DAFTAR ISTILAH
TSUNAMI DI PROVINSI ACEH
B. Dampak Bencana Tsunami di Provinsi Aceh
5) Terhadap Kesepakatan Warga Yang Sudah Terbangun
Masyarakat melalui Keuchik segera mengajukan kepada Kantor Pertanahan atau Tim Ajudikasi di Kantor Pertanahan setempat bahwa gampongnya siap untuk
206
Hasil Wawancara dengan Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil BPN Provinsi Aceh (Mantan
dilakukan pendaftaran tanah. Pengajuan dilakukan secara tertulis, melalui telepon/faks atau meminta bantuan LSM atau fasilitator yang ada di gampong untuk menyampaikannya kepada Kantor Pertanahan/Panitia Ajudikasi setempat. Pengajuan juga dapat disampaikan kepada Kantor Wilayah BPN Provinsi Aceh di Banda Aceh.
Senada dengan hal tersebut di atas, berdasarkan wawancara dengan Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil BPN Provinsi Aceh (Mantan Project Manager RALAS tahun 2006), menyatakan:207
“Setelah tercapainya kesepakatan warga, Keuchik mewakili gampongnya mengajukan kepada Kantor Pertanahan atau Tim Ajudikasi setempat bahwa
gampongnya telah siap untuk dilakukan pendaftaran tanah. Pengajuan tersebut dapat dilakukan secara tertulis, melalui telepon/faks atau meminta bantuan LSM atau fasilitator yang ada di gampong-nya”.
b. Manual Teknis Pendaftaran Tanah
BPN memiliki tanggung jawab untuk memberikan perlindungan hak-hak masyarakat atas tanah dan merekonstruksi sistem administrasi pertanahan melalui kegiatan pendaftaran tanah secara sistematik berbasis masyarakat (community driven adjudication). Oleh karena kondisi di daerah bencana tsunami berbeda dengan kegiatan pendaftaran tanah secara sistematik sebagaimana dilakukan dalam sistem pendaftaran tanah sebelumnya (pendaftaran tanah dalam PP No. 24 Tahun 1997), maka kegiatan pendaftaran tanah dimaksud memerlukan penyesuaian teknis tertentu terutama menyangkut keterlibatan masyarakat dalam proses penyepakatan atas batas- batas bidang tanah dan kepemilikan secara partisipatif. Dalam hal ini terjadi pergeseran peran BPN dalam proses pendaftaran tanah dari yang semula melaksanakan seluruh tahapan kegiatan secara penuh, menjadi lembaga yang
207
memberikan legalitas (legal approval) atas penerbitan surat tanda bukti hak atas tanah.
Keputusan Kepala BPN No. 114-II/2005 yang mengatur tentang manual teknis pendaftaran tanah tersebut dibuat sebagai pedoman bagi petugas BPN, terutama staf-staf yang melaksanakan kegiatan pendaftaran tanah secara sistematik di lapangan. Dengan adanya manual teknis tersebut pelaksanaan pendaftaran tanah secara sistematik ini dapat diselenggarakan secara efektif dan efisien.
Proses pendaftaran tanah secara sistematik dengan pola ajudikasi dan rekonstruksi terbagi ke dalam 2 bagian kegiatan utama yang menjadi satu kesatuan kegiatan, yaitu:
1. Fisik Kadaster (Pembukuan Tanah)
Sesuai dengan Pasal 19 ayat (2) UUPA huruf a, kegiatan fisik kadaster meliputi; pengukuran, perpetaan dan pembukuan tanah.
2. Legal Kadaster (Pembukuan Hak)
Sesuai dengan Pasal 19 ayat (2) huruf b, kegiatan legal kadaster dilaksanakan melalui kegiatan pendaftaran hak atas tanah.
Kegiatan-kegiatan fisik kadaster (pembukuan tanah) dilaksanakan oleh Panitia Ajudikasi sesuai dengan tugas dan kewenangan yang diembannya, sedangkan kegiatan legal kadaster (pembukuan hak) dilaksanakan oleh Kepala Kantor Pertanahan setempat. Berdasarkan hasil fisik kadaster (pembukuan tanah), Kepala Kantor Pertanahan melaksanakan kegiatan penetapan hak terlebih dahulu sebelum bidang tanah tersebut dibukukan dalam buku tanah. Penetapan hak untuk tanah
negara melalui surat keputusan pemberian hak atas tanah, sedangkan untuk tanah milik adat melalui pendaftaran konversi/penegasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.
Masalah pertanahan yang timbul akibat gempa dan tsunami meliputi 3 (tiga) pokok pilar yang semuanya berkaitan satu sama lain, meliputi:
1. Subyek (orang), terdiri dari:
a. Subyeknya sudah meninggal atau ahli warisnya sudah tidak ada lagi.
b. Subyeknya belum meninggal, yang terdiri atas:
1) subyek yang tinggal di lokasi/daerah tersebut; 2) subyek yang tinggal di luar lokasi/daerah
bencana;
3) subyek yang belum cukup umur (di bawah 21 tahun untuk laki-laki dan 18 tahun untuk wanita, kecuali sudah menikah).
2. Obyek (tanah)
a. tanahnya musnah;
b. tanahnya ada, tetapi tanda-tanda batasnya sudah rusak atau hilang.
3. Alas hak (bukti penguasaan/pemilikan bidang tanah) rusak atau hilang.
Hasil kajian menemukan, ada beberapa kebijakan pemulihan aspek yuridis bidang pertanahan yang dilakukan oleh BPN berdasarkan variasi permasalahan, sebagai berikut:
Tabel II.3. Kebijakan Pemulihan Aspek Yuridis Bidang Tanah Berdasarkan Variasi Permasalahan yang Dihadapi
No. Obyek Subyek Sertipik
at Dokume n Kantor Kebijakan 1. Ada Diketah ui
Ada Ada - Sertipik
at tetap berlaku sebagai tanda bukti hak
- Apabila
sistem pendaftaran tanah secara digital sudah terbentuk sertipikat diganti baru
2. Ada Diketah ui Tidak Ada Tidak Ada - Penunj
ukan batas, pengukuran ulang, pengumuman dan penerbitan sertipikat
3. Ada Tidak
Diketah ui
Ada Ada - Pember
itahuan kepada ahli waris untuk melapor dan menyerahkan surat keterangan waris
- Pencata
tan peralihan hak
4. Ada Tidak Diketah ui Tidak Ada Tidak Ada - Pengu muman - Penataa
n kembali, konsolidasi atau relokasi
5. Tidak Ada (tanah musna h) Diketah ui
Ada Ada - Hak
atas tanah dan yang membebaninya menjadi hapus
- Buku
tanah, tanda bukti hak, dokumen terkait dinyatakan tidak berlaku lagi
- Pemilik
No. Obyek Subyek Sertipik at Dokume n Kantor Kebijakan
kerugian dari Pemerintah/ BRR (Pasal 3, 4, dan 5 UU No. 48 Tahun 2007) 6. Tidak Ada (tanah musna h) Diketah ui Tidak Ada Ada - Hak
atas tanah dan yang membebaninya menjadi hapus
- Buku
tanah, tanda bukti hak, dokumen terkait dinyatakan tidak berlaku lagi
- Pemilik
nya memperoleh tanah pengganti atau ganti kerugian dari Pemerintah/ BRR (Pasal 3, 4, dan 5 UU No. 48 Tahun 2007) 7. Tidak Ada (tanah musna h) Tidak Diketah ui
Ada Ada - Hak
atas tanah dan yang membebaninya menjadi hapus
- Buku
tanah, tanda bukti hak, dokumen terkait dinyatakan tidak berlaku lagi (Pasal 3 dan 4 UU No. 48 Tahun 2007) 8. Tidak Ada (tanah musna h) Tidak Diketah ui Tidak Ada Tidak Ada - Hak
atas tanah dan yang membebaninya menjadi hapus (Pasal 3 UU No. 48 Tahun 2007)
9. Ada Diketah
ui
Tidak Ada
Ada - Diterbit
kan sertipikat yang baru
10. Ada Diketah
ui
Ada Tidak
Ada
- Sertipik
at hak atas tanah dinyatakan batal
- Kantor
Pertanahan/Tim Ajudikasi menerbitkan sertipikat baru atas nama pemilik yang lama
11. Ada Tidak Diketah ui Tidak Ada Ada - Subyek
yang beragama Islam menjadi harta agama dan dikelola oleh Baitul Mal
- Subyek
yang bukan beragama Islam dikelola oleh Balai Harta Peninggalan (Pasal 8, 9, 10 dan 11 UU No. 48 Tahun 2007) 12. Ada Tidak Diketah ui Ada Tidak Ada - Subyek
yang beragama Islam menjadi harta agama dan dikelola oleh Baitul Mal
- Subyek
yang bukan beragama Islam dikelola oleh Balai Harta Peninggalan (Pasal 8, 9, 10 dan 11 UU No. 48 Tahun 2007)
No. Obyek Subyek Sertipik at Dokume n Kantor Kebijakan Ada (tanah musna h)
ui Ada atas tanah dan yang membebaninya menjadi
hapus
- Buku
tanah, tanda bukti hak, dokumen terkait dinyatakan tidak berlaku lagi
- Pemilik
nya memperoleh tanah pengganti atau ganti kerugian dari Pemerintah/ BRR (Pasal 3, 4, dan 5 UU No. 48 Tahun 2007) 14. Tidak Ada (tanah musna h) Diketah ui Tidak Ada Tidak Ada - Hak
atas tanah dan yang membebaninya menjadi hapus
- Pemilik
nya memperoleh tanah pengganti atau ganti kerugian dari Pemerintah/ BRR (Pasal 3 dan 5 UU No. 48 Tahun 2007) 15. Tidak Ada (tanah musna h) Tidak Diketah ui Tidak Ada Ada - Hak
atas tanah dan yang membebaninya menjadi hapus
- Buku
tanah, tanda bukti hak, dokumen terkait dinyatakan tidak berlaku lagi (Pasal 3 dan 4 UU No. 48 Tahun 2007) 16. Tidak Ada (tanah musna h) Tidak Diketah ui Ada Tidak Ada - Hak
atas tanah dan yang membebaninya menjadi hapus
- Buku
tanah, tanda bukti hak, dokumen terkait dinyatakan tidak berlaku lagi (Pasal 3 dan 4 UU No. 48 Tahun 2007)
Variasi permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan pemulihan aspek yuridis bidang tanah sebagaimana pada tabel tersebut di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut:
Objek (fisik tanah) yang masih ada, subjeknya (pemilik tanah/ahli waris) diketahui, sedangkan sertipikat dan dokumen pada Kantor Pertanahan masih ada, maka kebijakan yang diambil adalah: Sertipikat tetap berlaku sebagai tanda bukti hak
dan apabila sistem pendaftaran tanah secara digital sudah terbentuk sertipikat diganti baru. Objek ada, subjek diketahui, sedangkan sertipikat dan dokumen pada Kantor Pertanahan tidak ada lagi, maka kebijakan yang diambil adalah Penunjukan batas, pengukuran ulang, pengumuman dan penerbitan sertipikat hak atas tanah. Objek ada, subjek tidak diketahui, sertipikat dan dokumen pada Kantor Pertanahan masih ada, maka kebijakan yang diambil adalah pemberitahuan kepada ahli waris untuk melapor dan menyerahkan surat keterangan waris serta pencatatan peralihan hak. Objek ada, subjek tidak diketahui, sertipikat dan dokumen pada Kantor Pertanahan tidak ada, maka kebijakan yang diambil adalah melakukan pengumuman dan penataan kembali, konsolidasi atau relokasi.
Objek tidak ada (tanah musnah), subjek diketahui, sertipikat dan dokumen pada Kantor Pertanahan ada, maka kebijakan yang diambil adalah hak atas tanah dan yang membebaninya menjadi hapus; buku tanah, tanda bukti hak, dokumen terkait dinyatakan tidak berlaku lagi dan pemiliknya memperoleh tanah pengganti atau ganti kerugian dari Pemerintah/BRR. Sesuai Pasal 3, 4, dan 5 UU No. 48 Tahun 2007. Objek tidak ada, subjek diketahui, sertipikat tidak ada dan dokumen pada Kantor Pertanahan masih ada, maka kebijakan yang diambil adalah hak atas tanah dan yang membebaninya menjadi hapus; buku tanah, tanda bukti hak, dokumen terkait dinyatakan tidak berlaku lagi dan pemiliknya memperoleh tanah pengganti atau ganti kerugian dari Pemerintah/BRR. Sesuai Pasal 3, 4, dan 5 UU No. 48 Tahun 2007. Objek tidak ada, subjek tidak diketahui, sertipikat dan dokumen pada Kantor Pertanahan masih ada, maka kebijakan yang diambil adalah hak atas tanah dan yang
membebaninya menjadi hapus sedangkan buku tanah, tanda bukti hak, dokumen terkait dinyatakan tidak berlaku lagi. Hal ini sesuai Pasal 3 dan 4 UU No. 48 Tahun 2007. Objek tidak ada, subjek tidak diketahui, sertipikat dan dokumen pada Kantor Pertanahan tidak ada lagi, maka kebijakan yang diambil adalah hak atas tanah dan yang membebaninya menjadi hapus, hal ini sesuai dengan Pasal 3 UU No. 48 Tahun 2007.
Objek ada, subjek diketahui, sertipikat tidak ada dan dokumen pada Kantor Pertanahan masih ada, maka kebijakan yang diambil adalah diterbitkan sertipikat hak atas tanah yang baru. Objek ada, subjek diketahui, sertipikat masih ada dan dokumen pada Kantor Pertanahan tidak ada lagi, maka kebijakan yang diambil adalah sertipikat hak atas tanah yang bersangkutan dinyatakan batal dan Kantor Pertanahan/Tim Ajudikasi menerbitkan sertipikat baru atas nama pemilik yang lama. Objek ada, subjek tidak diketahui, sertipikat tidak ada dan dokumen pada Kantor Pertanahan masih ada, maka kebijakan yang diambil adalah apabila subyek beragama Islam maka tanah tersebut menjadi harta agama dan dikelola oleh Baitul Mal sedangkan apabila subyeknya bukan beragama Islam, maka tanahnya dikelola oleh Balai Harta Peninggalan. Hal ini sesuai dengan Pasal 8, 9, 10 dan 11 UU No. 48 Tahun 2007. Objek ada, subjek tidak diketahui, sertipikat masih ada dan dokumen pada Kantor Pertanahan tidak ada lagi, maka kebijakan yang diambil adalah apabila subyeknya beragama Islam, maka tanah tersebut menjadi harta agama dan dikelola oleh Baitul Mal sedangkan apabila subyeknya bukan beragama Islam, tanahnya dikelola oleh
Balai Harta Peninggalan. Hal ini sesuai dengan Pasal 8, 9, 10 dan 11 UU No. 48 Tahun 2007.
Objek tidak ada (tanah musnah), subjek diketahui, sertipikat tidak ada lagi dan dokumen pada Kantor Pertanahan masih ada, maka kebijakan yang diambil adalah hak atas tanah dan yang membebaninya menjadi hapus; buku tanah, tanda bukti hak, dokumen terkait dinyatakan tidak berlaku lagi dan pemiliknya memperoleh tanah pengganti atau ganti kerugian dari Pemerintah/BRR. Hal ini sesuai dengan Pasal 3, 4, dan 5 UU No. 48 Tahun 2007. Objek tidak ada, subjek diketahui, sertipikat dan dokumen pada Kantor Pertanahan tidak ada lagi, maka kebijakan yang diambil adalah hak atas tanah dan yang membebaninya menjadi hapus dan pemiliknya memperoleh tanah pengganti atau ganti kerugian dari Pemerintah/BRR. Hal ini sesuai dengan Pasal 3 dan 5 UU No. 48 Tahun 2007. Objek tidak ada, subjek tidak diketahui, sertipikat tidak ada lagi dan dokumen pada Kantor Pertanahan masih ada, maka kebijakan yang diambil adalah hak atas tanah dan yang membebaninya menjadi hapus dan buku tanah, tanda bukti hak, dokumen terkait dinyatakan tidak berlaku lagi. Hal ini sesuai dengan Pasal 3 dan 4 UU No. 48 Tahun 2007. Objek tidak ada, subjek tidak diketahui, sertipikat masih ada dan dokumen pada Kantor Pertanahan tidak ada lagi, maka kebijakan yang diambil adalah hak atas tanah dan yang membebaninya menjadi hapus dan buku tanah, tanda bukti hak, dokumen terkait dinyatakan tidak berlaku lagi. Hal ini sesuai dengan Pasal 3 dan 4 UU No. 48 Tahun 2007.
Mekanisme pelaksanaan pendaftaran tanah secara sistematik berbasis masyarakat dilaksanakan melalui 14 (empat belas) kegiatan sebagai berikut:208
1. kegiatan penyiapan infrastruktur pendaftaran; 2. kegiatan delineasi batas dan rekonstruksi bidang;
3. kegiatan identifikasi batas bidang tanah dan kepemilikan tanah; 4. kegiatan musyawarah desa;
5. kegiatan pengukuran rekonstruksi bidang tanah dan verifikasi data yuridis; 6. kegiatan pengecekan letak batas dan kepemilikan bidang tanah;
7. kegiatan pengukuran penataan batas; 8. kegiatan sidang panitia;
9. kegiatan pengumuman data yuridis dan data fisik; 10.kegiatan penyerahan hasil ajudikasi;
11.kegiatan pengesahan peta pendaftaran; 12.kegiatan pembukuan hak;
13.kegiatan penerbitan sertipikat; dan 14.kegiatan penyerahan sertipikat.
Penjelasan mekanisme pelaksanaan pendaftaran tanah secara sistematik berbasis masyarakat dalam 14 (empat belas) kegiatan tersebut di atas, secara rinci akan dibahas pada BAB III dan BAB IV.