PELAKSANAAN PROGRAM TAHFIZ}} AL-QUR’AN DALAM MEMBENTUK KARAKTER RELIGIUS SANTRI PADA
PONDOK PESANTREN DDI (DARUD DA’WAH WAL-IRSYAD) MATTOANGING
KABUPATEN BANTAENG
TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih GelarMagister Pendidikan Islam(M.Pd) Jurusan Pendidikan Agama Islam
pada Pascasarjana UIN Alauddin Makassar
Oleh:
ARIFUDDIN NIM.80200218016
PROGRAM PASCASARJANA UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2021
ii
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS
Penulis yang bertanda tangan di bawah ini Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UNI) Alauddin Makassar.:
Nama : Arifuddin
Nim : 80200218016
Tempat/Tgl Lahir : Bantaeng, 10 Oktober 1984
Alamat : Parasanagan Beru Desa Bonto Karaeng, Kec. Sinoa Kab. Bantaeng
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Judul Tesis : Pelaksanaan Program Tahfiz}} Al-Qur’an dalam Membentuk Karakter Religius Santri pada Pondok Pesantren DDI (Daarud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng
menyatakan dengan penuh kesadaran bahwa sesungguhnya tesis ini benar adalah hasil karya penulis sendiri. Jika dikemudian hari terbukti merupakan duplikat, tiruan, atau dibuat oleh orang lain (sebagian atau seluruhnya), tesis ini dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.
Bantaeng ,03 September 2021 Penyusun
ARIFUDDIN NIM. 80200218016
i
iii
KATA PENGANTAR
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Puji dan syukur senantiasa dipanjatkan kepada Allah swt. karena berkat rahmat dan hidayahn-Nya sehingga karya ilmiah (tesis) ini dapat diselesaikan.
Salawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad saw., keluarga beliau, para sahabat, dan para tabi’in yang telah memperjuangkan agama Islam.
Penyusunan tesis ini, mengalami berbagai macam hambatan maupun rintangan. Akan tetapi, berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya karya ilmiah (tesis) ini dapat diselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, sepatutnya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Istri, Anak tercinta dan tersayang yang selalu support dengan kondisi apapun, serta mendukung dan mendoakan untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., Rektor Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Mardan, M.Ag., Wakil Rektor Bidang Akademik, Dr. H.
Wahyudin Naro, M. Hum., Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum dan Perencanaan Keuangan, Prof. Dr. Darussalam Syamsuddin, M. Ag., Wakil Rektor
iv
Bidang Kemahasiswaan, dan Dr. H. Kamaluddin Abu Nawas, M. Ag., Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga
2. Prof. Dr. H. M. Ghalib M, M.A., Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, yang telah memberikan fasilitas, sarana dan prasarana pendidikan, nasihat, bimbingan, dan petunjuk yang sangat berharga.
3. Dr. H. Andi Aderus, Lc., M.A., Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, yang telah memberikan fasilitas, sarana dan prasarana pendidikan, nasihat, bimbingan, dan petunjuk yang sangat berharga.
4. Dr. Saprin, M.Pd.I dan Dr. Syamsuddin, M.Pd.I Ketua Jurusan dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, yang telah memberikan berbagai arahan, bimbingan dan nasehat yang bijak kepada mahasiswanya.
5. Syamsir, S.Sos., M.A.P., dan Hildawati Almah, S.Ag.,SS.,M.A. Kepala Perpustakaan Pascasarjana dan Kepala Perpustakaan Syekh Yusuf Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, dan kepada karyawan-karyawati Perpustakaan Syekh Yusuf dan Perpustakaan Pascasarjana UIN Alauddin Makassar yang telah banyak membantu dalam memfasilitasi buku-buku literatur yang berkaitan dengan tesis ini.
6. Prof. Dr. H. Syahruddin, M.P.d. dan Dr. H. Muzakkir, M.Pd.I Promotor dan Kopromotor, yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan sumbangsih pemikirannya selama beberapa bulan untuk mengarahkan sampai tesis ini selesai.
v
7. Dr. M. Rusdi T, M.Ag dan Dr. H. Andi Achruh, M.Pd.I penguji utama yang juga sekaligus motivator yang selalu memberi saran dan masukan dalam penyelesaian tesis peneliti.
8. Pimpinan Pondok Pesantren DDI Mattoanging yang telah memberikan izin untuk melakukan observasi penelitian.
9. Isman Muhlis, S.Sos., M.Pd yang juga telah banyak membantu dalam penyelesaian pwnulisan tesis penulis
10. Seluruh dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar yang telah mendidik, mengajar, dan memberikan ilmu yang sangat bermanfaat, 11. Sahabat serta Keluarga Besar Pendidikan Agama Islam angkatan 2017/2018, yang
senantiasa memberikan motivasi untuk terus semangat dalam penyelesaian tesis ini.
Akhirnya, terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah bekerja sama dalam hal penyelesaian studi ini di pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Semoga Allah swt. membalas amal baik mereka semua dan mencatatnya sebagai amal jariah. Amin Ya Rabbal Alamin.
Bantaeng, 05 September 2021 Penyusun
ARIFUDDIN NIM: 80200218016
vi DAFTAR ISI
JUDUL ... i
PENGESAHAN TESIS ... i
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS... ii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR ILUSTRASI ... ix
PEDOMAN TRANSLITERASI ... x
ABSTRAK ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus ... 7
C. Rumusan Masalah ... 8
D. Kajian Pustaka ... 8
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 14
BAB II TINJAUAN TEORITIS ... 16
A. Pelaksanaan Program Tahfiz} Al-Qur’an ... 16
B. Karakter Religius ... 37
C. Kerangka Konsep ... 55
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 57
A. Jenis dan Lokasi Penelitian ... 57
B. Pendekatan Penelitian ... 58
C. Sumber Data ... 59
vii
D. Metode Pengumpulan Data ... 59
E. Instrumen Penelitian... 61
F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ... 61
G. Pengujian Keabsahan Data ... 63
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 66
A. Hasil Penelitian ... 66
B. Pembahasan ... 71
BAB V PENUTUP ... 108
A. Kesimpulan ... 108
B. Implikasi Penelitian ... 109
DAFTAR PUSTAKA ... 110
LAMPIRAN-LAMPIRAN ... 113 DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.2 Penelitian Terdahulu ... 12 Tabel 4.1 Jumlah Hafalan Kelompok Takhassus ... 74 Tabel 4.2 Jumlah Hafalan Kelompok Non Takhassus ... 91
ix
DAFTAR ILUSTRASI
Gambar 2.1 Kerangka Konsep ... 55 Gambar 4.1 Dena Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad)
Mattoanging Kabupaten Bantaeng ... 70 Gambar 2.1 Struktur Organisasi Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-
Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng ... 71
x
PEDOMAN TRANSLITERASI DAN SINGKATAN A. Transliterasi Arab-Latin
Daftar huruf bahasa Arab dan transliterasinya ke dalam huruf Latin dapat dilihat pada tabel berikut:
1. Konsonan
Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama
Alif tidak dilambangkan tidak dilambangkan
Ba B Be
Ta T te
s\a s\ es (dengan titik di atas)
Jim J je
h}a h} ha (dengan titik di bawah)
Kha Kh ka dan ha
Dal D de
z\al z\ zet (dengan titik di atas)
Ra R er
Zai Z zet
Sin S es
Syin Sy es dan ye
s}ad s} es (dengan titik di bawah)
d}ad d} de (dengan titik di bawah)
t}a t} te (dengan titik di bawah)
z}a z} zet (dengan titik di bawah)
‘ain ‘ apostrofterbalik
Gain G ge
Fa F ef
Qaf Q qi
Kaf K ka
Lam L el
Mim M em
Nun N en
Wau W we
Ha H ha
hamzah ’ apostrof
Ya Y ye
Hamzah (ء) yang terletak di awal kata mengikuti vokalnya tanpa diberi tanda apa pun. Jika ia terletak di tengah atau di akhir, maka ditulis dengan tanda (’).
xi 2. Vokal
Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri atas vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.
Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat, transliterasinya sebagai berikut:
Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu:
Contoh:
: kaifa : haula 3. Maddah
Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:
Contoh: : ma>ta
: rama>
: qi>la : yamu>tu
Nama Huruf Latin Nama Tanda
fath}ah a a
kasrah i i
d}ammah u u
Nama Huruf Latin Nama
Tanda
fath}ah dan ya>’ ai a dan i fath}ah dan wau au a dan u
xii 4. Ta>’ marbu>t}ah
Transliterasi untuk ta>’ marbu>t}ah ada dua, yaitu: ta>’ marbu>t}ah yang hidup atau mendapat harakat fath}ah, kasrah, dan d}ammah, transliterasinya adalah [t]. Sedangkan ta>’ marbu>t}ah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah [h].
Kalau pada kata yang berakhir dengan ta>’ marbu>t}ah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al- serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta>’
marbu>t}ah itu ditransliterasikan dengan ha (h).
Contoh:
:raud}ah al-at}fa>l
: al-madi>nah al-fa>d}ilah : al-h}ikmah
5. Syaddah (Tasydi>d)
Syaddah atau tasydi>d yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda tasydi>d(ـّـ), dalam transliterasi ini dilambangkan dengan perulangan huruf (konsonan ganda) yang diberi tanda syaddah.
Contoh:
: rabbana>
: najjaina>
: al-h}aqq : nu“ima : ‘aduwwun
Jika huruf ى ber-tasydid di akhir sebuah kata dan didahului oleh huruf kasrah(ّّىـِــــ), maka ia ditransliterasi seperti huruf maddah menjadi i>.
Contoh:
: ‘Ali> (bukan ‘Aliyy atau ‘Aly)
: ‘Arabi> (bukan ‘Arabiyy atau ‘Araby)
xiii 6. Kata Sandang
Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf (alif lam ma‘arifah). Dalam pedoman transliterasi ini, kata sandang ditransliterasi seperti biasa, al-, baik ketika ia diikuti oleh huruf syamsiyah maupun huruf qamariyah. Kata sandang tidak mengikuti bunyi huruf langsung yang mengikutinya. Kata sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya dan dihubungkan dengan garis mendatar (-).
Contoh:
: al-syamsu (bukan asy-syamsu) : al-zalzalah(az-zalzalah) : al-falsafah
: al-bila>du 7. Hamzah
Aturan transliterasi huruf hamzah menjadi apostrof (’) hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan akhir kata. Namun, bila hamzah terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan, karena dalam tulisan Arab ia berupa alif.
Contoh:
: ta’muru>na : al-nau‘
: syai’un : umirtu
8. Penulisan Kata Arab yang Lazim Digunakan dalam Bahasa Indonesia
Kata, istilah atau kalimat Arab yang ditransliterasi adalah kata, istilah atau kalimat yang belum dibakukan dalam bahasa Indonesia. Kata, istilah atau kalimat yang sudah lazim dan menjadi bagian dari perbendaharaan bahasa Indonesia, atau sering ditulis dalam tulisan bahasa Indonesia, atau lazim digunakan dalam dunia akademik tertentu, tidak lagi ditulis menurut cara transliterasi di atas. Misalnya, kata Al-Qur’an(dari Al-Qur’an), alhamdulillah, dan munaqasyah. Namun, bila kata-kata tersebut menjadi bagian dari satu rangkaian teks Arab, maka harus ditransliterasi
xiv secara utuh. Contoh:
Fi> Z{ila>l Al-Qur’an
Al-Sunnah qabl al-tadwi>n 9. Lafz} al-Jala>lah ( )
Kata “Allah”yang didahului partikel seperti huruf jarr dan huruf lainnya atau berkedudukan sebagai mud}a>f ilaih (frasa nominal), ditransliterasi tanpa huruf hamzah.
Contoh:
di>nulla>h billa>h
Adapun ta>’ marbu>t}ah di akhir kata yang disandarkan kepada lafz} al-jala>lah, ditransliterasi dengan huruf [t]. Contoh:
hum fi> rah}matilla>h 10. Huruf Kapital
Walau sistem tulisan Arab tidak mengenal huruf kapital (All Caps), dalam transliterasinya huruf-huruf tersebut dikenai ketentuan tentang penggunaan huruf kapital berdasarkan pedoman ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku (EYD). Huruf kapital, misalnya, digunakan untuk menuliskan huruf awal nama diri (orang, tempat, bulan) dan huruf pertama pada permulaan kalimat. Bila nama diri didahului oleh kata sandang (al-), maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Jika terletak pada awal kalimat, maka huruf A dari kata sandang tersebut menggunakan huruf kapital (Al-). Ketentuan yang sama juga berlaku untuk huruf awal dari judul referensi yang didahului oleh kata sandang al-, baik ketika ia ditulis dalam teks maupun dalam catatan rujukan (CK, DP, CDK, dan DR). Contoh:
Wa ma> Muh}ammadunilla>rasu>l
Innaawwalabaitinwud}i‘alinna>si lallaz\i> bi Bakkatamuba>rakan Syahru Ramad}a>n al-laz\i>unzila fi>h Al-Qur’an
Nas}i>r al-Di>n al-T{u>si>
xv Abu>>Nas}r al-Fara>bi>
Al-Gaza>li>
Al-Munqiz\ min al-D}ala>l
Jika nama resmi seseorang menggunakan kata Ibnu (anak dari) dan Abu> (bapak dari) sebagai nama kedua terakhirnya, maka kedua nama terakhir itu harus disebutkan sebagai nama akhir dalam daftar pustaka atau daftar referensi. Contoh:
B. Daftar Singkatan
Beberapa singkatan yang digunakan dalam tesis ini adalah:
swt. = subh}a>nahu> wa ta‘a>la>
saw. = s}allalla>hu ‘alaihi wa sallam
QS …/…: 4 = QS al-Baqarah/2: 4 atau QS A<li ‘Imra>n/3: 4 HR = Hadis Riwayat
No = Nomor
Cet. = Cetakan
t.t. = tanpa tempat penerbitan
h. = halaman
terj. = terjemahan eds. = edisi
vol = volume
MAN = Madrasah Aliyah Negeri
SMAN = Sekolah Menengah Atas Negeri MTs = Madrasah Tsanawiyah
xvi ABSTRAK Nama : Arifuddin
NIM : 80200218016
Judul : Pelaksanaan Program Tahfiz} Al-Qur’an dalam Membentuk Karakter Religius Santri pada Pondok Pesantren DDI (Daarud Da’wah Wal- Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng
Penelitian ini membahas tentang pelaksanaan program Tahfiz} Al-Qur’an dalam membentuk karakter religius santri pada Pondok Pesantren DDI (Daarud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng dengan tujuan untuk: 1) mendeskripsikan program Tahfiz} Al-Qur’an pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng. 2) mendeskripsikan karakter religius Santri pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng. 3) mendeskripsikan pelaksanaan program Tahfiz} Al-Qur’an dalam membentuk karakter religius santri pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng.
Jenis penelitian ini tergolong penelitian lapangan (Field Research) dengan metode kualitatif. Adapun pendekatannya adalah fenomenologis. Informan dalam penelitian ini berjumlah 10 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi, sedangkan teknik analisis yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan verifikasi atau penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) program Tahfiz} }Al-Qur’an merupakan program pendampingan dan pembinaaan Tahfiz} Al-Qur’an yang senantiasa dilakukan sebagai wadah dalam menciptakan generasi penghafal Al-Qur’an melalui penghafalan secara takhassus maupun non takhassus. Pelaksanaan Tahfiz} berkriteria takhassus berjumlah 15 orang dengan hafalan paling tinggi 9 Juz dan paling rendah 1 Juz dan non takhassus berjumlah 19 Orang dengan hafalan paling tinggi 1 Juz dan paling rendah setengah Juz yang demikian secara sistematis proses pelaksanaan kegiatan Tahfiz} tersebut terdiri dari a) binnadzar/tahsin Al-Qur’an; b bilghaib (menghafal) atau Ziadah (menambah hafalan); c) muraja’ah/takrir dan d) simaan; 2) Karakter religius dinilai sangat penting bahkan senantisa diajarkan, dilestarikan dan diamalkan bagi santri dan satriwati yang meliputi kedisiplinan, kejujuran, sopan santun, ikhlas dan istiqomah, sabar, tawadhu/rendah hati, taat beribadah serta bertanggung jawab; 3) pelaksanaan program Tahfiz}} Al-Qur’an dalam membentuk karakter religius santri dilakukan dalam beberapa upaya yaitu menyampaikan hadis- hadis Nabi tentang adab, nasehat-nasehat, melakukan pengawasan dan perhatian, memberi hukuman dan Menjauhkan dari akses elektronik dan sejenisnya
Implikasi pada penelitian ini 1) diharapkan kepada pihak pondok pesantren untuk melakukan cara-cara strategis dalam proses pembinaan dan pendampingan Program Tahfiz} } Al-Qur’an yang lebih interaktif dan mampu menyelesaikan pada kebutuhan zaman; 2) kepada pembina agar senatiasa memberikan perhatian yang lebih khusus dan motivasi yang konstruktif kepada santri dalam hal pembinaan baik dalam bidang keagamaan maupun bidang yang dapat meningkatkan kreatifitas.
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan yang menjadi identitas bagi umat muslim. Al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat muslim yang isinya tidak diragukan lagi dan kemurniannya tetap terjaga oleh Allah azza wa jalla seperti yang tertuang dalam firman Nya QS. Al Hijr/15: 9.
اح لَّۡزحن ُنۡ ۡ ح نَ اَّنِإ ٱ
حر كِذل ۡ ُ ح
ل اَّنوَإِ
حنو ُظِفَٰ حححل ۥ ٩
Terjemahnya:
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.1
Al-Qur’an adalah kalam Allah azza wa jalla yang diturunkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalammelalui malaikat Jibril yang tertulis dalam mushaf dan sampai kepada kita dengan jalan mutawatir yang membacanya merupakan ibadah yang diawali dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas.2
Salah satu bentuk penjagaan dan pemeliharaan Al-Qur’an dengan menghafalkannya. Menghafal Al-Qur’an menjadi sarana paling baik dalam menjaga kesucian isi Al-Qur’an karena akan tersimpan dalam hati bagi setiap penghafalnnya.
Bagi yang menghafal Al-Qur’an memiliki banyak keistimewaan salah satunya berupa
1Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Kementrian Agama Republik Indonesia, 2017), h. 467.
2Tim Reviewer Mkd, Studi Alqur’an (Surabaya: Uin Sunan Ampel Press, 2014), h. 4.
3Ahsin W. Alhafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Alqur’an (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), h.
35.
2
ingatan yang baik jadi Al-Qur’an yang turun di tengah bangsa Arab yang buta huruf tetap mampu menghafalkannya dengan sangat baik.
Menghafal Al-Qur’an cenderung sulit daripada membaca ataupun memahaminya sebab Al-Qur’an memiliki lembaran-lembaran yang sangat banyak sehingga menghabiskan banyak waktu dan hal lainnya yang menghalangi seseorang untuk menghafalkannya. Namun, selain itu itu faedah menghafal Al-Qur’an ada banyak seperti: a) kebahagiaan di Dunia dan di Akhirat, b) sakinah (tentram jiwa), c) Tajam ingatan dan bersih intuisinya, d) bahtera ilmu, e) memiliki identitas yang baik dan berperilaku jujur, f) fasih dalam berbicara, g) memiliki doa yang mustajab.3
Dari faedah tersebut banyak orang tua yang mendidik dan mengajarkan anaknya sejak dini tentang Al-Qur’an.Memasukkan anak-anak mereka pada lembaga pendidikan Islam salah satu usaha para orang tua. Sampai saat ini telah banyak pengembangan pondok pesantren, madrasah dan taman pendidikan Al-Qur’an. Selain menjadi sarana anak-anak mempelajari dan menghafal Al-Qur’an, lembaga pendidikan tersebut juga hadir sebagai bentuk untuk menjaga keorisinalitas Al-Qur’an.
Pendidikan juga merupakan suatu sistem teratur dan mengemban misi yang cukup luas yaitu segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan fisik, kesehatan, keterampilan, perasaan, pikiran, kemapuan, sampai pada masalah kepercayaan dan keimanan.Hal ini menunjukkan bahwa sekolah sebagai sutu pendidikan formal yang mempunyai muatan beban yang cukup berat dalam melaksanakan visi misi pendidikan.Lebih-lebih kalau dikaitkan dengan pesatnya perubahan zaman dewasa ini yang sangat berpengaruh terhadap anak-anak didik dalam berfikir, bersikap dan
3Ahsin W. Alhafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Alqur’an (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), h.
35.
berperilaku, khususnya terhadap mereka yang masih tahap perkembangan dalam transisi yang mancari identitas diri.4Dalam konteks ini, kehidupan masyarakat modern yang sangat pesat dan pluralistik menekan sebuah kenyataan tentang leburnya nilai- nilai moral bagi generasi muda bahkan juga merambah pada nilai-nilai agama.
Di tengah krisis akhlak maupun moral generasi muda, lembaga pendidikan kemudian memunculkan program khusus untuk mempelajari, menghafalkan Al-Qur’an sehingga kelak penghafalnya mampu mengaplikasikan pada kehidupan sehari-hari.
Program inilah yang disebut dengan Tahfiz}} Al-Qur’an. Tahfiz} Al-Qur’an merupakan kegiatan menghafal Al-Qur’an dengan mutqin (hafalan yang kuat) terhadap lafaz-lafaz Al-Qur’an dan menghafalkan maknanya dengan kuat yang memudahkan untuk menghindarkannya setiap menghadapi berbagai masalah kehidupan yang mana Al- Qur’an senantiasa ada dan hidup dalam hati sepanjang waktu sehingga memudahkan untuk menerapkan dan mengamalkannya.5
Selanjutnya, Menurut Furqon Hidayatullah bahwa karakter adalah “ciri khas”
yang dimiliki oleh suatu benda atau individu.6 Karakter sama dengan kepribadian yang dianggap sebagai ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Dalam ilmu psikologi dikatakan bahwa faktor-faktor yang membentuk kepribadian bisa diklasifikasikan menjadi dua bagian yaitu faktor keturunan (genetik) dan faktor yang timbul dari lingkungan sosial budaya termasuk wadah pendidikan dan pihak-pihak
4Sudirman N, Ilmu Pendidikan, (Bandung, PT Remaja Rosda Karya, 1992) , h .3.
5Juju Saepudin dkk, Membumikan Peradaban Tahfidz Alqur’an, (Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama, 2015), h. 25.
6Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter Membangun Peradaban Bangsa, (Surakarta Yuma Pustaka, 2010), h. 13.
4
terkait yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan upaya membentuk karakter tersebut.7Telah menjadi rahasia umum, bahwa masih banyak wadah (lembaga pendidikan) maupun tenaga pendidikan/kependidikan yang belum mampu mengembang fungsi atau statusnya secara profesional.
Program Tahfiz} merupakan suatu langkah untuk membentuk kepribadian qur’ani. Kepribadian qur’ani adalah kepribadian individu yang didapat setelah mentransformasikan isi kandungan Al-Qur’an ke dalam dirinya untuk kemudian diinternalisasikan dalam kehidupan nyata, atau dalam bahasa yang sederhana, kepribadian qur’ani adalah kepribadian individu yang mencerminkan nilai-nilai Al- Qur’an.8Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah terlebih bagi yang ingin menghafalkannya. Orang yang menghafal Al-Qur’an akan tercermin baginya kepribadian yang baik.Menurut Abdul Mujib bahwa kepribadian qur’ani adalah kepribadian (personality) yang dibentuk dengan susunan sifat-sifat yang sengaja diambil dari nilai-nilai yang diajarkan Allah swt dalam Al-Qur’an, sehingga bisa dibayangkan strukturnya terbangun dari elemen-elemen ajaran Al-Qur’an itu.9
Uraian di atas menjelaskan program tahfiz} Al-Qur’an dilaksanakan pada lembaga pendidikan menekankan pada menghafal Al-Qur’an. Program ini membiasakan dan mendekatkan anak didik pada Al-Qur’an. Hal ini menjadi stimulus secara perlahan membentuk pribadi atau karakter religius pada anak. Karakter religius lahir dari sebuah aktifitas yang berulang atau pembiasaan diri untuk dekat dengan
7Utsman Najati, Alqur’an dan Ilmu Jiwa, (Bandung: Perpustakaan Salman Institut Teknologi Bandung), h. 241.
8Abdul Mujib, Teori Kepribadian Perspektif Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2017), h.210.
9Rif’at Syauqi Nawawi, Kepribadian Qur’ani, (Jakarta: Amzah, 2011), h. 49.
segala hal tentang Islam ataupun Al-Qur’an. Bagi anak didik yang besar pada lingkungan religius, program Tahfiz} Al-Qur’an menjadi penguat dan langkah mempertahankan karakter yang ditanamkan orang tua mereka sehingga lingkungan meningkatkan nilai keimanan kepada Allah azza wa jalla.
Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal-Irsyad (DDI) Mattoanging Kabupaten Bantaeng sebagai salah satu lembaga pendidikan yang ada di Sulawesi Selatan yang telah diresmikan pada tahun 1994 telah menjalankan program Tahfiz} Al-Qur’an sejak 2014. Berdirinya Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal-Irsyad (DDI) Mattoanging Kabupaten Bantaeng ditopang dengan Visi “Maju dalam kebersamaan, unggul dalam prestasi, bermoral dalam aktivitas” dan Misi meliputi: 1)Mencetak kader muballig/muballigah yang terampil berbahasa arab/inggris; 2) Fasih dalam membaca, menghafal dan menerjemahkan Al-Qur’an; 3)Berakhlakul karimah seta bertanggung jawab terhadap agama; 4) Mengembangkan kompetensi dii bidang usaha10
Visi dan misi merupakan roh bagi sebuah lembaga atau organisasi termasuk Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal-Irsyad (DDI) Mattoanging Kabupaten Bantaeng.Dengan demikian, Keberadaan program Tahfiz} Al-Qur’an dalam membentuk dan membina karakter religius santri menjadi instrumen vital. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri program Tahfiz} masih menuai beberapa persoalan utamanya dalam membentuk karakter religius.
10Idris jafar, Buku Profil Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal-Irsyad (DDI) Mattoanging Kabupaten, 2018. h. 8.
6
Program Tahfiz} Al-Qur’an di Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal- Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng merupakan program pendampingan dan pembinaaan Tahfiz} Al-Qur’an yang senantiasa dilakukan sebagai wadah dalam: 1) Mewujudkan generasi pengamal Al-Qur’an di tengah masyarakat melalui proses kecintaan dan menghafal Al-Qur’an ; 2) Memberikan pelatihan dan pendidikan bagi santri maupun satriwati berupa ilmu khitabah, kepemimpinan dan kepribadian yang religius serta didukung dengan wawasan keilmuan, motivasi pengembangan diri dan keterampilab; 3) Mempersiapkan maupun mencetak tenaga ahli dalam penghafalan Al-Qur’an yang profesional, handal, berahlak dan memiliki daya saing; 4) Berupaya membimbing santri dan satriwati hingga dapat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi; 5) Menghasilkan para kader imam, khatib dan dai-dai yang senantiasa peduli dengan persoalan kemasyarakatan serta memberi solusi bijak, adil dan cerdas.
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti program Tahfiz}
Al-Qur’an memiliki keharusan menjadikan penghafal Al-Qur’an, membentuk karakter religius yang mengamalkan isi Al-Qur’an pada kehidupan sehari-hari bahkan menjadikan Al-Qur’an sebagai insipirasi dan pedoman hidup. Sejalan dengan itu,berjalan dengan lancar sesuai dengan program Tahfiz} namun dalam observasi awal peneliti melihat sesuatu dalam program Tahfiz} itu belum berajalan sebagaimana seharusnya missal program Tahfiz} yang belum teratur dan cara membentuk karakter santri yang belum maksimal.
B. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus 1. Fokus Penelitian
Fokus penelitian digunakan untuk memberikan pemahaman dan batasan yang jelas agar penelitian tetap fokus pada kajian yang dibahas oleh peneliti. Maka demikian, fokus penelitiannya yaitu pelaksanaan program Tahfiz} dalam membentuk karakter religius pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng.
2. Deskripsi Fokus
Program Tahfiz} adalahsalah satu program unggulan di lingkup pondok pesantren DDI Matoanging Kabupaten Bantaeng yang dirintis dalam misi syiar Islam dalam menjaga kemurnian Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya.
Pengamalan kalam Allah atau Al-Qur’an oleh para santri merupakan bentuk konkret dari program Tahfiz} yang tentunya berorientasi pada karakter yang berdasarkan pada nilai-nilai agama (religius). Dengan demikian, sikap religius yang dihasilkan adalah sikap dan perilaku seseorang yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama kepercayaan yang dianutnya, yang sudah melekat pada diri seseorang serta toleran dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain, serta sebagai cerminan atas ketaatannya terhadap ajaran agama yang dianutnya. Jadi karakter religius adalah suatu penghayatan ajaran agama yang dianutnya dan telah melekat pada diri seseorang dan memunculkan sikap atau perilaku dalam kehidupan sehari-hari baik dalam bersikap maupun dalam bertindak yang dapat membedakan dengan karakter orang lain. Terbentuknya karakter religius pada program Tahfiz} dapat dilakukan dengan merumuskan panduan
8
pengajaran Tahfiz} Al-Qur’an berbasis pelatihan dan pembinaan serta penanaman pendidikan karakter Islami dengan berbagai model salah satunya dengan pembiasaan, targib dan lain-lain. Namun demikian juga, dipengaruhi oleh intenalisasi santri terkait dorongan diri atau kedisiplinan maupun ekternalissi yang berkutak pada sistem pembelajaran atau pendidilkan Pondok Pesantren.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka pokok masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana PelaksanaanProgram Tahfiz} Al-Qur’an dalam membentuk Karakter Religius Santri pada Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng?” sub masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Pelaksanaan Program Tahfiz} Al-Qur’an pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng?
2. Bagaimana karakter religius Santripada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng?
3. Bagaimana pelaksanaan program Tahfiz} Al-Qur’an dalam membentuk karakter religius santri pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng?
D. Kajian Pustaka / Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai pelaksanaan program Tahfiz} Al-Qur’an dalam membentuk karakter religius santri pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng berdasarkan eksplorasi peneliti terdapat beberapa hasil penelitian yang mempunyai relevansi dengan penelitian ini, yaitu:
1. Ummi Kalsum
Judul Implementasi Pembelajaran Hifzil Qur’an Dalam Pembentukan Karakter Relegius Peserta Dididk di MTs NU Miftahul Huda III Dawe Kudus Penelitian ini bertujuan 1) untuk mengetahui implementasi pembelajaran hifzil Qur’an di MTs NU Miftahul Huda III Lau Dawe Kudus tahun pelajaran 2018/2019, 2) untuk mengetahui pembentukan karakter religius peserta didik di MTs NU Miftahul Huda III Lau Dawe Kudus tahun pelajaran 2018/2019, 3) untuk mengetahui implementasi pembelajaran Hifzil Qur’an dalam pembentukan karakter religius peserta didik di MTs NU Miftahul Huda III Lau Dawe Kudus tahun pelajaran 2018/2019, dan 4) untuk mengetahui apa saja faktor pendukung dan penghambat implementasi pembelajaran Hifzil Qur’an dalam pembentukan karakter religius peserta didik di MTs NU Miftahul Huda III Lau Dawe Kudus tahun pelajaran 2018/2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Pelaksanaan pembelajaran hifzil Qur’an di MTs NU Miftahul Huda III Lau Dawe terdiri dari empat tahapan yaitu tahap pendahuluan (wudlu, berdoa, motivasi, dan memastika kesiapan); tahap pelaksanaan (binnador dan bilgoib), tahap evaluasi (non tes meliputi target surat dan tajwid serta makhorijul hurufnya), dan tahap tindak lanjut (follow up) meliputi remedial, pembelajaran Hifzil Qur’an dilakukan melalui inovasi
“menghafal tanpa menghafal, 2) Pembentukan karakter religius peserta didik MTs NU Miftahul Huda III Lau Dawe melalui beberapa model yakni model motivasi, kisah, teladan, dan pembiasaan berupa kegiatan dan program di madrasah, 3) Guru Tahfiz}
membentuk karakter religius peserta didik dalam pembelajaran Hifzil Qur’an melalui model motivasi, model kisah, dan menjelaskan kandungan ayat Al-Qur’an, 4) Faktor penghambat dan faktor pendukung implementasi Hifzil Qur’an dalam pembentukan karakter religius peserta didik di MTs NU Miftahul Huda III Lau Dawe yaitu faktor
10
penghambatnya meliputi: waktu, perbedaan tingkat kemampuan anak, suasana kelas tidak kondusif, lingkungan, perbedaan karakter anak, maksiat, dan HP. Sedangkan faktor pendukungnya meliputi: niat, motivasi, keluarga, tokoh agama.
2. Faiqoh dan Sahal Mahfudh
Judul Model Pembentukan Karakter Religius Satri Tahfiz} Al-Qu’ran di Pondok Pesantren Mathali’ul Huda Pusat Kajen Pati. Penelitian ini mengkaji tentang model pembentukan karakter religious santri Tahfiz} di Pondok Pesantren Mathali’ul Huda Pusat Kajen sebagai salah satu pesantren yang berbasis pada pembinaan akhlak yang dijadikan good model dalam implementasi pendidikan karakter di lembaga pendidikan di Indonesia. Pondok Pesantren Mathali’ul Huda Pusat Kajen memiliki elemen integral yang befungsi penting dalam pembentukan karakter religius yaitu : 1) Kyai yang mempunyai kedudukan sebagai pendidik, pengasuh, pengajar, kontrol sosial dan suri tauladan; 2) Pengurus pesantren sebagai pelaksana tata tertib atau peraturan pesantren, bahkan menjadi salah satu kontrol sosial pendukung yang menjaga tata norma dan nilai
; 3) Teman yang memiliki visi dan misi yang sama ; (4) Pondok utamanya asrama yang memiliki peranan sebagai tempat internalisasi nilai-nilai karakter religius terutama dalam mengaktualisasikannya; (5) masjid yang memiliki peranan sebagai tempat mengajarkan dan mendaras Al-Qur’an, serta sebagai tempat bermusyawarah bagi para santri tahfiz}; dan (6) Upaya pengajian Al-Qur’an dan kitab kuning sebagai sumber pengetahuan tentang nilainilai karakter.Tahapan-tahapan pembentukan karakter religious santri Tahfiz} di pesantren ini adalah 1) Tahapan pengetahuan tentang nilai-nilai religious; 2) Tahapan kesadaran tentang karakter religius; 3) Tahapan pengamalan karakter religius; 4) Tahapan pembiasaan karakter religius; 5) Tahapan penjagaan karakter religius sepanjang hayat.
3. Ferdinan
Judul Pelaksanaan Program Tahfiz} Al-Qur’an (Studi Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara Sulawesi Selatan). Penelitian ini berfokus pada kajian pelaksanaan program Tahfiz} Al-Qur’an di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara Sulawesi Selatan serta mengetahui capaian atau hasil program pendampingan Tahfiz} Al-Qur’an pada Pesantren tersebut. Dengan demikian, hasil penelian mengemukakan bahwa program pendampingan Tahfiz} Al-Qur’an di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Gombara Sulawesi Selatanterlaksana secara internal pesantren dengan kerja sama dengan AMCF dan Pesantren yang ada di Solo. Capaian atau hasil program pendampingan Tahfiz} Al-Qur’an di pesantren tersebut dapat diselesaikan dalam waktu 2-3 tahun pada program Tahfiz} Al-Qur’an 30 juz dengan asumsi 10 jus pertahun dalam hal ini tergantung juga dengan kemampuan santri dimana sambil menghafal Al-Qur’an dengan tartil dan tajwid juga didukung dengan pelajaran- pelajaran ilmu aqidah dasar, adab, hadis dan lain lain sebagainya.
4. Rochmatun Nafi’ah
Efektifitas Program Tahfiz} Al-Qur’an Dalam Memperkuat Karakter Siswa di Madrasah Aliyah Negeri Lasem. Penelitian ini membahas tentang efektivitas program Tahfiz} dalam memperkuat karakter siswa di Madrasah Aliyah Negeri Lasem.penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan: 1) bagaimana pelaksanaan program Tahfiz} Al-Qur’an di Madrasah Aliyah Negeri Lasem 2) bagaimana karakter siswa yang mengikuti program Tahfiz} Al-Qur’an di Madrasah Aliyah Negeri Lasem 3) bagaimana efktifitas program Tahfiz} Al-Qur’an di Madrasah Aliyah Negeri Lasem. Dari hasil penelitian diketahui bahwa: pelaksanaan program Tahfiz} yang dijalankan di Madrasah Aliyah negeri lasem adalah termasuk kategori baik, dan program ini merupakan
12
kegiatan ekstrakurikuler yang dilaksanakan saat pembelajaran PAI, dengan target hafalan 1 tahun siswa hafal minimal 5 juz. waktu hafalan yaitu hari senin sampai jum’at.
5. Nurul Latifatul Inayati, Isnaya Arina H, dan Izzah Azizah Al-Hadi
Judul Pelaksanaan Program Kulliyatu Tahfiz} Al-Qur’an dalam Meningkatkan Hafalan Santri Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Sukoharjo Tahun Pelajaran 2016/2017. Penelitian ini berorientasi pada (1) Bagaimana strategi program kulliyatu Tahfiz} Al-Qur’an dalam meningkatkan hafalan santri Pondok Pesantren Assalaam? (2) Apa saja hambatan-hambatan yang ditemui dalam strategi program kulliyatu Tahfiz}
Al-Qur’an dalam meningkatkan hafalan santri Pondok PesantrenAssalaam. Oleh karena itu, strategi program kulliyatu Tahfiz} Al-Qur’an pada peningkatan hafalan santri Pondok Pesantren Assdukung dalaam sudah berjalan dengan baik melalui program Tahfiz} 1 hari dengan satu halaman dan takrir 1 hari dengan 5 halamam maupun metode Bi al-nazhar dan syarat yaitu menghafal yang didukung dengan fasilitas asrama khusu santri KTQ serta syarat menyetorkan hafalan dan menyiapakn hafalan pada waktu tertentu. Sementara itu, hambatan dalam pelaksanaan Tahfiz} ini yaitu banyak kegiatan pondok diluar kegiatan akademik, ketidak konsistenan dalam menyetorkan hafalan serta rasa malas para santri.
Tabel 1.2 Penelitian Terdahulu No. Nama
Peneliti
Judul Penelitian Persamaan Perbedaan
1. Ummi Kalsum
Pembelajaran Hifzil Qur’an Dalam
Pembentukan Karakter Relegius Peserta Dididk di
Membahas proses pelaksanaan menghafal Al- Qur’an dalam pembentukan
Meneliti program Tahfiz} Al-Qur’an sekaitan dengan pelaksaaan program dan upaya dalam membentuk karakter
MTs NU Miftahul Huda III Dawe Kudus
karakter religious
religius yang mengarah pada
faktor yang
mendukung dan menghambat
program tersebut, 2. Faiqoh dan
Sahal Mahfudh
Model
Pembentukan Karakter Religius Satri Tahfiz} Al- Qu’ran Di Pondok Pesantren
Mathali’ul Huda Pusat Kajen Pati
Membahas Model
pemebentukan karakter religius santri Tahfiz}
Al-Qu’ran
Meneliti pelaksanaan
program Tahfiz} Al- Qur’an yang yang
tidak hanya
berorientasi pada model pembentukan karakter religius melainkan peranan program Tahfiz} Al-
Qur’an yang
dirasakan santri dalam hal ini karaktek religius beserta faktornya.
3. Ferdinan Pelaksanaan Program Tahfiz}
Al-Qur’an (Studi Pesantren Darul Arqam
Muhammadiyah Gombara
Sulawesi Selatan)
Membahas pelaksanaan program Tahfiz}
Meneliti pelaksanaan
program Tahfiz}
dalam hal
membentuk karakter religius dan faktor yang
mempengaruhinya 4. Rochmatun
Nafi’ah
Efektifitas
Program Tahfiz}
Al-Qur’an Dalam Memperkuat Karakter Siswa di Madrasah Aliyah Negeri Lasem.
Membahas program Tahfiz}
Al-Qur’an dalam
pembentukan karakter
Meneliti pelaksanaan
program Tahfiz} Al- Qur’an dalam membentuk karakter religius secara perspektif kualitatif.
14
5. Nurul Latifatul Inayati, Isnaya Arina H, dan Izzah Azizah Al Hadi
Pelaksanaan Program Kulliyatu Tahfiz} Al-Qur’an dalam
Meningkatkan Hafalan Santri Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam
Sukoharjo Tahun Pelajaran
2016/2017
Membahas program Tahfiz}
Al-Qur’an
Meneliti pelaksanaan
program Tahfiz} Al- Qur’an dalam membentuk
karakter religius
E. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mendeskripsikan program Tahfiz} Al-Qur’an pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng.
b. Untuk mendeskripsikan karakter religius Santri pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng.
c. Untuk mendeskripsikan pelaksanaan program Tahfiz} Al-Qur’an dalam membentuk karakter religius santri pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng.
2. Manfaat Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian diharapkan memperoleh manfaat yaitu:
a. Manfaat Teoritis
Untuk mengkaji dan mengetahui pelaksanaan program Tahfiz} Al-Qur’an dalam membentuk karakter religius santri pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng yang nantinya menjadikan disiplin ilmu pengetahuan dalam dunia
pendidikan dan dapat menambah wawasan yang berkaitan dengan teknik atau cara menyusun program Tahfiz} Al-Qur’an.
b. Manfaat praktis
Maksudnya adalah bahwa dalam penelitian ini diharapkan:
1) Bagi Madrasah
Sebagai pengetahuan baru dan sumbangan pemikiran dalam meningatkan program Tahfiz} Al-Qur’an untuk memperkuat karakter santri.
2) Bagi penulis
Menambah wawasan pengetahuan dalam penelitian sehingga mampu menerapkan ilmu tersebut ketika terjun dalam masyarakat dan sebagai referensi dan menambah pengalaman dalam penelitian pendidikan khususnya membentuk pendidikan karakter melalui program Tahfiz} Al-Qur’an.
3) Bagi masyarakat
Bisa menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat dalam meningkatkan kualitas pendidikan secara umum, khususnya untuk membentuk dan menghasilkan generasi penerus yang berkarakter dan berbudi luhur.
16 BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pelaksanaan Program Tahfiz} Al-Qur’an 1. Program Tahfiz} Al-Qur’an
a. Pengertian Program Tahfiz} Al-Qur’an
Menurut pengertian secara umum, program dapat diartikan sebagai rencana.
Sebuah program bukan hanya kegiatan tunggal yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat, tetapi merupakan kegiatan yang berkesinambungan karena melaksanakan suatu kebijakan. Oleh karena itu, sebuah program dapat berlangsung dalam kurun waktu relatif lama. Pengertian program adalah suatu unit atau kesatuan kegiatan maka program merupakan sebuah sistem, yaitu rangkaian kegiatan yang dilakukan bukan hanya satu kali tetapi berkesinambungan. Pelaksanaan program selalu terjadi di dalam sebuah organisasi yang artinya harusmelibatkan sekelompok orang.1
Istilah Tahfiz} Al-Qur’an terdiri dari dua suku kata, yaitu Tahfiz} dan Al-Qur’an, yang mana keduanya mempunyai arti yang berbeda. Kata Tahfiz} berasal dari bahasa Arab Hafidza-yahfadzu hifdzan yang artinya memelihara, menjaga dan menghafal.
Tahfiz} (hafalan) secara bahasa (etimologi) adalah lawan dari lupa, yaitu selalu ingat dan sedikit lupa.2Menurut kamus lengkap Bahasa Indonesia, hafalan berasal dari kata dasar hafal yang artinya telah masuk ke ingatan (tentang pelajaran) dan dapat mengucapkan di luar kepala (tanpa melihat buku atau catatan lainnya).
1Suharsimi Arikunto, Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan, (Jakarta: PT.
Bumi Aksara, 2010), h. 3.
2 Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Hidakarya Agung, 1990), h. 105.
Secara istilah, ada beberapa pengertian menghafal menurut para ahli, yaitu:
1) Menurut Baharuddin, Menghafal adalah menanamkan asosiasi kedalam jiwa”.3 2) Menurut Syaiful Bahri Djamarah,Menghafal adalah kemampuan jiwa untuk
memasukkan (learning), menyimpan (retention) dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang telah lampau”.4
3) Menurut Abdul Qoyyum, Menghafal adalah menyampaikan ucapan di luar kepala (tanpa melihat teks), mengokohkan dan menguatkannya di dalam dada, sehingga mampu menghadirkan ilmu itu kapan pun di kehendaki”.5
4) Menurut Abdul Aziz Abdul Rauf, Menghafal proses mengulang sesuatu baik dengan membaca atau mendengar. Pekerjaan apapun jika sering diulang pasti menjadi hafal”.6
Dari sejumlah definisi terkait Tahfiz} maka dapat disimpulkan Tahfiz} adalah aktifitas menghafal yang merupakan proses menanamkan suatu materi ke dalam ingatan yang dilakukan secara berulang sehingga mampu diaplikasikan pada setiap waktu.
b. Pengertian Al-Qur’an
Al-Qur’an menurut bahasa adalah “bacaan”, sedangakan menurut istilah (terminologi) ialah firman Allah yang berbentuk mukjizat yang diturunkan kepada nabi terakhir, melalui malaikat Jibril yang tertulis dalam mushaf yang diriwayatkan kepada kita secara mutawatir, merupakan ibadah dalam membacanya yang dimulai
3 Baharuddin, Psikologi Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), h.113.
4Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar (Jakarta, Renek Cipta, 2008), h. 44
5 Abdul Qoyyum Bin Muhammad Bin Nashir As Sahabaini Dan Muhammad Taqiyul Islam Qaary, Keajaiban Hafalan, h.12
6 Abdul Aziz Abdul Rauf, Kiat Sukses Menjadi Hafidz Qur’an Da’iyah (Bandung: PT Syamil Cipta Media, 2004) cet. 4, 49.
18
dengan surah al-Fatihah dan di akhiri dengan surah an-Naas.7 Menurut Az-Zarkani bahwa Al-Qur’an adalah Kalam yang mengandung mukjizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw, tertulis dalam mushaf, dinukilkan secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah8. Sedangkan Menurut Ibn Subki Al-Qur’an adalah lafadz yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw, mengandung mu’jizat dan dalam membacanya dihukumi ibadah”.9Serta, menurut Achmad Yaman Syamsudin,dalam bukunya “Mudah Menghafal Al-Qur’an”, yang mengutip dari Muhammad Mahmud Abdullah bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantara Ruhul Amin (malaikat) Jibril dan dinukilkan kepada kita melaui jalan mutawatir (berkesinambungan), yang dinlai ibadah dalam membacanyadiawali dengan Surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas.10
Jadi, Tahfiz} Al-Qur’an dalam penelitian ini adalah aktifitas menghafal kalam Allah azza wa jalla yang menyimpannya dalam hati kemudian isinya diamalkan pada kehidupan sehari -hari demi untuk menjaga kemurnian sebagian maupun keseluruhan isi dari Al-Qur’an dari generasi ke generasi.
2. Kedudukan Penghafal Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab suci bagi pemeluk agama islam, sebagai pedoman hidup dan sumber-sumber hukum. tidak semua manusia sanggup menghafal dan tidak semua kitab suci dapat dihafal kecuali kitab suci Al-Qur’an dan hanya hamba-hambanya yang terpilih yang sanggup menghafalkannya. Hal ini telah dibuktikan dalam firman Allah QS Fathir/35: 32.
7 Mudzakir AS, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an (Jakarta: PT Pusaka Litera Antara Nusa, 2011), h.6.
8 Tim Reviewer MKD 2014, Studi Alqur’an (Surabaya: UIN Sunan Ampel Press, 2014) , h. 4
9 Amir Syarifudin, Usul Fiqh Jilid 1 (Jakarta: Pt Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 46
10 Achmad Yaman Syamsudin, Cara Mudah Menghafal Alqur’an (Solo: Insan Kamil, 2007), h.
15.
َّمُث احنۡثحرۡو ح
أ حبَٰ حتِكۡل ٱ
ٱ حنيِ َّ
ل ٱ احنۡيحف حط ۡص ِداحبِع ۡنِم
ِهِسۡفح ِ ذ
لۡ ٞمِلا حظ ۡمُهۡنِمحف ۖاحن ۦ
ُهۡنِمحو ٞد ِصحتۡقُّم م
ِب ُُۢقِباحس ۡمُهۡنِمحو ِتَٰحرۡيح ۡ ٱ
ِنۡذِإِب لۡ
هِ َّلل ٱ حوُه حكِلَٰحذ ٱ
ُل ۡضحفۡل ُيِب حكۡل ٱ
٣٢
Terjemahnya:
Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar.11
Al-Qur’an sebagai dasar hukum Islam dan pedoman hidup umat, disamping diturunkan kepada hambanya yang terpilih, Al-Qur’an diturunkan melalui ruhul amin Jibril dengan berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan umat dimasa itu dan dimasa yang akan datang. Selama dua puluh tiga tahun nabi menerima wahyu Allah melalui Jibril tidak melalui tulisan melainkan dengan lisan (hafalan). Hal ini telah dibuktikan dengan firman Allah swt QS Al-A’la /87:6.
حكُئِرۡقُنحس حلحف
ٰٓ حسَنحت ٦
Terjemahnya:
Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa12
Ayat diatas menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan hafalan bukan dengan tulisan, setelah Nabi Muhammad saw menerima bacaan dari jibril Rasulullah dilarang mendahuluinya agar lebih mantab hafalannya. Oleh karena itu sebagai dasar bagi orang-orang yang menghafal Al-Qur’an.Atas dasar inilah para ulama, di antaranya Abdul Abbas Ahmad Bin Muhammad al-Jurjani, berkata dalam kitab As-Syafi’i bahwa hukum menghafal mengikuti Nabi Muhammad saw adalah fardu kifayah. Dalam arti umat islam harus ada (bukan harus banyak) yang harus hafal Al-Qur’an mengikuti Nabi
11Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Kementrian Agama Republik Indonesia, 2017), h.700
12Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h.1051
20
Muhammad saw untuk menjaga nilai mutawatir. Apabila hal ini tidak dilakukan maka seluruh umat islam akan menanggung dosa, dan ketetapan hukum seperti ini tidak berlaku pada kitab-kitab samawi.13
3. Keutamaan Menghafal Al-Qur’an
Menghafal Al-Qur’an merupakan suatu perbuatan yang sangat terpuji dan mulia. Banyak sekali hadis-hadis Rasulullah saw yang mengungkapkan keagungan orang yang belajar membaca atau menghafal Al-Qur’an. Orang – orang yang mempelajari, membaca, atau menghafal Al-Qur’an merupakan orang-orang pilihan yang memang dipilih Allah untuk menerima warisan kitab suci Al-Qur’an. Bagi orang yang menghafal Al-Qur’an mempunyai beberapa kemulian tersendiri, yaitu:
a. Penghafal Al-Qur’an adalah Ahlullah (keluarga Allah)
Jalaluddin Abdurrahman Bin Abu Bakar Alsuyuti dalam kitabnya Jami’us Shoghir, pada bab keutamaan belajar dan mengajar Al-Qur’an menyampaikan hadis dari Anas Bin Malik, yaitu:
نِإ اَي ْمُه ْنَم : اوُلاَق َساهنلا َنَم َنيَلْهَأ َ ه َلِلّ
َنِآ ْرُْقُْلا ُلُْهَأ : َلَاَق ؟َ هاللَّهِ َلَوُسُ َر ْم ُه
)دمحا هاور( ُهُتهصاَخ َو َ هاللَّهِ ُلُْهَأ
Artinya:
Sesungguhnya Allah swt mempunyai ahli keluarga dari kalangan manusia, ahli Al-Qur’an adalah kekasih Allah yang diistimewakan” (HR. Ahmad)14
b. Penghafal Al-Qur’an akan mempersembahkan mahkota cahaya kepada kedua orang tuanya. :15
13Fifi Lutfiah, Hubungan Antara Hafalan Alqur’an Dengan Prestasi Belajar Alqur’an Hadist Siswa Mts Asy-Syukriyyh Cipondoh Tangerang (Skripsi Uin Syarif Hidayatullah, Tahun 2011), h. 14.
14Ibnul Jauziyah, Syarah Risalah Al-‘Ubudiyyah, Cetakan pertama, 1435 H. h 64
15Gus Arifin & Suhendri Abu Faqih, Alqur’an Sang Mahkota Cahaya Ajak Dan Ajari Anak-Anak Kita Mencintai, Membaca, Dan Menghafal Alqur’an (Jakarta: Elex Media Koputindu,2010), h. 68
Orang yang mengamalkan hafalan Al-Qur>an akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat, terlebih kepada kedua orang tuanya.16
4. Faedah Menghafal Al-Qur’an
Banyak sekali faedah yang muncul dari kesibukan menghafal Al-Qur’an yaitu:
a. Kebahagiaan Dunia dan Akhirat
Artinya:
Dari Abi> Sa’i>d dia berkata, Rasulullah saw. bersabda Allah Azza wa Jalla berfirman barang siapa yang disibutkkan oleh Al-quran, hingga dia tidak sempat berzikir dan berdoa kepadaku, maka saya akan memberinya hal yang terbaik yang diminta oleh orang berdoa, dan keutamaan kalam Allah atas seluruh perkataan yang lainnya seperti keutamaan Allah atas ciptaannya.
b. Sakinah (tentram jiwa)
Artinya:
Dari Abi> Hurairah dia berkata, Rasulullah saw berasabda, tidaklah suatu kaum berkumpul dirumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mempelajarinya, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, dan rahmat allah akan meliputi mereka, dan mereka akan dikitari oleh Maliaikat, dan mereka akan disebut-sebut
16Muhammad Zainuddin, Analisis Pelaksanaan Pogram Tahfidz Alqur’an Dalam Meningkatkan Kefasihan Siswa Pada Kegiatan Pengembangan Diri Dimts Abadiyah Kuryokalangan Gabus Pati (Skripsi: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kudus ,2016 ), h 12.
17Muh}ammad bin ‘I<sa> Abu> ‘Isa> al-Tirmizi>, al-Ja>mi’ al-Kabir/ Sunan al-Tirmizi>, Juz V (Bairu>t:
Da>r al-Garb al-Isla>mi>, 1996 M), h. 45
22
oleh Allah disisinya, dan barang siapa yang amalnya lamban(kurang) maka nasabnya tidak akan membuatnya cepat.
c. Tajam Ingatan dan Bersih Intuisinya
Tajam ingatan dan kebersihan intuisinya itu muncul karena seorang penghafal Al-Qur’an selalu berupaya mencocokan ayat-ayat yang dihafalkannya dan membandingkan ayat-ayat tersebut keporosnya, baik dari segi lafal (teks ayat) maupun dari segi perngertiannya. Sedangkan bersih intuisinya itu muncul karena seorang penghafal Al-Qur’an senantiasa berada dalam lingkungan zikrullah dan selalu dalam kondisi keinsafan yang selalu meningkat, karena selalu mendapat peringatan dari ayat- ayat yang dibacanya.
d. Bahtera Ilmu
Khazanah Ulumul-Qur’an (ilmu-ilmu Al-Qur’an) dan kandungannya akan bnayak sekali terekam dan melekat dengan kuat kedalam benak orang yang menghafalkannya. Dengan demikian nilai-nilai Al-Qur’an yang terkandung di dalamnya akan menjadi motifator terhadap kreativitas pengembangan ilmu-ilmu yang dikuasainya.
e. Memiliki Identitas yang baik dan Berperilaku Jujur
Seorang yang hafal Al-Qur’an sudah selayaknya bahkan sudah menjadi kewajiban untuk berperilaku jujur dan berjiwa Qur’ani. Identitas yang demikian akan selalu terpelihara karena jiwanya selalu mendapat peringatan dan teguran dari ayat- ayat Al-Qur’an yang selalu dibacanya.
18 Muslim bin al-Hajja>j al-Ni>sa>bu>ri>, S{ah}i>h{ Muslim, Juz IV(Bairu>t: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1991 M), h. 2074
f. Fasih dalam berbicara
Orang yang banyak membaca, atau menghafal Al-Qur’an akan membentuk ucapannya tepat dan mengeluarkan fenotip arab pada landasannya secara alami19. Sebagai firman Allah QS. Al-Syu’ara/26: 194.
حنِم حنوُكح ِلِ حكِب ۡلحق َٰح حعَل حنيِرِذنُم ۡ ل ٱ
١٩٤
Terjemahnya:
Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas 20
5. Metode Menghafal Al-Qur’an
Banyak sekali metode-metode yang mungkin bisa dikembangkan dalam rangka mencari alternatif terbaik untuk menghafal Al-Qur’an. Metode tersebut Menurut Ahsin W Al-Hafidz, dalam bukunya bimbingan praktis menghafal Al-Qur’an, menyebutkan beberapa metode, yaitu:
a. Metode Wahdah
Metode wahdah adalah metode menghafal Al-Qur’an dengan cara menghafal satu persatu ayat yang hendak dihafalkannya. Dimana setiap ayat dibaca sepanyak sepuluh kali atau lebih, sehingga mampu membentuk pola dalam banyangannya.
Dengan demikian penghafal akan mampu mengkondisikan ayat-ayat yang akan dihafalkannya bukan saja dalam banyanganya, akan tetapi benar-benar membentuk gerak reflek pada lisannya. Setelah benar-benar hafal baru dilanjutkan pada ayat-ayat berikutnya dengan cara yang sama hingga mencapai satu halaman (muka).
19 Ahsin W Al-Hafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Alqur’an ( Jakarta: Bumi Aksara, 1994) ,h 35-40
20Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Kementrian Agama Republik Indonesia, 2017), h.587
24
b. Metode Kitabah
Kitabah artinya menulis, yaitu penghafal menulis terdahulu ayat-ayat yang akan dihafalkanya pada secarik kertas. Kemudian ayat-ayat tersebut dibaca hingga lancar dan benar bacaannya, lalu dihafalkan. Menghafalnya bisa menggunakan metode wahdah, atau dengan menuliskannya berkali-kali sambil memperhatikannya dan sambil menghafalkannya dalam hati. Metode ini cukup praktis dan baik, karena disamping membaca dengan lisan, aspek visual menulis juga sangat membantu dalam mempercepat terbentuknya pola hafalan dalam banyangannya.
c. Metode Sima<’i
Sima<’i artinya mendengar. Yang dmaksud dengan metode sima<’i adalah mendengarkan suatu bacaan untuk dihafalkannya. Metode ini akan sangat efektif bagi penghafal yang memiliki daya ingat yang ekstra, terutama bagi penghafal tunanetra, atau anak-anak yang masih dibawah umur yang belum mengenal baca tulis Al-Qur’an.
Metode ini dapat dilakukan melalui dua alternatif yaitu:
1) Mendengar dari guru yang membimbingnya, terutama bagi penghafal tunanetra, atau anak-anak. Dalam hal ini guru dituntut untuk perperan aktif, sabar dan teliti dalam membacakan dan membimbingnya, karena ia harus membacakan satu persatu ayat untuk dihafalkanya sehingga penghafal mampu menghafal secara sempurna.
2) Merekam terlebih dahulu ayat-ayat yang akan dihafalknnya kedalam pita kaset sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Kemudian kaset diputar dan didengar secara seksama sambil mengikutinya secara perlahan-lahan.
Kemudian diulang sehingga ayat-ayat tersebut benar-benar hafal diluar kepala.
d. Metode Gabungan
Metode ini merupakan gabungan antara metode pertama dan metode kedua yaitu metode wahdah dan metode kitabah. Dalam hal ini penghafal menghafal ayat- ayat sampai benar-benar hafal, kemudian setelah selesai menghafal penghafal menncoba menuliskan ayat-ayat yang dihafal diatas kertas. Jika ia mampu mereproduksi kembali ayat-ayat yang dihafalkanya dalam bentuk tulisan, maka ia dapat melanjutkan lagi untuk menghafal dan menuliskan hafalan selanjutnya.
Kelebihan metode ini adalah memiliki fungsi ganda, yakni berfungsi untuk menghafal dan sekaligus memantabkan hafalan.
e. Metode Jama’
Metode jama’ adalah cara menghafal yang dilukakan secara kolektif, yakni ayat-ayat yang dihafal dibaca secara kolektif atau secara bersamaan, dipimpin oleh seorang instruktur, pertama instruktur membacakan satu ayat atau beberapa ayat dan siswa menirukan secara bersama-sama. Setelah ayat – ayat itu dapat mereka baca dengan baik dan benar, selanjutnya mereka mengikuti bacaan instruktur dengan sedikit demi sedikit mencoba melepaskan mushaf dan seterusnya hingga ayat yang dihafalkan benar-banar sepenuhnya hafal. Cara ini termasuk metode yang baik untuk dikembangkan, karena akan dapat menghilangkan kejenuhan dan membantu menghidupkan daya ingat terhadap ayat-ayat yang dihafalkannya.21
Selain itu, Adapun metode menghafal Al-Qur’an menurut Sa’dulloh Al-Hafizh dalam bukunya “cara cepat menghafal Al-Qur’an”, yaitu:
21 Ahsin W Al-Hafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Alqur’an ( Jakarta: Bumi Aksara, 1994 ),H 65
26
a. Bin-nazar
Bin-nazar yaitu membaca dengan cermat ayat-ayat Al-Qur’an yang akan dihafal dengan melihat mushaf Al-Qur’an secara berulang-ulang. Bin-nazar hendaknya dilakukan sebanyak 40 kali seperti yang dilakukan oleh ulama terdahulu. Hal tersebut bertujuan memperoleh gambaran menyeluruh tentang lafadz maupun urutan ayat- ayatnya.
b. Metode Tahfiz}
Metode Tahfiz} adalah menghafal sedikit demi sedikit ayat-ayat Al- Qur’an yang telah dibaca secara berulang-ulang. Misalnya menghafal satu halaman yaitu menghafal ayat demi ayat dengan baik, kemudian merangkaikan ayat-ayat yang sudah dihafal dengan sempurna dimulai dari ayat awal, ayat kedua dan seterusnya.
c. Metode Talaqqi
Metode talaqqi adalah metode menghafal Al-Qur’an yang dilakukan dengan cara menyetorkan atau mendengarkan hafalan yang baru dihafal kepada seorang guru atau instruktur. Metode ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hasil hafalan seorang penghafal serta untuk mendapatkan bimbingan secara langsung dari guru atau instruktur.
d. Metode Takrir
Metode taqrir merupakan metode hafalan yang dilakukan dengan cara mengulang hafalan yang sudah pernah dihafal atau yang sudah disetorakan kepada seoranng guru atau istruktur. Tujuan dari metode ini adalah agar hafalan yang sudah yang pernah dihafal tetap terjaga dengan baik, selain itu juga untuk melancarkan halafan sehingga tidak mudah lupa.
e. Metode Tasmi’
Metode tasmi’ adalah menghafal dengan cara mendengarkan halafan kepada orang lain, baik kepada perorangan maupun kepada jama’ah. Dengan melakukan metode ini seorang penghafal akan mengetahui kekurangan dalam hafalannya dan agar lebih berkonsentrasi.
6. Syarat Menghafal Al-Qur’an
Menghafal Al-Qur’an adalah suatu pekerjaan yang sangat mulia di sisi Allah, namun pekerjaan tersebut bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan hanya dengan membalikkan telapak tangan, akan tetapi harus memiliki persiapan yang matang baik persiapan dari dalam diri maupun dari luar diri. Untuk itu ada beberapa hal yang harus terpenuhi sebelum seseorang memasuki periode menghafal Al-Qur’an, yaitu:
a. Mampu mengosongkan benaknya dari fikiran-fikiran dan teori-teori, atau permasalahan – permasalahan yang sekiranya akan mengganggu.
Seorang yang akan menghafal Al-Qur’an selain mengsongkan benaknya dari segela permasalahan yang mengganggu, ia juga harus membersihkan dirinya dari segala sesuatu perbuatan yang sekiranya dapat merendahkan nilai studinya, kemudian menekuni dengan baik dengan hati terbuka, lapang dada dan dengan tujuan yang suci.
Kondisi yang seperti ini akan tercipta apabila kita mampu mengendalikan diri dari perbuata-perbuatan yang tercela.
b. Niat yang ikhlas
Niat yang ikhlas dan matang bagi calon penghafal Al-Qur’an sangat diperlukan, sebab apabila sudah ada niat yang matang dari calon penghafal berarti ada hasrat dan
28
kemauan jadi pada saat menghafal penghafal Al-Qur’an jika mengalami kesulitan apapun yang menghalanginya akan ditanggung. Niat yang ikhlas dan sungguh-sungguh impikasinya dapat mengantar seseorang ke tempat tujuan, dan akan membentengi serta menjadi perisai terhadap kendala-kendala yang mungkin akan memeranginya.
c. Memiliki Keteguhan dan Kesabaran
Keteguhan dan kesabaran merupakan faktor yang sangat penting bagi orang yang sedang menghafal Al-Qur’an. Hal ini disebabkan karena dalam proses menghafal akan banyak sekali ditemui berbagai macam kendala, mungkin jenuh, karena ganguan lingkungan yang bising dan gaduh, gangguan batin atau mungkin menghadap ayat-ayat tertentu yang mungkin dirasa sulit dihafalkan terutama dalam menjaga kelestarian hafal Al-Qur’an.
d. Istiqomah
Istiqamah yaitu konsisten, tetap menjaga keajekan dalam proses menghafal Al- Qur’an. Dengan kata lain seorang penghafal Al-Qur’an harus senantiasa menjaga kontinuitas dan efesiensi terhadap waktu. seorang penghafal Al-Qur’an yang konsisten akan sangat menghargai waktu yang nantinya akan sangat berpengaruh pada intuisinya ketika ada waktu luang, maka intuisinya akan mendorong untuk segera kembali pada Al-Qur’an.
e. Menjauhi Sifat – Sifat Tercela
Sifat tercelaadalah sifat yang harus dijauhi oleh setiap muslim, terutama didalam menghafal Al-Qur’an. Sifat tercela mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap orang-orang yang menghafal Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an adalah kitab suci bagi umat islam yang tidak boleh dinudai oleh siapapun dan dalam bentuk apapun.
Sifat-sifat tercela tersebut yang harus dijauhi oleh seorang anak yang menghafal Al-Qur’an adalah khianat, bakhil, pemarah, mengucilkan diri dari pergaulan, iri hati, sombong dusta, ingkar, riya’ banyak makan, angkuh, meremehkan orang lain, penakut dan sebagainya. Apabila seorang penghafal memiliki penyakit – penyakit hati seperti itu maka usaha dalam menghafal Al-Qur’an akan menjdi lemah apabila orang lain tidak memperhatikannya.
f. Izin Orang Tua, Wali atau Suami
Adanya Izin dari orang tua , wali atau suami memberikan pengertian bahwa:
1) Orang tua, wali atau suami telah merelakan waktunya kepada anak, istri, atau orang yang dibawah perwaliannya untuk menghafal Al-Qur’an.
2) Merupakan dorongan moral yang amat besar bagi tercapainya tujuan menghafal Al-Qur’an, karena tidak adanya kerelaan orang tua, wali atau suami akan membawa pengaruh batin yang kuat sehingga penghafal menjadi bimbang dan kacau pikirannya.
3) Penghafal mempunyai kebabasan dan kelonggaran waktu sehingga ia merasa bebas dari tekanan yang menyesakkan dadanya, dan dengan pengerian yang besar dari orang tua, wali atau suami maka proses menghafal menjadi lancar.
4) Mampu Membaca dengan Baik22
Sebelum seorang penghafal melangkah pada periode menghafal, seharusnya ia terlebih dahulu meluruskan dan memperlancar bacaannya. Sebagian besar ulama bahkan tidak memperkenangkan anak didik yang diampunya untuk menghafal Al- Qur’an sebelum terlebih dahulu ia menghatamkan Al-Qur’an bin nazar (dengan
22Wiwi Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal Alqur’an, (Jogjakarta: Diva Pres, 2014) h 28-4