• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

5. Karakter Baik dan Kuat (BAKU)

a. Pengertian Karakter Baik dan Kuat (BAKU)

Karakter baik dan kuat disingkat BaKu adalah karakter yang sangat kita butuhkan. Orang yang seperti demikian memiliki hati yang ikhlas dan tulus. Karena tidak ada orang yang punya energi melimpah dalam berjuang, kecuali orang-orang yang mempunyai keikhlasan.

Tidak ada orang yang memiliki keistiqamahan kecuali mereka ikhlas.

Mereka yang tidak mengharapkan popularitas, tidak mengharap pujian, tidak mengharap hadiah dari apa yang dia lakukan. Apa yang dia harapkan hanyalah keridhaan Allah kepada dirinya.

Orang yang berkarakter baik dan kuat memiliki kemampuan sekaligus kemauan untuk berbuat kebaikan. Ibadah yang ia lakukan berdasarkan kesadaran dan hanya mencari keridhaan Allah. Baginya, penilaian makhluk tidaklah berarti. Jika datang pujian dari makhluk, baginya hanyalah bonus yang tidak seberapa dibandingkan kecintaan Allah. 44

Tidak sedikit orang yang sebenarnya diberi kemampuan tapi sayangnya tidak memiliki kemauan untuk berbuat. Macam-macam alasannya, ada yang merasa tidak kepada teman-temannya, ada yang karena tidak enak kepada atasan, dan berbagai alasan lainnya. Orang yang berkarakter BaKu akan memiliki mental yang lurus, mantap, ajeg, besar atau kecil, mewah atau sederhana, potensi yang ia miliki

43 Ibid, hlm. 78

44 Abdullah Gymnastiar, membangun karakter BAKU ikhtiar membangun generasi muda islami (Bandung: MQS Publishing, 2019), hlm 72-73

akan dimanfaatkan untuk berbuat sesuatu yang Allah ridhai dan bermanfaat baik bagi dirinya maupun orang lain

َّلََأ ُةَكِئ ۙ َٰلَمْلٱ ُمِهْيَلَع ُلَّزَ نَ تَ ت ۙاوُمَٰقَ تْسٱ َُّثُ ُهَّللٱ اَنُّ بَر ۙاوُلاَق َنيِذَّلٱ َّنِإ ۙاوُفاََتَ

﴾٣۰﴿

َنوُدَعوُت ْمُتنُك ىِتَّلٱ ِةَّن َجْلٱِب ۟اوُرِشْبَأ َو ۟اوُنَز ْحَت َلَ َو

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

(QS.Fushshilat: 30) 45

Menjadi remaja yang berkarakter Baik dan Kuat (BAKU) itu bukanlah terjadi begitu saja. Karakter (Baik dan Kuat) BAKU adalah karakter yang lahir karena proses pendidikan, latihan yang terus menerus. Pribadi yang menanamkan di dalam hatinya keyakinan kepada Allah kemudian dia amalkan dalam ucapan dan perbuatan sehari-hari dan bermujahadah untuk konsisten/ istiqomh dalam ketaatan, maka Allah akan mengaruniakan kepadanya kekuatan, keberanian, ketabahan, ketegaran dalam menemuh hidup ini, jauh darinya rasa sedih, cemas, galau, bimbang, ragu dan labil. Ia akan mantap dan lurus dalam keshalihan. 46

45 Kementrian Agama RI, Al-Qur‟an Terjemah dan Tajwid, (Bandung: Sygma, 2014), hlm.

480

46 Abdullah Gymnastiar, op.cit., hlm 74

b. Karakter Baik 1) Jujur

Dalam istillah keagamaan, jujur dianggap identik dengan kata ash-shidqu, yang makna aslinya, “ benar”. Memang berkata, berbuat benar berarti pula berkata atau berbuat jujur. 47Imam al-Ghazali mengatakan bahwa “kejujuran digunakan dalam enam hal;

yaitu dalam perkataan, niat, visi, menepati janji, perbuatan, dan kejujuran termasuk salah satu tahapan pencapaian spiritual yang harus dilalui agar kepribadian seseorang semakin matang dan saleh.” Seseorang yang telah menerapkan kejujuran di enam hal tersebut layak disebut al-shidiq. Al-shidiq adalah seseorang yang konsisten memegang teguh kebenaran dan kejujuran, dan selaras antara ucapan, perbuatan dan tingkah lakunya. Karena itu Rasulullah saw, memiliki sifat al-shidiq, lantaran beliau jujur dan konsisten memegang amanah, serta selaras antara ucapan, perbuatan dan tindak tanduknya. 48

2) Ikhlas

Secara bahasa Ikhlas berarti murni, sedang secara istillah berarti mengerjakan ibadah semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT.49 Orang yang ikhlas akan mengerjakan segala sesuatu dengan senang hati, penuh totalitas dan sepenuh hati, karena ia tidak membebani hati dan jiwanya untuk sekedar mendapatkan penilaian, pujian ataupun sekedar imbalan dari orang lain atas

47 Rif’at Syauqi Nawawi, kepribadian Qur‟ani, (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2011), hlm. 86

48 Lanny octavia, dkk, pendidikan karakter berbasis pesantren, (Jakarta selatan: Rumah kitab, 2014), hlm. 235-236

49Hamdan Rasyid, Pesona Kesempurnaan Islam, ( Jakarta Selatan: Zahira Press, 2009), hlm.

324

segala hal yang dikerjakannya. Ia memasrahkan penilaian atas apa yang dikerjakannya itu kepada Allah semata. 50

3) Tawadhu

Tawadhu’ adalah sikap yang terpuji lawannya adalah takabur atau sombong. Tawadhu’ juga meniscayakan pelakunya untuk memandang dirinya dengan pandangan minor (kecil) demi menghilangkan kecenderungan sombong dan angkuh. Sebaliknya, ia dituntut untuk memandang orang lain dengan pandangan apresiatif (penuh penghormatan) agar tidak ada hasrat untuk berbuat zalim (semena-mena) terhadap mereka. Di samping itu, ia pun dituntut untuk menerima nasihat dari orang lain selama memang nasihat tersebut benar adanya. 51

c. Karakter Kuat 1) Berani

Sifat berani adalah sifat atau karakter yang melekat pada jiwa, bukan yang lain. Apabila seseorang disifati “berani”, itu bukan karena kekuatan fisik atau ketangapan jasmaniyah, melainkan karena kekuatan jiwanya. Jiwa tidk terbelenggu rasa takut atau cemas. Sifat berani dalam bahasa Arab syaja‟ah (keberanian).

Kebalikan sifat ini adalah takut (al-khauf) orang yang terbelenggu sifat ini disebut penakut. 52

2) Disiplin

50 Ibid, hlm. 326

51 Muhammad Fauqi Hajjaj, Tasawuf Islam dan Akhlak, (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2013), hlm. 331

52 Rif’at Syauqi Nawawi, kepribadian Qur‟ani, (Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2011), hlm.115

Disiplin berasal dari kata disciple yang artinya belajar secara sukarela mengikuti pemimpin dengan tujuan dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara optimal. Pokok uttama disiplin adalah peraturan. Peraturan adalah pola tertentu yang ditetapkan untuk mengatur perilaku seseorang. Menurut poewerdarminta disiplin adalah latihan batin dan watak dengan maksud supaya segala perbuatan selalu mentaati tata tertib ( disekolah atau kemiliteran) pada aturan dan tata tertib. Sedangkan menurut Wiana Mulyana disiplin adalah sikap mental yang mengandung kerelaan mematuhi semua semua ketertiban, peraturan dan norma yang berlaku dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab. 53

3) Tangguh

Kehidupan di dunia adalah yang penuh dengan ujian. Selalu ada kesulitan di setiap babaknya. Bahkan bisa dikatakan bahwa kehidupan dunia rangakaian ujian demi ujian. Selesai dari satu ujian, maka itu pertanda akan bertemu dengan ujian berikutnya.

Dan diantara manusia ada yang bertahan untuk bisa melewati ujian-ujian itu. Ia berupaya untuk tabah, sabar, kuat tangguh menghadapinya. Meski merasa sedih dan sakit, namun mengembalikan ujian itu kepada Allah Swt, Dzat Yang Maha berkehendak atas segala sesuatu. 54

d. Membina Karakter Baik dan Kuat 1) Sebagai Individu

53 Bangun Munte, “Pengaruh disiplin belajar terhadap hasil belajar siswa ( studi kasus: Smp Negeri 3 pematang siantar)”, Jurnal poliprofesi”, Vol. X no 2, 2016,hlm. 69

54 Abdullah Gymnastiar, Membangun karakter Baik dan Kuat (BAKU), (Bandung: Sms Tauhiid Publishing, 2013), hlm. 110

Setiap kebaikan hendaknya dimulai dari diri sendiri.

Demikianlah yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Lihatlah bagaimana Rasulullah Saw membina para sahabat sejak mereka hanya beberapa orang saja di tengah-tengah kerasnya kehidupan zaman jahiliyyah. Apa yang Rasulullah Saw persiapkan adalah individu-individu handal yang kokoh imannya, kuat ketauhidannya sehingga sekeras apapun tantangan yang datang, mereka tak mudah goyah.

Oleh karenanya, untuk menggapai diri yang Baik dan kuat, tentu harus dimulai dari diri sendiri. Karena manakala sebagai pribadi kita menjadi Baik dan Kuat, dengan sendirinya kita bisa memberikan pengaruh kebaikan kepada lingkungannya terdekat kita, lalu kepada lingkungan yang lebih luas lagi, dan seterusnya.

55

2) Lingkup Keluarga

Keluarga adalah sebuah organisasi kecil yang di dalamnya ada yang memimpin dan ada yang dipimpin. Seorang ayah adalah kepala keluarga yang bertugas sebagai nahkoda dalam biduk rumah tangga. Dialah yang mengarahkan, mengendalikan kemana keluarganya akan dibawa. 56 Orang tua selalu mendambakan anak-anaknya tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan shaleh. Untuk mewujudkannya, mereka perlu mengawali mengawali kehidupan yang sehat dan membentuk pribadi yang shaleh dari diri mereka

55 Ibid, hlm. 119-120

56 Abdullah Gymnastiar, membangun karakter BAKU ikhtiar membangun generasi muda islami (Bandung: MQS Publishing, 2019), hlm.186

sendiri. Karena bagaimanapun, orang tua adalah pihak pertama yang akan menjadi contoh bagi anak-anak.57

3) Lingkup Masyarakat

Pribadi yang terdidik dan keluarga yang terbina dengan baik , akan memancarkan pengaruh positif bagi lingkungan atau masyarakat disekitarnya. Oleh karena itu, betapa indahnya jika di dalam satu komunitas masyarakat, setiap individu dan setiap keluarga yang tinggal di sana adalah individu dan keluarga senantiasa membina diri mereka untuk menjadi baik dan kuat.

Dengan sendirinya, akan terbangunlah tatanan kehidupan yang rukun, damai dan kompak di dalam kebaikan. 58

4) Bangun Kegiatan Keagamaan

Membangun tidak hanya berkaitan dengan fisik materi semisal mendirikan masjid, sekolah, madrasah atau yang lainnya. Karena percuma saja apabila masjid-masjid megah banyak berdiri namun hampa dari kegiatan-kegiatan yang bisa mendekatkan masyarakat kepada Allah Swt maka, membangun berarti juga membentuk suasana atau budaya baik. Misalnya, bangunlah suasana atau budaya baik berupa shalat berjamaah di mushala atau masjid setempat. Kemudian bangunlah pula budaya mengaji setelah magrib, baik dilakukan secara bersama-sama ataupun di rumah masing-masing.Secara berkala, adakanlah pula pengajian bersama

57 Ibid, hlm. 188

58 Abdullah gymnastiar, membangun karakter Baku, (Bandung: Sms Tauhiid Publishing, 2013) hlm. 156-157

yang menghadirkan ulama tertentu sebagai momentum memperkaya wawasan ke Islaman warga setempat. 59

5) Bangun suasana kebersamaan

Setiap akhir pekan atau satu bulan sekali mengadakan kerja bakti membersihkan lingkungan. Selain membudayakan kehidupan yang bersih sehat, hal ini juga akan menjalin kebersamaan dan rasa saling menjaga antar tetangga. Jangan sampai dengan tetangga kita bagaikan dua sisi mata uang yang berdekatan tapi tak pernah bertemu apalagi bertegur sama dan saling bantu. 60

6) Hindari potensi konflik

Konflik adalah hal yang lumrah dalam kehidupan sosial.

Perbedaan watak, kebiasaan atau latar belakanglainnya bisa memicu terjadinya konflik. Jangankan di lingkungan masyarakat, di dalam keluarga pun antara kakak dan adik, suami dan istri selalu saja memiliki potensi untuk berselisih. Yang mungkin bisa dilakukan adalah meminimalisir kemungkinan terjadinya konflik.

Hendaknya setiap diri bertekad untuk mejadi pribadi yang baik.

Jauhi prasangka buruk, berghibah, atau perbuatan lain yang bisa memicu ketersinggungan dan pertengkaran. 61

7) Sebagai bagian dari negara

Karakter baik dan kuat yang terbangun di dalam diri, keluarga masyarakat, dengan sendirinya akan mempengaruhi lingkup negara. Individu-individu baik dan kuat yang terlahir dari keluarga dan lingkungan yang baik dan kuat pula, akan menjadi

59 Abdullah Gymnastiar, membangun karakter BAKU ikhtiar membangun generasi muda islami (Bandung: MQS Publishing, 2019), hlm. 211-212

60 Ibid, hlm. 213

61 Ibid. hlm 214

pelaksana yang baik dan kuat pula dalam urusan negara. Hasilnya, negara pun akan terbangun menjadi negara yang baik dan kuat. 62 6. COVID – 19

COVID-19 merupakan penyakit menular yang di sebabkan oleh sindrom pernapasan akut coronavirus 2 (severe atuce respiratory syndrome coronavirus 2 atau SARS-CO V-2). Virus ini merupakan keluarga besar Coronavirus yang dapat menyerang hewan. Ketika menyerang manusia, Coronavirus biasanya menyebabkan penyakit infeksi saluran pernafasan, seperti MERS (Middle East Respiratory Syndrome), dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome). COVID-19 sendiri merupakan coronavirus jenis baru yang ditemukan di Wuhan, Hubei, China pada tahun 2019 karena itu, coronavoirus jenis baru ini diberi nama Coronavirus disease-2019 yang disingkat menjadi COVID-19. COVID-19 ditemukan menyebar secara luas hingga mengakibatkan pandemi global yang berlangsung sampai saat ini. Gejala COVID-19 umumnya berupa demam 38 C, batuk kering, dan sesak nafas serta dampak paling buruk untuk manusia ialah kematian. 63

Begitu berbahayanya penyakit ini, sehingga pemerintah berupaya keras menanggulangi penyebaran COVID-19 ini. Sampai saat ini belum di temukan obat serta vaksin untuk masalah ini sehingga jalan satu-satunya hanyalah memutus rantai penyebaran wabah ini dengan melakukan pembatasan sosial (sosial distancing) dan pembatasan fisik (physical distancing). Pembatasan sosial ialah menjaga jarak dalam

62 Abdullah Gymnastiar, Membangun Karakter Baik dan Kuat (Baku), (Bandung: Sms Tauhiid Publishing, 2013) hlm. 162

63Adib Rifqi Setiwan,” Lembar Kegiatan Literasi Saintifik Untuk Pembelajaran Jarak Jauh Topik Penyakit Coronavirus 2019 (COVID- 19) “, Jurnal Edukatif Vol. 2 Nomor 1, April 2020, hlm. 29

bersosialisasi, menjaga jarak dalam melakukan aktivitas sosial, termasuk membatasi diri untuk melakukan sosialisasi di masyarakat meminimalisir kontak dengan individu yang lain. Begitu pula pembatasan fisik maksudnya ialah pembatasan dengan menjaga tubuh secara fisik dengan jarak 1-2 meter ketika melakukan kontak atau bersinggungan dengan individu lainnya. Di samping itu pola hidup bersih dan sehat juga sangat penting untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini seperti selalu menggunakan masker, rajin mencuci tangan dan lain-lain. 64

Untuk mengatur hal tersebut pemerintah telah dengan tegas mengeluarkan berbagai kebijakan di segala bidang. Di bidang kesehatan, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan mengenai pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Di bidang pendidikan kementrian pendidikan telah mengeluarkan surat edaran mengenai pembelajaran dari rumah (Learning from home). Begitu pula di bidang lainnya juga telah di atur tentang pembatasan dan kebijakan terbaik supaya terhindar dari pandemi ini. Sangat miris memang, namun inilah yang saat ini bisa dilakukan. Terutama di bidang pendidikan, peserta didik harus belajar dari rumah dengan melakukan pola pembelajaran jark jauh (PJJ). 65

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini sebenarnya tidak mudah di lakukan, berbeda hampir 80 derajat dengan pembelajaran tatap muka (face to face). Perbedaan yang paling mendasar tentu peserta didik tidak bisa melakukan interaksi langsung dengan guru. Sehingga

64 I Putu Yoga Purandina dan I Made Astra Winaya, Pendidikan Karakter di Lingkungan Keluarga Selama Pembelajaran Jaraj Jauh pada Masa Pandemi COVID- 19, Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 3 no. 2 (2020), hlm. 272

65 Ibid. hlm. 272

komunikasi yang terjalin sangatlah terbatas. Keterbatasan komunikasi menyebabkan terjadinya pemerolehan informasi dan instruksi dari guru sangatlah terbatas. Memang pembelajaran jarak jauh seyogyanya menitik beratkan pada kemandirian peserta didik. Kemandirian inilah yang nantinya harus di tanamkan dalam pandemi ini. Tentu pembelajaran ini akan memiliki keunggulan dan kelemahan.

Keunggulannya, peserta akan lebih fleksibel dalam belajar,tidak mesti harus on time, dan tempatnya pun bisa di kondisikan tergantung situasi dan kondisi. Peserta didik juga akan lebih leluasa menentukan atau mencari sumber belajarnya sendiri bisa mengakses internet dan lain-lain. Namun kelemahannya, peserta didik tidak dapat bersosialisasi dengan peserta didik lainnya dan gurunya secara nyata, sehingga akan mempengaruhi emosional peserta didik itu sendiri. Disamping itu, peserta didik harus bergantung dengan jaringan internet jika pembelajaran jarak jauh yang dilakukan berbasis dalam jaringan internet. 66

Begitu pula di SMP Adzkia Islamic School, di masa pandemi COVID-19 tetap terlaksana karakter Baik dan Kuat (BAKU) dalam keseharian peserta didik (mutaba‟ah yaumiyah) dan Pembiasaan 7 cinta yakni; cinta ilmu melalui kajian ilmu, proses pembelajaran (KBM), dan halaqah. cinta puasa melalui puasa ramadhan, puasa senin-Kamis.cinta Al-Qur’an melalui tahsin dan tahfidz. cinta shodaqoh melalui melalui jumat bershodaqoh. cinta masjid melalui kegiatan shalat berjama’ah. cinta dzikir, melalui dzikir almatsurat dan dzikir sesudah shalat. cinta qiyamullail, melalui shalat malam tahajud.

Jadi sistemnya musrif atau musrifah mengingatkan di grup WhatsApp,

66 Ibid. hlm. 273

dan laporannya ketika peserta didik menunaikan mutaba‟ah yaumiyah dan 7 cinta di dokumentasi dalam bentuk foto.67

Kegiatan belajar mengajar (KBM) selama pandemi COVID-19 sejam durasi waktunya setiap mata pelajaran. Di Hari Senin dan Kamis,program Tahsin dan Tahfidz dengan system musrif/musrifah mengelompokkan peserta didik dalam kelompok kecil, peserta didik secara gantian halaqah Qur’annya. Apel pagi dengan media Youtube, pelaksanaanya setiap hari peserta didik dibagi tugas untuk Tilawah Al-Qur’án, pembacaan tekad kehormatan Daarut Tauhiid, dan amanat yang disampaikan Utszad/ ustdzah diringkas secara virtual, kemudian digabungkan menjadi satu video peserta didik menyimak dan membuat resume amanat, comment dan screen shoot Youtube SMP Adzkia Islamic School, kemudian hasil resume amanat dikirim ke group WhatsApp. Dalam evaluasi peserta didik dan orang tua mengisi angket menggunakan google form yang telah disediakan, sehingga pihak SMP Adzkia Islamic school bisa mengetahui terinternalisasikan karakter Baik dan Kuat tidaknya selama dirumah. 68

B. Hasil penelitian yang relevan

1. Penelitian yang dilakukan oleh R.Agan Sosiowidyowati, mahasiswa prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di Universitas Islam Bandung yang berjudul, “Analisis Pendidikan Karakter Melalui Karakter Baik dan Kuat (BAKU) di SMK Daarut Tauhiid Boarding School”. Penelitian yang dilakukan oleh R. Agan Sosiowidyowarti, memiliki persamaan dengan penelitian penulis, yakni memiliki kajian topik yang sama terkait pendidikan karakter Baik dan Kuat (BAKU) serta metode penelitian yang digunakan

67 Hasil wawancara dengan guru Bahasa Indeonesia, Ibu Mega Kamis 23 Juli 2020 68 Hasil wawancara dengan guru Bahasa Indeonesia, Ibu Mega Kamis 23 Juli 2020

adalah metode dengan pendekatan kualitatif. Akan tetapi, terdapat pula perbedaan. Jika R. Agan Sosiowidyowarti fokus kepada persepsi siswi kelas XI terhadap program karakter Baik dan Kuat (BAKU) serta proses pendidikan karakter, pada penelitian ini fokus pada pelaksanaan pendidikan, faktor pendukung dan penghambat, kesiapan guru, respon siswa kelas VIII, dan metode yang digunakan dalam pembentukan karakter.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Lutfi Faridil Aftros, mahawasiswa prodi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang berjudul,

“Peran Pendidikan Akhlak Dalam Membentuk Karakter Santri di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Jakarta Selatan.” Penelitian yang dilakukan oleh Lutfi Faridil Aftros ini memiliki persamaan dengan penulis yakni; memiliki kajian topik yang sama terkait karakter dan pendekatan yang digunakan secara kualitatif. Akan tetapi, memiliki perbedaan dalam fokus penelitian. Dimana fokus penelitian yang dilakukan oleh Lutfi Faridil Aftros kepada keserasian visi dan misi pondok pesantren terhadap tujuan pendidikan Nasional serta pendidikan akhlak dalam membentuk karakter santri. Sedangkan, fokus penelitian ini kepada pelaksanaan pendidikan karakter Baik dan Kuat (BAKU), faktor pendukung dan penghambat, kesiapan guru, respon siswa, dan metode yang digunakan dalam pembentukan karakter.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Dila Fadilah mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia yang berjudul “Implementasi pendidikan karakter Baik dan Kuat (BAKU) melalui program 7 cinta di SMK Daarut Tauhiid Boarding School Bandung.” Penelitian Dila Fadilah memiliki persamaan dengan penelitian penulis, yakni memiliki kajian topik yang sama pendidikan karakter Baik dan Kuat (BAKU),

menggunakan pendekatan kualitatif. Akan tetapi memiliki perbedaan, penelitian Dila Fadilah fokus kepada bentuk implementasi pendidikan karakter Baik dan Kuat (BAKU) melalui program 7 cinta di SMK Boarding School Bandung. Faktor pendukung dan kendala yang

dihadapi, upaya yang dilakukan dalam implementasi pendidikan karaktr Baik dan Kuat (BAKU). Sedangkan penulis lebih fokus untuk meneliti ke dalam pelaksanaan kegiatan Pendidikan karakter Baik dan Kuat (BAKU), faktor pendukung dan penghambat, kesiapan Guru, respon peserta didik dan metode yang digunakan dalam pembentukan karakter.

48

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Adzkia Islamic School di Jl.

Sukamulya Raya No.58, Kelurahan Serua Indah, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Adapun, waktu penelitian ini dimulai dari tanggal 29 Agustus 2019 sampai Agustus 2020.

B. Latar Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Adzkia Islamic School yang merupakan sekolah cabang dari Daarut Tauhiid Bandung. Mempunyai visi yakni terwujudnya sekolah berlandaskan tauhid untuk melahirkan generasi yang berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan peduli lingkungan.

Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif yang dilakukan untuk memahami dan memperoleh gambaran situasi atau temuan di lapangan pada saat penelitian. Penelitian ini menggambarkan Pelaksanaan karakter Baik dan Kuat (BAKU), faktor pendukung dan penghambat, kesiapan Guru, respon peserta didik dan metode yang digunakan dalam pembentukan karakter.

C. Metode penelitian

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan keguaan tertentu.”1 Dapat dipahami metode penelitian merupakan cara untuk mendapatkan data dengan cara kerja ilmiah. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kualitatif desktiptif yakni penelitian yang dimaksudkan untuk menyelidiki keadaan, kondisi, atau hal-hal lain yang sudah disebutkan, yang hasilnya

1 Sugiyono, Penelititan Kuantitaif, Kualitatif dan R& D (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm. 2

dipaparkan dalam bentuk laporan penelitian.2 Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu atau gejala masyarakat tertentu.dalam penelitian deskriptif ini bias harus diperkecil dan tingkat keyakinan harus maksimal. 3

Peneliti melakukan penelitian terhadap pelaksanaan pendidikan karakter Baik dan Kuat (BAKU) di SMP Adzkia Islamic School, dengan mengamati dan menganalisis bagaimana pelaksanaan pendidikan karakter, apa saja faktor pendukung dan penghambat, kesiapan guru, respon peserta didik, metode dalam pembentukan karakter dan proses keterlaksanaan karakter Baik dan kuat (BAKU) selama pandemic COVID-19 pembelajaran dirumah.

D. Prosedur Pengumpulan Dan Pengolahan Data 1. Observasi

Sutrisno Hadi mengemukakan bahwa, “observasi merupakan suatu proses yang kompleks. Suatu proses yang tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis.”Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.4 Adapun tujuan dari observasi ialah memperoleh informasi-informasi yang terkait dengan suatu peristiwa yang telah terjadi atau sedang terjadi di lingkungan. Maka pada penelitian ini penulis mengamati pelaksanaan pendidikan karakter Baik dan Kuat (BAKU), faktor pendukung dan penghambat, kesiapan guru, respon peserta didik, dan metode yang digunakan dalam pembentukan karakter ditengah pandemi COVID-19. Agar lebih terarah, maka peneliti terlebih

2 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian,( Jakarta: PT Rineka Cipta, cet ke 15, 2014), hlm.

3

3 Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian,(Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, cet IV,

3 Sukandarrumidi, Metodologi Penelitian,(Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, cet IV,

Dokumen terkait