• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Belajar

Dalam dokumen UIN ALAUDDIN MAKASSAR (Halaman 42-0)

BAB II TINJAUAN TEORETIS

B. Hasil Belajar

1. Pengertian hasil belajar

Hasil (product) merupakan suatu perolehan akibat dilakukannya suatu proses atau aktifitas yang mengakibatkan terjadinya perubahan input secara fungsional. Dalam pembelajaran, yang dimaksud dengan hasil belajar adalah hasil maksimum yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mengalami proses belajar mengajar dalam mempelajari materi pelajaran tertentu.

16 Mentri Pendidikan dan Kebudayaan RI, ‚Permendikbud RI Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah‛, h.1-2.

25

hasil belajar adalah sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri seseorang yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk pengetahuan, sikap dan keterampilan.17 Perubahan itu diperoleh melalui usaha, menetap dalam waktu yang relatif lama dan merupakan hasil pengalaman. Perubahan tersebut ditandai dengan terjadinya peningkatan dan pengembangan pengetahuan yang lebih baik dari sebelumnya dari yang tidak tahu menjadi tahu.

Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif mantap.18 Pencapaian tujuan belajar akan menghasilkan hasil belajar, pencapaian tujuan belajar adalah ingin mendapatkan suatu pengetahuan, keterampilan dan penanaman sikap mental. Hasil belajar dapat diketahui dengan adanya penilaian, karena penilaian hasil belajar bertujuan untuk melihat seberapa besar kemajuan belajar peserta didik dalam hal penguasaan materi yang telah dipelajarinya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Hasil belajar tidak mutlak berupa nilai saja, akan tetapi dapat berupa perubahan atau peningkatan sikap, kebiasaan, pengetahuan, keuletan, ketabahan, penalaran, kedisiplinan, keterampilan dan lain sebagainya yang menuju pada perubahan positif. Hasil belajar menunjukkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya yang telah mengalami proses pengalihan ilmu pengetahuan dari seseorang yang dapat dikatakan dewasa atau memiliki pengetahuan kurang.

Dengan adanya hasil belajar, pendidik dapat mengetahui seberapa jauh peserta didik dapat menangkap, memahami, memiliki materi pelajaran tertentu.

17Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. (Jakarta:Bumi Aksara, 2007), h. 30.

18Abdulrahman Mulyono, Pendidikan bagi Anak yang Kesulitan Belajar (Cet. IV;

Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 37.

2. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Hasil Belajar

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar sebagai berikut:

a. Faktor Internal

Faktor dari dalam diri peserta didik meliputi dua aspek, yakni:

1) Fisiologis

Aspek fisiologis meliputi keadaan atau kondisi umum jasmani seseorang.

Berkaitan dengan ini, kondisi organ-organ khusus seperti tingkat kesehatan pendengaran, penglihatan juga sangat mempengaruhi peserta didik dalam menyerap informasi atau pelajaran.

2) Aspek Pisikologis

Banyak faktor yang yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran peserta didik.

Namun, diantara faktor-faktor rohaniah peserta didik yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:

a) Kemampuan Kognitif

Kemampuan Kognitif adalah kemampuan untuk memperoleh pengetahuan atau usaha mengenai sesuatu melalui pengalaman sendiri.19 Kemampuan Kognitif merupakan variabel penting yang mempengaruhi pilihan-pilihan peserta didik dalam bidang akademik, selanjutnya perkembangan bagi mahapeserta didik belajar serta bagaimana peserta didik dan pendidik berinteraksi dalam kelas.

Kemampuan berfikir kreatif peserta didik juga dapat berbeda dalam cara memperoleh, menyimpan serta menerapan pengetahuan selain berbeda dalam tingkat kecakapan memecahkan masalah. Kemampuan kognitif merupakan faktor penting dalam belajar peserta didik. Seseorang yang mengalami gangguan

19 Tabrani Rusyan, Proses Belajar dan Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), h. 51.

27

emosional dilatih untuk mengingat perilaku yang telah ditampilkan dam memperkuat perilakunya sediri.

Kognitif pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang cepat. Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) peserta didik tidak dapat diragukan lagi, sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar peserta didik.

b) Sikap Peserta Didik

Sikap adalah gejala internal yang berdimensi efektif berupa kecenderungan untuk bereaksi atau merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif.

Sikap (attitude) peserta didik yang positif, terutama anda dan mata pelajaran yang anda sajikan merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar peserta didik tersebut. Sebaliknya, sikap negatif peserta didik terhadap anda dan mata pelajaran anda, apalagi diiringi kebencian kepada anda atau kepada mata pelajaran anda dapat menimbulkan kesulitan belajar peserta didik tersebut.

c) Bakat Peserta Didik

Bakat adalah kemampuan yang sudah dimiliki dan baru akan terealisasi.

Bakat dapat digambarkan sebagai kapasitas seseorang atau potensi untuk dapat melakukan suatu tugas dimana sebelumnya sedikit menjalani latihan atau sama sekali tidak memperoleh latihan lebih dahulu.20 Bakat merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang sejak lahir untuk melakukan sesuatu dengan sedikit menjalani latihan untuk mencapai hasil yang maksimal. Misalnya, seseorang yang memiliki bakat mengetik akan lebih cepat lancar dalam mengetik dibandingkan dengan orang lain yang tidak memiliki bakat dibidang itu.

20 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. (Jakarta:Bumi Aksara, 2007), h. 35.

Bakat (uptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ketingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing.

d) Minat Peserta Didik

Minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterkaitan pada suatu hal aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dan sesuatu diluar diri, semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.21 Minat mempengaruhi proses hasil belajar, kalau seseorang tidak berminat memperlajari sesuatu, maka tidak bisa diharapkan dan berhasil dengan baik dalam mempelajari hal tersebut. Sebaliknya kalau seseorang mempelajari sesuatu penuh minat maka dapat diharapkan akan lebih baik.

Minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Umpamanya, seorang peserta didik yang menaruh minat besar terhadap matematika akan memusatkan perhatiannya lebih banyak daripada daripada peserta didik lainnya. Kemudian, karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan peserta didik tadi untuk belajar lebih giat dan akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.

e) Motivasi Peserta Didik

Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan yang diinginkan.22

21 Slameto, Keberhasilan proses Belajar. (Yogyakarta: Andi Offset, 2003), h. 180.

22 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar. (Jakarta:Bumi Aksara, 2007), h. 158.

29

Motivasi merupakan suatu proses yang mempengaruhi pilihan-pilihan individu terhadap bermacam-macam bentuk kegiatan yang dikehendaki untuk memperhatikan minat terhadap kegiatan yang menjadikan kegiatan itu sangat menyenangkan, sehinga mencapai hasil dan tujuan tertentu.

Motivasi yang dirumuskan oleh Eysenck adalah sebagai suatu proses yang menentukan tingkatan kegiatan, intesitas konsistensi serta arah umum dari tingkah laku manusia.23 Secara umum dapat dikatakan bahwa motivasi adalah dorongan atau gerakan yang menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil yang ingin dicapai.

Motivasi dibedakan menjadi 2 bagian yakni motivasi ekstrinsik (motivasi yang datang dari luar) contoh: seseorang akan belajar menjahit lebih baik karena melihat hasil jahitan temannya yang memiliki jahitan yang baik pula dan motivasi ekstrinsik (motivasi yang datang dari dalam diri sendiri) contoh;

seseorang yang mendaftar dirinya untuk kursus menjahit di BLK (Balai Latihan Kerja) karena ingin belajar menjahit dan tahu tentang jahitan dan desain.

Hasil belajar peserta didik juga dipengaruhi oleh motivasi peserta didik itu sendiri. Pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme baik manusia maupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (organizer) untuk bertingkah laku secara terarah.

b. Faktor Eksternal

Seperti faktor internal peserta didik, faktor eksternal peserta didik juga terdiri atas dua macam, Yakni:

23 Slameto, Keberhasilan proses Belajar. (Yogyakarta: Andi Offset, 2003), h. 170.

1) Lingkungan Sosial

Faktor lingkungan sosial yaitu faktor adanya penggunaan yang dirancang dengan hasil belajar yang telah ditetapkan. Faktor ini meliputi; kurikulum, program pendidikan, sarana dan prasarana, dan tenaga pendidik.24 Dari uraian tersebut dapat kita pahami bahwa keberhasilan seseorang dalam belajar sangat tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar. Karena hasil belajar akan maksimal jika faktor-faktor yang mempengaruhinya dapat di optimalkan dengan baik.

Permasalahan utama yang dipikirkan pendidik adalah mengelola kelas dengan sebaik-baiknya agar materi yang disampaikan kepada peserta didik dapat diterima dengan baik. Berbagai cara digunakan untuk mengoptimalkan potensi yang ada agar peserta didik termotivasi dan bermiat untuk belajar lebih giat lagi.

Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar adalah orang tua dan keluarga peserta didik itu sendiri. Sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, keterangan keluarga, dan demografi keluarga (letak rumah) semuanya dapat memberi dampak baik ataupun buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh peserta didik.

2) Lingkungan Non Sosial

Faktor faktor yang termasuk lingkungan non sosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga peserta didik dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar yang digunakan oleh peserta didik khusus mengenai waktu yang disenangi untuk belajar seperti pagi atau sore hari.25 Faktor-faktor ini tidak boleh kita abaikan karena cukup berpengaruh juga

24 Sutardi, Universitas: Prospek dan Tantangannya. (Jakarta: Yayasan Sumber Agung, 1998), h. 8&154;

25Syarifuddin Ahmad, Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Ta’dib. XVI, No. 01, Edisi Juni 2011.

31

di dalam keberhasilan suatu peroses pembelajaran agar tujuan pembelajaran tercapai sesuai dangan yang di inginkan.

3. Tipe- tipe Hasil Belajar

Adapun tipe-tipe dalam hasil belajar itu ada 3 yaitu; kognitif, psikomotorik, afektif.

a. Kognitif

Berkenaan dengan hasil belajar intelektual ranah kognitif terdiri dari 6 aspek, yaitu;

1) Pengetahuan hafalan (knowedge) ialah tingkat kemampuan untuk mengenal atau mengetahui adanya respon, fakta, atau istilah-istilah tanpa harus mengerti, atau dapat menilai dan menggunakannya

2) Pemahaman adalah kemampuan memahami arti konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Pemahaman dibedakan menajdi 3 kategori:

a) pemahaman terjemahan, b) pemahaman penafsiran, c) pemahaman eksplorasi.

3) Aplikasi atau penerapan adalah penggunaan abstraksi pada situasi konkrit yang dapat berupa ide, teori atau petunjuk teknis.

4) Analisis adalah kemampuan menguraikan suatu intregasi atau situasi tertentu ke dalam komponen-komponen atau unsur-unsur pembentuknya.

5) Sintesis yaitu penyatuan unsur-unsur atau bagian–bagian ke dalam suatu bentuk menyeluruh.

6) Evaluasi adalah membuat suatu penilaian tentang suatu pernyataan, konsep, situasi, dan lain sebagainya.

b. Ranah Afektif

Berkenaan dengan sikap dan nilai sebagai hasil belajar, ranah afektif terdiri dari:

1) Menerima, merupakan tingkat terendah tujuan ranah afektif berupa perhatian terhadap stimulus secara pasif yang meningkat secara lebih aktif.

2) Merespon, merupakan kesempatan untuk menanggapi stimulus dan merasa terikat serta secara aktif memperhatikan.

3) Menilai, merupakan kemampuan menilai kegiatan sehingga dengan sengaja merespon lebih lanjut untuk mencapai jalan bagaimana dapat mengambil bagian atas yang terjadi.

4) Mengorganisasi, merupakan kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai bagi dirinya berdasarkan nilai-nilai yang dipercaya.

5) Karakterisasi, merupakan kemampuan untuk mengkonseptualisasikan masing-masing nilai pada waktu merespon, dengan jalan mengidentifikasi karakteristik nilai atau membuat pertimbangan-pertimbangan.

c. Ranah Psikomotor

Ranah psikomotor berhubungan dengan keterampilan motorik, manipulasi benda atau kegiatan yang memerlukan koordinasi saraf dan koordinasi badan antara lain:

1) Gerakan tubuh, merupakan kemampuan gerakan tubuh yang mencolok.

2) Ketepatan gerakan yang dikoordinasikan, merupakan keterampilan yang berhubungan dengan urutan atau pola dari gerakan yang dikoordinasikan biasanya berhubungan dengan gerakan mata, telinga dan badan.

3) Perangkat komunikasi non-verbal, merupakan kemampuan mengadakan komunikasi tanpa kata.

33

4) Kemampuan berbicara, merupakan yang berhubungan dengan komunikasi secara lisan.26

Hal ini didasarkan pada alasan bahwa ke-3 ranah yang diajukan lebih terukur dalam artian bahwa untuk mengetahui hasil belajar yang dimaksudkan dapat dilakukan dengan mudah khususnya pada pembelajaran yang bersifat formal.

C. Pembelajar Fikih 1. Pengertian Fikih

Mata pelajaran fikih merupakan salah satu unsur Pendidikan Agama Islam yang mengaruh pada pengenalan, pemahaman, penghafalan, serta pengamalan fikih dalam kehidupan sehari-hari sesuai syariat hukum islam yang berlaku, serta meluruskan pandangan hidup sesuai dengan syariat hukum islam yang menjadi suatu pengalaman dan kebiasaan.

Dilihat dari sudut bahasa, fikih berasal dari kata faqaha yang berarti

‚memahami‛ dan ‚mengerti‛. Dalam peristilahan syar‟i, ilmu fikih dimaksudkan sebagai ilmu yang berbicara tentang hukum-hukum syar‟i amali (praktis) yang penetapannya diupayakan melalui pemahaman yang mendalam terhadap dalil-dalilnya yang terperinci. Sedangkan fikih secara istilah merupakan hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliyah, yang digali dan ditemukan dari dalil-dalil yang tafshili.27 Hukum syar‟i yang dimaksudkan dalam definisi diatas adalah segala perbuatan yang diberi hukumnya itu sendiri dan diambil dari syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.

26Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung : Remaja Rosdakarya 1995). h. 24.

27Lukman Zain, Pembelajaran Fiqih (Cet. I; Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI 2009), h. 3

Kata amali dalam definisi itu dimasudkan sebagai penjelasan bahwa yang menjadi lapangan pengkajian ilmu itu hanya yang berkaitan dengan perbuatan (amaliyah) mukallaf dan tidak termasuk keyakinan atau iktikad (aqidah) dari mukallaf itu. Sedangkan dalil-dalil yang terperinci (al-tafshili) maksudnya adalah dalil-dalil yang terdapat dan terpapar dalam nash dimana satu persatunya menunjuk pada satu hukum tertentu.

Dalam versi lain, fikih juga disebut sebagai koleksi (majmu) hukum-hukum syariat yang berkaitan dengan perbuatan mukallaf dan diambil dari dalil-dalilnya yang tafshili. Dengan sendirinya ilmu fikih dapat dikatakan sebagai ilmu yang bicara tentang hukum-hukum sebagaimana disebutkan itu.28 Berdasarkan definisi di atas maka peneliti dapat simpulkan bahwa, fikih adalah hasil penalaran para fuqaha atas hukum Allah untuk mengetahui hukum-hukum syara’

yang berhubungan dengan perbuatan baik yang terdapat di dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Rasul, yang berkaitan dengan tingkah laku manusia.

2. Ruang Lingkup Fikih

Tidak diragukan lagi bahwa kehidupan manusia meliputi segala aspek.

Kebahagian yang ini dicapai oleh manusia mengharuskan untuk memperhatikan semua aspek tersebut dengan cara yang terprogram dan teratur. Manakalah fikih islam adalah ungkapan tentang hukum-hukum yang allah swt., disyari’atkan kepada para hamba-Nya, demi mengayomi seluruh kemaslahatan mereka dan mencegah timbulnya kerusakan di tengah-tengah mereka, maka fikih islam datang memperhatikan aspek tersebut dan mengatur seluruh kebutuhan manusia beserta hukum-hukumnya.

Dengan memperhatikan kitab-kitab fikih yang mengandung hukum-hukum syari’at yang bersumber dari Kitab Allah swt., sunnah Rasululla saw.,

28 Alaiddin Koto, Ilmu Fiqh dan Usul Fiqh. (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2011), h.

2.

35

serta ijma (kesepakatan) dan ijtihad para ulama, maka akan mendapatka kitab-kitab tersebut terbagi menjadi beberapa bagian yang kesemuanya membentuk satu undang-undang umum bagi kehidupan manusia baik bersifat pribadi maupun bermasyarakat. Jadi, ruang lingkup pembelajaran fikih terbagi atas enam bagian yaitu:

a. Hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah swt., seperti Wudu, salat, puasa, haji dan yang lainnya. Ini dsebut dengan fikih ibadah.

b. Hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah kekeluargaan. Seperti penikahan, talak, nasab, persusuan, nafkah, dan yang lainnya. Ini disebut dengan fikih munakahat.

c. Hukum-hukum yang berkaitan dengan perbuatan manusia dan hubungan di antara mereka, seperti jual beli, jaminan, sewa menyewa, pengadilan dan yang lainnya. Ini disebut fikih mu’amalah.

d. Hukum-hukum yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban pemimpin (kepala negara). Seperti menegakkan keadilan, memberantas kedzaliman dan menerapkan hukum-hukum syari’at, serta yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban rakyat yang dipimpin. Seperti kewajiban-kewajiban taat dalam hal yang bukan maksiat, dan yang lainnya. Ini disebut dengan fikih siyasah syar’iah.

e. Hukum-hukum yang berkaitan dengan hukuman terhadap pelaku-pelaku kejahatan, serta penjagaan keamanan dan ketertiban. Seperti hukuman terhdap pembunuh, pencuri, pemabuk, dan yang lainnya. Ini disebut sebagai fikih jinayat.

f. Hukum-hukum yang mengatur hubungan negeri islam dengan negeri lainnya.

Yang berkaitan dengan pembahasan tentang perang atau damai dan yang lainnya. Dan ini dinamakan denang fikih siyasah.29

29 Abuddin Nata, Masail Al-Fikihyah (Cet. II; Jakarta: kencana 2006), h. 30.

3. Tujuan Pembelajaran Fikih

Pembelajaran fikih memiliki beberapa tujuan untuk membekali peserta didik antara lain:

a. Mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum islam secara terperinci dan menyeluruh, berupa dalil naqli dan aqli. Pengetahuan dan pemahaman tersebut diharapkan menjadi pedoman hidup dalam kehidupan dan sosial.

b. Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar.

Pengalaman tersebut diharapkan menumbuhkan ketaatan menjalankan hukum Islam, disiplin dan tanggung jawab sosial yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosial.30

Dengan demikian pembelajran fikih memiliki tujuan untuk mengetahui, memahami, melaksanakan dan mengamalkan pokok-pokok hukum islam secara terperinci dan menyeluruh.

30 Muhammad Yusuf Musa, Fiqh al-Kitab was-Sunah, (Mesir: dari al-Kitab al-Araby, 1954), h. 6

36 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan, Jenis dan Lokasi Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan jenis penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, dengan pengumpulan data menggunakan instrumen penilaian, analisis data bersifat kuantitatif (angka) dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.

2. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain quasi eksperimental. Penelitian ini menggambarkan Pengaruh Scientific Approach terhadap Hasil Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Fikih dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimental.

Desain quasi eksperimental yang digunakan dalam penelitian adalah Non-equivalent kontrol group design. Desain penelitian Non-Non-equivalent kontrol group design adalah sebagai berikut: 1

O3 = Pretest Kelompok Kontrol O4 =Posstest Kelompok Kontrol

X = Pembelajaran menggunakan Scientific Approach

- = Pembelajaran menggunakan Pendekatan yang berpusat pada guru.

3. Lokasi Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini dilakukan di MA DDI Mattoanging Bantaeng.

Alasan penulis memilih lokasi tersebut, karena belum ada penelitian terkait dengan Pengaruh Scientific Approach terhadap Hasil Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Fikih di MA DDI Mattoanging Bantaeng yang di lakukan di Sekolah tersebut, serta jarak yang ditempuh dapat terjangkau.

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Dalam suatu penelitian, ada objek yang diteliti untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Objek tersebut adalah populasi, yaitu seluruh elemen yang menjadi objek penelitian. Dengan kata lain, data secara menyeluruh terhadap elemen yang menjadi objek penelitian, tanpa terkecuali.2 Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan untuk diteliti.3 Berdasrkan uraian diatas maka yang menjadi populasi dalam peneloitian ini adalah seluruh peserta didik di MA DDI Mattoanging Bantaeng yang terdiri dari 9 kelas dengan jumlah peserta didik 235 orang.

2Anas Sudjono, Pengantar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), h. 28.

3Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi Dilengkapi dengan Metode R & D (Cet.

XXII: Bandung: CV. Alfabeta, 2009), h. 90.

39

Tabel 3. 1 rekapitulasi peserta didik di MA DDI Mattoanging semester genap tahun ajaran 2020/2021

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut bila populasi besar dan penulis tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi. Misalnya karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu, maka penulis dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu.4 Jadi, sampel adalah populasi dalam bentuk mini. Maka, penulis memilih kelas XII IPS 1 dan XII IPS 2 sebagai sampel dari penelitian.

Tabel 3. 2 Sampel Penelitian

NO. KELAS JUMLAH

4Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R &

D h, 297.

C. Metode Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang akurat dalam penelitian ini, penulis mengumpulkan data dengan langkah-langkah berikut ini;

1. Dokumentasi

Dokumentasi dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis, di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya.5 Metode dokumentasi yang digunakan membantu peneliti untuk mendapatkan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan proses pembelajaran yang sedang berlangsung pada sekolah tersebut.

2. Tes

Tes adalah instrumen atau alat untuk mengumpulkan data tentang kemampuan subjek penelitian dan menguasai materi pelajaran tertentu, digunakan tes tertulis tentang materi pelajaran tersebut, untuk mengukur kemampuan subjek penelitian dalam menggunakan alat tertentu, maka digunakan tes keterampilan menggunakan alat tersebut, dan lain sebagainya.6 Penelitian ini dilakukan dua kali tes untuk setiap kelas, yaitu pre-test dan post-test. Pre-test dilaksanakan untuk memperoleh data hasil belajar peserta didik sebelum diberi treatment (perlakuan), sedangkan post-test dilaksanakan untuk memperoleh data hasil belajar peserta didik setelah mereka diberi treatment (perlakuan).

5Suharismi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. h. 201.

6Wina Sanjaya, Penelitian Pendidikan (Jakarta: PT. Fajar Interpratama Mandiri, 2013), h. 251-252.

41

D. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan dalam pengumpulan data atau informasi yang berhubungan dengan penelitian.7 Penulis membutuhkan beberapa instrumen penelitian untuk memperoleh data yang dibutuhkan.

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini berupa dokumentasi dan tes.

1. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa

Dalam dokumen UIN ALAUDDIN MAKASSAR (Halaman 42-0)

Dokumen terkait