BAGIAN I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Pengawas Sekolah merupakan salah satu bahan memfasilitasi seluruh pengawas sekolah menengah atas (SMA) untuk meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan supervisi manajerial di sekolah binaannya. Kualitas pendidikan di SMA ditentukan oleh berbagai faktor, di antaranya kualitas pengelolaan proses pembelajaran. Pengawas sekolah merupakan sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran di sekolah. Hasil rerata Uji Kompetensi Pengawas Sekolah (UKPS) tahun 2015, dalam dimensi supervisi manajerial adalah 44,52. Hasil ini masih di bawah Kriteria Pencapaian Minimal (KCM) yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu 5,5. Pelaksanaan supervisi manajerial merupakan salah satu bagian dari dimensi tersebut. Berdasarkan fakta yang ada maka dipandang perlu pemerintah menyediakan modul yang membahas tentang pelaksanaan supervisi manajerial.
Esensi supervisi manajerial adalah pemantauan dan pembinaan terhadap kepala sekolah dalam mengelola sekolah dan administrasi sekolah. Selain melakukan supervisi terhadap hal-hal di atas, pengawas sekolah dituntut pula melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang meliputi (a) Standar Kompetensi Lulusan, (b) Standar Isi (c) Standar Proses, (d) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, (e) Standar Sarana dan Prasarana, (f) Standar Pengelolaan, (g) Standar Pembiayaan, (h) Standar Penilaian, terintegrasi dalam karakter religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas. Dalam nilai religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku untuk melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut; menghargai perbedaan agama; menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain; hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi, dan cita-cita. Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu,
menyelesaikan persoalan bersama, memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, bersahabat dengan orang lain, dan memberi bantuan pada mereka yang miskin, tersingkir, dan membutuhkan pertolongan. Nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kesetiaan dan moral (integritas moral).
Secara spesifik, supervisi ditujukan bagi peningkatan mutu pembelajaran dan pengelolaan sekolah. Salah satu sasaran dalam pelaksanaan supervisi manajerial adalah bagaimana cara kepala sekolah mewujudkan pengelolaan sekolah yang bermutu dengan mengintegrasikan lima nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).
Melalui pelaksanaan supervisi manajerial pengawas sekolah dapat melihat kondisi sekolah yang dikelola oleh kepala sekolah. Pengawas sekolah sebagai supervisor dapat memberikan motivasi dan memberikan pelayanan supervisi manajerial secara optimal kepada para guru, tenaga kependidikan, dan kepala sekolah. Melalui supervisi manajerial diharapkan terjadi perubahan kinerja guru, tenaga kependidikan, dan kepala sekolah ke arah yang lebih berkualitas dan menumbuhkembangkan perilaku belajar peserta didik yang lebih baik. Proses pengelolaan sekolah yang berkualitas dan hasil belajar peserta didik yang optimal merupakan satu indikator keberhasilan pengawas sekolah dalam melakukan pembinaan. Untuk itu, pengawas sekolah perlu membuat perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi serta tindak lanjut supervisi manajerial.
Modul Pelaksanaan Supervisi Manajerial merupakan tindak lanjut dari Modul Program Pengawasan Supervisi Manajerial (Modul C), yang memuat rencana pembinaan dan pemantauan pengawasan, penilaian kepala sekolah dan guru, dalam melaksanakan supervisi manajerial.
Modul ini dilaksanakan melalui tiga tahap pembelajaran yaitu In Service Learning 1 (1), On The Job Learning (On), dan In Service Learning 2 (2). Pada tahap kegiatan In-1, Saudara bersama dengan pengawas sekolah lain akan dipandu oleh fasilitator untuk menyiapkan dasar pengetahuan dan pengalaman Saudara sebagai bahan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah binaan saat kegiatan On. Pada tahap On Saudara melaksanakan kegiatan di tempat kerja Saudara. Pada tahap In-2 Saudara bersama pengawas sekolah lain melaporkan tagihan dan mempresentasikan berbagai temuan, tantangan, kendala yang Saudara hadapi, serta solusi yang Saudara lakukan pada saat On.
Implementasi nilai-nilai PPK dan PIPKA pada modul ini diharapkan dapat mencegah tumbuhnya paham radikalisme, terorisme, vandalisme, penyalahgunaan obat terlarang, dan perilaku hidup bebas sehingga dapat merajut kehidupan damai dan sejahtera dalam bingkai NKRI. Urgensi pokok permasalahan ini dapat dijelaskan pada bagian berikut ini.
Sebagai bangsa yang besar NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) merupakan suatu Negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau dan diapit oleh dua samudra dan dua benua, didiami oleh ratusan juta penduduk, memiliki iklim tropis, memiliki keanekaragaman budaya dan adat istiadat agama dan keyakinan yang berlainan satu sama lain bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Keseluruhannya tercemin dalam satu ikatan kesatuan lambang negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Pada dasarnya keberagaman masyarakat Indonesia menjadi modal dasar dalam pembangunan bangsa.
Oleh karena itu, sangat diperlukan rasa persatuan dan kesatuan yang tertanam disetiap warga negara Indonesia. Pembentukan sikap nasionalis terhadap bangsa yang besar perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai generasi penerus bangsa Indonesia.
Namun demikian, dalam kenyataanya masih ada konflik yang terjadi dengan mengatasnamakan suku, agama, ras atau antargolongan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa sikap nasionalis bangsa yang ada seharusnya bisa menjadi modal bagi bangsa ini untuk menjadi bangsa yang kuat. Untuk mendukungnya, diperlukan rasa persatuan yang kokoh dan kuat. Persatuan bangsa merupakan syarat yang mutlak bagi kejayaan Indonesia. Jika masyarakatnya tidak bersatu dan selalu memprioritaskan kepentingannya sendiri, maka cita-cita Indonesia yang terdapat dalam sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Bangsa akan hanya menjadi mimpi yang tak akan pernah terwujud. Sehingga semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu, hanya sebatas slogan. Komitmen seluruh unsur negara menentukan sikap yang persisten untuk kesatuan bangsa perlu ditindaklanjuti di berbagai tingkat masyarakat. Keberagaman dalam berbagai aspek (adat, budaya, agama, bahasa) merupakan kondisi yang dapat membentuk masyarakat Indonesia yang memiliki toleransi dan rasa saling menghargai untuk menjaga perbedaan tersebut. Untuk itu perlu nilai komitmen persatuan bangsa Indonesia dalam keberagaman nasional.
Kata kata bijak mengatakan: "Bila anda ingin memperbaiki dunia, mulailah terlebih dulu dengan diri sendiri." Walaupun terkesan kuno, tetapi tetap berlaku untuk kita simak dan diterapkan dalam perjalanan hidup. Kita semuanya berharap Indonesia bisa berubah menjadi lebih baik dalam segala hal. Menjadi lebih baik dalam pendidikan anak bangsa, kesehatan masyarakat, perekonomian, sandang pangan, keamanan, kesejahteraan, dan
seterusnya. Salah satunya adalah agar tercipta keharmonisan, kedamaian dan ketenangan dalam hidup keberagaman antar berbagai suku bangsa yang ada ditanah air kita tercinta.
Perbuatan-perbuatan negatif yang dapat merusak keutuhan suatu bangsa perlu dihindari sedini mungkin, seperti radikalisme, vandalisme dan penyalahgunaan obat terlarang narkoba serta kehidupan bebas melalui penguatan nilai-nilai luhur Pancasila. Untuk mencegah lahirnya paham radikalisme maka perlunya penguatan pada cara pandang pendidikan agama dan budi pekerti yang berlaku di Indonesia yang lebih berorientasi pada hukum yang kaku dan eksklusif tetapi lebih pada cinta yang moderat dan inklusif.
Oleh karena itu, pembelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dan Pendidikan Pancasila harus dilakukan secara berkesinambungan untuk menangkis masuk dan berkembangnya paham radikalisme di Indonesia terutama pada generasi muda.
Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, pergaulan bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS. Generasi muda saat ini harus diselamatkan dari era globalisasi ini karena banyak kebudayaan-kebudayaan yang asing yang masuk dan tidak semua sama dengan kebudayaan luhur bangsa Indonesia, seperti kebudayaan hubungan bebas. Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para generasi mudah dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya.
Penyalahgunaan obat terlarang selalu menjerat generasi muda ke dalam jeratan narkoba, zat dan obat-obatan terlarang. Para pengedar dan pembuat barang-barang terlarang tersebut akan melakukan berbagai promosi bujuk rayu menjebak kepada orang-orang yang lemah iman dan tidak memiliki akal sehat untuk menjadi budak obat terlarang. Oleh karena itu, generasi muda perlu dibekali pengetahuan tentang obat-obat terlarang dan segala akibatnya. Pergaulan yang salah dapat menyebabkan generasi muda terperosok ke dalam jurang kesesatan. Penguatan nilai religius melalui penguatan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui kesadaran bahwa penggunaan narkoba itu dosa karena hanya menyakiti dan merusak tubuh dan pikiran manusia. Penggunaan narkoba juga menjauhkan kita dari agama yang kita anut.
Pembentukan karakter generasi penerus bangsa perlu ditanamkan sejak mulai dini melalui perbuatan-perbuatan kebajikan sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa yang ada dalam nilai-nilai Pancasila. Melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) diharapkan generasi penerus bangsa yang besar ini dapat merajut kedamaian dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia dan terlepas dari sisi negatif dampak globalisme yang dapat merusak peradaban bangsa dan negara melalui perbuatan-perbuatan radikalisme bangsa, vandalisme, penyalahgunaan obat-obatan terlarang serta kehidupan bebas di abad super modern ini.