• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

2. Kerangka Konsepsi

Penggunaan konsep dalam suatu penelitian adalah untuk menghindari penafsiran yang berbeda terhadap kerangka konsep yang dipergunakan penulis dalam merumuskan konsep dengan menggunakan model defenisi operasional.35 Adapun defenisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1) Analisis hukum adalah upaya pemahaman tentang struktur sistem hukum, sifat dan kaidah hukum, pengertian dan fungsi asas-asas hukum, unsur-unsur khas dari konsep yuridik (subyek hukum, kewajiban hukum, hak, hubungan hukum, badan hukum.36

2) Tanah adalah adalah permukaan bumi.37

3) Ganti rugi atau ganti kerugian adalah penggantian yang layak dan adil kepada pihak yang berhak dalam proses pengadaan tanah.38

35 Universitas Sumatera Utara, Penulisan Tesis, (Medan: Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2016), hal.21.

36 Dinpascaula, Filsafat Hukum, https://wonkdermayu.wordpress.com/kuliah-hukum/filsafat-hukum/, diakses 20 April 2017

37 Lihat Pasal 4 Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria

38 Pasal 1 angka 10 Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

Universitas Sumatera Utara

4) Penyelesaian Teknis adalah proses pemberian sejumlah uang kepada masyarakat yang menguasai tanah, bangunan, dan/atau tanaman pada kawasan hutan39

5) Masyarakat adalah persatuan manusia yang timbul dari kodrat yang sama dan terjadi proses pergaulan didalamnya yang memunculkan berbagai hubungan atau pertalian sehingga mengakibatkan seseorang dan yang lain saling mengenal dan pengaruh-mempengaruhi.40

6) Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan Pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.41

7) Kepentingan umum adalah kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat yang harus diwujudkan oleh Pemerintah dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.42

8) Pembebasan lahan sama dengan kalimat pengadaan tanah adalah kegiatan menyediakan tanah dengan cara memberi ganti kerugian yang layak dan adil kepada pihak yang berhak.43

39 Lihat Pasal 1 Permen ESDM No. 33 Tahun 2016 Penyelesaian Teknis Terhadap Tanah, Bangunan, dan/atau Tanaman Yang Dikuasai Masyarakat Pada Kawasan Hutan Dalam Rangka Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.

40 C.S.T. Kansil, Op.Cit, hal. 30.

41 Pasal 1 angka 12 Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum .

42 Pasal 1 angka 6 Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum .

43 Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

26

F. Metode Penelitian

Penelitian merupakan salah satu cara yang tepat untuk memecahkan masalah. Selain itu, penelitian juga dapat digunakan untuk menentukan, mengembangkan dan menguji kebenaran. Dilaksanakan untuk mengumpulkan data guna memperoleh pemecahan masalah atau mendapat jawaban atas pokok-pokok permasalahan yang dirumuskan, sehingga diperlukan rencana sistematis, metodologi yang merupakan suatu logika yang menjadi dasar suatu penelitian ilmiah. Seseorang dalam melakukan penelitian harus memperhatikan ilmu pengetahuan yang menjadi induknya.44 Pada penelitian ini, jelas bahwa bidang ilmu hukum yang menjadi landasan ilmu pengetahuan induknya. Penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum.

Menurut ”Soerjono Soekanto yang dimaksud dengan penelitian hukum adalah kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari suatu atau gejala hukum tertentu dengan jelas menganalisanya.”45

1. Jenis dan Sifat Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini ialah penelitian hukum normatif atau yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif mengacu kepada

44 Ronny Hanintijo Soemitro, Op Cit, hal. 9

45 Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007, hal. 43

Universitas Sumatera Utara

norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan-putusan pengadilan serta norma-norma hukum yang ada dalam masyarakat.46

Sifat penelitian ini adalah deskriptif analitis, maksudnya adalah dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Analisis dilakukan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh dan akan dilakukan secara cermat bagaimana menjawab permasalahan dalam menyimpulkan suatu solusi sebagai jawaban dari permasalahan tersebut.

Penelitian yang bersifat deskriptif analitis merupakan suatu penelitian yang menggambarkan, menelaah, menjelaskan dan menganalisis suatu peraturan hukum.47

2. Sumber Data

Data yang dipergunakan dalam tesis ini adalah data sekunder, yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (library research) bertujuan untuk mendapatkan konsep-konsep, teori-teori dan informasi-informasi serta pemikiran konseptual

46Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2009, hal. 105

47 Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : Universitas Indonesia Press, 1986), hal. 63.

28

dari peneliti pendahulu baik berupa peraturan perundang-undangan dan karya ilmiah lainnya. Data sekunder penelitian yang digunakan terdiri dari :48

a. Bahan Hukum Primer yakni bahan hukum yang terdiri dari aturan Hukum yang terdapat pada berbagai perangkat hukum atau peraturan perundang-undangan, yaitu :

1) Undang-undang Dasar 1945;

2) Peraturan Presiden No. 04 Tahun 2010 tentang Penugasan Kepada PT PLN (Persero) untuk melakukan Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas;

3) Peraturan Menteri ESDM No. 02 Tahun 2010 jo Peraturan Menteri ESDM No. 15 Tahun 2010 tentang Daftar Proyek-Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang Menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas Serta Transmisi Terkait;

4) Surat Keputusan Gubernur Sumatera Utara No.

188.44/128/RPTS/2012 tentang Izin Penetapan Lokasi;

5) Surat Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal No.35/1/IPPKH/PMDN/2015tentang Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) untuk Pembangunan Pembangkit Listrik

48 Jhony Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Surabaya : Bayumedia, 2006), hal.192.

Universitas Sumatera Utara

Tenaga Air (PLTA) Asahan 3 dan Jaringan Transmisi 150 KV Pada Kawasan Hutan Lindung Atas Nama PT PLN (Persero), Di Kabupaten Asahan Dan Kabupaten Toba Samosir, Provinsi Sumatera Utara seluas 284,10 Ha;

6) Peraturan Presiden No. 04 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan;

7) Peraturan Menteri ESDM No. 33 Tahun 2016 tentang Penyelesaian Teknis Terhadap Tanah, Bangunan, dan/atau Tanaman Yang Dikuasai Masyarakat Pada Kawasan Hutan Dalam Rangka Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan.

8) Peraturan Daerah.

b. Bahan Hukum Sekunder adalah bahan hukum yang tidak mengikat tetapi menjelaskan mengenai bahan hukum primer yang merupakan hasil olahan pendapat atau pikiran para pakar atau ahli yang mempelajari suatu bidang tertentu secara khusus yang akan memberikan petunjuk kemana peneliti akan mengarah. Bahan hukum sekunder diperoleh dari buku teks, jurnal-jurnal, pendapat sarjana, dan hasil-hasil penelitian.49

c. Bahan Hukum Tersier adalah bahan hukum yang mendukung bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder dengan memberikan

49https://lawmetha.wordpress.com/2011/05/19metode -penelitian-hukum-normatif/, diakses pada tanggal 10 April 2016.

30

pemahaman dan pengertian atas bahan hukum lainnya. Bahan hukum yang dipergunakan oleh penulis adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Kamus Hukum, Ensiklopedia, dan lain-lain.50

3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik dan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan (library research). Alat pengumpulan data yang digunakan yaitu studi dokumen untuk memperoleh data sekunder, dengan membaca, mempelajari, meneliti, mengidentifikasi, dan menganalisa data primer, sekunder maupun tertier yang berkaitan dengan penelitian ini.51Disamping itu dilakukan wawancara dengan Manager Hukum, Komunikasi dan Pertanahan pada Kantor PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera di Kota Medan yang dalam penelitian ini memiliki kapasitas sebagai informan dan nara sumber.

4. Analisis Data

Analisis data merupakan langkah terakhir dalam suatu kegiatan penulisan.

Analisis data dilakukan secara kualitatif artinya menggunakan data secara bermutu dalam kalimat yang teratur, runtun logis, tidak tumpang tindih dan efektif sehingga memudahkan interpretasi data dan pemahaman hasil analisis.

50 Ibid

51Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Mandar Maju, Bandung, 2011, hal 8.

Universitas Sumatera Utara

Data yang diperoleh melalui pengumpulan data sekunder akan dikumpulkan dan kemudian dianalisis dengan cara kualitatif untuk mendapatkan kejelasan terhadap masalah yang akan dibahas. Semua data yang terkumpul diedit, diolah dan disusun secara sistematis untuk selanjutnya disimpulkan dengan menggunakan metode deduktif.

32 BAB II

PERMEN ESDM NO. 33 TAHUN 2016 SEBAGAI DASAR HUKUM PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK

KEPENTINGAN UMUM PADA KAWASAN HUTAN

A. Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum 1. Pengertian Pengadaan Tanah

Kata pengadaan tanah merupakan istilah asal mulanya atau istilah asli sesuai dengan ketentuan yang diatur dengan hukum, akan tetapi istilah ini menurut ketentuan yang diatur dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri lebih dikenal dengan sebutan istilah pembebasan, sedangkan yang dimaksud dengan pembebasan tanah menurut Kemendagri No. Ba.12/108/1275 adalah setiap perubahan yang bermaksud langsung atau tidak langsung melepaskan hubungan hukum yang ada antara pemegang hak/penguasa atas tanahnya dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang berhak/penguasa tanah itu.52

Secara garis besar dikenal ada 2 (dua) jenis pengadaan tanah, pertama pengadaan tanah untuk kepentingan umum dan untuk kepentingan swasta. Pengadaan tanah untuk kepentingan swasta sangat berbeda dengan pengadaan tanah untuk kepentingan umum, baik secara peruntukannya maupun dari segi kemanfaatannya, serta tata cara perolehan atas tanahnya. Hal tersebut dikarenakan kepentingan swasta bertujuan untuk memperoleh keuntungan (komersil), peruntukan dan kemanfaatannya hanya dinikmati oleh pihak-pihak tertentu bukan masyarakat luas, tetapi sebaliknya

52Mudakir Iskandar Syah, Pembebasan Tanah Untuk Pembangunan Kepentingan Umum,(Jakarta: Permata Aksara, 2015), hal. 1.

Universitas Sumatera Utara

pengadaan tanah baik peruntukan dan kemanfaatannya ditujukan untuk kepentingan umum.53

Menurut Pasal 1 angka (1) KEPPRES NO. 55 TAHUN1993 mendefinisikan pengadaan tanah sebagai kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada pihak yang berhak atas tanah tersebut.

Artinya, pengadaan tanah dilakukan dengan cara memberikan ganti kerugian kepada pihak yang berhak atas tanah tersebut, tidak dengan cara lain selain pemberian ganti kerugian. Definisi tersebut juga sangat umum bahwa siapa saja yang hendak mendapatkan tanah dapat dikategorikan dalam pengadaan tanah.54

Menurut Pasal 1 angka (3) PERPRES NO. 36 TAHUN 2005 mengartikan pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah atau dengan pencabutan hak atas tanah. Artinya pengadaan tanah dapat dilakukan selain dengan memberikan ganti kerugian, juga dimungkinkan dilakukan dengan cara pelepasan hak dan pencabutan hak atas tanah. Kemudian setelah PERPRES NO. 36 TAHUN 2005 diubah oleh PERPRES NO. 65 TAHUN 2006, cara pengadaan tanah lewat pencabutan hak atas tanah sudah tidak dicantumkan lagi dalam PERPRES NO. 65 TAHUN 2006 tersebut.

Menurut Pasal 1 angka (3) PERPRES NO. 65 TAHUN 2006 Pengadaan Tanah adalah

53Meilya Normawaty Simanjuntak, Perlindungan Hukum Terhadap Pihak Yang Berhak Atas Tanah Dalam Hal Ganti Rugi Berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, (Medan : Tesis, 2015), hal. 24.

54Mohammad Yamin Lubis dan Abdul Rahim Lubis, Pencabutan Hak, Pembebasan dan Pengadaan Tanah, (Bandung : Mandar Maju, cetakan 1, 2011), hal. 56.

34

setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan, tanaman dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah.

Perkembangan pengaturan dalam ruang keperdataan tidak hanya terbatas pada ganti rugi karena sebuah ikatan perjanjian akan tetapi juga termasuk pada pengadaan tanah. Konsep ganti rugi yang dikembangkan dalam pengadaan tanah merupakan ganti untung karena sangat penting terwujud masyarakat yang terkena dampak atau yang diambil tanahnya untuk kepentingan umum oleh Pemerintah diangkat martabatnya dan kesejahteraannya. Nilai ganti rugi dapat memberikan makna ganti untung bagi masyarakat yang terkena dampak dari pengadaan tanah untuk kepentingan umum.55

2. Tinjauan Aspek Kepentingan Umum

Menurut Kamus Bahsa Indonesia,56 kata kepentingan berasal dari kata dasar “penting” yang berarti amat perlu, amat utama, sangat berharga, dan kata “ kepentingan” mengandung arti keperluan, sesuatu yang penting. Sedangkan kata

“umum” mempunyai arti keseluruhan, sekaliannya, untuk siapa saja, khalayak manusia, masyarakat luas. Walaupun secara etimologis pengertian tersebut diatas dapat dipahami menurut ilmu bahasa tersebut tetapi belum dapat dijadikan sebagai pengertian yuridis dari “kepentingan umum”.

55 Jarot Widya Muliawan, Cara Mudah Pahami Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, Yogyakarta: Buku Litera, 2016, hal. 68

56Poerwadarminta, W.J.S., Op.Cit., hal. 600.

Universitas Sumatera Utara

Menurut Mertokusumo kepentingan umum menyangkut kepentingan bangsa dan negara, pelayanan umum dalam masyarakat luas, rakyat banyak dan atau pembangunan57 tidak jauh berbeda dengan pendapat Mertokusumo, menurut John Salindeho kepentingan umum merupakan kepentingan bangsa dan Negara serta kepentingan rakyat, dengan memperhatikan segi sosial, politik, psikologi dan hankamnas (pertahanan dan keamanan nasional) atas dasar asas Pembangunan Nasional dengan mengindahkan Ketahanan Nasional serta Wawasan Nusantara.58 Dalam hal ini Benhard Limbong59 mengemukakan unsur-unsur dari kepentingan umum, yakni: 1) Kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat; 2) diwujudkan oleh Pemerintah, baik pusat maupun daerah; dan 3) digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pasal 18 UUPA menyatakan bahwa :

“Untuk kepentingan umum, termasuk kepentingan bangsa dan negara serta kepentingan bersama dari rakyat, hak-hak atas tanah dapat dicabut, dengan memberi ganti kerugian yang layak dan menurut cara yang diatur dengan Undang-undang”.

Dalam penjelasan Pasal 18 UUPA tersebut, dimana kemudian yang melatarbelakangi lahirnya UU NO. 20 TAHUN 1961.

Setelah berlakunya UU NO. 2 TAHUN 2012 , pengertian kepentingan umum tersebut lebih tegas sebagaimana ditegaskan lebih lanjut pada Pasal 1 angka (6) UU

57Sudikno Mertokusumo, Op.Cit., hal. 45.

58 John Salindeho, Masalah Tanah dalam Pembangunan, Cetakan Kedua, (Jakarta: Sinar Grafika, 1988), hal. 40.

59 Benhard Limbong, Pengadaan Tanah untuk Pembangunan, (Jakarta: Margaretha Pusataka, 2015), hal. 158.

36

NO. 2 TAHUN 2012 juncto PERPRES No. 71TAHUN 2012, yaitu kepentingan umum adalah kepentingan bangsa, negara dan masyarakat yang harus diwujudkan oleh Pemerintah dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Sementara itu, ruang lingkup pembangunan untuk kepentingan umum, meliputi :60

a. Pertahanan dan keamanan nasional;

b. Jalan umum, jalan tol, terowongan, jalur kereta api, stasiun kereta api, dan fasilitas operasi kereta api;

c. Waduk, bendungan, bendung, irigasi, saluran air minum, saluran pembuangan air dan sanitasi, dan bangunan pengairan lainnya;

d. Pelabuhan, bandar udara, dan terminal;

e. Infrastruktur minyak, gas dan panas bumi;

f. Pembangkit, transmisi, gardu, jaringan, dan distribusi tenaga listrik;

g. Jaringan telekomunikasi dan informatika Pemerintah;

h. Tempat pembuangan dan pengolahan sampah;

i. Rumah sakit Pemerintah/Pemerintah Daerah;

j. Fasilitas keselamatan umum;

k. Tempat pemakaman umum Pemerintah/Pemerintah Daerah;

l. Fasilitas sosial, fasilitas umum, dan ruang terbuka hijau publik;

m. Cagar alam dan cagar budaya;

n. Kantor Pemerintah/Pemerintah Daerah/desa;

o. Penataan permukiman kumuh perkotaan dan/atau konsolidasi tanah, serta perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah dengan Status sewa;

p. Prasarana pendidikan atau sekolah Pemerintah/Pemerintah Daerah;

q. Prasarana olahraga Pemerintah/Pemerintah Daerah;dan

r. Pasar umum dan lapangan parkir umum

Lingkup kegiatan yang terdapat dalam UU NO. 2 TAHUN 2012 tersebut diatas cakupannya masih sangat luas dikarenakan semakin banyaknya kebutuhan pembangunan yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah kedepannya. Sehingga sebagai pemilik tanah yang tanahnya menjadi objek lokasi pembangunan terkadang

60Undang-undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah untukPembangunan, Pasal 10

Universitas Sumatera Utara

dihadapkan dengan dilema, yaitu apakah harus mengutamakan kepentingan pribadi disatu sisi sebagai pemilik tanah yang sah yang dilindungi hukum dan disisi lain harus berkorban untuk tanahnya digunakan untuk kepentingan umum, alasan inilah yang acapkali digunakan sebagai alasan pembenar yang di rasakan masyarakat untuk menyerahkan tanahnya.

Oleh sebab itu, kepentingan umum dapat dikatakan sebagai kepentingan umum bila peruntukannya dan manfaatnya dirasakan benar-benar oleh masyarakat secara keseluruhan atau secara langsung, termasuk oleh pemilik tanah sebelumnya, dimana kemudian kegiatan pembangunannya dilakukan dan dimiliki oleh Pemerintah dan tidak digunakan untuk tujuan komersil atau mencari keuntungan semata.

Pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum merupakan salah satu manifestasi dari fungsi sosial hak atas tanah, pengadaan tanah dipandang sebagai langkah awal dari pelaksanaan pembangunan yang merata untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat atau masyrakat itu sendiri. Pengadaan tanah bagi kepentingan umum hanya dapat dilakukan atas dasar persetujuan dari pemegang hak atas tanah mengenai dasar dan bentuk ganti rugi yang diberikan kepada pemegang hak atas tanah pada prinsipnya pengadaan tanah dilakukan dengan cara musyawarah antara pihak yang memerlukan tanah dan pemegang hak atas tanah yang tanahnya diperlukan untuk kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum.61

61Lieke Lianadevi Tukgali, Fungsi Sosial Hak Atas Tanah Dalam Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, Cetakan Pertama, (Jakarta : Kertas Putih Communication, 2010), hal.

2.

38

3. Asas-asas Pengadaan Tanah

Implementasi dari pengadaan tanah haruslah memperhatikan asas-asas (prinsip-prinsip) sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang terkait. Dalam Hukum Tanah Nasional dikemukakan mengenai asas-asas yang berlaku dalam penguasaan tanah dan perlindungan hukum bagi pemegang hak atas tanah, yaitu:62

a. Bahwa penguasaan dan penggunaan tanah tanpa ada landasan haknya (illegal) tidak dibenarkan dan diancam dengan sanksi pidana;

b. Bahwa penguasaan dan penggunaan tanah yang berlandaskan hak yang disediakan oleh hukum tanah nasional, dilindungi oleh hukum terhadap gangguan dari pihak manapun, baik oleh sesama anggota masyarakat maupun pihak penguasa sekalipun. Jika gangguan tersebut tidak ada landasan hukumnya;

c. Bahwa oleh hukum disediakan berbagai sarana hukum untuk menanggulangi gangguan yang ada, yaitu :

1) Gangguan oleh sesama anggota masyarakat; gangguan perdata melalui Pengadilan Negeri atau meminta perlindungan kepada Bupati/Walikotamadya menurut Undang-undang Nomor 51 Prp Tahun 1960.

2) Ganggunan oleh Penguasa: gugatan melalui Pengadilan Tata Usaha Negara.

d. Bahwa dalam keadaan biasa, diperlukan oleh siapapun dan untuk keperluan apapun (juga untuk proyek kepentingan umum) perolehan tanah yang dihaki seseorang harus melalui musyawarah untuk mencapai kesepakatan, baik mengenai penyerahan tanahnya kepada pihak yang memerlukan maupun mengenai imbalannya yang merupakan hak pemegang hak atas tanah yang bersangkutan untuk menerimanya.

e. Bahwa hubungan dengan apa yang tersebut diatas, dalam keadaan biasa, untuk memperoleh tanah yang diperlukan tidak dibenarkan adanya paksaan dalam bentuk apapun dan oleh siapapun kepada pemegang haknya, untuk menyerahkan tanah kepunyaannya dan atau menerima imbalan yang tidak disetujuinya, termasuk juga penggunaan lembaga “penawaran pembayaran diikuti dengan konsinyasi pada Pengadilan Negeri” seperti yang diatur dalam Pasal 1404 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.

f. Bahwa dalam keadaaan yang memaksa, jika tanah yang bersangkutan diperlukan untuk kepentingan umum, dan tidak mungkin digunakan tanah lain, sedang

62Arie S Hutagalung, Op.Cit., hal. 377.

Universitas Sumatera Utara

musyawarah yang diadakan tidak berhasil memperoleh kesepakatan, dapat dilakukan pengambilan paksa, dalam arti tidak memerlukan persetujuan pemegang haknya, dengan menggunakan acara “pencabutan hak” yang diatur dalam Undang-undang NO. 20 TAHUN 1961 tentang Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda Yang Ada Diatasnya.

g. Bahwa dalam perolehan dan pengambilan tanah, baik atas dasar kesepakatan bersama maupun melalui pencabutan hak, pemegang haknya berhak memperoleh imbalan atau ganti kerugian, yang bukan hanya meliputi tanahnya, bangunan dan tanaman pemegang hak, melainkan juga kerugian-kerugian lainyang diderita sebagai akibat penyerahan tanah yang bersangkutan.

h. Bahwa bentuk dan jumlah imbalan atau ganti rugi tersebut, juga jika tanahnya diperlukan untuk kepentingan umum dan dilakukan pencabutan hak, haruslah sedemikian rupa, hingga bekas pemegang haknya tidak mengalami kemunduran, baik dalam bidang sosial maupun tingkat ekonominya.

Pengadaan tanah untuk pembangunan kepentingan umum mengandung beberapa prinsip lain yang harus diperhatikan dan ditaati agar pelaksanaannya mencapai tujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, antara lain:63

a) Prinsip Musyawarah

Walaupunpengadaan tanah diselenggarakan untuk kepentingan umum, namun pelaksanaannya harus berdasarkan musywarah antara instansi Pemerintah yang akan membangun dengan pemilik atau penguasa tanah. Pengadaan tanah berbeda dengan pencabutan hak atas tanah yang dipaksakan walaupun tanpa musyawarah, apalagi untuk kebutuhan mendesak (Pasal 18 UUPA). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tiada pengadaan tanah tanpa musyawarah.

Karena itu, pengadaan tanah berbasis pada kesepakatan, tanpa kesepakatan pada prinsipnya tidak ada pengadaan tanah. Kesepakatan dimaksud adalah kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti kerugian. Adanya kata sepakat atau musyawarah dalam pengadaan tanah dimaksudkan untuk dapat memberikan rasa kesejahteraan bagi pemegang hak atas tanah dan yang memerlukan tanah.64

b) Prinsip Kepentingan Umum

Pengadaan tanah hanya dilakukan untuk kepentingan umum, jika kegiatan pembangunan tersebut bukan untuk kepentingan umum, maka yang bersangkutan harus mengurus kepentingannya sendiri dengan menghubungi pemilik tanah

63Yul Ernis, Pelaksanaan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, http://bphn.go.id/data/documents/lap._akihir_mbak_yul.pdf, diakses pada tanggal 1 januari 2018.

64Abdurrahman, Masalah Pencabutan Hak-hak Atas Tanah dan Pembebasan Tanah di Indonesia, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1991), hal. 10.

40

secara langsung. Oleh karena itu pengertian kepentingan umum menjadi hal yang sangat penting ditegaskan dalam undang-undang.

c) Prinsip Pelepasan atau Penyerahan Hak Atas Tanah

Karena pengadaan tanah tidak boleh dipaksakan, maka pelaksanaannya harus berdasarkan pelepasan hak atas tanah dari pemegang hak. Pengadaan tanah hanya bisa dilakukan jika pemegang hak bersedia ,melepaskan haknya dalam arti memutuskan hukum antara dia dengan tanahnya, untuk selanjutnya diserahkan ke negara untuk dibangun. Kesediaan ini biasanya dinyatakan setelah yang bersangkutan menerima ganti kerugian yang layak sesuai kesepakatan. Jika ada pemegang hak yang dengan sukarela memberikan tanah

Karena pengadaan tanah tidak boleh dipaksakan, maka pelaksanaannya harus berdasarkan pelepasan hak atas tanah dari pemegang hak. Pengadaan tanah hanya bisa dilakukan jika pemegang hak bersedia ,melepaskan haknya dalam arti memutuskan hukum antara dia dengan tanahnya, untuk selanjutnya diserahkan ke negara untuk dibangun. Kesediaan ini biasanya dinyatakan setelah yang bersangkutan menerima ganti kerugian yang layak sesuai kesepakatan. Jika ada pemegang hak yang dengan sukarela memberikan tanah