• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISTILAH

POST-TSUNAMI LAND RECONSTRUCTION IN ACEH PROVINCE IN LEGAL PERSPECTIVE

A. Latar Belakang

Peristiwa bencana alam gempa bumi dan tsunami5 pada tanggal 26 Desember 20046

5

Dalam terminologi Aceh, istilah atau kata tsunami tidak dikenal. Namun demikian, dalam masyarakat Aceh, terutama di kalangan orang tua dan juga kalangan yang belajar di dayah (pesantren, mengenalinya dengan istilah lain, “ie beuna” melalui cerita-cerita lisan. Ie berarti air dan beuna berarti benar. Ie beuna dimaksudkan sebagai air yang menunjukkan kebenaran ayat-ayat Tuhan dalam menghapus segenap kebatilan. Selain istilah ie beuna, ada pula yang menyebutnya dengan smong atau

seumong. Lihat Abdullah Sanny, Lokakarya Nasional Menjaring Aspirasi Masyarakat dalam Rangka Menyusun Program Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh Pasca Tsunami, Banda Aceh: 1 Februari 2005, dalam Hasanuddin Yusuf, Sejarah Aceh dan Tsunami, (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2005), hal. 166. Menurut orang tua-tua, ie beuna itu dapat berasal dari laut dan juga disertai semburan air dari permukaan tanah. Lihat Sanusi M. Syarif, Gampong dan Mukim di Aceh: Menuju Rekonstruksi Pasca Tsunami, Cetakan Kedua, (Banda Aceh: Pustaka Rumpun Bambu, 2010), hal. 102.

telah menimbulkan derita kemanusiaan dan menyebabkan ratusan ribu orang meninggal dunia, kehilangan tempat tinggal dan harta benda serta lumpuhnya sektor ekonomi, infrastruktur hingga menimbulkan keresahan masyarakat terhadap status dan kepemilikan hak atas tanah. Dampak peristiwa tsunami di Provinsi Aceh (dulu

6

Gempa bumi tanggal 26 Desember 2004 di Asia Tenggara, yang terbesar dalam kurun waktu 40 tahun terakhir dan terbesar kelima sejak tahun 1900, tercatat 9,1 pada skala Richter. Gempa tersebut beserta gelombang tsunami yang terjadi setelahnya menyebabkan bencana yang menewaskan lebih dari 220.000 orang. Patahan seluas 1.000 kilometer persegi yang muncul akibat pergerakan sejumlah lempengan di bawah permukaan bumi dan energi raksasa yang ditimbulkan oleh bongkahan tanah raksasa yang berpindah tempat, berpadu dengan energi raksasa yang terjadi di samudra membentuk gelombang tsunami. Gelombang tsunami itu menghantam negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Sri Lanka, India, Malaysia, Thailand, Bangladesh, Myanmar, Maladewa dan Seychelles, dan bahkan pesisir pantai Afrika seperti Somalia, yang terletak sejauh kurang lebih 5.000 kilometer. Istilah “tsunami”, yang dalam bahasa Jepang berarti gelombang pelabuhan, menjadi bagian dari bahasa dunia pasca tsunami raksasa Meiji pada tanggal 15 Juni 1896 yang melanda Jepang dan menyebabkan 21.000 orang kehilangan nyaw

disebut Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)),7 telah menimbulkan permasalahan pertanahan, antara lain:8

1. musnah dan kerusakan obyek/bidang-bidang tanah, termasuk hilang/ rusaknya tanda batas tanah dan titik dasar teknik;

2. subyek hak hilang, meninggal, mengungsi, tidak diketahui alamat serta tidak memiliki ahli waris;

3. rusak/hancurnya gedung kantor beserta dokumen pertanahan, seperti alas hak dan sertipikat hak atas tanah pada masyarakat, hak tanggungan pada Bank, buku tanah/dokumen pada Kantor Pertanahan;

4. petugas, aparatur dan pihak-pihak terkait hilang, meninggal dunia, tidak berada di tempat/tidak diketahui alamat, aparat desa/kecamatan, tokoh masyarakat, tokoh pemuda serta saksi/pihak yang berbatasan).

Tsunami telah mengakibatkan terjadinya proses pemisahan secara fisik (penguasaan) antara bidang tanah dengan pemiliknya. Juga telah terjadi proses kemusnahan (hilang dan rusak) berbagai bukti (dokumen dan bukti fisik) hubungan pemilikan antara satu bidang tanah dengan orang tertentu. Hal tersebut sangat berpotensi menimbulkan permasalahan di masa yang akan datang.

Bidang tanah adalah satu-satunya harta (asset) yang tertinggal. Tanah yang tertinggal juga dalam keadaan rusak secara fisik dan kehilangan dokumen penguasaan/pemilikan, bahkan sebagian bidang tanah musnah. Kerusakan fisik tanah dan kehilangan dokumen penguasaan/pemilikan cenderung untuk dapat dinyatakan

7

Penggunaan kata Aceh bukan Nanggroe Aceh Darussalam, oleh penulis berdasarkan Peraturan Gubernur Aceh Nomor 46 Tahun 2009 tentang Penggunaan Sebutan Nama Aceh dan Gelar Pejabat Pemerintahan dalam Tata Naskah Dinas di Lingkungan Pemerintah Aceh tertanggal 7 April 2009. Ditegaskan dalam Pergub No. 46 Tahun 2009 tersebut bahwa sebutan Daerah Otonom, Pemerintahan Daerah, Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Nomenklatur dan Papan Nama Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA), Titelatur Penandatangan, Stempel Jabatan dan Stempel Instansi dalam Tata Naskah Dinas di lingkungan Pemerintah Aceh, diubah dan diseragamkan dari sebutan/nomenklatur “Nanggroe Aceh Darussalam” (“NAD”) menjadi sebutan/nomenklatur “Aceh”.

8

Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam,

Pemaparan, disampaikan pada Rapat Kerja NasionalBadan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Tahun 2009, hal. 5.

telah “lumpuh” nya penguasaan/pemilikan tanah warga di wilayah bencana. Sulit membayangkan upaya pembangunan kembali wilayah yang terkena bencana dalam prespektif pertanahan tanpa terlebih dahulu melaksanakan pemulihan hak keperdataan atas tanah milik warga.

Berdasarkan data Badan Pertanahan Nasional (selanjutnya disebut BPN) yang disampaikan pada rapat dengar pendapat Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) tanggal 7 Maret 2005, kerusakan yang diakibatkan oleh gempa dan tsunami di Provinsi Aceh meliputi areal ± 28.483,7 Ha atau 1,27% dari luas Provinsi Aceh sebesar 2.252.053,9 Ha, yaitu: Kota Banda Aceh, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Nagan Raya, Kabupaten Pidie, Kabupaten Bireuen, Kabupaten Aceh Utara. Gempa dan gelombang tsunami yang terjadi di Provinsi Aceh juga menimbulkan dampak sebagai berikut:9

1. Dampak Kelembagaan a. Sumber Daya Manusia

Pegawai Kantor Wilayah BPN Provinsi Aceh yang meninggal dunia sebanyak 35 orang, dan dari pegawai yang selamat, terdapat beberapa pegawai yang mengalami trauma berat akibat kehilangan suami/istri/anak dan keluarga lainnya serta harta benda.

b. Sarana dan prasarana kerja

Kerusakan dan kehilangan sarana dan prasarana kerja di BPN Provinsi Aceh meliputi gedung kantor, perlengkapan/peralatan kantor, sarana mobilitas dan dokumen pertanahan. Kerusakan dan kehilangan dokumen pertanahan terparah adalah pada Kanwil BPN Provinsi Aceh, Kantor Pertanahan Kota Banda Aceh dan Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Besar.

9

Badan Pertanahan Nasional, Penjelasan Pemerintah Berkenaan dengan Agenda Rapat yang Disampaikan Komisi II DPR RI kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional pada Rapat Dengar Pendapat Komisi II DPR RI dengan Badan Pertanahan Nasional, tanggal 7 Maret 2005, hal. 2-7.

2. Dampak Fisik

Kerusakan bidang-bidang tanah sebagai dampak dari bencana/peristiwa gempa bumi dan tsunami di Provinsi Aceh dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) tingkatan, yaitu:

a. Rusak berat

Tanahnya musnah, tenggelam atau turun. b. Rusak sedang

Tanahnya ada tetapi batas tanah dan fondasi bangunan tidak tampak sama sekali tetapi dapat diidentifikasi.

c. Rusak ringan

Katagori rusak ringan yang dimaksudkan adalah daerahnya hanya terkena lidah air, serta tidak terdapat kerusakan dan sama sekali aman/tidak terkena dampak bencana.

3. Dampak terhadap Koordinat Titik Kerangka Dasar

Gempa tektonik secara teoritis menimbulkan pergeseran pada kulit bumi (topografi) yang berakibat pada terjadinya pergeseran koordinat titik kerangka dasar. Dari hasil pengamatan melalui pengukuran beberapa titik Kerangka Dasar Kadastar Nasional (KDKN) diduga telah terjadi pergeseran koordinat yang cukup signifikan, oleh karenanya untuk pelaksanaan rekonstruksi batas tanah diperlukan:

a. Pengukuran KDKN Orde II dan Orde III dengan menggunakan GPS tipe Geodetik.

b. Pembuatan Peta Dasar Pendaftaran (baru) pasca tsunami dengan menampilkan bidang-bidang tanah.

4. Dampak terhadap Pengelolaan dan Pelayanan Pertanahan

Dampak kelembagaan, dampak fisik dan dampak lain yang ditimbulkan oleh gempa dan tsunami di Provinsi Aceh telah berakibat pada terhentinya penyelenggaraan pengelolaan dan pelayanan pertanahan pada Kantor-kantor Pertanahan yang terkena musibah yaitu meliputi Kantor Wilayah Badan Pertnahan Nasional Provinsi Aceh, Kantor Pertanahan Kota Banda Aceh dan Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Besar. Kerusakan gedung kantor dan tidak adanya perlengkapan serta peralatan kantor, sarana mobilitas, dan dokumen pertanahan, serta pegawai yang trauma karena kehilangan rumah, suami/istri, dan anak serta sanak keluarga lain, dan harta benda telah berakibat pada tidak berjalannya penyelenggaraan pengelolaan dan pelayanan pertanahan di Provinsi Aceh.

Berdasarkan analisis, permasalahan pertanahan berkaitan dengan keberadaan obyek dan keberdaan subyek serta dokumen pertanahan dapat dinventarisir sebagai berikut:

1. Obyek hak

Terdapat tanah musnah10

2. Subyek Hak

. Terhadap fisik tanah yang masih ada, batas-batas tanah mengalami kerusakan atau hilang antara lain batas-batas tanah dalam bentuk permanen, bangunan, batas-batas alam seperti pohon-pohon besar serta tempat-tempat pemakaman umum dan keluarga. Di beberapa lokasi sisa-sisa batas-batas tanah yang masih ada telah diratakan dengan buldoser sehingga batas fisik tanah yang masih tersisa menjadi semakin tidak jelas dan bahkan hilang.

11

Pemilik tanah atau ahli waris yang sah banyak yang meninggal dunia, hilang, tidak diketahui keberadaannya serta berdomisili di tempat pengungsian dan diantaranya mengungsi di luar Provinsi Aceh. Beberapa ahli waris masih di bawah umur dan belum ada kesepakatan diantara ahli waris.

3. Dokumen Pertanahan

Kondisi dokumen pertanahan yang berada pada Kantor Pertanahan dan masyarakat banyak yang hilang dan dalam kondisi rusak/hancur. Dokumen

10

Tanah Musnah adalah tanah yang sudah berubah dari bentuk asalnya karena peristiwa alam dan tidak dapat diidentifikasi lagi sehingga tidak dapat difungsikan, digunakan, dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Lihat Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2007 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2007 tentang Penanganan Permasalahan Hukum dalam Rangka Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 168 (selanjutnya disebut UU No. 48 Tahun 2007).

11

Subyek hak menurut Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 Tahun 1999 tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas Tanah Negara dan Hak Pengelolaan adalah perorangan atau badan hukum yang pendiriannya sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang memohon sesuatu hak atas tanah. R. Rahardjo,

pertanahan meliputi alas hak dan sertipikat12 yang berada pada masyarakat sedangkan yang berada pada Kantor Pertanahan dalam bentuk buku tanah,13

Masyarakat yang terkena tsunami baik yang selamat dari bencana maupun ahli waris sangat mengharapkan untuk memperoleh perlindungan hukum hak-hak atas tanah yang mereka miliki/kuasai sebelum terjadinya tsunami. Keinginan mereka untuk kembali menata kehidupan di lokasi semula juga sangat tinggi.

tanda bukti hak atas tanah dan surat-surat yang berkaitan dengan tanah atau bukti kepemilikan lainnya atas tanah yang menjadi dasar dan persyaratan dalam proses penerbitan sertipikat hak atas tanah.

Desakan agar jaminan perlindungan hukum terhadap hak atas tanah warga korban tsunami juga disampaikan oleh Anggota Komisi A, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Banda Aceh yang mendesak Pemerintah Kota Banda Aceh

12

Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 104 (selanjutnya disebut UUPA) tidak pernah disebut sertipikat tanah, namun seperti yang dijumpai dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c ada disebutkannya “surat tanda bukti hak”. Dalam pengertian sehari-hari surat tanda bukti hak ini sudah sering ditafsirkan sebagai sertipikat tanah. Menurut Mhd. Yamin Lubis dan Abd Rahim Lubis, bahwa pengertian yang sama bahwa surat tanda bukti hak adalah sertipikat (lihat Muhammad Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, (Bandung: Mandar Maju, 2008), hlm. 203. Senada dengan Herman Hermit, sertipikat merupakan surat tanda bukti hak atas tanah atau satuan rumah susun. Suatu pengakuan dan penegasan dari negara terhadap penguasaan tanah atau satuan rumah susun secara perorangan atau bersama atau badan hukum yang namanya ditulis di dalamnya dan sekaligus menjelaskan lokasi, gambar, ukuran dan batas-batas bidang tanah atau satuan rumah susun tersebut (lihat Herman Hermit, Cara Memperoleh Sertipikat Tanah: Tanah Hak Milik, Tanah Negara, Tanah Pemda dan Balik Nama, Teori dan Praktek Pendaftaran Tanah di Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 2009), hal. 31).

13

Buku tanah merupakan dokumen yang menegaskan data keabsahan penguasaan/ kepemilikan hak si pemegang sertipikat dan data keabsahan obyektif bidang tanah yang dikuasai/ dimiliki si pemegang sertipikat (Herman Hermit, Ibid, hal. 35). Menurut definisi formalnya, “buku tanah adalah dokumen dalam bentuk daftar yang memuat data yuridis dan data fisik suatu obyek pendaftaran tanah yang sudah ada haknya” (Pasal 1 angka 19 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3696). Buku tanah terdiri dari empat halaman ukuran kwarto (21 cm X 28 cm), namun bisa ditambah apabila halaman terakhir sudah penuh diisi.

segera mengganti sertipikat tanah warga korban tsunami. Jika status dan kepemilikan tanah-tanah tidak segera diselesaikan, dikhawatirkan masalah itu menjadi embrio munculnya sengketa di tengah masyarakat.14

Pemerintah dalam hal ini BPN yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 26 Tahun 1988, bertanggung jawab mengelola dan mengembangkan administrasi pertanahan, baik berdasarkan UUPA maupun peraturan perundang-undangan lainnya.

15

Program pemulihan urusan pertanahan menjadi tidak sederhana, dan menjadi hal yang sangat prioritas dilaksanakan karena tujuan kegiatan pertanahan dituntut untuk dapat memberikan jaminan kepastian hukum kepada pemilik tanah.

Keputusan Presiden tersebut telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 kemudian diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 85 Tahun 2012 dan terakhir diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2013 tentang Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (BPN RI). Terakhir dalam Kabinet Kerja (Tahun 2014) telah berubah menjadi Kementerian Agraria dan Tata Ruang.

16

14

Harian Serambi Indonesia terbitan tanggal 8 Agustus 2005.

Sebagai

15

A.P. Parlindungan, Komentar Atas Undang-Undang Pokok Agraria, (Jakarta: Mandar Maju, 1993), hal. 10.

16

Tujuan kegiatan pertanahan antara lain memberikan jaminan kepastian hukum kepada pemegang hak atas tanah, hal ini senada dengan tujuan hukum yang dikemukakan oleh E. Utrecht bahwa hukum bertugas menjamin adanya kepastian hukum (recht zekerheid) dalam pergaulan manusia, E. Utrecht, Pengantar dalam Hukum Indonesia, (Jakarta: Balai Buku Ichtiar, 1957), hal. 254. Sedangkan menurut Jeremy Bentham, bahwa hukum harus menuju ke arah sesuatu yang berguna, suatu anggapan yang mengutamakan utilitiet (utilities theorie). Menurut anggapan Theorie Utilitiet

bahwa hukum harus mewujudkan semata-mata apa yang berfaedah (berguna) bagi setiap orang, karena yang berfaedah bagi setiap orang yang satu mungkin merugikan orang lain karena menurut anggapannya tujuan hukum didefinisikan dapat menjamin adanya kebahagiaan bagi sebanyak- banyaknya orang dan “Kepastian hukum” (zekerheid door het recht) bagi individu adalah jalan utama dari hukum, lihat Liza Erwina, Ilmu Hukum, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2012, hal. 33. Hal senada

upaya menjamin perlindungan hukum terhadap pemilik tanah di wilayah bencana tsunami serta dalam rangka proses percepatan pemulihan keadaan pasca bencana, mutlak diperlukan suatu program simultan yang sistematis, komprehensif dan terintegrasi di bidang pertanahan. Kegiatan ini diperlukan juga sebagai wujud komitmen perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM)17 di wilayah bencana. Oleh karena itu, Pemerintah dalam hal ini BPN, menyelenggarakan program pendaftaran tanah terhadap seluruh bidang tanah di seluruh desa/kelurahan di lokasi bencana tsunami tanpa memungut biaya,18

tentang kepastian hukum terdapat juga dalam Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45) perubahan ketiga bahwa “setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”.

yang dilakukan melalui kegiatan Rekonstruksi Sistem Administrasi Pertanahan Aceh atau Reconstruction of Aceh Land Administration System (RALAS). RALAS dilaksanakan untuk mengembalikan setiap jengkal tanah kepada pemilik yang sebenarnya seperti keadaan sebelum terjadinya bencana alam tsunami tanggal 26 Desember 2004. Upaya itu dilakukan dalam rangka memberikan jaminan kepastian hukum dan perlindungan hak atas tanah.

17

Suatu hak baru berfungsi secara efektif, apabila hak tersebut dapat dipertahankan dan dilindungi. Untuk itu, sebagai negara yang berdasarkan atas hukum (rechsstaat), hak asasi harus merupakan bagian dari hukum nasional dan harus ada prosedur hukum untuk mempertahankan dan melindungi hak asasi tersebut. Oleh karena itu, pengimplementasian hak asasi manusia harus memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut:

1. Hak asasi manusia harus dijadikan sebagai hukum positif,

2. Harus ada prosedur hukum untuk mempertahankan dan melindungi hak asasi manusia tersebut,

3. Harus ada kemandirian pengadilan sebagai pemegang kekuasaan kehakiman yang bebas dan merdeka. Bahder Johan Nasution, Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia, (Bandung: Mandar Maju, 2012), hal. 244-245.

18

Berdasarkan Pasal 15 UU No. 48 Tahun 2007, menyatakan bahwa Permohonan penerbitan tanda bukti hak pengganti, konversi hak atas tanah, pengakuan hak atas tanah, atau penetapan hak atas tanah dan pendaftarannya bagi masyarakat di wilayah pasca bencana gempa bumi dan tsunami tidak dikenakan biaya, bea, dan pajak sampai dengan tahun 2009.

Program RALAS melakukan pendaftaran tanah berbasis masyarakat sebanyak 600.000 (enam ratus ribu) bidang tanah di wilayah komunitas yang terkena tsunami dan komunitas yang berdekatan, sebagaimana Surat Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 114-II/2005 tentang Manual Pendaftaran Tanah di Daerah- daerah Pasca Tsunami. Pendaftaran tanah sebanyak 600.000 bidang tanah tersebut dilaksanakan secara bertahap mulai tahun 2005 sampai dengan tahun 2009.19

Berdasarkan data dari Kantor Wilayah BPN Provinsi Aceh dari target 600.000 (enam ratus ribu) bidang tanah yang dilaksanakan melalui kegiatan RALAS, pencapaian pengukurannya sebanyak 321.479 (tiga ratus dua puluh satu ribu empat ratus tujuh puluh sembilan) bidang tanah sedangkan penerbitan sertipikatnya sebanyak 231.316 (dua ratus tiga puluh satu ribu tiga ratus enam belas).

20

Program rekonstruksi pemilikan penguasaan tanah yang dilakukan oleh jajaran BPN melalui kegiatan RALAS tersebut mendapat tantangan dalam pelaksanaannya mengingat kompleksnya permasalahan yang muncul sebagai dampak bencana alam gempa dan tsunami di Provinsi Aceh. Permasalahan rekonstruksi pertanahan sebagai upaya dalam rangka perlindungan hukum bidang pertanahan pasca tsunami di Provinsi Aceh dihadapkan pada 2 (dua) sisi yang saling berbenturan, Berdasarkan kajian realisasi kegiatan RALAS berkaitan dengan pendaftaran tanah di lokasi tsunami masih jauh dari target yang direncanakan.

19

Surat Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 114-II/2005 tentang Manual Pendaftaran Tanah di Daerah-daerah Pasca Tsunami.

20

Lihat Data Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Permasalahan Pertanahan di Provinsi Aceh, Banda Aceh, 10 Mei 2013.

di mana di satu sisi tuntutan penanganan dalam kondisi darurat dan di sisi lain harus berhadapan dengan tuntutan reformasi yang mengedepankan penanganan yang demokratis.

Oleh karena problema tersebut, pemberdayaan masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan pertanahan pada wilayah bencana melalui peningkatan partisipasi masyarakat mutlak diperlukan. Hal ini sesuai dengan rekomendasi Komisi II DPR RI kepada Kepala BPN tentang bagaimana penanganan pasca bencana di Provinsi Aceh dan Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara.21

Partisipasi masyarakat merupakan hal yang mutlak diperlukan dalam pemulihan hak-hak keperdataan di bidang pertanahan di wilayah bencana, hal yang terkait kesiapan BPN seperti ketersediaan peraturan dan kemampuan sumber daya manusia (SDM) sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan program besar dan mulia tersebut.

Kegiatan rekonstruksi fisik merupakan pekerjaan dengan menggunakan teknologi tinggi yang belum pernah dilaksanakan oleh aparat BPN yang bertugas di Provinsi Aceh. Pelaksanaan kegiatan tersebut agar dapat berjalan dengan optimal, diperlukan sumber daya manusia yang profesional dan berkemampuan teknologi tinggi. Kendala yang dihadapi terhadap sumber daya manusia terutama yang bertugas di Provinsi Aceh sebagaimana telah diuraikan pada awal tulisan ini yaitu kekurangan pegawai sebagai akibat dari korban tsunami baik yang meninggal maupun yang

21

Lihat Rekomendasi Komisi II DPR RI kepada Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor: KD.02/928/DPR RI/2005 tanggal 14 Pebruari 2005 tentang Penanganan Pasca Bencana di Provinsi NAD dan Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara.

mengalami trauma dan kurangnya sumber daya manusia yang handal yang mampu menggunakan teknologi tinggi tersebut sedangkan sarana dan prasarana banyak yang hilang/musnah.

Rekonstruksi obyek dan subyek hak atas tanah, khususnya berkaitan dengan masalah-masalah yang timbul akibat tidak diketahuinya lagi subyek atau pemilik tanah, dihadapkan pada belum tersedianya pranata hukum yang berkedudukan sebagai hukum positif yang dapat dijadikan dasar penyelesaian pada masa darurat.

Berkaitan dengan tidak diketahuinya lagi subyek/pemilik tanah pasca tsunami, maka Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Nanggroe Aceh Darussalam (MPU NAD) telah menerbitkan Surat Keputusan MPU NAD Nomor 3 Tahun 2005 tanggal 18 Rabiul Awal 1426 H/27 April 2005 M tentang Perlindungan Hak Atas Tanah, Hak Nasab Bagi Anak Yatim, Hak Isteri dan Waris Mafqud Akibat Gempa dan Gelombang Tsunami yang menyebutkan bahwa tanah dan harta benda yang ditinggalkan korban gempa dan tsunami yang tidak meninggalkan ahli waris adalah menjadi milik umat Islam yang diserahkan melalui Baitul Mal.22

22

Surat Keputusan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 3 Tahun 2005 tanggal 18 Rabiul Awal 1426 H/27 April 2005 M tentang Perlindungan Hak Atas Tanah, Hak Nasab Bagi Anak Yatim, Hak Isteri dan Waris Mafqud Akibat Gempa dan Gelombang Tsunami.

Substansi fatwa tersebut telah mendapat legitimasi dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2007 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2007 tentang Penanganan Permasalahan Hukum dalam Rangka Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat di Provinsi

Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara. Dalam Pasal 8 ayat (1), menyebutkan:

“Tanah yang tidak ada lagi pemilik dan ahli warisnya yang beragama Islam menjadi harta agama dan dikelola oleh Baitul Mal”.

Baitul Mal sebagai subyek hak atas tanah secara implisit tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan dibidang pertanahan, tetapi berdasarkan keistimewaan

Dokumen terkait