• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR ISTILAH

POST-TSUNAMI LAND RECONSTRUCTION IN ACEH PROVINCE IN LEGAL PERSPECTIVE

F. Metode 74 Penelitian

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian hukum empiris ini menggunakan: a. Penelitian Kepustakaan (Library Research).

Penelitian kepustakaan dilakukan untuk mendapatkan data sekunder, yang meliputi: bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tertier.

1) Bahan hukum primer, yaitu: bahan-bahan hukum yang mengikat, yang terdiri dari:

a) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945;

b) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104;

c) Undang-Undang 51/Prp Tahun 1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin yang Berhak atau Kuasanya;

d) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak-hak Atas dan Benda-benda yang ada di atasnya;

e) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2005 tentang Badan Rehabilitasi Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi

78

Sumatera Utara menjadi Undang-Undang, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 111, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4550);

f) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4633);

g) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;

h) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2007 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2007 tentang Penanganan Permasalahan Hukum dalam Rangka Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara;

i) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2005 tentang Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara;

j) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2007 tentang Penanganan Permasalahan Hukum dalam Rangka Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara;

k) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3696);

l) Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan;

m) Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2005 tentang Kegiatan Tanggap Darurat dan Perencanaan serta Persiapan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Alam Gempa Bumi dan Tsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Provinsi Sumatera Utara;

n) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) No. 3 Tahun 1997 tentang Peraturan Pelaksana Penyelenggaraan Pendaftaran Tanah di Indonesia;

o) Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 114- II/2005 tentang Manual Pendaftaran Tanah Berbasis Masyarakat pada Lokasi Terkena Bencana Tsunami di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang Menjadi Objek

Kegiatan Pemulihan Hak Atas Tanah dan Rekonstruksi Sistem Administrasi Pertanahan Aceh;

p) Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 57-VII- 2005 tentang Kelompok Masyarakat Sadar Tertib Pertanahan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;

q) Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 267-X- 2005 tentang Perpanjangan Pelaksanaan Kegiatan Pendaftaran Tanah Sistematik Recontruction of Aceh Land Administration System (RALAS) Tahun Anggaran 2005;

r) Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 28-IX- 2006 tentang Struktur Organisasi dan Penunjukan Tenaga Pengelola/Pelaksana Kegiatan Recontruction of Aceh Land Administration System (RALAS) Tahun Anggaran 2006;

s) Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 12-III- 2008 tentang Pembentukan Struktur Pengelolaan dan Penunjukan Pengelola/Pelaksana Kegiatan Recontruction of Aceh Land Administration System (RALAS) Tahun Anggaran 2008;

t) Keputusan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 13-III- 2008 tentang Pembentukan Panitia/Tim Ajudikasi dalam Rangka Rekonstruksi Sistem Administrasi Pertanahan Aceh (RALAS) di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2008;

u) Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 10 Tahun 2007 tentang Baitul Mal, (Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2007 Nomor 10, Tambahan Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 10);

v) Qanun Nomor 10 Tahun 2008 tentang Lembaga Adat, (Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Tahun 2008 Nomor 10, Tambahan Lembaran Daerah Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 20);

w) Surat Keputusan Majelis Permusyawaratan Ulama Nanggroe Aceh Darussalam (MPU NAD) Nomor 3 Tahun 2005 tanggal 18 Rabiul Awal 1426 H/27 April 2005 M.

2) Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti: RUU, hasil-hasil penelitian atau doktrin,

3) Bahan hukum tersier, yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti: kamus hukum, ensiklopedia, dan lain-lain.79

b. Penelitian Lapangan (Field Research). 6. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: studi dokumen, dan wawancara.80 Wawancara dilakukan terhadap responden.81 dan narasumber82

a. 1 orang Pejabat pada BPN Kantor Wilayah Provinsi Aceh,

. Responden yang diwawancarai sebanyak 30 (tiga puluh orang) terdiri dari Kota Banda Aceh sebanyak 15 (lima belas) orang dan Kabupaten Aceh Besar sebanyak 15 (lima belas) orang. Narasumber yang diwawancarai, sebagai berikut:

b. 1 orang mantan Pelaksana Rekonstruksi Administrasi Pertanahan pasca gempa dan tsunami di Provinsi Aceh,

c. 1 orang Pejabat Badan Pertanahan Kota Banda Aceh, d. 1 orang Pejabat Badan Pertanahan Kabupaten Aceh Besar, e. 1 orang pejabat pada Baitul Mal Provinsi Aceh,

f. 1 orang pejabat pada Majelis Adat Aceh (MAA),

g. 1 orang pejabat pada Dinas Syari’at Islam Provinsi Aceh.

79

Amiruddin dan H. Zainal Asikin, Op.Cit, hal. 31-32. 80

Wawancara adalah melakukan tanya jawab secara langsung antara peneliti dengan responden, narasumber atau informan untuk mendapatkan informasi. Wawancara adalah bagian penting dalam suatu penelitian hukum terutama dalam penelitian hukum empiris. Karena tanpa wawancara, peneliti akan kehilangan informasi yang hanya diperoleh dengan jalan bertanya secara langsung kepada responden, narasumber atau informan. Lihat Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad,

Op.Cit, hal. 161. 81

Responden adalah seseorang atau individu yang akan memberikan respons terhadap pertanyaan yang diajukan peneliti. Responden ini merupakan orang atau individu yang terkait secara langsung dengan data yang dibutuhkan, Ibid, hal. 174.

82

Narasumber adalah seorang yang memberikan pendapat atas objek yang diteliti. Dia bukan bagian dari unit analisis, tetapi ditempatkan sebagai pengamat. Hubungan narasumber dengan objek yang diteliti disebabkan karena kompetensi keilmuan yang dimiliki, hubungan struktural dengan person-person yang diteliti, atau karena ketokohannya dalam populasi yang diteliti, Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Op.Cit, hal. 175.

Dokumen terkait