BAB I PENDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Lembaga Pendidikan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan semua civitas akademik untuk mengetahui pelaksanaan dalam remedial langsung pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai upaya ketuntasan belajar khususnya di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar.
2. Bagi Penulis
Dapat melaksanakan tugas secara profesional dan dapat menambah pengetahuan serta wawasan baru yang nantinya akan diterapkan apabila menemui masalah dan kesulitan yang sama baik di sekolah maupun di masyarakat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Pengajaran Remedial 1. Pengertian Remedial
Dalam proses belajar mengajar yang menganut prinsip belajar tuntas, kegiatan pengayaan dan perbaikan merupakan dua kegiatan yang sama pentingnya. Kegiatan pengayaan tingkat kepentingannya terletak pada para siswa yang tidak mengalami kesulitan belajar atau kegagalan belajar, Bila kedua kegiatan dibandingkan maka kegiatan perbaikan adalah lebih penting, karena menyangkut masa depan siswa yang memerlukan bantuan yang berupa bantuan perlakuan pengajaran maupun yang berupa bimbingan dalam memecahkan masalah kesulitan atau kegagalan belajar.
Tubagus Ali Rahman (2010 : 3) bahwa:
Pengajaran remedial adalah suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, pengajaran yang membuat menjadi baik. Pengajaran remedial merupakan bentuk khusus pengajaran yang bermaksud untuk menyembuhkan, membetulkan atau membuat menjadi baik. Hal ini dilakukan apabila ternyata hasil yang dicapai oleh siswa tidak memuaskan, artinya siswa masih dipandang belum mencapai hasil belajar yang diharapkan, maka diperlukan suatu proses pengajaran yang dapat membantu siswa agar tercapai hasil yang diharapkan.
Syaiful Sagala (2009 : 61) memberi definisi bahwa:
Dilihat dari arti katanya, remedial berarti menyembuhkan atau membetulkan. Dengan demikian pengajaran remedial berarti suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan yang akan membuat lebih baik.
Sedangkan Ilan Maolani (2008 : 71) mengemukakan bahwa:
Remedial berarti mengobati atau menyembuhkan atau membuat menjadi lebih baik. Sehingga pengajaran remedial merupakan suatu bentuk pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, pengajaran yang membuat agar hasil yang dicapai lebih baik dari pengajaran yang diberikan sebelumnya.
Dari beberapa pendapat ahli di atas bahwa secara garis besarnya pengajaran ini merupakan pengajaran mengulang dari pengajaran yang telah diberikan sebelumnya terutama terhadap materi yang dianggap belum dikuasai oleh siswa. Sebab hasil yang telah dicapai belum memuaskan, yang dapat diperbaiki adalah semua bidang studi yang dianggap kurang baik hasilnya seperti matematika, Biologi, Fisika, dan Pendidikan Agama Islam.
Dalam menyembuhkan kesulitan belajar siswa, secara tidak langsung akan membantu kesulitan atau masalah yang dihadapi oleh siswa yaitu masalah pribadinya. Sehingga pengajaran remedial juga bersifat therapy, Artinya memberikan terapi masalah pribadi yang dialami oleh siswa, sebab suatu kesulitan belajar tidak akan terlepas dari masalah pribadi.
Proses pengajaran remedial sifatnya khusus, karena disesuaikan dengan karakteristik kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Proses bantuan lebih ditekankan pada usaha perbaikan cara belajar, cara mengajar, menyesuaikan materi pelajaran, penyembuhan hambatan-hambatan yang dihadapi. Jadi dalam pengajaran remedial yang disembuhkan, yang diperbaiki, dan yang dibetulkan adalah keseluruhan proses belajar mengajar yang meliputi cara belajar, metode mengajar, materi pelajaran, alat
belajar dan lingkungan yang turut serta mempengaruhi proses belajar mengajar.
Dengan pengajaran remedial, siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat dibetulkan atau disembuhkan atau diperbaiki, sehingga mencapai hasil yang diharapkan sesuai dengan kemampuannya. Kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa mungkin semua mata pelajaran, mungkin beberapa mata pelajaran, mungkin satu mata pelajaran, atau satu kemampuan khusus dari mata pelajaran tertentu.
Pembetulan atau perbaikan mungkin menyangkut sebagian besar aspek kepribadian, atau sebagian kecil atau beberapa aspek kepribadian atau segi tertentu saja. Demikian pula proses penyembuhannya bisa dalam jangka waktu lama atau sebentar. Hal tersebut bergantung dari jenis, sifat, dan latar belakang kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa.
Disamping itu pengajaran remedial mempunyai arti terapeutik, artinya dalam proses pengajaran remedial secara langsung ataupun tidak langsung juga menyembuhkan beberapa gangguan atau hambatan kepribadian yang berkaitan dengan kesulitan belajar. Dengan demikian perbaikan dalam belajar juga memperbaiki keadaan pribadi dan sebaliknya.
Lili Setiawati Usman (2006 : 103) bahwa untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, mengenai ciri-ciri pengajaran remedial, maka berikut ini dikemukakan perbandingan pengajaran remedial dan pengajaran biasa:
a. Pengajaran biasa (reguler), merupakan kegiatan pengajaran biasa sebagai program belajar mengajar di kelas dengan semua siswa Ikut berpartisipasi, sedangkan pengajaran remedial dilakukan setelah diketahui kesulitan belajar dan kemudian diberikan pelayanan khusus sesuai dengan jenis, sifat dan latar belakangnya.
b. Tujuan instruksional pengajaran reguler dilaksanakan untuk mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan bersifat sama bagi semua siswa, sedangkan pengajaran remedial tujuan instruksional disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
c. Metode pengajaran remedial bersifat sama untuk semua siswa, sedangkan dalam pengajaran remedial metode yang digunakan bersifat deferensial artinya disesuaikan dengan sifat, jenis, dan latar belakang kesulitan belajarnya.
d. Pengajaran reguler dilaksanakan oleh guru mata pelajaran, sedangkan pengajaran remedial dilaksanakan oleh guru mata pelajaran bekerjasama dengan pihak lain, seperti guru wali, ahli khusus dll.
e. Alat-alat pelajaran yang digunakan dalam pengajaran remedial lebih bervariasi dibandingkan dengan pengajaran biasa, dan menggunakan alat khusus, seperti tes diagnostik, sosiometri, alat-alat laboratorium dll.
f. Dalam pengajaran remedial pendekatan dan teknik yang digunakan lebih bersifat deferensial, artinya disesuaikan dengan keadaan masing- masing pribadi siswa yang akan dibantu.
g. Alat evaluasi yang digunakan dalam pengajaran reguler bersifat seragam dan kelompok, sedangkan dalam pengajaran remedial disesuaikan dengan kesulitan belajar yang dihadapi siswa.
Berdasarkan uraian tersebut jelas bahwa pengertian pengajaran remedial sebagai suatu bentuk khusus pengajaran yang ditujukan untuk menyembuhkan atau memperbaiki sebagian atau seluruh kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Perbaikan diarahkan kepada pencapaian hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan masing-masing melalui perbaikan keseluruhan proses belajar mengajar dan keseluruhan kepribadian siswa.
2. Tujuan Pengajaran Remedial
Salah satu prinsip dalam sistem belajar tuntas adalah semua siswa akan dapat mencapai penguasaan tuntas tertentu terhadap bahan pelajaran yang diberikan kepadanya sesuai dengan tujuan instruksional yang hendak dicapai, asal siswa diberikan waktu yang cukup dan pelayanan yang tepat.
Dengan belajar tuntas maka proses belajar mengajar akan lebih efektif dan efisien. Dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi belajar mengajar siswa, guru dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa terdapat keanekaragaman individu siswa. Dengan keanekaragaman siswa akan menghasilkan tingkat penguasaan belajar yang beraneka ragam pula. Untuk melayani keanekaragaman individu siswa dan tingkat keberhasilan belajar tuntas, salah satu implikasinya adalah kegiatan pengajaran remedial.
Secara umum tujuan pengajaran remedial yaitu agar siswa dapat mencapai prestasi belajar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Secara khusus pengajaran remedial bertujuan agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai prestasi belajar yang diharapkan melalui proses penyembuhan atau perbaikan, baik dalam segi kepribadian ataupun proses belajar siswa.
Entang M. (2007 : 94) mengemukakan secara rinci tujuan pengajaran remedial ialah agar siswa:
a. Memahami dirinya, khususnya yang menyangkut prestasi belajar, yang meliputi segi kekuatannya, kelemahannya, jenis dan sifat kesulitannya.
b. Dapat mengubah atau memperbaiki cara-cara belajar ke arah yang lebih baik sesuai dengan kesulitan yang dihadapinya.
c. Dapat memilih materi dan fasilitas belajar secara tepat.
d. Dapat mengatasi hambatan-hambatan belajar yang menjadi latar belakang kesulitannya.
e. Dapat mengembangkan sikap - sikap dan kebiasaan yang baru yang dapat mendorong tercapainya hasil belajar yang lebih baik.
f. Dapat melaksanakan tugas-tugas belajar yang diberikan.
Secara umum tujuan pembelajaran remedial langsung tidak berbeda dengan pembelajaran biasa, yaitu dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan namun secara khusus tujuan pembelajaran remedial langsung ini adalah agar siswa yang mengalami kesulitan belajar dapat mencapai kriteria ketuntasan belajar yang diharapkan dengan melalui proses perbaikan.
3. Fungsi Pengajaran Remedial
Pengajaran remedial mempunyai fungsi yang sangat penting dalam keseluruhan proses belajar mengajar. Fungsi pengajaran remedial dalam proses belajar mengajar ialah korektif, pemahaman, penyesuaian, pengayaan, akselerasi dan terapeutik.
Ischak S.W dan Warji R (2009 : 107) menjelaskan fungsi remedial sebagai berikut:
a. Fungsi Korektif
Pengajaran remedial mempunyai fungsi korektif, artinya bahwa melalui pengajaran remedial dapat diadakan pembetulan atau perbaikan terhadap sesuatu yang dipandang masih belum mencapai apa yang diharapkan dalam keseluruhan proses belajar mengajar.
Dalam hal ini Abu Ahmadi dan Widodo Suproyono (2006 : 169) berpendapat bahwa :
“Fungsi remedial langsung dapat diadakan pembetulan atau perbaikan, antara lain: perumusan tujuan, penggunaan metode, cara-cara belajar, materi atau alat pelajaran, evaluasi dan segi-segi pribadi.”
Dari pendapat di atas, maka remedial langsung mempunyai fungsi korektif karena dalam remedial langsung dilakukan pembetulan terhadap proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar tersebut menyangkut berbagai aspek mulai dari perumusan tujuan, penggunaan metode mengajar, materi, alat pelajaran, cara belajar, evaluasi dan kondisi pribadi siswa.
b. Fungsi pemahaman
Fungsi pemahaman adalah agar remedial langsung memungkinkan guru, siswa dan pihak-pihak lain dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap pribadi siswa.
Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2006 : 200) bahwa:
“Fungsi pemahaman artinya dari pihak guru, murid atau pihak lain dapat lebih memahami siswa”.
Dari pendapat di atas, maka dalam remedial langsung guru berusaha membantu siswa untuk memahami dirinya dalam hal jenis dan sifat kesulitan yang dialami, kelemahan serta kelebihan yang dimilikinya. Karena pemahaman ini akan membantu siswa dalam mengubah dan memperbaiki
cara belajar, memilih materi dan fasilitas belajar sehingga pada akhirnya siswa dapat melaksanakan tugas-tugas belajarnya dengan baik.
Pengajaran remedial mempunyai fungsi pemahaman, artinya bahwa pengajaran remedial memungkinkan guru, siswa dan pihak-pihak lainnya dapat- memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap pribadi siswa.
Siswa diharapkan dapat lebih memahami terhadap dirinya dengan segala aspeknya. Demikian juga guru dan pihak- pihak lainnya yang terkait dapat lebih memahami keadaan pribadi siswa.
c. Fungsi penyesuaian
Mulyadi (2007 : 36) mengemukakan bahwa:
Dimaksud fungsi penyesuaian adalah membantu siswa untuk menyesuaikan dirinya terhadap tuntutan belajar, sehingga siswa dapat belajar sesuai dengan keadaan dan kemampuan pribadinya sehingga mempunyai peluang yang besar untuk memperoleh ketuntasan belajar yang lebih baik
Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa penyesuaian remedial langsung terjadi antara siswa dengan tuntutan dalam proses belajarnya.
Artinya siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuannya sehingga peluang untuk mencapai hasil yang lebih baik. Tuntutan disesuaikan dengan jenis, sifat dan latar belakang kesulitan sehingga mendorong siswa untuk lebih belajar.
Pengajaran remedial mempunyai fungsi penyesuaian, artinya bahwa pengajaran remedial dapat membentuk siswa untuk lebih dapat menyesuaikan dirinya terhadap lingkungannya. Dalam pengajaran remedial
terdapat penyesuaian antara siswa dengan tuntutan dalam proses belajarnya.. Siswa dapat belajar sesuai dengan keadaan dan kemampuan pribadinya, sehingga mempunyai peluang yang lebih besar untuk memperoleh prestasi belajar yang lebih baik. Tuntutan yang diberikan kepada siswa telah disesuaikan dengan sifat, jenis, latar belakang kesulitannya, sehingga diharapkan siswa lebih terdorong untuk belajar.
Bertolak dari uraian di atas, maka dalam remedial langsung siswa dibantu untuk belajar sesuai dengan kemampuan dan keadaannya, sehingga hal ini tidak merupakan beban bagi siswa. Karena penyesuaian beban belajar itu memberikan peluang kepada siswa untuk memperoleh ketuntasan belajar yang lebih baik.
d. Fungsi pengayaan
Fungsi pengayaan menurut Mulyadi (2007 : 40) bahwa:
Dimaksudkan remedial langsung yaitu dapat memperkaya proses belajar mengajar. Bahan pelajaran yang tidak disampaikan dalam pelajaran reguler dapat diperoleh melalui remedial langsung.
Pengayaan lain adalah dalam segi metode dan alat yang dipergunakan dalam remedial langsung.
Abin Syamsuddin (2006 : 201) bahwa:
Remedial langsung dapat memperkaya proses belajar mengajar.
Pengayaan dapat melalui atau terletak dalam segi metode yang digunakan dalam perbaikan pengajaran, sehingga hasil yang diperoleh lebih banyak
Bertolak dari kedua pendapat di atas, maka pemberian remedial yaitu langsung guru berusaha membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar
dengan menambah berbagai materi pelajaran yang belum atau tidak disampaikan dalam pelajaran biasa. Di samping itu penggunaan metode mengajar serta alat pelajaran pun dikembangkan agar siswa memperoleh hasil yang lebih mendalam tentang bahan pelajaran tersebut.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengajaran remedial mempunyai fungsi pengayaan, artinya pengajaran dapat memperkaya proses belajar mengajar. Materi yang tidak disampaikan dalam pengajaran reguler dapat diperoleh melalui pengajaran remedial. Dengan demikian hasil yang diperoleh siswa dapat lebih banyak, lebih dalam, dan lebih luas, sehingga prestasi belajarnya lebih kaya.
e. Fungsi akselerasi
Fungsi akselerasi adalah agar remedial langsung dapat mempercepat proses belajar lebih dalam arti waktu maupun materi. secara langsung maupun tidak langsung pengajaran perbaikan dapat memperbaiki atau menyembuhkan kondisi pribadi yang menyimpang. Penyembuhan ini dapat menunjang pencapaian ketuntasan belajar yang lebih baik dalam mempengaruhi pribadi siswa.
Dari uraian di atas remedial langsung mengandung unsur terapeutik karena secara langsung atau tidak langsung menyembuhkan beberapa gangguan atau hambatan kepribadian siswa. Siswa yang mengalami kesulitan belajar kemungkinan dapat mengalami hambatan kepribadian, sehingga dengan membantu mengatasi kesulitan belajar berarti mengatasi
hambatan kepribadian atau sebaliknya. Pengajaran remedial mempunyai fungsi terapeutik, artinya bahwa secara langsung ataupun tidak langsung pengajaran remedial dapat menyembuhkan atau memperbaiki kondisi-kondisi kepribadian siswa yang diperkirakan menunjukkan adanya penyimpangan. Penyembuhan kondisi kepribadian dapat menunjang pencapaian prestasi belajar, dan demikian sebaliknya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pemberian remedial langsung mempunyai fungsi akselerasi, artinya bahwa pengajaran remedial dapat mempercepat proses belajar, baik dalam art' waktu maupun materi.
Misalnya siswa yang tergolong lambat belajar, dapat dibantu proses belajarnya melalui pengajaran remedial.
B. Pelaksanaan Pemberian Remedial dalam Proses Belajar Mengajar Pemberian remedial merupakan salah satu tahapan kegiatan utama dalam keseluruhan kerangka pola layanan bimbingan belajar, serta merupakan rangkaian kegiatan lanjutan logis dari usaha diagnostik kesulitan belajar mengajar dalam proses belajar mengajar (PBM).
Ischak S.W dan Warji R (2009: 111) mengemukakan langkah-langkah yang ditempuh dalam melakukan kegiatan pemberian remedial dalam proses belajar mengajar yaitu:
1. Penelaahan kembali kasus
Langkah ini merupakan tahapan paling fundamental dalam pengajaran remedial karena merupakan landasan pangkal tolak langkah-langkah kegiatan berikutnya. Sasaran pokok kegiatan ini adalah:
a. diperolehnya gambaran yang lebih definitif mengenai karakteristik kasus berikut permasalahannya.
b. Diperolehnya gambaran yang lebih definitif mengenai feasibilitas alternatif tindakan remedial yang direkomendasikan.
Sesuai sasaran tersebut maka kegiatan dalam langkah ini difokuskan kepada suatu analisis rasional atas dianostik yang telah kita lakukan atau rekomendasikan yang kita terima dari pihak (guru pembimbing), dan sebagainya. Secara lebih konkrit analisis ini akan merupakan kegiatan pengecekan atau penelitian kembali terhadap:
a. kebenaran dan kelengkapan data yang mendukung pernyataan atau deskripsi tentang karakteristik kasus berikut permasalahannya.
b. Relevansi antara tafsiran dan kesimpulan yang dibuat dengan data pendukungnya, serta konsistensi antara berbagai data antara berbagai data dengan tafsiran dan kesimpulannya satu sama lain secara integral.
c. Ketepatan estimasi kemungkinan penanganannya berdasarkan hasil diagnosa yang didukung oleh data yang relevan dan tersedia.
d. Feasibilitas dari setiap alternatif tindakan remedial yang direkomendasikan.
2. Menentukan alternatif pilihan tindakan
Sasaran pokok kegiatan yang dilakukan dalam tahapan ini ialah membuat keputusan pilihan alternatif mana yang ditempuh berdasarkan pertimbangan rasional yang seksama. Sebagai dasar pertimbangan yang fundamental dalam proses pengambilan keputusan ini, harus memperhatikan prinsip-prinsip efektivitas, efisiensi dan keserasian. Pertimbangan lain seperti etika dan tanggung jawab moral kemanusiaan, tanggung jawab administrasi tanggung jawab profesional juga turut mewarnai keputusan yang akan diambil.
3. Layanan Bimbingan dan Konseling
Langkah ketiga ini pada dasarnya bersifat pilihan bersyarat ditinjau dan segi keseluruhan prosedur pengajaran remedial. Oleh karena itu sasaran pokok yang hendak dicapai oleh layanan ini ialah terciptanya kesehatan mental kasus, dalam arti terbebas dari hambatan dan ketegangan batinnya, untuk kemudian siap sedia kembali melakukan kegiatan belajar secara wajar dan realistis
4. Melaksanakan pengajaran remedial
Dengan terciptanya prakondisi tersebut di atas, langkah keempat Ialah pelaksanaan pengajaran remedial. Sasaran pokok dari pengajaran remedial ialah tercapainya peningkatan prestasi dan penyesuaian diri sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ditetapkan.
5. Mengadakan pengukuran prestasi belajar kembali
Setelah selesai dilakukan pengajaran remedial, dideteksi ada tau tidaknya perubahan pada diri siswa. Oleh karena itu perlu diadakan pengukuran kembali. Hasil pengukuran akan memberikan Informasi seberapa jauh atau seberapa besar perubahan itu telah terjadi, baik dalam artian kuantitatif maupun kualitatif, Cara dan instrumen yang digunakan untuk mengadakan pengukuran sama dengan yang digunakan pada waktu post test sumatif dari proses belajar mengajar utama.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prosedur pelaksanaan pemberian remedial langsung dalam proses belajar mengajar yaitu melakukan penelaahan kembali kasus, melakukan alternatif pilihan tindakan, layanan bimbingan dan konseling, melaksanakan pengajaran remedial, mengadakan pengukuran prestasi belajar kembali.
C. Strategi dan Pendekatan Pengajaran Remedial
Pada garis besarnya ada 2 macam pendekatan yang dapat ditempuh yaitu pendekatan kuratif, preventif dan pengembangan.
Rohman Natawidjaya (2008 : 71) menjelaskan bahwa:
1. Strategi Pendekatan yang Bersifat Kuratif
Tindakan pengajaran dikatakan bersifat kuratif bilamana diberikan setelah selesainya program proses belajar dan mengajar. Tindakan tersebut dilakukan setelah melihat kenyataan bahwa adanya seseorang atau sebagian siswa bahkan sebagian besar siswa yang dipandang tidak mampu
untuk menyelesaikan program proses belajar dan mengajar yang bersangkutan secara sempurna sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Program tersebut dapat dilihat setiap kali pertemanan, setiap satuan unit pelajaran, atau satuan waktu (mingguan, bulanan bahkan triwulan atau semesteran). Dengan ciri-ciri yang telah dikemukakan di depan, yaitu antara lain prestasi di bawah rata-rata kelas, bahkan siswa yang mempunyai prestasi tinggi di atas rata-rata juga perlu mendapatkan perhatian dengan memberikan tambahan pelajaran ekstra. Sebab selain untuk meningkatkan prestasi secara optimal, juga untuk menyalurkan kepada kesibukan. Karena siswa ini lebih cepat menyelesaikan tugas dibandingkan dari temannya.
Selama menanti teman-teman lain yang sedang bekerja atau menyelesaikan tugas berikan tambahan, kalau tidak dia mungkin sekali akan mengganggu teman yang bekerja, atau berkeliaran. Yang jelas prestasi atau kemampuan yang dimiliki lebih tersebut akan ditingkatkan secara maksimal. Justru di kelas-kelas anak yang demikian kurang mendapatkan perhatian guru kelas / bidang studi.
Untuk dapat mencapai sasaran tersebut beberapa tehnik yang dipergunakan dengan pendekatan : pengulangan (repotition), pengayaan (enrichment), dan pengukuhan (Re inforcement) serta pencepatan (acceleration).
Adapun pelaksanaannya menurut Agus Supriyanto (2010 : 52) yaitu:
a. Pengulangan (Repetition)
Pelaksanaannya dapat dilakukan pada tiap akhir jam pelajaran, tiap akhir unit (satuan) pelajaran tertentu, maupun setiap akhir pokok bahasan.
Sasaran dapat diberikan kepada perorangan (individual maupun kelompok, tergantung kepada kebutuhan.
Sedangkan waktu penyampaiannya dapat diberikan sesudah pelajaran selesai maupun di luar jam pelajaran. Misalnya pada sore hari.
Sering kita lihat ada sementara guru yang memberikan pelajaran tambahan/ulangan pada waktu sore hari pada murid tertentu.
Cara lain yang dapat diberikan melalui “kelas remedial” yaitu khusus bagis siwa yang memerlukan bantuan tersendiri lantaran rendah prestasi. Siswa lainnya melaukan proses belajar secara biasa.
b. Pengayaan dan Pengukuhan (Enrichment dan Reinforcement)
Sasarannya ditujukan kepada siswa yang mempunyai kelemahan ringan atau bahkan siswa yang mempunyai kemampuan tinggi. Materi yang diberikan yaitu yang masih ada kaitannya (ekuivalen). Dengan materi pokok atau dapat juga merupakan tambahan (suplementer) sehingga akan memperoleh cakrawala yang lebih luas dari materi tersebut. Dengan demikian bagi siwa yang berkemampuan lebih mempunyai kesibukan yang bersifat positif. Baik bagi dirinya maupun bagi lingkungannya, sedang kemampuannya dapat ditingkatkan secara optimal.
Pelaksanaannya dapat dengan memberikan tugas-tugas (take home) bakat siswa yang lemah dengan dikerjakan di rumah atau tambahan pada
saat temannya yang lain sedang mengikuti pelajaran utama, mereka yang berkemampuan lebih mendapat tugas tambahan. Setelah selesai tugas tersebut sebaiknya diperiksa oleh guru.
c. Percepatan (acceleration, akselerasi)
Cara lain yang dapat diberikan kepada siswa berbakat tetapi menunjukkan kesulitan emosional dapat dengan memberikan promosi penuh atau maju berkelanjutan (continues progres). Pelaksanaannya dapat diberikan pelajaran untuk tingkat yang lebih tinggi / semester di atasnya.
Dahulu pernah kita dengan ada siswa yang naik kelas sebelum waktu setahun, sedangkan siswa lain naiknya setiap akhir tahun. Begitupun pada perguruan Tinggi yang telah menerapkan SKS murni dapat memberi kesempatan pada siswa untuk mengambil kredit lebih banyak sehingga mungkin dapat menyelesaikan program lebih cepat. Sayangnya sistim di sekolah lanjutan hal tersebut masih jarang.
Ketiga cara pendekatan tersebut dapat dipergunakan secara baik.
Oleh guru, maka kesulitan yang dihadapi para siswa secara kuratif dapat diatasi hasil karya tambahan tersebut perlu dibukukan dalam kemajuan
Oleh guru, maka kesulitan yang dihadapi para siswa secara kuratif dapat diatasi hasil karya tambahan tersebut perlu dibukukan dalam kemajuan