• Tidak ada hasil yang ditemukan

NUR ILMA NAJIB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "NUR ILMA NAJIB"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH PEMBERIAN REMEDIAL LANGSUNG TERHADAP HASIL BELAJAR QUR’AN HADITS PADA SISWA DI MADRASAH TSANAWIYAH

MUHAMMADIYAH BENTENG KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) pada Jurusan Pendidikan Agama Islam

Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

NUR ILMA NAJIB 29 19 00621

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1435 H / 2014 H

(2)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Judul Skripsi : Pengaruh Pemberian Remedial Langsung Terhadap Hasil Belajar Qur’an Hadits Pada Siswa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar

Nama Penulis : Nur Ilma Najib Stambuk/NIM : 29 19 00621

Fak./Jurusan : Agama Islam/Quran Hadits

Setelah dengan seksama memeriksa dan meneliti, maka Skripsi ini dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diajukan dan dipertahankan dihadapan tim penguji ujian Skripsi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar .

6 Rabiul Awal 1435 H Makassar, ---

18 Januari 2014 M

Pembimbing I

Dr. Rusli Malli, M. Ag NBM: 738 715

Pembimbing II

Drs. Abd. Gani, M. Pd.I NBM: 735 504

(3)

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Dengan penuh kesadaran, penulis/peneliti yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya penulis sendiri. Jika dikemudian hari terbukti bahwa skripsi ini merupakan duplikat, tiruan, plagiat dibuat atau dibantu secara keseluruhan, maka skripsi dan gelar yang diperoleh karenanya batal demi hukum.

6 Rabiul Awal 1435 H Makassar, ---

18 Januari 2014 M

Nur Ilma Najib

(4)

PRAKATA

Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah rabbil alamin atas segala limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, serta salawat dan salam atas junjungan Nabiullah Muhammad Saw.

Dalam penyusunan skripsi yang berjudul “Pengaruh Pemberian Remedial Langsung Terhadap Hasil Belajar Qur’an Hadits Pada Siswa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar” penulis tidak dapat menyelesaikan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Oleh karena itu, melalui kesempatan ini, penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan yang diberikan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.

Banyak kendala yang dihadapi oleh penulis dalam rangka penyusunan skripsi ini, tetapi berkat bantuan berbagai pihak maka skripsi dapat penulis selesaikan pada waktunya. Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada yang terhormat:

1. Kedua orang tua penulis, yaitu ayahanda Muhammad Najib Ahmad dan ibunda Sitti Nurni yang tercinta, telah membesarkan dan mendidik penulis dengan kasih sayang, dan tak kenal lelah serta pengorbanan apapun sehingga penulis sampaikan kejenjang terakhir S1 (Strata satu), kepada keduanya penulis senantiasa memanjatkan do’a semoga Allah Swt. mengasihi dan mengampuni dosa-dosa keduanya dan menentramkan kehidupannya di dunia dan diakhirat.

2. Bapak Dr. H Irwan Akib, M.Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Drs. H. Mawardi Pewangi, M. Pd. I, Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Ibu Dra. Mustahidang Usman, M.Si Ketua Jurusan Quran Hadits Unismuh Makassar.

(5)

5. Bapak Dr. Rusli Malli, M. Ag., dan Bapak Drs. Abd. Gani, M. Pd.I pembimbing dalam penyusunan skripsi ini.

6. Bapak/Ibu para dosen yang telah mendidik dan memberikan Ilmu Pengetahuan selama ini kepada peneliti.

7. Bapak Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar beserta seluruh jajarannya yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian, serta seluruh orang tua selaku responden yang telah memberikan informasinya yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

8. Kepada saudara-saudara penulis yang telah memberikan bantuan moral maupun materil selama penulis masih dalam jenjang pendidikan.

9. Dan yang terakhir ucapan terima kasih juga disampaikan kepada mereka namanya tidak dapat penulis sebutkan satu persatu tetapi telah banyak membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

Akhirnya kepada Allah Swt kami memohon semoga semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingannya senantiasa memperoleh balasan disisi-Nya, Amin.

6 Rabiul Awal 1435 H Makassar, ---

18 Januari 2014 M Peneliti

(6)

ABSTRAK

Nur Ilma Najib, 29 19 00621 Pengaruh Pemberian Remedial Langsung Terhadap Hasil Belajar Qur’an Hadits Pada Siswa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar” (dibimbing oleh Rusli Malli dan Abd. Gani).

Penelitian ini membahas tentang pemberian remedial berpengaruh terhadap hasil belajar Quran Hadits pada siswa, hasil belajar siswa dan faktor-faktor yang menjadi kendala guru dalam pemberian remedial langsung terhadap hasil belajar Quran Hadits pada siswa Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.

Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian lapangan (Field research), yakni peneliti langsung ke lokasi untuk memperoleh data yang konkrit yang ada hubungannya dengan masalah yang akan dibahas. Metode digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif, yaitu sumber dari wawancara, observasi dan dokumentasi, guna memperoleh sesuatu kesimpulan yang betul-betul akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwapemberian remedial langsung terhadap siswa dalam proses pembelajaran berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, 27 orang atau 38% siswa yang menyatakan pemberian remedial langsung sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, 38 orang atau 52% siswa yang menyatakan pemberian remedial langsung berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, 7 orang atau 10% siswa yang menyatakan pemberian remedial langsung kurang berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, Hasil belajar Quran Hadits di Sekolah Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar sudah dikategorikan baik dengan nilai rata-rata siswa yaitu 7,36.Faktor yang menjadi kendala yaitu kurangnya minat belajar siswa untuk belajar, kurangnya motivasi orang tua dan buku-buku sebagai penunjang dalam proses belajar bidang studi Quran Hadits.

(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL . ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iii

PRAKATA ... ... iv

ABSTRAK ... ... vi

DAFTAR ISI... vii

DAFTAR TABEL ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 9

A. Konsep Dasar Pengajaran Remedial... 9

1. Pengertian Remedial... 9

2. Tujuan Pengajaran Remedial... 13

3. Fungsi Pengajaran Remedial ... 14

B. Pelaksanaan Pemberian Remedial dalam Proses Belajar Mengajar... 19

C. Strategi dan Pendekatan Pengajaran Remedial ... 22

D. Quran Hadits... 27

1. Pengertian Quran Hadits... 27

2. Dasar dan Tujuan Quran Hadits... 29

3. Fungsi Quran Hadits ... 32

BAB III METODE PENELITIAN ... 33

A. Jenis Penelitian ... 33

B. Lokasi dan Objek Penelitian ... 33

C. Variabel Penelitian ... 33

D. Defenisi Operasional Variabel... 34

E. Populasi dan Sampel ... 35

F. Instrumen Penelitian ... 38

G. Teknik Pengumpulan Data... 40

H. Teknik Analisis Data ... 42

(8)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 43

A. Selayang Pandang Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar 43 B. Pengaruh Pemberian Remedial terhadap Hasil Belajar Quran Hadits pada siswa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar ... 48

C. Hasil Belajar Siswa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar ... 56

D. Faktor-Faktor yang Menjadi Kendala Guru dalam Pemberian Remedial Langsung Terhadap Hasil Belajar Quran Hadits pada Siswa Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar... 60

BAB V PENUTUP... 65

A. Kesimpulan ... 65

B. Saran ... 66

DAFTAR PUSTAKA... 67

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Keadaan populasi guru dan siswa Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kecamatan Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar tahun ajaran 2013 / 2014 ... 36 Tabel 2 Keadaan Sampel Guru Madrasah Tsanawiyah

Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Ajaran 2013/2014 ... 37 Tabel 3 Keadaan guru/Pegawai Madrasah Tsanawiyah

Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Anggaran 2013/2014... 45 Tabel 4 Keadaan Siswa Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah

Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Anggaran 2013/2014 ... 46 Tabel 5 Sarana dan Prasarana Madrasah Tsanawiyah

Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Anggaran 2013/2014... 47 Tabel 6 Pemberian remedial langsung berpengaruh terhadap hasil belajar

siswa... 49 Tabel 7 Pernyataan siswa guru sering membantu dalam menyelesaikan

masalah dalam belajar... 50 Tabel 8 Pernyataan siswa guru mengulangi materi yang telah diajarkan ... 52 Tabel 9 Pernyataan siswa bahwa guru memberi pemahaman atau

mengevaluasi pelajaran sesuai dengan materi yang diajarkan... 53 Tabel 10 Pernyataan siswa bahwa guru membimbing siswa dalam belajar. 54 Tabel 11 Nilai Rata-Rata mata pelajaran Quran Hadits siswa

Sekolah Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan... 56 Tabel 12 Distribusi Frekwensi Hasil Belajar Quran Hadits di Sekolah

Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan... 60 Tabel 13 Pernyataan tentang Minat siswa Mempelajari Mata pelajaran

Quran Hadits ... 61

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada hakekatnya guru dalam keseluruhan proses pendidikan mempunyai tanggung jawab yang lebih luas dari peranannya sebagai pengajar. Melalui tugasnya sebagai pengajar ia bertanggung jawab untuk membantu siswa dalam mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Oleh karena itu para guru diharapkan dapat menciptakan situasi kegiatan proses belajar mengajar yang baik.

Siswa yang mengikuti pelajaran atau proses belajar berbeda-beda kemampuan inteleknya, sifatnya, keterampilannya, latar belakang keluarganya dan sebagainya. Suatu penyampaian bahan pengajaran untuk mencapai tujuan tertentu tidak dapat dianggap sekali serap terus dapat Anggapan apa yang telah diberikan secara jelas oleh guru dapat diserap mantap oleh siswanya tidak dapat terlalu diandalkan.

Oleh karena itu guru, dalam rangka proses belajar mengajar, membutuhkan suatu teknik untuk memperoleh informasi atau balikan tentang hasil pengajaran dan kelemahan-kelemahan peserta didiknya. Di samping itu guru diharapkan dapat menciptakan situasi kegiatan proses belajar mengajar yang efektif, efisien, dan relevan, sehingga siswa dapat mencapai hasil belajar yang baik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

(11)

Kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, berdasarkan jenis, karakteristik, faktor penyebab dan intensitas permasalahan kasus kesulitan belajar, mungkin ada yang dapat ditangani oleh guru dan siswa sendiri atau kerja sama dengan ahli atau pihak lainnya. Secara metodologis dapat dikatakan, bahwa penanganan kasus kesulitan belajar siswa mungkin dapat dilakukan melalui pendekatan pengajaran remedial, bimbingan dan konseling, psikoterapi atau pendekatan lainnya. Pendekatan yang seyogyanya dikuasai oleh para guru pada umumnya adalah pengajaran remedial.

Pengajaran remedial, dalam keseluruhan proses belajar mengajar memegang peranan penting, khususnya dalam rangka pencapaian hasil belajar yang optimal. Pengajaran remedial merupakan pelengkap dari proses pengajaran secara keseluruhan.

Banyak siswa yang belum menunjukkan dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan. Hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya siswa yang mendapat nilai prestasi belajar rendah, misalnya rata-rata masih di bawah ukuran yang diharapkan. Kenyataan menunjukkan pula bahwa setiap siswa mempunyai perbedaan individual dalam proses belajarnya. Ada yang berkemampuan tinggi dan ada yang kurang, ada yang cepat dan ada yang lambat, ada yang berbakat dan ada yang kurang berbakat. Selain itu setiap siswa mempunyai latar belakang dan pengalaman yang berbeda satu dengan lainnya. Dalam proses belajar mengajar pada umumnya guru

(12)

menggunakan pendekatan yang sama yang kadang-kadang melupakan perbedaan Individual Ini, sehingga setiap keunikan pribadi siswa kurang mendapat pelayanan. Hal ini dapat menyebabkan siswa mengalami kesulitan belajar. Berdasarkan hal tersebut, pengajaran remedial sangat diperlukan untuk membantu setiap pribadi siswa untuk mendapatkan kesempatan memperoleh prestasi belajar yang sesuai dengan kemampuannya.

Pada dasarnya guru bertanggung jawab atas keseluruhan proses pendidikan. Hal ini berarti bahwa guru bertanggung jawab atas tercapainya tujuan pendidikan melalui pencapaian tujuan instruksional. Dalam kenyataannya tidak semua siswa dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Terhadap siswa yang hasil belajarnya masih rendah dan belum berhasil mencapai tujuan, guru bertanggung jawab untuk membantu siswa agar dapat membantu tujuan melalui peningkatan prestasi belajar. Keberhasilan seorang guru terletak pada kemampuannya untuk melaksanakan proses belajar mengajar yang sebaik-baiknya dalam arti siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Pengajaran remedial diperlukan dalam rangka melaksanakan proses belajar mengajar yang sebenar-benarnya. Belajar yang sesungguhnya diartikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku secara keseluruhan.

Adanya gejala kesulitan belajar merupakan salah satu gambaran belum tercapainya perubahan tingkah laku secara menyeluruh. Oleh karena itu masih diperlukan proses belajar mengajar yang khusus yang dapat

(13)

membantu pencapaian kebulatan perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar. Pengajaran remedial merupakan salah satu usaha untuk mencapai perubahan tingkah laku tersebut.

Pemberian remedial pada dasarnya merupakan kelengkapan dari keseluruhan proses pendidikan. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang No.

20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyebutkan bahwa:

“Pendidikan adalah usaha sadar untuk mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi peranannya di masa dating”.

Upaya pendidikan berdasarkan pengertian tersebut mencakup bidang yang amat luas yang semuanya mengacu kepada tujuan pendidikan nasional. Upaya pendidikan secara menyeluruh meliputi tiga kegiatan, yaitu bidang bimbingan, pengajaran, dan latihan. Pada dasarnya ketiga bidang tersebut saling mengkait, saling menunjang, bahkan sering kali yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lainnya. Semua upaya pendidikan menyeluruh, lengkap dan mantap secara terpadu.

Setiap siswa akan mendapat bantuan dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan, Pengajaran remedial merupakan salah satu bentuk pelayanan bimbingan dan konseling melalui interaksi belajar mengajar yang dilakukan oleh guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Dengan demikian pengajaran

(14)

remedial menunjang pelaksanaan bimbingan terhadap siswa dengan sebaik- baiknya pelayanan bimbingan menunjang pelaksanaan pengajaran remedial.

Firman Allah SWT dalam Q.S Al-Mujaadilah (58 : 11)































































Terjemahnya:

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:

"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Departemen Agama RI, 2009 : 910)

Orang beriman dari ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak Allah itulah akan diangkat derajatnya lebih tinggi daripada orang lain. Antara iman ilmu pengetahuan terjadi hubungan fungsional yang bersifat saling memperkokoh dan saling mempengaruhi. Sehingga orang yang makin bertambah ilmu pengetahuannya, semakin bertambah kuat imannya.

Sebaliknya, semakin kuat imannya maka akan semakin mendorong untuk menambah ilmu pengetahuannya.

Kesulitan belajar yang dialami oleh siswa, berdasarkan jenis, karakteristik, faktor penyebab dan intensitas permasalahan kasus kesulitan belajar, mungkin ada yang dapat ditangani oleh guru dan siswa sendiri atau kerja sama dengan ahli atau pihak lainnya. Secara metodologis dapat

(15)

dikatakan, bahwa penanganan kasus kesulitan belajar siswa mungkin dapat dilakukan melalui pendekatan pengajaran remedial, bimbingan dan konseling, psikoterapi atau pendekatan lainnya. Pendekatan yang seyogyanya dikuasai oleh para guru pada umumnya adalah pengajaran remedial.

Pengajaran remedial, dalam keseluruhan proses belajar mengajar memegang peranan penting, khususnya dalam rangka pencapaian hasil belajar Pendidikan Agama Islam yang optimal. Pengajaran remedial merupakan pelengkap dari proses pengajaran secara keseluruhan.

Agar hal tersebut dapat tercapai, maka setiap kesulitan yang timbul pada diri siswa dalam belajar dapat segera diidentifikasi dan diadakan perbaikan. Hal ini berarti bahwa setiap guru dituntut kemampuannya untuk memahami dan menguasai kemampuan dalam diagnosis kesulitan belajar siswa dan pengajaran remedial.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah pemberian remedial berpengaruh terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar?

2. Bagaimana hasil belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar?

3. Faktor-faktor apakah yang menjadi kendala guru dalam pemberian remedial langsung terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam

(16)

pada siswa Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pemberian remedial berpengaruh terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.

2. Untuk mengetahui hasil belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.

3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi kendala guru dalam pemberian remedial langsung terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Lembaga Pendidikan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan semua civitas akademik untuk mengetahui pelaksanaan dalam remedial langsung pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai upaya ketuntasan belajar khususnya di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.

2. Bagi Penulis

(17)

Dapat melaksanakan tugas secara profesional dan dapat menambah pengetahuan serta wawasan baru yang nantinya akan diterapkan apabila menemui masalah dan kesulitan yang sama baik di sekolah maupun di masyarakat.

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Pengajaran Remedial 1. Pengertian Remedial

Dalam proses belajar mengajar yang menganut prinsip belajar tuntas, kegiatan pengayaan dan perbaikan merupakan dua kegiatan yang sama pentingnya. Kegiatan pengayaan tingkat kepentingannya terletak pada para siswa yang tidak mengalami kesulitan belajar atau kegagalan belajar, Bila kedua kegiatan dibandingkan maka kegiatan perbaikan adalah lebih penting, karena menyangkut masa depan siswa yang memerlukan bantuan yang berupa bantuan perlakuan pengajaran maupun yang berupa bimbingan dalam memecahkan masalah kesulitan atau kegagalan belajar.

Tubagus Ali Rahman (2010 : 3) bahwa:

Pengajaran remedial adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, pengajaran yang membuat menjadi baik. Pengajaran remedial merupakan bentuk khusus pengajaran yang bermaksud untuk menyembuhkan, membetulkan atau membuat menjadi baik. Hal ini dilakukan apabila ternyata hasil yang dicapai oleh siswa tidak memuaskan, artinya siswa masih dipandang belum mencapai hasil belajar yang diharapkan, maka diperlukan suatu proses pengajaran yang dapat membantu siswa agar tercapai hasil yang diharapkan.

Syaiful Sagala (2009 : 61) memberi definisi bahwa:

Dilihat dari arti katanya, remedial berarti menyembuhkan atau membetulkan. Dengan demikian pengajaran remedial berarti suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan yang akan membuat lebih baik.

(19)

Sedangkan Ilan Maolani (2008 : 71) mengemukakan bahwa:

Remedial berarti mengobati atau menyembuhkan atau membuat menjadi lebih baik. Sehingga pengajaran remedial merupakan suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, pengajaran yang membuat agar hasil yang dicapai lebih baik dari pengajaran yang diberikan sebelumnya.

Dari beberapa pendapat ahli di atas bahwa secara garis besarnya pengajaran ini merupakan pengajaran mengulang dari pengajaran yang telah diberikan sebelumnya terutama terhadap materi yang dianggap belum dikuasai oleh siswa. Sebab hasil yang telah dicapai belum memuaskan, yang dapat diperbaiki adalah semua bidang studi yang dianggap kurang baik hasilnya seperti matematika, Biologi, Fisika, dan Pendidikan Agama Islam.

Dalam menyembuhkan kesulitan belajar siswa, secara tidak langsung akan membantu kesulitan atau masalah yang dihadapi oleh siswa yaitu masalah pribadinya. Sehingga pengajaran remedial juga bersifat therapy, Artinya memberikan terapi masalah pribadi yang dialami oleh siswa, sebab suatu kesulitan belajar tidak akan terlepas dari masalah pribadi.

Proses pengajaran remedial sifatnya khusus, karena disesuaikan dengan karakteristik kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Proses bantuan lebih ditekankan pada usaha perbaikan cara belajar, cara mengajar, menyesuaikan materi pelajaran, penyembuhan hambatan-hambatan yang dihadapi. Jadi dalam pengajaran remedial yang disembuhkan, yang diperbaiki, dan yang dibetulkan adalah keseluruhan proses belajar mengajar yang meliputi cara belajar, metode mengajar, materi pelajaran, alat

(20)

belajar dan lingkungan yang turut serta mempengaruhi proses belajar mengajar.

Dengan pengajaran remedial, siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat dibetulkan atau disembuhkan atau diperbaiki, sehingga mencapai hasil yang diharapkan sesuai dengan kemampuannya. Kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa mungkin semua mata pelajaran, mungkin beberapa mata pelajaran, mungkin satu mata pelajaran, atau satu kemampuan khusus dari mata pelajaran tertentu.

Pembetulan atau perbaikan mungkin menyangkut sebagian besar aspek kepribadian, atau sebagian kecil atau beberapa aspek kepribadian atau segi tertentu saja. Demikian pula proses penyembuhannya bisa dalam jangka waktu lama atau sebentar. Hal tersebut bergantung dari jenis, sifat, dan latar belakang kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa.

Disamping itu pengajaran remedial mempunyai arti terapeutik, artinya dalam proses pengajaran remedial secara langsung ataupun tidak langsung juga menyembuhkan beberapa gangguan atau hambatan kepribadian yang berkaitan dengan kesulitan belajar. Dengan demikian perbaikan dalam belajar juga memperbaiki keadaan pribadi dan sebaliknya.

Lili Setiawati Usman (2006 : 103) bahwa untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, mengenai ciri-ciri pengajaran remedial, maka berikut ini dikemukakan perbandingan pengajaran remedial dan pengajaran biasa:

(21)

a. Pengajaran biasa (reguler), merupakan kegiatan pengajaran biasa sebagai program belajar mengajar di kelas dengan semua siswa Ikut berpartisipasi, sedangkan pengajaran remedial dilakukan setelah diketahui kesulitan belajar dan kemudian diberikan pelayanan khusus sesuai dengan jenis, sifat dan latar belakangnya.

b. Tujuan instruksional pengajaran reguler dilaksanakan untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan bersifat sama bagi semua siswa, sedangkan pengajaran remedial tujuan instruksional disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dihadapi siswa.

c. Metode pengajaran remedial bersifat sama untuk semua siswa, sedangkan dalam pengajaran remedial metode yang digunakan bersifat deferensial artinya disesuaikan dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan belajarnya.

d. Pengajaran reguler dilaksanakan oleh guru mata pelajaran, sedangkan pengajaran remedial dilaksanakan oleh guru mata pelajaran bekerjasama dengan pihak lain, seperti guru wali, ahli khusus dll.

e. Alat-alat pelajaran yang digunakan dalam pengajaran remedial lebih bervariasi dibandingkan dengan pengajaran biasa, dan menggunakan alat khusus, seperti tes diagnostik, sosiometri, alat- alat laboratorium dll.

f. Dalam pengajaran remedial pendekatan dan teknik yang digunakan lebih bersifat deferensial, artinya disesuaikan dengan keadaan masing- masing pribadi siswa yang akan dibantu.

g. Alat evaluasi yang digunakan dalam pengajaran reguler bersifat seragam dan kelompok, sedangkan dalam pengajaran remedial disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dihadapi siswa.

Berdasarkan uraian tersebut jelas bahwa pengertian pengajaran remedial sebagai suatu bentuk khusus pengajaran yang ditujukan untuk menyembuhkan atau memperbaiki sebagian atau seluruh kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Perbaikan diarahkan kepada pencapaian hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan masing-masing melalui perbaikan keseluruhan proses belajar mengajar dan keseluruhan kepribadian siswa.

(22)

2. Tujuan Pengajaran Remedial

Salah satu prinsip dalam sistem belajar tuntas adalah semua siswa akan dapat mencapai penguasaan tuntas tertentu terhadap bahan pelajaran yang diberikan kepadanya sesuai dengan tujuan instruksional yang hendak dicapai, asal siswa diberikan waktu yang cukup dan pelayanan yang tepat.

Dengan belajar tuntas maka proses belajar mengajar akan lebih efektif dan efisien. Dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi belajar mengajar siswa, guru dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa terdapat keanekaragaman individu siswa. Dengan keanekaragaman siswa akan menghasilkan tingkat penguasaan belajar yang beraneka ragam pula. Untuk melayani keanekaragaman individu siswa dan tingkat keberhasilan belajar tuntas, salah satu implikasinya adalah kegiatan pengajaran remedial.

Secara umum tujuan pengajaran remedial yaitu agar siswa dapat mencapai prestasi belajar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Secara khusus pengajaran remedial bertujuan agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui proses penyembuhan atau perbaikan, baik dalam segi kepribadian ataupun proses belajar siswa.

Entang M. (2007 : 94) mengemukakan secara rinci tujuan pengajaran remedial ialah agar siswa:

a. Memahami dirinya, khususnya yang menyangkut prestasi belajar, yang meliputi segi kekuatannya, kelemahannya, jenis dan sifat kesulitannya.

(23)

b. Dapat mengubah atau memperbaiki cara-cara belajar ke arah yang lebih baik sesuai dengan kesulitan yang dihadapinya.

c. Dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat.

d. Dapat mengatasi hambatan-hambatan belajar yang menjadi latar belakang kesulitannya.

e. Dapat mengembangkan sikap - sikap dan kebiasaan yang baru yang dapat mendorong tercapainya hasil belajar yang lebih baik.

f. Dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan.

Secara umum tujuan pembelajaran remedial langsung tidak berbeda dengan pembelajaran biasa, yaitu dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan namun secara khusus tujuan pembelajaran remedial langsung ini adalah agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai kriteria ketuntasan belajar yang diharapkan dengan melalui proses perbaikan.

3. Fungsi Pengajaran Remedial

Pengajaran remedial mempunyai fungsi yang sangat penting dalam keseluruhan proses belajar mengajar. Fungsi pengajaran remedial dalam proses belajar mengajar ialah korektif, pemahaman, penyesuaian, pengayaan, akselerasi dan terapeutik.

Ischak S.W dan Warji R (2009 : 107) menjelaskan fungsi remedial sebagai berikut:

a. Fungsi Korektif

Pengajaran remedial mempunyai fungsi korektif, artinya bahwa melalui pengajaran remedial dapat diadakan pembetulan atau perbaikan terhadap sesuatu yang dipandang masih belum mencapai apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses belajar mengajar.

(24)

Dalam hal ini Abu Ahmadi dan Widodo Suproyono (2006 : 169) berpendapat bahwa :

“Fungsi remedial langsung dapat diadakan pembetulan atau perbaikan, antara lain: perumusan tujuan, penggunaan metode, cara- cara belajar, materi atau alat pelajaran, evaluasi dan segi-segi pribadi.”

Dari pendapat di atas, maka remedial langsung mempunyai fungsi korektif karena dalam remedial langsung dilakukan pembetulan terhadap proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar tersebut menyangkut berbagai aspek mulai dari perumusan tujuan, penggunaan metode mengajar, materi, alat pelajaran, cara belajar, evaluasi dan kondisi pribadi siswa.

b. Fungsi pemahaman

Fungsi pemahaman adalah agar remedial langsung memungkinkan guru, siswa dan pihak-pihak lain dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap pribadi siswa.

Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2006 : 200) bahwa:

“Fungsi pemahaman artinya dari pihak guru, murid atau pihak lain dapat lebih memahami siswa”.

Dari pendapat di atas, maka dalam remedial langsung guru berusaha membantu siswa untuk memahami dirinya dalam hal jenis dan sifat kesulitan yang dialami, kelemahan serta kelebihan yang dimilikinya. Karena pemahaman ini akan membantu siswa dalam mengubah dan memperbaiki

(25)

cara belajar, memilih materi dan fasilitas belajar sehingga pada akhirnya siswa dapat melaksanakan tugas-tugas belajarnya dengan baik.

Pengajaran remedial mempunyai fungsi pemahaman, artinya bahwa pengajaran remedial memungkinkan guru, siswa dan pihak-pihak lainnya dapat- memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap pribadi siswa.

Siswa diharapkan dapat lebih memahami terhadap dirinya dengan segala aspeknya. Demikian juga guru dan pihak- pihak lainnya yang terkait dapat lebih memahami keadaan pribadi siswa.

c. Fungsi penyesuaian

Mulyadi (2007 : 36) mengemukakan bahwa:

Dimaksud fungsi penyesuaian adalah membantu siswa untuk menyesuaikan dirinya terhadap tuntutan belajar, sehingga siswa dapat belajar sesuai dengan keadaan dan kemampuan pribadinya sehingga mempunyai peluang yang besar untuk memperoleh ketuntasan belajar yang lebih baik

Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa penyesuaian remedial langsung terjadi antara siswa dengan tuntutan dalam proses belajarnya.

Artinya siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga peluang untuk mencapai hasil yang lebih baik. Tuntutan disesuaikan dengan jenis, sifat dan latar belakang kesulitan sehingga mendorong siswa untuk lebih belajar.

Pengajaran remedial mempunyai fungsi penyesuaian, artinya bahwa pengajaran remedial dapat membentuk siswa untuk lebih dapat menyesuaikan dirinya terhadap lingkungannya. Dalam pengajaran remedial

(26)

terdapat penyesuaian antara siswa dengan tuntutan dalam proses belajarnya.. Siswa dapat belajar sesuai dengan keadaan dan kemampuan pribadinya, sehingga mempunyai peluang yang lebih besar untuk memperoleh prestasi belajar yang lebih baik. Tuntutan yang diberikan kepada siswa telah disesuaikan dengan sifat, jenis, latar belakang kesulitannya, sehingga diharapkan siswa lebih terdorong untuk belajar.

Bertolak dari uraian di atas, maka dalam remedial langsung siswa dibantu untuk belajar sesuai dengan kemampuan dan keadaannya, sehingga hal ini tidak merupakan beban bagi siswa. Karena penyesuaian beban belajar itu memberikan peluang kepada siswa untuk memperoleh ketuntasan belajar yang lebih baik.

d. Fungsi pengayaan

Fungsi pengayaan menurut Mulyadi (2007 : 40) bahwa:

Dimaksudkan remedial langsung yaitu dapat memperkaya proses belajar mengajar. Bahan pelajaran yang tidak disampaikan dalam pelajaran reguler dapat diperoleh melalui remedial langsung.

Pengayaan lain adalah dalam segi metode dan alat yang dipergunakan dalam remedial langsung.

Abin Syamsuddin (2006 : 201) bahwa:

Remedial langsung dapat memperkaya proses belajar mengajar.

Pengayaan dapat melalui atau terletak dalam segi metode yang digunakan dalam perbaikan pengajaran, sehingga hasil yang diperoleh lebih banyak

Bertolak dari kedua pendapat di atas, maka pemberian remedial yaitu langsung guru berusaha membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar

(27)

dengan menambah berbagai materi pelajaran yang belum atau tidak disampaikan dalam pelajaran biasa. Di samping itu penggunaan metode mengajar serta alat pelajaran pun dikembangkan agar siswa memperoleh hasil yang lebih mendalam tentang bahan pelajaran tersebut.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengajaran remedial mempunyai fungsi pengayaan, artinya pengajaran dapat memperkaya proses belajar mengajar. Materi yang tidak disampaikan dalam pengajaran reguler dapat diperoleh melalui pengajaran remedial. Dengan demikian hasil yang diperoleh siswa dapat lebih banyak, lebih dalam, dan lebih luas, sehingga prestasi belajarnya lebih kaya.

e. Fungsi akselerasi

Fungsi akselerasi adalah agar remedial langsung dapat mempercepat proses belajar lebih dalam arti waktu maupun materi. secara langsung maupun tidak langsung pengajaran perbaikan dapat memperbaiki atau menyembuhkan kondisi pribadi yang menyimpang. Penyembuhan ini dapat menunjang pencapaian ketuntasan belajar yang lebih baik dalam mempengaruhi pribadi siswa.

Dari uraian di atas remedial langsung mengandung unsur terapeutik karena secara langsung atau tidak langsung menyembuhkan beberapa gangguan atau hambatan kepribadian siswa. Siswa yang mengalami kesulitan belajar kemungkinan dapat mengalami hambatan kepribadian, sehingga dengan membantu mengatasi kesulitan belajar berarti mengatasi

(28)

hambatan kepribadian atau sebaliknya. Pengajaran remedial mempunyai fungsi terapeutik, artinya bahwa secara langsung ataupun tidak langsung pengajaran remedial dapat menyembuhkan atau memperbaiki kondisi- kondisi kepribadian siswa yang diperkirakan menunjukkan adanya penyimpangan. Penyembuhan kondisi kepribadian dapat menunjang pencapaian prestasi belajar, dan demikian sebaliknya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemberian remedial langsung mempunyai fungsi akselerasi, artinya bahwa pengajaran remedial dapat mempercepat proses belajar, baik dalam art' waktu maupun materi.

Misalnya siswa yang tergolong lambat belajar, dapat dibantu proses belajarnya melalui pengajaran remedial.

B. Pelaksanaan Pemberian Remedial dalam Proses Belajar Mengajar Pemberian remedial merupakan salah satu tahapan kegiatan utama dalam keseluruhan kerangka pola layanan bimbingan belajar, serta merupakan rangkaian kegiatan lanjutan logis dari usaha diagnostik kesulitan belajar mengajar dalam proses belajar mengajar (PBM).

Ischak S.W dan Warji R (2009: 111) mengemukakan langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan kegiatan pemberian remedial dalam proses belajar mengajar yaitu:

1. Penelaahan kembali kasus

(29)

Langkah ini merupakan tahapan paling fundamental dalam pengajaran remedial karena merupakan landasan pangkal tolak langkah- langkah kegiatan berikutnya. Sasaran pokok kegiatan ini adalah:

a. diperolehnya gambaran yang lebih definitif mengenai karakteristik kasus berikut permasalahannya.

b. Diperolehnya gambaran yang lebih definitif mengenai feasibilitas alternatif tindakan remedial yang direkomendasikan.

Sesuai sasaran tersebut maka kegiatan dalam langkah ini difokuskan kepada suatu analisis rasional atas dianostik yang telah kita lakukan atau rekomendasikan yang kita terima dari pihak (guru pembimbing), dan sebagainya. Secara lebih konkrit analisis ini akan merupakan kegiatan pengecekan atau penelitian kembali terhadap:

a. kebenaran dan kelengkapan data yang mendukung pernyataan atau deskripsi tentang karakteristik kasus berikut permasalahannya.

b. Relevansi antara tafsiran dan kesimpulan yang dibuat dengan data pendukungnya, serta konsistensi antara berbagai data antara berbagai data dengan tafsiran dan kesimpulannya satu sama lain secara integral.

c. Ketepatan estimasi kemungkinan penanganannya berdasarkan hasil diagnosa yang didukung oleh data yang relevan dan tersedia.

d. Feasibilitas dari setiap alternatif tindakan remedial yang direkomendasikan.

(30)

2. Menentukan alternatif pilihan tindakan

Sasaran pokok kegiatan yang dilakukan dalam tahapan ini ialah membuat keputusan pilihan alternatif mana yang ditempuh berdasarkan pertimbangan rasional yang seksama. Sebagai dasar pertimbangan yang fundamental dalam proses pengambilan keputusan ini, harus memperhatikan prinsip-prinsip efektivitas, efisiensi dan keserasian. Pertimbangan lain seperti etika dan tanggung jawab moral kemanusiaan, tanggung jawab administrasi tanggung jawab profesional juga turut mewarnai keputusan yang akan diambil.

3. Layanan Bimbingan dan Konseling

Langkah ketiga ini pada dasarnya bersifat pilihan bersyarat ditinjau dan segi keseluruhan prosedur pengajaran remedial. Oleh karena itu sasaran pokok yang hendak dicapai oleh layanan ini ialah terciptanya kesehatan mental kasus, dalam arti terbebas dari hambatan dan ketegangan batinnya, untuk kemudian siap sedia kembali melakukan kegiatan belajar secara wajar dan realistis

4. Melaksanakan pengajaran remedial

Dengan terciptanya prakondisi tersebut di atas, langkah keempat Ialah pelaksanaan pengajaran remedial. Sasaran pokok dari pengajaran remedial ialah tercapainya peningkatan prestasi dan penyesuaian diri sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditetapkan.

5. Mengadakan pengukuran prestasi belajar kembali

(31)

Setelah selesai dilakukan pengajaran remedial, dideteksi ada tau tidaknya perubahan pada diri siswa. Oleh karena itu perlu diadakan pengukuran kembali. Hasil pengukuran akan memberikan Informasi seberapa jauh atau seberapa besar perubahan itu telah terjadi, baik dalam artian kuantitatif maupun kualitatif, Cara dan instrumen yang digunakan untuk mengadakan pengukuran sama dengan yang digunakan pada waktu post test sumatif dari proses belajar mengajar utama.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prosedur pelaksanaan pemberian remedial langsung dalam proses belajar mengajar yaitu melakukan penelaahan kembali kasus, melakukan alternatif pilihan tindakan, layanan bimbingan dan konseling, melaksanakan pengajaran remedial, mengadakan pengukuran prestasi belajar kembali.

C. Strategi dan Pendekatan Pengajaran Remedial

Pada garis besarnya ada 2 macam pendekatan yang dapat ditempuh yaitu pendekatan kuratif, preventif dan pengembangan.

Rohman Natawidjaya (2008 : 71) menjelaskan bahwa:

1. Strategi Pendekatan yang Bersifat Kuratif

Tindakan pengajaran dikatakan bersifat kuratif bilamana diberikan setelah selesainya program proses belajar dan mengajar. Tindakan tersebut dilakukan setelah melihat kenyataan bahwa adanya seseorang atau sebagian siswa bahkan sebagian besar siswa yang dipandang tidak mampu

(32)

untuk menyelesaikan program proses belajar dan mengajar yang bersangkutan secara sempurna sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Program tersebut dapat dilihat setiap kali pertemanan, setiap satuan unit pelajaran, atau satuan waktu (mingguan, bulanan bahkan triwulan atau semesteran). Dengan ciri-ciri yang telah dikemukakan di depan, yaitu antara lain prestasi di bawah rata-rata kelas, bahkan siswa yang mempunyai prestasi tinggi di atas rata-rata juga perlu mendapatkan perhatian dengan memberikan tambahan pelajaran ekstra. Sebab selain untuk meningkatkan prestasi secara optimal, juga untuk menyalurkan kepada kesibukan. Karena siswa ini lebih cepat menyelesaikan tugas dibandingkan dari temannya.

Selama menanti teman-teman lain yang sedang bekerja atau menyelesaikan tugas berikan tambahan, kalau tidak dia mungkin sekali akan mengganggu teman yang bekerja, atau berkeliaran. Yang jelas prestasi atau kemampuan yang dimiliki lebih tersebut akan ditingkatkan secara maksimal. Justru di kelas-kelas anak yang demikian kurang mendapatkan perhatian guru kelas / bidang studi.

Untuk dapat mencapai sasaran tersebut beberapa tehnik yang dipergunakan dengan pendekatan : pengulangan (repotition), pengayaan (enrichment), dan pengukuhan (Re inforcement) serta pencepatan (acceleration).

Adapun pelaksanaannya menurut Agus Supriyanto (2010 : 52) yaitu:

a. Pengulangan (Repetition)

(33)

Pelaksanaannya dapat dilakukan pada tiap akhir jam pelajaran, tiap akhir unit (satuan) pelajaran tertentu, maupun setiap akhir pokok bahasan.

Sasaran dapat diberikan kepada perorangan (individual maupun kelompok, tergantung kepada kebutuhan.

Sedangkan waktu penyampaiannya dapat diberikan sesudah pelajaran selesai maupun di luar jam pelajaran. Misalnya pada sore hari.

Sering kita lihat ada sementara guru yang memberikan pelajaran tambahan/ulangan pada waktu sore hari pada murid tertentu.

Cara lain yang dapat diberikan melalui “kelas remedial” yaitu khusus bagis siwa yang memerlukan bantuan tersendiri lantaran rendah prestasi. Siswa lainnya melaukan proses belajar secara biasa.

b. Pengayaan dan Pengukuhan (Enrichment dan Reinforcement)

Sasarannya ditujukan kepada siswa yang mempunyai kelemahan ringan atau bahkan siswa yang mempunyai kemampuan tinggi. Materi yang diberikan yaitu yang masih ada kaitannya (ekuivalen). Dengan materi pokok atau dapat juga merupakan tambahan (suplementer) sehingga akan memperoleh cakrawala yang lebih luas dari materi tersebut. Dengan demikian bagi siwa yang berkemampuan lebih mempunyai kesibukan yang bersifat positif. Baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya, sedang kemampuannya dapat ditingkatkan secara optimal.

Pelaksanaannya dapat dengan memberikan tugas-tugas (take home) bakat siswa yang lemah dengan dikerjakan di rumah atau tambahan pada

(34)

saat temannya yang lain sedang mengikuti pelajaran utama, mereka yang berkemampuan lebih mendapat tugas tambahan. Setelah selesai tugas tersebut sebaiknya diperiksa oleh guru.

c. Percepatan (acceleration, akselerasi)

Cara lain yang dapat diberikan kepada siswa berbakat tetapi menunjukkan kesulitan emosional dapat dengan memberikan promosi penuh atau maju berkelanjutan (continues progres). Pelaksanaannya dapat diberikan pelajaran untuk tingkat yang lebih tinggi / semester di atasnya.

Dahulu pernah kita dengan ada siswa yang naik kelas sebelum waktu setahun, sedangkan siswa lain naiknya setiap akhir tahun. Begitupun pada perguruan Tinggi yang telah menerapkan SKS murni dapat memberi kesempatan pada siswa untuk mengambil kredit lebih banyak sehingga mungkin dapat menyelesaikan program lebih cepat. Sayangnya sistim di sekolah lanjutan hal tersebut masih jarang.

Ketiga cara pendekatan tersebut dapat dipergunakan secara baik.

Oleh guru, maka kesulitan yang dihadapi para siswa secara kuratif dapat diatasi hasil karya tambahan tersebut perlu dibukukan dalam kemajuan akademik siswa sehingga dapat merupakan bahan masukan untuk menentukan prestasi akademiknya. Hal ini akan merupakan tambahan motivasi bagi siswa tersebut.

2. Strategi Pendekatan Bersifat Preventif

(35)

Pada pendekatan kuratif ditujukan pada siswa yang secara nyata telah mempunyai kesulitan tertentu, sedangkan pada pendekatan preventif ditujukan kepada siswa yang diperkirakan mempunyai kesulitan berdasarkan informasi yang diperoleh. Sehingga langkah ini merupakan antisipasi atau pencegahan agar apa yang mungkin terjadi dapat dicegah. Sehingga pendekatan tersebut disebut juga sebagai pencegahan. Siswa yang digolongkan dalam usaha tersebut adalah mereka yang diperkirakan dapat menyelesaikan program belajar lebih cepat dari waktu yang direncanakan, atau mereka yang diperkirakan akan lebih lambat dari waktu yang telah diprogramkan. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara kelompok maupun secara individual tergantung pada siswanya.

3. Strategi Pendekatan Pengajaran Remedial bersifat Pengembangan

Pengembangan (developmental) pada dasarnya pendekatan kuratif diberikan sesudah berlangsungnya proses belajar pendekatan preventif dilakukan sebagai tindak lanjut dari perkiraan sebelum terjadinya kesulitan belajar, maka pada pengembangan merupakan tindak lanjut yang dilakukan selama proses belajar berlangsung (during teaching diagnostik). Tujuan utamanya adalah agar siswa dapat segera mengatasi hambatan atau kesulitan yang mungkin akan dialaminya. Pelaksanaannya dapat diberikan berupa pemberian self instructional audio, modul, tutorial dan sebagainya.

(36)

Pendekatan kuratif merupakan tindak lanjut dari post-teaching diagnoctis, sedangkan pendekatan pengembangan tindak lanjut dari during- teaching diagnostic atau diagnostic yang dilakukan guru selama berlangsung program proses belajar dan mengajar. Strategi pendekatan ini mempunyai sasaran pokok agar siswa dapat segera mengatasi hambatan-hambatan atau kesulitan-kesulitan yang mungkin dialami selama melaksanakan kegiatan proses belajar dan mengajar. Agar pendekatan ini dapat dioperasionalkan secara teknis dan sistematis, maka diperlukan adanya pengorganisasian program proses belajar dan mengajar dalam bentuk pengajaran berprogram, sistem pengajaran modul dan sebagainya.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemberian remedial dilaksanakan dengan menggunakan strategi pendekatan kuratif, strategi pendekatan preventif dan strategi pendekatan yang bersifat pengembangan.

D. Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Zakiah Daradjad (2007 : 172) mengemukakan bahwa:

Pendidikan Agama Islam berkenaan dengan tanggung jawab bersama. Oleh sebab itu usaha yang secara sadar dilakukan oleh guru mempengaruhi siswa dalam rangka pembentukan manusia beragama yang diperlukan dalam pengembangan kehidupan beragama dan sebagai salah satu sarana pendidikan nasional dalam rangka meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

(37)

Selanjutnya Haidar Putra Daulay (2008 : 143), mengemukakan bahwa:

Pendidikan Agama Islam pada dasarnya adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi Muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmani maupun rohani.

Dari beberapa definisi di atas, maka dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud Pendidikan Agama Islam adalah suatu aktivitas atau usaha- usaha tindakan dan bimbingan yang dilakukan secara sadar dan sengaja serta terencana yang mengarah pada terbentuknya kepribadian anak didik yang sesuai dengan norma-norma yang ditentukan oleh ajaran agama.

Pendidikan Agama Islam juga merupakan upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya yaitu kitab suci Alquran dan Al- Hadits, melalui kegiatan bimbingan pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.

Dari pengertian di atas terbentuknya kepribadian yakni pendidikan yang diarahkan pada terbentuknya kepribadian Muslim. kepribadian Muslim adalah pribadi yang ajaran Islam nya menjadi sebuah pandangan hidup, sehingga cara berpikir, merasa, dan bersikap sesuai dengan ajaran Islam.

(38)

Dengan demikian Pendidikan Agama Islam itu adalah usaha berupa bimbingan, baik jasmani maupun rohani kepada anak didik menurut ajaran Islam, agar kelak dapat berguna menjadi pedoman hidupnya untuk mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

2. Dasar dan Tujuan Pendidikan Agama Islam.

a. Dasar Pendidikan Agama Islam

Dasar adalah landasan tempat berpijak atau tempat tegaknya sesuatu. Dalam hubungannya dengan Pendidikan Agama Islam, dasar-dasar itu merupakan pegangan untuk memperkokoh nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Adapun yang menjadi dasar dari Pendidikan Agama Islam adalah Alquran yang merupakan kitab suci bagi kita umat Islam yang tentunya terpelihara keaslian nya dari tangan-tangan yang tak bertanggung jawab dan tidak ada keraguan di dalamnya, sebagaimana Firman Allah Swt dalam Alquran yaitu Q.S Al-Baqarah (2) : 2 sebagai berikut:















Terjemahnya :

Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Departemen Agama RI (2009 : 8)

Alquran sebagai kitab suci telah dipelihara dan dijaga kemurniannya oleh Allah Swt dari segala sesuatu yang dapat merusaknya sepanjang masa

(39)

dari sejak diturunkannya sampai hari kiamat kelak, hal ini di terangkan dalam Q.S (Al-Hijr (15) : 9 sebagai berikut:

















Terjemahnya :

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Alquran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. Departemen Agama RI (2009 : 391)

Al-Hadits merupakan perkataan ataupun perbuatan Nabi Muhammad SAW yang memberikan gambaran tentang segala sesuatu hal, yang juga dijadikan dasar dan pedoman dalam Islam, dan sebagai umat Islam kita harus mentaati apa yang telah di sunnahkan Rasulullah dalam Hadistnya, hal ini di jelaskan dalam Alquran surat An-Nisa (4) ayat 80.

























Terjemahnya:

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

Departemen Agama RI (2009 : 132)

Seperti halnya Alquran, Hadis juga berisi ajaran tentang akidah, syariat dan petunjuk-petunjuk untuk kemaslahatan manusia dalam segala aspek kehidupannya untuk membina umat menjadi manusia yang paripurna.

Dengan demikian, maka sangat absah bila dikatakan bahwa Rasulullah saw.

adalah sebagai guru atau pendidik utama dan pertama, dan segala amalan

(40)

atau perbuatan yang dikerjakan Nabi saw. Dalam proses perubahan sikap hidup sehari-hari menjadi sumber atau dasar pendidikan Islam. Sebab Allah Swt. telah menjadikan Muhammad sebagai teladan bagi umatnya.

b. Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan Pendidikan Agama Islam identik dengan tujuan agama Islam, karena tujuan agama adalah agar manusia memiliki keyakinan yang kuat dan dapat dijadikan sebagai pedoman hidupnya yaitu untuk menumbuhkan pola kepribadian yang bulat dan melalui berbagai proses usaha yang dilakukan.

Dengan demikian tujuan Pendidikan Agama Islam adalah suatu harapan yang diinginkan oleh pendidik Islam itu sendiri.

Zakiah Daradjad (2007 : 174) mendefinisikan tujuan Pendidikan Agama Islam sebagai berikut:

Tujuan Pendidikan Agama Islam yaitu membina manusia beragama berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin pada sikap dan tindakan dalam seluruh kehidupannya, dalam rangka mencapai kebahagiaan dan kejayaan dunia dan akhirat. Yang dapat dibina melalui pengajaran agama yang intensif dan efektif.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah sebagai usaha untuk mengarahkan dan membimbing manusia dalam hal ini peserta didik agar mereka mampu menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt, serta meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan mengenai Agama Islam, sehingga menjadi manusia Muslim, berakhlak mulia dalam kehidupan baik

(41)

secara pribadi, bermasyarakat dan berbangsa dan menjadi insan yang beriman hingga mati dalam keadaan Islam.

3. Fungsi Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam mempunyai fungsi sebagai media untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Swt, serta sebagai wahana pengembangan sikap keagamaan dengan mengamalkan apa yang telah didapat dari proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

Zakiah Daradjad (2007 : 175) berpendapat bahwa :

Sebagai sebuah bidang studi di sekolah, pengajaran agama Islam mempunyai tiga fungsi, yaitu: pertama, menanamtumbuhkan rasa keimanan yang kuat, kedua, menanamkembangkan kebiasaan (habit forming) dalam melakukan amal ibadah, amal saleh dan akhlak yang mulia, dan ketiga, menumbuh kembangkan semangat untuk mengolah alam sekitar sebagai anugerah Allah Swt kepada manusia.

Dari pendapat diatas dapat diambil beberapa hal tentang fungsi dari Pendidikan Agama Islam di Sekolah Lanjutan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa kepada Allah Swt yang ditanamkan dalam lingkup pendidikan keluarga.

b. Pengajaran, yaitu untuk menyampaikan pengetahuan keagamaan yang fungsional

c. Penyesuaian, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat ber sosialisasi dengan lingkungannya sesuai dengan ajaran Islam.

d. Pembiasaan, yaitu melatih siswa untuk selalu mengamalkan ajaran Islam, menjalankan ibadah dan berbuat baik.

Disamping fungsi-fungsi yang tersebut diatas, hal yang sangat perlu di ingatkan bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan sumber nilai, yaitu

(42)

memberikan pedoman hidup bagi peserta didik untuk mencapai kehidupan yang bahagia di dunia dan di akhirat.

(43)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Adapun jenis penelitian adalah penelitian survei (lapangan) dengan pendekatan kualitatif dan dianalisis melalui pengamatan yang tidak berupa angka-angka melalui hasil observasi, wawancara, angket. Sehingga peneliti dapat menguraikan hasil penelitian yang telah dilakukan dalam bentuk kalimat kemudian direlevansikan dengan rujukan teori yang mendukung.

B. Lokasi dan Objek Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar. Alasan memilih lokasi tersebut yaitu untuk mengetahui hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada siswa dengan menggunakan metode remedial langsung terhadap siswa. Objek penelitian yaitu guru dan siswa sebagai responden atau informan dalam penulisan skripsi ini.

C. Variabel Penelitian

Menurut Sutrisno Hadi (2008:224), variabel adalah yang menjadi sasaran penyelidikan dan dapat juga disebut gejala. Gejala-gejala yang menunjukkan variasi, baik dalam jenisnya maupun dalam tingkatannya

(44)

disebut variabel. Berdasarkan pendapat tersebut, maka yang menjadi variabel dalam penelitian adalah : pemberian remedial sebagai variabel bebas dan Pendidikan Agama Islam sebagai variabel terikat.

D. Defenisi Operasional Variabel

1. Pengajaran remedial adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, pengajaran yang membuat menjadi baik. Pengajaran remedial merupakan bentuk khusus pengajaran yang bermaksud untuk menyembuhkan, membetulkan atau membuat menjadi baik. Hal ini dilakukan apabila ternyata hasil yang dicapai oleh siswa tidak memuaskan, artinya siswa masih dipandang belum mencapai hasil belajar yang diharapkan, maka diperlukan suatu proses pengajaran yang dapat membantu siswa agar tercapai hasil yang diharapkan.

2. Pembelajaran pendidikan agama Islam adalah proses pengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas sebagai profesi atau usaha pendewasaan manusia melalui upaya-upaya pengajaran pendidikan agama Islam.

Dari pengertian di atas maka defenisi operasional yaitu pemberian remedial suatu bentuk khusus pengajaran yang ditujukan untuk menyembuhkan atau memperbaiki sebagian atau seluruh kesulitan belajar

(45)

yang dihadapi siswa. Perbaikan diarahkan kepada pencapaian hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan masing-masing melalui perbaikan keseluruhan proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam dan keseluruhan kepribadian siswa .

E. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Dalam suatu penelitian, penentuan populasi sangat penting dilakukan karena populasi memberikan batasan terhadap objek yang akan diteliti.

Menurut Saifuddin Azwar (2007 : 27) bahwa:

Populasi adalah semua individu yang menjadi sumber pengambilan sampel. Atau populasi adalah sejumlah kasus yang memenuhi seperangkat kriteria yang ditentukan oleh peneliti.

Berkaitan dengan ini Nana Sudjana (2010 : 84) mengemukakan : Populasi maknanya berkaitan dengan elemen yakni unit tempat diperolehnya informasi. Elemen tersebut dapat berupa individu, keluarga, rumah tangga, kelompok sosial, sekolah, kelas, organisasi dan lain-lain. Dengan kata lain populasi adalah kumpulan dari sejumlah elemen-elemen.

Dengan demikian penulis dapat menyimpulkan bahwa populasi adalah keseluruhan individu dalam ruang lingkup kelompok sosial atau dalam ruang lingkup organisasi yang menjadi objek penelitian, dalam hal ini dikorelasikan dengan judul skripsi yang penulis bahas. Sehubungan dengan penelitian ini, yang menjadi populasi adalah seluruh guru dan siswa yang

(46)

ada di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar. Untuk mengetahui jumlah populasi dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1

Keadaan populasi guru dan siswa Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kecamatan Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar tahun ajaran 2013 /

2014

No Guru dan siswa Laki-lakiJenis KelaminPerempuan Jumlah

1 Guru 10 6 16

2 VII 12 7 19

3 VIII 9 11 20

IX 14 19 33

Jumlah 45 43 88

Sumber data: Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kecamatan Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar tahun ajaran 2013 / 2014

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa jumlah populasi guru dan siswa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kecamatan Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar tahun ajaran 2013 / 2014 adalah 88 orang.

2. Sampel

Dalam suatu penelitian, sebaiknya meneliti keseluruhan individu yang ada dalam populasi, tetapi bila populasi penelitian sangat banyak, dan populasi tersebut dapat diwakili oleh anggota populasi lainnya, maka penelitian dapat dilakukan terhadap sebagian dari jumlah populasi. Selain itu,

(47)

pertimbangan lain yang perlu dipikirkan adalah biaya, waktu dan tenaga yang digunakan.

Dengan meneliti sebagian populasi, penulis mengharapkan bahwa hasil yang diperoleh akan menggambarkan validitas atau sifat populasi yang bersangkutan.

Defenisi sampel diungkapkan oleh Sutrisno Hadi (2008: 221) bahwa : Sampel adalah sejumlah penduduk yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi. Juga sampel harus mempunyai paling sedikit sifat yang sama, baik sifat kodrat, maupun sifat pengkhususan.

Syaifuddin Azwar (2008 : 117)

Sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki sifat umum populasi atau dengan kata lain sampel adalah sekelompok individu atau benda yang lebih kecil jumlah populasi yang ada dan juga dapat dikatakan bahwa sampel adalah wakil dari populasi.

Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2009: 15) bahwa:

Adapun cara pengambilan sampel dengan teknik Stratified Random Sampling yakni apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi.

Selanjutnya jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10 – 15% atau 20 – 25% atau lebih.

Karena jumlah populasi dalam penelitian ini kurang dari 100, dan berdasarkan pendapat Suharsimi Arikunto di atas, maka penelitian ini adalah

(48)

sampel penuh dimana jumlah sampel keseluruhan siwa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar adalah 72 orang.

Tabel 2

Keadaan Sampel Guru Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Ajaran 2013/2014

No Siswa/Guru Populasi Sampel

1 Siswa Kelas VII Siswa kelas VIII Siswa Kelas IX

19 20 33

19 20 33

Jumlah 72 72

Sumber data: Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar Tahun Ajaran 2013 / 2014

Tabel di atas menunjukkan bahwa sampel guru dan siswa di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar berjumlah 72 orang

F. Instrumen Penelitian

Dalam menentukan instrumen di dalam penelitian skripsi ini erat sekali pemahaman bahwa penelitian ini tergolong bersifat kualitatif. Karena itu dalam menentukan instrumen atau alat penelitiannya, penulis sesuaikan

(49)

dengan keadaan pembahasannya. Adapun alat instrumen tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pedoman Observasi

Observasi diartikan sebagai usaha mengamati fenomena-fenomena yang akan diselidiki baik itu secara langsung maupun secara tidak langsung dengan memfungsikan secara alat indera dari pengamat untuk mendapatkan informasi dan data yang akan diperlukan tanpa bantuan dan alat lain.

Defenisi observasi menurut S. Margono (2005 : 159) adalah sebagai observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap gejala yang banyak pada objek penelitian, pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa, sehingga observasi berada bersamaan objek yang diselidiki observasi langsung. Sedangkan observasi tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya peristiwa yang akan diselidiki, misalnya peristiwa tersebut diamati melalui film, rangkaian slide, atau rangkaian photo.

Dalam menggunakan teknik observasi baik langsung maupun tidak langsung diharapkan memfungsikan setiap slat indera untuk mendapatkan data yang lengkap dan berbobot.

2. Pedoman wawancara

(50)

Pedoman wawancara adalah pedoman dimana peneliti akan melakukan proses interaksi antara responden untuk menemukan informasi atau keterangan dengan cara langsung bertatap muka dan bercakap-cakap secara lisan dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan informasi yang diperlukan/ dibutuhkan dengan jarak yang dibutuhkan secara lisan pula.

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara sipenanya atau pewawancara dengan si pengaruh atau responden yang menggunakan alat paduan wawancara.

3. Angket.

Angket adalah suatu metode pengumpulan data dengan menyajikan sejumlah pertanyaan secara tertulis kepada responden untuk dijawab

Angket adalah kuesioner atau tidak lain dari sebuah pertanyaan yang secara logis berhubungan dengan masalah penelitian dan pertanyaannya merupakan jawaban-jawaban yang mempunyai makna dan menguji hipotesa.

Dalam hal ini penulis menggunakan angket untuk memperkuat/

menguji hipotesa agar hasil penelitian yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

(51)

G. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang dilaksanakan melalui beberapa tahapan yaitu sebagai berikut:

1. Library Research (kepustakaan) Library research adalah pengumpulan data dan informasi melalui penelitian kepustakaan, yakni pengumpulan data dan informasi melalui penelitian kepustakaan, yakni penelitian terhadap buku-buku serta bacaan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah yang dibahas.

Adapun teknik yang digunakan dalam library research ini adalah sebagai berikut:

a. Kutipan langsung, yaitu kutipan suatu materi keterangan atau pun pendapat tokoh dengan tidak merubah redaksinya.

b. Kutipan tidak langsung, yaitu mengutip buat materi karangan atau pendapat tokoh dengan mengubah redaksinya dengan menggunakan ikhtiar dan ulasan sejauh tidak mengurangi maksud karangan tersebut, tetapi hanya mengutip sebagian garis-garis besarnya saja sehingga berbeda dengan aslinya.

Dalam kegiatan penelitian ini, penulis melalui jalur penelitian sesuai ketentuan yang berlaku yaitu melalui izin dari Rektor ke Pemerintah

(52)

Kabupaten Kepulauan Selayar serta penulis berusaha mencari literatur yang dapat membantu penulisan skripsi ini.

2. Penelitian lapangan, yaitu cara penghitungan data dengan jalan penulis langsung turun ke lapangan. Dalam hal ini Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar guna mengumpulkan data yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu data yang dikumpulkan ini bersifat empiris. Kemudian dalam penelitian lapangan ini penulis menggunakan teknik-teknik pengumpulan data, sebagai berikut:

1. Metode observasi yaitu penulis berusaha untuk mendapatkan gambaran dengan jalan mengamati Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.

2. Metode interview yaitu penulis mengumpulkan data dengan jalan wawancara tentang bagaimana pembentukan kedisiplinan siswa Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar

3. Metode dokumentasi yaitu pengumpulan data dengan mencatat segala data dokumentasi tersebut yang ada kaitannya dengan skripsi ini.

4. Angket adalah daftar pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh data/ keterangan tertentu dari responden.

Referensi

Dokumen terkait

Sasaran pertama adalah terwujudnya atraksi wisata yang bersaing sesuai dengan etika dan kesejahteraan satwa. Program yang menunjang keberhasilan sasaran tersebut

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian di New England (UK) yang menunjukkan bahwa sebagian besar kejadian luka tekan yang ditemui pada saat pasien masuk rumah

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) penulis menemukan ada 67 campur kode dalam Koran jawa pos bagian ekonomi bisnis edisi Oktober 2011 yang terdiri 40 word, 24

Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa kelas XI.IA.1 di MAN 1 Aceh Timur dengan penerapan model pembelajaran Probing Prompting berbasis

Kedua, bagi siswa: (1) siswa disarankan dalam mengikuti pembelajaran menulis paragraf argumentasi dengan penerapan model Think Talk Write (TTW) menggunakan

Diagram Alir Data merupakan alat pembuatan model yang memungkinkan profesional sistem untuk menggambarkan sestem sebagai suatu jaringan proses fungsional yang

Hasil studi pada tugas akhir ini adalah untuk metoda ketepatan perhitungan daya dukung fondasi dalam diperoleh bahwa peringkat pertama diduduki oleh metoda Reese & O’Neill

Pertama dari pihak wisatawan tidak perlu pengeluaran biaya, kedua keberagaman di suatu daerah bisa merupakan suatu yang menambah daya tarik dan dapat sebagai