• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN SUPERVISI MANAJERIAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PELAKSANAAN SUPERVISI MANAJERIAL"

Copied!
253
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

MODUL

PENGEMBANGAN KEPROFESIAN BERKELANJUTAN PENGAWAS SEKOLAH

KELOMPOK KOMPETENSI E

PELAKSANAAN SUPERVISI MANAJERIAL

Pengarah

Sumarna Surapranata, Ph.D.

Penanggung Jawab Dra. Garti Sri Utami, M.Ed.

Penyusun

Drs. Asep Syahrudin, M.Pd. 081320477534; [email protected] Iqbal Khamdani, M.Pd.I., 081391027016; [email protected]

Penelaah

Prof. Dr. Arismunandar, M.Pd.  0811464813; [email protected] Dr. Edi Rahmat Widodo. 081315493001; [email protected]

Dr. Sri Mulyono, M.Pd.  081339521294; [email protected] Drs. H. Suyono, MM  081359316273; [email protected] Diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Copyright @ 2017

Edisi ke-1: Juli 2017

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang menyalin sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan individu maupun komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

(3)
(4)
(5)
(6)

DAFTAR ISI

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ...viii

DAFTAR TABEL... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL PELAKSANAAN SUPERVISI MANAJERIAL ... xi

PETA KEDUDUKAN MODUL ... xiv

BAGIAN I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Target Kompetensi ... 5

C. Tujuan Pembelajaran ... 5

D. Peta Kompetensi Pengawas Sekolah ... 6

E. Ruang Lingkup dan Pengorganisasian Pembelajaran ... 7

F. Penilaian ... 9

BAGIAN II KEGIATAN PEMBELAJARAN TAHAP IN SERVICE LEARNING 1 (In-1) (28 JP) ... 11

Pengantar ... 11

Kegiatan Pembelajaran 1: Melaksanakan Pembinaan dalam Pengelolaan Satuan Pendidikan Sesuai 8 SNP (6 JP) ... 11

A. Tujuan Pembelajaran ... 11

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 11

C. Uraian Materi ... 12

D. Aktivitas Pembelajaran ... 34

E. Latihan/Kasus/Tugas ... 40

F. Rangkuman ... 42

G. Umpan Balik ... 43

H. Refleksi dan Tindak Lanjut ... 43

I. Kunci Jawaban ... 44

Kegiatan Pembelajaran 2: Pelaksanaan Pembinaan dalam Penyusunan Administrasi Sekolah (5 JP) ... 45

A. Tujuan Pembelajaran ... 45

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 45

C. Uraian Materi ... 45

D. Aktivitas Pembelajaran ... 58

(7)

E. Latihan/Kasus/Tugas ... 64

F. Rangkuman ... 66

G. Umpan Balik ... 66

H. Refleksi dan Tindak Lanjut ... 67

I. Kunci Jawaban ... 67

Kegiatan Pembelajaran 3: Mengarahkan Kepala Sekolah dan Guru dalam Menganalisis Permasalahan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (4 JP) ... 68

A. Tujuan Pembelajaran ... 68

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 68

C. Uraian Materi ... 68

D. Aktivitas Pembelajaran ... 84

E. Latihan/Kasus/Tugas ... 86

F. Rangkuman ... 88

G. Umpan Balik ... 88

H. Refleksi dan Tindak Lanjut ... 89

I. Kunci Jawaban ... 90

Kegiatan Pembelajaran 4: Mengarahkan Kepala Sekolah dan Guru dalam Melaksanakan Layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di Sekolah (4 JP) ... 91

A. Tujuan Pembelajaran ... 91

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 91

C. Uraian Materi ... 91

D. Aktivitas Pembelajaran ... 111

E. Latihan/Kasus/Tugas ... 113

F. Rangkuman ... 114

G. Umpan Balik ... 115

H. Refleksi dan Tindak Lanjut ... 115

I. Kunci Jawaban ... 116

Kegiatan Pembelajaran 5: Meningkatkan Motivasi Guru untuk Melakukan Refleksi terhadap Tugas Pokoknya di Sekolah (4 JP) ... 117

A. Tujuan Pembelajaran ... 117

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 117

C. Uraian Materi ... 117

D. Aktivitas Pembelajaran ... 130

E. Latihan/Kasus/Tugas ... 139

F. Rangkuman ... 141

G. Umpan Balik ... 142

H. Refleksi dan Tindak Lanjut ... 142

(8)

I. Kunci Jawaban ... 143

Kegiatan Pembelajaran 6: Memotivasi Kepala Sekolah Merefleksikan Hasil-Hasil yang dicapainya untuk Menentukan Kelemahan dan Kekuatan dalam Melaksanakan Tugas Pokoknya di Sekolah (4 JP) ... 144

A. Tujuan Pembelajaran ... 144

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 144

C. Uraian Materi ... 144

D. Aktivitas Pembelajaran ... 147

E. Latihan/Kasus/Tugas ... 151

F. Rangkuman ... 155

G. Umpan Balik ... 155

H. Refleksi dan Tindak Lanjut ... 156

I. Kunci Jawaban ... 157

Rencana Tindak Lanjut (1 JP) ... 157

TAHAP ON THE JOB LEARNING (ON) (20 JP) ... 158

Pengantar ... 158

Kegiatan Pembelajaran 1: Melaksanakan Pembinaan dalam Pengelolaan Satuan Pendidikan Sesuai 8 SNP ( 5 JP) ... 158

A. Tujuan Pembelajaran ... 158

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 158

C. Aktivitas Pembelajaran ... 159

Kegiatan Pembelajaran 2: Pelaksanaan Pembinaan dalam Penyusunan Administrasi Sekolah (4 JP) ... 161

A. Tujuan Pembelajaran ... 161

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 161

C. Aktivitas Pembelajaran ... 161

Kegiatan Pembelajaran 3: Mengarahkan Kepala Sekolah dan Guru dalam Menganalisis Permasalahan Layanan BK di Sekolah (4 JP) ... 164

A. Tujuan Pembelajaran ... 164

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 164

C. Aktivitas Pembelajaran ... 164

Kegiatan Pembelajaran 4: Mengarahkan Kepala Sekolah dan Guru dalam Melaksanakan Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah(4 JP) ... 167

A. Tujuan Pembelajaran ... 167

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 167

C. Aktivitas Pembelajaran ... 167

(9)

Kegiatan Pembelajaran 5: Memotivasi Guru Merefleksikan Hasil-Hasil yang dicapainya untuk Menemukan Kelebihan dan Kekurangan dalam Melaksanakan

Tugas Pokoknya di Sekolah (4 JP) ... 170

A. Tujuan Pembelajaran ... 170

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 170

C. Aktivitas Pembelajaran ... 170

Kegiatan Pembelajaran 6: Memotivasi Kepala Sekolah Merefleksikan Hasil-Hasil yang Dicapainya Untuk Menemukan Kelemahan dan Kekuatan dalam Melaksanakan Tugas Pokoknya di Sekolah ... 172

A. Tujuan Pembelajaran ... 172

B. Indikator Pencapaian Tujuan ... 172

C. Aktivitas Pembelajaran ... 172

TAHAP IN-SERVICE LEARNING 2 (IN-2) ( 8 JP) ... 176

Pengantar ... 176

Kegiatan 1.1 : Penilaian Hasil On ... 176

Kegiatan 1.2 : Penguatan ... 177

Kegiatan 1.3 : Membuat Rencana Tindak Lanjut In-2 ... 177

BAGIAN III EVALUASI ... 178

BAGIAN IV PENUTUP ... 190

DAFTAR ISTILAH ... 191

DAFTAR PUSTAKA ... 193

LAMPIRAN ... 195

SUPLEMEN ... 196

Suplemen 1. Supervisi Pengawas Dalam Pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter ... 196

Suplemen 2. Pengantar Pendidikan Inklusif dan Perlindungan Kesejahteraan Anak .... 206

Suplemen 3. Panduan Penilaian Hasil Belajar Untuk Pengawas Sekolah dan Kepala Sekolah ... 220

(10)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Peta Kedudukan Modul ... XIV

Gambar 2. Peta Kompetensi Modul Pelaksanaan Supervisi Manajerial ... 6

Gambar 3.Mekanisme Layanan Bk... 108

Gambar 4. Teknik Penilaian Sikap ... 124

Gambar 5. Teknik Penilaian Pengetahuan ... 125

Gambar 6. Teknik Penilaian Ketrampilan ... 126

Gambar 7. Alur Refleksi ... 145

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kegiatan Pembelajaran dan Alokasi Waktu ... 7

Tabel 2. Strategi Pembelajaran ... 8

Tabel 3. Dokumen Hasil Supervisi ...34

Tabel 4. Analisa Hasil Pemantauan ...35

Tabel 5. Hasil Pemantauan Sekolah Binaan ...60

Tabel 6. Contoh Hasil Pemantauan Keterlaksanaan Supervisi Sekolah ...63

Tabel 7. Tata Laksana Administrasi Bimbingan dan Konseling ...81

Tabel 8. Instrumen Pemantauan Administrasi Kepegawaian ... 162

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1. KUNCI JAWABAN EVALUASI ... 195

(13)

PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL PELAKSANAAN SUPERVISI MANAJERIAL

1. Modul Pelaksanaan Supervisi Manajerial ini berisi uraian materi tentang pelaksanaan supervisi manajerial oleh pengawas sekolah. Pengawas sekolah sebagai supervisor dapat memberikan motivasi dan pelayanan supervisi manajerial secara optimal kepada para guru dan kepala sekolah. Melalui supervisi manajerial diharapkan terjadi perubahan kinerja guru dan kepala sekolah ke arah yang lebih berkualitas dan menumbuhkembangkan perilaku belajar peserta didik yang lebih baik. Proses pengelolaan sekolah yang berkualitas dan hasil belajar peserta didik yang optimal merupakan satu indikator keberhasilan pengawas sekolah dalam melakukan pembinaan. Untuk itu, pengawas sekolah perlu membuat perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut supervisi manajerial.

Ruang lingkup pembelajaran dalam modul ini meliputi pembinaan kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi satuan pendidikan berdasarkan manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah, pembinaan kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan bimbingan konseling di sekolah serta mendorong guru dan kepala sekolah dalam merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dalam melaksanankan tugas pokoknya di sekolah.

2. Modul ini terdiri dari 4 (empat) bagian yaitu: (1) Pendahuluan, (2) Kegiatan Pembelajaran yang terdiri dari In Service Learning 1 (In-1), On The Job Learning (On), In Service Learning 2 (In-2) , (3) Evaluasi, dan (4) penutup.

3. Modul ini dipelajari melalui 3 (tiga) tahap pembelajaran, yaitu In-1, On, dan In-2. Pada tahap In-1, Saudara akan dipandu oleh fasilitator untuk mempelajari modul ini secara umum dan menyiapkan dasar pengetahuan serta pengalaman Saudara sebagai bahan menyusun rencana tindak lanjut untuk On. Pada tahap On, Saudara melaksanakan rencana tindak lanjut yang dibuat pada saat In-1 melaksanakan kegiatan pengawasan di sekolah binaan. Pada tahap In-2, Saudara bersama pengawas sekolah lain melaporkan tagihan On dan mempresentasikan berbagai keberhasilan dan kendala, serta solusi yang Saudara lakukan selama On.

4. Sebelum mempelajari modul ini, Saudara harus memiliki dokumen-dokumen sebagai berikut:

a. Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.

(14)

b. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah;

c. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan;

d. Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2010 tentang Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya;

e. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 111 tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah

f. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 143 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya;

g. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan

5. Modul ini berkaitan dengan Modul Konsep Supervisi Manajerial, Modul Program Pengawasan Supervisi Manajerial, Modul Laporan Hasil Pengawasan Supervisi Manajerial, dan Modul Pemantauan Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan.

6. Waktu yang dipergunakan untuk mempelajari modul ini diperkirakan 60 Jam Pembelajaran (JP), yang terdiri atas 28 JP untuk In-1, 20 JP untuk On, 22 JP untuk In-2.

Satu JP setara dengan 45 menit. Perkiraan Waktu penyelenggaraan kegiatan ini sangat fleksibel sehingga dapat disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan. Penyelenggara pembelajaran dapat menyesuaikan waktu dengan model pembelajaran di Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS), dinas pendidikan kabupaten/kota, dinas pendidikan provinsi, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LPPPTK KPTK), atau model pembelajaran lain dengan pemanfaatan teknologi lain.

7. Untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran, Saudara sebaiknya mulai dengan membaca petunjuk dan pengantar modul ini, menyiapkan dokumen yang diperlukan, mengikuti tahap demi tahap kegiatan pembelajaran secara sistematis dan mengerjakan kegiatan pembelajaran pada Lembar Kerja (LK). Selama kegiatan pembelajaran akan dilakukan penilaian berbasis kelas oleh fasilitator. Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran di masing-masing modul, Saudara akan mengerjakan latihan soal dan

(15)

penugasan lainnya. Untuk melengkapi pemahaman, Saudara dapat membaca sumber- sumber lain yang relevan.

8. Setelah mempelajari modul ini, Saudara dapat mengimplementasikan hasil belajar tersebut di sekolah binaan.

9. Dalam melaksanakan setiap kegiatan pada modul ini, Saudara harus mengintegrasikankan nilai-nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), yang terdiri atas: 1) religius, 2) nasionalis, 3) mandiri, 4) gotong royong, dan 5) integritas, serta mempertimbangkan aspek inklusi sosial tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, status sosial ekonomi, penyandang HIV/AIDS dan yang berkebutuhan khusus. Inklusi sosial ini juga diberlakukan bagi pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik.

(16)

PETA KEDUDUKAN MODUL

Gambar 1. Peta Kedudukan Modul PENELITIAN DAN

PENGEMBANGAN MODUL I

Penelitian Bidang Pengawasan

MODUL H

Penilaian Kinerja Kepala Sekolah, Guru dan Tenaga Kependidikan

Sekolah MODUL G

Penilaian dan Pemantauan Pembelajaran

MODUL F

Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan SNP

MODUL D

Laporan Hasil Pengawasan MODUL C

Program Pengawasan Supervisi Manajerial

MODUL B

Konsep Supervisi Manajerial

EVALUASI

PENDIDIKAN

MODUL J

Penyusunan Pedoman Pengawasan

SUPERVISI MANAJERIAL

SUPERVISI AKADEMIK

MODUL A Supervisi Akademik

MODUL E

Pelaksanaan Supervisi Manajerial D

I

M

E

N

S I

K

O

M

P

E

T

E N S I

Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Pengawas Sekolah terdiri dari 10 modul. Dari modul A sampai dengan modul J. Saat ini Saudara sedang membahas dan mempelajari modul E, Pelaksanaan Supervisi Manajerial.

(17)

BAGIAN I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Pengawas Sekolah merupakan salah satu bahan memfasilitasi seluruh pengawas sekolah menengah atas (SMA) untuk meningkatkan kemampuan dalam melaksanakan supervisi manajerial di sekolah binaannya. Kualitas pendidikan di SMA ditentukan oleh berbagai faktor, di antaranya kualitas pengelolaan proses pembelajaran. Pengawas sekolah merupakan sumber daya manusia yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran di sekolah. Hasil rerata Uji Kompetensi Pengawas Sekolah (UKPS) tahun 2015, dalam dimensi supervisi manajerial adalah 44,52. Hasil ini masih di bawah Kriteria Pencapaian Minimal (KCM) yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu 5,5. Pelaksanaan supervisi manajerial merupakan salah satu bagian dari dimensi tersebut. Berdasarkan fakta yang ada maka dipandang perlu pemerintah menyediakan modul yang membahas tentang pelaksanaan supervisi manajerial.

Esensi supervisi manajerial adalah pemantauan dan pembinaan terhadap kepala sekolah dalam mengelola sekolah dan administrasi sekolah. Selain melakukan supervisi terhadap hal-hal di atas, pengawas sekolah dituntut pula melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang meliputi (a) Standar Kompetensi Lulusan, (b) Standar Isi (c) Standar Proses, (d) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, (e) Standar Sarana dan Prasarana, (f) Standar Pengelolaan, (g) Standar Pembiayaan, (h) Standar Penilaian, terintegrasi dalam karakter religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas. Dalam nilai religius mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku untuk melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut; menghargai perbedaan agama; menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain; hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Nilai karakter nasionalis merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Nilai karakter mandiri merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi, dan cita-cita. Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai semangat kerja sama dan bahu membahu,

(18)

menyelesaikan persoalan bersama, memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, bersahabat dengan orang lain, dan memberi bantuan pada mereka yang miskin, tersingkir, dan membutuhkan pertolongan. Nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kesetiaan dan moral (integritas moral).

Secara spesifik, supervisi ditujukan bagi peningkatan mutu pembelajaran dan pengelolaan sekolah. Salah satu sasaran dalam pelaksanaan supervisi manajerial adalah bagaimana cara kepala sekolah mewujudkan pengelolaan sekolah yang bermutu dengan mengintegrasikan lima nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Melalui pelaksanaan supervisi manajerial pengawas sekolah dapat melihat kondisi sekolah yang dikelola oleh kepala sekolah. Pengawas sekolah sebagai supervisor dapat memberikan motivasi dan memberikan pelayanan supervisi manajerial secara optimal kepada para guru, tenaga kependidikan, dan kepala sekolah. Melalui supervisi manajerial diharapkan terjadi perubahan kinerja guru, tenaga kependidikan, dan kepala sekolah ke arah yang lebih berkualitas dan menumbuhkembangkan perilaku belajar peserta didik yang lebih baik. Proses pengelolaan sekolah yang berkualitas dan hasil belajar peserta didik yang optimal merupakan satu indikator keberhasilan pengawas sekolah dalam melakukan pembinaan. Untuk itu, pengawas sekolah perlu membuat perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi serta tindak lanjut supervisi manajerial.

Modul Pelaksanaan Supervisi Manajerial merupakan tindak lanjut dari Modul Program Pengawasan Supervisi Manajerial (Modul C), yang memuat rencana pembinaan dan pemantauan pengawasan, penilaian kepala sekolah dan guru, dalam melaksanakan supervisi manajerial.

Modul ini dilaksanakan melalui tiga tahap pembelajaran yaitu In Service Learning 1 (In- 1), On The Job Learning (On), dan In Service Learning 2 (In-2). Pada tahap kegiatan In- 1, Saudara bersama dengan pengawas sekolah lain akan dipandu oleh fasilitator untuk menyiapkan dasar pengetahuan dan pengalaman Saudara sebagai bahan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran di sekolah binaan saat kegiatan On. Pada tahap On Saudara melaksanakan kegiatan di tempat kerja Saudara. Pada tahap In-2 Saudara bersama pengawas sekolah lain melaporkan tagihan dan mempresentasikan berbagai temuan, tantangan, kendala yang Saudara hadapi, serta solusi yang Saudara lakukan pada saat On.

(19)

Implementasi nilai-nilai PPK dan PIPKA pada modul ini diharapkan dapat mencegah tumbuhnya paham radikalisme, terorisme, vandalisme, penyalahgunaan obat terlarang, dan perilaku hidup bebas sehingga dapat merajut kehidupan damai dan sejahtera dalam bingkai NKRI. Urgensi pokok permasalahan ini dapat dijelaskan pada bagian berikut ini.

Sebagai bangsa yang besar NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) merupakan suatu Negara kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau dan diapit oleh dua samudra dan dua benua, didiami oleh ratusan juta penduduk, memiliki iklim tropis, memiliki keanekaragaman budaya dan adat istiadat agama dan keyakinan yang berlainan satu sama lain bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Keseluruhannya tercemin dalam satu ikatan kesatuan lambang negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Pada dasarnya keberagaman masyarakat Indonesia menjadi modal dasar dalam pembangunan bangsa.

Oleh karena itu, sangat diperlukan rasa persatuan dan kesatuan yang tertanam disetiap warga negara Indonesia. Pembentukan sikap nasionalis terhadap bangsa yang besar perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai generasi penerus bangsa Indonesia.

Namun demikian, dalam kenyataanya masih ada konflik yang terjadi dengan mengatasnamakan suku, agama, ras atau antargolongan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa sikap nasionalis bangsa yang ada seharusnya bisa menjadi modal bagi bangsa ini untuk menjadi bangsa yang kuat. Untuk mendukungnya, diperlukan rasa persatuan yang kokoh dan kuat. Persatuan bangsa merupakan syarat yang mutlak bagi kejayaan Indonesia. Jika masyarakatnya tidak bersatu dan selalu memprioritaskan kepentingannya sendiri, maka cita-cita Indonesia yang terdapat dalam sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Bangsa akan hanya menjadi mimpi yang tak akan pernah terwujud. Sehingga semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu, hanya sebatas slogan. Komitmen seluruh unsur negara menentukan sikap yang persisten untuk kesatuan bangsa perlu ditindaklanjuti di berbagai tingkat masyarakat. Keberagaman dalam berbagai aspek (adat, budaya, agama, bahasa) merupakan kondisi yang dapat membentuk masyarakat Indonesia yang memiliki toleransi dan rasa saling menghargai untuk menjaga perbedaan tersebut. Untuk itu perlu nilai komitmen persatuan bangsa Indonesia dalam keberagaman nasional.

Kata kata bijak mengatakan: "Bila anda ingin memperbaiki dunia, mulailah terlebih dulu dengan diri sendiri." Walaupun terkesan kuno, tetapi tetap berlaku untuk kita simak dan diterapkan dalam perjalanan hidup. Kita semuanya berharap Indonesia bisa berubah menjadi lebih baik dalam segala hal. Menjadi lebih baik dalam pendidikan anak bangsa, kesehatan masyarakat, perekonomian, sandang pangan, keamanan, kesejahteraan, dan

(20)

seterusnya. Salah satunya adalah agar tercipta keharmonisan, kedamaian dan ketenangan dalam hidup keberagaman antar berbagai suku bangsa yang ada ditanah air kita tercinta.

Perbuatan-perbuatan negatif yang dapat merusak keutuhan suatu bangsa perlu dihindari sedini mungkin, seperti radikalisme, vandalisme dan penyalahgunaan obat terlarang narkoba serta kehidupan bebas melalui penguatan nilai-nilai luhur Pancasila. Untuk mencegah lahirnya paham radikalisme maka perlunya penguatan pada cara pandang pendidikan agama dan budi pekerti yang berlaku di Indonesia yang lebih berorientasi pada hukum yang kaku dan eksklusif tetapi lebih pada cinta yang moderat dan inklusif.

Oleh karena itu, pembelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti dan Pendidikan Pancasila harus dilakukan secara berkesinambungan untuk menangkis masuk dan berkembangnya paham radikalisme di Indonesia terutama pada generasi muda.

Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, pergaulan bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS. Generasi muda saat ini harus diselamatkan dari era globalisasi ini karena banyak kebudayaan-kebudayaan yang asing yang masuk dan tidak semua sama dengan kebudayaan luhur bangsa Indonesia, seperti kebudayaan hubungan bebas. Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para generasi mudah dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya.

Penyalahgunaan obat terlarang selalu menjerat generasi muda ke dalam jeratan narkoba, zat dan obat-obatan terlarang. Para pengedar dan pembuat barang-barang terlarang tersebut akan melakukan berbagai promosi bujuk rayu menjebak kepada orang-orang yang lemah iman dan tidak memiliki akal sehat untuk menjadi budak obat- obat terlarang. Oleh karena itu, generasi muda perlu dibekali pengetahuan tentang obat- obat terlarang dan segala akibatnya. Pergaulan yang salah dapat menyebabkan generasi muda terperosok ke dalam jurang kesesatan. Penguatan nilai religius melalui penguatan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui kesadaran bahwa penggunaan narkoba itu dosa karena hanya menyakiti dan merusak tubuh dan pikiran manusia. Penggunaan narkoba juga menjauhkan kita dari agama yang kita anut.

(21)

Pembentukan karakter generasi penerus bangsa perlu ditanamkan sejak mulai dini melalui perbuatan-perbuatan kebajikan sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa yang ada dalam nilai-nilai Pancasila. Melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) diharapkan generasi penerus bangsa yang besar ini dapat merajut kedamaian dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia dan terlepas dari sisi negatif dampak globalisme yang dapat merusak peradaban bangsa dan negara melalui perbuatan-perbuatan radikalisme bangsa, vandalisme, penyalahgunaan obat-obatan terlarang serta kehidupan bebas di abad super modern ini.

B. Target Kompetensi

1. Membina kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi satuan pendidikan berdasarkan manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

2. Membina kepala sekolah dan guru bimbingan dan konseling (BK)/konselor dalam melaksanakan bimbingan dan konseling di sekolah.

3. Mendorong kepala sekolah dan guru dalam merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan tugas pokoknya di sekolah.

C. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) bagi Pengawas Sekolah Jenjang Sekolah Menengah Atas yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam Penguatan Pendidikan Karakater (PPK), yakni nilai religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas diharapkan pengawas sekolah mampu:

1. melaksanakan pembinaan pengelolaan satuan pendidikan sesuai 8 SNP;

2. melaksanakan pembinaan dalam penyusunan administrasi sekolah;

3. mengarahkan kepala sekolah dan guru dalam menganalisis permasalahan layanan BK di sekolah;

4. mengarahkan kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan bimbingan dan konseling;

5. meningkatkan motivasi guru untuk melakukan refleksi terhadap tugas pokoknya;

dan

6. memotivasi kepala sekolah merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya untuk menentukan kelemahan dan kekuatan dalam melaksanakan tugas pokoknya di sekolah.

(22)

D. Peta Kompetensi Pengawas Sekolah

Gambar 2. Peta Kompetensi Modul Pelaksanaan Supervisi Manajerial PERMENDIKNAS NOMOR 12 TAHUN 2007

TENTANG STANDAR PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH

DIMENSI SUPERVISI MANAJERIAL

2.5

Membina kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi satuan pendidikan berdasarkan manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah

PELAKSANAAN SUPERVISI MANAJERIAL KOMPETENSI

2.7

Mendorong guru dan kepala sekolah dalam merefleksikan hasil- hasil yang dicapainya untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan tugas pokoknya di sekolah 2.6

Membina kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan bimbingan konseling di sekolah

2.5.1 Melaksanakan pembinaan dalam pengelolaan satuan pendidikan sesuai 8 SNP.

2.5.2 Melaksanakan pembinaan dalam penyusunan

administrasi sekolah

2.6.1 Mengarahkan kepala sekolah dan guru dalam menganalisis permasalahan layanan BK di sekolah

2.6.2 Mengarahkan kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan bimbingan konseling

2.7.1

Meningkatkan motivasi guru melakukan refleksi terhadap tugas pokoknya

2.7.2

Memotivasi kepala sekolah merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya untuk menentukan kelemahan dan kekuatan dalam melaksanakan tugas pokoknya di sekolah

(23)

E. Ruang Lingkup dan Pengorganisasian Pembelajaran

1. Ruang Lingkup

Ruang lingkup pembelajaran dalam modul ini meliputi pembinaan kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi satuan pendidikan berdasarkan manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah, pembinaan kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan bimbingan konseling di sekolah serta mendorong kepala sekolah dan guru dalam merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan tugas pokoknya di sekolah.

2.

Pengorganisasian Pembelajaran

Melalui modul ini, Saudara akan melakukan kegiatan-kegiatan, baik secara individu maupun secara kelompok. Kegiatan-kegiatan yang Saudara lakukan terdiri dari 6 (enam) kegiatan pembelajaran.

Kegiatan In-1, On, dan In-2 pada modul ini akan Saudara lakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Pada tahap In-1, Saudara akan melakukan kegiatan diskusi, simulasi, studi kasus, bermain peran, curah pendapat, dan berbagi pengalaman yang telah Saudara lakukan berkaitan dengan tugas Saudara.

Pada tahap On, Saudara akan melakukan implementasi rencana tindak lanjut yang telah Saudara susun pada saat kegiatan In-1 serta mendokumentasikan bukti pelaksanaan kegiatan.

Pada tahap In-2, Saudara mengumpulkan dokumen portofolio hasil On untuk dipresentasikan dan didiskusikan. Selanjutnya Saudara menyusun rencana tindak lanjut pasca In-2 dan melaksanakan penilaian diri.

a. Kegiatan Pembelajaran dan Alokasi Waktu

Kegiatan pembelajaran dan alokasi waktu terinci pada tabel 1 berikut.

Tabel 1. Kegiatan Pembelajaran dan Alokasi Waktu

No Kegiatan Pembelajaran Alokasi

Waktu 1 Melaksanakan pembinaan pengelolaan satuan pendidikan sesuai

dengan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan. 6 JP 2 Melaksanakan pembinaan dalam menyusun administrasi sekolah 5 JP 3 Mengarahkan kepala sekolah dan guru dalam menganalisis 4 JP

(24)

No Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu permasalahan layanan bimbingan konseling di sekolah.

4 Mengarahkan kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan

bimbingan konseling. 4 JP

5 Meningkatkan motivasi guru untuk melakukan refleksi terhadap

tugas pokoknya. 4 JP

6

Memotivasi kepala sekolah merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya untuk menemukan kelemahan dan kekuatan dalam melaksanakan tugas pokoknya di sekolah.

4 JP

7 Penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) In-1 1 JP

Jumlah 28 JP

Melalui modul ini, Saudara akan melakukan kegiatan pembelajaran pelaksanaan supervisi manajerial yang diawali dengan kegiatan mempelajari pendahuluan pelaksanaan supervisi manajerial melalui beberapa kegiatan antara lain diskusi, studi kasus, bermain peran, dan permainan simulasi kemudian diakhiri dengan tes.

Kegiatan tatap muka dilaksanakan selama 28 jam pembelajaran dengan struktur pembelajaran seperti pada tabel 1.

b. Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran yang digunakan dalam modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Pengawas Sekolah ini tertera pada tabel 2 berikut ini:

Tabel 2. Strategi Pembelajaran

No Strategi In-1 On In-2

1 Diskusi V v

2 Presentasi/simulasi V V

3 Studi kasus V v

4 Permainan/Ice Breaker V

5 Bermain peran V

6 Brainstorming V v

7 Refleksi V v

(25)

F. Penilaian

Aspek penilaian dalam program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan dengan moda Tatap Muka In-1, On, In-2 adalah sebagai berikut:

1. Penilaian Sikap (disingkat NS)

Penilaian aspek sikap dimaksudkan untuk mengetahui sikap peserta pada unsur kerja sama, disiplin, tanggung jawab, dan keaktifan. Sikap-sikap tersebut dapat diamati pada saat menerima materi, melaksanakan tugas individu dan kelompok, mengemukakan pendapat dan bertanya jawab, serta saat berinteraksi dengan narasumber dan peserta lainnya.

Penilaian sikap dilakukan sejak awal sampai akhir kegiatan baik In-1 maupun In-2 secara terus menerus yang dilakukan oleh narasumber untuk setiap materi. Namun, penetapan nilai akhir aspek sikap dilakukan pada terakhir. Penilaian aspek sikap sebagaimana unsur yang ditetapkan di atas merupakan kesimpulan narasumber terhadap sikap peserta. Hasil penilaian sikap dituangkan dalam format Lembar Penilaian Sikap diserahkan kepada kepada operator SIM.

2. Penilaian Keterampilan (disingkat NK)

Penilaian keterampilan bertujuan untuk mengetahui apakah telah terjadi perubahan keterampilan peserta setelah melalui proses pembelajaran In-1, On, dan In-2.

Penilaian keterampilan menggunakan pendekatan penilaian autentik mencakup tes dan nontes berupa penyelesain tugas pengisian LK, portofolio dan laporan On, dan presentasi hasil On. Penilaian aspek keterampilan dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung, namun juga melalui kumpulan portofolio hasil penugasan individu dan/atau kelompok. Komponen penilaian terhadap aspek keterampilan khususnya portofolio hasil On yakni Kelengkapan (semua tagihan terpenuhi), Keaslian (dibuat sendiri, tidak ada indikasi meniru milik/dikerjakan orang lain), Kualitas (kebenaran isi sesuai kriteria/rubrik). Hasil penilaian aspek keterampilan dituangkan dalam format Lembar Penilaian Keterampilan pada In-1 dan In-2 diserahkan kepada operator SIM.

3. Penilaian Aspek Pengetahuan (disingkat NP)

Penilaian aspek pengetahuan disebut dengan Tes Akhir dilakukan oleh peserta di akhir kegiatan pelatihan program PKB moda Tatap Muka untuk kegiatan In-1, On, In- 2. Peserta yang dapat mengikuti tes akhir adalah peserta yang telah mengikuti pelatihan PKB secara tuntas untuk seluruh kegiatan pembelajaran dan dinyatakan layak berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Pelaksanaan tes akhir dilakukan secara

(26)

Daring di TUK yang telah ditentukan. Nilai tes akhir akan menjadi nilai UKPS tahun 2017 dan digunakan sebagai salah satu komponen nilai akhir peserta.

Selanjutnya, Nilai Akhir (NA) peserta pelatihan PKB moda tatap muka In-1, On, In-2 diperoleh dengan formula sebagai berikut :

4.

Kriteria

Kelulusan Peserta

Peserta akan mendapatkan sertifikat dari Nilai Akhir (NA) dengan predikat minimal

“Cukup”. Berikut adalah kategori predikat pada kelulusan peserta mengadaptasi Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 15 Tahun 2015 tentang Pedoman Diklat Prajabatan:

Angka Predikat

> 90,0 – 100 Amat Baik

> 80,0 – 90,0 Baik

> 70,0 – 80,0 Cukup

> 60,0 – 70,0 Sedang

 60 Kurang

Batas nilai kelulusan adalah perolehan nilai akhir > 70. Peserta yang mendapat nilai akhir > 70 akan mendapatkan sertifikat. Peserta yang mendapat nilai akhir  70 hanya mendapatkan surat keterangan.

NA = [{(NS x 40%) + (NK x 60%)} x 60%] + [NP x 40%]

(27)

BAGIAN II

KEGIATAN PEMBELAJARAN

TAHAP IN SERVICE LEARNING 1 (In-1) (28 JP)

Pengantar

Pada tahap In-1, Saudara berkumpul bersama pengawas sekolah lain untuk berpikir reflektif tentang pelaksanaan pembinaan pengelolaan satuan pendidikan sesuai 8 SNP. Kegiatan- kegiatan tersebut dicapai melalui strategi diskusi. Saudara dapat melakukannya secara berkelompok, namun Jika tidak memungkinkan, karena jumlah peserta terbatas, silakan kerjakan kegiatan secara individual. Pada akhir In-1 saudara akan membuat rencana tindak lanjut untuk On di sekolah binaan.

Kegiatan Pembelajaran 1: Melaksanakan Pembinaan dalam

Pengelolaan Satuan Pendidikan Sesuai 8 SNP (6 JP)

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah Saudara selesai mempelajari kegiatan pembelajaran melalui berbagai strategi, Saudara diharapkan mampu melaksanakan pembinaan dalam pengelolaan satuan pendidikan sesuai 8 SNP secara efektif dan efisien yang mengintegrasikan nilai karakter.

B. Indikator Pencapaian Tujuan

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran ini, Saudara diharapkan mampu melaksanakan pembinaan dalam:

1. menyusun perencanaan sekolah sesuai dengan visi, misi, dan tujuan sekolah 2. mewujudkan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dan inovatif

3. mengelola pendidik dan tenaga kependidikan 4. mengelola sarana prasarana sekolah

5. mengelola peserta didik yang terampil, kreatif, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat

6. mengelola administrasi sekolah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah.

(28)

C. Uraian Materi

Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru, pasal 15 ayat (4) poin d menyebutkan bahwa pengawas satuan pendidikan bertugas sebagai pendidik yang melaksanakan tugas pembimbingan dan pelatihan profesional guru dan tugas pengawasan. Tugas pengawas sekolah sebagaimana dijelaskan dalam Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 143 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya, adalah melaksanakan pengawasan akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan, pelaksanaan pembinaan, pemantauan pelaksanan Standar Nasional Pendidikan (SNP), penilaian, pembimbingan dan pelatihan profesional guru, evaluasi hasil program pengawasan, dan pelaksanaan tugas pengawasan di daerah khusus.

Berkaitan dengan hal tersebut, dalam melaksanakan pembinaan terhadap kepala sekolah dan guru, Saudara diharapkan untuk selalu mempersiapkan terlebih dahulu menyusun Rencana Pengawasan Akademik/Rencana Pengawasan Manajerial (RPA/RPM) yang memuat: aspek/masalah, tujuan, indikator, waktu pelaksanaan pembinaan, tempat, metode kerja/strategi, skenario kegiatan, sumber daya yang digunakan, penilaian, instrumen, dan rencana tindak lanjut. Dalam pembahasan ini, Saudara mempelajari materi yang berkaitan dengan tugas pokok Saudara sebagai pengawas sekolah.

1. Pembinaan Penyusunan Perencanan Sekolah

Salah satu tugas pengawas sekolah adalah melakukan pembinaan terhadap kepala sekolah dalam penyusunan perencanaan sekolah yang disusun bersama Tim Pengembang Sekolah (TPS). Penyusunan ini melibatkan peran serta masyarakat, antara lain melalui kemitraan dengan instansi DUDI dan publik lainnya. Perencanaan merupakan inti dalam pengelolaan sebuah institusi sebagai langkah pertama dari keseluruhan proses manajemen. Perencanaan dapat dikatakan sebagai fungsi terpenting di antara fungsi-fungsi manajemen lainnya.

Perencanaan yang baik paling sedikit memuat visi, misi, tujuan, serta rencana kerja sekolah dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam PPK. Proses perencanaan pengembangan sekolah sekurang-kurangnya mencakup langkah- langkah yang ditunjukkan dalam gambar berikut (Ditjen PMPTK. 2007. Penyusunan Rencana Strategis dalam Pengembangan Sekolah Dasar):

(29)

Gambar 3. Proses Perencanaan Pengembangan Sekolah

a. Visi Sekolah

Visi merupakan gambaran tentang masa depan (future) yang realistik dan ingin diwujudkan dalam kurun waktu tertentu. Visi adalah pernyataan yang diucapkan atau ditulis hari ini, yang merupakan proses manajemen saat ini yang menjangkau masa yang akan datang (Akdon, 2006). Bagi sekolah, Visi adalah imajinasi moral yang menggambarkan profil sekolah yang diinginkan di masa datang. Imajinasi ke depan seperti itu akan selalu diwarnai oleh peluang dan tantangan yang diyakini akan terjadi di masa datang. Dalam menentukan visi tersebut, sekolah harus memperhatikan perkembangan dan tantangan masa depan.

Berikut adalah ketentuan visi sekolah menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007.

1) Sekolah merumuskan dan menetapkan visi serta mengembangkannya.

2) Visi sekolah harus:

Menyusun Rencana Kegiatan dan

Anggaran Sekolah Merumuskan:

Visi, Misi,Tujuan

Telaah Diri (Self Review)

Memilih Prioritas dan Strategi

Pengembangan

Menyusun:

Program Pengembangan

Menyusun

Rencana Operasional Tahunan

(30)

a) dijadikan sebagai cita-cita bersama warga sekolah dan segenap pemangku kepentingan pada masa yang akan datang;

b) mampu memberikan inspirasi, motivasi, kekuatan pada warga sekolah dan segenap pihak yang berkepentingan;

c) dirumuskan berdasar masukan dari berbagai warga sekolah dan pihak- pihak pemangku kepentingan, selaras dengan visi institusi di atasnya serta visi pendidikan nasional;

d) diputuskan oleh rapat dewan pendidik yang dipimpin oleh kepala sekolah dengan memperhatikan masukan komite sekolah;

e) disosialisasikan kepada warga sekolah dan segenap pihak yang berkepentingan; dan

f) ditinjau dan dirumuskan kembali secara berkala sesuai dengan perkembangan dan tantangan di masyarakat.

b. Misi Sekolah

Misi adalah pernyataan mengenai hal-hal yang harus dicapai organisasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan di masa datang (Akdon, 2006). Pernyataan misi mencerminkan tentang penjelasan produk atau pelayanan yang ditawarkan.

Berikut adalah ketentuan misi sekolah menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007.

1) Sekolah merumuskan dan menetapkan misi serta mengembangkannya.

2) Misi sekolah:

a) memberikan arah dalam mewujudkan visi sekolah sesuai dengan tujuan pendidikan nasional;

b) merupakan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu tertentu;

c) menjadi dasar program pokok sekolah;

d) menekankan pada kualitas layanan peserta didik dan mutu lulusan yang diharapkan oleh sekolah;

e) memuat pernyataan umum dan khusus yang berkaitan dengan program sekolah;

f) memberikan keluwesan dan ruang gerak pengembangan kegiatan satuan-satuan unit sekolah yang terlibat;

g) dirumuskan berdasarkan masukan dari segenap pihak yang berkepentingan termasuk komite sekolah dan diputuskan oleh rapat dewan pendidik yang dipimpin oleh kepala sekolah;

(31)

h) disosialisasikan kepada warga sekolah dan segenap pihak yang berkepentingan;

i) ditinjau dan dirumuskan kembali secara berkala sesuai dengan perkembangan dan tantangan di masyarakat.

c. Tujuan Sekolah

Tujuan merupakan penjabaran dari pernyataan misi. Tujuan adalah sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Penetapan tujuan pada umumnya didasarkan pada faktor-faktor kunci keberhasilan yang dilakukan setelah penetapan visi dan misi. Tujuan tidak harus dinyatakan dalam bentuk kuantitatif, akan tetapi harus dapat menunjukkan kondisi yang ingin dicapai di masa mendatang (Akdon, 2006).

Berikut adalah ketentuan tujuan sekolah menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007.

1) Sekolah merumuskan dan menetapkan tujuan serta mengembangkannya.

2) Tujuan sekolah:

a) menggambarkan tingkat kualitas yang perlu dicapai dalam jangka menengah (empat tahunan);

b) mengacu pada visi, misi, dan tujuan pendidikan nasional serta relevan dengan kebutuhan masyarakat;

c) mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan yang sudah ditetapkan oleh sekolah dan Pemerintah;

d) mengakomodasi masukan dari berbagai pihak yang berkepentingan termasuk komite sekolah dan diputuskan oleh rapat dewan pendidik yang dipimpin oleh kepala sekolah;

e) disosialisasikan kepada warga sekolah dan segenap pihak yang berkepentingan.

d. Rencana Kerja Sekolah

Rencana Kerja Sekolah (RKS) merupakan sebuah proses perencanaan atas semua hal dengan baik dan teliti untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan tujuan agar sekolah dapat menyesuaikan dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, sosial budaya masyarakat, potensi sekolah dan kebutuhan peserta didik.

RKS (Rencana Kerja Sekolah) disusun sebagai pedoman kerja dalam

(32)

pengembangan sekolah, dasar untuk melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pengembangan sekolah, dan sebagai bahan acuan untuk mengidentifikasi serta mengajukan sumber daya yang diperlukan.

1) Sekolah membuat:

a) rencana kerja jangka menengah yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu empat tahun yang berkaitan dengan mutu lulusan yang ingin dicapai dan perbaikan komponen yang mendukung peningkatan mutu lulusan;

b) rencana kerja tahunan yang dinyatakan dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) dilaksanakan berdasarkan rencana jangka menengah. Rencana kerja tahunan ini diharapkan disusun berdasarkan Evaluasi Diri Sekolah (EDS).

2) Rencana kerja jangka menengah dan tahunan sekolah:

a) disetujui rapat dewan guru setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah dan disahkan berlakunya oleh dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota. Pada sekolah swasta rencana kerja ini disahkan berlakunya oleh penyelenggara sekolah; dan

b) dituangkan dalam dokumen yang mudah dibaca oleh pihak-pihak yang terkait.

3) Rencana kerja empat tahun dan tahunan disesuaikan dengan persetujuan rapat dewan guru dan pertimbangan komite sekolah.

4) Rencana kerja tahunan dijadikan dasar pengelolaan sekolah yang dilaksanakan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.

5) Rencana kerja tahunan memuat ketentuan yang jelas mengenai:

a) kesiswaan;

b) kurikulum dan kegiatan pembelajaran;

c) pendidik dan tenaga kependidikan serta pengembangannya;

d) sarana dan prasarana;

e) keuangan dan pembiayaan;

f) budaya dan lingkungan sekolah;

g) peran serta masyarakat dan kemitraan;

(33)

h) rencana-rencana kerja lain yang mengarah kepada peningkatan dan pengembangan mutu.

2. Pembentukan Budaya dan Iklim Sekolah yang Kondusif dan Inovatif

a. Pengertian Budaya Sekolah

Budaya sekolah adalah nilai-nilai dominan yang didukung oleh sekolah atau falsafah yang menuntun kebijakan sekolah terhadap semua unsur dan komponen sekolah termasuk stakeholders pendidikan seperti cara melaksanakan pekerjaan, asumsi atau kepercayaan dasar yang dianut oleh personil sekolah.

Budaya sekolah merujuk pada suatu sistem nilai, kepercayaan, dan norma- norma yang diterima secara bersama, serta dilaksanakan dengan penuh kesadaran sebagai perilaku alami. Sistem nilai ini dibentuk oleh lingkungan yang menciptakan pemahaman yang sama di antara seluruh unsur dan personel sekolah, baik itu kepala sekolah, guru, staf dan peserta didik. Sistem nilai yang baik ini apabila dimungkinkan dapat diimbaskan kepada masyarakat di lingkungan sekolah. Penanaman budaya sekolah dapat dilaksanakan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler maupun dalam bentuk pembiasaan yang dapat memperkuat branding sekolah.

b. Manfaat Pengembangan Budaya Sekolah

Beberapa manfaat yang dapat diambil dari upaya pengembangan budaya sekolah antara lain: (1) menjamin kualitas kerja yang lebih baik, (2) membuka seluruh jaringan komunikasi dari segala jenis dan level baik komunikasi vertikal maupun horisontal, (3) lebih terbuka dan transparan, (4) menciptakan kebersamaan dan rasa saling memiliki yang tinggi, (4) meningkatkan solidaritas dan rasa kekeluargaan, (5) jika menemukan kesalahan akan segera dapat diperbaiki, dan (6) dapat beradaptasi dengan baik terhadap perkembangan IPTEK.

Selain beberapa manfaat di atas, manfaat lain bagi individu (pribadi) dan kelompok adalah: (1) meningkatkan kepuasan kerja, (2) pergaulan lebih akrab, (3) disiplin meningkat, (4) pengawasan fungsional bisa lebih ringan, (5) muncul keinginan untuk selalu proaktif dan responsif, (6) belajar dan berprestasi turut serta, dan (7) selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri.

(34)

c. Prinsip Pengembangan Budaya Sekolah

Upaya pengembangan budaya sekolah seyogyanya mengacu pada beberapa prinsip yang terdiri dari: (1) Berfokus pada visi, misi, dan tujuan sekolah, (2) penciptaan komunikasi formal dan informal, (3) memiliki strategi yang jelas, (4) berorientasi kinerja, (5) sistem evaluasi yang jelas, (6) memiliki komitmen yang kuat, (7) keputusan berdasarkan konsensus/mufakat, (8) sistem imbalan yang jelas, dan (9) evaluasi diri.

d. Asas Pengembangan Budaya Sekolah

Upaya pengembangan budaya sekolah juga seyogyanya berpegang pada asas- asas yang terdiri dari: (1) kerja sama tim (team work), (2) kemampuan mengerjakan tugas, (3) keinginan melakukan tugas, (4) kegembiraan (happiness), (5) hormat (respect), (5) jujur (honesty), (6) disiplin (discipline), (7) empati (empathy), dan (8) pengetahuan dan kesopanan.

e. Prioritas dalam Mewujudkan Budaya Sekolah yang Kondusif

Ruang lingkup kebutuhan dan peluang pengembangan ada kalanya melebihi kapasitas sekolah. Untuk itu diperlukan adanya penentuan prioritas, sehingga dalam upaya mewujudkan budaya sekolah yang kondusif peran kepemimpinan perlu memperhatikan hal-hal yang dijadikan prioritas dalam mengembangkan budaya sekolah. Untuk menentukan prioritas tersebut adalah sebagai berikut: 1) perubahan dan pengembangan yang dipilih pertama-tama harus dicatat,

oleh karena sekolah tidak ada pilihan lain kecuali melaksanakannya, pengimplementasian perubahan itu akan mengurangi sumber daya yang sebenarnya diperlukan untuk pengembangan yang lain.

2) kebutuhan dan peluang pengembangan yang lain harus disusun prioritasnya berdasarkan:

a) Kepentingannya

1) relevansinya terhadap visi, misi, dan tujuan strategis sekolah

2) pentingnya pengembangan sekolah dalam kaitannya dengan semua faktor konteks

b) Keterlaksanaan; kemampuan sekolah yang ada sekarang untuk memberikan dukungan sumber daya manusia, keahlian, energi, waktu dan dana untuk mewujudkannya.

(35)

c) Aksesibilitas, merupakan komitmen sekolah saat sekarang untuk mewujudkannya

3. Pengelolaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK)

Pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) adalah segala kegiatan yang berkaitan dengan pengakuan pada pentingnya PTK pada sekolah sebagai sumber daya manusia yang vital, yang memberikan sumbangan terhadap tujuan sekolah, dan memanfaatkan fungsi dan kegiatan yang menjamin bahwa sumber daya manusia dimanfaatkan secara efektif dan adil demi kemaslahatan individu, sekolah, dan masyarakat. Dalam pengertian ini, posisi sumber daya manusia tidak bisa digantikan oleh faktor-faktor lain dilihat dari nilai sumbangannya terhadap sekolah. Seorang PTK dinyatakan memiliki nilai sumbangan kepada sekolah apabila kehadirannya diperlukan, memiliki nilai tambah terhadap produktivitas sekolah dan kegiatannya berada dalam mata rantai keutuhan sistem sekolah itu.

Pengelolaan PTK mencakup kegiatan sebagai berikut: (1) Perencanaan, (2) Analisis pendidik dan kependidikanan, (3) Pengadaan pendidik dan kependidikan, (4) Seleksi pendidik dan kependidikan, (5) Orientasi, Penempatan dan Penugasan, (6) Kompensasi, (7) Penilaian Kinerja, (8) Pengembangan Karir, (9) Pelatihan dan Pengembangan pendidik dan kependidikan, (10) Penciptaan Mutu Kehidupan Kerja, (11) Perundingan Ketenaga pendidik dan kependidikanan, (12) Riset pendidik dan kependidikan, dan (13) Pensiun dan Pemberhentian pendidik dan kependidikan (Ditjen PMPTK. 2008. Manajemen Pemberdayaan Sumber Daya Tenaga Pendidik dan Kependidikan Sekolah).

a. Perencanaan PTK

Perencanaan PTK adalah kegiatan menaksir/menghitung kebutuhan sumber daya manusia (SDM) sekolah dan selanjutnya merumuskan upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Upaya tersebut mencakup kegiatan menyusun dan melaksanakan rencana agar jumlah dan kualifikasi personil yang diperlukan itu tersedia pada saat dan posisi yang tepat sesuai dengan tuntutan sekolah.

b. Analisis PTK

Analisis PTK adalah suatu proses menjelaskan dan mencatat tujuan-tujuan PTK, kewajiban dan tanggung jawab utama PTK tersebut dan kondisi di mana PTK itu

(36)

harus dikerjakan. Analisis PTK merupakan bagian dari perencanaan SDM yang membentuk menjelaskan spesifikasi PTK dan spesifikasi kompetensi serta karakteristik kepribadian yang tepat.

c. Rekrutmen (pengadaan) PTK

Rekrutmen (pengadaan) PTK adalah seperangkat kegiatan dan proses yang dipergunakan untuk memperoleh sejumlah orang yang bermutu pada tempat dan waktu yang tepat sesuai dengan ketentuan hukum sehingga orang dan sekolah dapat saling menyeleksi berdasarkan kepentingan terbaik masing-masing dalam jangka panjang maupun jangka pendek.

d. Seleksi PTK

Seleksi PTK adalah suatu proses mengumpulkan informasi untuk menilai dan memutuskan siapa yang diangkat, dengan berpedoman pada hukum, demi kepentingan jangka panjang dan pendek, perorangan dan sekolah.

Ada beberapa langkah penting dalam menetapkan suatu proses seleksi. Tiap langkah masing-masing menyumbang kepada daya guna seleksi.

1) Merumuskan dengan teliti peranan-peranan. Adalah penting untuk memiliki konsep yang jelas tentang pengharapan yang dikaitkan kepada setiap kedudukan yang lowong. Tugas dan kewajiban bakal pengisi kedudukan- kedudukan itu harus ditetapkan dengan jelas dan disusun dalam bentuk spesifikasi PTK. Pengharapan staf guru sekolah maupun masyarakat hendaknya tercermin dalam spesifikasi itu. Lebih-lebih arah pertumbuhan yang diharapkan hendaknya dirumuskan dengan jelas dan dibicarakan dengan para calon tenaga pendidik dan kependidikan. Jadi, perumusan peranan-peranan itu hendaknya meliputi sumbangan awal maupun yang mungkin di kemudian hari dari para calon pendidik dan tenaga kependidikan.

2) Menetapkan standar seleksi. Deskripsi pendidik dan tenaga kependidikanan secara tertulis itu harus memberi petunjuk kepada standar seleksi. Standar seleksi ini meliputi: (a) umur, (b) kesehatan fisik, (c) pendidikan, (d) pengalaman bertugas, (e) tujuan-tujuan, (f) perangai, (g) pengetahuan umum, (h) keterampilan komunikasi, (i) motivasi, (j) minat, (k) sikap dan nilai-nilai, (l) kesehatan mental, (m) kepantasan untuk bertugas dengan murid, anggota staf

(37)

sekolah, dan masyarakat, dan (n) faktor-faktor lain yang mungkin ditetapkan secara khusus oleh pemerintah.

Banyak di antara faktor-faktor ini sukar untuk dinilai. Karena itu hendaknya dibuat persetujuan di antara orang-orang yang diberi tanggung jawab atas seleksi mengenai jenis bukti yang harus dipertimbangkan dalam hubungan dengan tiap faktor masing-masing.

3) Mengidentifikasi calon-calon yang memberi harapan baik. Calon-calon yang baik dari dalam maupun dari luar sistem sekolah hendaknya dipertimbangkan.

Daftar calon yang memperlihatkan harapan baik mungkin dapat dihasilkan melalui: (a) pemeriksaan daftar pelamar yang lebih dulu di dinas pendidikan dan di kantor-kantor penempatan pendidik dan tenaga kependidikan, (b) wawancara dengan para pelamar, dan (c) kunjungan ke kampus-kampus LPTK, universitas, dan lembaga lain yang mendidik bakal guru untuk mengadakan wawancara dengan para bakal calon.

4) Mengumpulkan informasi yang diperlukan. Setiap pelamar untuk suatu kedudukan harus menyampaikan salinan ijazah, program pendidikan, dan bukti-bukti lain yang diperlukan. Calon-calon yang nampaknya memberi harapan paling baik harus diminta datang untuk diwawancarai.

5) Menilai bakal calon. Hendaknya dibuat persiapan untuk menilai kesanggupan tiap pelamar melalui wawancara pribadi. Selama proses penilaian ini hendaknya diusahakan dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh penilaian yang teliti tentang kesanggupan pelamar untuk memenuhi pengharapan-pengharapan yang dikaitkan kepada jabatan yang akan diisi itu, dan untuk menjaga bahwa pengharapan-pengharapan itu tidak bertentangan dengan kebutuhan dan motivasi pelamar. Adalah jauh lebih baik untuk mengetahui setiap batas yang serius selama proses seleksi itu daripada menggunakan banyak waktu dan sumber sekolah dalam tindakan pembetulan kemudian setelah calon itu diangkat.

6) Memiliki dan mengusulkan pengangkatan calon. Selesai penilaian semua bukti yang tersedia tentang setiap calon, pelamar yang paling memenuhi untuk kedudukan yang lowong itu harus dipilih. Pelamar itu selanjutnya, melalui proedur yang telah ditetapkan, harus diusulkan kepada departemen pendidikan untuk memperoleh persetujuan untuk diangkat oleh yang berwajib.

(38)

e. Orientasi, Penempatan dan Penugasan

Orientasi, penempatan, dan penugasan merupakan kegiatan yang dilakukan serempak. Orientasi ditujukan untuk mempercepat sosialisasi PTK dan penerimaan lingkungan kerja sehingga PTK tersebut dapat segera beradaptasi dalam sistem, prosedur, serta budaya kerja. Penempatan dan penugasan adalah keputusan PTK yang berasaskan “the right men on the right job”.

f. Kompensasi (termasuk kesejahteraan)

Kompensasi adalah apa yang diterima PTK karena ia telah memberikan kontribusi pikiran, perhatian, kemampuan, dan kinerjanya terhadap sekolah. Kompensasi terdiri dari hal berupa uang dan bukan uang. Kompensasi sangat penting untuk memperoleh, memelihara, dan mempertahankan angkatan kerja yang produktif.

g. Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja yaitu suatu proses mempertimbangkan kinerja PTK pada masa lalu dan sekarang yang dikaitkan dengan latar belakang lingkungan kerjanya serta memperhatikan potensi yang dimiliki PTK tersebut bagi kepentingan sekolah di masa yang akan datang. Penilaian bertujuan membantu PTK yang bersangkutan mencapai hasil bagi dirinya sendiri dan sekolah.

h. Pengembangan Karir

Pengembangan karir adalah proses mencermati potensi, kemampuan, kinerja dan komitmen PTK untuk diposisikan dalam struktur sekolah secara tepat, sehingga PTK dan sekolah memperoleh maslahat dan nilai tambah optimal.

i. Pelatihan dan Pengembangan PTK

Pelatihan dan pengembangan PTK adalah upaya memperbaiki kinerja PTK di masa kini maupun di masa depan dengan meningkatkan kemampuan PTK untuk bertugas, melalui pembelajaran, biasanya dengan meningkatkan pengetahuan, mutu sikap dan keterampilan.

j. Penciptaan Mutu Lingkungan Kerja

Menciptakan lingkungan kerja adalah upaya yang berkaitan dengan mewujudkan pengawasan yang suportif, kondisi kerja yang baik, gaji dan penghargaan yang

(39)

merangsang, serta menjadikan PTK sebagai sesuatu yang menantang dan memberikan kepuasan.

k. Perundingan PTK

Perundingan PTK adalah kegiatan yang berkaitan dengan menempatkan hak dan kewajiban PTK menjadi jelas, merumuskan kesepakatan-kesepakatan, menangani perselisihan PTK, dan menyepakati konsekuensi yang akan diperoleh PTK sebagai akibat pelanggaran hubungan kerja.

l. Riset PTK

Riset atau penelitian sumber daya manusia adalah upaya untuk menemukan tindakan-tindakan PTK secara empirik yang dimaksudkan untuk memperbaiki tindakan-tindakan PTK pada masa kini, dan pengembangannya di masa depan.

Riset SDM dapat dilakukan dalam lingkungan internal sekolah maupun di luar sekolah. Riset SDM dapat dilakukan oleh unit yang ada dalam sekolah itu atau dilakukan oleh lembaga-lembaga khusus yang menaruh perhatian pada pengembangan dan pemberdayaan SDM atau MSDM pada umumnya.

m. Pensiun dan Pemberhentian PTK

Pensiun merupakan hak PTK. Fungsi manajemen SDM ini berkaitan dengan merumuskan syarat-syarat dan kondisi-kondisi yang memberikan kejelasan/pedoman bagi pemenuhan hak pensiun. Pemberhentian PTK terjadi atas permohonan sendiri atau karena diberhentikan organisassi akibat sanksi tertentu yang berkaitan dengan kesepakatan hubungan kerja. Pemberhentian PTK dalam arti ini biasanya dilakukan dalam periode kontrak kerja (work service).

n. Profesionalisme PTK

Tenaga kependidikan adalah profesional. Kata profesi berasal dari Bahasa Inggris

“to profess” yang berarti ikrar atau pernyataan diri bahwa seseorang akan mengabdi sepenuh hati untuk pendidikan yang telah dipilihnya sebagai karir dan sumber kehidupan sepanjang hayat.

Hal yang perlu diingat bahwa tidak semua tahapan pengelolaan PTK di atas dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah, mengingat kewenangan kepala sekolah yang terbatas. Namun demikian, sekolah perlu mendukung upaya:

(40)

1) promosi PTK berdasarkan asas kemanfaatan, kepatutan, dan profesionalisme;

2) pengembangan PTK yang diidentifikasi secara sistematis sesuai dengan aspirasi individu, kebutuhan kurikulum dan sekolah

3) penempatan tenaga kependidikan disesuaikan dengan kebutuhan, baik jumlah maupun kualifikasinya dengan menetapkan prioritas;

4) mutasi tenaga kependidikan dari satu ke posisi lain didasarkan pada analisis jabatan dengan diikuti orientasi tugas oleh pimpinan tertinggi sekolah yang dilakukan setelah empat tahun, tetapi dapat diperpanjang berdasarkan alas an yang dapat dipertanggungjawabkan, sedangkan untuk tenaga tambahan tidak ada mutasi

Selain itu, kepala sekolah juga perlu mendayagunakan semua PTK yang ada di sekolah sesuai dengan tugas pokoknya sehingga selaras dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan peraturan-peraturan lain yang berlaku.

4. Pengelolaan Sarana dan Prasarana

Dalam pengelolaan sarana dan prasarana persekolahan pada dasarnya kita akan membahas tentang: Perencanaan, Pengadaan, Pemeliharaan, inventarisasi, dan penghapusan sarana dan prasarana sekolah.

a. Perencanaan Sarana dan Prasarana

1) Tujuan Perencanaan Sarana dan Prasarana

Tujuan dari Perencanaan sarana dan prasarana adalah: (a) Untuk menghindari terjadinya kesalahan dan kegagalan yang tidak diinginkan, (b) Untuk meningkatkan efektifitas dan efesiensi dalam pelaksanaannya.

Salah rencana dan penentuan kebutuhan merupakan kekeliruan dalam menetapkan kebutuhan sarana dan prasarana yang kurang/tidak memandang kebutuhan ke depan, dan kurang cermat dalam menganalisis kebutuhan sesuai dengan dana yang tersedia dan tingkat kepentingan.

2) Prosedur Perencanaan Sarana dan Prasarana Pendidikan Persekolahan.

Untuk perencanaan sarana dan prasarana pendidikan persekolahan dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:

b) Identifikasi dan Menganalisis Kebutuhan Sekolah

(41)

Identifikasi adalah pencatatan dan pendaftaran secara tertib dan teratur terhadap seluruh kebutuhan sarana dan prasarana sekolah yang dapat menunjang kelancaran proses belajarar mengajar, baik untuk kebutuhan sekarang maupun yang akan datang. Hal-hal yang terkait dalam identifikas dan menganalisis kebutuhan sarana dan prasarana di sekolah, di antaranya adalah sebagai berikut:

(1) adanya kebutuhan sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan sekolah.

(2) adanya sarana dan prasarana yang rusak, dihapuskan, hilang atau sebab lain yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga memerlukan penggantian.

(3) adanya kebutuhan sarana dan prasarana yang dirasakan pada jatah perorangan jika terjadi mutasi guru atau pegawai sehingga turut mempengaruhi kebutuhan sarana dan prasarana.

(4) adanya persedian sarana dan prasarana untuk tahun anggaran mendatang.

c) Inventarisasi Sarana dan Prasarana yang Ada

Setelah identifikasi dan analisis kebutuhan dilakukan, selanjutnya diadakan pengurusan, penyelenggaraan, pengaturan, dan pencatatan barang-barang milik sekolah ke dalam suatu daftar inventaris secara teratur menurut ketentuan yang berlaku.

d) Mengadakan Seleksi

Dalam tahapan mengadakan seleksi, perencanaan sarana dan prasarana meliputi:

(1) Menyusun konsep program

Prinsip dalam menyusun program:

(a) Ada penanggung jawab yang memimpin pelaksanaan program (b) Ada kegiatan kongkrit yang dilakukan

(c) Ada sasaran (target) terukur yang ingin dicapai (d) Ada batas waktu

(e) Ada alokasi anggaran yang pasti untuk melaksanakan program.

(2) Pendataan

Gambar

Gambar  1 . Peta Kedudukan ModulPENELITIAN DAN
Gambar  2 . Peta Kompetensi Modul Pelaksanaan Supervisi ManajerialPERMENDIKNAS NOMOR 12 TAHUN 2007
Tabel 1. Kegiatan Pembelajaran dan Alokasi Waktu
Tabel 2. Strategi Pembelajaran
+7

Referensi

Dokumen terkait

 Pengertian dan ruang lingkup Manajemen Pengertian dan ruang lingkup Manajemen  Hakikat administrasi & Organisasi Hakikat administrasi & Organisasi.  Personalia/Staf

Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Mahkamah Agung Pembinaan Administrasi dan Pengelolaan Keuangan Badan Urusan Administrasi.. 4.767.257.000

Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Mahkamah Agung Pembinaan Administrasi dan Pengelolaan Keuangan Badan Urusan Administrasi.. 7.354.667.000

Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Mahkamah Agung Pembinaan Administrasi dan Pengelolaan Keuangan Badan Urusan Administrasi.. 22.373.375.000

Pembinaan administrasi yang meliputi pembinaan tata usaha pengelolaan dan pembinaan kepegawaian, pengelolaan dan pembinaan keuangan, pengelolaan dan pembinaan sarana

Kegiatan administrasi personel meliputi kegiatan yang berkaitan dengan kepegawaian, tugas dan tanggung jawab pengelolaan satuan pendidikan dan peningkatan tata usaha kepegawaian

Pembinaan Kepala Sekolah untuk Meningkatkan Kualitas Pelaksanaan Program Supervisi di Gugus Hasanudin Kebonagung Demak, Program Pascasarjana Magister Managemen

Dokumen yang berisi instrumen supervisi administrasi kepala satuan pendidikan, yang meliputi dokumen-dokumen yang berkaitan dengan visi dan misi sekolah, kurikulum, evaluasi, dan rencana