• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

E. Tujuan

Berdasarkan pada perumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian pada dasarnya harus sinkron antara tujuan dengan upaya-upaya pemecahan problema yang telah dirumuskan.Maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui metode pembentukan karakter Baik dan Kuat (BAKU) terhadap peserta didik di SMP Adzkia Islamic school

2. Untuk mengetahui pelaksanaan pendidikan karakter Baik dan Kuat (BAKU) di SMP Adzkia Islamic school

3. Untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat pendidikan karakter Baik dan Kuat (BAKU) di SMP Adzkia Islamic School

4. Untuk mengetahui kesiapan guru dalam pendidikan karakter Baik dan Kuat (BAKU) di SMP Adzkia Islamic school

5. Untuk mengetahui respon peserta didik kelas VIII terhadap pendidikan karakter Baik dan Kuat (BAKU) di SMP Adzkia Islamic School F. Kegunaan penelitian

Dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kegunaan penelitian bagi peneliti maupun berbagai pihak yang terkait.

1. Secara Teoritis

Hasil penelitian ini secara teoritis, sarana memperluas pengetahuan peneliti khususnya dan orang yang berinteraksi langsung dengan pendidikan. Dan diharapkan dapat bermanfaat untuk mendeskripsikan dan menjelaskan pelaksanaan pendidikan karakter khususnya karakter Baik dan Kuat (BAKU) di SMP Adzkia Islamic school.

2. Secara Praktis a. Bagi peneliti

1) Memberikan bekal pengalaman untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah ke dalam karya nyata

2) Dapat mengetahui pelaksanaan pendidikan karakter Baik dan Kuat (BAKU) di SMP Adzkia Islamic School.

b. Bagi Peserta didik

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengajak peserta didik untuk mengimplementasikan pendidikan karakter dengan baik, karena penelitian ini memberikan pemahaman mengenai pendidikan karakter yang terintegrasi dalam proses pembelajaran c. Bagi guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan pengetahuan dan menambah wawasan untuk meningkatkan atau memperbaiki pelaksanaan pendidikan karakter khususnya pada karakter Baik dan Kuat (BAKU) yang di terapkan kepada peserta didiknya.

d. Bagi sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman dan masukan dalam upaya meningkatkan pelaksanaan pendidikan karakter sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas sesuai dengan tujuan dan visi misi sekolah.

14

BAB II

KAJIAN TEORI

A. KAJIAN TEORI

1. Pendidikan Karakter

a. Pengertian Pendidikan Karakter

Pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Pasal Satu Ayat Satu tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.1Maka jelaslah bahwa, Pendidikan adalah usaha sadar dalam proses pembelajaran baik dari segi akademik maupun non akademik dengan tujuan para peserta didik mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, sikap dan perilaku menjadi lebih baik.

Karakter secara bahasa (etimologis) berasal dari bahasa Latin kharakter, kharassaein, dan kharax, dalam bahasa Yunani Character dari kata charassein, yang berarti membuat tajam dan membuat dalam. 2 Sementara menurut istillah (terminologis) dikemukakan oleh beberapa ahli diantaranya adalah sebagai berikut: Hornby dan parnwell, mendefinisikan “karakter adalah kualitas mental atau moral,

1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan dosen, (Jakarta: Visimedia, 2008),hlm. 2

2 Heri Gunawan, Pendidikan Karakter konsep dan implementasi,(Bandung,Alfabeta, 2012), hlm.1

kekuatan moral, nama atau reputasi.” Simon Philips, “karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem yang melandai pemikiran,sikap dan perilaku yang ditampilkan.” 3Dalam Konteks Pemikiran Islam, karakter berkaitan dengan iman dan ikhsan. Hal ini sejalan dengan ungkapan Aristoteles, bahwa karakter erat kaitannya dengan habit atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikkan dan diamalkan. 4

Pendidikan karakter adalah usaha sengaja (sadar) untuk mewujudkan kebajikan, yaitu kualitas kemanusiaan yang baik secara objektif, bukan hanya baik untuk individu perseorangan, tetapi juga baik untuk masyarakat keseluruhan.”5 Pendapat di atas, diperkuat juga oleh pernyataan Lickona dalam Easterbrooks dan Scheets bahwa,

“Character education is the deliberate effort to develope virtues that are good for the individual and good for society”. Artinya yakni, pendidikan karakter merupakan sebuah upaya yang disengaja secara sistematis untuk mengembangkan kebajikan yang berdampak positif baik bagi individu maupun lingkungan sosial dan prosesnya tidak instan melainkan melalui usaha yang terus menerus (pembiasaan). 6

Usaha dalam pembentukan karakter di sekolah sangatlah penting maka, Pendidikan karakter diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character developmet.

(usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah untuk membantu pengembangan karakter dengan optimal). Hal ini

3 Ibid, hlm. 2

4 Mulyasa, Manajemen Pendidikan Karakter, ( Jakarta: PT Bumi Aksara, 2016), hlm. 3

5Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter konsepsi dan aplikasinya dalam lembaga pendidikan,(

Jakarta: Prenada Media Group, 2011), hlm. 15

6 Sofyan Mustoip, dkk, implementasi Pendidikan karakter (Surabaya, CV. Jakad Publishing, 2018), hlm.54

berarti bahwa untuk mendukung perkembanngan karakter peserta didik harus melibatkan seluruh komponen disekolah baik dari aspek isi kurikulum (the contenct of the curiculum), proses pembelajaran (the procces of instruction), kualitas hubungan (the quality of relantionships), penanganan mata pelajaran (the handlling of discipline), pelaksanaan aktivitas kokurikuler, serta etos seluruh lingkungan sekolah.7 Faktor yang memengaruhi keberhasilan pendidikan karakter ada dua faktor yaitu:

1) Faktor Internal

a) Faktor insting (naluri)

Aneka corak refleksi sikap, tindakan, dan perbuatan manusia di motivasi oleh potensi kehendak yang di motori oleh insting seseorang. Insting merupakan seperangkat tabiat yang dibawa manusia sejak lahir. Para psikolog menjelaskan bahwa insting (naluri), berfungsi sebagai motivator penggerak dan mendorong lahirnya tingkah laku. 8

b) Faktor adat/kebiasaan

Kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan, seperti berpakaian, makan, tidur dan olahraga. Perbuatan yang telah menjadi adat kebiasaan tidak cukup hanya diulang-ulang saja, tetapi harus disertai kesukaan dan kecenderungan hati terhadapnya. 9

c) Faktor keturunan,

7Zubaedi, op. cit., hlm. 14

8 Ibid, hlm. 178

9 Ibid, hlm. 179

Secara langsung atau tidak langsung, keturunan sangat mempengaruhi pembentukan karakter atau sikap seseorang.

Adapun sifat yang diturunkan orang tua terhadap anaknya itu bukan sifat yang tumbuh dengan matang karena pengaruh lingkungan, adat, dan pendidikan melainkan sifat bawaan (persediaan) sejak lahir. 10

d) Kehendak/ kemauan (iradah)

Kemauan ialah, kemauan untuk melangsungkan segala ide dan segala yang dimaksud, walau disertai dengan berbagai rintangan dan kesukaran-kesukaran namun sekali-kali tidak mau tunduk kepada rintangan-rintangan tersebut. Salah satu kekuatan yang berlindung dibalik tingkah laku adalah kehendak atau kemauan keras (azam) itulah yang mengerakkan dan merupakan kekuatan yang mendorong manusia dengan sungguh-sungguh untuk berperilaku (karakter), sebab dari kehendak itulah menjelma suatu niat yang baik dan buruk dan tanpa kemauan pula semua ide, keyakinan kepercayaan pengetahuan menjadi pasif tak akan ada artinya atau pengaruhnya terhadap kehidupan. 11

e) Suara batin

Di dalam diri manusia terdapat suatu kekuatan yang sewaktu-waktu memberikan peringatan (isyarat) jika tingkah laku manusia berada di ambangnya bahaya dan keburukan, kekuatan tersebut adalah suara batin atau suara hati (dhamir).

Suara batin, berfungsi memperingatkan bahayanya perbuatan

10 Ibid, hlm.180-181

11 Heri Gunawan, Pendidikan Karakter konsep dan implementasi,(Bandung,Alfabeta, 2012), hlm.20

buruk dan berusaha untuk mencegahnya, di samping dorongan untuk melakukan perbuatan baik. Suara hati dapat terus di didik dan dituntun akan menaiki jenjang kekuatan rohani. 12 2) Faktor Eksternal

a) Pendidikan

Ahmad Tafsir menyatakan, bahwa pendidikan “adalah usaha meningkatkan diri dalam segala aspeknya. Pendidikan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan akhlak seseorang sehingga baik dan buruknya akhlak seseorang sangat tergantung pada pendidikan. Pendidikan ikut mematangkan kepribadian manusia sehingga tingkah lakunya sesuai dengan pendidikan yang telah diterima oleh seseorang baik pendidikan formal, informal maupun non formal. ”Betapa pentingnya faktor pendidikan itu, karena naluri yang terdapat pada seseorang dapat dibangun dengan baik dan terarah. Oleh karena itu pendidikan agama perlu dimanifestasikan melalui berbagai media baik pendidikan formal di sekolah, pendidikan infromal di lingkunagn keluarga, dan pendidikan non formal yang ada pada masyarakat.13 Hal ini dapat dipahami dari ayat berikut in i

َلَعَجَّو ۙاً ْيَش َنْوُمَلْعَ ت َلَ ْمُكِتٰهَّمُا ِنْوُطُب ۙ ْنِّم ْمُكَجَرْخَا ُهّٰللاَو

﴾٨٧ ﴿ َنْوُرُكْشَت ْمُكَّلَعَل ۙ َةَد ْفَْلَاَو َراَصْبَْلَاَو َعْمَّسلا ُمُكَل

12 Ibid, hlm. 21

13 Ibid, hlm 21-22

Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl : 78)14

Ayat tersebut memberi petunjuk bahwa manusia memiliki potensi untuk di didik, yaitu penglihatan, pendengaran dan hati sanubari. Potensi tersebut harus disyukuri dengan cara mengisinya dengan ajaran dan pendidikan.

b) Lingkungan

Lingkungan adalah suatu yang melingkungi suatu tubuh yang hidup, seperti tumbuh-tumbuhan, keadaan tanah, udara, dan pergaulan manusia hidup selalu selalu berhubungan dengan manusia lainnya atau juga dengan alam sekitar. Itulah sebabnya manusia harus bergaul dan dalam pergaualan itu saling mempengaruhi pikiran, sifat dan tingkah laku.

Adapun lingkungan dibagi menjadi dua bagian: pertama, Lingkungan yang bersifat kebendaan Alam yang melingkungi manusia merupakan faktor yang mempengaruhi dan menentukan tingkah laku manusia. Lingkuangan alam ini dapat mematahkan atau mematangkan pertumbuhan bakat yang dibawa seseorang. Kedua, Lingkungan pergaulan yang bersifat kerohanian. Seorang yang hidup dalam lingkungan yang baik secara langsung atau tidak langsung dapat membentuk

14 Kementrian Agama RI, Al-Qur‟an Terjemah dan Tajwid, (Bandung: Sygma, 2014), hlm.

275

kepribadiannya menjadi baik, begitu pula sebaliknya seseorang yang hidup dalam lingkungan kurang mendukung dalam pembentukan akhlaknya maka setidaknya dia akan terpengaruh lingkungan tersebut. 15

b. Pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah meliputi:

1) Perencanaan

Mengidentifikasi jenis-jenis kegiatan di sekolah yang dapat merealisasikan pendidikan karakter, mengembangkan materi pendidikan karakter untuk setiap jenis kegiatan di sekolah, mengembangkan rancangan pelaksanaan setiap kegiatan, dan menyiapkan fasilitas pendukung pelaksanaan program pendidikan karakter.

2) Implementasi

Yakni, pembentukkan karakter yang terpadu dengan pembelajaran pada semua mata pelajaran, pembentukkan karakter yang terpadu dengan manajemen sekolah, pembentukkan karakter yang terpadu dengan kegiatan kependidikan.

3) Monitoring dan evaluasi

Kegiatan untuk memantau proses pelaksanaan program pendidikan karakter, yang terfokus pada kesesuaian proses pelaksanaan program pendidikan karakter berdasarkan tahapan atau prosedur yang telah ditetaapkan. 16

15 Heri Gunawan,op.cit., hlm . 22

16 Buchory dan Tulus Budi Swadayani, “implementasi program pendidikan karakter di SMP”, Jurnal Pendidikan Karakter, 3, 2014 . hlm. 239

2. Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat

Dalam proses pelaksanaan pendidikan karakter banyak hal-hal penghambat ataupun penunjang dalam prosesnya, adapun faktor penghambat dan faktor pendukungnya adalah:

a. Faktor Pendukung

Adapun faktor yang mendukung dalam pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah:

1) Keluarga

Keluarga memiliki peran yang sangat penting bahkan menjadi ujung tombak keberhasilan pendidikan karakter di masyarakat.

Pengembangan karakter harus dimulai sejak dini, tepatnya sejak anak lahir. Pengalaman hidup pertama kali diperoleh anak adalah melalui interaksi dalam keluarga. Anak memperoleh sesuatu dari keluarga dalam rangka memenuhi kebutuhan diriya. Anak juga belajar sesuatu melalui komunikasi dengan anggota keluarganya.

Situasi dan kondisi ini menjadi keluarga sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak. 17

2) Faktor sekolah dan Guru

Peserta didik menjadi berbudi luhur karena memiliki seorang guru dengan karakter berbudi luhur sebagai teladan dan panduan untuk diikuti. Guru yang berbudi luhur berperan sebagai pendidik moral, menyediakan model untuk menyediakan semua hal ini, serta instruksi dan bimbingan dalam perkembangannya. Guru harus menghilangkan sifat-sifat yang kurang baik dalam diri

17Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter, konsepsi dan aplikasinya dalam lembaga pendidikan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2012), hlm. 152

mereka karena dapat melemahkan pikiran mereka sebaliknya memperkuat karakter yang sudah baik dalam diri mereka. 18

3) Faktor Adat atau pembiasaan

Salah satu faktor penting dalam tingkah laku manusia adalah kebiasaan, karena sikap dan perilaku yang menjadi karakter sangat erat sekali dengan kebiasaan, yang dimaksud dengan kebiasaan adalah perbuatan yang selalu di ulang-ulang sehingga mudah untuk dikerjakan. Faktor kebiasaan memegang peranan sangat penting dalam membentuk dan membina karakter. 19

4) Media Massa

Media massa perlu berfungsi sebagai instrumen pendidikan yang memiliki cultural of power dalam membangun masyarakat yang berkarakter karena efek media massa sangat kuat dalam membentuk pola pikir dan pola perilaku masyarakat. Prinsip-prinsip dalam pendidikan karakter perlu diinternalisasikan dalam program-program yang ditayangkan oleh media massa, sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam mengatasi krisis karakter bangsa. 20

b. Faktor penghambat

Adapun faktor yang menjadi tantangan atau penghambat dalam pelaksanaan karakter disekolah adalah:

1) Faktor keluarga

18 Zairin, Peran Guru dalam Pengembangan karakter Pembelajar, Jurnal Georafflesia Vol. 3 Nomor, 1 Juni 2018, hlm. 7

19 Heri Gunawan, Pendidikan Karakter konsep dan implementasi, (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm. 20

20 Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter, konsepsi dan aplikasinya dalam lembaga pendidikan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2012), hlm.177

Faktor keluarga terutama orang tua yang terlalu sibuk bekerja, sehingga pemantauan dan interaksi yang dilakukan orang tua terhadap anak semakin minim, ini menyebabkan karakter baik yang dilakukan oleh peserta ketika disekolah kurang bisa diterapkan dalam kehidupan peserta didik ketika berada dirumah dan orang tua sulit dijadikan figur teladan bagi anaknya. 21

2) Faktor Guru

Untuk menjadi seorang pendidik moral menuntut guru untuk melihat signifikansi moral dari interaksi sosial bahkan pada hal-hal kecil sekalipun, membayangkan pengaruh jangka panjangnya dari pengalaman anak-anak di sekolah terhadap nilai-nilai dan karakter mereka dan masyarakat seperti yang suatu saat kelak akan mereka bantu pembentukannya. 22

3) Faktor Media Massa

Keberadaan media massa dalam kehidupan sehari-hari memang ada sisi positif dan sisi negatif. Dua sisi yang berbeda bahkan bertolak belakang harus di antisipasi dampaknya. Dampak positif akan mendatangkan kebaikan bagi kehidupan peserta didik, dan yang dikhawartirkan adalah dampak buruknya. Kedua dampak ini memiliki peluang yang sama dalam mempengaruhi peserta didik. Untuk itu diperlukan pendampingan yang baik dan efektif. 23

21 Hasil wawancara dengan Bimbingan Konseling, Lutfi Senin 27 Juli 2020 dengan menggunakan telepon seluler

22 Thomas Lickona, Pendidikan karakter; panduan lengkap mendidik siswa menjadi pintar dan baik (Bandung: Nusa Media, 2013), hlm. 120

23 Khoirurrosyidin, Pendidikan karakter Melalui pemahaman Media Literac, Jurnal Aristo, Vol. 3 No 1, Januari 2015, hlm. 56

3. Metode Membangun Karakter

Dalam proses pendidikan termasuk dalam pendidikan karakter, diperlukan metode-metode pendidikan yang mampu menanamkan nilai-nilai karakter baik kepada peserta didik, sehingga peserta didik bukan hanya tahu tentang karakter atau moral knowing, tetapi juga diharapkan mereka mampu melaksanakan moral action yang menjadi tujuan pendidikan karakter. Diantara lain metodenya adalah:

a) Melalui keteladanan

Dari sekian banyak metode membangun dan menanamkan karakter, metode inilah yang paling kuat. Karena keteladanan memberikan gambaran secara nyata bagaimana seseorang harus bertindak. Keteladanan berarti kesediaan setiap orang untuk menjadi contoh dan miniatur yang sesungguhnya dari sebuah perilaku.

Keteladanan harus bermula dari diri sendiri. Di dalam Islam, keteladanan bukanlah hanya semata persoalan mempengaruhi orang lain dengan tindakan, melainkan sebuah keharusan untuk melakukan itu berhubungan langsung secara spiritual dengan Allah SWT.

Karenanya, tidak adanya contoh keteladanan akan mengakibatkan kemurkaan dari Allah SWT.24 Sebagaimana firman Nya

َلَ اَم اْوُلْوُقَ ت ْنَأ ِهّٰللا َدْنِع اًتْقَم َرُ بَك ﴾١﴿َنْوُلَعْفَ ت َلَ اَم َنْوُلْوُقَ ت َِلِ اْوُ نَمٰا َنْيِذَّلا اَهُّ يَأٰي

﴾٣﴿َنْوُلَعْفَ ت

Artinya“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian

24 Muwafik Saleh, membangun karakter dengan hati nurani (Jakarta: Erlangga,2012), hlm.12-13

di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.(Q.S. Ash-Shaf , 2-3)25

b) Melalui simulasi praktik ( experiental leraning)

Dalam proses belajar, setiap informasi akan diterima dan diproses melalui bererapa jalur dalam otak dengan tingkat penerimaan yang beragam. Terdapat enam jalur menuju otak, antara lain; melalui apa yang dilihat, didengar, dikecap, disentuh, dicium, dan dilakukan.

Bahkan Confucious mengatakan” What i hear, i forget. What i see, i remember. What i do, i understand”. Apa yang saya dengar, saya lupa.

Apa yang saya lihat, saya ingat. Apa yang saya lakukan, saya paham.

Pada masing-masing jalur tersebut memiliki tingkat persentase efektifitas yang berbeda-beda. Dari sekian jalur yang ada tersebut, tindakan atau aksi jauh lebih kuat dalam membangun informai di otak manusia dari apa yang di lihat, didengar dan sebagainya. 26

c) Menggunakan metode ikon dan afirmasi (menempel dan menggantung).

Memperkenalkan sikap positif dapat pula dilakukan dengan memprovokasi semua jalur dengan menuju otak kita, khususnya dari apa yang kita lihat melalui tulisan atau gambar yang menjelaskan tentang sebuah sikap positif tertentu. Misalkan dengan tulisan afirmasi dan ikon-ikon positif yang ditempelkan atau digantungkan di tempat yang mudah dilihat, sehingga ketika sering melihatnya kemudian akan memprovokasi pikiran dan tindakan untuk mewujudkannya dalam realitas. 27

25 Kementrian Agama RI, Al-Qur‟an Terjemah dan Tajwid, (Bandung: Sygma, 2014), hlm.551

26 Muwafik saleh, Op.cit.,hlm.14

27 Ibid . hlm. 14-15

d) Metode Pembiasaan

Pembiasaan adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu itu dapat menajdi kebiasaan. Metode pembiasaan (habituation) ini brintikan pengalaman, karena yang dibiasakan itu ialah sesuatu yang diamalkan, dan inti kebiasaan adalah pengulangan. Pembiasaan menempatkan manusia sebagai sesuatu yang istimewa, yang dapat menghemat kekuatan, karena akan menjadi kebiasaan yang melekat dan spontan, agar kegiatan itu dapat dilakukan dalam setiap pekerjaan. Oleh karenanya, menurut para pakar metode ini sangat efektif dalam rangka pembinaan karakter dan kepribadian anak. 28

e) Menggunakan metode repeat power

Salah satu cara untuk mencapai sukses dan menanamkan sebuah pesan positif pada diri secara terus menerus tentang apa yang ingin diraih. Otak membutuhkan suatu provokasi yang mendorongnya memberikan suatu instruksi positif pada diri, untuk melakukan tindakan-tindakan positif yang dapat mengantarkan pada realitas sukses yang diharapkan.29

f) Membangun kesepakatan nilai keunggulan

Baik secara pribadi atau kelembagaan menetapkan sebuah komitmen bersama untuk membangun nilai-nilai positif yang akan menjadi budaya sikap yang akan ditampilkan dan menjadi karakter bersama.

28Heri Gunawan, Pendidikan Karakter konsep dan Implementasi, (Bandung:Alfabeta, 2012),hlm. 93

29 Muwafik Saleh, membangun karakter dengan hati nurani (Jakarta: Erlangga,2012), hlm.

15-16

g) Menggunakan metafora

Yaitu pengungkapan cerita yang diambil dari kisah-kisah nyata ataupun kisah inspiratif lainnya yang disampaikan secara rutin kepada setiap orang dalam institusi tersebut dan penyampaian kisah motivasi inspiratif dapat pula diikutsertakan pada setiap proses pembelajaran atau sebelum memulai pekerjaan. 30

4. Remaja

a. Pengertian Remaja

Masa remaja, menurut Mappiare, berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12/13 tahun sampai dengan 17/18 tahun adalah remaja awal, dan usia 17/18 tahun sampai dengan 21/22 tahun adalah remaja akhir. Menurut hukum di Amerika Serikat saat ini, individu dianggap telah dewasa apabila telah mencapai usia 18 tahun, dan bukan 21 tahun seperti ketentuan sebelumnya. Pada usia ini, umumnya anak sedang duduk di bangku sekolah menengah. 31

Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas.

Mereka sudah tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima secara penuh untuk masuk ke golongan orang dewasa.

Remaja ada di antara anak dan orang dewasa. Oleh karena itu, remaja seringkali dikenal dengan fase “mencari jati diri” atau fase “topan dan badai”. Remaja masih belum mampu menguasai dan mengfungsikan secara maksimal fisik maupun psikisnya. Fase remaja merupakan fase perkembangan yang tengah berada pada masa amat potensial, baik

30 Ibid, hlm. 17

31 Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi remaja perkembangan peserta didik,(

Jakarta: PT Bumi Aksara, 2016). hlm 9

dilihat dari aspek kognitif, emosi maupun fisik.32Maka fungsi pendidikan bagi remaja sangat penting, untuk membentuk dan mengarahkan remaja mempunyai karakter yang baik dalam menjalani kehidupan dan bermasyarakat.

b. Karakteristik Remaja Anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) Anak usia sekolah menengah pertama (SMP) berada pada tahap perkembangan pubertas (10-14). Terdapat sejumlah karakteristik yang menonjol pada anak usia SMP, yaitu:

1) Terjadinya ketidak seimbangan proporsi tinggi dan berat badan.

2) Mulai timbulnya ciri-ciri seks sekunder

3) Kecenderungan ambivalensi, antara keinginan menyendiri dengan keinginan bergaul, serta keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua.

4) Senang membangdingkan kaidah-kaidah, nilai-nilai etika atau norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa.

5) Mulai mempertanyakan serta skeptis mengenai ekstitensi dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan.

6) Reaksi dan ekspresi emosi masih labil.

7) Mulai mengembangkan standar dan harapan terhadap perilaku diri sendiri yang sesuai dengan dunia sosial.

8) Kecenderungan minat dan pilihan karir relatif sudah lebih jelas. 33 c. Perkembangan Masa Remaja

1) Fisik

32 Ibid,hlm. 9-10

33 Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta didik, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 36

Perkembangan fisik atau yang disebut juga pertumbuhan biologis (biological growth) merupakan salah satu aspek penting dari perkembangan individu. Menurut Seifert dan Hoffnung,

“perkembangan fisik meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti: pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat,hormon, dan lain-lain), dan perubahan-perubahan dalam cara-cara individu dalam menggunakan tubuhnya (seperti perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan seksual), serta perubahan dalam

“perkembangan fisik meliputi perubahan-perubahan dalam tubuh (seperti: pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat,hormon, dan lain-lain), dan perubahan-perubahan dalam cara-cara individu dalam menggunakan tubuhnya (seperti perkembangan keterampilan motorik dan perkembangan seksual), serta perubahan dalam

Dokumen terkait