• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang Masalah

Dalam dokumen TESIS S431308023 Adi Juniarso (Halaman 19-35)

BAB 1 PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Government Auditing Standards edisi revisi tahun 2011 yang disusun oleh US Govarnment Accountability Office menjelaskan konsep akuntabilitas atas penggunaan sumber daya publik dan otoritas pemerintah merupakan kunci untuk proses pengelolaan suatu bangsa. Manajemen dan pejabat yang memiliki otoritas terhadap sumber daya publik bertanggung jawab untuk melaksanakan fungsi pelayanan publik dan memberikan layanan kepada masyarakat secara efektif, efisien, ekonomis, beretika, dan adil. Kebutuhan akuntabilitas telah menyebabkan permintaan untuk informasi lebih lanjut tentang program-program pemerintah dan jasa. Pejabat publik, legislator, dan warga ingin dan perlu mengetahui apakah dana pemerintah ditangani dengan benar dan sesuai dengan hukum dan peraturan. Mereka juga ingin dan perlu mengetahui apakah organisasi pemerintah, program, dan jasa mencapai tujuan mereka dan apakah organisasi, program, dan layanan beroperasi secara ekonomis dan efisien.

Menurut Mardiasmo (2003) agar tidak terjadi penyimpangan dan penyelewengan, pemberian wewenang dan keleluasaan harus diikuti dengan pengawasan dan pengendalian yang kuat, serta pemeriksaan yang efektif. Pengawasan dilakukan oleh pihak luar eksekutif (dalam hal ini DPRD dan masyarakat); pengendalian, yang berupa pengendalian internal dan pengendalian

1 commit to user

manajemen, berada di bawah kendali eksekutif (pemerintah daerah) dan dilakukan untuk memastikan strategi dijalankan dengan baik sehingga tujuan tercapai; sedangkan pemeriksaan (audit) dilakukan oleh badan yang memiliki kompetensi dan independensi untuk mengukur apakah kinerja eksekutif sudah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Sebuah tugas telah dianggap kompeten ketika telah dilakukan di tingkat kompetensi tertentu sesuai dengan syarat-syarat yang mengikutinya. Menurut Institute of Chartered Accountants in Australia dalam Auditing Competency Standard for Registered Company Auditors (2004), standar kompetensi menunjukkan tugas-tugas khusus yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan tertentu secara kompeten dengan mempertimbangkan kinerja, faktor lingkungan dan keahlian individu yang ditunjukkan dengan performa tugas.

Hal ini juga diamanatkan dengan adanya Peraturan Kepala Badan Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan Nomor : PER-211/K/JF/2010 Tentang Standar Kompetensi Auditor. Audit internal membantu suatu organisasi dalam mencapai tujuannya melalui pendekatan sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan memperbaiki efektivitas proses tata kelola organisasi, pengendalian, dan manajemen risiko (the effectiveness of risk management, control, and governance processes). Auditor selain bertanggung jawab kepada pimpinan instansi pengawasan yang bersangkutan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, juga memiliki tanggung jawab profesi dan kewajiban moral kepada masyarakat pemakai jasa sesuai standar yang berlaku umum.

Di Pemerintah Kabupaten Boyolali, auditor internal telah diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Boyolali No 16 Tahun 2011 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Boyolali. Sebagai auditor internal, inspektorat mempunyai tugas pokok melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan daerah, pelaksanaan pembinaan atas penyelenggaraan pemerintahan desa dan pelaksanaan urusan pemerintahan desa. Pengawasan yang dilakukan oleh Inspektorat adalah pengawasan intern sebagai audit internal untuk memastikan tercapainya tujuan organisasi dari Pemerintah Kabupaten Boyolali secara keseluruhan.

Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang diterbitkan IAPI (2008), menuliskan bahwa setiap praktisi wajib menjaga kerahasiaan informasi yang diperoleh sebagai hasil dari hubungan profesional dan hubungan bisnisnya, serta tidak boleh mengungkapkan informasi tersebut kepada pihak ketiga tanpa persetujuan dari klien atau pemberi kerja, kecuali jika terdapat kewajiban untuk mengungkapkan sesuai dengan ketentuan hukum atau peraturan lainnya yang berlaku. Informasi rahasia yang diperoleh dari hubungan profesional dan hubungan bisnis tidak boleh digunakan oleh Praktisi untuk keuntungan pribadinya atau pihak ketiga. Adapun contoh hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan sejauh mana informasi rahasia dapat diungkapkan yaitu apabila pengungkapan dijinkan dengan persetujuan penerima jasa, pengungkapan diharuskan oleh hukum, dan ketika ada kewajiban atau hak profesional untuk mengungkapkannya.

Institute of Internal Auditor (1999) yang dikutip oleh Goodwin dan Yeo (2001) menyatakan bahwa audit internal merupakan jasa assurance dan konsultasi yang

obyektif dan independen, yang dirancang untuk memberi nilai tambah dan meningkatkan operasi organisasi untuk membantu pencapaian tujuan organisasi dengan mengevaluasi efektivitas manajemen risiko, pengendalian serta proses tata kelola. Hal tersebut juga ditegaskan didalam Lampiran Permenpan No:PER/05/M.PAN/03/2008 tentang Standar Audit Aparat Pengawas Intern Pemerintah menyatakan bahwa Pengawasan intern pemerintah merupakan fungsi manajemen yang penting dalam penyelenggaraan pemerintahan. Melalui pengawasan intern dapat diketahui apakah suatu instansi pemerintah telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien, serta sesuai dengan rencana, kebijakan yang telah ditetapkan, dan ketentuan. Pengawasan intern atas penyelenggaraan pemerintahan diperlukan untuk mendorong terwujudnya good governance dan clean government dan mendukung penyelenggaraan pemerintahan yang efektif, efisien, transparan, akuntabel serta bersih dan bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Menurut Mardiasmo1, aparat pengawas internal pemerintah merupakan garda depan bagi pencegahan dan pemberantasan korupsi. Hal tersebut dimungkinkan dapat dicapai dengan adanya kualitas hasil audit dalam pelaksanaan audit pengawasan keuangan daerah, sehingga APIP dapat lebih berperan dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi dan menciptakan good governance. Dengan adanya audit yang berkualitas yang dilakukan oleh APIP, diharapkan semakin baiknya pencegahan korupsi keuangan daerah.

Beberapa kasus yang berkaitan dengan praktik korupsi keuangan daerah terjadi di beberapa pemerintah daerah. Namun yang menjadi perhatian penulis adalah kasus korupsi yang terjadi di Boyolali, yaitu antara lain pemanfaatan dana bantuan sosial yang melibatkan ratusan sekolah dan LSM tahun 2010 dan 20112, Bendung Penggung Kecamatan Wonosegoro3, kasus korupsi pengadaan bibit lele4. Perkembangan yang terbaru di Boyolali berkaitan dengan Bendung Penggung Kecamatan Wonosegoro adalah seorang kepala dinas aktif dan 3 orang PNS yang dinyatakan sebagai terdakwa oleh Kejaksaan Negeri Boyolali5. Bahkan Asosiasi Auditor Internal Pemerintah Indonesia (AAIPI) menyatakan bahwa sebanyak 94 persen Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) di pusat dan daerah tak bisa mendeteksi terjadinya korupsi6.

Permenpan No:PER/04/M.PAN/03/2008 merupakan sebuah peraturan yang mengatur adanya kode etik bagi Aparat Pengawasan Internal Pemerintah, dengan maksud menciptakan adanya pengawasan oleh APIP yang berkualitas dan auditor yang profesional dengan budaya etis dalam profesi APIP. Untuk itu disyaratkan diberlakukan dan dipatuhinya aturan perilaku yang menuntut disiplin dari auditor APIP yang melebihi tuntutan peraturan perundang-undangan berupa Kode Etik yang mengatur nilai-nilai dasar dan pedoman perilaku, yang dalam pelaksanaannya memerlukan pertimbangan yang seksama dari masing-masing auditor, sehingga diharapkan supaya hasil audit dari APIP dapat bermanfaat bagi pimpinan dan unit

2 Lihat http://m.suaramerdeka.com

3 Lihat http://jateng.tribunnews.com

4 Lihat http://www.timlo.net; http://www.suaramerdeka.com

5 Lihat (http://www.solopos.com, http://www.timlo.net, http://www.suaramerdeka.com, http://jateng.tribunnews.com, https://id.berita.yahoo.com,

6 Lihat http://www.suarapembaruan.com

kerja serta pengguna lainnya untuk dapat meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan.

Permenpan tersebut menyebutkan adanya 4 prinsip-prinsip perilaku bagi auditor/APIP yaitu Integritas, Obyektifitas, Kerahasiaan dan Kompetensi. Tujuan dari kode etik tersebut adalah mendorong sebuah budaya etis dalam profesi APIP, memastikan bahwa seorang profesional akan bertingkah laku pada tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan PNS lainnya serta mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak etis, agar terpenuhi prinsip-prinsip kerja yang akuntabel dan terlaksananya pengendalian audit sehingga dapat terwujud auditor yang kredibel dengan kinerja yang optimal dalam pelaksanaan audit sehingga hasil audit APIP yang diperoleh juga dapat maksimal. Maka APIP harus dapat memahami dan menjadikannya sebagai pedoman prinsip-prinsip perilaku auditor dalam pelaksanaan audit yang dilakukan sehingga diharapkan kasus-kasus yang dimuat dalam surat kabar seharusnya tidak perlu terjadi.

Pada sektor publik, sesuai dengan amanat Permenpan No:PER/05/M.PAN/03/2008, proses audit yang dilakukan oleh Aparat Pengawas Internal Pemerintah harus berpedoman pada standar audit dalam Permenpan tersebut. Standar tersebut merupakan sebuah pedoman minimal yang wajib menjadi pedoman bagi APIP dalam melaksanakan audit, yang mampu menjamin terlaksananya pengawasan internal yang efektif, efisien dan tentunya berkualitas.

Kualitas audit menurut Francis (2011) digambarkan dengan 6 buah level unit analisis yang ada dalam penelitian-penelitian dalam bidang Audit, yaitu audit input (input level), audit process (next level), accounting firms, audit industry dan audit

market, institution, serta economic consequences of audit outcomes. Beliau mengatakan bahwa kualitas audit dipengaruhi oleh masing-masing level tersebut. Audit memiliki kualitas pada input level apabila auditor yang menerapkannya kompeten dan independen, serta pengujian prosedur yang dilakukan dapat menghasilkan bukti yang relevan dan andal. Kualitas dari audit input mengalir menuju proses audit, dimana audit memiliki kualitas apabila personil audit yang terlibat dalam audit dapat mengambil keputusan mengenai pengujian tertentu yang akan dipergunakan dan secara tepat mengevaluasi bukti yang didapatkan dari tahap sebelumnya untuk selanjutnya dihasilkan laporan hasil audit. Kualitas audit dipengaruhi oleh institusi/KAP dimana auditor bekerja. Hal tersebut dapat nampak apabila pada institusi tersebut mengembangkan prosedur pengujian yang akan dipergunakan dalam pelaksanaan audit serta dapat memotivasi auditor. Kemudian, dorongan dari KAP dan auditornya untuk dapat menghasilkan audit yang berkualitas dipengaruhi oleh institusi yang mengatur audit dan memberikan hukuman bagi auditor dan KAP apabila menghasilkan audit yang tidak berkualitas dan disalahgunakan. Disimpulkan oleh beliau bahwa untuk mencapai kualitas audit dapat dilakukan dengan keterbukaan dari praktisi dan pembuat regulasi, serta bekerja sama dengan akademisi untuk mencapai apa yang disebut dengan tujuan bersama, yaitu pemahaman yang lebih baik dari beragamnya pemicu kualitas audit yang mampu membuat audit menjadi lebih baik, serta membantu perumusan aturan oleh regulator yang mengatur bidang auditing untuk menyusun kebijakan yang

cost-effective untuk meningkatkan kualitas hasil audit. commit to user

Ada 2 hal yang memotivasi auditor untuk menghasilkan audit yang berkualitas menurut Skinner dan Srinivasan (2012), yaitu (1) dorongan litigation/insurance; dan (2) dorongan insentif. Dalam kondisi (1), apabila auditor secara hukum bertanggung jawab terhadap kegagalan dari audit yang dilaksanakan, maka auditor akan termotivasi untuk menghasilkan audit yang berkualitas, demi menghindari biaya yang timbul atas permasalahan hukum. Peran sebagi insurance muncul karena investor lebih menyukai KAP yang besar, karena KAP tersebut lebih dapat memenuhi kepentingan hukum dari investor, serta menyediakan jaminan keuangan terhadap adanya audit yang tidak berkualitas. Dalam kondisi (2), auditor memiliki insentif untuk mendapatkan nama baik untuk menghindari kegagalan audit, karena kualitas audit merupakan hal yang sangat penting bagi klien dan pasar sangat menghargai jasa audit. Ketika reputasi KAP menurun karena tidak mampu menghasilkan audit yang berkualitas, maka klien akan cenderung menggantinya dengan auditor/KAP lain.

Knechel, Krishnan, Pevzner, Shefchik dan Velury (2012) mengatakan bahwa kualitas audit sering diperdebatkan namun sedikit dipahami. Sudah lebih dari 20 tahun sejak dilakukannya penelitian tentang kualitas audit namun tidak banyak kesepakatan yang dicapai tentang bagaimana mendefinisikan kualitas, namun memberikan masing-masing pihak pemahaman tentang kualitas audit. Disimpulkan bahwa audit yang “baik” adalah audit yang dilaksanakan berdasarkan perencanaan proses audit yang baik oleh auditor yang termotivasi dan terlatih, yang memahami ketidakpastian pada proses audit dan dapat memahami kondisi unik yang ada pada

auditee.

Deis dan Giroux (1992) mengungkapkan pendapatnya mengenai kualitas audit. Menurut mereka, kualitas audit masih menjadi permasalahan dalam profesi akuntan. Sebuah celah kredibilitas dalam laporan keuangan pemerintah muncul ketika ditemukan bahwa praktek akuntansi yang buruk menimbulkan krisis keuangan di New York dan kota-kota lain pada tahun 1970. Sebagai tanggapan, pemerintah mengeluarkan peraturan baru yang bertujuan meningkatkan perbaikan terhadap praktik pelaporan keuangan, meningkatkan pertanggungjawaban pelaporan auditor serta mengadakan program untuk memonitor kualitas audit. Sama halnya dengan kegagalan audit pada sektor bisnis, kurangya kualitas audit pada sektor publik mengakibatkan ketidak percayaan masyarakat terhadap profesi akuntan. Penelitian Rubin (1988) yang disajikan oleh Deis dan Giroux (1992) menyatakan bahwa kualitas audit sektor bisnis dapat digeneralisasikan kepada sektor publik.

Hasil penelitian Deis dan Giroux (1992) yaitu semakin panjang tenure maka kualitas audit akan semakin menurun (Carey dan Simnet 2006; Chen, Elder dan Liu, 2005) dan semakin banyak jumlah klien maka kualitas audit semakin baik (Giroux & Jones, 2011). Carey dan Simnet (2006); Chen, et al, 2005 beranggapan bahwa semakin lama tenure dari partner audit, maka relasi yang terjalin akan berdampak pada independensi, serta mampu mengurangi kemampuan partner audit untuk melakukan critical appraisal. Penelitian Carey dan Simnet (2006) juga mengungkapkan didalam Code of Ethic yang dikeluarkan IFAC tahun 2001 telah diatur bahwa perpanjangan tenure partner dalam sebuah audit mampu

menimbulkan “familiarity threat” (Firth, Rui dan Wu, 2012). Normalnya, partner

audit dirotasi setelah beberapa periode yang ditentukan sebelumnya, paling lama 7 tahun. Dengan kewajiban adanya rotasi partner audit tersebut diharapkan kualitas audit akan dapat dipertahankan pada level yang sama. Namun penelitian Ghosh dan Moon (2005) tentang Audit Tenure and Perceptions of Audit Quality memberikan hasil yang berbeda. Dengan menggunakan investor, independence rating agencies

dan financial analysts sebagai subyek penelitian, hasil penelitiannya adalah tenure

yang semakin lama akan meningkatkan kualitas audit.

Komite audit yang efektif juga dapat menentukan kualitas audit (Abbot, Parker, Peters dan Gary, 2007; Al-Ajmi, 2009), yaitu komite audit yang independen, melakukan pertemuan secara rutin serta memiliki keanggotan seorang ahli keuangan, dimana komite audit merupakan key stakeholder dalam pengauditan. Komite audit tersebut tidak akan memberikan tugas-tugas audit yang dilakukan oleh auditor internal untuk dilakukan outsourcing kepada auditor eksternal. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga independensi auditor, karena tugas-tugas yang rutin tersebut memiliki karakteristik yang berulang, dan dapat mengakibatkan ketergantungan ekonomi. Abbot, et al. (2007) juga berpendapat bahwa aktivitas audit internal yang berhubungan dengan kerahasiaan klien sebaiknya tidak dilakukan outsoucing kepada pihak eksternal. Al-Ajmi (2009) juga menyatakan bahwa kualitas audit adalah sebuah hasil dari berfungsinya sebuah tim audit, dan mungkin dapat memberikan hasil yang terbaik berdasarkan ketersediaan dari sumber daya yang cukup (DeAngelo,1981b; Frantz, 1999 yang diacu oleh Al-Ajmi (2009), serta adanya sistem pengendalian yang berkualitas.

Terkait dalam hal rotasi partner audit, dalam penelitian eksperimental dengan subyek loan officer pada bank di Amerika oleh Daniels dan Booker (2011) memberikan hasil bahwa kebijakan rotasi dari firma audit akan meningkatkan persepsi para loan officers terhadap independensi auditor, namun tidak meningkatkan persepsi terhadap kualitas audit. Hasil penelitian yang sama juga diberikan oleh Firth, et al (2012). Mengambil lokasi penelitian di Tiongkok, dengan menggunakan kecenderungan auditor untuk mengeluarkan opini audit termodifikasi (MAO) sebagai proksi untuk kualitas audit, ditemukan bahwa KAP yang mewajibkan rotasi parter audit, lebih banyak berhubungan dengan adanya MAO, dibanding KAP yang tidak menggunakan rotasi partner audit pada daerah yang kurang berkembang. Artinya adalah pada KAP yang menerapkan kebijakan rotasi partner audit akan lebih sering mengeluarkan perubahan atas opini audit dimana hal tersebut ditunjukkan oleh Modified Audit Opinion yang diberikan kepada klien.

Dalam menentukan kualitas audit, Chen, Elder dan Liu (2005) berpendapat bahwa penolakan terhadap tekanan dari pihak manajemen klien ketika pihak manajemen menginginkan adanya negosiasi terhadap permasalahan-permasalah dalam pelaporan keuangan dapat menggambarkan kualitas audit. Mereka menggunakan dua proksi untuk menguji hal tersebut, yaitu keahlian auditor dan besarnya KAP. Semakin auditor memiliki keahlian tertentu dan semakin besar firma audit, maka negosiasi yang dikehendaki manajemen klien tersebut akan mendapatkan penolakan dari auditor, sehingga kualitas audit akan meningkat. Ketika pihak auditor dan klien melakukan negosiasi terhadap

permasalahan yang ditemukan terkait dengan pelaporan keuangan klien, menjaga integritas dari audit merupakan kewajiban bagi auditor dan hal itu dipersyaratkan dalam standar profesi akuntansi. Hasil penelitian hanya mendukung keahlian tertentu dari auditor yang memiliki hubungan dengan kualitas audit, sedangkan ukuran KAP tidak berhubungan dengan kualitas audit. Hal ini sesuai dengan penelitian Lowensohn, Johnson, Elder dan Davies (2007) yang mengambil lokasi penelitian pada Pemerintah Daerah di Florida.

Integritas, oleh Netherland Court of Audit (NCA) dalam The Concept of Integrity, digambarkan sebagai suatu keadaan yang utama (virtue), tidak merusak (incorruptibility), serta tidak adanya pelemahan (being unimpaired). Integritas juga lebih dari sekedar hanya mematuhi hukum dan peraturan. Integritas menurut The Auditing Practices Board (APB) Ethical Standard (2011) merupakan sebuah prasyarat bagi semua bidang pekerjaan yang menyangkut kepentingan masyarakat banyak. Dalam profesi audit, integritas mewajibkan bagi auditor untuk tidak terpengaruhi oleh konflik kepentingan. BPKP (2008) juga menyebutkan bahwa sikap jujur, berani, bijaksana dan bertanggungjawab diperlukan dalam meningkatkan integritas.

Kompetensi adalah kemampuan, kecakapan yang dimiliki oleh seseorang dalam menjalankan suatu pekerjaan/tugas tertentu. Mengacu kepada Institute of Chartered Accountants in Australia dengan standarnya yaitu Auditing Competency Standard for Registered Company Auditors (2004), kompetensi berhubungan dengan pengetahuan dan keahlian dalam melakukan berbagai tugas dalam konteks pekerjaan tertentu. Untuk mengevaluasi kompetensi dapat dilakukan dengan

penilaian terhadap input (memiliki pengetahuan dan keahlian untuk melaksanakan suatu tugas) serta penilaian terhadap output (secara kompeten mampu menyelesaikan suatu tugas tertentu). Dengan adanya kompetensi terhadap suatu bidang/keahlian, maka didalam menjalankan suatu pekerjaan/tugas tertentu, diharapkan penyelesaian tugas tersebut dapat lebih efektif dan efisien.

Prinsip kerahasiaan menurut IFAC (2006) Seksi 140 menimbulkan kewajiban untuk tidak mengungkapkan informasi yang didapatkan dari sebuah aktivitas/tugas tertentu, atau relasi dengan klien, tanpa adanya otorisasi yang khusus, ataupun ada sebuah kewajiban hukum untuk mengungkapkannya; serta memanfaatkan informasi penting dan rahasia, yang dihasilkan dari sebuah aktivitas, tugas atau relasi dengan klien, untuk kepentingan pribadi ataupun kepentingan pihak lain. Sebuah profesi juga wajib menjaga kerahasiaan sebuah informasi perusahaan ataupun organisasi, kecuali adanya kewajiban hukum untuk mengungkapkan informasi tersebut. Dengan prinsip kerahasiaan, maka profesi tidak memberikan informasi yang sifatnya rahasia, yang didapatkan dari pelaksanaan tugasnya dan berhubungan dengan klien

Obyektifitas dalam APB (2011) dinyatakan sebagai suatu keadaan pikiran yang tidak memiliki bias, prasangka, dan kompromi, sehingga keadaan tersebut mampu memberikan pertimbangan yang wajar dan tidak berat sebelah, terhadap semua permasalahan yang timbul dari tugas-tugas yang dijalankan. Sama halnya dengan integritas, obyektivitas merupakan prinsip etika yang fundamental, dan mewajibkan auditor dalam memberikan pertimbangan terkait dengan permasalahan yang timbul tersebut tidak terpengaruh dengan konflik kepentingan yang dialami.

Beberapa peneliti telah menguji pengaruh prinsip-prinsip perilaku kompetensi, obyektifitas, integritas, kerahasiaan, seperti yang diamanatkan dalam Permenpan No:PER/04/M.PAN/03/2008, terhadap kualitas audit. Namun tidak semua dari prinsip-prinsip perilaku tersebut telah diteliti oleh peneliti sebelumnya. Tjun Tjun, Marpaung dan Setiawan (2012); Effendy (2010); Sukriah, Akram dan Inapty (2009); Badjuri (2012), dan semuanya mendapatkan kesimpulan yang sama bahwa kompetensi berpengaruh terhadap hasil audit, sementara penelitian Sujana (2013) serta Kisnawati (2012) ternyata menghasilkan kesimpulan yang berbeda yaitu bahwa kompetensi tidak berpengaruh terhadap hasil audit. Hal tersebut masih menimbulkan pertanyaan apakah benar kompetensi tidak berpengaruh terhadap hasil audit. Untuk prinsip perilaku Obyektivitas dan Integritas telah diteliti oleh Sukriah, et al. (2009), Mabruri dan Winarna (2010), serta Badjuri (2012). Kesimpulan terkait dengan obyektivitas masih terdapat perbedaan, yaitu Sukriah,

et al. (2009), serta Mabruri dan Winarna (2010) menyatakan bahwa obyektivitas berpengaruh terhadap hasil audit, sedangkan Badjuri (2012) menyatakan sebaliknya. Untuk kesimpulan terkait dengan Integritas masih terdapat perbedaan hasil, yaitu Sukriah, et al. (2009) menyatakan integritas tidak berpengaruh terhadap hasil audit, sedangkan Mabruri dan Winarna (2010) serta Badjuri (2012) menyatakan sebaliknya.

Berdasarkan hasil-hasil penelitian yang masih inkonsisten, menurut penulis seharusnya sesuai dengan konsideran Permenpan No:PER/04/M.PAN/03/2008 bahwa dalam rangka mewujudkan kepemerintahan yang baik, berdaya guna, berhasil guna, bersih dan bertanggung jawab diperlukan adanya pengawasan oleh

APIP yang berkualitas dan auditor yang profesional dimana untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan suatu budaya etis dalam profesi APIP seperti yang tercantum dalam prinsip-prinsip perilaku yaitu Integritas, Obyektivitas, Kerahasiaan dan Kompetensi, sehingga terpenuhi prinsip-prinsip kerja yang akuntabel dan terlaksananya pengendalian audit sehingga dapat terwujud auditor yang kredibel dengan kinerja yang optimal dalam pelaksanaan audit. Sesuai dengan informasi dari APIP Inspektorat Jendral Kementrian, Kelautan dan Perikanan 7, di dalam pelaksanaan tugasnya, terdapat 2 jabatan fungsional yang menjadi penopang tugas-tugas Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) sebagai audit internal pemerintah daerah, yaitu auditor dan P2UPD yang saling bersinergi untuk melaksanakan tugas sebagai audit internal. Diharapkan oleh penulis, dengan mempedomani aturan tersebut, dalam melaksanakan tugasnya APIP dapat menghasilkan kualitas audit yang lebih optimal.

Sebagian dari instrumen penelitian ini menggunakan instrument penelitian dari Sukriah, et al. (2009) dengan beberapa penyesuaian. Sukriah, et al. (2009) menggunakan 5 buah variabel independen yaitu pengalaman kerja auditor, independensi auditor, obyektivitas auditor, integritas auditor dan kompetensi

Dalam dokumen TESIS S431308023 Adi Juniarso (Halaman 19-35)

Dokumen terkait