informasi tentang aktivitas operasi, aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan dalam satu periode akuntansi yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi pihak yang menggunakannya untuk mengetahui perubahan arus kas dimasa yang akan datang.

Laporan Arus Kas ini memisahkan aktivitas menjadi tiga kategori yaitu:

1. Aktivitas operasi, yang meliputi laba bersih, penyusutan dan perubahan dalam modal kerja selain kas dan utang jangka pendek

2. Aktivitas investasi, yang meliputi pembelian dan penjualan aset tetap.

3. Aktivitas pendanaan, yang meliputi penerimaan kas melalui penerbitas utang jangka pendek, utang jangka panjang, saham, menggunakan kas untuk membayar dividen, membeli kembali saham atau obligasi yang beredar. (Brigham & Houston, 2010:98).

2.1.1.1 Arus Kas Operasi

Arus kas dari aktivitas operasi adalah: “Operating activities involve the cash effects of transactions that enter into the determination of net income (Kieso et al, 2011:205)

Dari definisi di atas dapat diartikan bahwa arus kas operasi mencakup pengaruh kas dari transaksi yang menghasilkan pendapatan dan beban, kemudian dimasukkan dalam penentuan laba bersih. Sumber kas ini umumnya dianggap sebagai ukuran terbaik dari kemampuan perusahaan dalam memperoleh dana yang cukup untuk dapat melanjutkan usahanya.

“Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan entitas dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan” (IAI,2014). Oleh karena itu, arus kas tersebut umumnya dihasilkan dari transaksi dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba rugi. Beberapa contoh arus kas dari aktivitas operasi adalah:

a) Penerimaan kas dari penjualan barang dan pemberian jasa;

b) Penerimaan kas dari royalti, fees, komisi dan pendapatan lai;

c) Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa;

d) Pembayaran kas kepada dan untuk kepentingan karyawan;

e) Penerimaan dan pembayaran kas oleh entitas asuransi sehubungan dengan premi, klaim, anuitas dan manfaat lain;

f) Pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak penghasilan kecuali jika dapat diidentifikasi secara spesifik sebagai aktivitas pendanaan dan investasi dan;

g) penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau diperjualbelikan.

“Jumlah arus kas yang timbul dari aktivitas operasi adalah indikator utama untuk menentukan apakah operasi entitas telah menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi entitas, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa bantuan sumber pendapatan dari luar” (IAI,2014).

Penyajian laporan arus kas menurut PSAK No. 2 Tahun 2014, entitas melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan salah satu dari dua metode berikut :

a) Metode Langsung, dengan metode ini kelompok utama dari penerimaan kas bruto dan pembayaran kas bruto diungkapkan;

atau

b) Metode Tidak Langsung, dengan metode ini laba atau rugi disesuaikan dengan mengoreksi pengaruh transaksi yang bersifat nonkas, penangguhan, atau akrual dari penerimaan atau pembayaran kas untuk operasi di masa lalu atau masa depan, dan pos penghasilan atau beban yang berhubungan dengan arus kas investasi atau pendanaan.

2.1.2 Profitabilitas

“Profitabilitas adalah kemampuan suatu perusahan untuk menghasilkan laba” (Astuti, 2004:36). Satu-satunya ukuran profitabilitas yang paling penting adalah laba bersih. Para investor dan kreditor sangat berkepentingan dalam mengevaluasi kemampuan perusahaan menghasilkan laba saati ini maupun di masa mendatang.

“Rasio profitabilitas adalah sekelompok rasio yang menunjukkan kombinasi dari pengaruh likuiditas, manajemen aset, dan hutang pada hasil operasi” (Brigham & Houston, 2010:146). “Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan

“(Kasmir, 2010:115). Rasio profitabilitas ini memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Sedangkan menurut Gitman (dalam Deitiana,2012) “rasio pofitabilitas adalah rasio yang

digunakan untuk mengukur efektifitas manajemen berdasarkan hasil pengembalian dari penjualan investasi serta kemampuan perusahaan menghasilkan laba (profit) yang akan menjadi dasar pembagian dividen perusahaan”. Dari penjelasan diatas diketahui bahwa rasio-rasio profitabilitas dipakai sebagai salah satu cara untuk menilai keberhasilan pertumbuhan dan kinerja keuangan suatu perusahaan dan penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan. “Jenis-jenis rasio profitabilitas adalah Return on Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Profit Margin Ratio dan Basic Earning Power “ (Sudana, 2011:22).

2.1.2.1 Return On Equity (ROE)

“Return on Equity adalah rasio laba bersih terhadap ekuitas biasa; mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang saham biasa” (Brigham & Houston, 2010:149). “ROE menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba setelah pajak dengan menggunakan modal sendiri yang dimiliki perusahaan” (Sudana, 2011:22). Jadi berdasarkan pengertian tersebut Return On Eqiuty (ROE) merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri.

Rasio ini penting bagi pihak pemegang saham untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi pengelolaan modal sendiri yang dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin efisien penggunaan modal sendiri yang dilakukan oleh pihak

manajemen perusahaan. Disamping itu ROE yang tinggi sering kali mencerminkan penerimaan perusahaan atas peluang investasi yang baik dan manajemen biaya yang efektif. Rasio ini dihitung dengan rumus sebagai berikut: ROE = 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔 𝐴𝑓𝑡𝑒𝑟 𝑇𝑎𝑥𝑒𝑠

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦

2.1.3 Pertumbuhan Penjualan

“Pertumbuhan penjualan adalah kenaikan jumlah penjualan dari tahun ke tahun atau dari waktu ke waktu” (Kesuma dalam Suyatna, 2014).

Perusahaan yang memiliki tingkat pertumbuhan penjualan yang tinggi akan membutuhkan lebih banyak investasi pada berbagai elemen aset, baik aset tetap maupun aset lancar. Pihak manajemen perlu mempertimbangkan sumber pendanaan yang tepat bagi pembelanjaan aset tersebut. Perusahaan yang memiliki pertumbuhan penjualan yang tinggi akan mampu memenuhi kewajiban finansialnya seandainya perusahaan tersebut membelanjai asetnya dengan utang, begitu pula sebaliknya.

Laju pertumbuhan penjualan suatu perusahaan akan mempengaruhi perusahaan mempertahankan keuntungan demi kelangsungan perusahaan di masa yang akan datang. Pertumbuhan penjualan dapat diketahui melalui tingkat penjualan per tahun atau melalui tingkat pendapatan yang diterima perusahaan dari transaksi penjualan. Untuk memperoleh tingkat pendapatan yang tinggi maka perusahaan harus berhasil menjual barang dalam jumlah yang besar. Kegiatan yang mendukung suksesnya transaksi penjualan adalah melaksanakan kegiatan promosi penjualan. Promosi penjualan merupakan

salah satu jenis strategi yang dapat dilakukan perusahaan untuk memasarkan produknya kepada masyarakat.

Pertumbuhan penjualan mencerminkan manisfestasi keberhasilan investasi periode masa lalu, dan dapat dijadikan sebagai prediksi pertumbuhan masa yang akan datang. Pertumbuhan penjualan juga merupakan indikator permintaan dan daya saing perusahaan dalam suatu industri. “Laju pertumbuhan suatu perusahaan akan mempengaruhi kemampuan mempertahankan keuntungan dalam mendanai kesempatan -kesempatan pada masa yang akan datang” (Barton et al, dalam Deitiana 2011).

Pertumbuhan penjualan tinggi, maka akan mencerminkan pendapatan meningkat sehingga pembayaran deviden cenderung meningkat. Oleh karena itu, sangat penting bagi perusahaan untuk mempertahankan pertumbuhan penjualan yang baik setiap tahunnya. Secara rasional, hal ini akan menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kinerja yang baik karena dengan mengetahui pertumbuhan penjualan perusahaan dapat memprediksi berapa profit yang akan diperoleh sehingga mampu menutupi kewajiban dan membagikan dividen. Pertumbuhan penjualan dapat dirumuskan sebagai berikut:

Pertumbuhan Penjualan = 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 𝑡 − 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 𝑡−1 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 𝑡−1

2.1.4 Kebijakan Dividen

2.1.4.1 Pengertian Kebijakan Dividen

“Dividen yaitu pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan (emiten) atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan”

(Syahyunan, 2013:17). “Kebijakan dividen adalah keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi dimasa yang akan datang (Syahyunan, 2013:267).

“Kebijakan dividen berhubungan dengan besarnya dividend payout ratio, yaitu besarnya persentase laba bersih setelah pajak yang dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham” (Sudana, 2011:167). Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saam dalam rapat umum pemegang saham (RUPS).

Keputusan dividen merupakan bagian dari keputusan pembelanjaan perusahaan, khususnya berkaitan dengan pembelanjaan internal perusahaan. Hal ini karena besar kecilnya dividen yang dibagikan akan mempengaruhi besar kecilnya laba ditahan. Laba ditahan merupakan salah satu sumber dana internal perusahaan.

2.1.4.2 Teori Kebijakan Dividen

Terdapat tiga teori tentang kebijakan dividen terhadap harga saham. Adapun ketiga teori tersebut adalah sebagai berikut:

1. Teori Dividen Irrelevance. Teori ini dikemukakan oleh Franco Modigliani dan Merton Miller. Menurut teori dividen irrelevance kebijakan dividen tidak mempengaruhi harga pasar saham perusahaan atau nilai perusahaan. Modiglani dan Miller berpendapat bahwa nilai perusahaan hanya ditentukan oleh kempuan perusahaan untuk menghasilkan pendapatan (earning power) dan risiko bisnis, sedangkan bagaimana membagi arus pendapatan menjadi divien dan laba ditahan tidak mempengaruhi harga saham.

2. Teori Bird In-the Hand. Teori ini dikemukakan oleh Myron Gordon dan John Lintner. Berdasarkan teori bird in the hand, kebijakan dividen berpengaruh positif terhadap harga pasar saham. Artinya, jika dividen yang dibagikan perusahaan semakin besar, harga pasar saham perusahaan tersebut akan semakin tinggi dan sebaliknya.

3. Teori Tax Preference. Berdasarkan teori tax preference, kebijakan dividen mempunyai pengaruh negatif terhadap harga pasar saham perusahaan. Artinya, semakin besar jumlah dividen yang dibagikan oleh suatu perusahaan, semakin rendah harga pasar saham perusahaan yang bersangkutan. Hal ini terjadi jika ada perbedaan antara tarif pajak personal atas pendapatan dividen dan capital gain. (Sudana, 2011:167-169)

2.1.4.3 Tipe-Tipe Kebijakan Dividen Ada tiga tipe kebijakan dividen, yaitu:

1. Constant-Playout-Ratio Dividend Policy. Kebijakan dividen yang sering digunakan oleh badan usaha adalah Constant payout ratio. Rasio pembayaran dividen dihitungan dengan membagi dividen tunai per lembar dengan laba per saham, indikatornya adalah persentase dari setiap rupiah yang dihasilkan dibagikan kepada pemilik dalam bentuk tunai.

2. Reguler Dividen Policy. Kebijakan ini berdasarkan dengan rupiah yang tetap dalam setiap periode. Kebijakan dividen reguler pada umumnya memberikan informasi positif kepada pemegang saham, ini merupakan indikasi badan usaha sehat dan mengurangi ketidakpastian.

3. Low-Reguler-and Extra Dividen Policy. Low-Reguler-and Extra Dividen Policy merupakan kebijakan dividen yang didasarkan pada pembayaran dividen rendah yang teratur dengan penambahan dividen jika pendapatan memungkinkan.

Jika pendapatan lebih tinggi pada periode tertentu, badan usaha membagikan tambahan dividen tersebut, yang disebut dividen ekstra. (Sadalia, 2010:161-162)

2.1.4.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen yaitu:

1. Ketentuan Perundangan. Terdapat ketentuan perundangan yang berlaku dalam suatu negara yang membatasi pembayaran dividen tunai berasal dari modal resmi badan usaha. Adapun yang dinaksud dengan modal resmi tersebut beragam, antara lain diukur dari nilai pari saham biasanya dan ada pula yang termasuk paid-capital. Ketentuan perundangan yang lain adalah pembatasan sekarang dan yang laun. Dengan kata lain badan usaha tidak dapat mebayar dividen tunai yang besarnya melebihi jumlah laba sekarang dan laba ditahan. Namun demikin badan usaha tidak dilarang mebayar dividen tunai melebihi laba sekarang.

2. Ketentuan Kredit. Seringkali besarnya dividen tunai dibatasi oleh ketentuan kredit. Pada umunya batasan tersebut menyangkut larangan pemberian dividen tunai hingga pencapaian batas tertentu laba atau besarnya dividen dibatasi dalam jumlah tertentu.

3. Internal Badan Usahan. Kemampuan badan usaha mebayar dividen tunai sering kali dibatasi oleh ketersediaan uang tunai dibandingkan pertimbangan laba ditahan. Meskipun badan usaha mempunyai laba yang tinggi tetapi kemampuan untuk membayar dividen tunai dibatasi ketersediaan likuiditas badan usaha, berupa uang kas dan surat-surat berharga yang mudah diuangkan kembali.

4. Propek Pertumbuhan. Pada umumnya badan usha yang besar dan matang mempunyai dana yang cukup untuk memanfaatkan sejumlah priyek yang menguntungkan. Badan usaha yang tumbuh sangat tergantung pada sumber dana internal melalui laba ditahan

5. Pertimbangan Pemilik. Dalama penetapan kebijkan dividen, hal utama yang perlu diperhatikan adalah maksimasi kekayaan pemegang saham. Badan usaha harus menetapkan kebijakan

dividen yang berpengaruh positif terhadap kekayaan dari mayoritas pemegang saham. Salah satu pertimbangan adalah status pajak pemegang saham. Pertimbangan yang keda adalah peluang investasi yang dimiliki pemegang saham.

Pertimbangan yang terakhir adalah menyangkut potensi dilunasi atas kepemilikan dari pemegang saham.

6. Pertimbangan Pasar. Kesadaran ats tanggapan pasar terhadap kebijakan dividen tertentu sangat membantu dalam penetapan kebijakan dividen yang sesuai. Para pemegang saham diyakinkan untuk menghargai dividen yang mempunyai pola fluktuasi. Disamping itu para pemegang saham juga diyakinkan untuk mengahrgai pembayaran dividen yang terus menerus dan pertimbangan pasar terakhir bahwa dividen mengandung informasi. (Sadalia, 2010:158-160)

2.1.5 Harga Saham

“Saham merupakan salah satu alternatif sumber dana jangka panjang bagi suatu perusahaan” (Sudana, 2011:87). Dengan memiliki saham suatu perusahaan, maka investor akan mempunyai hak terhadap pendapatan dan kekayaan perusahaan, setelah dikurangi dengan pembayaran semua kewajiban perusahaan. “Saham (stock) merupakan surat berharga yang menunjukkan kepemilikan seseorang atau badan terhadap suatu perusahaan”

(Syahyunan, 2013:200). Maka dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa jika seseorang membeli saham suatu perusahaan, berarti dia telah menyertakan modal kedalam suatu perusahaan tersebut sebanyak jumlah saham yang dibeli.

“Harga saham merupakan harga yang terbentuk di bursa saham dan umumnya harga saham itu diperoleh untuk menghitung nilai saham” (Med press Team Work, 1998 dalam Kodrat & Kurniawan, 2010:1). Harga saham biasa yang terjadi di pasar (harga pasar saham) akan sangat berarti bagi

perusahaan karena harga tersebut akan menentukan besarnya nilai perusahaan. Jadi, harga pasar saham adalah nilai pasar sekuritas yang dapat diperoleh investor apabila investor menjual atau membeli saham, yang ditentukan berdasarkan harga penutupan atau closing price di bursa pada hari yang bersangkutan. “Harga penutupan atau closing price adalah harga perdagangan terakhir untuk suatu periode” (Kodrat & Kurniawan, 2010:13).

Harga penutupan merupakan harga yang paling sering digunakan untuk analisis.

2.1.5.1 Jenis Saham

Apabila ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim, maka saham terbagi atas:

1. Saham biasa (common stock), yaitu saham yang menempatkan pemiliknya pada posisi paling yunior dalam pembagian dividen dan hak atas kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.

Saham biasa mempunyai beberapa karakteristik, antara lain:

a) Dividen dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba.

b) Memiliki hak suara dalam rapat umum pemegang saham (satu saham satu suara atau “one share one vote”).

c) Memiliki hak terakhir (junior) dalam hal pembagian kekayaan perusahaan jika perusahaan tersebut dilikuidasi (dibubarkan) setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi.

d) Memiliki tanggung jawab terbatas terhadap klaim pihak lain sebesar proporsi sahamnya.

e) Hak untuk memiliki saham baru yang diterbitkan oleh perusahaan terlebih dahulu (preemtive right) 2. Saham preferen (preferred stock), yaitu saham yang

memiliki karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisaa menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi), tetapi juga bisa tidak mendatangkan hasil seperti yang dikehendaki investor.

Saham preferen mempunyai beberapa karakteristik, antara lain:

a) Memiliki hak lebih dahulu memperoleh dividen.

b) Memiliki hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham lebih dahulu setelah kreditor, apabila perusahaan tersebut dilikuidasi (dibubarkan).

c) Kemungkinan dapat memperoleh tambahan dari pembagian laba perusahaan di samping penghasilan yang diterima secara tetap.

d) Dalam hal perusahaan dilikuidasi, memiliki hak memperoleh pembagian kekayaan perusahaan di atas pemegang saham biasa setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi. (Syahyunan, 2013:200-201)

2.1.5.2 Tipe Analisa Saham

Setiap pelaku di pasar modal memerlukan suatu alat analisis untuk membantu dalam mengambil keputusan membeli atau menjual saham. Ada dua tipe dasar analisis saham yaitu:

a) Analisis Fundamental menyatakan bahwa setiap instrumen investasi mempunyai landasan yang kuat yaitu nilai instrinsik yang dapat ditentukan melalui suatu analisis yang sangat berhati-hati terhadap kondisi pada saat sekarang dan prospeknya dimasa yang akan datang. Ide dasar pendekatan ini adalah bahwa harga saham dipengaruhi oleh kinerja perusahaan.

b) Analisis Teknikal merupakan upaya untuk memperkirakan harga saham dengan mengamati perubahan harganya di waktu yang lalu, volume perdagangan dan indeks harga saham gabungan . Perubahan harga saham cenderung bergerak pada satu arah tertentu (Trend). (Kodrat &

Kurniawan, 2010:1-2)

2.1.5.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham dapat dibedakan menjadi faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal yang mempengaruhi harga saham adalah keputusan dividen, struktur permodalan, risiko dan pertumbuhan laba. Sedangkan faktor eksternal yang memperngaruhi harga saham adalah peraturan yang ada, resesi ekonomi, sentimen pasar dan lain-lain” (Weston dan Brigham, 1993 dalam Kodrat & Kurniawan 2010:2)

2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Berikut ini merupakan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian :

Tabel 2.1

Tinjauan Penelitian Terdahulu No Nama Peneliti Judul Variabel

Penelitian

2 Robana Tarigan

4 Yudi Pratama

Dividen

Sumber: berbagai jurnal dan penelitian terdahulu

H1

H3

H5 H6

H7 H2

H4 2.3 Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian

2.3.1 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual Penelitian

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa penelitian ini menggunakan variabel independen (X) yaitu Arus Kas Operasi (X1), Profitabilitas (X2), dan Pertumbuhan Penjualan (X3), sedangkan variabel dependen (Y) yang digunakan adalah Harga Saham serta penambahan variabel moderating (Z) yaitu Kebijakan Dividen.

Arus Kas Operasi (X1)

Pertumbuhan penjualan (X3)

Profitabilitas (ROE) (X2)

Harga Saham (Y)

Kebijakan Dividen (Z)

2.3.2 Hipotesis Penelitian

Hipotesis memiliki makna simpulan yang sifatnya masih rendah. Secara singkat hipotesis dapat dinyatakan sebagai simpulan sementara penelitian.

Hipotesis berfungsi sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan yang sedang diteliti. Kegunaannya untuk menjadikan arah penelitian semakin jelas atau memberikan arah bagi peneliti untuk melaksanakan penelitiannya secara baik.

2.3.2.1 Arus Kas Operasi terhadap Harga Saham

Arus kas mengekspresikan laba bersih ditambah depresiasi, yang secara aktual didistribusikan kepada investor, yakni setelah perusahaan menanamkan investasi di fixed assed dan modal kerjanya yang penting untuk kelanjutan operasi. Jadi “nilai perusahaan berhubungan dengan kemampuannya menghasilkan arus kas sehingga jika arus kasnya meningkat nilai perusahaan akan naik, yang selanjutnya juga akan menaikkan harga saham” (Brigham et al, 2001:110 dalam Ariandi, 2015). Aktivitas operasi adalah siklus kegiatan jangka pendek yang merupakan aktivitas penghasil utama pendapatan perusahaan. Semakin tinggi saldo kas bersih dari aktivitas operasi suatu perusahaan, diharapkan dapat meyakinkan investor bahwa operasi perusahaan dapat menghasilkan kas yang cukup untuk melunasi pinjaman, memelihara kemampuan operasi perusahaan, membayar dividen dan melakukan investasi baru tanpa mengandalkan pada sumber luar sehingga harga saham dapat meningkat. Hasil penelitian

oleh Yudi Pramata Ariandi (2015) dan Novy Budi Adiliawan (2010) mengatakan bahwa arus kas operasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Atas dasar uraian tersebut, maka penelitian ini mengajukan hipotesis pertama sebagai berikut:

H1 : Arus Kas Operasi berpengaruh terhadap Harga Saham.

2.3.2.2 Profitabilitas terhadap Harga Saham

Rasio profitabilitas merupakan suatu model analisis yang berupa perbandingan data keuangan sehingga informasi keuangan tersebut menjadi lebih berarti. Analisis ini sering digunakan untuk

Rasio profitabilitas merupakan suatu model analisis yang berupa perbandingan data keuangan sehingga informasi keuangan tersebut menjadi lebih berarti. Analisis ini sering digunakan untuk

Dalam dokumen FRANSISCA KRISTIANI PASARIBU (Halaman 21-0)

Dokumen terkait