• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi dan Pendekatan Pengajaran Remedial

Dalam dokumen NUR ILMA NAJIB (Halaman 31-0)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Strategi dan Pendekatan Pengajaran Remedial

Pada garis besarnya ada 2 macam pendekatan yang dapat ditempuh yaitu pendekatan kuratif, preventif dan pengembangan.

Rohman Natawidjaya (2008 : 71) menjelaskan bahwa:

1. Strategi Pendekatan yang Bersifat Kuratif

Tindakan pengajaran dikatakan bersifat kuratif bilamana diberikan setelah selesainya program proses belajar dan mengajar. Tindakan tersebut dilakukan setelah melihat kenyataan bahwa adanya seseorang atau sebagian siswa bahkan sebagian besar siswa yang dipandang tidak mampu

untuk menyelesaikan program proses belajar dan mengajar yang bersangkutan secara sempurna sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Program tersebut dapat dilihat setiap kali pertemanan, setiap satuan unit pelajaran, atau satuan waktu (mingguan, bulanan bahkan triwulan atau semesteran). Dengan ciri-ciri yang telah dikemukakan di depan, yaitu antara lain prestasi di bawah rata-rata kelas, bahkan siswa yang mempunyai prestasi tinggi di atas rata-rata juga perlu mendapatkan perhatian dengan memberikan tambahan pelajaran ekstra. Sebab selain untuk meningkatkan prestasi secara optimal, juga untuk menyalurkan kepada kesibukan. Karena siswa ini lebih cepat menyelesaikan tugas dibandingkan dari temannya.

Selama menanti teman-teman lain yang sedang bekerja atau menyelesaikan tugas berikan tambahan, kalau tidak dia mungkin sekali akan mengganggu teman yang bekerja, atau berkeliaran. Yang jelas prestasi atau kemampuan yang dimiliki lebih tersebut akan ditingkatkan secara maksimal. Justru di kelas-kelas anak yang demikian kurang mendapatkan perhatian guru kelas / bidang studi.

Untuk dapat mencapai sasaran tersebut beberapa tehnik yang dipergunakan dengan pendekatan : pengulangan (repotition), pengayaan (enrichment), dan pengukuhan (Re inforcement) serta pencepatan (acceleration).

Adapun pelaksanaannya menurut Agus Supriyanto (2010 : 52) yaitu:

a. Pengulangan (Repetition)

Pelaksanaannya dapat dilakukan pada tiap akhir jam pelajaran, tiap akhir unit (satuan) pelajaran tertentu, maupun setiap akhir pokok bahasan.

Sasaran dapat diberikan kepada perorangan (individual maupun kelompok, tergantung kepada kebutuhan.

Sedangkan waktu penyampaiannya dapat diberikan sesudah pelajaran selesai maupun di luar jam pelajaran. Misalnya pada sore hari.

Sering kita lihat ada sementara guru yang memberikan pelajaran tambahan/ulangan pada waktu sore hari pada murid tertentu.

Cara lain yang dapat diberikan melalui “kelas remedial” yaitu khusus bagis siwa yang memerlukan bantuan tersendiri lantaran rendah prestasi. Siswa lainnya melaukan proses belajar secara biasa.

b. Pengayaan dan Pengukuhan (Enrichment dan Reinforcement)

Sasarannya ditujukan kepada siswa yang mempunyai kelemahan ringan atau bahkan siswa yang mempunyai kemampuan tinggi. Materi yang diberikan yaitu yang masih ada kaitannya (ekuivalen). Dengan materi pokok atau dapat juga merupakan tambahan (suplementer) sehingga akan memperoleh cakrawala yang lebih luas dari materi tersebut. Dengan demikian bagi siwa yang berkemampuan lebih mempunyai kesibukan yang bersifat positif. Baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya, sedang kemampuannya dapat ditingkatkan secara optimal.

Pelaksanaannya dapat dengan memberikan tugas-tugas (take home) bakat siswa yang lemah dengan dikerjakan di rumah atau tambahan pada

saat temannya yang lain sedang mengikuti pelajaran utama, mereka yang berkemampuan lebih mendapat tugas tambahan. Setelah selesai tugas tersebut sebaiknya diperiksa oleh guru.

c. Percepatan (acceleration, akselerasi)

Cara lain yang dapat diberikan kepada siswa berbakat tetapi menunjukkan kesulitan emosional dapat dengan memberikan promosi penuh atau maju berkelanjutan (continues progres). Pelaksanaannya dapat diberikan pelajaran untuk tingkat yang lebih tinggi / semester di atasnya.

Dahulu pernah kita dengan ada siswa yang naik kelas sebelum waktu setahun, sedangkan siswa lain naiknya setiap akhir tahun. Begitupun pada perguruan Tinggi yang telah menerapkan SKS murni dapat memberi kesempatan pada siswa untuk mengambil kredit lebih banyak sehingga mungkin dapat menyelesaikan program lebih cepat. Sayangnya sistim di sekolah lanjutan hal tersebut masih jarang.

Ketiga cara pendekatan tersebut dapat dipergunakan secara baik.

Oleh guru, maka kesulitan yang dihadapi para siswa secara kuratif dapat diatasi hasil karya tambahan tersebut perlu dibukukan dalam kemajuan akademik siswa sehingga dapat merupakan bahan masukan untuk menentukan prestasi akademiknya. Hal ini akan merupakan tambahan motivasi bagi siswa tersebut.

2. Strategi Pendekatan Bersifat Preventif

Pada pendekatan kuratif ditujukan pada siswa yang secara nyata telah mempunyai kesulitan tertentu, sedangkan pada pendekatan preventif ditujukan kepada siswa yang diperkirakan mempunyai kesulitan berdasarkan informasi yang diperoleh. Sehingga langkah ini merupakan antisipasi atau pencegahan agar apa yang mungkin terjadi dapat dicegah. Sehingga pendekatan tersebut disebut juga sebagai pencegahan. Siswa yang digolongkan dalam usaha tersebut adalah mereka yang diperkirakan dapat menyelesaikan program belajar lebih cepat dari waktu yang direncanakan, atau mereka yang diperkirakan akan lebih lambat dari waktu yang telah diprogramkan. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara kelompok maupun secara individual tergantung pada siswanya.

3. Strategi Pendekatan Pengajaran Remedial bersifat Pengembangan

Pengembangan (developmental) pada dasarnya pendekatan kuratif diberikan sesudah berlangsungnya proses belajar pendekatan preventif dilakukan sebagai tindak lanjut dari perkiraan sebelum terjadinya kesulitan belajar, maka pada pengembangan merupakan tindak lanjut yang dilakukan selama proses belajar berlangsung (during teaching diagnostik). Tujuan utamanya adalah agar siswa dapat segera mengatasi hambatan atau kesulitan yang mungkin akan dialaminya. Pelaksanaannya dapat diberikan berupa pemberian self instructional audio, modul, tutorial dan sebagainya.

Pendekatan kuratif merupakan tindak lanjut dari post-teaching diagnoctis, sedangkan pendekatan pengembangan tindak lanjut dari during-teaching diagnostic atau diagnostic yang dilakukan guru selama berlangsung program proses belajar dan mengajar. Strategi pendekatan ini mempunyai sasaran pokok agar siswa dapat segera mengatasi hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dialami selama melaksanakan kegiatan proses belajar dan mengajar. Agar pendekatan ini dapat dioperasionalkan secara teknis dan sistematis, maka diperlukan adanya pengorganisasian program proses belajar dan mengajar dalam bentuk pengajaran berprogram, sistem pengajaran modul dan sebagainya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemberian remedial dilaksanakan dengan menggunakan strategi pendekatan kuratif, strategi pendekatan preventif dan strategi pendekatan yang bersifat pengembangan.

D. Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Zakiah Daradjad (2007 : 172) mengemukakan bahwa:

Pendidikan Agama Islam berkenaan dengan tanggung jawab bersama. Oleh sebab itu usaha yang secara sadar dilakukan oleh guru mempengaruhi siswa dalam rangka pembentukan manusia beragama yang diperlukan dalam pengembangan kehidupan beragama dan sebagai salah satu sarana pendidikan nasional dalam rangka meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Selanjutnya Haidar Putra Daulay (2008 : 143), mengemukakan bahwa:

Pendidikan Agama Islam pada dasarnya adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi Muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmani maupun rohani.

Dari beberapa definisi di atas, maka dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud Pendidikan Agama Islam adalah suatu aktivitas atau usaha-usaha tindakan dan bimbingan yang dilakukan secara sadar dan sengaja serta terencana yang mengarah pada terbentuknya kepribadian anak didik yang sesuai dengan norma-norma yang ditentukan oleh ajaran agama.

Pendidikan Agama Islam juga merupakan upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya yaitu kitab suci Alquran dan Al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.

Dari pengertian di atas terbentuknya kepribadian yakni pendidikan yang diarahkan pada terbentuknya kepribadian Muslim. kepribadian Muslim adalah pribadi yang ajaran Islam nya menjadi sebuah pandangan hidup, sehingga cara berpikir, merasa, dan bersikap sesuai dengan ajaran Islam.

Dengan demikian Pendidikan Agama Islam itu adalah usaha berupa bimbingan, baik jasmani maupun rohani kepada anak didik menurut ajaran Islam, agar kelak dapat berguna menjadi pedoman hidupnya untuk mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam.

a. Dasar Pendidikan Agama Islam

Dasar adalah landasan tempat berpijak atau tempat tegaknya sesuatu. Dalam hubungannya dengan Pendidikan Agama Islam, dasar-dasar itu merupakan pegangan untuk memperkokoh nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Adapun yang menjadi dasar dari Pendidikan Agama Islam adalah Alquran yang merupakan kitab suci bagi kita umat Islam yang tentunya terpelihara keaslian nya dari tangan-tangan yang tak bertanggung jawab dan tidak ada keraguan di dalamnya, sebagaimana Firman Allah Swt dalam Alquran yaitu Q.S Al-Baqarah (2) : 2 sebagai berikut:



Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Departemen Agama RI (2009 : 8)

Alquran sebagai kitab suci telah dipelihara dan dijaga kemurniannya oleh Allah Swt dari segala sesuatu yang dapat merusaknya sepanjang masa

dari sejak diturunkannya sampai hari kiamat kelak, hal ini di terangkan dalam Q.S (Al-Hijr (15) : 9 sebagai berikut:



Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. Departemen Agama RI (2009 : 391)

Al-Hadits merupakan perkataan ataupun perbuatan Nabi Muhammad SAW yang memberikan gambaran tentang segala sesuatu hal, yang juga dijadikan dasar dan pedoman dalam Islam, dan sebagai umat Islam kita harus mentaati apa yang telah di sunnahkan Rasulullah dalam Hadistnya, hal ini di jelaskan dalam Alquran surat An-Nisa (4) ayat 80.



Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

Departemen Agama RI (2009 : 132)

Seperti halnya Alquran, Hadis juga berisi ajaran tentang akidah, syariat dan petunjuk-petunjuk untuk kemaslahatan manusia dalam segala aspek kehidupannya untuk membina umat menjadi manusia yang paripurna.

Dengan demikian, maka sangat absah bila dikatakan bahwa Rasulullah saw.

adalah sebagai guru atau pendidik utama dan pertama, dan segala amalan

atau perbuatan yang dikerjakan Nabi saw. Dalam proses perubahan sikap hidup sehari-hari menjadi sumber atau dasar pendidikan Islam. Sebab Allah Swt. telah menjadikan Muhammad sebagai teladan bagi umatnya.

b. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan Pendidikan Agama Islam identik dengan tujuan agama Islam, karena tujuan agama adalah agar manusia memiliki keyakinan yang kuat dan dapat dijadikan sebagai pedoman hidupnya yaitu untuk menumbuhkan pola kepribadian yang bulat dan melalui berbagai proses usaha yang dilakukan.

Dengan demikian tujuan Pendidikan Agama Islam adalah suatu harapan yang diinginkan oleh pendidik Islam itu sendiri.

Zakiah Daradjad (2007 : 174) mendefinisikan tujuan Pendidikan Agama Islam sebagai berikut:

Tujuan Pendidikan Agama Islam yaitu membina manusia beragama berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin pada sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya, dalam rangka mencapai kebahagiaan dan kejayaan dunia dan akhirat. Yang dapat dibina melalui pengajaran agama yang intensif dan efektif.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah sebagai usaha untuk mengarahkan dan membimbing manusia dalam hal ini peserta didik agar mereka mampu menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt, serta meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan mengenai Agama Islam, sehingga menjadi manusia Muslim, berakhlak mulia dalam kehidupan baik

secara pribadi, bermasyarakat dan berbangsa dan menjadi insan yang beriman hingga mati dalam keadaan Islam.

3. Fungsi Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam mempunyai fungsi sebagai media untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Swt, serta sebagai wahana pengembangan sikap keagamaan dengan mengamalkan apa yang telah didapat dari proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

Zakiah Daradjad (2007 : 175) berpendapat bahwa :

Sebagai sebuah bidang studi di sekolah, pengajaran agama Islam mempunyai tiga fungsi, yaitu: pertama, menanamtumbuhkan rasa keimanan yang kuat, kedua, menanamkembangkan kebiasaan (habit forming) dalam melakukan amal ibadah, amal saleh dan akhlak yang mulia, dan ketiga, menumbuh kembangkan semangat untuk mengolah alam sekitar sebagai anugerah Allah Swt kepada manusia.

Dari pendapat diatas dapat diambil beberapa hal tentang fungsi dari Pendidikan Agama Islam di Sekolah Lanjutan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa kepada Allah Swt yang ditanamkan dalam lingkup pendidikan keluarga.

b. Pengajaran, yaitu untuk menyampaikan pengetahuan keagamaan yang fungsional

c. Penyesuaian, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat ber sosialisasi dengan lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.

d. Pembiasaan, yaitu melatih siswa untuk selalu mengamalkan ajaran Islam, menjalankan ibadah dan berbuat baik.

Disamping fungsi-fungsi yang tersebut diatas, hal yang sangat perlu di ingatkan bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan sumber nilai, yaitu

memberikan pedoman hidup bagi peserta didik untuk mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Adapun jenis penelitian adalah penelitian survei (lapangan) dengan pendekatan kualitatif dan dianalisis melalui pengamatan yang tidak berupa angka-angka melalui hasil observasi, wawancara, angket. Sehingga peneliti dapat menguraikan hasil penelitian yang telah dilakukan dalam bentuk kalimat kemudian direlevansikan dengan rujukan teori yang mendukung.

B. Lokasi dan Objek Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar. Alasan memilih lokasi tersebut yaitu untuk mengetahui hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa dengan menggunakan metode remedial langsung terhadap siswa. Objek penelitian yaitu guru dan siswa sebagai responden atau informan dalam penulisan skripsi ini.

C. Variabel Penelitian

Menurut Sutrisno Hadi (2008:224), variabel adalah yang menjadi sasaran penyelidikan dan dapat juga disebut gejala. Gejala-gejala yang menunjukkan variasi, baik dalam jenisnya maupun dalam tingkatannya

disebut variabel. Berdasarkan pendapat tersebut, maka yang menjadi variabel dalam penelitian adalah : pemberian remedial sebagai variabel bebas dan Pendidikan Agama Islam sebagai variabel terikat.

D. Defenisi Operasional Variabel

1. Pengajaran remedial adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, pengajaran yang membuat menjadi baik. Pengajaran remedial merupakan bentuk khusus pengajaran yang bermaksud untuk menyembuhkan, membetulkan atau membuat menjadi baik. Hal ini dilakukan apabila ternyata hasil yang dicapai oleh siswa tidak memuaskan, artinya siswa masih dipandang belum mencapai hasil belajar yang diharapkan, maka diperlukan suatu proses pengajaran yang dapat membantu siswa agar tercapai hasil yang diharapkan.

2. Pembelajaran pendidikan agama Islam adalah proses pengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas sebagai profesi atau usaha pendewasaan manusia melalui upaya-upaya pengajaran pendidikan agama Islam.

Dari pengertian di atas maka defenisi operasional yaitu pemberian remedial suatu bentuk khusus pengajaran yang ditujukan untuk menyembuhkan atau memperbaiki sebagian atau seluruh kesulitan belajar

yang dihadapi siswa. Perbaikan diarahkan kepada pencapaian hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan masing-masing melalui perbaikan keseluruhan proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam dan keseluruhan kepribadian siswa .

E. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Dalam suatu penelitian, penentuan populasi sangat penting dilakukan karena populasi memberikan batasan terhadap objek yang akan diteliti.

Menurut Saifuddin Azwar (2007 : 27) bahwa:

Populasi adalah semua individu yang menjadi sumber pengambilan sampel. Atau populasi adalah sejumlah kasus yang memenuhi seperangkat kriteria yang ditentukan oleh peneliti.

Berkaitan dengan ini Nana Sudjana (2010 : 84) mengemukakan : Populasi maknanya berkaitan dengan elemen yakni unit tempat diperolehnya informasi. Elemen tersebut dapat berupa individu, keluarga, rumah tangga, kelompok sosial, sekolah, kelas, organisasi dan lain-lain. Dengan kata lain populasi adalah kumpulan dari sejumlah elemen-elemen.

Dengan demikian penulis dapat menyimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan individu dalam ruang lingkup kelompok sosial atau dalam ruang lingkup organisasi yang menjadi objek penelitian, dalam hal ini dikorelasikan dengan judul skripsi yang penulis bahas. Sehubungan dengan penelitian ini, yang menjadi populasi adalah seluruh guru dan siswa yang

ada di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar. Untuk mengetahui jumlah populasi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1

Keadaan populasi guru dan siswa Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kecamatan Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar tahun ajaran 2013 /

2014

No Guru dan siswa Laki-lakiJenis KelaminPerempuan Jumlah

1 Guru 10 6 16

2 VII 12 7 19

3 VIII 9 11 20

IX 14 19 33

Jumlah 45 43 88

Sumber data: Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kecamatan Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar tahun ajaran 2013 / 2014

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah populasi guru dan siswa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kecamatan Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar tahun ajaran 2013 / 2014 adalah 88 orang.

2. Sampel

Dalam suatu penelitian, sebaiknya meneliti keseluruhan individu yang ada dalam populasi, tetapi bila populasi penelitian sangat banyak, dan populasi tersebut dapat diwakili oleh anggota populasi lainnya, maka penelitian dapat dilakukan terhadap sebagian dari jumlah populasi. Selain itu,

pertimbangan lain yang perlu dipikirkan adalah biaya, waktu dan tenaga yang digunakan.

Dengan meneliti sebagian populasi, penulis mengharapkan bahwa hasil yang diperoleh akan menggambarkan validitas atau sifat populasi yang bersangkutan.

Defenisi sampel diungkapkan oleh Sutrisno Hadi (2008: 221) bahwa : Sampel adalah sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi. Juga sampel harus mempunyai paling sedikit sifat yang sama, baik sifat kodrat, maupun sifat pengkhususan.

Syaifuddin Azwar (2008 : 117)

Sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki sifat umum populasi atau dengan kata lain sampel adalah sekelompok individu atau benda yang lebih kecil jumlah populasi yang ada dan juga dapat dikatakan bahwa sampel adalah wakil dari populasi.

Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2009: 15) bahwa:

Adapun cara pengambilan sampel dengan teknik Stratified Random Sampling yakni apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi.

Selanjutnya jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10 – 15% atau 20 – 25% atau lebih.

Karena jumlah populasi dalam penelitian ini kurang dari 100, dan berdasarkan pendapat Suharsimi Arikunto di atas, maka penelitian ini adalah

sampel penuh dimana jumlah sampel keseluruhan siwa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar adalah 72 orang.

Tabel 2

Keadaan Sampel Guru Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Ajaran 2013/2014

No Siswa/Guru Populasi Sampel

1 Siswa Kelas VII Siswa kelas VIII Siswa Kelas IX

19 20 33

19 20 33

Jumlah 72 72

Sumber data: Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Ajaran 2013 / 2014

Tabel di atas menunjukkan bahwa sampel guru dan siswa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar berjumlah 72 orang

F. Instrumen Penelitian

Dalam menentukan instrumen di dalam penelitian skripsi ini erat sekali pemahaman bahwa penelitian ini tergolong bersifat kualitatif. Karena itu dalam menentukan instrumen atau alat penelitiannya, penulis sesuaikan

dengan keadaan pembahasannya. Adapun alat instrumen tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pedoman Observasi

Observasi diartikan sebagai usaha mengamati fenomena-fenomena yang akan diselidiki baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung dengan memfungsikan secara alat indera dari pengamat untuk mendapatkan informasi dan data yang akan diperlukan tanpa bantuan dan alat lain.

Defenisi observasi menurut S. Margono (2005 : 159) adalah sebagai observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang banyak pada objek penelitian, pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa, sehingga observasi berada bersamaan objek yang diselidiki observasi langsung. Sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya peristiwa yang akan diselidiki, misalnya peristiwa tersebut diamati melalui film, rangkaian slide, atau rangkaian photo.

Dalam menggunakan teknik observasi baik langsung maupun tidak langsung diharapkan memfungsikan setiap slat indera untuk mendapatkan data yang lengkap dan berbobot.

2. Pedoman wawancara

Pedoman wawancara adalah pedoman dimana peneliti akan melakukan proses interaksi antara responden untuk menemukan informasi atau keterangan dengan cara langsung bertatap muka dan bercakap-cakap secara lisan dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan informasi yang diperlukan/ dibutuhkan dengan jarak yang dibutuhkan secara lisan pula.

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara sipenanya atau pewawancara dengan si pengaruh atau responden yang menggunakan alat paduan wawancara.

3. Angket.

Angket adalah suatu metode pengumpulan data dengan menyajikan sejumlah pertanyaan secara tertulis kepada responden untuk dijawab

Angket adalah kuesioner atau tidak lain dari sebuah pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan masalah penelitian dan pertanyaannya merupakan jawaban-jawaban yang mempunyai makna dan menguji hipotesa.

Dalam hal ini penulis menggunakan angket untuk memperkuat/

menguji hipotesa agar hasil penelitian yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

G. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang dilaksanakan melalui beberapa tahapan yaitu sebagai berikut:

1. Library Research (kepustakaan) Library research adalah pengumpulan data dan informasi melalui penelitian kepustakaan, yakni pengumpulan data dan informasi melalui penelitian kepustakaan, yakni penelitian terhadap buku-buku serta bacaan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah yang dibahas.

Adapun teknik yang digunakan dalam library research ini adalah sebagai berikut:

a. Kutipan langsung, yaitu kutipan suatu materi keterangan atau pun pendapat tokoh dengan tidak merubah redaksinya.

b. Kutipan tidak langsung, yaitu mengutip buat materi karangan atau pendapat tokoh dengan mengubah redaksinya dengan menggunakan ikhtiar dan ulasan sejauh tidak mengurangi maksud karangan tersebut, tetapi hanya mengutip sebagian garis-garis besarnya saja

b. Kutipan tidak langsung, yaitu mengutip buat materi karangan atau pendapat tokoh dengan mengubah redaksinya dengan menggunakan ikhtiar dan ulasan sejauh tidak mengurangi maksud karangan tersebut, tetapi hanya mengutip sebagian garis-garis besarnya saja

Dalam dokumen NUR ILMA NAJIB (Halaman 31-0)

Dokumen terkait