• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Penyusutan

Dalam dokumen NAMRA NASARINA NIM (Halaman 33-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Penyusutan

1. Pengertian Penyusutan

Disamping pengeluaran dalam masa penggunaannya, masalah penyusutan merupakan masalah yang penting selama masa penggunaan aset tetap. Yang dimaksud dengan penyusutan menurut akuntansi perpajakan terapan adalah proses alokasi sebagian harga perolehan aset menjadi biaya (cost allocation), sehingga biaya tersebut mengurangi laba usaha.

Pengertian penyusutan ini tidak sama seperti pengertian dalam ekonomi perusahaan yang menekankan bahwa penyusutan itu merupakan cadangan untuk pembelian aset tetap baru setelah aset tetap yang lama tidak dipakai lagi.

Menurut pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 17 paragraf 2 tentang Akuntansi Penyusutan menyatakan bahwa penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi, penyusutan untuk periode akuntansi dibebankan kependapatan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Akuntansi penyusutan merupakan suatu sistem akuntansi yang bertujuan untuk mendistribusikan harga perolehan atau nilai dasar lain, seteleh dikurangi nilai sisa (jika ada) dari harga aset berwujud, terhadap masa pemakaian yang ditaksir untuk harga tetap yang bersangkutan. Penyusutan merupakan proses alokasi dan penilaian (valuation). Penyusutan untuk tahun berjalan merupakan bagian dari biaya total yang dialokasikan pada tahun tersebut menurut sistem yang berlaku. Meskipun alokasi secara wajar dapat mempertimbangkan kejadian yang timbul selama tahun berjalan, tetapi penyusutan bukanlah dimaksudkan untuk mengukur pengaruh dari kejadian itu, Tujuan dari penyusutan adalah untuk menyajikan informasi tentang penyusutan yang dilaporkan sebagai alokasi biaya yang diharapkan dapat berguna bagi para pemakai laporan keuangan. Informasi tentang penyusutan meruapakan hal yang cukup penting bagi pemakai laporan keuangan , terutama dalam kaitannya earning power, yaitu mengenai:

a. Proses perbandingan beban terhadap pendapatan untuk menghitung laba periodik.

b. Tingkat keefektifan manajemen dalam menggunakan sumber daya.

Kebijakan pajak untuk penyusutan harus mempertimbangkan 3 (tiga) hal, yaitu:

a. Keadilan pajak, dengan adanya penyusutan, maka perusahaaan manufaktur dan jenis usaha yang padat modal (capital intensive) akan sangat diuntungkan dibandingkan perusahaan jasa ataupun jenis usaha padat karya (labor intensive).

b. Kebijakan ekonomi, dengan adanya penyusutan membawa akibat pada peningkatan investasi (capital growth) sehingga EAT/ROI/CF menjadi meningkat.

c. Administrasi, pemilihan jenis penyusutan harus disesuaikan dengan beberapa hal, yaitu besarnya biaya administrasi, sumber daya manusia, dan kepatuhan wajib pajak. Metode penyusutan aset tetap menurut Ketentuan UU Perpajakan yang diatur dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000) :

a. Untuk aktiva kelompok I s.d. kelompok IV disusutkan dengan memakai metode garis lurus (straight line method) atau metode saldo menurun (decline balance method ).

b. Untuk aktiva kelompok bangunan harus disusutkan dengan metode garis lurus.

c. Penggunaan metode penyusutan tersebut harus dilakukan secara taat azas.

Pengaturan penyusutan menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan diatur dalam Pasal 11 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana yang telah dirubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Ketentuan tersebut menyebutkan bahwa penyusutan atas pengeluaran untuk pembelian, pendirian, penambahan, perbaikan atau perubahan harta berwujud, kecuali tanah yang berstatus Hak Milik, Hak Guna Bangunan, Hak Guna Usaha, dan Hak Pakai yang dimiliki dan digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa

manfaat lebih dari satu tahun dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut (Waluyo 2010).

Wajib pajak diperkenankan untuk memilih salah satu metode untuk melakukan penyusutan. Metode garis lurus dapat dipergunakan untuk semua kelompok aset tetap terwujud, sedangkan metode saldo menurun hanya dapat digunakan untuk kelompok aset berwujud, bukan bangunan saja. Menurut ketentuan Pasal 11A UU PPh amortisasi harga perolehan harta tak berwujud bervariasi antara metode garis lurus dan metode pembebanan menurun untuk harta tak berwujud pada umumnya yang dimaksud dengan bangunan tidak permanen adalah bangunan yang bersifat sementara dan terbuat dari bahan yang tidak tahan lama atau bangunan yang dapat dipindah pindahkan, yang masa manfaatnya tidak lebih dari sepuluh tahun, misalnya asrama yang dibuat dari kayu.

2. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Diadakannya Penyusutan

Menurut Zaki Baridwan (Intermediate Accounting, Edisi 8, BPFE Yogyakarta (2004, Hal 306) faktor-faktor yang menyebabkan penyusutan bisa dikelompokkan menjadi dua yakni:

a. Faktor-fsktor fisik b. Faktor-faktor fungsional

Hal-hal yang menyebabkan terbatasnya masa penggunaan aset tetap tersebut antara lain karena adanya faktor-faktor fisik yang mengurangi atau bahkan tidak diperguanakan lagi, yang disebabkan karena:

a. Aus karena dipakai

Oleh karena pemakaian aset tetap dalam proses produksi tidak hanya sekali saja, tetapi berlangsung terus menerus secara continue mengakibatkan kapasitas dan produktifitas yang dimiliki aset itu akan semakin berkurang nilainya sehingga kualitas dan kuantitas yang dihasilkan dalam proses produksi semakin berkurang pula hasilnya.

b. Aus karena umur

Setiap aset dapat aus seiring dengan perjalan waktu. Sekalipun aset tetap ini belum pernah dipakai, namun dengan adanya faktor kimia yang diakibatkan oleh pengaruh alam seperti hujan, panas dan udara terhadap aset tersebut akan menyebabkan kerusakan dan mungkin tidak efesien untuk dipergunakan lagi.

c. Kerusakan-kerusakan

Kerusakan suatu aset dapat disebabkan oleh kurang hati-hati atau kurang tepat dalam cara penggunaan aset tetap, juga yang disebabkan oleh bencana seperti; gempa bumi, banjir atau kebakaran yang tidak sepenuhnya dapat diperguanakan kembali atau bahkan aset tetap itu tidak dapat dipergunakan sama sekali.

Adapun faktor lain, selain faktor fisik yag menyebabkan perlunya diadakan penyusutan adalah faktor fungsional yang juga dapat mengurangi atau mengakibatkan suatu aset tetap tidak dapat dipergunakan lagi, yaitu:

a. Ketidaklayakan

Dengan meningkatkan daya beli konsumen yang melampaui kemampuan alat produksi yang tersedia akan mengakibatkan alat-alat produksi yang tersedia

secara teknis masih dapat dipergunakan, tetapi secara ekonomis telah menunjukkan kemunduran, karena tidak lagi memenuhi syarat-syarat yang menunjang skala ekonomis. Oleh karena itu, untuk memenuhi permintaan konsumen perlu adanya penggantian alat-alat produksi baru yang mempunyai kapasitas produksi lebih besar dibanding alat-alat lama.

b. Keusangan

Kemajuan dan pembaharuan teknis terus menerus membawa akibat alat-alat produksi yang lama secara ekonomis dianggap sudah kuno. Perbaikan dan pembaharuan teknis yang datang terus menerus dengan cepat dapat mengakibatkan daya guna ekonomis alat-alat produksi lama akan semakin berkurang atau secara ekonomis tidak dapat diperguanakan lagi dan perlu diganti dengan peralatan yang baru.

c. Penghentian permintaan

Suatu alat produksi tidak akan mempunyai nilai karena hasil produksinya tidak dapat dipertahankan lagi dipasaran. Ini disebabkan karena perubahan selera atau kebutuhan konsumen yang semakin beragam. Barang-barang hasil produksi tersebut dianggap kuno oleh konsumen, shingga tidak dapat diandalkan lagi untuk merebutkan pangsa pasar.

3. Karakteristik Aset Yang Dapat Disusutkan a. Digunakan dalam kegiatn usaha

b. Nilainya menurun secara bertahap

Beberapa aset yang tidak dapat disusutkan karena nilainya tidak menurun adalah tanah, aset pendanaan, barang dagangan, dan persediaan.

c. Disusutkan jika masa manfaat lebih dari satu tahun. Untuk aset tetap tak berwujud, penyusutannya disebut amortasi.

d. Pihak yang berhak melakukan penyusutan adalah:

1) Pihak yang menggunakan aktiva tetap tersebut dalam kegiatan usaha.

2) Pemilik, dapat dibagi menjadi legal owner dan benefical owner.

e. Saat dilakukan penyustan pada saat pertama kali diguanakan.

f. Dasar penyusutan dalah harga perolehan atau harga revaluasi. Harga penggantian tidak boleh menjadi dasar penyusutan.

4. Kriteria Aset Yang Disusutkan

a. Diharapkan digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi.

b. Memiliki suatu masa manfaat yang terbatas.

c. Ditahan suatu perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi atau memasok barang atau jasa, untuk disewakan, atau tujuan administrasi.

D. Metode Penyusutan Aset Tetap

1. Penyusutan Menurut Standar Akuntansi Keuangan

Definisi penyusutan menurut PSAK No. 17 adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi.

Penyusutan untuk periode akuntansi dibebankan ke pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Aktiva yang dapat disusutkan adalah aktiva yang:

a. diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi; dan b. memiliki suatu masa manfaat yang terbatas; dan

c. ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau memasok barang dan jasa, untuk disewakan, atau untuk tujuan administrasi.

Penyusutan ini diatur dalam Standar Akuntansi Keuangan di dalam PSAK 17 tentang akuntansi penyusutan. Penyusutan berdasarkan standar akuntansi keuangan ini disebut juga sebagai penyusutan komersil.

Istilah-istilah yang berkaitan dengan penyusutan berdasarkan stndar akuntansi keuangan adalah sebagai berikut:

a. Nilai sisa atau nilai residu adalah jumalah netto yang diharapkan dapat diperoleh apada akhir masa manfaat suatu aktiva setelah dikurangi taksiran biaya pelepasan.

b. Nilai wajar adalah suatu jumlah, untuk itu aktiva mungkin dapat ditukar atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar.

c. Jumlah tercatat nilai buku, yaitu baiaya perolehan suatu aset setelah dikurangi dengan akumulasi penyusutan.

d. Jumlah yang dapat disusutkan adalah jumlah perolehan suatu aset atau jumlah lain yang disubtitusikan untuk biaya perolehan dalam laporan keuangan dikurangi nilai sisanya.

e. Biaya perolehan

Menurut pendapat Early Suandi menyatakan bahwa pengertian biaya perolehan adalah biaya perolehan adalah jumalah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh

suatu aset ada saat perolehan atau kontruksi sampai dengan aset tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk digunakan.

Biaya perolehan terdiri atas harga beli/impor, termasuk PPN masukan yang tidak boleh dikreditkan, dan setiap biaya yang dapat di distribusikan sehingga aset tersebut dapat digunakan, seperti misalnya: biaya persiapan, biaya pengiriman awal, biaya simpan, biaya bongkar muat, biaya pemasangan, biaya profesional seperti arsitek dan insinyur.

Dalam praktek bisnis, ada beberapa cara perolehan aktiva tetap serat ketentuan pencatatan nilai perolehan yaitu:

1. Jika aset diperoleh dengan cara gabungan, maka nilai perolehan ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan tersebut berdasarkan perbandingan nilai wajar masing-masing aset.

2. Jika aset diperoleh dengan pertukaran yang tidak serupa maka nilai perolehan dihitung dari nilai wajar aset yang ditukar/diperoleh.

3. Jika aset diperoleh dengan pertukaran yang serupa, nilai perolahan adalah jumalah yang tercatat dalam aset tersbut.

4. Jika diproleh dari sumbangan, dicatat seberapa besar harga pasar layak dengan mengkreditkan akun “modal donasi”.

Ada beberapa metode penyusutan berdasarkan standar akuntansi keuangan dapat dikelompokkan menurut kriteria berikut:

a. Berdasarkan waktu

1. Metode garis laris lurus (straight line method)

Metode ini biasanya dipakai untuk menghitung beban penyusutan aset tetap seperti gedung. Beban penyusutan dalam metode ini setiap periode sama besarnya yang diperoleh dengan cara harga perolehan aset tetap yang bersangkutan dikurangi dengan nilai sisa kemudian dibagi dengan masa manfaat.

Dalam metode ini aset tetap dianggap sama penggunanya sepanjang waktu. Sehingga penyusutannya dihitung sama rata. Metode ini dihitung sebagai berikut :

D = C – S n

Keterangan : D = Beban penyusutan per periode C = Harga perolehan

S = Nilai sisa n = Masa Manfaat

2. Metode jumlah angka tahun (sum of years digits method)

Beban penyusutan yang dihasilkan dalam periode ini juga tidak sama perperiodenya. Perhitungan beban penyusutannya didasarkan pada angka-angka tahun. Beban penyusutan per tahun dihitung dengan cara jumlah angka-angka dikalikan dengan harga perolehan setelah dikurangi dengan nilai sisa. Angka-angka tahun diperoleh dengan cara menjumlahkan masa manfaat aset tetap yang bersangkutan perhitungan yang dapat dirumuskan sebagai

berikut: Beban penyusutan pertahun = angka tahun x (harga perolehan – nilai sisa) Jumlah angka tahun = 1+2+3+n (sesuai dengan masa manfaatnya)

Beban penyustan diperoleh dengan cara mengalikan dasar penyusutan dengan suatu bilangan pecahan. Beban penyusutan pada awal pemakaian lebih besar dikarenakan aktiva pada umur awalnya dianggap performance yang lebih besar pada perusahaan.

Rumus metode ini :

(n + 1) x n 2

3. Metode saldo menurun ganda (Double declining balance method)

Metode saldo menurun ini sering pula disebut denga metode persentase dari nilai buku, karena penyusutan aset tetap setiap periode dihitung berdasarkan tarif tertentu dikalikan dengan nilai buku aktiva pada masing-masing periode, dan biasanya tarif penyusutan yang digunakan adalah dua kali tarif metiode garis lurus. Oleh karena itu, beban penyusutan semakin lama semakin menurun.

Rumus Metode ini :

Beban penyusutan pe periode = % Penyusutan x Nilai buku

% Penyusutan = 100 x 2 x 1 % Masa manfaat

b. Berdasarkan penggunaan

1) Metode jam jasa (service hours method)

Beban penyusutan dihitung dengan penggunaan jam kerja aset itu yang dipakai dalam berproduksi

Beban penyusutan perjam dihitung sebagai berikut : C-S

Taksiran jam kerja produktif seluruhnya

2) Metode jumlah unit produksi (Productive output method)

Metode ini menghasilkan jumlah beban penyusutan yang berbeda-beda menurut jumlah penggunaan aset dimana untuk menerapkan metode ini umur aset dinyatakan dalam satuan jumlah unit hasil produksi. Beban penyusutan dihitung berdasarkan tarif penyusutan per unit dikalikan dengan jumlah unit yang dihasilkan dalam periode yang bersangkutan.

Rumus metode ini:

Tingkat penyusutan per output = C-S

Total taksiran poutput

c. Berdasarkan kriteria lainnya

1) Metode berdasarkan tarif kelompok/gabungan

Metode ini merupakan cara perhitungan penyusutan untuk kelompok aset tetap sekaligus. Metode ini adalah metode garis lurus yang diperhitungka terhadap sekolompok aset. Apabila aset yang dimiliki mempunyai umur dan fungsi yang berbeda, maka aset ini bisa dibagi-bagi menjadi beberapa kelompok, untuk masing-masing fungsi.

2) Dalam metode ini aset tetap dianggap sebagai aset yang akan memberikan kontribusi selama umur teknisnya. Harga perolehannya dianggap sebagai Present value yang di diskontokan dari jasa yang akan diberikan secara

merata selama umur teknisnya.

Rumus metode ini:

Harga pokok – Present Value nilai residu PVIFni

3) Sistem persediaan

Metode ini memerlukan penilaian aset tetap pada akhir periode. Untuk menghitung beban penyusutan maka caranya yaitu nilai persediaan awal ditambah dengan semua pembelian dalam periode tersebut kemudian dikurangi dengan nilai persediaan akhir aset tersebut sehingga diperoleh selisih. Dan selisih itulah yang merupakan beban penyusutan untuk periode tersebut.

2. Penyusutan Menurut Undang-Undang Perpajakan

Penyusutan menurut Undang-Undang PPh no 36 tahun 2008 pasal 11 ayat (1) dan (2) pengertian penyusutan sebagai berikut:

“Pengeluaran untuk memperoleh harta yang berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun harus dibebankan sebagai biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan dengan cara mengalokasikan pengeluaran tersebut selama masa manfaat harta tersebut melalui penyusutan”

Tidak seperti pada akuntansi yang mengenal banyak metode penyusutan, dalam perpajakan hanya mengenal dua metode penyusutan yaitu seperti tercantum

dalam penjelasan undang-undang PPh No 36 Tahun 2008 pasal 11 ayat (1) dan (2) sebagai berikut:

1. Dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta tersebut (metode garis lurus / Straigh line method) atau

2. Dalam bagian-bagian yang menurun dengan cara menetapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku (metode saldo menurun atau Declining balance method)

Penggunaan metode penyusutan atas harta harus dilakukan secara taat azas.

Untuk harta berwujud berupa bangunan hanya dapat disusutkan dengan metode garis lurus atau saldo menurun. Dalam hal ini wajib pajak memilih metode saldo menurun, maka pada tahun berakhir masa manfaat nilai sisa buku aktiva yang bersangkutan harus disusutkan seluruhnya.

Masa manfaat aset berwujud diatur dalam undang-undang pasal 11 ayat 6 yaitu:

Tabel 1.1

Masa manfaat aset berwujud yang diatur dalam undang-undang pasal 11 ayat 6

Kelompok harta

3. Persamaan Dan Perbedaan Metode Penyusutan Menurut Standar Akuntansi Keuangan dan Undang-Undang Perpajakan.

a. Persamaan Penyusutan Akuntansi Komersial dan Akuntansi Fiskal 1. Aset/harta yang memberikan manfaat lebih dari satu periode tidak boleh

langsung dibebankan pada tahun pengeluarannya tetapi harus dikapitalisir dan di susutkan sesuai dengan masa manfaatnya.

2. Aset/harta yang dapat disusutkan adalah aset tetap, baik bangunan maupun bukan bangunan.

3. Tanah pada prinsipnya tidak disusutkan, kecuali jika tanah tersebut memiliki masa manfaat terbatas.

Tabel 1.2

b. Perbedaan Penyusutan Akuntansi Komersil dengan Akuntansi Fiskal

Akuntansi komersil Akuntansi Fiskal

Masa Manfaat:

a. Masa manfaat ditentukan aset berdasarkan taksiran umur ekonomis maupun umur teknis b. Ditelaah ulang secara periodik c. Nilai residu bisa diperhitungkan Harga perolehan:

a. Untuk pembelian menggunakan harga sesungguhnya

b. Untuk pertukaran aset tidak sejenis menggunakan harga wajar

c. Untuk pertukaran sejenis

berdasarkan nilai buku aset yang dilepas

d. Aset sumbangan berdasarkan harga pasar

g. Sistem persediaan perusahaan yang dianggap secara konsisten dan

b. Nilai residu untuk diperhitungkan

Harga perolehan:

a. Untuk transaksi yang tidak mempunyai hubungan istimewa berdasarkan harga yang

sesungguhnya

b. Untuk transaksi yang mempunyai hubungan istemewa berdasarkan harga pasar

c. Untuk transaksi tukar-menukar adalah berdasarkan harga pasar d. Dalam rangka likuidasi, peleburan,

pemekaran, pemecahan atau penggabungan harga pasar kecuali ditentukan oleh menteri keuangan e. Jika direvaluasi adalah sebesar nilai

setelah revaluasi Metode penyusutan:

a. Untuk aset tetap bangunan adalah garis lurus

b. Untuk aset tetap bukan bangunan wajib pajak dapat memilih garis lurus atau saldo menurun ganda asal diterapkan secara taat asas Sistem penyusutan:

a. Penyusutan secara indiviual kecuali untuk peralatn kecil, boleh secara golongan

Saat dimulainya penyusutan:

a. Pada bulan perolehan

b. Dengan izin menteri keuangan dapat dilakukan pada tahun penyelesaian atau tahun mulai menghasilkan

E. Kerangka Pikir

Gambar : 1

ASET TETAP

PENYUSUTAN

ANALISIS BEBAN PENYUSUTUTAN Menurut Akuntansi

(PSAK) No. 16 (Revisi 2011)

Menurut Pajak

(Undang-UndangPerpajakan) No. 36 Tahun 2008

Metode Penyusutan Akuntansi

ANALISIS BEBAN PENYUSUTAN

Metode garis Lurus

Metode Saldo Menurun Ganda

Metode Penyusutan Fiskal

F. Hipotesis

Hipotesis yang dapat penulis ajukan pada penelitian ini adalah “Diduga terjadi perbedaan perhitungan metode penyusutan aset tetap yang dilakukan menurut Standar Akuntansi Keuangan dan Undang-Undang Perpajakan”.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penulis melakukan penelitian adalah pada PT. Pegadaian (Pegadaian) Cabang Makassar Jl. Kumala. Waktu pelaksanaan selama 1 (satu) bulan mulai dari Oktober sampai November 2015.

B. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, peneliti mengadakan pengumpulan data berikut ini:

1. Penelitian lapangan, penelitian ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

a. Observasi, yaitu pengamatan yang dilakukan penulis untuk menambah data-data yang diperoleh.

b. Wawancara, yaitu metode pengumpulan data dengan jalan melakukan wawancara langsung dengan pihak-pihak yang bersangkutan dalam organisasi.

C. Jenis dan Sumber Data

Untuk menunjukkan kelengkapan dari penelitian ini, maka penulis mencoba memperoleh data yang terdiri dari:

1. Jenis Data

a. Data Kuantitatif

Adalah data yang berbentuk angka-angka yang berguna bagi penulis dalam melaksanakan penelitiannya.

37

2. Sumber data

Data yang dikumpulkan penulis dalam penelitian ini merupakan data primer.

Data primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer dapat berupa opini subjek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian.

D. Metode Analisis

Metode penelitian yang digunakan penulis adalah deskriptif kuantitatif.

Dalam metode ini, analisis dilakukan dengan cara melakukan perhitungan penyusutan menurut Standar Akuntansi Keuangan dan menurut Undang-Undang Perpajakan.

BAB IV

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

A. Sejarah Singkat PT. Pegadaian (Persero)

Berdasarkan hasil penelitian penulis, terutama melalui penelitiankepustakaan tentang sejarah PT. Pegadaian (Persero), yaitu semenjak mulai berdirinya di Indonesia,sejarah singkat PT. Pegadaian (Persero) disajikan sebagai berikut : 1. Pegadaian pada zaman VOC (1746-1811)

Pada masa itu pegadaian dikenal dengan nama Bank Van Lenning, yang merupakan perusahaan patungan antara VOC dengan pihak swasta, dengan perbandingan modal 2/3 adalah modal Pemerintah, dalam hal ini VOC dan 1/3 adalah modal swasta. Lembaga ini sepenuhnya diusahakan oleh pemerintah, yang berjalan sampai tahun 1811.

2. Pegadaian pada masa penjajahan Inggris (1811-1816)

Pada tahun 1811 terjadi peralihan kekusaan dari pemerintah Belandakepada pemerintah Inggris. Pada masa itu Raffless menggantiBank Van Lenning dengan Licentie Stelsel, dengan maksud untuk mempersempit peranan lintah darat, yang pada waktu itu diistilahkan Woeker. Pembentukkan Licentie Stelselternyata tidak mengenai sasaran, oleh karena itu pada tahun 1814 dihapuskan dan kemudian diganti denganPachstelsel.

3. Pegadaian pada masa penjajahan Hindia Belanda (1816-1942)

Pada tahun 1816 Belanda kembali menguasai Indonesia, dan padapertengahan periode ini Pemerintah Belanda mengadakan penelitian pada tahun 1856. hasil penelitian ini menunjukkan adanya penyimpangan yang merugikan rakyat,

38

sehingga pada tahun 1870 nama Pegadaian dirubah lagi pada saat itu menjadi Licentie Stelsel, yang terus berlangsung sampai tahun 1880, sampai diganti namanya menjadi Pachstelsel kembali. Pada waktu pemerintah Belanda ini, usaha di bidang kredit gadai menjadi monopoli pemerintah, dengan status sebagai jawatan, yang bernaung di bawah Departemen Keuangan.

4. Pegadaian pada masa pendudukkan Jepang (1942-1945)

Pada masa penjajahan Jepang, Pegadaian tetap menjadi instansipemerintah di bawah pengawasan kantor besar keuangan. Pada waktu itu pemerintah Jepang mengambil kesempatan untuk mengeruk kekayaan rakyat dari Pegadaian, yaitu dengan menghapuskan lelang terhadap barang-barang yang telah kadaluarsa, dan kemudian diambil dari pemerintah Jepang.

5. Zaman sesudah kemerdekaan

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, penguasaan atas Pegadaian diambil oleh Pemerintah Republik Indonesia, denganstatus sebagai Jawatan dibawah Menteri Keuangan sampai kemudian terbit Peraturan Pemerintah nomor 178 tahun 1965 diintegrasikan dalam urusan Bank Sentral Unit IV. Sejak saat itu, kegiatan perusahaan terus berjalan dan asset atau kekayaannya bertambah. Namun seiring dengan perubahan zaman, Pegadaian dihadapkan pada tuntutan kebutuhan untuk berubah pula, dalam arti untuk lebih meningkatkan kinerjanya, tumbuh lebih besar lagi dan lebih profesional

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, penguasaan atas Pegadaian diambil oleh Pemerintah Republik Indonesia, denganstatus sebagai Jawatan dibawah Menteri Keuangan sampai kemudian terbit Peraturan Pemerintah nomor 178 tahun 1965 diintegrasikan dalam urusan Bank Sentral Unit IV. Sejak saat itu, kegiatan perusahaan terus berjalan dan asset atau kekayaannya bertambah. Namun seiring dengan perubahan zaman, Pegadaian dihadapkan pada tuntutan kebutuhan untuk berubah pula, dalam arti untuk lebih meningkatkan kinerjanya, tumbuh lebih besar lagi dan lebih profesional

Dalam dokumen NAMRA NASARINA NIM (Halaman 33-0)