BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan yang menjadi identitas bagi umat muslim. Al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat muslim yang isinya tidak diragukan lagi dan kemurniannya tetap terjaga oleh Allah azza wa jalla seperti yang tertuang dalam firman Nya QS. Al Hijr/15: 9.
اح لَّۡزحن ُنۡ ۡ ح
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.1
Al-Qur’an adalah kalam Allah azza wa jalla yang diturunkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalammelalui malaikat Jibril yang tertulis dalam mushaf dan sampai kepada kita dengan jalan mutawatir yang membacanya merupakan ibadah yang diawali dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas.2
Salah satu bentuk penjagaan dan pemeliharaan Al-Qur’an dengan menghafalkannya. Menghafal Al-Qur’an menjadi sarana paling baik dalam menjaga kesucian isi Al-Qur’an karena akan tersimpan dalam hati bagi setiap penghafalnnya.
Bagi yang menghafal Al-Qur’an memiliki banyak keistimewaan salah satunya berupa
1Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Kementrian Agama Republik Indonesia, 2017), h. 467.
2Tim Reviewer Mkd, Studi Alqur’an (Surabaya: Uin Sunan Ampel Press, 2014), h. 4.
3Ahsin W. Alhafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Alqur’an (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), h.
35.
2
ingatan yang baik jadi Al-Qur’an yang turun di tengah bangsa Arab yang buta huruf tetap mampu menghafalkannya dengan sangat baik.
Menghafal Al-Qur’an cenderung sulit daripada membaca ataupun memahaminya sebab Al-Qur’an memiliki lembaran-lembaran yang sangat banyak sehingga menghabiskan banyak waktu dan hal lainnya yang menghalangi seseorang untuk menghafalkannya. Namun, selain itu itu faedah menghafal Al-Qur’an ada banyak seperti: a) kebahagiaan di Dunia dan di Akhirat, b) sakinah (tentram jiwa), c) Tajam ingatan dan bersih intuisinya, d) bahtera ilmu, e) memiliki identitas yang baik dan berperilaku jujur, f) fasih dalam berbicara, g) memiliki doa yang mustajab.3
Dari faedah tersebut banyak orang tua yang mendidik dan mengajarkan anaknya sejak dini tentang Al-Qur’an.Memasukkan anak-anak mereka pada lembaga pendidikan Islam salah satu usaha para orang tua. Sampai saat ini telah banyak pengembangan pondok pesantren, madrasah dan taman pendidikan Al-Qur’an. Selain menjadi sarana anak-anak mempelajari dan menghafal Al-Qur’an, lembaga pendidikan tersebut juga hadir sebagai bentuk untuk menjaga keorisinalitas Al-Qur’an.
Pendidikan juga merupakan suatu sistem teratur dan mengemban misi yang cukup luas yaitu segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan fisik, kesehatan, keterampilan, perasaan, pikiran, kemapuan, sampai pada masalah kepercayaan dan keimanan.Hal ini menunjukkan bahwa sekolah sebagai sutu pendidikan formal yang mempunyai muatan beban yang cukup berat dalam melaksanakan visi misi pendidikan.Lebih-lebih kalau dikaitkan dengan pesatnya perubahan zaman dewasa ini yang sangat berpengaruh terhadap anak-anak didik dalam berfikir, bersikap dan
3Ahsin W. Alhafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Alqur’an (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), h.
35.
berperilaku, khususnya terhadap mereka yang masih tahap perkembangan dalam transisi yang mancari identitas diri.4Dalam konteks ini, kehidupan masyarakat modern yang sangat pesat dan pluralistik menekan sebuah kenyataan tentang leburnya nilai-nilai moral bagi generasi muda bahkan juga merambah pada nilai-nilai-nilai-nilai agama.
Di tengah krisis akhlak maupun moral generasi muda, lembaga pendidikan kemudian memunculkan program khusus untuk mempelajari, menghafalkan Al-Qur’an sehingga kelak penghafalnya mampu mengaplikasikan pada kehidupan sehari-hari.
Program inilah yang disebut dengan Tahfiz}} Al-Qur’an. Tahfiz} Al-Qur’an merupakan kegiatan menghafal Al-Qur’an dengan mutqin (hafalan yang kuat) terhadap lafaz-lafaz Al-Qur’an dan menghafalkan maknanya dengan kuat yang memudahkan untuk menghindarkannya setiap menghadapi berbagai masalah kehidupan yang mana Al-Qur’an senantiasa ada dan hidup dalam hati sepanjang waktu sehingga memudahkan untuk menerapkan dan mengamalkannya.5
Selanjutnya, Menurut Furqon Hidayatullah bahwa karakter adalah “ciri khas”
yang dimiliki oleh suatu benda atau individu.6 Karakter sama dengan kepribadian yang dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Dalam ilmu psikologi dikatakan bahwa faktor-faktor yang membentuk kepribadian bisa diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu faktor keturunan (genetik) dan faktor yang timbul dari lingkungan sosial budaya termasuk wadah pendidikan dan pihak-pihak
4Sudirman N, Ilmu Pendidikan, (Bandung, PT Remaja Rosda Karya, 1992) , h .3.
5Juju Saepudin dkk, Membumikan Peradaban Tahfidz Alqur’an, (Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, 2015), h. 25.
6Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter Membangun Peradaban Bangsa, (Surakarta Yuma Pustaka, 2010), h. 13.
4
terkait yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan upaya membentuk karakter tersebut.7Telah menjadi rahasia umum, bahwa masih banyak wadah (lembaga pendidikan) maupun tenaga pendidikan/kependidikan yang belum mampu mengembang fungsi atau statusnya secara profesional.
Program Tahfiz} merupakan suatu langkah untuk membentuk kepribadian qur’ani. Kepribadian qur’ani adalah kepribadian individu yang didapat setelah mentransformasikan isi kandungan Al-Qur’an ke dalam dirinya untuk kemudian diinternalisasikan dalam kehidupan nyata, atau dalam bahasa yang sederhana, kepribadian qur’ani adalah kepribadian individu yang mencerminkan nilai-nilai Al-Qur’an.8Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah terlebih bagi yang ingin menghafalkannya. Orang yang menghafal Al-Qur’an akan tercermin baginya kepribadian yang baik.Menurut Abdul Mujib bahwa kepribadian qur’ani adalah kepribadian (personality) yang dibentuk dengan susunan sifat-sifat yang sengaja diambil dari nilai-nilai yang diajarkan Allah swt dalam Al-Qur’an, sehingga bisa dibayangkan strukturnya terbangun dari elemen-elemen ajaran Al-Qur’an itu.9
Uraian di atas menjelaskan program tahfiz} Al-Qur’an dilaksanakan pada lembaga pendidikan menekankan pada menghafal Al-Qur’an. Program ini membiasakan dan mendekatkan anak didik pada Al-Qur’an. Hal ini menjadi stimulus secara perlahan membentuk pribadi atau karakter religius pada anak. Karakter religius lahir dari sebuah aktifitas yang berulang atau pembiasaan diri untuk dekat dengan
7Utsman Najati, Alqur’an dan Ilmu Jiwa, (Bandung: Perpustakaan Salman Institut Teknologi Bandung), h. 241.
8Abdul Mujib, Teori Kepribadian Perspektif Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2017), h.210.
9Rif’at Syauqi Nawawi, Kepribadian Qur’ani, (Jakarta: Amzah, 2011), h. 49.
segala hal tentang Islam ataupun Al-Qur’an. Bagi anak didik yang besar pada lingkungan religius, program Tahfiz} Al-Qur’an menjadi penguat dan langkah mempertahankan karakter yang ditanamkan orang tua mereka sehingga lingkungan meningkatkan nilai keimanan kepada Allah azza wa jalla.
Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal-Irsyad (DDI) Mattoanging Kabupaten Bantaeng sebagai salah satu lembaga pendidikan yang ada di Sulawesi Selatan yang telah diresmikan pada tahun 1994 telah menjalankan program Tahfiz} Al-Qur’an sejak 2014. Berdirinya Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal-Irsyad (DDI) Mattoanging Kabupaten Bantaeng ditopang dengan Visi “Maju dalam kebersamaan, unggul dalam prestasi, bermoral dalam aktivitas” dan Misi meliputi: 1)Mencetak kader muballig/muballigah yang terampil berbahasa arab/inggris; 2) Fasih dalam membaca, menghafal dan menerjemahkan Al-Qur’an; 3)Berakhlakul karimah seta bertanggung jawab terhadap agama; 4) Mengembangkan kompetensi dii bidang usaha10
Visi dan misi merupakan roh bagi sebuah lembaga atau organisasi termasuk Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal-Irsyad (DDI) Mattoanging Kabupaten Bantaeng.Dengan demikian, Keberadaan program Tahfiz} Al-Qur’an dalam membentuk dan membina karakter religius santri menjadi instrumen vital. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri program Tahfiz} masih menuai beberapa persoalan utamanya dalam membentuk karakter religius.
10Idris jafar, Buku Profil Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal-Irsyad (DDI) Mattoanging Kabupaten, 2018. h. 8.
6
Program Tahfiz} Al-Qur’an di Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng merupakan program pendampingan dan pembinaaan Tahfiz} Al-Qur’an yang senantiasa dilakukan sebagai wadah dalam: 1) Mewujudkan generasi pengamal Al-Qur’an di tengah masyarakat melalui proses kecintaan dan menghafal Al-Qur’an ; 2) Memberikan pelatihan dan pendidikan bagi santri maupun satriwati berupa ilmu khitabah, kepemimpinan dan kepribadian yang religius serta didukung dengan wawasan keilmuan, motivasi pengembangan diri dan keterampilab; 3) Mempersiapkan maupun mencetak tenaga ahli dalam penghafalan Al-Qur’an yang profesional, handal, berahlak dan memiliki daya saing; 4) Berupaya membimbing santri dan satriwati hingga dapat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi; 5) Menghasilkan para kader imam, khatib dan dai-dai yang senantiasa peduli dengan persoalan kemasyarakatan serta memberi solusi bijak, adil dan cerdas.
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti program Tahfiz}
Al-Qur’an memiliki keharusan menjadikan penghafal Al-Qur’an, membentuk karakter religius yang mengamalkan isi Al-Qur’an pada kehidupan sehari-hari bahkan menjadikan Al-Qur’an sebagai insipirasi dan pedoman hidup. Sejalan dengan itu,berjalan dengan lancar sesuai dengan program Tahfiz} namun dalam observasi awal peneliti melihat sesuatu dalam program Tahfiz} itu belum berajalan sebagaimana seharusnya missal program Tahfiz} yang belum teratur dan cara membentuk karakter santri yang belum maksimal.
B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus