BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak merupakan tumpuan harapan masa depan bangsa, negara, masyarakat, ataupun keluarga, maka setiap anak memerlukan pembinaan dan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, rohani dan sosial secara utuh, serasi, selaras dan seimbang.1 Negara Indonesia memahami pentingnya arti anak sebagai suatu amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya.
Salah satu permasalahan yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat di Indonesia seiring dengan kemajuan zaman yang ditandai dengan adanya perkembangan teknologi dan budaya, membuat tidak hanya orang dewasa saja yang bisa melanggar nilai-nilai dan norma yang ada di masyarakat terutama norma hukum. Seseorang yang dikategorikan masih anak-anak juga bisa melakukan pelanggaran terhadap norma hukum baik secara sadar maupun tidak sadar.2
Masyarakat dihadapkan dalam suatu permasalahan penanganan anak yang diduga melakukan tindak pidana. Pada umumnya anak-anak terjebak dalam pola-pola kehidupan yang berkembang dengan cepat dan kurang terkendali, yang makin
1 Gatot Supramono, Hukum Acara Peradilan Anak, (Jakarta: Djambatan, 2002), hlm. 12.
Lihat juga: Darwan Prinst, Hukum Anak Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bhakti, 1997), hlm. 98.
2 M. Ngafifi, “Kemajuan Teknologi dan Pola Hidup Manusia Dalam Perspektif Sosial Budaya, Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol. 2 No. 1, 2014, hlm. 33-47.
lama semakin menjurus ke arah tindakan kriminal, seperti penggunaan narkotika, pemerasan, pencurian, penganiayaan, pemerkosaan, dan sebagainya.3
Pelanggaran terhadap norma hukum yang membuat seorang anak harus berhadapan dengan sistem peradilan, menimbulkan tanggapan bahwasanya terdapat penegak hukum yang belum memberikan perhatian khusus kepada tersangka anak.
Hal tersebut menunjukan bahwa hukum yang ada di Indonesia masih belum cukup berpihak pada anak-anak, sedangkan sebagai bagian dari subjek hukum anak-anak mestinya mendapatkan perlindungan. Perlindungan anak tersebut adalah segala usaha yang dilakukan untuk menciptakan kondisi agar setiap anak dapat melaksanakan hak dan kewajibannya demi perkembangan dan pertumbuhan anak secara wajar baik fisik, mental dan sosial.4
Perbuatan pelanggaran norma, baik norma hukum maupun norma sosial yang dilakukan oleh anak-anak disebut dengan juvenile delinquency. Hal tersebut cenderung dikatakan sebagai kenakalan anak daripada kejahatan anak, karena terlalu keras bila seorang anak yang melakukan tindak pidana dikatakan sebagai penjahat.
Sementara, kejadiannya adalah proses alami yang tidak boleh tidak dilewati setiap manusia harus mengalami kegoncangan semasa menjelang kedewasaannya.5
3 Widia Magdewijaya, “Penyelesaian Hukum Terhadap Tindak Pidana Yang Dilakukan Oleh Anak Melalui Upaya Restorative Justice Berdasarkan Ketentuan Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak”, https://elib.unikom.ac.id/files/disk1/717/jbptunikompp-gdl-widiamagde-35819-11-unikom_w-i.pdf., diakses pada hari Selasa, tanggal 17 Desember 2019.
4 Maidin Gultom, Perlindungan Hukum Terhadap Anak dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia, (Bandung: Refika Aditama, 2010), hlm. 33.
5 Wagiati Soetedjo dan Melani, Hukum Pidana Anak, (Bandung: Refika Aditama, 2013), hlm. 11.
Menurut Romli Atmasasmita mendefinisikan delinquency, sebagai berikut:
“Suatu tindakan perbuatan yang dilakukan oleh seorang anak yang dianggap bertentangan dengan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku di suatu negara dan oleh masyarakat itu sendiri dirasakan serta ditafsirkan sebagai perbuatan tercela.”6
Seorang anak yang melakukan tindak pidana, maka proses yang diberlakukan terhadap anak hendaknya lebih menekankan pada sarana non-penal.7 Dengan diberlakukannya sarana non-penal, maka kebutuhan dalam penanggulangan kenakalan anak diharapkan dapat berorientasi untuk mencapai kondisi yang kondusif dengan mengkaji mengenai penyebab timbulnya kenakalan anak, yang nantinya akan digunakan untuk menentukan penerapan kebijakan dalam menangani anak yang melakukan tindak pidana.
Sarana non-penal yang dapat ditempuh dalam proses mengadili suatu tindak pidana yang dilakukan oleh anak salah satunya adalah dengan penyelesaian restorative justice. Black`s Law Dictionary mendefinisikan restorative justice sebagai berikut:8
“An alternative delinquency sanction that focuses on repairing the harm done, meeting the victim’s needs, and holding the offender responsible for his or her actions. Restorative justice sanctions use a balanced approach, producing the least restrictive disposition while stressing the offender’s accountability and providing relief to the victim. The offender may be ordered to make restitution, to perform community service, or to make amends in some other way that the court orders.”
6 Romli Atmasasmita dalam Maiding Gultom, Perlindungan Hukum Terhadap Anak dalam Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia, (Bandung: Refika Aditama, 2010), hlm. 55.
7 Ibid., hlm. 59.
8 Black`s Law Dictionary, 8th Edition, Thomson Business dalam Undang Mugopal, Hukum Untuk Manusia, Kado (Tak) Istimewa dari Fakultas Hukum UNISBA untuk Indonesia, (Jakarta: Pilar Utama Mandiri, 2012), hlm. 326.
“Suatu sanksi alternatif atas kejahatan yang memfokuskan pada perbaikan atas perbuatan yang membahayakan, mempertemukan kebutuhan korban dan meminta pertanggungjawaban pelaku atas tindakannya. Keadilan restoratif ini menggunakan pendekatan keseimbangan, menghasilkan disposisi yang membatasi dengan memusatkan pada tanggung jawab pelaku dan memberikan bantuan pada korban. Pelaku mungkin diperintahkan untuk memberi ganti kerugian (restitusi), untuk melakukan pelayanan pada masyarakat, atau membuat perubahan dalam beberapa cara atas perintah (putusan) pengadilan.”
Pada setiap tahunnya jumlah anak Indonesia yang diajukan ke pengadilan atas kejahatan ringan seperti pencurian semakin meningkat. Pada umumnya mereka tidak mendapatkan dukungan dari pengacara maupun dinas sosial. Sehingga tidaklah mengherankan, kalau sembilan dari sepuluh anak yang bermasalah hukum akhirnya dijebloskan ke penjara atau rumah tahanan. Lebih menyedihkan lagi, sebagian besar anak-anak ini berada di dalam lembaga penahanan dan pemenjaraan untuk orang-orang dewasa dan pemuda.9
Peningkatan jumlah anak yang ditahan tersebut, tidak termasuk anak-anak yang ditahan pada kantor polisi, seperti di Polsek, Polres, Polda dan Mabes.
Kondisi ini tentu saja sangat memprihatinkan, karena banyak anak-anak yang harus berhadapan dengan proses peradilan. Keberadaan anak-anak dalam tempat penahanan dan pemenjaraan bersama orang-orang yang lebih dewasa, menempatkan anak-anak pada situasi rawan menjadi korban berbagai tindak kekerasan.10
Anak-anak dalam kondisi demikian disebut dengan anak yang bermasalah dengan hukum (children in conflict with the law). Anak yang bermasalah dengan
9 Steven Allen dalam Purnianti, Ni Made Martini Tinduk, et.al., “Analisa Situasi Sistem Peradilan Pidana Anak (Juvenile Justice System) di Indonesia”, UNICEF, Indonesia, 2003, hlm. 1-2.
10 Judith Ennew, “Difficult Circumstances:Some Reflections on “Street Children” in Africa”, Children, Youth and Environments 13 (1), Spring 2003, hlm. 7-8.
hukum dapat didefinisikan anak yang disangka, dituduh atau diakui telah melanggar undang-undang hukum pidana. Kemudian Majelis Umum PBB dalam Standard Minimum Rules for the Administration of Juvenile Justice atau yang dikenal dengan Beijing Rules mendefisinikannya sebagai berikut: “a child or young person who is alleged to have committed or who has been found to have committed an offence.”11
Seseorang yang melanggar hukum pidana akan berhadapan dengan negara melalui aparatur penegak hukumnya. Sebagai sebuah instrumen pengawasan sosial, hukum pidana menyandarkan diri pada sanksi karena fungsinya memang mencabut hak orang atas kehidupan, kebebasan, atau hak milik mereka. Invasi terhadap hak dasar ini dibenarkan demi melestarikan masyarakat dan melindungi hak-hak fundamental dari gangguan orang lain. Pencabutan kebebasan seseorang dalam doktrin Hukum Hak Asasi Manusia Internasional termasuk rumpun Hak Sipil dan Hak Politik, karena menyangkut pemajuan dan perlindungan martabat dan keutuhan manusia secara individual.12
Terdapat tiga hak yang bersifat lebih fundamental daripada hak lain untuk mencapai maksud tersebut, yakni hak atas hidup, kebutuhan jasmani, dan kebebasan.
Pada ketiga hak inilah semua hak lain bergantung, tanpa ketiga hak ini, hak-hak lain sedikit atau sama sekali tidak bermakna. Dalam konteks pencabutan kebebasan
11 Myles Ritchie, “Children In “Especially Difficult Circumstances‟: Children Living On The Street. Can Their Special Needs Be Met Through Specific Legal Provisioning?”, Consultative Paper Prepared For The South African Law Commission, 1999, hlm. 12-14.
12 A.J. Simanjuntak, “Perlindungan Hukum Terhadap Anak Yang Menjalani Pidana Penjara di Lembaga Pemasyarakatan Anak Klas II B Pontianak”, Jurnal Nestor Magister Hukum Vol. 2 No.
(3), 2013,
seseorang, doktrin Hak Asasi Manusia memberikan legitimasi yakni sepanjang seseorang melakukan tindak pidana.13
Pelaksanaan proses peradilan pidana, terdapat larangan dan pembatasan untuk melakukan tindakan sebagai berikut : diskriminasi (Pasal 2 ayat (1), Pasal 26), melakukan penyiksaan (Pasal 7), dan menjatuhkan hukuman mati (Pasal 4 ayat (2), Pasal 6 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5), dan ayat (6)). Bahkan negara dibebani kewajiban untuk melakukan tindakan-tindakan berikut : memperlakukan secara manusiawi (Pasal 10 ayat (1)), menyamakan kedudukan di muka hukum (Pasal 14 ayat (1)), menerapkan asas praduga tidak bersalah (Pasal 14 ayat (2)), menjamin proses peradilan pidana yang efektif dan imparsial (Pasal 14), dan menerapkan asas retroaktif (Pasal 15).14 Pasal-pasal ini dapat dielaborasi dan diinterpretasikan dengan merujuk pada ketentuan Hukum Hak Asasi Manusia Internasional lain guna melihat kewajiban negara lebih jauh dalam menghargai, melindungi, dan memenuhi hak asasi seseorang yang tengah menghadapi proses hukum.
Perlindungan anak merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi yang melindungi anak agar dapat melaksanakan hak, dan kewajibannya. Dalam konsepsinya, perlindungan anak tidak hanya meliputi perlindungan atas hak-haknya saja tetapi juga berkaitan dengan aspek pembinaan generasi muda, dengan
13 N.A. Noor Muhammad, Ifdhal Kasim (Editor), Proses Hukum Bagi Orang yang Didakwa Melakukan Kejahatan, dalam Hak Sipil dan Politik : Esai-Esai Pilihan, (Jakarta: Elsam, 2001), hlm.
180-181.
14 Konvensi Hak-hak Anak disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 20 November 1989.
memperhatikan bahwa anak-anak bukanlah individualis sebab anak masih sangat tergantung pada orang dewasa, terutama orang-orang dewasa yang mereka kenal.
Disamping itu juga adanya fakta bahwa anak belum dapat menghidupi dirinya sendiri.15
Dalam relasinya dengan hukum, perlindungan dan perlakuan terhadap anak juga harus mendapatkan perhatian secara khusus. Demikian pula jika anak bersentuhan dengan hukum pidana tidak semestinya menjadi alasan untuk memperlakukan anak sama dengan orang dewasa. Anak yang menjadi pelaku tindak pidana tidak seharusnya juga diproses melalui proses formal, proses yang menghadapkan dirinya pada sistem peradilan pidana, apalagi melakukan penahanan terhadap anak. Hal ini harus dijadikan sebagai upaya terakhir (ultimum remedium).
Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 16 ayat (3) Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.16
Semua negara di dunia menganggap persoalan perlindungan terhadap anak pelaku tindak pidana merupakan hal yang penting, karena anak merupakan generasi penerus bangsa di masa depan. Oleh karena itu, negara-negara di dunia berpikir untuk mencari bentuk alternatif penyelesaian yang terbaik untuk anak. Secara internasional, konvensi internasional yang mengatur pelaksanakan peradilan anak
15 Rini Fitriani, “Peranan Penyelenggara Perlindungan Anak Dalam Melindungi dan Memenuhi Hak-Hak Anak”, Jurnal Hukum Samudra Keadilan Vol. II No. 2, Juli-Desember 2016, hlm. 250-258.
16 Pasal 16 ayat (3) Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, menyebutkan bahwa: “Penangkapan penahanan atau tindak pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir”.
dan menjadi standar perlakuan terhadap anak yang berada dalam sistem peradilan pidana. Indonesia telah melakukan upaya memberikan perlindungan terhadap anak yang berkonflik dengan hukum antara lain dengan meratifikasi konvensi internasional tentang hak anak melalui: Keputusan Presiden RI No. 36 Tahun 1990 tentnag Pengesahan Convention on The Rights of The Child (Konvensi Tentang Hak-Hak Anak); Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia; dan Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang-Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.17
Ketentuan tersebut antara lain memberikan perlindungan terhadap anak yaitu hak untuk mendapatkan perlindungan dari tindakan kekerasan, hak memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum, tindakan penahanan merupakan upaya terakhir, hak mendapatkan bantuan hukum, hak anak untuk tidak dihukum mati dan hukuman seumur hidup. Beberapa ketentuan Beijing Rules yang belum masuk dalam Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak yaitu tindakan untuk menghindarkan penahanan, tindakan diversi terhadap kasus anak, penghindaran kekerasan dalam proses penanganan anak, alternatif untuk mengalihkan ke proses informal sejak awal. UU Pengadilan Anak dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan hukum dalam masyarakat dan belum secara komprehensif memberikan perlindungan khusus kepada anak yang berhadapan dengan hukum. Oleh karenanya,
17 Reza Fahlevi, “Aspek Hukum Perlindungan Anak Dalam Perspektif Hukum Nasional”, Lex Jurnalica Vol. 12 No. 3, Desember 2015, hlm. 177-191.
Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak telah dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi berdasarkan Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA).18
Pelaksanaan peradilan pidana saat ini masih belum memberikan perlindungan terhadap anak pelaku tindak pidana, antara lain adanya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat hukum dalam menangani kasus anak, belum adanya upaya untuk mengalihkan penyelesaian secara informal yang memperhatikan kepentingan semua pihak-pihak yang terlibat dalam proses penyelesaian tindak pidana.19 Bentuk pelaksanaan perlindungan dilakukan berdasarkan kebijakan aparat penegak hukum dengan mempertimbangkan prinsip the best interest of the child (kepentingan terbaik untuk anak). Tindakan perlindungan yang dilakukan bertujuan untuk menghindarkan anak dari proses penahanan, dan implikasi negatip dari proses peradilan pidana.
Institusi kepolisian merupakan institusi negara yang pertama kali melakukan intervensi terhadap anak yang berkonflik dengan hukum (ABH). Penangkapan,
18 Negey Varida Ariani, “Implementasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Dalam Upaya Melindungi Kepentingan Anak”, Jurnal Media Hukum Vol. 21 No. 1, Juni 2014, hlm. 108-122. Lihat juga: Tri Jata Ayu Pramesti dalam Hukumonline.com,
“Hal-hal Penting Yang Diatur Dalam UU Sistem Peradilan Pidana Anak”, https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt53f55d0f46878/hal-hal-penting-yang-diatur-dalam-uu-sistem-peradilan-pidana-anak/., diakses pada hari Jumat, tanggal 20 Desember 2019.
19 Dalam penelitian Hady Saputra Siagian yang dilakukan pada Dit.Narkoba Polda Sumut menunjukkan bahwa Dit.Narkoba Polda Sumut belum optimal dalam mengimplementasikan UU SPPA terhadap penyelidikan dan penyidikan tindak pidana narkotika terhadap anak pelaku tindak pidana narkotika. Hal ini dikarenakan Dit.Narkoba Polda Sumut belum didukung dengan personil, anggaran, dan sarpras yang sesuai dengan standar UU SPPA. Lihat: Hady Saputra Siagian,
“Penyelidikan dan Penyidikan Tindak Pidana Narkotika Terhadap Anak Pelaku Tindak Pidana Narkotika Berdasarkan Udnang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi Kasus Pada Dit.Resnarkoba Polda Sumut)”, Tesis, Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Medan, 2020, hlm. 157-162.
penahanan, penyelidikan, dan penyidikan merupakan kewenangan kepolisian untuk menegakkan Sistem Peradilan Pidana Anak.
Mediasi penal (penal mediation) sering juga disebut dengan berbagai istilah, antara lain: “mediation in criminal cases” atau “mediation in penal matters” yang dalam istilah Belanda disebut strafbemiddeling. Dalam istilah Jerman disebut “Der Außergerichtliche Tataus-gleich” (disingkat ATA), dan dalam istilah Perancis disebut “de mediation pénale”. Karena mediasi penal adalah mempertemukan antara pelaku tindak pidana dengan korban, maka mediasi penal ini sering juga dikenal dengan istilah “Victim-Offender Mediation” (VOM), Täter-Opfer-Ausgleich (TOA), atau Offender-victim Arrangement (OVA).20
Mediasi penal merupakan salah satu bentuk alternatif penyelesaian sengketa di luar pengadilan (yang biasa dikenal dengan istilah ADR atau ”Alternative Dispute Resolution”; ada pula yang menyebutnya “Apropriate Dispute Resolution”. ADR pada umumnya digunakan di lingkungan kasus perdata, tidak untuk kasus-kasus pidana. Berdasarkan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia saat ini (hukum positif) pada prinsipnya kasus pidana tidak dapat diselesaikan di luar pengadilan, walaupun dalam hal-hal tertentu, dimungkinkan adanya penyelesaian kasus pidana di luar pengadilan.21
20 B. Nawawi Arief, “Mediasi Pidana (Penal Mediation) Dalam Penyelesaian Sengketa/Masalah Perbankan Beraspek Pidana di Luar Pengadilan,” Law Reform Vol. 2 No. 1, Apr.
2006, pp. 1-13.
21 B. Nawawi Arief, “Mediasi Penal: Penyelesaian Perkara Pidana di Luar Pengadilan”, editing dari makalah “Aspek Kebijakan Mediasi Penal Dalam Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan” yang disajikan dalam Seminar Nasional “Pertanggungjawaban Hukum Korporasi Dalam
Restorative justice merupakan usaha untuk mencari penyelesaian konflik secara damai di luar pengadilan. Khusus untuk Anak Berkonflik Hukum (ABH), restorative justice penting untuk diterapkan karena faktor psikologi anak harus diperhatikan. Terdapat empat kriteria kasus ABH yang dapat diselesaikan dengan model restorative justice. Pertama, kasus tersebut tidak mengorbankan kepentingan umum dan bukan pelanggaran lalu lintas. Kedua, anak tersebut baru pertama kali melakukan kenakalan dan bukan residivis. Ketiga, kasus tersebut bukan kasus yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia, luka berat, atau cacat seumur hidup.
Terakhir keempat, kasus tersebut bukan merupakan kejahatan kesusilaan yang serius yang menyangkut kehormatan.22
Salah satu kejahatan terhadap anak yaitu kekerasan terhadap kesusilaan, meliputi pemerkosaan, pencabulan, dan persetubuhan. Tindakan pemerkosaan merupakan suatu hubungan kelamin laki-laki dan kelamin perempuan dengan mempergunakan paksaan terhadap perempuan, hubungan tidak wajar antara bagian kelamin itu menimbulkan akibat luka pada perempuan.23 Sedangkan pencabulan adalah perbuatan-perbuatan yang melanggar kesusilaan atau kesopanan serta perbuatan terhadap badan sendiri maupun badan oranglain yang masih dalam lingkup kesusilaan.24 Adapun persetubuhan adalah bersatunya alat kelamin pria
Konteks Good Corporate Governance”, Program Doktor Ilmu Hukum UNDIP, di Inter Continental Hotel, di Jakarta, pada tanggal 27 Maret 2007.
22 Herman Manheim, Comperative Criminology, (Boston, New York, 1985), hlm. 56-57.
23 H.A.K. Moch. Anwar, Hukum Pidana Bagian Khusus (KUHP Buku II) Jilid 2, (Bandung : Alumni, 1986), hlm. 226.
24 Ibid., hlm. 231.
dalam kelamin wanita walaupun dengan penetrasi seringan-seringannya, yang menjadi tolok ukur adalah masuknya kelamin laki-laki ke dalam kelamin perempuan hingga mengeluarkan air mani.25
Menurut Kartini Kartono, adapun beberapa bentuk dan jenis pencabulan terhadap anak, sebagai berikut26 :
1. “Exhibitionism Sexual, yaitu sengaja memamerkan alat kelamin pada anak.
2. Voyeurism, yaitu orang dewasa mencium anak dengan bernafsu.
3. Fonding, yaitu mengelus/meraba alat kelamin seorang anak.
4. Fellatio, yaitu orang dewasa memaksa anak untuk melakukan kontak mulut”.
Upaya perlindungan hukum kepada anak di bawah umur pada dasarnya telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), khususnya Pasal 287 KUHP, yang berbunyi :
(1) “Barangsiapa bersetubuh dengan sorang wanita yang bukan istrinya, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umur wanita itu belum lima belas tahun, atau kalau umumya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawinkan, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
(2) Penuntutan dilakukan hanya atas pengaduan, kecuali bila umur wanita itu belum sampai dua belas tahun atau bila ada salah satu hal seperti tersebut dalam Pasal 291 dan Pasal 294”.
Perkembangan perlindungan hukum terhadap anak di bawah umur selanjutnya, Pemerintah memberlakukan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No.
25 R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, (Bogor : Politeia, 1994), hlm. 209.
26 Kartini Kartono, Psikologi Abormal dan Abnormalitas Seksual, (Bandung : Mandar Maju, 1985), hlm. 264.
35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (selanjutnya disebut UU Perlindungan Anak). Pasal 81 UU Perlindungan Anak, mengatur :
(1) “Setiap orang yang melangggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
(3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)”.
Berdasarkan Pasal 82 UU Perlindungan Anak, mengatur bahwasanya : (1) “Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)”.
Adapun bentuk perbuatan pencabulan terhadap anak menurut UU Perlindungan Anak diatur dalam Pasal 76D dan Pasal 76E, bahwasanya :
1. Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.27
27 Pasal 76D Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana telah diubah Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (selanjutnya disebut UU Perlindungan Anak).
2. Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan rangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.28
Menurut R. Soesilo, dari ruang lingkup kekerasan seksual mengenal adanya pencabulan, yaitu segela perbuatan melanggar kesusilaan (kesopanan) atau perbuatan yang keji, semuanya itu dalam lingkungan nafsu birahi, misalnya : ciuman, meraba-raba bagian kemaluan, memeraba-raba-meraba-raba buah dada, dan termasuk pula bersetubuh.29
Dalam masyarakat, khususnya orangtua terhadap anaknya seringkali mengidentikkan pelaku pencabulan dengan sosok orang tak dikenal yang mengintai dari balik tembok sekolah, memakai jubah hitam dengan wajah misterius atau tidak jarang pelaku tersebut identik dengan seseorang yang ber-wajah buruk dan misterius.
Hal ini menyebabkan para orang tua selalu mengingatkan anaknya agar selalu berhati-hati terhadap orang yang tidak dikenal dan yang mempunyai wajah seperti penjahat. Para orang tua juga mengingatkan anak-anaknya agar tidak menerima pemberian apapun dari orang yang tidak dikenal.30
Hal ini menyebabkan para orang tua selalu mengingatkan anaknya agar selalu berhati-hati terhadap orang yang tidak dikenal dan yang mempunyai wajah seperti penjahat. Para orang tua juga mengingatkan anak-anaknya agar tidak menerima pemberian apapun dari orang yang tidak dikenal.30