BAB I PENDAHULUAN
1.5 Ruang Lingkup
Garapan ini didukung oleh 5 orang penari putri yang nantinya memerankan burung Titiran (Perkutut) dan satu burung Titiran sebagai burung pengganggu. Kostum yang akan dipergunakan sesuai dengan kostum palegongan namun telah dimodifikasikan sesuai dengan kemampuan penggarap. Garapan ini diiringi dengan gamelan palegongan, dengan durasi kurang lebih 12 menit 30 detik.
Garapan tari kreasi baru palegongan mengisahkan tentang kehidupan burung Titiran (Perkutut). Adapun tema yang akan di angkat adalah kesetiaan.
Cerita yang akan dipergunakan dalam garapan ini merupakan realita kehidupan burung Titiran (Perkutut) di alam bebas. Cerita ini terinspirasi dari kehidupan nyata dari burung-burung Titiran (Perkutut) yang secara kebetulan penata saksikan di daerah bekas galian C Tukad Unda, Kabupaten Klungkung pada tanggal 16 September 2012. Cerita ini dimulai dari suasana sore hari di hamparan aliran sungai yang berisi pepohonan yang cukup banyak, sepasang burung Titiran (Perkutut) turun dan hinggap di pinggir sungai yang tenang untuk meminum air.
Sambil meminum air kedua pasangan burung tersebut terlihat berkasih-kasihan dengan pasangannya dengan isyarat, bahasa dan gerak-gerik yang hanya
dimengerti oleh mereka. Ketika sedang asik berkasih-kasihan, tiba-tiba sepasang burung itu dikejutkan oleh datangnya seekor burung Titiran lain yang hendak memisahkan sepasang burung tersebut. Salah satu burung mulai marah dan mengusir burung pengganggu. Akhirnya burung pengganggu meninggalkan sepasang burung dan pasangan tersebut terbang mencari tempat yang lain yang aman dan nyaman untuk mereka.
Dari cerita diatas, garapan yang dibuat ini memiliki batasan-batasan dan masih berpijak pada pola tradisi, namun susunan polanya tidak seperti tari Legong pada umumnya. Pada bagian ini penggarap memulainya dari bagian pangrangrang, papeson, pangawak, pangecet, pangetog, pasiat, pakaad. Adapun penjelasan dari struktur tersebut sebagai berikut :
1. Pangrangrang
Pada bagian pangrangrang penata menggambarkan 2 ekor burung Titiran (Perkutut) yang memadu kasih dan menunjukkan kesetiaan terhadap pasangannya.
2. Papeson
Pada bagian papeson penata menggambarkan keelokan dari burung Titiran (Perkutut) yang gerak-geriknya sangat lincah. Aktivitas burung Titiran (Perkutut) sehari-hari yaitu berkicau, nyiksik bulu, mandi, bercengkrama dengan pasangannya.
3. Pangawak
Bagian pangawak penata menggambarkan burung Titiran (Perkutut) yang sedang bermain-main dengan sesama burung Titiran (Perkutut).
Beterbangan kesana kemari dengan riangnya sambil sesekali bercengkrama dengan temannya.
4. Pangecet
Pada bagian pangecet penata menggambarkan 1 burung yang mulai mengganggu dan mulai tidak suka melihat kemesraan dari sepasang burung Titiran (Perkutut), serta ingin memisahkannya.
5. Pangetog
Pada bagian pangetog menggambarkan salah satu pasangan burung Titiran (Perkutut) mulai marah karena diganggu oleh burung lain.
6. Pasiat
Pada bagian pasiat penata menggambarkan perkelahian antara salah satu burung Titiran (Perkutut), dengan burung Titiran lain yang bukan pasangannya.
7. Pakaad
Di bagian pakaad penata menggambarkan kesetiaan sepasang burung Titiran (Perkutut) walaupun mendapat gangguan dari burung lain, namun burung tersebut tetap ingin mempertahankan kesetiaannya.
Garapan Kapalanang Smara ini diiringi oleh seperangkat gamelan palegongan yang nantinya dapat mendukung suasana yang terdapat dalam garapan. Iringan tari Kapalanang Smara ini ditata oleh I Ketut Sujena, S.Sn dan pendukung karawitan berasal dari Banjar Binoh Kaja, Denpasar.
BAB II KAJIAN SUMBER
Karya tari tidak semata-mata hanya menciptakan suatu garapan, namun karya tari membutuhkan dukungan berupa karya tulis yang tentunya dalam pembuatannya mengacu pada berbagai sumber baik tertulis maupun tidak tertulis.
Sumber yang berupa buku, dokumen dan hasil wawancara inilah yang nantinya akan dipakai pedoman pokok untuk menjelaskan garapan tari secara tertulis dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
2.1 Sumber Tertulis
Penangkaran perkutut (Titiran (Perkutut)) oleh Wahyu Dwi Widodo dan Eko M. Nurcahyo diterbitkan Penebar Swadaya, Jakarta, 2005. Buku ini memberikan penjelasan akan sifat-sifat burung Titiran (Perkutut) ciri-cirinya sehingga memberikan inspirasi sebelum penata memulai proses garapan tari.
Komposisi Tari Elemen-Elemen Dasar oleh Soedarsono, yang diterbitkan oleh Akademi Seni Tari Indonesia, Yogyakarta, 1975. Buku ini adalah terjemahan dari buku Dance Composition The Basis Elements, oleh La Meri. Buku ini berisikan pengetahuan dasar tentang komposisi tari, bagaimana mengembangkan gerak agar tampak indah serta membuat gerak-gerak dasar dengan berpatokan pada elemen-elemen dari komposisi tari. Adapun manfaat yang diperoleh dari buku ini adalah penata dapat memahami bagaimana cara membuat komposisi dalam berkoreografi.
10
Bergerak Menurut Kata Hati oleh Alma Hawkins, yang diterbitkan oleh Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia, Jakarta, 2003.
Buku ini adalah terjemahan dari buku Moving From Within oleh I Wayan Dibia.
Buku ini memberikan imajinasi gerak kepada penata sebelum memproses suatu garapan tari.
“ Tari Legong Dalam Modernisasi Budaya Bali” oleh DR. I Wayan Dibia, SST. MA. Tulisan ini merupakan sebuah paper yang di dalam “Mudra” Jurnal seni Budaya No. 7 th. VII, Februari 1999 terbitan STSI Denpasar, hal yang menarik yang penata dapatkan setelah membaca paper ini adalah pernyataan Dr. I Wayan Dibia SST.MA yang menjelaskan bahwa: “
Pertama, Legong masih tetap hidup di Bali dan unsur-unsurnya telah dibiakkan di dalam tari-tarian Bali yang lahir kemudian: kedua palegongan telah dijadikan salah satu konsep garapan tari oleh seniman muda di daerah ini untuk menghasilkan karya-karya baru: dan ketiga, di dalam beberapa decade ini telah lahir kreasi-kreasi legong, baik oleh seniman putra Bali maupun seniman luar, dengan memasukkan unsur-unsur seni pentas modern, yang tentu saja diharapkan akan dapat memperkaya khasanah seni palegongan.
Ketiga hal tersebut telah memberikan motivasi yang sangat kuat kepada penata untuk mewujudkan rencana garapan kreasi baru palegongan Kapalanang Smara.
Evolusi Tari Bali, oleh Prof. Dr. Made bandem, diterbitkan oleh Kanisius Yogyakarta, tahun 1996 (82 halaman). Buku ini memang sangat besar manfaatnya sebagai acuan, terutama lewat buku ini penulis dapat mempelajari evolusi tari bali khususnya evolusi tari legong. Bandem menyatakan bahwa:
Proses terjadinya tari legong sudah merupakan sebuah contoh sederhana seniman-seniman yang mampu berkreasi, mengambil elemen dari kerakyatan yang dikembangkan menjadi kesenian yang tinggi mutunya”
(hal 46-47). Selanjutnya dikatakan bahwa: “ meskipun pengaruh luar
cukup kuat, para pencipta tari bali tetap menggunakan bentuk lama sebagai bahan pokok” (hal 47).
Pekan Apresiasi Legong, diterbitkan oleh bengkel tari Ayu Bulan bekerjasama dengan Studio Rumah pertunjukan Bandung, Galeri Bandung dan Galeri hidayat, 1994. Hal yang menarik bagi penata adalah Legong telah menjadi inspirasi bagi seniman tari, pelukis, penyair, dan fotografer. Bukti ini menambah keyakinan penata untuk menggarap sebuah tari yang bertitik tolak dari palegongan.
Kaja and Kelod: Balinese Dance in Transition, oleh I Made Bandem and Fredrik Eugene Deboer, diterbitkan oleh Oxford University Press, 1981.
Mengenai Legong, dalam buku ini disebutkan sebagai berikut: Legong barangkali paling dikenal di dunia barat kalau dibandingkan dengan tari-tarian klasik bali lainnya. Legong ditarikan oleh dua atau tiga orang anak-anak dengan gerakan yang halus dan rumit. Para penari cilik itu mengenakan hiasan kepala dan kostum yang indah dan mempertunjukkan dramatari yang abstrak diiringi dengan gamelan palegongan. Pecinta tari dari beberapa negara akhirnya sangat menghargai keindahan legong itu setelah menyaksikannya lewat misi kesenian atau menontonnya lewat film. Keindahan kostum dan kerumitan gerak legong juga merupakan salah satu inspirasi bagi penata untuk menggarap tari kreasi baru palegongan Kapalanang Smara.
2.2 Sumber Audio Visual
Selain menggunakan sumber-sumber tertulis, juga digunakan sumber audio visual sebagai penunjang dan bahan perbandingan bagaimana menempatkan struktur garapan. Sumber-sumber audio visual yang digunakan sebagai berikut :
a. Rekaman video Legong Kanya Maya karya Rai Ayu Yati Darayani tahun 2007, rekaman ini memberikan inspirasi penata dalam mengembangkat motif-motif gerak tari Legong kreasi.
b. Rekaman video Tari Legong Sipta Purwaka karya Ni Nengah Ari Wijayani tahun 2012, memberikan inspirasi kepada penata dalam mendesain kostum yang akan digunakan dalam karya tugas akhir, agar terkesan sederhana, tidak ribet dan gerak-gerak yang akan ditonjolkan tidak ditutupi oleh kostum sehingga keindahan dari gerak tersebut lebih terlihat.
2.3 Sumber Wawancara
Pertama, penata mengadakan wawancara dengan I Wayan Nuradiasa (Tanggal 3 Oktober 2012), seorang seniman alam dan sekaligus pecinta burung Titiran. Dalam wawancara tersebut didapatkan informasi mengenai tingkah laku burung Titiran, ciri-ciri burung Titiran serta proses perkawinannya, perkembangan kehidupan burung tersebut, serta isyarat yang diperoleh ketika mendengarkan suara burung Titiran.
Kedua, penata mengadakan wawancara dengan peternak burung Titiran yang bernama I Wayan Sumantra. Hasil dari wawancara tersebut adalah bagaimana memilih, mencocokkan serta mengawinkan burung Titiran jantan dan burung Titiran betina. Beliau mengatakan susah-susah mudah dalam menyatukan burung Titiran, tergantung apakah burung tersebut cocok dan sesuai dengan pasangan yang diberikan.
BAB III
PROSES KREATIVITAS
Suatu karya tari tentu tidak dapat terwujud begitu saja. Terciptanya suatu karya tari tidak terlepas dari sebuah konsep yang merupakan rangkaian proses yang harus dilalui. Konsep meliputi rencana pemilihan tema, judul, bentuk garapan, kostum, iringan, maupun properti yang digunakan. Pada proses ini perlu dijelaskan beberapa hal yang dialami dalam menggarap kerya seni yang didalami, termasuk penemuan ide sampai pengembangan gerak yang diolah dari awal hingga terwujudnya suatu bentuk karya yang diinginkan.
Terwujudnya suatu karya tari memerlukan waktu dan proses yang panjang.
Proses yang dimaksud adalah langkah-langkah yang ditempuh mulai dari mendapatkan ide sampai garapan itu terwujud. Untuk memudahkan proses tersebut diperlukan beberapa teori yang menjadi landasan dasar. Sehubungan dengan proses penggarapan tari, menurut M. Hawkins dalam bukunya Creating Through Dance, berpendapat bahwa penciptaan tari ditempuh melalui tiga tahap yaitu eksplorasi (exploration), improvisasi (improvisation), dan pembentukan (forming).8
3.1. Tahap Penjajagan (Exploration)
Tahap penjajagan merupakan tahap awal dalam berkarya yaitu melalui pemikiran yang jernih dan perenungan yang mendalam tentang gagasan yang diinginkan. Tahap ini dilakukan pada bulan November 2012 dimulai dengan
8 Y. Sumandiyo Hadi. 1990, Mencipta Lewat Tari (Terjemahan Buku Creating Through Dance karya Alma M. Hawkins). Yogyakarta: Institut Seni Indonesia, p. 27-46.
14
mencari acuan pedoman tertulis maupun tidak tertulis serta mencari ide yang akan diangkat dalam garapan tari kreasi palegongan Kapalanang Smara
Tahap ini sudah dilaksanakan sejak perkuliahan koreografi VI pada semester VII. Setiap perkuliahan koreografi mahasiswa diminta untuk bisa menciptakan karya seni berupa karya tari. Hal ini bertujuan untuk mengasah dan menggali ide-ide baru dalam penciptaan karya seni untuk mempermudah pada saat Tugas Akhir (TA). Dampaknya yaitu sebelum penyusunan Tugas Akhir (TA), penata sudah mampu memunculkan ide baru dalam menciptakan karya seni berupa tari kreasi baru palegongan, akan tetapi dibutuhkan keyakinan dan pemikiran yang sangat mendalam untuk memantapkan ide berdasarkan kemampuan serta kemauan yang penata miliki sebagai dasar utama dalam proses penggarapannya.
Setelah mendapat keyakinan serta pemikiran yang kuat, maka penata mulai menentukan ide garapannya. Ide garapan ini diperoleh dari pengamatan secara langsung pada bulan-bulan sebelumnya. Cerita ini mendapat inspirasi dari kehidupan nyata burung-burung Titiran, ketika suatu kebetulan penata berada di sebuah sungai, dimana di daerah tersebut merupakan bekas galian C yang bernama Tukad Unda, terletak di Kabupaten Klungkung pada tanggal 16 September 2012. Pada sore hari di hamparan aliran sungai yang berisi pepohonan yang cukup banyak, secara tidak sengaja penata melihat beberapa burung Titiran, dari semua burung Titiran yang turun, ada sepasang burung Titiran yang selalu berdekatan, sepasang burung Titiran (Perkutut) hinggap di pinggir sungai yang tenang untuk meminum air. Sambil meminum air, kedua pasangan burung tersebut berkasih kasihan dengan isyarat dan bahasa yang mungkin hanya
dimengerti oleh mereka. Ketika sedang asik bermain dan berkasih-kasihan, tiba-tiba sepasang burung itu dikejutkan oleh datangnya seekor burung Titiran lain yang hendak memisahkan mereka. Salah satu pasangan burung mulai marah dan mengusir burung penggangu tersebut. Akhirnya burung pengganggu meninggalkan mereka dan pasangan tersebut terbang mencari tempat lain yang aman dan nyaman.
Dari pengalaman yang penata lihat secara langsung, akhirnya diputuskan mengangkat sebuah kisah tentang burung Titiran (Perkutut), untuk diangkat menjadi sebuah garapan tari kreasi palegongan. Selain itu juga ditempuh dengan cara melakukan pendekatan dan berdiskusi dengan beberapa seniman dan mencari informasi-informasi yang berhubungan dengan burung Titiran (Perkutut). Melihat keunikan burung Titiran (Perkutut) yang alami, dengan gerak-geriknya tenang tapi lincah, diperlukan eksplorasi yang lebih mendalam. Penata memutuskan untuk mewawancarai pecinta burung Titiran (Perkutut) sekaligus pengembangbiakan burung Titiran (Perkutut). Pada kesempatan yang bersamaan, penata juga mengamati burung Titiran (Perkutut) secara langsung di tempat pengembangbiakan. Tekhnik ini dilakukan sebagai upaya untuk dapat mengimajinasikan sekaligus mentransfer gerak gerik dari burung Titiran ke dalam gerak tari. Dalam perkembangannya, penata kembali mempersiapkan segala aspek yang berkaitan dengan proses garapan seperti penentuan ide, tema, bentuk garapan, kostum dan iringan. Setelah itu, penata mencoba mencari sumber-sumber yang ada kaitannya dengan burung Titiran (Perkutut), salah satunya yaitu mengadakan wawancara langsung dengan pecinta sekaligus peternak burung Titiran (Perkutut) yang bernama I Wayan Sumantra di Banjar Kawan Bangli, pada
bulan November 2012. Hal ini dapat membantu penata untuk menambah informasi sekaligus inspirasi untuk menggarap tari kreasi baru Kapalanang Smara.
Tari Kapalanang Smara ditarikan oleh lima orang penari wanita termasuk penata sendiri. Melalui proses penjajagan, penata berusaha mencari 4 orang pendukung tari dengan beberapa pertimbangan seperti mempunyai postur tubuh yang sama, kualitas gerak dan karakter gerak yang seimbang dengan penata.
Disamping itu kesanggupan meluangkan waktu untuk mengikuti latihan sangat diperlukan agar tidak menghambat jalannya latihan. Setelah mendapatkan 4 pendukung tari yang sesuai dengan pertimbangan penata, yaitu mahasiswa dari semester II sebanyak 1 orang dan dari semester IV sebanyak 3 orang yang semuanya mahasiswa ISI Denpasar. Selanjutnya penata mencari seorang penata tabuh, yang penata percayakan untuk iringan musik yang sesuai dengan suasana dan cerita yang diangkat dalam mendukung ujian Tugas akhir. Penggarap musik tari Kapalanang Smara penata percayakan kepada I Ketut Sujena, S.Sn yang merupakan alumni ISI Denpasar pada tahun 1998, dengan pendukung karawitan berasal dari Banjar Binoh Kaja, Denpasar.
Hal-hal lain yang perlu dipersiapkan dalam tahap penjajagan, yaitu gerak, kostum, dan penentuan jadwal latihan. Di samping persiapan terkait dengan garapan dan persiapan mental, persiapan secara niskala juga perlu dilakukan yaitu upacara di Bali yang biasa disebut nuasen, dengan mencari hari baik menurut kepercayaan orang Bali agar mendapatkan keselamatan, taksu, dan kekuatan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Nuasen (mencari hari baik) dilakukan pada hari Sabtu tanggal 7 Maret 2013 di Pura Padmasana Ardhanareswari ISI Denpasar.
Tabel 1
Tahap Penjajagan (Eksplorasi) Bulan November dan Desember 2012 Periode
Waktu per Minggu
Kegiatan / Usaha yang
dilakukan Hasil yang didapat Minggu I
Masih mencari tambahan ide, dengan mengamati tari dan jenis tari yang sering ditarikan.
Minggu IV terkait dengan karya seni yang akan digarap.
Mendapatkan beberapa pemahaman dan pengertian dalam memperjelas arah dan tujuan dari ide yang akan digarap. S.Sn, alumni ISI Denpasar yang berasal dari Banjar Binoh Kaja, Denpasar.
Minggu III konsep yang telah disusun per bagian kepada penata iringan
3.2 Tahap Percobaan (Improvisation)
Tahap percobaan merupakan langkah kedua dalam proses kreativitas, pada fase ini penata mencoba-coba bergerak sesuai dengan karakter burung tanpa diiringi dengan musik iringan, namun dalam pencarian gerak penata hanya menggunakan hitungan. Selain itu penata juga menonton seni pertunjukan yang terkait dengan karya tari terutama tari palegongan. Hal ini akan merangsang penata dan memberikan inspirasi dalam menemukan motif-motif gerak baru untuk digunakan dalam garapan ini. Motif gerak dipilih kemudian dimodifikasi dengan gerak baru sesuai dengan karakter yang akan diangkat. Semakin banyak penata bergerak dengan bebas, maka semakin banyak motif gerakan yang didapatkan walaupun gerakan tersebut belum disusun sedemikian rupa. Penata juga selalu mencoba melihat, dan membayangkan burung Titiran di sangkar maupun di alam bebas untuk dapat dihayati serta dirasakan agar dapat mentransformasikannya dalam gerak tari.
Gerakan-gerakan ini dirangkai menjadi jalinan gerak yang sebelumnya telah diseleksi dan dipertimbangkan terlebih dahulu. Dalam hal ini, penata menemukan integritas, dan kesatuan dalam berbagai percobaan, namun juga harus tetap mempertahankan identitas maupun karakter garapan itu sendiri. Rangkaian gerak kemudian disesuaikan dengan musik iringan yang telah digarap, karena seperti yang diketahui tari Legong mengandung arti gerakan yang sangat diikat (terutama aksentuasinya) oleh gamelan yang mengiringinya. 9
Pada proses ini, gerakan dicoba agar menyatu dengan musik iringan walaupun terkadang ada gerakan yang tidak sesuai dengan musik iringan. Bagi
9 I Wayan Dibia, 1999, Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali, Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia dan arti.line, p. 37.
penata, musik dapat merangsang munculnya gerak-gerak baru dan memberikan inspirasi terbentuknya jalinan kesatuan antara gerak dan pengiringnya. Penata sesering mungkin hadir ke tempat latihan penabuh sehingga penata dapat memahami dan merasakan iringan musik dengan baik. Hal ini dilakukan agar proses penggarapan tari dan tabuh dapat berjalan dengan baik dan sesuai harapan.
Bimbingan-bimbingan juga perlu dilakukan dalam proses penggarapan agar mendapat saran-saran untuk kesempurnaan garapan tari yang diwujudkan, dan sudah dimulai sejak mendapatkan mata kuliah Koreografi VI di semester VII.
Tabel 2
Tahap Percobaan (Improvisasi) Bulan Pebruari dan Maret 2013
Periode Waktu per
Minggu
Kegiatan / Usaha yang
dilakukan Hasil yang didapat Minggu II
kepada pendukung tari.
pangetog. baik dari segi ritme dan angsel.
Terbentuknya seluruh
pendukung tari, mengingat bagian pangrangrang, papeson, pangawak, pangecet, pasiat, dan pakaad.
bagian dari garapan ini.
3.3 Tahap pembentukan (Forming)
Tahap pembentukan merupakan tahapan akhir dari proses kreativitas.
Segala hasil yang diperoleh baik diproses penjajagan maupun proses percobaan akan ditata dan disempurnakan pada tahap ini. Penata juga harus memikirkan kesesuaian bentuk tari yang digarap dengan hal-hal mendasar yang ada dalam tarian, seperti gerak, ekspresi, irama, ruang, dan waktu.
Proses ini dilakukan secara bertahap dengan menjelaskan kepada pendukung mengenai ide dan konsep dari garapan palegongan, agar mereka mengetahui dan memiliki bayangan tentang cerita yang akan digarap. Hal ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada pendukung agar lebih mudah dalam berekspresi sesuai dengan karakter yang akan dibawakan.
Pada tahap pembentukan, juga dilakukan percobaan terhadap kostum, dan penentuan kecocokan kostum dengan warnanya agar dapat diketahui terganggu atau tidaknya gerakan saat menari, serta mengetahui kesesuaian efek dari tata lampu terhadap warna kostum tersebut. Setelah garapan tari kreasi palegongan ini terbentuk, latihan dilakukan secara lebih rutin untuk mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Setiap proses latihan, akan dilakukan penyeragaman gerak serta pembentukan pola lantai. Dengan melakukan pemantapan pada setiap
gerakan, penyatuan rasa gerak dan ekspresi dari dalam dengan musik pengiring pada setiap adegan, serta mencari kekompakan, sehingga dapat terwujud garapan yang benar-benar utuh. Proses latihan akan sesering mungkin dilakukan di Gedung Natya Mandala, agar para penari terbiasa dengan pola lantai di panggung tersebut.
Selama proses kreativitas berlangsung, banyak hambatan dan halangan yang penata rasakan. Adapun hambatan yang masih ditemui antara lain adalah sulitnya menyamakan kualitas gerak serta ekspresi yang harus diwujudkan dalam sebuah garapan kelompok yang menuntut kekompakan. Kedisiplinan waktu beberapa pendukung yang masih kurang, karena selain mendukung mereka juga mempunyai kesibukan yang berbeda-beda, disamping itu mereka juga harus mengikuti studinya masing-masing.
Dibalik hambatan tersebut banyak faktor yang mendukung kelancaran proses penggarapan ini, antara lain adanya dukungan moral dan juga tenaga, serta kesanggupan pendukung yang merupakan motivasi penata untuk lebih semangat dalam berkarya. Kemampuan pendukung yang begitu cepat menerima setiap gerakan yang diberikan, dan dukungan penata karawitan dan pendukungnya yang kompak serta menampakkan rasa simpati dengan menyelesaikan iringan sesuai waktu yang diinginkan.
Perbaikan selalu didapatkan selama proses tersebut berlangsung melalui bimbingan-bimbingan yang terus dilakukan dengan dosen pembimbing. Hasil dari proses perbaikan dan bimbingan inilah yang digunakan untuk menyempurnakan dan sangat bermanfaat bagi penggarapan tari kreasi palegongan ini agar keutuhan garapan dapat diwujudkan.
Tabel 3
Tahap Pembentukan (Forming) Bulan April dan Mei 2013
Periode dari segi angsel dan agem agar rasa dari tarian tersebut sama dengan pendukung.
Minggu I Latihan dengan pendukung Mendapatkan beberapa
(Mei) tari untuk mencari ekspresi yang diinginkan sesuai dengan konsep dan isi cerita.
penyempurnaan garapan lighting dan stage crew di Panggung Natya Mandala.
BAB IV WUJUD GARAPAN
Wujud merupakan salah satu bagian dari tiga elemen karya seni (wujud, isi/bobot, dan penampilan), serta menjadi elemen dasar yang terkandung dalam karya seni. Wujud adalah sesuatu yang dapat secara nyata dipersepsikan melalui mata atau telinga atau secara abstrak yang dapat dibayangkan atau dikhayalkan. 10
Wujud merupakan salah satu bagian dari tiga elemen karya seni (wujud, isi/bobot, dan penampilan), serta menjadi elemen dasar yang terkandung dalam karya seni. Wujud adalah sesuatu yang dapat secara nyata dipersepsikan melalui mata atau telinga atau secara abstrak yang dapat dibayangkan atau dikhayalkan. 10