BAB 1 PENDAHULUAN
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.3 Masyarakat
1. Menambah informasi mengenai gambaran kadar IL-6 pada penderita periodontitis kronis.
2. Menambah informasi kepada masyarakat tentang peran biomarker terutama IL-6 terhadap kesehatan gigi dan mulut dalam upaya membantu proses penyembuhan pada penderita periodontitis kronis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Periodontitis Kronis
Periodontitis kronis merupakan penyakit inflamasi jaringan pendukung gigi yang ditandai dengan perdarahan gingiva, pembentukan poket periodontal, dan kehilangan tulang alveolar.1-4 Periodontitis kronis berdasarkan keparahan penyakitnya dapat dibagi menjadi ringan bila kehilangan perlekatan 1-2 mm, sedang 3-4 mm dan parah bila kehilangan perlekatan ≥ 5 mm.3 Bila periodontitis kronis tidak mendapatkan perawatan yang tepat maka penyakit ini dapat menjadi penyebab utama kehilangan gigi.1-4
2.1.1 Gambaran Klinis Periodontitis Kronis
Gambaran klinis periodontitis kronis ditandai dengan adanya perubahan warna, tekstur dan margin gingiva, perdarahan pada saat probing, dijumpai kalkulus supra dan subgingiva, meningkatnya kedalaman poket atau adanya poket periodontal, hilangnya perlekatan gingiva, resesi gingiva, kehilangan tulang alveolar (horizontal ataupun vertikal), terpaparnya daerah furkasi, mobiliti gigi, drifting gigi hingga gigi lepas (Gambar 1).2,5
Gambar 1. Gambaran klinis dan radiografi pasien periodontitis kronis20
2.1.2 Etiologi dan Patogenesis Periodontitis Kronis
Faktor etiologi utama periodontitis adalah bakteri gram negatif anaerob seperti Aggregatibacter actinomycetemcomitans dan Porphyromonas gingivalis dalam biofilm subgingiva. Kebiasaan buruk seperti merokok dan kondisi sistemik seperti diabetes serta faktor usia, genetik dan jenis kelamin merupakan etiologi pendukung yang dapat menjadi faktor resiko periodontitis.18
Periodontitis diawali dengan adanya akumulasi plak bakteri pada permukaan gigi. Dinding epitel sulkular akan diinfiltrasi oleh enzim bakteri, bakteri dan produknya. Akibat stimulasi bakteri sel epitel dan dendritik akan memproduksi sitokin proinflammatory dan mediator kemis lainnya. Mediator ini akan menginduksi respon inflamasi pada gingiva sehingga gingiva menjadi oedematous karena akumulasi dan infiltrasi sel. Sel polymorphonuclear (PMNs) dan leukosit lainnya seperti monosit, makrofag dan limfosit akan ditarik ke jaringan gingiva oleh faktor kemotaksis seperti protein bakteri dan faktor host seperti sitokin. Sesampainya PMNs di sulkus gingiva fagositosis bakteri dimulai. Enzim dan PMNs yang telah rusak selanjutnya akan difagositosis oleh makrofag sehingga inflamasi berkurang.17
Respon imun dimulai ketika sel Langerhans pada jaringan gingiva memfagosit antigen bakteri dan membawanya ke kelenjar getah bening untuk diekspresikan ke limfosit. Selanjutnya limfosit akan menuju ke gingiva yang terekspos bakteri patogen dimana limfosit B akan berdifferensiasi menjadi sel plasma yang memproduksi antibodi dan limfosit T akan berdifferensiasi untuk memproduksi sel – sel imun. Kedua jenis antibodi ini akan membantu PMNs untuk memfagosit bakteri patogen.19
Sel-sel inflamatori yang menginfiltrasi gingiva membutuhkan ruang untuk memulai aktifitasnya. Oleh karena itu sel inflamatori mendegradasi komponen struktural seperti kolagen dan fibroblast untuk menyediakan ruangan bagi leukosit yang menginfiltrasi. Sel-sel inflamatori ini akan memproduksi matrix degrading enzymes (MMP-8) yang menyebabkan kerusakan jaringan ikat periodontal sehingga epitel penyatu kehilangan kontak dengan gigi dan terbentuk poket periodontal.
Suasana anaerob didalam poket merupakan tempat yang sempurna bagi bakteri
anaerob dan fakultatif untuk berkolonisasi. Akibat infiltrasi yang meluas ke apikal, jaringan tulang akan diresorpsi untuk menyediakan tempat bagi sistem pertahanan tubuh seperti Interleukin 1β, TNF-α dan prostaglandin. Jika periodontitis tidak dirawat, kerusakan jaringan akan bertambah parah yang kemudian menyebabkan kehilangan perlekatan, resorpsi tulang, pembentukan jaringan granulasi dan kehilangan gigi.19
2.2 Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang mempunyai karakteristik hiperglikemi dan terjadi akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya.16 Penyakit DM memiliki morbiditas yang tinggi karena penyakit ini sering kali tidak terdeteksi.15 Gejala umum yang tampak pada penderita DM adalah poliuria, polidipsia, polifagia serta penurunan berat badan.13 Ada dua tipe klinis DM menurut Cawson dan Odell, yaitu:
1. Juvenile onset (insulin dependent) diabetes atau disebut juga DM tipe 1.
Gejala biasanya muncul sebelum usia 25 tahun dan umumnya cukup parah, disertai polidipsi, polifagi, poliuri, rasa lapar, berat badan menurun dan rentan terhadap infeksi.
2. Maturity onset diabetes atau disebut juga DM tipe 2. Pada tipe ini penderita biasanya dalam usia pertengahan dan mengalami obesitas. Perkembangan penyakit berjalan perlahan tapi pasti, seringkali disertai penurunan penglihatan, pruritus, kadang terjadi polidipsi, poliuri dan rasa lelah. Namun banyak juga dijumpai kasus yang tidak disertai gejala. Penyakit masih dapat dikontrol melalui diet makanan yang ketat dan bila perlu diberikan obat-obatan hipoglikemik. Obesitas yang terjadi pada anak-anak memudahkan terjadinya bentuk kelainan diabetes mellitus tipe ini dalam waktu yang lebih awal.21
Tipe lain diabetes yang juga dapat ditemukan adalah gestational diabetes, yang merupakan bentuk diabetes yang terjadi pada wanita yang sedang mengandung.
Kelainan pada wanita ini berkaitan dengan faktor genetik, obesitas dan hormon yang menyebabkan timbulnya resistensi insulin dan biasanya terjadi pada trimester ketiga.
Gestational diabetes dapat terjadi pada sekitar 4% kehamilan. Diagnosis tersebut perlu ditentukan kembali 6 minggu atau lebih setelah melahirkan.22
Menurut Penelitian Little dkk seorang pasien dapat diduga mengidap DM apabila ditemukan dua dari tiga gejala di bawah ini 21
- Polidipsi, polifagi, poliuri, badan terasa lemah, berat badan turun drastis, walaupun banyak makan dan minum
- Kadar gula darah > 120 mg/dL
- Kadar gula 2 jam sesudah makan > 200 mg/dL
Bila hasil pemeriksaan berulang berada di atas nilai normal, berarti pasien menderita DM.
Seseorang dianggap memiliki risiko tinggi untuk menderita DM apabila:22 - Ada riwayat menderita DM dalam keluarga (kedua orangtua/salah satu
orang tua/saudara kandung) - Berusia diatas 40 tahun - Obesitas
- Hipertensi
- Dalam riwayat kehamilan ditemukan berat badan bayi lahir > 4kg
- Menggunakan obat-obatan dalam jangka waktu lama (kortikosteroid untuk penyakit asma, kulit, rematik)
- Memiliki pekerjaan tertentu (tukang masak, stres)
- Kebiasaan hidup (merokok, minum minuman beralkohol)
2.2.1 Patofisiologi Diabetes Mellitus Tipe 1 dan Tipe 2
Diabetes mellitus tipe 1 terjadi karena gangguan produksi insulin akibat kerusakan sel β pankreas. Patofisiologinya yakni adanya reaksi autoimun akibat peradangan pada sel β. Hal ini menyebabkan timbulnya antibodi terhadap sel β yang disebut ICA (Islet Cell Antibodi). Reaksi antigen (sel β) dengan antibodi ICA yang ditimbulkannya menyebabkan hancurnya sel β. Selain karena autoimun, diabetes tipe 1 juga bisa disebabkan virus cocksakie, rubella, citomegalo virus (CMV), herpes dan lain-lain. Penderita diabetes tipe 1 umumnya terdiagnosa pada usia muda.6 DM tipe 2
terjadi oleh karena kerusakan molekul insulin atau gangguan reseptor insulin yang mengakibatkan kegagalan fungsi insulin untuk mengubah glukosa menjadi energi.
Pada dasarnya jumlah insulin dalam tubuh penderita DM tipe 2 adalah normal bahkan jumlahnya bisa meningkat, namun karena jumlah reseptor insulin pada permukaan sel berkurang menyebabkan glukosa yang masuk kedalam sel lebih sedikit. Hal tersebut akan menyebabkan kadar glukosa menjadi tinggi didalam pembuluh darah.3
Gambar 2. Patofisiologi DM tipe 2 23
2.2.2 Manifestasi Diabetes Mellitus Di Rongga Mulut
Penyakit DM dapat menimbulkan beberapa manifestasi didalam rongga mulut diantaranya adalah terjadinya gingivitis dan periodontitis, kehilangan perlekatan gingiva, peningkatan derajat kegoyangan gigi, xerostomia, burning tongue, resorpsi tulang alveolar dan tanggalnya gigi.3 Pada penderita DM tidak terkontrol kadar glukosa didalam cairan sulkus gingiva (GCF) lebih tinggi dibanding pada DM yang terkontrol. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Aren dkk menunjukkan bahwa selain GCF, kadar glukosa juga lebih tinggi kandungannya didalam saliva.
Peningkatan glukosa ini juga berakibat pada kandungan pada lapisan biofilm dan plak
pada permukaan gigi yang berfungsi sebagai tempat perlekatan bakteri. Berbagai macam bakteri seperti P.gingivalis dan P. Intermedia akan lebih mudah berkembang biak karena asupan makanan yang cukup sehingga menyebabkan perkembangan penyakit periodontal menjadi lebih cepat.24
Gambar 3. Penyakit Periodontal yang parah merupakan salah satu manifestasi oral DM 24
Diabetes mellitus menyebabkan penyempitan saluran kelenjar air liur menyebabkan disfungsi sekresi kelenjar saliva yang disebut xerostomia, dimana kualitas dan kuantitas produksi saliva dirongga mulut menurun. Xerostomia yang terjadi pada penderita DM menyebabkan mikroorganisme oportunistik seperti Candida albican lebih banyak tumbuh yang berakibat terjadinya candidiasis.
Penderita DM juga memiliki tingkat DMFT yang lebih tinggi walaupun sudah menggunakan diet bebas gula, dan cenderung memiliki oral hygiene yang buruk apabila tidak dilakukan pembersihan gigi secara adekuat.21 Pemeriksaan secara radiografis juga memperlihatkan adanya resorpsi tulang alveolar yang cukup besar pada penderita DM dibanding pada penderita non DM. Pada penderita DM terjadi perubahan vaskularisasi sehingga lebih mudah terjadi periodontitis yang selanjutnya merupakan faktor etiologi resorpsi tulang alveolar secara patologis. Resorpsi tulang
secara fisiologis dapat terjadi pada individu sehat, namun resorpsi yang terjadi pada DM disebabkan karena adanya gangguan vaskularisasi jaringan periodontal serta gangguan metabolisme mineral.25
Gambar 4. Manifestasi oral DM (a) Xerostomia, (b) Kandidiasis26
2.3 Penyakit Periodontal Sebagai Komplikasi Diabetes Mellitus
American Diabetic Association menetapkan periodontitis sebagai komplikasi ke enam penyakit diabetes.27 Komplikasi diabetes lainnya adalah retinopati, nefropati, neuropati, penyakit makrovaskuler dan penyembuhan luka yang lambat.4 Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keparahan penyakit periodontal meningkat pada penderita diabetes dibandingkan pada individu yang sehat.1-6 Studi Longitudinal pada pasien penderita DM tipe 2 menunjukkan hubungan antara derajat keparahan periodontitis dan kontrol glikemik.2,4,6 Hasil penelitian menunjukkan penyakit periodontal dapat menyebabkan inflamasi kronis, meningkatkan kadar CRP, IL-6 dan Fibrinogen dalam serum.28 Inflamasi juga menginduksi resistensi insulin dan resistensi tersebut biasanya menyertai infeksi sistemik lainnya seperti infeksi periodontal non bakteri dan virus. Infeksi sistemik meningkatkan resistensi jaringan terhadap insulin melalui berbagai mekanisme, salah satunya mencegah glukosa masuk ke sel target dan menyebabkan meningkatnya kadar gula darah dan peningkatan produksi insulin untuk mempertahankan normoglycemia.29
Resistensi insulin dapat bertahan selama beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah inflamasinya sembuh. Pada penderita DM tipe 2, yang mana telah
mengalami resistensi insulin, resistensi lebih lanjut akibat inflamasi dapat menyebabkan memburuknya kontrol glikemik.3
Gambar 5. Skema pengaruh periodontitis terhadap DM tipe 2 4
2.4 Pengaruh Diabetes mellitus terhadap Jaringan Periodontal
Keparahan dan kerusakan periodontal dapat dipengaruhi oleh beberapa kondisi sistemik diantaranya DM.6 Berbagai penelitian telah melaporkan prevalensi kerusakan jaringan periodontal yang tinggi pada penderita DM,2-4 oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa DM merupakan salah satu faktor risiko penyakit periodontal yang mana dapat meningkatkan risiko terjadinya periodontitis sebesar 2-3 kali lipat dan risiko kehilangan perlekatan dan tulang alveolar yang lebih besar.9
2.4.1 Pengaruh terhadap Mikroflora Rongga Mulut
Perubahan lingkungan oral pada penderita DM disebabkan oleh perubahan aliran saliva dan tingginya kadar glukosa pada cairan sulkus gingiva sehingga mengubah suasana rongga mulut dan menyebabkan perubahan flora mikrobial.21 Lingkungan mikroflora yang berubah dapat menginduksi perubahan kualitatif bakteri yang berkontribusi terhadap penyakit periodontal pada penderita DM tidak terkontrol.
Tetapi hingga saat ini, belum ada bukti yang mencukupi untuk mendukung peranan mikroflora spesifik yang berperan terhadap kerusakan jaringan periodontal pada penderita DM.21
Patogen periodontal seperti Prevotella intermedia, Actinobacillus Actinomycetemcomitans, Phorphyromonas Gingivalis dan Fusobacterium Nucleatum pada sulkus gingiva memicu monosit, PMN, makrofag dan sel-sel lain untuk melepaskan mediator inflamasi seperti Interleukin(Il-1 , Il-6), TNF-, dan PGE2. IL- 1 dan TNF-, dapat menginduksi sel fibroblas untuk menghasilkan enzim kolagenase berperan penting dalam kerusakan jaringan periodontal dan resopsi tulang alveolar.24
2.4.2 Advanced Glycation End Products (AGEs)
Salah satu karakteristik utama dari komplikasi diabetes adalah perubahan pada integritas mikrovaskuler. Perubahan vaskuler yang terjadi menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kolagen serta perubahan respon dan kemotaksis dari PMN terhadap antigen yang berasal dari plak, sehingga menyebabkan fagositosis terhambat.5 Peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) pada penderita DM menyebabkan komplikasi mikrovaskuler yang ditandai dengan peningkatan AGE pada plasma dan jaringan. AGEs adalah link utama diantara berbagai komplikasi diabetes, karena AGEs mendorong perubahan dalam sel dan komponen matriks ekstraseluler. Perubahan ini, termasuk perubahan pertumbuhan abnormal dari fungsi sel endotel dan proliferasi pembuluh darah kapiler.4 Akumulasi AGEs pada pasien dengan diabetes juga meningkatkan intensitas respon immunoinflammatory untuk patogen periodontal, karena sel-sel inflamasi seperti monosit dan makrofag memiliki reseptor untuk AGEs. Sekresi dan sintesis sitokin yang diperantarai oleh adanya infeksi periodontal, memperkuat respon sitokin yang dimediasi AGEs atau sebaliknya. Pembentukan AGEs dapat terjadi pada protein, lipid dan asam nukleat.
Pembentukan AGEs pada protein, menyebabkan rantai silang antara polipeptida kolagen dan menangkap plasma non glikosilasi atau protein interstitial. Pengendapan low density lipoprotein (LDL) terjadi pada pembuluh darah besar dan deposit kolesterol di intima. AGEs menyebabkan terbentuknya rantai silang kolagen tipe IV
membran basalis, berakibat melemahnya interaksi kolagen dan komponen matriks lain (laminin, proteoglikan), menghasilkan jejas struktur dan fungsi membran basalis.
Keadaan hiperglikemia akan menimbulkan AGEs, yang kemudian berinteraksi dengan RAGE pada endotel sehingga menimbulkan stress oksidatif, sebagai akibatnya akan terjadi gangguan pembuluh darah pada jaringan periodontal. Gangguan pembuluh darah akan menyebabkan gangguan distribusi nutrisi dan oksigen pada jaringan periodontal, sehingga bakteri gram negatif anaerob yang merupakan bakteri komensal pada poket periodontal akan menjadi lebih patogen. Gangguan pembuluh darah juga akan mempengaruhi pembuangan sisa metabolisme dalam jaringan periodontal, sehingga akan terjadi toksikasi jaringan periodontal dan gingiva. AGEs juga mengadakan ikatan dengan reseptor bermacam sel seperti endotelium, monosit, makrofag, limfosit dan mesenkim. Ikatan menyebabkan aktivitas biologik seperti emigrasi monosit, pembebasan sitokin dan faktor pertumbuhan oleh makrofag, peningkatan permeabilitas endotelial, peningkatan aktivitas prokoagulan sel endoteldan makrofag, peningkatan proliferasi dan sintesis matriks ekstraseluler oleh fibroblas dan sel otot halus, efek ini menyebabkan peningkatan komplikasi DM .4
2.4.3 Pengaruh terhadap Respon Host
Terdapat perubahan fungsi sel seperti neutrofil, monosit dan makrofag, pada penderita DM. Proses kemotaksis dan fagositosis neutrofil sering terganggu. Sel-sel ini merupakan garis pertama dari pertahanan tubuh, dan terhambatnya fungsi dari sel- sel tersebut dapat mencegah penghancuran bakteri dalam poket periodontal, sehingga dapat meningkatkan kerusakan periodontal.8
Konsentrasi sitokin yang tinggi (IL-6, PGE2, TNF-) dapat dideteksi pada cairan sulkus gingiva penderita diabetes dengan periodontitis dibandingkan bukan penderita DM.6 Pelepasan sitokin ini sebagai respon terhadap lipopolisakarida bakteri (LPS) oleh monosit yang lebih tinggi secara signifikan pada penderita diabetes dibandingkan non-diabetes.2,5-6 Respon hiperinflamatori ini akibat interaksi AGEs- RAGEs pada monosit dan makrofag. Ini akan membentuk sel destruktif dan meningkatnya sensitifitas terhadap stimulus, sehingga menyebabkan pelepasan
sitokin yang berlebihan. Ikatan AGEs-RAGEs pada permukaan makrofag dapat merubah fenotipe makrofag. Inilah yang menyebabkan disregulasi produksi sitokin makrofag dan meningkatnya kerusakan jaringan dan tulang alveolar. Hal ini dapat mengubah fungsi makrofag dan memperlambat penyembuhan luka.2
Adanya inflamasi akan memperparah penyakit periodontal yang ditandai oleh tingginya score PBI dan PPD. Selain itu hiperglikemia kronik penderita diabetes melitus akan meningkatkan aktivitas kolagenase, dan menurunkan sintesis kolagen.
Enzim kolagenase menguraikan kolagen, sehingga ligament periodontal rusak, dan gigi menjadi goyang.13
2.4.3.1 Interleukin-6
IL-6 menstimulasi berbagai proses biologis seperti produksi antibodi, aktivasi sel T, differensiasi sel B, meningkat pada protein fase akut, hematopoiesis, induksi angiogenesis, permeabilitas vaskular dan differensiasi osteoklas.31 IL-6 berperan penting dalam respon pertahanan tubuh terhadap serangan mikroba, tidak hanya sebagai agen anti inflamasi (down-regulation neutrofil dan ekspresi sitokin proinflammatory )tetapi berperan sebagai agen pro inflamasi (induksi reaktan fase akut oleh hati) ketika inflamasi telah masuk ke tahap kronis.32 Pemeriksaan histologis pada kondisi terpapar bakteri periodontopatogen menunjukkan keberadaan Interleukin - 6 (IL-6) di sel endotel,makrofag dan fibroblast ligamen periodontal .14
Pasien periodontitis dengan DM menunjukkan peningkatan kadar IL-6 yang tinggi pada cairan sulkus gingiva, saliva, dan serum.12-14 Bulent dkk melaporkan bahwa ditemukan peningkatan kadar IL-6 pada GCF penderita periodontitis dengan DM hampir dua kali lipat dibandingkan dengan tanpa DM.6 Penelitian Alwan dkk pada GCF pasien periodontitis kronis juga menunjukkan hubungan meningkatnya kadar IL-6 terhadap resorpsi tulang.12 Peningkatan kadar IL-6 ditemukan pada cairan sulkus gingiva pasien periodontitis kronis. Hal ini telah didukung oleh berbagai penelitian selama ini .12-14 Untuk itu, IL-6 dapat menjadi marker adanya kerusakan jaringan. Aktivitas dan kadar IL-6 yang tinggi pada cairan sulkus gingiva dapat terjadi terutama pada kondisi inflamasi seperti pada periodontitis.33 Untuk itu deteksi
dan pengurangan kadar IL-6 merupakan hal penting untuk menghambat perkembangan dari penyakit.31-33
Gambar 6. IL-6 diproduksi sebagai respon terhadap trauma dan serangan bakteri.32
Penelitian Kristiansen dkk menunjukkan Inflamasi ringan merupakan faktor resiko awal mula terjadinya diabetes tipe 2, tetapi perubahan pola hidup dan medikasi untuk mengatasi inflamasi yang terjadi menurunkan faktor resiko tersebut.24 Meningkatnya kadar IL-6 dapat dijadikan indikator untuk memprediksi resiko terkena penyakit diabetes tipe 2. IL-6 bukan merupakan penyebab diabetes 2 tetapi merupakan sesuatu yang berhubungan. IL-6 dalam perkembangan diabetes tipe 2 menunjukkan respon imun tubuh yang mencoba meregulasi inflamasi ringan yang disebabkan oleh mediator inflamasi lainnya.32
Berbagai penelitian juga menunjukkan IL-6 berperan dalam proses resistensi insulin. Penelitian pada tikus DM obesitas menunjukkan obesitas disebabkan oleh akumulasi makrofag pada jaringan adipose. Makrofag tersebut mengeluarkan
mediator-mediator inflamasi, salah satunya IL-6. Tereksposnya jaringan oleh IL-6 dalam waktu yang lama dapat menyebabkan resistensi insulin.34
Kadar IL-6 total dapat dihitung dengan enzyme-linked immunosorbent (ELISA).35 Pada individu dengan DM tipe 2 terjadi peningkatan pada produksi TNF-α dan IL-6 yang dihasilkan secara berlebihan dalam adiposit. TNF- TNF-α adalah sitokin utama yang bertanggung jawab untuk resistensi insulin yang mengalami induksi pada level reseptor. IL-6 penting dalam menstimulasi produksi TNF-α, karena itu peningkatan produksi IL-6 pada penderita DM tipe 2 akan menghasilkan level IL-6 dan TNF-α yang tinggi pula. Peningkatan level sitokin ini juga menyebabkan peningkatan produksi C-reaktif protein yang berdampak pula pada resistensi insulin yang merupakan proses patologis pada DM tipe 2.10 Peningkatan IL-6 juga dapat dikatakan sebagai petanda adanya inflamasi jaringan periodontal pada DM tipe 2.30
Gambar 7. Interleukin-6 sebagai salah satu marker inflamasi baik pada periodontitis maupun DM tipe 2 35
2.5 Peran Biomarker Oral Dalam Diagnosis dan Progresif Penyakit Periodontal
Periodontitis merupakan penyakit yang irreversible, oleh karena itu diagnosis dan perawatan dini memegang peranan penting dalam perawatan periodontitis.
Tujuan utama dari prosedur diagnostik adalah untuk memberikan informasi seperti:
tipe, lokasi dan keparahan penyakit sehingga rencana perawatan yang dibuat sesuai dengan informasi yang diperoleh.36
Pemeriksaan klinis standar (kedalaman saku, pendarahan pada probing, kehilangan level perlekatan, indeks plak dan radiografi) yang digunakan saat ini memberikan informasi yang terbatas karena hasil pemeriksaan ini hanya menunjukkan kerusakan yang telah terjadi bukan aktivitas penyakit saat ini.
Perkembangan alat pemeriksaan penyakit periodontal saat ini telah menuju ke metode dimana resiko penyakit dapat diidentifikasi dan dikuantifikasi dengan alat ukur yang objektif seperti biomarker.36
Biomarker dapat didefinisikan sebagai suatu substansi yang dapat diukur secara objektif dan dievaluasi sebagai indikator proses biologis normal, proses patogenesis dan respon farmakologis. Biomarker baik yang didapat dari individu yang sehat maupun individu yang sakit merupakan suatu molekul “tell-tale” yang dapat digunakan untuk memonitor status kesehatan, perjalanan penyakit, respon terhadap perawatan dan hasil perawatan. Biomarker informatif dapat berperan sebagai alat untuk menunjukkan situasi rentan sebelum terserang penyakit. Berbagai biomarker telah diteliti untuk mengetahui validitasnya dalam membantu pemeriksaan kehilangan jaringan pada periodontitis. Salah satu biomarker yang berperan langsung pada periodontitis adalah IL-6 36
2.5.1 Gingival Crevicular Fluid (GCF) sebagai biomarker penyakit periodontal
Gingival crevicular fluid sering disebut cairan sulkus gingiva merupakan
suatu eksudat inflamasi yang berasal dari mikrosirkulasi gingiva yang melewati jaringan periodontal yang terinflamasi dan dalam perjalannya turut serta membawa molekul-molekul inflamasi. GCF terdiri dari substansi yang berasal dari host dan mikroorganisme plak subgingiva dan supragingiva. Substansi yang berasal dari host meliputi molekul yang berasal dari darah, sel dan jaringan periodonsium. Molekul yang berasal dari periodonsium meliputi epitel, jaringan ikat dan sel imun yang telah infiltrasi ke dalam jaringan periodontal.37
2.5.2 Metode Pengumpulan Gingival Crevicular Fluid (GCF)
Sampel GCF menawarkan suatu prosedur non-invasif yang dapat digunakan untuk menganalisa patofisiologi penyakit periodontal.Cairan sulkus gingiva ini dapat dikumpulkan dengan beberapa metode seperti:38
a. Paper strip.
Paper strip dapat digunakan untuk mengumpulkan cairan sulkus gingiva dengan cara memasukkan paper strip tersebut ke dalam sulkus gingiva selama 30 detik, kemudian volume cairan sulkus gingiva dihitung menggunakan Periotron 8000 (Oraflow).
Gambar 8. Pengambilan cairan sulkus gingiva menggunakan Paper strips dan alat ukur Periotron.38
b. Microcapillary pipette.
Cairan sulkus gingiva dikumpulkan dengan menempatkan microcapillary pipette ukuran 5 l pada bagian ekstrakrevikular tanpa distimulasi selama 5-20 menit.
Pasien di posisikan tegak pada dental unit, dan bagian yang akan diperiksa dikeringkan dengan cotton rolls. Tanpa menyentuh gingiva margin, plak supragingiva dibersihkan untuk mencegah kontaminasi, kemudian diletakkan microcapillary
Pasien di posisikan tegak pada dental unit, dan bagian yang akan diperiksa dikeringkan dengan cotton rolls. Tanpa menyentuh gingiva margin, plak supragingiva dibersihkan untuk mencegah kontaminasi, kemudian diletakkan microcapillary