Perusahaan sebagai suatu bentuk organisasi pada umumnya memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai dalam melakukan kegiatan operasionalnya yaitu untuk memperoleh keuntungan atau laba yang semaksimal mungkin. Hal ini dilakukan agar kelangsungan hidup perusahaan dapat terjamin dan dapat memberi manfaat bagi masyarakat umum. Dorongan persaingan usahsa saat ini mengakibatkan pelaku usaha harus memperhatikan faktor efektivitas dan efisiensi dalam sebuah produktivitas perusahaan, karena salah satu kunci untuk memenangkan persaingan yang sehat ditentukan dari kualitas, kuantitas, harga dan layanan dari produk ataupun jasa yang dihasilkan (Jelman Nasri dkk, 2021).
Suatu perusahaan yang ingin tetap bertahan dan dapat bersaing harus memiliki strategi dan kebijakan yang tepat dalam menjalankan bisnisnya. Produk yang ditawarkan perusahaan kepada konsumen dituntut tidak hanya unggul dalam kualitas, namun juga memiliki struktur harga yang kompetitif sehingga dapat menarik minat konsumen baik secara kebutuhan, selera, serta daya beli terhadap produk yang ditawarkan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan karena mereka dituntut meningkatkan kualitas produk tetapi tetap menekan biaya produksi. Berdasarkan hal tersebut masalah yang sering dihadapi oleh
pihak manager perusahaan adalah penentuan harga jual produk (Jelman Nasri dkk, 2021).
Permasalahan yang dihadapi dalam penentuan harga jual produk karena apabila harga jual yang diterapkan terlalu tinggi maka akan menurunkan daya beli konsumen, sebaliknya harga jua yang rendah dapat mempengaruhi pendapatan perusahaan, dimana secara langsung berpengaruh terhadap laba dan kelangsungan perusahaan. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi dalam efisiensi biaya produksidan penetapan harga yang tepat (Igen Mayesha dkk, 2020).
Penentuan harga jual yang tidak tepat dapat berakibat serius pada masalah keuangan perusahaan atau badan usaha dan akan berpengaruh pada kontiunitas usaha tersebut. Adanya ketidaktepatan tersebut akan menimbulkan resiko pada perusahaan, misalnya kerugian yang terus menerus karena menumpuknya produk digudang akibat macetnya pemasaran. Untuk itu setiap perusahaan harus menetapkan harga jualnya dengan tepat karena harga adalah satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan (Iin Sriyani, 2018).
Perhitungan harga pokok produksi atau biaya satuan produkmerupakan elemen penting dalam penentuan harga jual yang wajar bagi sebuah produk. Dalam akuntansi biaya, perhitungan harga pokok produksi berfungsi dalam menetapkan, menganalisa dan melaporkan pos-pos biaya yang masuk dalam laporan keuangan sehingga dapat menunjukkan data yang wajar. Harga pokok produksi adalah jumlah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam melakukan
3
proses produksi sehingga produk tersebut siap untuk dijual atau dipasarkan. Dalam perhitungan harga pokok produksi informasi yang dibutuhkan adalah mengenai biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik. Ketiga biaya tersebut harus ditentukan secara cermat, baik dalam pencatatan maupun penggolongannya sehingga dapat mengasilkan harga jual yang tepat pada setiap produk yang dihasilkan(Pradana Setiadi dkk, 2015).
Perhitungan harga produksi dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode variable costing dan metode full costing. Menurut Reza Ramdani (2017:338) bahwa metode full costing merupakan penjumlahan seluruh pengorbanan sumber ekonomi yang digunakan untuk mengubah bahan baku menjadi produk yang siap dijual. Harga pokok produksi yang dihasilkan dapat digunakan untuk menentukan harga jual yang akan diberikan kepada pelanggan sesuai dengan biaya produksi yang dikeluarkan saat proses produksi. Variabel costing adalah metode perhitungan harga pokok produksi dalam akuntansi manajemen. Metode variabel costing dalam menghitung biaya produksi hanya memasukkan biaya-biaya yang bersifat variabel, dimana biaya tersebut memiliki jumlah yang terus berubah sesuai dengan volume kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan (Alfyna Christy, 2019).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Niek H Samsul pada tahun 2015 dengan judul penelitian “Perbandingan Harga Pokok Produksi Full Costing Dan Variable Costing Untuk Harga Jual CV.
Pyramid” bahwa berdasrkan perbandingan metode full costing dan variable costing dalam perhitungan harga pokok produksi perusahaan,
metode full costing memiliki angka nominal yang jauh lebih tinggi dari pada metode variabel costing,karena disebabkan dalam perhitungan full costing memasukkan semua akun biaya baik bersifat tetap maupun variabel. Perusahaan sebaiknya menggunakan metode full costing dengan memasukkan semua akun-akun seperti biaya penyusutan gedung pabrik, mesin dan peralatan serta biaya asuransi dalam harga pokok produksi dan penentuan harga produk menjadi lebih tepat.
Hasil penelitian terdahulu diatas berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Erni Rosiani dengan judul “Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi Pada UD. The Sweetets Cookie Manado” bahwa dengan menggunakan variable costing harga pokok produksi yang dihasilkan lebih rendah dibanding full costing. Perbedaan utamanya terletak pada perlakuan biaya overhead pabrik. Full Costing menggunakan overhead tetap dan variabel sedangkan variable costing hanya memperhitungkan overhead variabel. Oleh karena itu sebaiknya perusahaan menggunakan metode variable costing karna yang dihitung hanya berkaitan dalam proses produksi. Sedangkan full costing terdapat biaya overhead pabrik tetap yang tidak berubah engan adanya perubahan dalam proses produksi, sehingga hanya variabel saja yang dipertimbangkan oleh perusahaan.
Berdasarkan hasil penelitian teradahulu diatas, penulis tertarik melakukan perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan 2 metode tersebut yaitu metode full costing dan variable costing. Hal ini dikarenakan adanya dua pendapat yang berbeda mengenai hasil penelitian yang telah dilakukan oleh kedua peneliti terdahulu. Perbedaan
5
tersebut terletak pada pilihan metode yang disarankan kepada perusahaan (tempat peneitian) dengan masing-masing alasan yang kuat mengenai kelebihan dan kekurangan dari metode full costing dan variable costing. Oleh karena itu, penulis sangat tertarik melakukan penelitian ini dengan menggunakan kedua metode tersebut.
Sehubungan dengan masalah mengenai pentingnya perhitungan harga pokok produksi yang berepengaruh langsungterhadap penetapan harga jual, maka penulis menentukan objek penelitian pada outlet Pisang Goreng Nugget Makassar Cabang Pettarani yang dibawahi langsung oleh PT. Galigo Food. Perusahaan ini bergerak dibidang kuliner yang termasuk dalam jajanan favourite yang saat ini sedang bertumbuh atau naik daun diwilayah Makassar.
Penjualan pisang goreng nugget Makassar bisa mencapai 1000 dos dalam sehari oleh karena itu, Pisang Goreng Nugget pernah meraih Makassar Most Favourite Culinary Award 2 tahun berturut-turut yaitu pada tahun 2018 dan 2019. Hal tersebut kembali berulang ditahun 2021 Pisang Goreng Nugget Makassar kembali meraih Makassar Most Favourite Culinary Award dengan rating 2% lebih tinggi dengan jenis pisang goreng nugget yang sama. Acara tersebut digelar oeh Makassar terkini sebagai kuliner jajanan terfavorit di Kota Makassar (Makassar terkini.id, 2019).
Seiring dangan tingginya minat usaha masyarakat serta inovasi yang mulai tumbuh dan berkembang saat ini khususnya di Kota Makassar telah banyak usaha yang sejenis dengan Pisang Goreng Nugget Makassar. Jenis makanan ataupun jajanan yang berbahan dasar pisang saat ini telah tumbuh berjamur bahkan dengan jenis olahan yang sama
dengan Pisang Goreng Nugget Makassar. Meskipun dengan jenis olahan yang sama serta rasa yang cenderung sama antara pisang nugget dipasaran dengan Pisang Goreng Nugget Makassar namun memiiki tingkat perbandingan harga yang signifikan. Harga jual yang ditawarkan Pisang Goreng Nugget Makassar sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual yang ditawarkan oleh outlet pisang goreng nugget yang lainnya. Berdasarkan observasi awal perusahaan ini menghitung harga pokok produksi dengan melakukan Up 50% sebagai pengganti biaya tetap dan biaya operasional. Dengan demikian konsumen cenderung lebih memilih produk dengan harga yang lebih murah dibandingkan produk dengan harga sedikit lebih tinggi untuk makanan dengan jenis dan rasa yang sama.
Tabel 1.1
Daftar Harga Jual Pisang Goreng Nugget Makassar dan Pesaing.
No Nama Harga
1 Pisang Goreng Nugget Makassar Rp 33.000
2 Pisang Nugget Barokah Rp 25.000
(sumber: gofood.co.id)
Sehubungan dengan hal tersebut tingkat penjualan produk Pisang Goreng Nugget Makassar dapat mengalami penurunan yang secara langsung sangat berdampak pada laba serta kelangsungan hidup Pisang Goreng Nugget Makassar akibat adanya perbedaan harga yang cukup jauh. Oleh karena itu, dengan perbandingan rating 2% yang sangat signifikan dengan sesama jenis usahanya ditahun 2019, Pisang Goreng Nugget Makassar perlu kembali menyusun struktur harga dengan
7
penetapan harga jual yang sesuai mengingat persaingan usaha yang semakin ketat saat ini (Makassar terkini.id, 2019).
Berdasarkan latar belakang masalah dan fenomena yang telah diuraikan diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Perhitungan Harga Pokok Produksi Dengan Metode Full Costing Dan Variable Costing Dalam Proses Penentuan Harga Jual Pada PT. Galigo Food Makassar”.