URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Komunikasi yang dipandang sebagai suatu proses dan sistem merupakan bagian dari kehidupan sehari – hari setiap individu. Sadar atau tidak, setiap saat individu mengadakan komunikasi dengan sesamanya manusia dan alam sekitar, baik melalui gerak, ucapan, lambang, maupun isyarat lainnya. Adapun sasarannya ialah mencapai kesamaan makna (mutual understanding), dan dari semua kegiatan manusia, komunikasi adalah penyita waktu terbanyak, misalnya saja saat kita berbincang – bincang, membaca, menggambar, menulis, bahkan mendengarkanradio.
Komunikasi massa adalah salah satu bentuk komunikasi, setelah komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok kecil, dan komunikasi organisasi. Komunikasi massa ini melibatkan media dan menjangkau beragam orang sebagai komunikannya. Pesan dalam komunikasi massa dikirim dari sumber yang melembaga, bersifat massal dan melalui alat –
alat mekanis. Jika di masa tradisional komunikasi massa tersampaikan melalui media seperti asap api, kentongan, drama dan bedug, maka di masa sekarang ini komunikasi tampil dalam rupa media seperti surat kabar, radio, televisi, dan film.
Radio sebagai salah satu pilar saluran media massa ternyata masih memiliki posisi yang strategis didunia pemasaran, seperti yang kita ketahui radio bukan satu-satunya media yang dapat menyiarkan informasi kepada khalayak umum akan tetapi ternyata keberadaannya masih diperhitungkan didunia pemasaran sebagai saluran informasi yang efektif. Eksistensinya terbukti dengan masih adanya perusahaan-perusahaan yang memasarkan
produknya di radio hingga saat ini. “Media merupakan industri yang berubah dan
lain yang terkait, media juga merupakan industri tersendiri yang memiliki peraturan dan norma-norma yang menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakat dan institusi sosial
lainnya“ (Mc Quail, 1987 : 3)
Pada dasarnya iklan telah didefinisikan sebagai sebuah bentuk komunikasi yang dibayar oleh sponsor untuk mempromosikan ide, barang atau jasa. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengajak dan memberikan informasi ( Oxford Dictionary of Business, 2002). Demikian pula Kotler dan Armstrong mendefenisikan iklan sebagai bentuk presentasi non-personal yang berbayar untuk mempromosikan ide, barang atau jasa (Kotler and Armstrong, 1994: 487). Seperti yang kita ketahui, bahwa korelasi kedua definisi diatas, iklan merupakan bagian dari strategi pemasaran. Karena iklan merupakan alat komunikasi yang powerfull, dengan iklan perusahaan mampu berkomunikasi dengan pelanggan, berinteraksi dengan pelanggan potensial dan menetapkan posisi perusahaan dengan pesaing. Sebagai bagian strategi pemasaran yang efektif, iklan dipertimbangkan untuk investasi masa depan pada bisnis dari pada sebagai biaya tambahan.
Segala usaha dapat dilakukan untuk meningkatkan atau mempertahankan minat beli dari pelanggan, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan aktifitas pemasaran dan salah satu cara pemasaran adalah dengan metode iklan. Periklanan (Advertising) berkembang karena awalnya didukung oleh adanya Revolusi Industri dunia secara menyeluruh, pengetahuan tulis menulis pada saat itu sangatlah pesat peningkatanya, dan daya beli masyarakat yang meningkat sehingga membutuhkan semakin banyak produk. Sementara para produsen berusaha membuat produk yang dapat memuaskan pelanggannya dengan mempersuasi calon pelanggan agar tidak beralih pada pesaingnya. Featherstone
mengatakan era tersebut sebagai “consumer culture” di mana terjadi peningkatan jumlah produk yang ditawarkan untuk memperoleh profit dan menyediakan simbol-simbol status dan
kesuksesan. Iklan digunakan untuk menjual prestige seperti halnya produk (Heru Sutadi, 2010 pada http://hsutadi.blogspot.com diakses tanggal 5 November 2015).
Periklanan didefinisikan sebagai bentuk komunikasi yang persuasif, dibeli dan dibiayai oleh pengiklan tetapi juga menjadi sumber pemasukan bagi perusahaan media. Ada dua trend dalam beriklan, yaitu: Hard Sell: bila iklan tersebut lebih mengedepankan pesan-pesan rasional, tentang alasan pembelian produk, seperti kegunaan, harga, dan lain sebagainya. Soft sell: bila iklan lebih menonjolkan aspek emosional dalam pesan-pesannya seperti dengan menggunakan tema-tema entertainment. Era ini disebut “the era of creativity”
(Heru Sutadi, 2010 pada http://hsutadi.blogspot.com diakses tanggal 5 November 2015). Perkembangan iklan di Indonesia dimulai sejak pemerintahan Belanda. Sejarah periklanan di Indonesia sama tuanya dengan sejarah press, mengenai istilah iklan sendiri idenya muncul dari Soedardjo Cokrosisworo (tahun 1951). Penyiaran iklan-iklan komersial melalui radio baru dimulai pada tahun 1968 yang disiarkan lewat Radio Republik Indonesia. Sampai awal tahun 1970-an, pesan-pesan iklan cenderung panjang-panjang dan mendominasi teks iklan secara keseluruhan. Hal ini disebabkan banyak produk yang masih belum dikenal. Barulah diakhir tahun 1970-an presentasi iklan Indonesia mulai berkembang seiring dengan perkembangan media dan teknologi. Naskah atau copy iklan dan juga visualisasi mulai dipikirkan dengan baik. Pada periode ini mulai muncul dan berkembang simbolisasi dan personifikasi mendominasi presentasi iklan di Indonesia. Pengembangan iklan dengan gaya khas Indonesia pun terus dilakukan seiring dengan berkembangnya industri periklanan. Gaya khas iklan Indonesia ini dibangun melalui tiga hal yaitu fisik, karakter dan gaya atau style (Kentzkentry, 2010 pada http://kentzkentry.wordpress.com diakses tanggal 6 November 2015).
Salah satu media iklan yang digunakan oleh pengusaha adalah media iklan radio. Alasan pengusaha memasang iklan pada media radio karena radio memiliki jangkauan luas,
acara variatif dan tersegmen dan harga yang terjangkau (www.http://gemilang-fm.biz/kenapa-gemilang/ diakses tanggal 6 November 2015). Potensi kesuksesan suatu iklan dapat dilihat dari peningkatan belanja iklan tiap tahunya, hingga tahun 2009 belanja iklan dari semua media mencapai Rp. 45,8 triliun (sumber : AC Nielsen pada http://bandung.detik.com diakses tanggal 6 November 2015), sedangkan ditahun 2003 belanja iklan hanya Rp. 17 triliun (Yakub. 2007 : 189). Data tersebut dapat dilihat bahwa peningkatan belanja iklan dalam kurun waktu 6 tahun mengalami peningkatan sekitar 170 %, dari 100 % belanja iklan diseluruh media, radio menempati 1,2 % atau sekitar Rp. 630 miliar. Sejak tahun 1998 grafik kemunculan iklan di radio menurun drastis. Dalam satu tahun terakhir, presentasi kemunculan iklan di radio hanya 1,3 % dari Adex (Advertising Expenditure) nasional yang mencapai 30 triliun. Karena banyak pengiklan yang berpaling ke media internet terlebih lagi terdapat layanan pasang iklan gratis, hal tersebut terjadi karena banyaknya media pesaing yang membuat para pengiklan berpaling dari media radio sebagai lahan promosi bisnis mereka (Wakil Ketua II Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia). Meskipun terjadi penurunan tetapi radio masih tetap menjadi salah satu media iklan bagi pengusaha yang bergerak di bidang pemasaran lokal (Herlan Artono, 2004:200).
Dealmedan merupakan sebuah website daily deals di kota medan. Dengan prinsip sebagai dicount store, Dealmedan menyediakan banyak pilihan promo dari berbagai macam
merchant yang bisa costumer dapatkan. Dealmedan memberikan ruang untuk para merchant
yang ingin mempromosikan produknya dengan membuat promo mereka disana. Para
merchant cukup menyepakati syarat dan ketentuan yang sudah ditentukan Dealmedan,
mengisi formulir kontak promo dengan Dealmedan dan melakukan pembayaran. Selanjutnya, Dealmedan akan mengurus promo mereka dengan mempromosikannya ke situs utama dan beberapa media sosial seperti facebook, twitter. Dengan pageview lebih dari 20.000/hari,tentu
para merchant sangat terbantu karena banyak pengunjung yang merupakan calon pelanggan melihat promo mereka.
Dari hasil promosi yang disebarkan pengguna bisa langsung promo apa saja yang tersedia saat itu. Jika tertarik, pengguna harus mendaftar terlebih dahulu menjadi anggota. Kemudian mereka bisa mengambil promo yang akan mereka inginkan. Dalam menyediakan promo merchant dapat menentukan pilihan memberikannya dalam bentuk tiket atau delivery. Tidak hanya menyediakan promo saja, Dealmedan juga turun tangan sebagai middleman antara pelanggan dengan merchant. Hal ini berlaku jika ada merchant yang membuat promo menjual barang atau jasa dan memilih bentuk delivery untuk mengambil promo. “Bagi
mereka yang mengambil promo dalam bentuk delivery, barang yang sudah mereka bayar akan kami kirimkan dengan jasa kurir yang sudah kami sediakan sendiri. Tidak ada biaya
ongkos kirim yang dikenakan untuk delivery ini,” kata Anwar Yunus, founder Dealmedan. (https://id.techinasia.com/asal-mula-founder-Dealmedan/ diakses pada tanggal 14 Nopember 2015).
Tempat dalam melakukan penelitian ini adalah Universitas Sumatera Utara dan IklanDealmedan sebagai subjek penelitian. Penggunaan voucher Dealmedan sebagai media promosi berbagai usaha kuliner dan barang keperluan lainnya menjadi tren akhir-akhir ini dikalangan remaja umumnya dan kalangan belanja online khususnya sehingga hal ini menarik untuk diteliti. Metode Dealmedan yang berperan sebagai discount store dan
middleman bisnis-bisnis steakholdernya dengan menggunakan fitur voucher tergolong unik
disebabkan Dealmedan mampu bertahan dan besar diantara pesaingnya yang sudah memulai metode seperti ini mengingat Dealmedan masih tergolong baru dibisnis ini. Dealmedan memulai usahanya April 2103. Dalam upaya mempromosikan Voucher sebagai alat Dealmedan berbisnis. Dealmedan mempercayakan radio lokal Prambors FM Medan
untukmempromosikan usahanya, tentu hal ini menarik untuk diteliti sampai sejauh mana peran Prambors FM Medan mampu mempublikasikan Dealmedan secara efektif.
Berdasarkan uraian tersebut maka penulis ingin menguji korelasi terbentuknya minat beli terhadap voucher belanja Dealmedan, dan dari hasil penelitian tersebut bisa dilihat apakah iklan radio Prambors Medan berpengaruh terhadap minat beli pada diri pendengar. Dalam hal ini faktor yang akan diteliti adalah kekuatan iklan radio Dealmedan di Prambors FM Medan terhadap minat beli yang terbentuk di lingkungan penelitian.
Mencoba sesuatu yang baru dan rasa ingin tahu sudah menjadi sifat bawaan manusia pada umumnya. Tidak menutup kemungkinan dengan melihat suatu hal terbaru, dengan segera muncul gambaran dan pemikiran untuk memiliki pengalaman dengan hal yang baru tersebut. Dengan pemanfaatan unsur psikologis manusia inilah, strategi iklan dan peranannya dapat tercapai. Demikianlah uraian yang melatarbelakangi penulis sehingga tertarik dengan judul penelitian ini dan ingin menemukan bagaimanakah korelasi iklan Dealmedan di radio Prambors FM Medan terhadap minat beli voucher belanja Dealmedan pada mahasiswa Universitas Sumatera Utara.