• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.8 Kerangka Konsep

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian observatif analitik dengan metode rancangan penelitian cross sectional.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat Penelitian

Instalasi Periodonsia RSGM USU:

- Untuk melakukan pengambilan sampel saliva dan cairan sulkus gingiva serta melakukan pemeriksaan parameter klinis pada pasien periodontitis kronis tanpa DM tipe 2.

Unit Rawat Jalan Divisi Endokrin RSUH Adam Malik:

- Untuk melakukan pengambilan sampel saliva dan cairan sulkus gingiva serta melakukan pemeriksaan parameter klinis pada pasien periodontitis kronis dengan DM tipe 2.

Laboratorium Terpadu FK USU:

- Untuk melakukan prosedur pemeriksaan saliva dan cairan sulkus gingiva di laboratorium untuk mengetahui kadar IL-6.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2018 – Juni 2018.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi penelitian adalah seluruh pasien dengan periodontitis kronis dengan atau tanpa DM tipe 2 yang datang berobat ke Instalasi Periodonsia RSGM USU dan Unit Rawat Jalan Divisi Endokrin RSUH Adam Malik, Medan pada bulan Januari sampai Maret 2018.

3.3.2 Sampel

Sampel saliva dan cairan sulkus gingiva diambil dari pasien periodontitis kronis dengan dan tanpa DM tipe 2 yang dirawat di Instalasi Periodonsia RSGM USU yang telah memenuhi kriteria inklusi. Penentuan sampel penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling.

3.4 Kriteria inklusi dan eksklusi Kriteria inklusi:

1. Jumlah gigi minimal 15 gigi 2. Berusia 35 tahun

3. Penderita periodontitis kronis dengan dan tanpa DM tipe 2

4. Bersedia menjalani pemeriksaan dan menandatangani informed consent 5. Tidak melakukan perawatan periodontal 3 bulan terakhir.

Kriteria eksklusi:

1. Hamil dan menyusui 2. Merokok

3. Alkoholik

4. Pasien yang mengkonsumsi vitamin, antibiotik dan anti inflamasi sebulan terakhir

5. Menggunakan obat kumur secara teratur

3.5 Besar Sampel

Besar sampel yang digunakan pada penelitian ini dihitung menggunakan rumus: Besar sampel

n = 2 . σ2 (zα + zβ)21 - µ2)2

= 2 . 36,92 2. (1,96 + 0,282)2 = 18,69 (27)2

Dengan menggunakan rumus di atas didapatkan besar sampel yaitu 18,69 ± 10% menjadi 30 orang pasien periodontitis kronis dengan DM tipe 2 dan 30 orang pasien periodontitis kronis tanpa DM.

Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2018- Juni 2018.

3.6 Identifikasi variabel penelitian

1. Variabel bebas : Periodontitis kronis dengan dan tanpa DM Tipe 2.

2. Variabel tergantung : Kadar Interleukin-6 pada saliva dan cairan sulkus gingiva, parameter klinis.

3. Variabel terkendali : Metode pengambilan saliva dan cairan sulkus gingiva.

4. Variabel tidak terkendali : Cara menjaga OH, konsumsi makanan/diet, jenis kelamin, obat DM yang dikonsumsi.

3.7 Defenisi Operasional

Tabel 5.Variabel dan definisi operasional No Variabel Defenisi

Operasional

mg/dL Numerik Glukometer

3 Saliva Saliva yang

uL Rasio Microcapill ary pipette

terdalam. ukuran 10 uL yang Interleuki adalah jumlah Interleukin-6 saliva

n-6 Interleukin-6 yang dan GCF dilakukan terkandung di dalam dengan

saliva dan cairan menggunakan sulkus gingiva reagen IL-6 assay pasien periodontitis kit (Elabscience) kronis yang diukur dengan ELISA dengan ELISA

3.8 Bahan dan Alat Penelitian 3.8.1 Bahan Penelitian

1. Cairan sulkus gingiva (µL) 2. Saliva (ml)

3. Cotton roll 4. Larutan PBS

5. Reagen Interleukin-6 Assay Kit (CUSABIO) 6. Celemek

7. Kasa 8. Masker 9. Sarung tangan

3.8.2 Alat Penelitian

1. Microcapillary 5 uL dan Micropipette 2. Tabung Eppendorf

3. Wadah saliva

4. ELISA reader dan ELISA washer 5. Kaca mulut (hu-friedy)

6. Pinset (hu-friedy) 7. Sonde (hu-friedy) 8. Probe UNC-15 (kohler) 9. Nierbeken

10. Sentrifuge Thermo Scientific

11. ELISA KIT Interleukin-6 (CUSABIO) 12. Lemari pendingin -800C

13. Mikropipet 14. Cooling box

15. Microplate greiner bio-one

Gambar 10. Alat Penelitian 1. Microcapillary 5 uL 2. Tabung Eppendorf 3.Wadah Saliva 4.Ejektor cairan sulkus gingiva 5.Kaca mulut 6.Pinset 7..Sonde 8.Probe UNC-15 9.Nierbeken 10.Sentrifuge Thermo Scientific 11.ELISA KIT 12.Lemari pendingin -800C 13.Mikropipet 14.Cooling box 15.Microplate greiner bio-one

3.9 Prosedur Penelitian

Subjek dipilih sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Seluruh subjek diberi kuesioner, penjelasan mengenai tujuan, manfaat dan prosedur yang dilakukan selama penelitian dan inform consent.

3.9.1. Pemilihan Pasien Periodontitis Kronis Tanpa DM Tipe 2

Pasien yang berobat ke Instalasi Periodonsia RSGM FKG USU yang telah di diagnosis sebagai periodontitis kronis dan diperiksa kadar gula darahnya menggunakan glukometer diberi kuesioner dan diminta kesediaan sebagai subjek penelitian.

3.9.2 Pemilihan Pasien Periodontitis Kronis dengan DM Tipe 2

Pasien DM Tipe 2 yang berobat di Unit Rawat Jalan Divisi Endokrin RSUP-H Adam Malik dan di diagnosis sebagai DM Tipe 2. Dilakukan pemeriksaan periodonsium untuk mendiagnosis periodontitis kronis.

3.9.3 Proses Pengumpulan Saliva

Seluruh subjek penelitian diinstruksikan untuk mengumpulkan saliva dengan metode spitting yaitu mengumpulkan saliva pada dasar mulut dan meludahkannya sebanyak ± 2 ml pada pot wadah saliva. Sebelum sampel diambil pasien diminta untuk berkumur dengan air. Kemudian sampel saliva dimasukkan kedalam cooling box.

3.9.4 Proses Pengumpulan Cairan Sulkus Gingiva

Cairan sulkus gingiva subjek penelitian diambil pada gigi dengan poket yang terdalam pada subjek periodontitis kronis dengan atau tanpa DM Tipe 2. Sebelum cairan sulkus gingiva dikumpulkan, gigi dibersihkan dari plak dan dikeringkan, kemudian diisolasi dengan cotton roll.

Cairan sulkus gingiva diambil dengan menggunakan microcapillary ukuran 1- 10 ul yang telah dipasang pada micropipette. Ujung tip microcapillary dimasukkan

dengan perlahan kedalam sulkus. Selama pengambilan, cairan sulkus gingiva tidak boleh terkontaminasi darah dan plak. Kemudian micropippete ditarik sehingga cairan sulkus tersedot masuk kedalam microcapillary. Cairan sulkus kemudian dimasukkan ke tabung eppendorf berukuran 10 µL dan disimpan dalam cooling box.

3.9.5 Pemeriksaan Kadar Interleukin-6

Sampel saliva dan cairan sulkus gingiva dibawa dengan menggunakan cooling box ke Laboratorium Terpadu FK USU. Saliva dan cairan sulkus gingiva disimpan di dalam freezer(-80°C) karena tidak segera dilakukan pemeriksaan. Saliva dipindahkan ke dalam tabung eppendorf sebanyak 10 µL menggunakan micropippete.

Setelah jumlah sampel tercukupi barulah pemeriksaan saliva dan cairan sulkus gingiva dilakukan. Setelah itu dilakukan sentrifugasi 3000 rpm pada suhu 4oC selama 20 menit untuk memisahkan debris pada saliva dan cairan sulkus gingiva.

Kemudian diambil sampel saliva dan cairan sulkus gingiva masing-masing sebanyak 5 µL dan dimasukkan ke dalam tabung eppendorf kemudian dicampur dengan wash buffer hingga volumenya mencapai 20 µL. Pembuatan standar untuk pembacaan di ELISA reader dengan mengambil 1-10 µL sampel yang kemudian ditempakan tabung eppendorf untuk kemudian dipindahkan ke pada wellplate. Selanjutnya dilakukan persiapan reagen dengan dilusi konsentrat wash buffer (1:50), dilusi standar ke berbagai konsentrasi.

Tambahkan 100 µL standar atau sampel kedalam setiap well. Inkubasi pada suhu 37 selama 90 menit; dilusi Biotinylated Detection Ab (1:100) 15 menit sebelum langkah kedua, pisahkan cairan nya tambahkan 100 µL Biotinylated Detection Ab, inkubasi pada suhu 37 selama 1 jam; aspirasi dan wash sebanyak tiga kali; dilusi konsentrat HRP Conjugate (1:100) 15 menit sebelum langkah ke empat; Tambahkan 100 µL HRP Conjugate, inkubasi 37 selama 30 menit; aspirasi dan wash sebanyak lima kali; tambahkan 90 µL Substrate Reagent IL-6, inkubasi 37 selama 15 menit;

tambahkan 50 µL stop solution. Kemudian plate yang berisi well dimasukkan dalam ELISA reader dengan panjang gelombang 450 nm dan dilakukan pembacaan kadar

IL-6 pada saliva dan cairan sulkus gingiva secara komputerisasi di Laboratorium Terpadu FK USU.

Gambar 11. Tahapan pemeriksaan. A. Pengambilan cairan sulkus gingiva, B. Cairan sulkus gingiva dibawa menggunakan cooling box, C. Cairan sulkus gingiva ditambah dengan larutan PBS hingga volumenya 20 uL, D.

Larutan disentrifugasi E. Pencampuran dengan reagen A 100 uL, F.

Pencampuran dengan reagen B 8 uL, G. Sentrifugasi, H. Sampel dimasukkan kedalam mikroplat sebanyak 120 uL, I. Pemeriksaan menggunakan ELISA Reader.

3.10 Skema Alur Penelitian

Skema alur penelitian yang akan dilakukan:

3.11 Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data pada penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan sistem komputerisasi yang ditampilkan dalam bentuk tabel. Analisis data pada penelitian ini dilakukan setelah pemeriksaan kadar Interleukin-6 cairan sulkus gingiva di Laboratorium Terpadu FK USU. Uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk untuk melihat distribusi data kelompok. selanjutnya dilakukan uji perbedaan data demografi dengan t-test, data parameter klinis dan kadar IL-6 dengan uji Mann-Whitney.

Selanjutnya dilakukan uji korelasi dengan metode Spearman untuk melihat korelasi antara kadar IL-6 saliva dan cairan sulkus gingiva dengan parameter klinis.

BAB 4

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbandingan kadar IL- 6 pada pasien periodontitis kronis dengan dan tanpa DM tipe 2 dan hubungan IL-6 dengan parameter klinis penyakit periodontal. Kelompok subjek dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Subjek periodontitis kronis tanpa DM merupakan pasien yang datang berobat ke Instalasi Periodonsia RSGM USU sebanyak 30 orang sedangkan subjek periodontitis kronis dengan DM tipe 2 sebanyak 33 orang merupakan pasien yang datang berobat Unit Rawat Jalan Divisi Endokrin RSUPH Adam Malik, Medan.

4.1 Karakteristik Subjek Penelitian

Karakteristik subjek penelitian disajikan dalam tabel 6 yang meliputi usia, jenis kelamin, frekuensi menyikat gigi, pengalaman skeling dan kadar gula darah (KGD) sewaktu.

Tabel 6. Karakteristik subjek penelitian

Karakteristik

Tabel 6 menunjukkan rentang usia kelompok periodontitis kronis non DM adalah 35-67 tahun dengan rerata usia subjek 49 tahun, sedangkan rentang usia

kelompok periodontitis kronis dengan DM adalah 38-70 tahun dengan rerata usia subjek 55 tahun. Variasi jenis kelamin subjek penelitian hampir merata pada kelompok periodontitis kronis dengan DM dan tanpa DM. Seluruh subjek penelitian menyikat gigi secara teratur setiap hari, hampir seluruh subjek menyikat gigi dengan frekuensi lebih dari 2 kali sehari. Sebagian besar subjek tidak pernah melakukan perawatan skeling (65,1%). Pada kelompok periodontitis dengan DM, mayoritas subjek yang dijumpai memiliki kadar gula darah tidak terkontrol (≥180 mg/dl).

4.2 Uji Perbedaan

Hasil uji perbedaan parameter klinis antar kelompok ditampilkan pada tabel 7 hingga tabel 9.

Tabel 7. Perbandingan Parameter Klinis antara subjek periodontitis kronis dengan dan tanpa DM Tipe 2

Kedalaman poket 5.40 (3.41-10.5) 4.20 (0.0-7.8) 0.00*

Kehilangan perlekatan 6.79 (3.85-8.40) 5.06 (0.0-9.3) 0.00*

*signifikan p<0.05

Berdasarkan tabel 7 terlihat bahwa rerata kebersihan rongga mulut (OHIS) kedua kelompok mengarah ke buruk. Parameter klinis lainnya seperti PBI dan indeks gingiva pada kelompok periodontitis dengan DM tipe 2 lebih tinggi dibandingkan kelompok periodontitis tanpa DM. Kedalaman poket paling dalam dijumpai pada kelompok periodontitis dengan DM tipe 2 sedangkan kehilangan perlekatan paling tinggi dijumpai pada kelompok periodontitis tanpa DM.

Tabel 8. Kadar IL-6 pada saliva dan cairan sulkus gingiva pasien periodontitis kronis dengan dan tanpa DM Tipe 2

Variabel

Kadar IL-6 saliva (pg/ml) 128.71 (17.42 – 758.42) lebih tinggi dibanding kelompok periodontitis kronis tanpa DM tetapi tidak signifikan. Kadar IL-6 cairan sulkus gingiva pada kelompok periodontitis dengan DM tipe 2 lebih tinggi hampir dua kali lipat dibandingkan kelompok tanpa DM.

Tabel 9. Perbandingan kadar IL-6 pada saliva dan cairan sulkus gingiva pasien periodontitis kronis dengan dan tanpa DM Tipe 2

Kelompok Kadar IL-6

Saliva Cairan sulkus gingiva p Periodontitis kronis

dengan DM Tipe 2 128.71 (17.42-758.42) 664.42 (463.29 – 912.54) 0.000*

Periodontitis kronis

tanpa DM Tipe 2 67.66 (17.72-501.9) 246.41 (199.4 -450.86) 0.000*

*signifikan p<0.05

Kadar IL-6 minimum cairan sulkus gingiva hampir dua puluh kali lebih tinggi dibandingkan kadar minimum IL-6 saliva pada kelompok periodontitis kronis dengan DM Tipe 2. Pada kelompok periodontitis tanpa DM dijumpai kadar IL-6 minimum cairan sulkus gingiva lebih tinggi hampir sepuluh kali dibandingkan kadar minimum IL-6 saliva, meskipun rerata kadar IL-6 cairan sulkus gingiva lebih tinggi dibandingkan saliva, kadar IL-6 tertinggi dijumpai pada saliva.

4.3 Uji Korelasi

Tabel 10. Korelasi antara parameter klinis dengan kadar IL-6 pada saliva dan cairan sulkus gingiva pasien periodontitis kronis tanpa DM Tipe 2

Kadar Interleukin-6

Parameter klinis Saliva Cairan sulkus gingiva

r p r p

OHIS 0.104 0.586 0.122 0.522

Indeks Gingiva 0.123 0.519 0.118 0.535

PBI 0,177 0.350 0,044 0.819

Kedalaman poket 0.186 0.325 0.18 0.341

Kehilangan perlekatan 0.12 0.529 0.214 0.256

* signifikan p<0.05

Tabel 10 menunjukkan pada kelompok pasien periodontitis kronis tanpa DM tidak dijumpai korelasi yang signifikan antara kadar IL-6 saliva dan cairan sulkus gingiva dengan parameter klinis .

Tabel 11. Korelasi antara parameter klinis dengan kadar IL-6 pada saliva dan cairan sulkus gingiva pasien periodontitis kronis dengan DM Tipe 2

Kadar Interleukin-6

Parameter klinis Saliva Cairan sulkus gingiva

r p r p

OHIS 0.129 0.475 0.144 0.447

Indeks Gingiva 0.305 0,044* 0,258 0.148

PBI 0.031 0.864 0.180 0.317

Kedalaman poket 0.215 0.230 0.167 0.353

Kehilangan perlekatan 0.129 0.476 0.247 0.166

* signifikan p<0.05

Pada kelompok periodontitis kronis dengan DM tipe 2 tidak dijumpai korelasi signifikan antara kadar IL-6 saliva dan cairan sulkus gingiva dengan semua parameter klinis kecuali indeks gingiva. Tabel 11 menunjukkan hanya indeks gingiva yang berkorelasi signifikan dengan kadar IL-6 saliva dan dengan korelasi lemah (0.2- 0.399).

Tabel 12. Uji korelasi antara KGD dengan kadar IL-6 pada saliva dan cairan sulkus gingiva pasien periodontitis kronis dengan DM Tipe 2

Kadar Interleukin-6

Variabel Saliva Cairan sulkus gingiva

r p r p

Kadar Gula Darah 0.01 0.97 0.71 0.001*

*signifikan p<0.05

Kadar IL-6 pada cairan sulkus gingiva pasien periodontitis kronis dengan DM Tipe 2 menunjukkan korelasi signifikan (p<0.05) dengan nilai korelasi kuat (p=0.60- 0.799) dengan kadar gula darah sedangkan kadar IL-6 pada saliva tidak menunjukkan adanya korelasi.

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Subjek Penelitian

Pada penelitian ini ditemukan rerata usia pada kelompok periodontitis dengan DM tipe 2 lebih tinggi yaitu 55.91 (± 8.38) tahun dibandingkan dengan kelompok periodontitis tanpa DM yaitu 49.3 (± 7.54). Penelitian meta-analisis oleh Frecken dkk yang mencakup 65 penelitian prevalensi di 37 negara pada pada tahun 2017 menunjukkan prevalensi periodontitis meningkat secara signifikan seiring bertambahnya usia dan paling banyak dijumpai pada usia 35-65 tahun (82.1%).41 Meningkatnya kerentanan terhadap periodontitis seiring meningkatnya usia dapat disebabkan oleh perubahan dalam kapasitas penyembuhan pada jaringan.42 Seseorang lebih sering terkena DM pada usia diatas 45 tahun karena tingkat sensitifitas insulin mulai menurun sehingga kadar gula darah yang seharusnya masuk ke dalam sel akan tetap berada di aliran darah yang menyebabkan kadar gula darah meningkat. DM tipe 2 muncul pada usia diatas 45 tahun karena pada usia tersebut banyak perubahan terutama pada organ pankreas yang memproduksi insulin.43

Hasil penelitian ini juga menunjukkan mayoritas subjek penelitian menyikat gigi dengan frekuensi ≥ 2 kali sehari dan pernah melakukan skeling ≥ 12 bulan yang lalu (93.9%). Hal ini menunjukkan kemungkinan terkena penyakit periodontal meskipun menyikat gigi secara teratur jika kontrol plak subjek yang tidak adekuat.

Salah satu faktor risiko penyakit periodontitis adalah kontrol plak yang tidak adekuat sehingga kontrol berkala ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali penting untuk membersihkan deposit plak dan kalkulus yang tidak terjangkau oleh pasien sendiri.45

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa mayoritas subjek pada kelompok periodontitis dengan DM Tipe 2 memiliki kadar gula darah tidak terkontrol yaitu

≥180 mg/dl (90.9%). Pada pasien dengan penyakit periodontal sering ditemukan peningkatan kadar sitokin proinflamatori (IL-6). Pada pasien DM, respon imun berlebih akan lebih meningkatkan lagi produksi sitokin proinflamatori (IL-6). Hal ini

menyebabkan peningkatan resistensi terhadap insulin dan mempersulit kontrol glukosa darah.46

5.2 Analisis Perbedaan Parameter Klinis dan Kadar IL-6 Pada Pasien Periodontitis Kronis Dengan dan Tanpa DM

5.2.1 Analisis Perbedaan Parameter Klinis Pada Pasien Periodontitis Kronis Dengan dan Tanpa DM

Pada penelitian ini dijumpai skor PBI dan indeks gingiva pada kelompok periodontitis kronis dengan DM tipe 2 lebih tinggi dibanding skor PBI kelompok periodontitis kronis tanpa DM. Penelitian Javed dkk tentang kadar IL-6 dan MMP 8 saliva pada 88 pasien periodontitis dengan dan tanpa DM juga menunjukkan PBI dan indeks gingiva yang lebih tinggi pada kelompok DM dibandingkan pada kelompok non DM. Hal ini menunjukkan inflamasi pada kelompok DM tipe 2 lebih tinggi dibanding kelompok tanpa DM.47 Peningkatan kadar glukosa darah pada penderita DM menyebabkan komplikasi mikrovaskuler, menyebabkan peningkatan AGE pada plasma dan jaringan sehingga sekresi sitokin pro inflammatori yang diperantarai AGE meningkat.5

Penelitian ini juga menunjukkan kedalaman poket dan kehilangan perlekatan yang lebih tinggi pada kelompok periodontitis kronis dengan DM tipe 2 dibanding kelompok periodontitis kronis tanpa DM. Hasil ini sesuai dengan hasil yang didapat oleh Abdul dkk. Penelitian Abdul tentang kadar IL-6 dan CRP serum pada 168 pasien periodontitis yang dibagi menjadi dua kelompok yakni kelompok periodontitis dengan DM (82) dan periodontitis tanpa DM (86) menunjukkan parameter klinis terutama kedalaman poket dan kehilangan perlekatan yang lebih tinggi pada kelompok DM.sebelum perawatan .48 Hasil penelitian ini juga sesuai dengan hasil yang didapat Costa dkk yang meneliti tentang kadar IL-6, MMP-8 dan Osteoprotegrin pada 90 pasien periodontitis dengan dan tanpa DM.3 Selain jumlah bakteri yang meningkat pada kondisi hiperglikemik, juga terjadi perubahan fungsi sel yang berperan dalam respon inflamasi seperti monosit, neutrofil dan makrofag. Sel-sel tersebut merupakan lini awal pertahanan tubuh sehingga inhibisi fungsinya akan

menghambat destruksi bakteri pada poket dan meningkatkan destruksi jaringan periodontal. Selain itu makrofag dan monosit juga meningkatkan produksi sitokin pro-inflammatori (IL-6) serta TNF-α yang akan memperparah destruksi sel pejamu.46

Selain IL-6 yang meningkat, ROS (Reactive Oxygen Species) yang meningkat pada penderita DM tipe 2 juga ikut memperparah kerusakan yang terjadi. Penelitian Patil dkk menunjukkan peningkatan biomarker ROS yaitu Malondialdehyde (MDA) pada penderita periodontitis yang diperparah DM tipe 2. Patil dkk menemukan korelasi positif antara MDA dengan kedalaman poket dan kehilangan perlekatan.

Pertahanan antioksidan yang tidak adekuat pada kondisi hiperglikemi menyebabkan produksi radikal bebas yang berlebihan pada penderita periodontitis yang diperparah DM tipe 2.Hal ini kemungkinan disebabkan oleh meningkatnya jumlah radikal bebas sehingga menyebabkan perubahan respon imun, terganggunya fungsi leukosit dan polimorfonuklear yang menyebabkan keberadaan bakteri yang persisten, terganggunya proses penyembuhan tulang akibat akumulasi AGE serta reduksi sintesis kolagen dan meningkatnya aktifitas kolagenase. 49

5.2.2 Analisis Perbedaan Kadar IL-6 Saliva dan Cairan Sulkus Gingiva Pada Pasien Periodontitis Kronis Dengan dan Tanpa DM

Pada penelitian ini dijumpai kadar IL-6 saliva kelompok periodontitis kronis dengan DM tipe 2 lebih tinggi dibandingkan kadar IL-6 saliva kelompok periodontitis tanpa DM tetapi tidak signifikan secara statistik. Hasil ini sesuai dengan penelitian Costa, dkk yang meneliti kadar beberapa protein saliva (IL-6, MMP-8 dan Osteoprotegrin) pada 90 subjek yang dibagi menjadi 4 kelompok yakni kelompok sehat (22), kelompok periodontitis saja (24), kelompok DM saja (20) dan kelompok periodontitis dengan DM (24). Costa menemukan kadar IL-6 saliva lebih tinggi pada kelompok periodontitis dengan DM dibandingkan tanpa DM tetapi tidak signifikan secara statistik.3. Hasil penelitian Telles, dkk pada 74 pasien periodontitis kronis dan 44 pasien sehat menunjukkan kadar IL-6 saliva yang lebih tinggi pada penderita periodontitis dibanding subjek yang sehat tetapi tidak signifikan secara statistik.49

Meta-analisis yang dilakukan Javed, et al mengenai kadar sitokin proinflamatori (IL-1, IL-6, TNF-α) saliva, cairan sulkus gingiva dan serum pada

penderita periodontitis dengan dan tanpa DM menunjukkan kadar IL-6 saliva yang lebih tinggi pada penderita periodontitis dengan DM.4 Javed juga melakukan penelitian mengenai kadar IL-6 saliva pasien periodontitis kronis dengan dan tanpa prediabetes terhadap 88 subjek yang dibagi menjadi 3 kelompok yaitu: kelompok periodontitis saja, kelompok periodontitis dengan prediabetes dan kelompok kontrol.

Hasil penelitian ini menunjukkan peningkatan kadar IL-6 saliva pada kelompok prediabetes tetapi hasilnya tidak signifikan.47 Monea dkk yang meneliti kadar IL-6 saliva dan serum dari 62 penderita periodontitis kronis dengan dan tanpa DM tipe 2 menemukan peningkatan kadar IL-6 saliva yang signifikan pada penderita periodontitis kronis dengan DM tipe 2. Meskipun terdapat perbedaan signifikansi, berbagai penelitian menunjukkan meningkatnya kadar IL-6 pada penderita DM. Hal ini sesuai dengan modulasi fungsi IL-6 pada penyakit periodontitis. IL-6 merupakan sitokin pro-inflammatori yang berperan dalam transisi inflamasi dari akut ke kronis dengan cara mengubah fungsi leukosit (dari polimorfonuklear menjadi monosit dan makrofag), menstimulasi fungsi sel B dan sel T dan menginduksi respon pertahanan tubuh menuju inflamasi kronis. IL-6 juga menstimulasi aktivitas osteoklas dan resorpsi tulang, selain itu IL-6 juga menginduksi produksi downstream effector osteoblast seperti RANKL. Pembentukan AGE dan interaksi antara AGE dan RAGE juga memainkan peran penting dalam modulasi ekspresi IL-6 pada penderita DM.

Sama seperti kadar IL-6 saliva, kadar IL-6 cairan sulkus gingiva pada kelompok periodontitis kronis dengan DM tipe 2 juga signifikan lebih tinggi dibanding pada kelompok periodontitis kronis tanpa DM. Hasil ini sesuai dengan penelitian Camargo, et al dan Kardesler, et al. Camargo meneliti efek terapi periodontal terhadap kadar IL-6 cairan sulkus gingiva pasien periodontitis kronis dengan dan tanpa DM pada 20 subjek yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:

kelompok periodontitis saja (10) dan kelompok periodontitis dengan DM (10).

Camargo menemukan kadar IL-6 cairan sulkus gingiva sebelum perawatan pada kelompok periodontitis dengan DM signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok periodontitis saja.14 Kardesler dkk yang meneliti kadar beberapa protein GCF pada penderita periodontitis kronis dengan dan tanpa DM tipe 2 pada 42 subjek yang

dibagi menjadi 2 kelompok yakni kelompok periodontitis dengan DM (20) dan kelompok periodontitis saja (22) juga menemukan hasil yang sama.15

Namun penelitan Kurtis, et al tentang kadar IL-6 cairan sulkus gingiva pada 72 subjek yang dibagi menjadi 3 kelompok yakni penderita periodontitis dengan DM (24), periodontitis saja (24) dan individu sehat (24) melaporkan tidak dijumpai perbedaan kadar IL-6 antara penderita periodontitis kronis dengan dan tanpa DM.15 Pada umumnya kondisi sistemik seperti DM dikarakteristikan sebagai suatu kondisi pro-inflammatori yang ditandai dengan ekspresi berlebihan marker-marker proinflamasi baik lokal maupun sistemik, sehingga kondisi tersebut dapat mempengaruhi kadar cairan sulkus gingiva. Pernyataan ini didukung oleh penelitian Fell dkk yang meneliti korelasi kadar IL-6 cairan sulkus gingiva dengan serum pada 26 subjek dengan obesitas. Fell memeriksa kadar IL-6 dari cairan sulkus yang diambil dari daerah yang sehat dan terinflamasi pada individu yang sama kemudian membandingkannya dengan kadar IL-6 serum. Hasil penelitian Fell menunjukkan korelasi yang kuat antara IL-6 cairan sulkus gingiva dan serum.50

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kadar IL-6 cairan sulkus gingiva

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kadar IL-6 cairan sulkus gingiva

Dokumen terkait