BAB II PERATURAN MENTERI ESDM NO. 33 TAHUN SEBAGAI
C. Cara Menghindari Terjadinya Konflik Dalam Pengadaan
2. Beberapa Proyek Pengadaan Tanah untuk Kepentingan
Pemerintah dalam hal ini sebagai pemangku kebijakan telah melakukan upaya dengan mengeluarkan peraturan tentang pengadaan tanah untuk pembangunan dalam rangka kepentingan umum. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari konflik yang terjadi sehingga pembangunan dapat berjalan dengan lancar, tetapi dalam implementasi dan pelaksanaannya sering menemui kendala atau hambatan yang berujung pada kebuntuan sehingga proses pembangunan menjadi terlambat.83
83 Benhard Limbong, Op.Cit., hal. 6.
76
Pelaksanaan pengadaan tanah di Provinsi Sumatera yang sedang berjalan atau belum selesai dilaksanakan setelah lahirnya UU NO. 2 TAHUN 2012 , masih menerapkan aturan lama yaitu PERPRES NO. 36 TAHUN 2005 juncto PERPRES NO. 65 TAHUN 2006 juncto Peraturan Kepala BPN No. 3 Tahun 2007, tetapi bagi program pengadaan tanah untuk kepentingan umum dananya dianggarkan terhitung mulai Januari 2012 telah menggunakan aturan ketentuan baru sebagaimana diatur dalam UU NO. 2 TAHUN 2012 dan aturan pelaksanaannya, yaitu PERPRES NO. 71 TAHUN 2012 dan PERKABAN NO. 5 TAHUN2015.84
Berikut diuraikan secara singkat beberapa kasus dan permasalahan atau konflik pengadaan tanah yang terjadi di lapangan berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan di daerah Sumatera Utara, dilakukan sebagai bentuk implementasi dari peraturan tentang pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum berikut solusi yang ditawarkan antara lain :
a. Pengadaan Tanah Proyek Bandara Kwala Namu Kecamatan Pantai Labu Dan Pelebaran Jalan Tanjung Morawa Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang.85
84 Hasil wawancara dengan Herledi Lekson, Supervisor Pertanahan, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera Kota Medan, pada tanggal 11 Januari 2018, Pukul 13.00 WIB.
85 Abinur Hamzah, Aspek Yuridis Pelaksanaan Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum Setelah Keluarnya Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 (Studi Kasus Proyek Kwala Namu Kecamatan Pantai Labu dan Proyek Pelebaran Jalan Tanjung Morawa Di Desa Buntu Bedimbar Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang), Tesis, Pascasarjana Program Studi Kenotariatan, Universitas Sumatera Utara, 2006.
Universitas Sumatera Utara
Sebagai dasar yuridis pengadaan tanah proyek Bandara Kwala Namu Kecamatan Pantai Labu Dan Pelebaran Jalan Tanjung Morawa Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang menggunakan PERPRES NO. 36 TAHUN 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
Penelitian yang dilakukan Hamzah menunjukan bahwa proses pelaksanaan pengadaan tanah untuk proyek tersebut tidak dapat dijalankan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang ada, karena penentuan besarnya ganti rugi tidak melalui musyawarah tetapi dilakukan dengan ancaman dan intimidasi. Harga tanah yang diberlakukan dan ditetapkan oleh Pemerintah berkaitan dengan ketersediaan dana APBD sehingga berada dibawah harga yang seharusnya.
Akibatnya dari hal tersebut sikap dari masyarakat adalah tidak mau melepaskan tanahnya dan pembangunan proyek sempat tertunda. Sebagai solusi alternatif yang diberikan adalah dibentuknya badan independen yang mengawasi pelaksanaan pengadaan tanah agar dilakukan sesuai dengan peraturan atau perundang-undangan yang berlaku.
b. Pengadaan Tanah Proyek Jembatan Layang (Fly Over) Jamin Ginting, Padang Bulan, Medan.86
Mengatasi kemacetan lalu lintas di Kota Medan, khususnya di persimpangan Simpang Pos, Padang Bulan, maka Pemerintah Kota (Pemkot) Medan telah
86 Meilya Normawaty Simanjuntak, Perlindungan Hukum Terhadap Pihak Yang Berhak Atas Tanah Dalam Hal Ganti Rugi Berdasarkan Undang-undang- Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Tesis, Sekolah Pascasarjana Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, 2015, hal. 67.
78
membangun jembatan laying (fly over) Jamin Ginting di jalan Abdul Haris Nasution mulai dari persimpangan Jalan Pintu Air sampai dengan Jalan Jamin Ginting, dan Jalan Ngumban Surbakti mulai dari Jalan Jamin Ginting sampai dengan Jalan Parang/ Jalan Pijer Podi, Kelurahan Kwala Bekala Kecamatan Medan Johor.
Bahwa pembangunan proyek fly over ini adalah proyek pusat, dimana anggaran dana yang dialokasikan untuk pembangunan fly over sepanjang ± 1.400 meter dan lebar 40 meter itu sebagian besar dana berasal dari dana Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan sisanya dari Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Provinsi dan APBD Kota Medan.
Lokasi pembangunan fly over Jamin Ginting diatas tanah seluas ± 10.750 m², dimana Pemkot membebaskan 141 Persil tanah yang dimulai pada akhir tahun 2011 yang lalu. Pemkot telah berhasil membebaskan 139 Persil tanah sampai pada saat ini dan terdapat 2 Persil tanah yang masih dalam proses konsinyasi di Pengadilan Negeri Medan, terkait adanya sengketa aspek kepemilikan tanah.
Pemkot Medan telah menetapkan besarnya ganti rugi tanah yaitu :87
1) Sebesar Rp 2.930.000,-/m² (dua juta sembilan ratus tiga puluh ribu rupiah meter persegi) untuk tanah yang terletak/ menghadap Jalan Abdul Haris Nasution dan Jalan Jamin Ginting;
87 Surat keputusan Walikota Medan No. 593.83/1628.K/2010 tanggal 9 November 2010 tentang Penetapkan Besarnya Ganti Rugi Tanah, Bangunan dan Tanaman Untuk Kepentingan Pembangunan Fly Over Jamin Ginting Kelurahan Kwala Bekala-Kecamatan Medan Johor.
Universitas Sumatera Utara
2) Sebesar Rp 1.960.000,-/m² (satu juta sembilan ratus enam puluh ribu rupiah meter persegi) untuk tanah yang terletak/ menghadap Jalan Ngumban Surbakti.
Permasalahan/ konflik pembebasan lahan fly overJamin Ginting Simpang Pos adalah terkendala masalah harga ganti rugi tersebut di atas, dimana sekitar 45 Persil lahan warga tidak setuju perihal ganti rugi yang diberikan oleh Pemkot Medan, dikarenakan mereka menginginkan harga ganti rugi sebesar Rp 4 Juta/m². serta adanya keberatan bagi warga yang lokasi tanahnya terletak di Jalan Ngumban Surbakti, dimana penetapan ganti rugi tanah yang ada di lokasi tersebut lebih rendah dibandingkan tanah yang terletak di Jalan A.H. Nasution dan Jalan Jamin Ginting.
Dalam proses pembebasan lahan, musyawarah dilakukan sampai 3(tiga) kali dikarenakan masih banyaknya warga yang tidak setuju mengenai harga ganti rugi tersebut berasal dari Konsultan Jasa Penilai Publik (KJPP) atau lebih dikenal sebagai “appraisal” atau penilai/ penaksir. Kebanyakan warga yang tidak setuju pada akhirnya kemudian menyetujui harga ganti rugi dikarenakan alasan bahwa mereka bertindak sebagai warga negara yang baik yang mendukung program Pemkot dan takut dianggap sebagai pembangkang, dan nantinya berurusan dengan aparat hukum ataupun preman.
Dasar hukum pengadaan tanah proyek fly over Jamin Ginting ini menggunakan PERPRES NO. 36 TAHUN 2005 juncto PERPRES NO. 65 TAHUN
80
2006. Pada saat ini pembangunan fly over Jamin Ginting sudah selesai dan segera akan diresmikan Pemkot untuk digunakan sebagai jalan layang yang diharapkan akan mengurangi kemacetan di daerah Simpang Pos.
Apabila dilihat kodisi fisik lokasi fly over tersebut sekarang diaman akibat pelebaran jalan yang mengambil sekitar 4 meter tanah pekarangan/ halaman rumah warga mengakibatkan warga yang rumah/ tanahnya berbatasan langsung dengan fly over tersebut merasa dirugikan, karena baig rumah/ tanah/ ruko mereka tersebut sudah tidak memiliki lahan untuk parkir kendaraan lagi serta adanya rambu lalu lintas yang melarang kendaraan berhenti disepanjang bahu jalan fly over tersebut.88 Hal ini mempengaruhi kegiatan perekonomian bagi pedagang yang memiliki toko/ ruko yang berbatasan langsung dengan fly over tersebut.
3. Cara Menghindari Terjadinya Konflik Dalam Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum89
Untuk menghindari terjadinya konflik dalam pengadaan tanah yang telah diuraikan di atas, Pemerintah atau pihak yang melaksankan pengadaan tanah sebaikany mengedepankan prinsip-prinsip dan asas-asas pengadaan tanah untuk dijadikan sebagai aturan substansi atau ketentuan materil dalam pengadaan tanah, sedangkan prosedur atau tata cara pengadaan tanah yang diatur dalam regulasi yang berlaku, yaitu UU NO. 2 TAHUN 2012 dan peraturan pelaksananya, dijadikan
88 Meilya Normawaty Simanjuntak, Op.Cit, hal. 69.
89Ibid.
Universitas Sumatera Utara
sebagai aturan formil atau hukum acaranya, dengan ketentuan sebagai hukum acara pengadaan tanah untuk kepentingan umum, sangatlah penting diperhatikan agar dalam pelaksanaannya tidak mengusik rasa keadilan masyarakat. Lebih lanjut, permasalahan mengenai ganti kerugian yang akan diberikan kepada pihak yang berhak atas tanah juga harus diperhitungkan dengan bijaksana dan seadil-adilnya. Jangan sampai ganti kerugian yang diberikan membuat kehidupan perekonomian masyarakat yang menerimanya menjadi menurun, sehingga dampak dari pengadaan tanah kepada pemilik tanah yang lama malah menjadi tidak menguntungkan. Pihak Pemerintah dan appraisal atau penilai harus memperhitungkan segala variabel-variabel yang dibutuhkan dalam memutuskan besaran ganti kerugian yang layak dan adil. Selain itu, sangat diperlukan pelaksanaan musyawarah atau konsultasi publik yang efektif, dimana seluruh pertimbangan masyarakat dibahas tuntas sehingga semua eberatan atau keinginan masyarakat akan pelaksanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum tersebut dapat diakomodir dengan sebaik-baiknya. Lebih lanjut, dikarenakan UU NO. 2 TAHUN 2012 masih terbilang aturan baru, maka diperlukan pemahaman mekanisme atau prosedur pengadaan tanah untuk kepentingan umum oleh semua pihak yang terlibat dalam pengadaan tanah tersebut, terutama pemahaman mengenai aturan atau ketentuan mengenai tata cara penghitungan ganti kerugian yang ditetapkan oleh appraisal untuk disosialisasikan kepada semua pihak sehingga diperoleh transparansi tentang nilai ganti rugi yang diberikan. Bagi terciptanya pengadaan tanah yang efektif dan kena sasaran yaitu terciptanya pembangunan untuk kepentingan umum, maka diperlukan pengawasan bagi aparatur yang melaksanakan
82
pengadaan tanah tersebut, dimana pengawasan tersebut dapat dilaksanakan oleh tim pengawasan yang terdiri dari unsur masyarakat pemilik tanah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan apabila diperlukan dapat melibatkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Diharapkan dengan mengimplementasikan prinsip-prinsip pengadaan tanah, kebijakan, prosedur, dan aturan main pengadaan tanah sesuai dengan regulasi yang berlaku dan memenuhi rasa keadilan masyarakat, dapat tercipta praktik pengadaan tanah yang berhasil dalam mendukung Pemerintah dalam mendukung Pemerintah dalam melaksanakan pembangunan nasional.
Universitas Sumatera Utara
BAB III
KEBERADAAN PERMEN ESDM NO. 33 TAHUN 2016 TENTANG PENYELESAIAN TEKNIS PADA KAWASAN HUTAN TERHADAP
PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM
A. Gambaran Umum Penelitian.
1. PT PLN (Persero)
Berawal diakhir abad 19, bidang pabrik gula dan pabrik ketenagalistrikan di Indonesia mulai ditingkatkan saat beberapa perusahaan asal Belanda yang bergerak di bidang pabrik gula dan pebrik teh mendirikan pembangkit tenaga lisrik untuk keperluan sendiri. Pada Tahun 1942-1945 terjadi peralihan pengelolaan perusahaan-perusahaan Belanda tersebut oleh Jepang, setelah Belanda menyerah kepada pasukan tentara Jepang diawal Perang Dunia II. Proses peralihan kekuasaan kembali terjadi di akhir Perang Dunia II pada Agustus 1945, saat Jepang menyerah kepada Sekutu. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para pemuda dan buruh listrik melalui delagasi Buruh/Pegawai Listrik dan Gas yang bersama-sama dengan Pemimpin KNI Pusat berinisiatif menghadap Presiden Soekarno untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan tersebut kepada Pemerintah Republik Indinesia. Pada 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik sebesar 157,5 MW (megawatt).
86
Pada tanggal 1 januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pemimpin Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas yang dibubarkan pada tanggal 1 Januari 1965. Pada saat yang sama, 2 (dua) perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai pengelola tenaga listrik milik negara dan Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai pengelola gas diresmikan.
Pada tahun 1972, sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 17, status Perusahaan Listrik Negara (PLN) ditetapkan sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara dan sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) dengan tugas menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum.
Seiring dengan kebijakan Pemerintah yang memberikan kesempatan kepada sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyediaan listrik, maka sejak tahun 1994 status PLN beralih dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) dan juga sebagai PKUK dalam menyediakan listrik bagi kepentingan umum hingga sekarang.
2. Profil Organisasi PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera
Sesuai dengan Peraturan Direksi No. 0043.P/DIR/2016 tanggal 19 Februari 2016 tentang Organisasi Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan 1 telah berubah nama menjadi PT PLN (Persero)
Universitas Sumatera Utara
Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera yang berlokasi di Kota Medan, Sumatera Utara.
Tugas dan tanggungjawab PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera atau yang sering disebut PLN UIP KITSUM adalah untuk melaksanakan kegiatan usaha dalam bidang pembangunan pembangkit di Sumatera. Produk utama yang dihasilkan adalah pembangkit di wilayah Sumatera.
PT PLN (Persero) UIP KITSUM mempunyai 9 Unit Pelaksana Proyek (UPP) yang tersebar di Sumatera. Setiap UPP mengelola pelaksanaan pembangunan sesuai kontrak dengan pihak kontraktor, supervisi konstruksi, supervisi desain dan pihak lainnya sebagai bagian pencapaian target kinerja pembangunan yang ditetapkan perusahaan.
3. Visi dan Misi PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera ialah :
a. Visi
Diakui sebagai unit pembangunan pembangkit berstandar internasional yang unggul dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani.
b. Misi
1. Menjalankan manajemen konstruksi pembangunan pembangkit yang berkualitas; dan
88
2. Mengembangkan potensi insani dan melaksanakan pembangunan pembangkit yang ramah lingkungan dan siap beroperasi.
B. Pelaksanaan Penyelesaian Teknis Terhadap Tanah, Bangunan, dan/atau Tanaman Yang Dikuasai Masyarakat Pada Kawasan Hutan Dalam Rangka Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Manajer Bidang Hukum Komunikasi dan Pertanahan di lapangan90 serta berdasarkan penelitian yuridis normative, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera selanjutnya disebut PLN UIP KITSUM, bahwa Pemerintah Indonesia dalam melakukan pembangunan proyek PLTA Asahan 3 telah sepakat memberikan dana pinjaman kepada PT PLN (Persero) melalui Perjanjian Penerusan Pinjaman antara
Pemerintah Republik Indonesia dan PT PLN (Persero) dengan Nomor : SLA-1214/DP3/2008 tanggal 4 Maret 2008 atas dana pinjaman yang
berasal dari Japan Bank For International Cooperation Loan Agreement No. IP-532 Tanggal 29 Maret 2006 untuk Asahan 3 Hydroelectric Power Plant Construction Project.
Dana yang diberikan oleh Pemberi Pinjaman Luar Negeri (PPLN) telah menyetujui untuk memberikan dana pinjaman kepada Republik Indonesia dalam jumlah yang tidak melebih ¥27.642.000.000 (dua puluh tujuh miliar enam ratus
90 Said Mukarram, Wawancara, Manajer Bidang Hukum Komunikasi dan Pertanahan (Medan, Tanggal 1 Desember 2017)
Universitas Sumatera Utara
empat puluh dua juta Yen Jepang) untuk membiayai Asahan No. 3 Hydroelectic Power Plant Contruction Project dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang di tetapkan dalam Naskah Perjanjian Pinjaman Luar Negeri (NPPLN).
Berdasarkan surat Kementerian Keuangan Nomor S-388/MK.05/2007 tanggal 29 Agustus 2007, Pemerintah telah menyetujui untuk meneruskan sebagai pinjaman kepada PT PLN (Persero) sebagai penyelenggara Negara di bidang ketenagalistrikan.
PLTA Asahan 3 terdaftar dalam Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik yang menggunakan Energi Terbarukan, Batubara dan Gas serta Transmisi terkait yang diatur dalam PERMEN ESDM No. 2 Tahun 2010 jo. PERMEN ESDM No. 15 Tahun 2010 sehubungan dengan adanya dinamika yang berkembang.
Terdaftarnya PLTA Asahan 3 dalam Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit Tenaga Listrik PT PLN (Persero) mendapatkan Izin Penetapan Lokasi untuk Proyek Induk Pembangkit Listrik Tenaga Air Asahan 3 seluas ± 210 Ha di Kabupaten Asahan dan Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara oleh Gubernur Sumatera dengan Nomor : 18844/128/KPTS/2012 tanggal 17 Februari 2012 serta diterbitkannya Izin Kelayakan Lingkungan Hidup dengan Nomor : 188.44/732/KPTS/2012 tentang Kelayakan Lingkungan hidup rencana kegiatan pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Asahan 3 berkapasitas 174 MW (2X87 MW) dan Jaringan Transmisi 150 kV ke Gardu Induk Simangkuk oleh
90
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Jaringan Sumatera I di Kecamatan Aek Songsongan Kabupaten Asahan, Kecamatan pintu pohan meranti dan parmaksian Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara.
Tabel 1. Daftar proyek pembangkit tenaga listrik PLTA Asahan 3
Sumber Data : PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangkit Sumatera
Universitas Sumatera Utara
Gambar 1. Lokasi Peta PLTA Asahan 3
Sumber Data : PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera.
Mengingat Penyelesaian Teknis Terhadap Tanah, Bangunan dan/atau Tanaman Yang Dikuasai Masyarakat Pada Kawasan Hutan Dalam Rangka Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan dilaksanakan dengan cara pelepasan hak atas tanah serta penguasaan dan penggunaan lainnya untuk dilakukan pemberian sejumlah uang kepada masyarakat yang menguasai tanah, bangunan dan/atau tanaman pada kawasan hutan. Penguasaan dan penggunaan lainnya yang dimaksud berupa penguasaan dan pemanfaatan yang tidak didasarkan pada hak atas tanah dan merupakan pemanfaatan tanah pada kawasan hutan oleh masyarakat untuk mendirikan bangunan dan/atau menanam tanaman.
Secara umum pelaksanaan Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan Pengadaan Tanah Pada Kawasan Hutan yang dilaksanakan oleh
92
PT PLN (Persero) telah terbit Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor : 35 /1/IPPKH/PMDN/2015 pada tanggal 25 Juni 2015 tentang Ijin Pinjam Pakai Kawasan Hutan untuk pembangunan PLTA Asahan 3 dan jaringan transmisi 150 Kv seluas 284,10 Ha (dua ratus delapan puluh empat koma sepuluh hektar). Dari tanah seluas 284,10 Ha (dua ratus delapan puluh empat koma sepuluh hektar) tersebut, terdapat tanah seluas ± 183,7 Ha (kurang lebih seratus delapan puluh tiga koma tujuh hektar) dan sudah dimanfaatkan baik berupa perkampungan maupun tanah-tanah perkebunan yang menuntut ganti rugi atas tanah kepada PT PLN (Persero) atas penggunaan tanah dalam kawasan hutan antara lain :
1) Pemakaman Umum seluas : 0,6 Ha (nol koma enam hektar) 2) Lahan PT Inalum seluas : 12,5 Ha(dua belas koma lima hektar)
3) Penguasaan Masyarakat seluas : 170,6 Ha (seratus tujuh puluh koma enam hektar)
Akan tetapi oleh PT PLN (Persero) tanah tersebut tidak dapat diberikan ganti rugi atas nilai tanah kepada masyarakat, karena wilayah tersebut masih ditetapkan sebagai kawasan hutan. Bahwa dengan adanya klaim tersebut untuk melaksanakan pembangunan PLTA Asahan 3, PT PLN (Persero) menghadapi kendala yaitu lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan proyek PLTA Asahan 3 belum bisa dibebaskan.
Bahwa permasalahan tersebut telah merujuk pada Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Menteri
Universitas Sumatera Utara
Pekerjaan Umum Republik Indonesia dan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia ditetapkan tanggal 17 Oktober 2014 Nomor : 79 Tahun 2014;
Nomor : PB.3/Menhut-11/2014;17/PRT/M/2014; 8/SKB/X/2014 tentang Tata Cara Penyelesaian Penguasaan Tanah yang Berada Dalam Kawasan Hutan (Perber). Setelah adanya Peraturan Bersama tersebut, Gubernur membentuk Tim IP4T (Tim Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah) yang beranggotakan sesuai yang tertuang pada Peraturan Bersama :
Pasal 3 ayat (2);
a. Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional sebagai Ketua merangkap anggota;
b. Unsur Dinas Provinsi yang menangani urusan di bidang Kehutanan sebagai sekretaris merangkap anggota;
c. Unsur Balai Pemantapan Kawasan Hutan sebagai Anggota;
d. Unsur Dinas/Badan Provinsi yang menangani urusan di bidang tat ruang sebagai anggota;
e. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota terkait sebagai anggota;
f. Camat setempat atau pejabat yang ditunjuk sebagai anggota;
g. Lurah/Kepala Desa setempat atau sebutan lain yang disamakan dengan itu sebagai anggota.
Bahwa dengan adanya koordinasi yang telah dilakukan antara PT PLN (Persero), Kemeterian ATR/BPN dan Kementerian Lingkungan Hidup dan
94
Kehutanan dan penerapan Peraturan Bersama dengan pelaksanaan Inventarisasi oleh Tim IP4T telah selesai dilaksanakan dan telah disampaikan hasilnya kepada Kementerian LHK melalui Kepala Kanwil BPN Sumatera Utara. Menyikapi kondisi tersebut Direktur Utama PT PLN (Persero) meminta dukungan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Hasil dari Tim IP4T berdasarkan Peraturan Bersama belum dapat ditindak lanjuti dan disarankan menunggu peraturan Presiden terbit. Sesuai rencana awal penyampaian rekomendasi Tim IP4T kepada Kanwil Provinsi dilaksanakan Pembahasan dan Peninjauan lapangan lokasi oleh IP4T (Inventarisasi Penguasaan Pemilikan Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah) di Kawasan Hutan Kabupaten Asahan Tahun 2015 yaitu di desa Tangga kecamatan Aek Songsongan.
Apabila merujuk kembali pada Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan maka sesuaiPasal 36 ayat;
(1) Dalam hal lokasi untuk pengadaan tanah bagi PIK yang dikuasai oleh masyarakat berada pada kawasan hutan, PT PLN (Persero), anak perusahaan PT PLN (Persero), atau PPL meminta kepada Badan Pertanahan Nasional untuk memberikan keterangan atas kepemilikan tanah dimaksud.
(2) Badan Pertanahan Nasional dalam rangka memberikan keterangan atas kepemilikan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan di bidang lingkungan hidup dan kehutanan.
Sesuai dengan Peraturan Presiden No. 4 Tahun 2016 Pasal 36 ayat (1) dan (2), maka PT PLN (Persero) telah mengirimkan surat kepada Kementerian Agraria dan
Universitas Sumatera Utara
Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional untuk memberikan keterangan kepemilikan tanah. Sehubungan dengan adanya permohonan Status kepemilikan tanah dari PT PLN (Persero), maka Kantor Pertanahan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (BPN RI) Kantor Pertanahan Kabupaten Toba Samosir memberikan jawaban dalam Surat No 48/12.12/1/2017 tanggal 27 Januari 2017, yang menyatakan bahwa :
Status penguasaan lahan yang akan dipergunakan untuk pembangunan PLTA Asahan 3 adalah Kawasan Kehutanan dengan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan.
Sedangkan didalam Surat No 234/2100/II/2017 tanggal 03 Februari 2017 yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (BPN RI) Kantor Pertanahan Kabupaten Asahan, menyatakan bahwa :
1) Terkait dengan data/alas hak yang namanya terlampir dalam lokasi PLN Asahan 3 di Desa Tangga dalam tabel disebut Sertifikat. Setelah dilakukan pengecekan pada buku tanah belum ada terbit Sertifikat, baik perorangan maupun atas nama Badan Hukum pada Kantor Pertanahan Kabupaten Asahan.
2) Mengenai tanah garapan yang ada bukti alas haknya berupa Surat Desa atau SK Camat di lokasi tersebut, kami tidak dapat memverifikasinya karena tanah
96
tersebut belum terdaftar haknya di BPN Kabupaten Asahan dan semua data yang kami terima lokasi tanah dimaksud tetap masih berada dalam Kawasan Hutan.91
Berdasarkan keterangan Status yang dikeluarkan oleh Kantor BPN Kabupaten Asahan dan Toba Samosir tersebut, pihak PT PLN (Persero) dapat melaksanakan Penyelesaian Teknis terhadap masyarakat yang menguasai tanah, bangunan, dan/atau tanaman yang berada pada kawasan hutan dengan memperhitungkan kebutuhan dan dampak sosial masyarakatnya seperti yang tertuang dalam Pasal 36 ayat :
(1) Dalam hal Badan Pertanahan Nasional menyatakan bahwa masyarakat tidak memiliki hak atas tanah yang berada pada kawasan hutan, PT PLN
(1) Dalam hal Badan Pertanahan Nasional menyatakan bahwa masyarakat tidak memiliki hak atas tanah yang berada pada kawasan hutan, PT PLN