BAB II TINJAUAN TEORITIS
C. Kerangka Konsep
Pendidikan merupakan suatu sistem teratur yang mengemban misi cukup luas yaitu segala sesuatu yang bertalian dengan perkembangan fisik, kesehatan, keterampilan, perasaan, pikiran, kemauan, sampai pada masalah kepercayaan dan keimanan.Hal ini menunjukkan bahwa sekolah sebagai suatu pendidikan formal mempunyai muatan beban yang cukup berat dalam melaksanakan visi misi pendidikan.Lebih utama apabila dikaitkan dengan pesatnya perubahan zaman dewasa ini yang sangat berpengaruh terhadap anak-anak didik dalam berfikir, bersikap dan berperilaku, khususnya terhadap mereka yang masih tahap perkembangan dalam transisi yang mancari identitas diri.Berangkat dari uraian tersebut masyarakat khususnya umat islam harus menyiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman dengan tetap menjadikan kitabullah sebagai pedoman hidup. Maka dari itu menghafal isi dan makna dari Al-Qur’an sangatlah penting karena selain problematika ummat yang semakin kompleks juga karena aktifitas ini termasuk hukum fardhu kifayah
56
Gambar 2.2 Kerangka Konsep
Adanya program Tahfiz} Al-Qur’an sebagai jawaban dari uraian di atas. Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng termasuk lembaga pendidikan yang menjalankan program Tahfiz} Al-Qur’an. Dalam proses penelitian ini, peneliti lebih fokus pada proses atau upaya membentuk karakter religius terhadap pelaksanaan program Tahfiz} Al-Qur’an yang dimana peneliti akan melihat efektifitias pelaksanaan program Tahfiz} Al-Qur’an berdasarkan karakter religius santri yang mengikuti program tersebut.
Program Tahfiz}
Al-Qur’an
Karakter Religius Santri:
(1) Merasakan kehadiran Allah, (2) Menjalankan perintah dan Menjauhi larangan Allah, (3) Jujur, (4) Disiplin tinggi, (5) Rendah hati,
Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng
57 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Lokasi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu suatu proses penelitian untuk menemukan pengetahuan yang dapat menggambarkan sifat-sifat individu, kelompok ataupun keadaan dan situasi objek penelitian. Gambaran atas gejala-gejala yang terjadi tidak terlepas dari metode deskriptif kualitatif yang berdasar pada kenyataan dilapangan dan dialami langsung oleh informan.
Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang fundamental tergantung dari pengamatan manusia baik dalam kawasannya maupun dalam peristilahannya.1Secara sederhana dapat dikatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak menggunakan perhitungan, sedangkan penelitian kuantitatif adalah penelitian yang melibatkan diri perhitungan, angka-angka, data statistik dan kuantitas..
Dalam penelitian ini akan berupaya menganalisis pelaksanaan program Tahfiz}
Al-Qur’an dalam memperkuat karakter religius santri pada Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng.
1Jarome Kirk & Marc L. Miller, Realibility and Validity in Qualitative Research, Voll.I (Beverly Hills: Sage Publication, 1986), h. 9.
58
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan pada Madrasah Tsanawiyah (Mts) dan Madrasah Aliyah (MA) pada Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng. Adapun penelitian dilakukan khususnya pada santri dan santriwati yang mengikuti Program Tahfiz} Al-Qur’an dengan semua tingkatan kelas dengan penyebaran yang homogen (tidak ada pengklasifikasian antara peserta didik yang memiliki kecerdasan tinggi dengan peserta didik yang memiliki kecerdasan rendah) berjumlah 32 santri yang berasal dari Tsanawiyah sebanyak 18 santri dan Aliyah 14 santri.
B. Pendekatan Penelitian
Pendekatan merupakan upaya untuk mencapai target yang sudah ditentukan dalam tujuan penelitian. Suharsimi Arikunto menyebutkan bahwa walaupun masalah penelitiannya sama, tetapi kadang-kadang penelitii dapat memilih satu atau dua atau lebih jenis pendekatan yang bisa digunakan dalam memecahkan masalah.2Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan fenomenologis, Fenomenologis merupakan suatu kajian yang dimana mengungkapkan objek secara menyakinkan. Penerapan pendekatan fenomenologis berupaya memahami pemahaman objek terhadap fenomena yang ada atau muncul dalam kesadarannya. Karakteristik fenomena berdiri pada riset-riset dengan metode kualitatif yang mengakui bahwa subjektivitas fenomenolog (peneliti) sangat erat kaitannya dengan penelitian ilmiah.
2Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik Cet. XIV (Jakarta:
Rineka Cipta, 2010), h. 108.
C. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian kualitatif diklasifikasikan dalam dua jenis yakni data primer dan data sekunder.3
1. Data primer (primary data)
Data primer adalah data yang secara langung diperoleh dan dikumpulkan oleh peneliti untuk menjawab berbagai masalah atau tujuan penelitian yang dilakukan melalui metode pengumpulan data berupa wawancara (interview) dari beberapa informan termasuk pimpinan, pengelola, guru Tahfiz} dan santri pada Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng
2. Data sekunder
Sumber data sekunder yakni data yang peneliti melalui telaah mendalam, berbagai literatur atau buku-buku rujukan serta dokumen lain yang relevan dengan objek kajian sebagai tambahan untuk melengkapi data primer tersebut. Data ini berfungsi untuk menghindari data yang tidak valid yang didaapatkan darii hasil penelitian dan menguatkan hasil temuan di lapangan. Data sekunder diperoleh dari berbagai referensi dari literatur baik berupa laporan, artikel, dan buku-buku maupun artikel lain yang memeiliki relevansi dengan subtansi penelitian.
D. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan langkah yang sangat strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dalam penelitian adalah mendapatkan dan mengolah
3Etta Mamang Sungatji dan Sopiah, Metodologi Penelitian: Pendekatan Praktis dalam Penelitian (Yogyakarta: Andi Offset, 2010), h. 170.
60
data. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Observasi
Observasi adalah metode pengumpulan data dengan cara pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif dan rasional mengenai berbagai fenomena, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu.4 Model observasi yang digunakan peneliti adalah observasi partisipasi yang dimaksudkan dilakukan dengan cara ikut mengambil bagian atau melibatkan diri dalam situasi obyek yang diteliti atau dengan kata lain observer tidak mengambil jarak terhadap bidang observasi untuk mengetahui secara langsung pelaksanaan program Tahfiz} yang dilaksanakan pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng serta mengetahui karakter religius santri yang mengikuti program Tahfiz}
tersebut.
2. Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab, baik langsung maupun tidak langsung dengan respon untuk mencapai tujuan tertentu.Dalam praktiknya jenis wawancara yang dipakai adalah wawancara mendalam yang dinamakan wawancara etnografi atau wawancara kualitatif.Wawancara tersebut dilakukan dengan santai, informal, dan masing-masing pihak seakan-akan tidak memiliki beban psikologis.Wawancara mendalam dipilih untuk memperolah kedalaman data dan menyeluruh. Oleh karena itu, peneliti melakukan wawancara untuk memperoleh informasi secara mendalam mengenai program Tahfiz} melalui wawancara kepala Madrasahyaitu bapak Drs Hamsah kepala
4 Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), h. 231.
Madrasah Aliyah dan Ibu St. Mardiana, S.Pd.I kepala Madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng, guru-guru atau tenaga pengajar beserta beberapa santri dan stakeholderlainnya.
3. Dokumentasi
Dokumentasi adalah metode yang dilakukan untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, agenda dan lainnya.5Metode ini digunakan penulis untuk memperkuat data sebelumnya dengan mengumpulkan bukti-bukti tertulis. Dari dokumentasi ini penulis bermaksud memperoleh data tentang profil sekolah, daftar guru, fasilitas sekolah kondisi siswa.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam penelitian sebagai langkah untuk memudahkan pengumpulan data dan hasilnya lebih baik, cermat, lengkap dan sistematis sehingga mudah diolah. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan yaitu peneliti sendiri, pedoman wawancara, pedoman observasi, dan format dokumentasi serta alat perekam suara, kamera dan alat penunjang lainnya.
F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data 1. Teknik Pengolahan Data
Pengelolaan data merupakan suatu usaha untuk mencari dan menyusun data secara sistematis catatan-catatan observasi, wawancara dan dokumentasi untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang fenomena yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan.6Dalam artian lain, data mentah yang telah dikumpulkan menjadi objek
5Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta,2006), h. 231.
6Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996), h. 67.
62
pengelolaan data berupa proses memeriksa, melengkapi, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan atau kekuarangan percatatan melalui proses penelaahan dan penyusunan secara sistematis semua catatan lapangan hasil pengamatan, traskip wawancara, dan bahan-bahan lainnya yang dihimpun untuk memperoleh pengetahuan mengenai data tersebut dan komunikasi terhadap temuan dari sebuah penelitian. Penekanan pendekatan memungkinkan beberapa tahapan pengelolaan yaitu: 1) discovering atau penentusn topik atau masalah; 2) conducting atau mengkaji penelitian-penelitian terdahulu secara komprehensif; 3) constructing yaitu menentukan dan menelaah lokasi penelitian; 4) developing atau proses pengajukan penyataan sebagai metode pengumpulan data; 5) conducting dan recoding yaitu melakukan pendalaman atas data penelitian yang telah didapatkan oleh informan serta 6) organizing dan analyzing yaitu mengorganisasi dan menganalisi data secara utuh dan sistematis, dalam hal ini analisis pengolahan data yang peneliti lakukan adalah dengan menganalisa data hasil observasi, hasil wawancara maupun dokumentasi. Dengan demikian semua data dan informasi disimpulkan kemudian disederhanakan dan diformulasikan menjadi kesimpulan-kesimpulan singkat dan berkaitan dengan penelitian.
2. Teknik Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan dari lapangan diolah dengan teknis analisi deskriptif kualitatif. Proses pengolahannya melalui tiga tahapan, yakni reduksi data, penyajian data dan verifikasi atau penarikan kesimpulan.7 Pengolahan dan analisis data dalam penellitian ini, dijelaskan melalui tahapan berikut: 1) Reduksi data merupakan aktivitas memilih dan memilah data yang dianggap relevan dan penting yang ada
7A. Kadir Ahmad, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Kualitatif (Makassar: Indobs Media Centre, 2003), h. 337.
relevansinya dengan penelitian yang dipeoleh dari lapangan. Seluruh data yang diperoleh dari lapangan, baik dari catatan-catatan pribadi penulis maupun rekaman yang diputar kembali, dipilih sesuai dengan kebutuhan data yang ada kaitannya dengan penelitian.Bagian-bagian yang dianggap pokok dan penting dari wawancara yang direkam, dipilih untuk dijadikan penunjang dalam penulisan; 2) Penyajian data (display data), Agar data yang telah direduksi mudaah dipahami baik oleh peneliti maupun orang lain, maka data tersebut perlu disajikan.Adapun bentuk penyajiannya adalah naratif deskriptif (pengungkapan secara tertulis).8 Penyajian data dalam penelitian ini dilakukan dengan menyajikan hasil penelitian yang inti dan pokok yang telah dipilih sebelumnya dalam bentuk narasi dn dielaborasi dengan hasil-hasil penelitian terdahulu ataupun dari literatur yang relevan dengan data yang disajikan memberikan informasi yang akurat dan memudahkan dalam menariik kesimpulan; 3) Penarikan kesimpulan, yakni merumuskan kesimpulan dari data-data yang sudah direduksi dan disajikan dalam bentuk naratif deskriptif. Penarikan kesimpulan tersebut dilakukan dengan pola induktif, yakni kesimpulan umum yang ditarik dari pernyataan yang bersifat khusus.9 G. Pengujian Keabsahan Data
Uji keabsahan data dalam penelitian, sering hanya ditekankan pada uji validitas dan reliabilitas. Dalam penelitian kualitatif, kriteria utama terhadap data hasil penelitian adalah, valid, reliable dan obyektif. Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada obyek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan oleh
8Sogiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, h. 249.
9Muhammad Arif Tiro, Masalah dan Hipotesis Penelitian Sosial-Keagamaan (Cet. I;
Makassar: Andira Publiser, 2005), h. 95.
64
peneliti. Dengan demikian data yang valid adalah Data yang tidak berbeda. Maka dari itu kriteria pengujian keabsahan data meliputi:
1. Perpanjangan pengamatan
Perpanjangan pengamatan akan dapat meningkatkan kepercayaan atau kredibilitas data. Dengan perpanjangan pengamatan berarti peneliti kembali kelapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru. Dengan perpanjangan ini berarti hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin terbentuk rapport, semakin akrab (tidak ada jarak lagi), semakin terbuka, saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi.10 hal yang peneliti lakukan terkait perpanjangan pengamatan yaitu mengumpulkan data tambahan terkait hal yang di teliti oleh naasumber masing-masing untuk penguatan data awal yang sudah di dapatkan
2. Menggunakan bahan referensi
Referensi yang dimaksud disini adalah pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti. Sebagai contoh, Data hasil wawancara perlu didukung dengan adanya rekaman wawancara. Data tentang interaksi manusia atau gambaran suatu keadaan perlu didukung oleh foto-foto, alat bantu perekam data dalam penelitian kualitatif, seperti kamera, alat rekam suara yang sangat diperlukan untuk mendukung kredibilitas data yang telah ditemukan oleh peneliti.11
10Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif, dan R&D ,(Bandung: Alfabeta, 2018), h.271.
11Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitaif, Kualitatif, dan R&D, h.275.
Selain itu, proses pengujian keabsahan berfokus data keakuratan, keabsahan, dan kebenaran data yang dikumpulkan dan dianalisis sejak pertama penelitian akanmenentukan kebenaran dan ketetapan hasil penelitian sesuai dengan masalah dan fokus penelitian.12 Agar penelitian yang dilakukan mempunyai hasil yang tepat dan benar sesuai konteksnya dan latar budaya yang sesungguhnya, maka peneliti dalam penelitian kualitatif dapat mempergunakan cara lainnya, seperti meningkatkan ketentuan pengamatan dan melakukan triangulasi sesuai aturan.
12A.Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan, (Jakarta:
Kencana, 2014) h.394.
66 BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Sejarah Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng
DDI Mattoanging merupakan salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Ponpes DDI berdiri secara formal sejak tahun 1994 di Kampung Mattoanging, Kelurahan Lamalaka, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng. Pada awal berdirinya, diinisiasi oleh empat ulama besar di Bantaeng pada tahun 1947 yang mengajar kajian tentang ilmu dalam Islam di kolong rumah dan masjid. empat ulama itu yakni, Abdurrahim (Ambo Tekkeng Guru Baco'), KH Minhaj Benuaj, Abu Daud, dan Ustazah Maryam.
Adapun historitas Kelembagaan/Organisasi Pondok Pesantren Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng yaitu:
a. Tahun Pelajaran 1994 sebagai Tahap Awal
Awal berdirinya pada Tahun Pelajaran 1994/1995, Pondok Pesantren DDI(Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng telah membuka jenjang Pendidikan Formal diantaranya Taman Kanak-Kanak Al-Qur’an (TKA), Madrasah Diniyah (MADIN) sekarang MDT dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), sedangkan Pendidikan Non Formal yakni Pengajian Kitab Kuning dan Majelis Ta’lim.
b. Tahun 1996 sebagai Proses Pengembangan Tahap ke-II
Pada tahun pelajaran 1996/1997, para Pengurus Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng bersama Pihak Yayasan berinisiatif membuka jenjang pendidikan baru yakni Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Aliyah (MA)
c. Tahun 2009 sebagai Proses Pengembangan Tahap ke-III
Pada tahun pelajaran 2009/2010, para pengurus Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng kembali melakukan terobosan dengan membuka jurusan baru lagi yaitu Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS).
2. Visi, Misi dan Tujuan a. Visi
Visi Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng adalah: “Maju Dalam Kebersamaan, Unggul Dalam Prestasi, Bermoral Dalam Aktifitas”
b. Misi
1) Mencetak kader muballigh/muballighah handal
2) Melahirkan santri/santriwati terampil berbahasa Arab dan Inggeris, fashih dalam membaca, menghafal dan menerjemahkan Al-Qur’an
3) Membentuk Insan yang berkepribadian pancasila, berakhlaqul karimah serta bertanggungjawab terhadap bangsa, negara dan agama.
c. Tujuan
Tujuan Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng adalah:
68
1) Menjadikan Bantaeng sebagai Kota Santri dan lumbung Mubhalligh/Muballighah;
2) Melahirkan santri/santriwati terampil berbahasa Arab dan Inggris;
3) Menciptakan santri/santriwati fashih dalam membaca, menghafal dan mampu menerjemahkan Al-Qur’an;
4) Membentuk karakter insan yang berkepribadian pancasila, berakhlaqul karimah serta bertanggungjawab terhadap bangsa, negara dan agama
3. Kualifikasi Pendidikan dan Ciri Khas Kepesantrenan a. Pendidikan Formal dan Non Formal
1) Pendidikan Formal
Kegiatan pendidikan formal (Pagi-Siang) yang di laksanakan oleh Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng adalah:
a) Taman Kanak-kanak Al-Qur’an b) Madrasah Ibtida’iyah Swasta (MIS) c) Madrasah Tsanawiyah (MTs)
d) Sekolah Menengah Pertama Swasta (SMPs) e) Madrasah Aliyah (MA)
2) Pendidikan Non Formal
Kegiatan pendidikan non formal (Sore – Malam) yang di laksanakan oleh Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng adalah Pengajian Kitab Kuning dan Halaqah
b. Ciri Khas Pondok Pesantren
Ciri khas Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Bantaeng adalah Pengajian Kitab Kuning (Halaqah) atau Pondokan yang dilaksanakan setiap malam antara Magrib dan Isya serta setelah sholat subuh, Pembinaan Ilmu Da’wah, Penggunaan Bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa sehari-hari.
4. Pengembangan Kompetensi Akademik, Keagamaan dan Keterampilan Santri
a. Pengembangan Kompetensi Akademik
1) Tahun pelajaran 1996/1997 pada tingkat Mad. Aliyah dibuka Porgram Study Bahasa;
2) Tahun pelajaran 1998/1999 pada tingkat Mad. Aliyah dibuka Porgram Study IPS;
3) Tahun pelajaran 2002/2003 pada tingkat Mad. Aliyah dibuka lagi Porgram Study baru yakni IPA;
4) Program Kampus Bahasa Arab dan Inggris dilaksanakan sekali dalam 1 tahun pelajaran;
5) Program pelatihan peserta Olimpiade MIPA dilaksanakan sekali dalam 1 tahun pelajaran
b. Pengembangan Kompetensi Keagamaan
1) Program Pelayanan Pengabdian pada Masyarakat diantaranya: dilaksanakan Tilawatil Qur’an, Tilawah Barazanji, Khotbah Jum’at dan Ceramah serta Penasihatan Perkawinan
2) Pengembangan Takhassus Bidang Qira’atul Kutub
70
3) Pengembangan Tajwid, Tilawah dan Tahfiz} Al-Qur’an c. Pengembangan Keterampilan Santri
1) Program Bina Bakat Bidang Bahasa Arab dan Inggris 2) Program Bina Bakat Bidang Kaligrafi
3) Program Bina Bakat Bidang Olahraga dan Seni 5. Dena dan Struktur Organisasi
a) Dena Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng
Gambar 4.1 Dena Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng
b) Struktur Organisasi Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng
Gambar 4.2 Struktur Organisasi Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng
B. Program Tahfiz} AQur’an pada Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng
Program Tahfiz} Al-Qur’an di Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng merupakan program pendampingan dan pembinaaan Tahfiz} Al-Qur’an yang senantiasa dilakukan sebagai wadah dalam: 1) Mewujudkan generasi pengamal Al-Qur’an di tengah masyarakat melalui proses kecintaan dan menghafal Al-Qur’an ; 2) Memberikan pelatihan dan pendidikan bagi
72
santri maupun satriwati berupa ilmu khitabah, kepemimpinan dan kepribadian yang religius serta didukung dengan wawasan keilmuan, motivasi pengembangan diri dan keterampilab; 3) Mempersiapkan maupun mencetak tenaga ahli dalam penghafalan Al-Qur’an yang profesional, handal, berahlak dan memiliki daya saing; 4) Berupaya membimbing santri dan satriwati hingga dapat melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi; 5) Menghasilkan para kader imam, khatib dan dai-dai yang senantiasa peduli dengan persoalan kemasyarakatan serta memberi solusi bijak, adil dan cerdas.
Di Pondok Pesantren terdapat tiga macam golongan santri, yaitu: santri yang hanya menghafal Al-Qur’an saja, santri yang hanya sekolah saja, serta santri yang menghafal Al-Qur’an dan sambil sekolah. Mayoritas yang menghafal Al-Qur’an tidak sedang dalam keadaan sambil sekolah, tetapi mereka hanya menghafal Al-Qur’an saja dan ada banyak juga anak mondok yang hanya sekolah saja tanpa menghafal Al- Qur’an. Hal ini dikarenakan dapat mengurangi kuantitas dan kualitas hafalan mereka serta dapat mempengaruhi belajar mereka. Ketiga macam golongan satri tersebut, tentu memiliki perbedaan yang mencolok salah satunya adalah perbedaan kefasihan Al- Qur’an. Perbedaan santri yang masuk program Tahfiz} dengan santri yang tidak masuk program tersebut maupun pendidikan biasanya, sesuai yang diamatinya bahwa santri yang masuk program Tahfiz} Al-Qur’an lebih fasih caranya membaca Al-Qur’an dan bisa mengaji dimana saja walaupun tidak melihat mushab Al-Qur’an .1
1Arifin, Pembina atau Guru Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021.
Sejalan dengan itu, Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng sebagai wadah yang menyediakan program Tahfiz} memiliki beberapa prasyarat dan metode yang digunakan dalam menciptakan hafidz-hafizah yang berkompeten. Namun demikian, pelaksanaan program Tahfiz} pada Pondok Pesantren DDI Mattoanging Kabupaten Bantaeng dilakukan dalam dua kelompok yaitu kelompok takhssus dan kelompok non takhanassus. Pelaksanaan Tahfiz} di ponpes dibagi kedalam 2 kriteria yaitu kreteria takhassus dan non takhassus.Santri yang masuk Kreteria takhassus merupakan wajib hukumnya menghafal satu halaman dalam satu hari atau satu bulan satu juz sedangkan santri yang non takhassus hanya semampunya saja karena mereka pengikuti proses pembelajaran di kelas2
Santri yang masuk dalam kelompok takhassus ini wajib hukumnya menghafal Al-Qur’an dan mendapat izin untuk tidak mengikuti pembelajaran di kelas. Sedangkan santri non takhassus tidah diwajibkan menghafal Al-Qur’an karena mereka wajib mengikuti proses pembelajaran dikelas.3 Konsekuensi logis dari program Tahfiz} Al-Qur’an takhassus manakala target tidak tercapai, yaitu sikap pimpinan dan guru Tahfiz}
akan mengeluarkan santri dari program Tahfiz} tersebut dan mencabut surat izin untuk tidak ikut belajar dikelas. Artinya santri yang yang dikeluarkan dari program Tahfiz}}
tersebut wajib kembali mengikuti proses Pembelajaran dikelas dan tidak wajib lagi untuk menghafal Al-Qur’an. Sejalan dengan itu, target hafalan bagi santri yang masuk
2ril Parela, Pembina atau Guru Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021.
3KH. Abd Aris, Lc,Pimpinan Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal-Irsyad) Mattoanging Kabupaten Bantaeng, Wawawancara, Bantaeng, 5 Juli 2021.
74
program Tahfiz} Al-Qur’an yaitu satu halaman setiap hari atau satu juz dalam satu bulan kecuali pada hari libur dan ketika mengikuti kegiatan lain yang berkaitan dengan kegiatan sekolah seperti mengikuti kegiatan semester dan kegiatan lomba.
Adapun persentasi atau jumlah halafan santri baik kelompok takhassus dan non
Adapun persentasi atau jumlah halafan santri baik kelompok takhassus dan non