• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap Pembentukan (Forming)

Dalam dokumen KAPALANANG SMARA SKRIP KARYA SENI (Halaman 39-0)

BAB III PROSES KREATIVITAS

3.3 Tahap Pembentukan (Forming)

Tahap pembentukan merupakan tahapan akhir dari proses kreativitas.

Segala hasil yang diperoleh baik diproses penjajagan maupun proses percobaan akan ditata dan disempurnakan pada tahap ini. Penata juga harus memikirkan kesesuaian bentuk tari yang digarap dengan hal-hal mendasar yang ada dalam tarian, seperti gerak, ekspresi, irama, ruang, dan waktu.

Proses ini dilakukan secara bertahap dengan menjelaskan kepada pendukung mengenai ide dan konsep dari garapan palegongan, agar mereka mengetahui dan memiliki bayangan tentang cerita yang akan digarap. Hal ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada pendukung agar lebih mudah dalam berekspresi sesuai dengan karakter yang akan dibawakan.

Pada tahap pembentukan, juga dilakukan percobaan terhadap kostum, dan penentuan kecocokan kostum dengan warnanya agar dapat diketahui terganggu atau tidaknya gerakan saat menari, serta mengetahui kesesuaian efek dari tata lampu terhadap warna kostum tersebut. Setelah garapan tari kreasi palegongan ini terbentuk, latihan dilakukan secara lebih rutin untuk mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Setiap proses latihan, akan dilakukan penyeragaman gerak serta pembentukan pola lantai. Dengan melakukan pemantapan pada setiap

gerakan, penyatuan rasa gerak dan ekspresi dari dalam dengan musik pengiring pada setiap adegan, serta mencari kekompakan, sehingga dapat terwujud garapan yang benar-benar utuh. Proses latihan akan sesering mungkin dilakukan di Gedung Natya Mandala, agar para penari terbiasa dengan pola lantai di panggung tersebut.

Selama proses kreativitas berlangsung, banyak hambatan dan halangan yang penata rasakan. Adapun hambatan yang masih ditemui antara lain adalah sulitnya menyamakan kualitas gerak serta ekspresi yang harus diwujudkan dalam sebuah garapan kelompok yang menuntut kekompakan. Kedisiplinan waktu beberapa pendukung yang masih kurang, karena selain mendukung mereka juga mempunyai kesibukan yang berbeda-beda, disamping itu mereka juga harus mengikuti studinya masing-masing.

Dibalik hambatan tersebut banyak faktor yang mendukung kelancaran proses penggarapan ini, antara lain adanya dukungan moral dan juga tenaga, serta kesanggupan pendukung yang merupakan motivasi penata untuk lebih semangat dalam berkarya. Kemampuan pendukung yang begitu cepat menerima setiap gerakan yang diberikan, dan dukungan penata karawitan dan pendukungnya yang kompak serta menampakkan rasa simpati dengan menyelesaikan iringan sesuai waktu yang diinginkan.

Perbaikan selalu didapatkan selama proses tersebut berlangsung melalui bimbingan-bimbingan yang terus dilakukan dengan dosen pembimbing. Hasil dari proses perbaikan dan bimbingan inilah yang digunakan untuk menyempurnakan dan sangat bermanfaat bagi penggarapan tari kreasi palegongan ini agar keutuhan garapan dapat diwujudkan.

Tabel 3

Tahap Pembentukan (Forming) Bulan April dan Mei 2013

Periode dari segi angsel dan agem agar rasa dari tarian tersebut sama dengan pendukung.

Minggu I Latihan dengan pendukung Mendapatkan beberapa

(Mei) tari untuk mencari ekspresi yang diinginkan sesuai dengan konsep dan isi cerita.

penyempurnaan garapan lighting dan stage crew di Panggung Natya Mandala.

BAB IV WUJUD GARAPAN

Wujud merupakan salah satu bagian dari tiga elemen karya seni (wujud, isi/bobot, dan penampilan), serta menjadi elemen dasar yang terkandung dalam karya seni. Wujud adalah sesuatu yang dapat secara nyata dipersepsikan melalui mata atau telinga atau secara abstrak yang dapat dibayangkan atau dikhayalkan. 10

4.1 Deskripsi Garapan

Kapalanang Smara merupakan sebuah bentuk tari kreasi palegongan yang dikembangkan dari tari klasik Legong yang kemudian diubah dari segi ceritanya, kostum, struktur garapan, motif gerakan maupun dari segi iringan, tetapi tetap memperhatikan karakteristik dan ciri khas dari tari klasik Legong tersebut.

Garapan ini mengambil tema tentang kesetiaan, membentuk kelompok yang ditarikan oleh 5 orang penari wanita, dengan mengangkat sebuah cerita kisah sepasang burung Titiran (Perkutut) yang sedang memadu kasih. Suasana alam yang bebas dengan gemericik air sungai yang mengalir membuat pasangan burung Titiran tersebut sangat menikmati apa yang diperolehnya. Sesekali pasangan burung menghampiri pinggir sungai untuk meminum air dan membasahi tubuhnya. Namum secara tiba-tiba datang seekor burung yang mulai membuat pasangan burung Titiran (Perkutut) itu merasakan kondisi yang tidak nyaman.

Mendapat gangguan dari burung yang lain, pasangan burung tersebut mulai sedikit demi sedikit memunculkan perlawanan. Akhirnya demi mempertahankan hubungan, salah satu burung berkelahi dengan burung pengganggu dan akhirnya

10A. A. M. Djelantik, 1999, Estetika Sebuah Pengantar, Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI), p. 17.

29

burung pengganggu kabur dan sepasang burung Titiran (Perkutut) mencari tempat lain yang aman dan nyaman. Tema inilah yang harus disesuikan dengan struktur garapannya agar menjadi satu kesatuan yang utuh. Struktur garapan tari kreasi palegongan Kapalanang Smara (Perkutut) yaitu pangrangrang, papeson, pangawak, pangecet, pangetog, pasiat, pakaad. Gerakan-gerakan yang dipergunakan dalam tari kreasi Palegongan Kapalanang Smara adalah pengembangan dari gerak-gerak tari Legong, seperti agem, dan angsel gerak yang muncul berdasarkan inspirasi penata sendiri. Tentunya dalam hal ini, penata menginginkan motif gerakan yang dipergunakan dalam garapan dapat berbeda dari gerak-gerak Legong yang telah ada sebelumnya.

Pesan yang ingin penata sampaikan dalam garapan tari kreasi palegongan Kapalanang Smara adalah kesetiaan. Pada hakekatnya setiap manusia sudah memiliki jalan hidup masing-masing, baik rejeki dan jodoh. Manusia dikodratkan untuk saling setia terhadap pasangannya, namun di zaman mordernisasi saat ini, hal tersebut mulai menyimpang dengan banyaknya pasangan yang sudah mengikat janji melalui proses pernikahan dirusak dengan adanya perselingkuhan. Dari foneomena tersebut penata mengangkat cerita ini agar setiap pasangan mulai sadar akan pentingnya kesetiaan. Binatang kecil seperti burung yang pada dasarnya tidak memiliki idep (pikiran) mempunyai rasa memiliki dan setia terhadap pasangan. Sedangkan manusia yang hakekatnya mempunyai pemikiran, kadang-kadang perilakunya menyimpang dan dikalahkan oleh binatang. Dari garapan ini mudah-mudahan pesan yang ingin disampaikan tentang kesetiaan bisa dimengerti oleh penonton dan bisa diterapkan dalam suatu hubungan.

Durasi waktu yang digunakan dalam garapan tari kreasi Palegongan Kapalanang Smara adalah kurang lebih 12 menit 30 detik, yang disajikan di panggung proscenium Gedung Natya Mandala ISI Denpasar. Berdasarkan durasi waktu yang digunakan, diharapkan garapan ini dapat tampil secara utuh, adanya suatu komunikasi, dan dapat dinikmati penontonnya.

Dalam penampilannya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam garapan ini seperti tata rias dan busana, properti, serta iringan tari yang digunakan.

Kostum yang digunakan dalam garapan ini adalah konsep tradisi yang tidak berlebihan, dengan tujuan agar kostum nantinya tidak mengganggu ruang gerak penari. Kostum garapan ini menggunakan ciri khas palegongan yang telah ada, namun ada beberapa bagian yang diberi inovasi seperti motif dan warna agar dapat menampilkan nuansa baru. Tata rias yang digunakan dalam garapan ini adalah tata rias panggung putri halus. Warna kostum yang dominan digunakan dalam garapan ini adalah warna orange, hitam, abu-abu dan putih. Penggunaan warna ini disesuaikan dengan warna dari burung Titiran, tetapi sudah dimodifikasi. Selain itu, properti yang digunakan dalam garapan ini yaitu kipas, yang telah menjadi ciri khas dari tari palegongan.

Untuk memperkuat suasana yang ada dalam garapan tari Kapalanang Smara ini, tentu ada musik pengiringnya. Dalam garapan Kapalanang Smara ini diiringi oleh seperangkat gamelan palegongan untuk mendukung suasana yang terdapat dalam garapan. Iringan tari Kapalanang Smara ini ditata oleh I Ketut Sujena, S.Sn dan pendukung karawitan dari Banjar Binoh Kaja Denpasar. Penata kostum dalam garapan ini adalah I Wayan Balik Maharsa.

4.2 Analisa Pola Struktur

Garapan tari kreasi palegongan Kapalanang Smara ini terbagi menjadi 7 bagian. Pembagian ini dilakukan untuk mempermudah penggambaran dan penghayatan garapan, sehingga penonton mengerti maksud maupun pesan yang disampaikan. Adapun struktur tarinya terdiri dari pangrangrang, papeson, pangawak, pangecet, pangetog, pasiat, pakaad. Untuk lebih jelasnya, diuraikan sebagai berikut.

1. Pangrangrang

Pada bagian pangrangrang penata menggambarkan 2 ekor burung Titiran (Perkutut) yang memadu kasih dan menunjukkan kesetiaan terhadap pasangannya. Adapun gerak tari yang terdapat pada bagian ini, yaitu : Kedua penari melakukan gerakan putar di tempat, dan tiga penari datang dari wing kanan dengan gerakan nyregseg dan menghadap ke pojok bersimpuh dan melakukan gerakan ngotag. Kelima penari menghadap ke pojok kiri depan, dengan posisi diagonal kelima penari melakukan gerakan ngegol sambil memegang lamak. Dua penari nyregseg kesamping kanan dan kiri, tiga penari lagi melakukan gerakan yang sama yaitu nyregseg.

2. Papeson

Pada bagian papeson penata menggambarkan keelokan dari burung Titiran (Perkutut) yang sangat lincah. Aktivitas burung Titiran (Perkutut) sehari-hari yaitu berkicau, nyiksik bulu, mandi, bercengkrama dengan burung yang lain sebangsanya. Adapun gerak-gerak yang digunakan pada bagian ini, yaitu: Kelima penari melakukan gerakan kompak angkat kiri, ngeseh, kipas berada di atas, tangan kanan kemudian di bawah ke atas kepala, dan

lurus ke samping kanan, kaki kanan di silang gerakan ini diulang 2x, putar di tempat, tayung kaki kiri, nyregseg, miles kanan, agem kanan, naik turun, ngelier, nyeledet tengah pojok, maju kaki kanan, kipas di atas kepala, ngelier, nyeledet, turun 2x, kedua tangan lurus ke depan, kaki kiri mundur, nyegut, miles kiri, kipas kearah pojok, nyegut, angkat kaki kanan, badan mengarah ke pojok kiri, dengan posisi kipas di depan dada, dengan gerakan kipas naik turun 2x, tangan di buka, ngelier, nyeledet kiri badan ke pojok kanan, kipas menghadap ke pojok kanan, ngeseh, sogok kiri, muter kanan.

3. Pangawak

Bagian pangawak penata menggambarkan burung Titiran (Perkutut) yang sedang bermain-main dengan sesama burung Titiran (Perkutut).

Beterbangan kesana kemari dengan riangnya sambil sesekali bercengkrama dengan temannya. Adapun gerak tari yang terdapat pada bagian ini, yaitu : Ngotag, ngeliput, lurus tangan kiri, tangan kanan mengarah ke samping kanan, tangan kiri di depan dada, panjang tangan kiri, tayung kiri, nyregseg kanan putar ditempat, nyalud kanan, agem kanan, uluwangsul, badan naik, posisi kipas menghadap ke pojok kanan, sogok kanan, miles kiri, tangan keduanya ke pojok kiri, tangan ke samping kiri, ngeseh, rebah kanan, tayung kiri, tangan kiri di atas kepala, nyeledet kiri, ngotag, kipek pojok kanan, ngeliput, miles kanan, kipek kiri, miles kiri, tangan kiri di atas kepala, tangan kanan menghadap ke pojok kanan, sogok, lihat tangan kiri, nyeleog, tangan kanan berada di samping kepala,

angkat kiri, maju kanan, tangan kiri berada di samping kepala, tangan kanan turun, ngeliput kanan, ngeliput kiri, maju kanan, maju kiri, putar.

4. Pangecet

Pada bagian pangecet penata menggambarkan 1 burung pengganggu yang mulai tidak suka melihat kemesraan dari sepasang burung Titiran (Perkutut), dan ingin memisahkannya. Adapun gerak tari yang terdapat pada bagian ini, yaitu : Kelima penari melakukan gerakan maju kaki kanan, tangan keduanya ditekuk, tutup kaki kiri, ngambil sayap, nyeleog kanan, nyeleog kiri, maju kaki kanan, sogok kiri, sledet 2x, ngegol kanan, ngegol kiri pandangan ke pojok kanan, pojok kiri, puter kanan, sledet kiri, nyegut, ngegol, sogok kanan, nyregseg.

5. Pangetog

Pada bagian pangetog menggambarkan salah satu pasangan burung Titiran (Perkutut) mulai marah karena diganggu oleh burung Titiran lain. Adapun gerak tari yang terdapat pada bagian ini, yaitu : Kedua penari melakukan gerakan angkat kaki kiri, ngeseh, miles kanan, rebah badan ke kanan, miles kiri, tangan kiri di pojok kanan atas rebah kanan, rebah kiri, putar dengan arah yang berlawanan.

6. Pasiat

Pada bagian pasiat penata menggambarkan perkelahian antara salah satu burung Titiran (Perkutut), dengan burung Titiran lain yang bukan pasangannya. Adapun gerak tari yang terdapat pada bagian ini, yaitu : Tangan kanan berada di atas, dan tangan kiri berada di bawah sambil memegang sayap. Kedua sayap di ambil, kemudian terbang, satu penari di

bawah, dan penari yang satu di atas, putar dan satu penari terjatuh dan melakukan gerakan ulap-ulap. Ketiga penari ke belakang sambil terbang dan memegang sayap sambil sesekali menengok ke depan. Ketiga penari terbang sambil menyerang burung yang berada di pojok kanan, burung tersebut akhirnya terjatuh.

7. Pakaad

Dibagian pakaad penata menggambarkan kesetiaan sepasang burung Titiran (Perkutut) walaupun mendapat gangguan dari burung Titiran yang lain, namun burung tersebut tetap mempertahankan kesetiaannya. Adapun gerak tari yang terdapat pada bagian ini, yaitu : Kelima penari melakukan gerakan kompak ngotag, sambil ngeliput kipas, panjang tangan kiri, kipas menghadap ke samping kanan, panjang kiri, tayung kaki kiri, ngeliput sambil putar.

4.3 Analisa Estetik

Estetik merupakan nilai keindahan yang terkandung dalam suatu karya seni, karena dalam menikmati suatu karya seni, juga melihat keindahannya selain pada konsep yang diterapkan. Suatu karya seni yang disertai dengan keindahan akan membuat penikmatnya merasa senang dan nikmat saat melihatnya, bahkan dapat merasa kelangen. Setiap karya memiliki nilai keindahan yang berbeda, demikian pula dengan penikmatnya yang memiliki nilai keindahan berbeda sesuai dengan pengalaman estetis masing-masing. Unsur-unsur keindahan dalam suatu karya seni meliputi wujud, bobot atau isi dan penampilannya. 11 Selain itu,

11 A.A.M. Dejelantik, 1999, Estetika Sebuah Pengantar, Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia Hal 17.

unsur estetik dalam suatu karya seni terdapat keutuhan, penonjolan, dan keseimbangan.

Terkait dengan garapan tari kreasi palegongan Kapalanang Smara tetap mempertahankan ciri khas dan keunikan yang menjadi identitas dari garapan tari kreasi palegongan ini.

Wujud garapan tari Kapalanang Smara terdiri dari bentuk dan struktur garapan. Garapan ini berbentuk tari palegongan kreasi yang terdiri dari 5 orang penari wanita, Garapan ini memiliki 7 bagian struktur yaitu pangrangrang, papeson, pangawak, pangecet, pangetog, pasiat, pakaad.

Penampilan adalah penyajian garapan yang disajikan, didalam penampilan ada tiga unsur yang berperan yaitu bakat, keterampilan dan sarana. Bakat dan keterampilan adalah unsur yang sangat menunjang dalam garapan. Untuk menghasilkan nilai yang baik perlu adanya latihan berulang-ulang untuk mencapai hasil yang maksimal. Bakat dan keterampilan penari sangat diperlukan untuk memperoleh hasil yang baik. Dengan demikian penata memilih pendukung tari yang memiliki bakat dan keterampilan sesuai dengan kebutuhan garapan, serta kemampuan yang seimbang dengan penata. Walaupun demikian, perlu dilakukan latihan secara berkesinambungan dan intensif agar rasa yang dimiliki masing-masing penari setara.

4.4 Analisa Simbol

Simbol merupakan media penting sebagai penghubung atau jalinan suatu komunikasi dalam sebuah garapan tari yang dapat dipergunakan untuk menyampaikan maksud tertentu kepada penikmatnya. Dalam seni tari, biasanya terdapat beberapa simbol yang digunakan untuk menyampaikan maksud tertentu

kepada penonton, baik dalam simbol gerak yang mampu menggambarkan karakter dan jenis tari yang dibawakan maupun warna kostum yang digunakan, mampu memperlihatkan karakter tari serta makna warna kostum yang terkait dengan isi garapan.

Untuk dapat menikmati karya seni biasanya lebih mengutamakan nilai keindahan, sehingga sebagai seorang seniman harus mampu menampilkan nilai keindahan tersebut. Adapun unsur-unsur keindahan pada karya seni meliputi wujud, bobot dan penampilan.12

Garapan tari Kapalanang Smara ini akan menggunakan beberapa simbol gerak yang memiliki makna yang dapat dijadikan ciri khas. Adapun simbol tersebut seperti: Sikap kedua tangan dengan posisi yang berbeda mencerminkan seekor burung. Gerakan meloncat mencerminkan karakter burung Titiran (Perkutut) yang lincah dan enerjik. Pada gerakan nyrigsig mencerminkan kepiawaian burung saat beterbangan.

4.5 Analisa Materi

Suatu karya seni mengandung beberapa materi yang menjadi media penampilannya, seperti gerak, desain koreografi, dan properti yang digunakan.

Ketiga hal tersebut memiliki keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya, sehingga saling mendukung dalam penyajiannya. Perbendaharaan gerak pada tari kreasi palegongan Kapalanang Smara sudah terdapat pengembangan sesuai kebutuhan garapan sebagai hasil adanya rangsangan kreatif yang muncul dari

12Dr. A.A.M. Djelantik, 1990. Pengantar Dasar Ilmu Estetika. Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Daenpsar.

dalam diri penata. Perbendaharaan gerak dalam garapan ini diharapkan dapat menjadi satu kesatuan yang utuh agar garapan dapat terlihat menarik.

Karya seni tari tidak pernah lepas dari gerak yang merupakan media penuangan dari penatanya. Terkait dengan garapan kreasi palegongan Kapalanang Smara ini terdapat beberapa motif gerak yang diambil dari gerak-gerak dasar tari Legong Kraton yang dikembangkan sesuai dengan konsep yang dipakai. Tari Kapalanang Smara adalah tari kreasi palegongan yang didalam penggarapannya masih berpijak dari pola-pola tradisi yang dikreasikan. Motif-motif gerak yang digunakan adalah sebagi berikut.

a. Agem : sikap atau pokok dalam tari Bali yang dilakukan dengan membusungkan dada ke depan dan perut dikempiskan.

b. Ngelier : gerakan perputaran dagu ke kanan atau ke kiri secara halus dan diikuti oleh gerakan mengecilkan salah satu mata.

c. Nyeledet : gerakan mata kekiri dan kekanan disertai dengan gerakan dagu dan kepala.

d. Nyegut : gerak mata disertai dengan gerakan kepala dengan mengerutkan kedua alis, pandangan jatuh ke bawah dan kembali ke atas dengan ekspresi tajam.

e. Makipekan : gerakan kepala menoleh kesamping seperti memalingkan muka.

f. Ngeed : posisi badan dengan level rendah setara dengan lutut yang ditekuk.

g. Ulu Wangsul : gerakan leher ke kanan dan ke kiri, dilakukan dengan lambat.

h. Ngumbang : gerakan peralihan dengan berjalan ngegol, berjalan mengikuti pukulan kajar, diikuti gerakan kepala.

i. Nyregseg : gerakan kaki yang dijinjit dalam posisi merendah dan bergeser ke kanan dan ke kiri secara cepat.

j. Ileg-ileg : gerakan leher diikuti gerakan kepala ke kanan dan ke kiri, dilakukan dengan cepat.

k. Ngekes : posisi tangan memegang kipas yang terbuka, ujung kipas menyentuh buah dada kanan

l. Ngepel : posisi tangan memegang kipas yang terbuka dengan cara dikepal.

m. Ngeliput : gerakan tangan yang terfokus pada pergelangan tangan, kipas memutar ke luar dan ke dalam.

n. Ngiluk : posisi tangan memegang kipas yang terbuka dengan melekukkan pergelangan tangan ke dalam, sehingga ujung kipas menyentuh buah dada kanan.

o. Ngegol : gerakan mengangkat kaki kanan atau kiri secara bergantian dalam posisi tubuh merendah, sehingga diikuti oleh gerakan pinggul dan kepala yang searah dengan gerakan kaki.

p. Ngelo : gerakan badan yang melengkung ke kanan dan ke kiri secara bergantian.

q. Ngeseh : gerakan memutar pundak atau bahu secara cepat.

r. Miles : gerakan kaki yang digunakan untuk merubah posisi agem.

s. Ngisi lamak : Tangan kiri memegang lamak dalam posisi ditekuk dan diangkat sampai setinggi dada.

4.5.1 Desain Koreografi

Mewujudkan suatu garapan tari yang berkualitas, tidak hanya menggunakan dan memikirkan gerakan, namun juga perlu dipikirkan mengenai desain koreografi yang digunakan. Garapan tari kreasi palegongan Kapalanang Smara termasuk dalam komposisi tari kelompok, dengan fondasi pokoknya yaitu desain lantai.13 Desain yang dimaksud, yaitu :

1. Desain serempak (unison)

Desain serempak atau unison merupakan desain yang mengutamakan kekompakan, kebersamaan atau keseragaman. Desain ini dipergunakan pada setiap bagian dalam garapan tari kreasi palegongan Kapalanang Smara.

2. Desain bergantian (canon)

Desain bergantian atau canon merupakan desain yang dilakukan secara bergantian antara penari satu dengan penari lain secara susul-menyusul.

Desain ini ada pada setiap bagian dalam garapan tari kreasi palegongan Kapalanang Smara .

3. Desain terpecah (broken)

Desain terpecah atau broken merupakan desain yang memberikan kesan ketidakberaturan yang penarinya melakukan gerakan antara penari satu dengan penari lainnya tidak sama dan arah berbeda dengan kesan kacau.

4. Desain berimbang (balanced)

13Soedarsono, 1986, Elemen-Elemen Dasar Komposisi Tari (terjemahan dari Dances Composition, the Basic Elements oleh La Meri), Yogyakarta: Lagaligo, p. 113.

Desain yang membagi penari menjadi dua kelompok yang simetris, dan biasanya pada desain ini juga ditampilkan gerak-gerak yang sama. Adapun makna desain pada garapan ini adalah untuk menggambarkan kesan berimbang pada pola lantainya.

4.6 Analisa Penyajian

Garapan tari kreasi palegongan Kapalanang Smara ini disajikan dalam durasi waktu kurang lebih 12 menit 30 detik yang terbagi menjadi tujuh bagian, yaitu pangrangrang, papeson, pangawak, pangecet, pangetog, pasiat, dan pakaad. Seluruh bagian-bagian tersebut kemudian akan dirangkai hingga membentuk suatu garapan yang utuh, dengan menggunakan motif gerak yang dikembangkan dari motif gerak yang sudah ada. Pengaturan pencahayaan panggung akan disesuaikan dengan keperluan dari setiap adegan dalam garapan ini. Beberapa hal yang termasuk dalam penyajian tari kreasi palegongan Kapalanang Smara ini meliputi tempat pertunjukan, tatarias dan busana, adegan, pola lantai, tata cahaya, serta musik iringan tari. Hal tersebut merupakan elemen-elemen pendukung dalam penyajian karya seni tari.

4.6.1 Tempat Pertunjukan, Tata Cahaya, dan Dekorasi Panggung

Garapan tari kreasi palegongan Kapalanang Smara ini disajikan di panggung prosenium Gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia Denpasar.

Tempat pertunjukan tersebut merupakan panggung yang bagian depannya berbingkai dan penonton hanya berada di depan saja. Untuk menciptakan kesan atau suasana yang diinginkan dalam pertunjukkannya, memanfaatkan pencahayaan yang ditata atau diatur sedemikian rupa serta penggunaan layar yang

memang sesuai dengan kostum dan kebutuhan garapan. Berikut adalah gambar panggung prosenium gedung Natya Mandala, ISI Denpasar, yang dilengkapi

memang sesuai dengan kostum dan kebutuhan garapan. Berikut adalah gambar panggung prosenium gedung Natya Mandala, ISI Denpasar, yang dilengkapi

Dalam dokumen KAPALANANG SMARA SKRIP KARYA SENI (Halaman 39-0)

Dokumen terkait