• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERATURAN MENTERI ESDM NO. 33 TAHUN SEBAGAI

A. Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk

5. Percepatan Infrastruktur Ketenagalistrikan

Percepatan Infrastruktur Ketenagalistrikan (PIK) adalah kegiatan perencanaan, pengadaan dan pelaksanaan dalam rangka penyediaan infrastruktur ketenagalistrikan.70 Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan yang menyatakan :

Pasal 36 ayat;

(1) Dalam hal lokasi untuk pengadaan tanah bagi PIK yang dikuasai oleh masyarakat berada pada kawasanhutan, PT PLN (Persero), anak perusahaan PT PLN (Persero), atau PPL meminta kepada BadanPertanahan Nasional untuk memberikan keterangan atas kepemilikan tanah dimaksud.

(2) Badan Pertanahan Nasional dalam rangka memberikan keterangan atas kepemilikan tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan di bidang lingkungan hidup dan kehutanan.

(3) Dalam hal Badan Pertanahan Nasional menyatakan bahwa masyarakat tidak memiliki hak atas tanah yang berada pada kawasan hutan, PT PLN (Persero), anak perusahaan PT PLN (Persero), atau PPL melakukan penyelesaian melalui izin pinjam pakai kawasan hutan.

70 Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016.

Universitas Sumatera Utara

(4) Terhadap masyarakat yang berada pada kawasan hutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang tanahnya digunakan untuk PIK, dilakukan penyelesaian teknis oleh PT PLN (Persero), anak perusahaan PT PLN (Persero), atau PPL bersama dengan kementerian/lembaga dan Pemerintah Daerah dengan memperhitungkan kebutuhan dan dampak sosial masyarakat.

(5) Ketentuan penyelesaian teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan Pemerintahan di bidang energi dan sumber daya mineral.

6. Keberadaan UU No. 2 Tahun 2012 Dengan PERMEN ESDM NO. 33 TAHUN 2016

Seperti yang telah dirinci pada sub-bab diatas, bahwa UU NO. 2 TAHUN 2012 tidak dapat di implementasikan di lapangan. Hal ini terjadi karena lokasi area pengadaan tanah berada di area kawasan hutan yang dikuasai oleh masyakat.

Dengan kata lain PERMEN ESDM NO. 33 TAHUN 2016 tidak bisa lepas dari UU NO. 2 TAHUN 2012 karena dasar pengadaan tanah tertuang di peraturan tersbut, sedangkan UU NO. 2 TAHUN 2012 juga membutuhkan peran PERMEN ESDM NO. 33 TAHUN 2016 untuk memberikan solusi dengan penyelesaian teknis (pemberian sejumlah uang) terhadap tanah, bangunan dan/atau tanaman yang dikuasai masyarakat pada kawasan hutan dalam rangka percepatan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan.

48

B. Konflik dalam pelaksanaan Penyelesaian Teknis untuk pembangunan PLTA Asahan 3

1. Definisi Konflik

Pengertian konflik adalah perbedaan pendapat, perselisihan paham, sengketa antara dua belah pihak tentang hak dan kewajiban pada saat dan keadaan yang sama.71 Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, konflik diartikan sebagai pertentangan atau percekcokan.72 Merujuk pada pengertian tersebut, dapat dipahamin bahwa kata “konflik” mempunyai pengertian yang lebi luas, oleh karena istilah konflik tidak hanya digunakan dalam kasus pertanahan yang terkait dengan proses pidana juga terkait dalam proses perkara perdata dan proses perkara tata usaha negara.

Dalam penelitian ini konflik yang dimaksudkan adalah konflik pertanahan yang terkait dengan materi dan mekanisme pengadaan tanah yang terjadi antara pihak yang berhak atas tanah dengan pihak yang memerlukan tanah, dalam hal ini adalah Pemerintah.

2. Konflik Kepentingan Antara Pemerintah Dan Pemilik Tanah

Kebutuhan akan tanah tidak pernah lepas dari berbagai kepntingan, seperti kepentingan negara, kepentingan pemilik modal (swasta), maupun kepentingan rakyat. Perebutan kepentingan tersebut selalu menempatkan rakyat sebagai pihak

71Ramli Zein, Hak Pengelolaan Dalam Sistem UUPA, (Jakarta : Rineka Cipta, 1995), hal.

37. 72

Poerwadarminta, Op.Cit., hal. 518.

Universitas Sumatera Utara

yang lemah. Terbatasnya akses masyarakat dalam mempertahankan hak dan kepentingannya dan posisi tawar (bargaining position) yang tidak seimbang merupakan contoh klasik dalam kasus-kasus konflik kepentingan tersebut. UUPA dan kebijakan pertanahan secara de facto menempatkan masyarakat berada dalam posisi yang lemah akibatnya selalu terjadi pelanggaran hak asasi dan hak-hak keperdataan masyarakat.

Pihak Pemerintah juga mengalami kesulitan dalam melakukan pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan, baik yang dilakukan oleh Pemerintah sendiri maupun yang dilakukan oleh swasta. Regulasi mengenai pengadaan tanah untuk kepentingan umum telah beberapa kali dikeluarkan Pemerintah, ternyata keberadaan semua peraturan tersebut kurang mengakomodir kepentingan masyarakat yang terkena pengadaan tanah. Bahkan, dalam pelaksanaan peraturan tersebut banyak menimbulkan konflik antara masyarakat dengan Pemerintah atau pihak-pihak yang membutuhkan tanah.

Perselisihan mengenai tanah antara rakyat dan Pemerintah secara umum telah terjadi karena pandangan yang berbeda mengenai konsep hak atas tanah.

Perbedaan pandangan tersebut bukanlah hal yang baru, karena terjadi sejak masa dahulu. Frekuensi perselisihan telah meningkat sehubungan dengan pertumbuhan penduduk, sementara luas tanah relatif tetap atau terbatas.73

73Erman Rajaguguk, Hukum Agraria, Pola penguasaan Tanah dan Kebutuhan Hidup, (Jakarta : Chandra Pratama, 1995), hal. 35.

50

Persoalan pengadaan tanah dengan cara pencabutan, pembebasan dan pelepasan hak-hak atas tanah selalu menyangkut dua dimensi yang harus ditempatkan secara seimbang, yaitu kepentingan Pemerintah dan kepentingan rakyat. Jika hal ini tak diindahkan, maka sengketa antara rakyat dan penguasa atau pihak yang memerlukan tanah tidak dapat dihindarkan, akibatnya proyek pembangunan menjadi terbengkalai, begitu juga tujuan pembangunan yaitu kemakmuran rakyat tidak tercapai.

Setidaknya ada dua kepentingan yang saling bertentangan, yaitu kepentingan Pemerintah dan kepentingan pemilik tanah (rakyat). Pemerintah sangat memerlukan tanah untuk pelaksanaan pembangunan sedangkan rakyat juga memerlukan tanah untuk tempat tinggal dan mencari nafkah. Kedua kepentingan yang berbeda tersebut dapat menimbulkan ketegangan dalam masyarakat dimana Pemerintah dengan kekuasaannya, memkasa kehendak untuk membebaskan tanah-tanah rakyat dengan cara-cara bertentangan dengan hak asasi dan ketentuan hukum yang berlaku. Sedangkan dipihak rakyat dengan segala kewenangannya tetap mempertahankan hak-hak atas tanah mereka dengan mengabaikan fusngsi sosial dari tanah yang mereka miliki.

Universitas Sumatera Utara

3. Penyebab Timbulnya Konflik Dalam Pengadaan Tanah

Menteri Perindustrian RI di Kabinet Indonesia Bersatu ke-II, M. S.

Hidayat mengemukakan adanya sejumlah masalah yang timbul dalam pengadaan tanah, antara lain :74

a. Dalam bidang hukum sering terjadi tumpang tindih kepentingan antar sektor (industri dengan pertanian, kehutanan dengan pertambangan, pertanian dan kehutanan, dan sebagainya).

b. Dalam hal harga tanah, kadang-kadang dengan ditetapkannya peruntukan lokasi suatu proyek melalui keputusan bupati dan walikota, sering dimanfaatkan oleh spekulan tanah untuk menguasai sementara, yang kemudian akan dijual kembali dengan harga yang tinggi dan tidak wajar.

c. Masalah pembebasan lahan masih kesulitan karena masyarakat sering menolak wilayahnya dijadikan lokasi pembangunan pabrik, karena secara psikologi takut kehilangan tanah atau memiliki nilai historis dan budaya, serta sering adanya provokasi dari pihak-pihak yang mencari keuntungan.

d. Disisi lain sering terjadi adanya ketidaksepakatan harga yang dituntut pemilik tanah dengan panitia pengadaan. Panitia mempunyai kecenderungan menggunakan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) sebagai acuan, sementara

74Sinauterus, Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum “Antara Regulasi dan Implementasi”, http://sinaugeomatika.worpress.com/2011/12/30/pengadaan -tanah-bagi-pembangunan-untuk-kepentingan-umum-antara-regulasi-dan-implementasi/,n diakses pada tanggal 25 Januari 2018.

52

pemilik tanah menggunakan harga pasar, bahkan sering menuntut harga tiga atau empat kali lebih besar dari NJOP.

e. Terkait dengan administrasi pertanahan dimana beragamnya status penggunaan tanah oleh masyarakat seperti ada yang bersertifikat, ada yang menggunakan tanah negara dalam kurun waktu yang lama, menggunakan tanah milik adat, tanah wakaf, yang dipandang masih menyulitkan pengadaan tanah, karena akan makan waktu lama dalam membuktikan status tanah tersebut.

Syafruddin Kalo menyatakan bahwa problem mendasar dari pengadaan tanah dapat diamati setidaknya dari keadaan sebagai berikut75:

1) Masyarakat terkadang tidak mempunyai posisi runding (bargaining position) yang seimbang, secara psikologis masyarakat berada dibawah tekanan pihak penguasa.

2) Penentuan bentuk dan besarnya ganti rugi dianggap oleh masyarakat tidak layak, dalam arti bahwa ganti rugi itu tidak dapat digunakan untuk mempertahankan tingkat kesejahteraan sosial ekonominya, bahkan tingkat kesejahteraan ekonominya menjadi lebih buruk jika dibandingkan keadaan sebelum tanahnya dicabut atau dibebaskan haknya.

75Syafruddin Kalo, Reformasi Peraturan Dan Kebijakan Pengadaann Tanah Untuk Kepentingan Umum, (Jakarta : Pustaka Bangsa Press, 2004), hal. 4-10.

Universitas Sumatera Utara

3) Penggantian kerugian hanya terbatas bagi masyarakat pemilik tanah ataupun penggarap tanah, yang berarti ahli warisnya. Ketentuan ini tanpa memberikan perlindungan terhadap warga masyarakat yang bukan pemilik, seperti penyewa atau orang yang mengerjakan tanah, yang menguasai dan menempati serta yang menggunakan tanah. Disamping itu terhadap hak ulayat yang dibebaskan untuk kepentingan umum, bagi masyarakat adat tersebut belum mendapat kontribusi dari pembangunan itu, serta recognisi sebagai ganti pendapat, pemanfaatan dan penguasaan hak ulayat mereka yang telah digunakan untuk pembangunan.

4) Musyawarah untuk mencapai kesepakatan, harus dilakukan dengan perundangan yang benar, saling mendengar dan saling menerima pendapat, berdasarkan alur dan patut, berdasarkan sukarela antara para pihak tanpa adanya tekanan psikologis yang dapat menghalangi proses musyawarah tersebut.

5) Pengaturan tentang pemukiman kembali tidak diatur lebih lanjut, sehingga permukiman kembali itu dilaksanakan hanya sekedar memindahkan warga masyarakat yang terkena proyek pembebasan dari tempat yang lama ke tempat yang baru, tanpa diikuti dengan kegiatan untuk memulihkan kegiatan sosial ekonomi mereka. Upaya untuk memulihkan kegiatan ekonomi mereka dengan memperhitungkan kerugian yang dialami oleh warga yang terkena dampak pembebasan tanahnya, bagi warga masyarakat yang sebelumnya tanah adalah merupakan aset yang berharga, sebagai tempat usaha, bertani,

54

berkebun dan sebagainya, terpaksa kehilangan aset ini, karena mereka dipindahkan ke tempat pemukiman yang baru.

6) Setiap perselisihan yang terjadi dalam pelaksanaan tentang menentukan bentuk dan besarnya ganti rugi perlu adanya pemikiran bahwa penyelesaiannya yang paling utama harus dilakukan dengan penyelesaian ADR (Alternative Dispute Resolution), yaitu melalui musyawarah, negosiasi dan mediasi, jika cara ini tidak membuahkan hasil, maka penyelesaian baru melalui proses yudisial ke Pengadilan.

7) Panitia pencabutan hak-hak atas tanah harus juga bertanggung jawab terhadap upaya pemulihan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang terkena dampak pembebasan.

Pada umumnya penyebab pertama timbulnya konflik dalam pengadaan tanah adalah permasalahan yang terkait dengan nilai ganti rugi. Besarnya nilai ganti rugi dari sudut pandang pihak Pemerintah dan pemilik tanah sering tidak sama, dimana Pemerintah pada umumnya memilih harga NJOP untuk dijadikan dasar perhitungan ganti rugi, sedangkan pemilik tanah lebih memilih harga pasar yang ada pada saat itu. Hal tersebut sering terjadi karena adanya benturan kepentingan (conflict of interest) antara pemilik tanah dengan pihak Pemerintah sehingga tak jarang hal tersebut berujung pada ketegangan konflik.76

76Ibid.

Universitas Sumatera Utara

Lebih lanjut, pelaksanaan ganti rugi ternyata tidak layak dan adil, menjadikan rakyat lebih miskin dari sebelumnya, karena uang ganti rugi itu tidak cukup untuk membeli tempat tinggal yang baru ataupun untuk mencari nafkah tidak sesuai lagi dengan keadaan semula. Dari sudut ekonomi sangat merugikan bagi rakyat. Meskipun Pemerintah selalu menganggap penetapan ganti rugi tersebut diambil atas dasar musyawarah.

Dalam menghitung ganti rugi, pada umumnya pemilik tanah mempertimbangkan atau dipengaruhi faktor-faktor antara lain cara pandang secara sosial, pengaruh adat atau nilai historis, nilai ekonomi dan kondisi fisik tanah yang dimilikinya, sedangkan Pemerintah seringkali dihadapkan dengan kondisi terbatasnya anggaran dana alokasi pembebasan lahan yang disiapkan Pemerintah.77 Penetapan tentang bentuk dan besarnya ganti rugi hanya dilakukan atas dasar kesepakatan antara anggota panitia, dengan memperhatikan kehendak dari pemegang hak atas tanah, tetapi pemegang hak atas tanah, tetapi pemegang hak atas tanah tidak ikut dalam kepanitiaan tersebut. Kenyataan ini tentunya meletakkan kedudukan pemilik hak atas tanah berada dalam posisi runding (bargaining position) yang lemah.

Penyebab kedua timbulnya konflik pengadaan tanah untuk kepentingan umum adalah masyarakat menganggap bahwa kepentingan tidak terlindungi dalam undang-undang dan telah terjadi pelanggaran terhadap hak asasi dan hak-hak keperdataan

77Melia Yusri, Analisis Yuridis, Ekonomi dan Politik Dalam Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, Jurnal IPTEK Pertanahan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia, Vol. 2, No. 1, Mei 2012, hal. 59-60.

56

masyarakat, yang pada akhirnya kebijakan dan keputusan Pemerintah dianggap telah melanggar rasa keadilan masyarakat. Serta berkurangnya rasa kepercayaan masyarakat kepada aparat Pemerintahan akibat adanya penyalahgunaan dana pengadaan tanah oleh oknum panitia pengadaan tanah, sehingga masyarakat terkesan sensitif dan menolak apabila harga ganti rugi tanahnya tidak sesuai permintaan mereka.

Penyebab ketiga timbulnya konflik adalah musyawarah yang dilakukan dalam praktek pada dasarnya tidak sesuai dengan prinsip musyawarah yang dipahami oleh masyarakat. Musyawarah yang terjadi dalam praktek sering berubah makna menjadi pengarahan, briefing dan instruksi dari Pemerintah dan sering merupakan pernyataan kehendak secara sepihak dari pihak yang membutuhkan tanah, serta adanya unsur-unsur paksaan yang terselubung yaitu dengan ikut campur tangan instansi keamanan/militer dalam proses musyawarah tersebut, sehingga masyarakat merasa khawatir dan takut apabila adanya unsur paksaan dan kekerasan yang akan menimpa mereka.

Penyebab keempat munculnya konflik dalam pengadaan tanah untuk kepentingan umum adalah tentang pengertian kepentingan umum yang mengandung arti berbeda-beda dan tergantung pada tafsiran masing-masing dan tidak jarang hal ini banyak merugikan masyarakat. Terlebih lagi proyek pembangunan untuk kepentingan umum yang pembangunannya dilakukan oleh pihak swasta, contohnya seperti pembangunan jalan tol, walaupun mencakup kriteria kepentingan umum yang

Universitas Sumatera Utara

dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi proyek tersebut lebih bersifat komersial atau mencari keuntungan lain dari proyek untuk kepentingan umum yang tidak bersifat mencari keuntungan. Hal tersebut menimbulkan konflik kepentingan dikarenakan tidak semua masyarakat memiliki kendaraan roda empat yang dapat memanfaatkan jalan tol tersebut.

Lebih lanjut, nuansa konflik dapat terjadi dalam area antara perbedaan proyek pembangunan untuk kepentingan umum atau yang bersifat tidak mencari keuntungan/non komersil dengan proyek kepentingan umum yang bersifat mencari keuntungan/non komersial (contohnya pembangunan bandara). Dengan adanya perbedaan yang hakiki, antara proyek pembangunan untuk kepentingan umum yang dilakukan oleh pihak Pemerintah maupun swasta, yang bersifat mencari keuntungan dan tidak mencari keuntungan, maka prosedur untuk menempuh pengadaan tanah untuk proyek pembangunan seharusnya berbeda antara proyek pembangunan untuk kepentingan umum yang non komersial dengan proyek pembangunan yang bersifat komersial.

Dalam praktek perbedaan tersebut tidak jelas sehingga pelaksanaan proyek pembangunan untuk kepentingan umum yang bersifat non komersial dengan yang bersifat komersial tidak dibedakan, sehingga hal ini menimbulkan konflik dalam masyarakat. Proyek pembangunan yang bersifat non komersial tersebut harus dilakukan dengan pelepasan hak secara biasa yaitu dengan kesepakatan jual beli antara pihak yang membutuhkan tanah dengan pemilik tanah. Tetapi dalam praktek,

58

hal ini dilakukan oleh Pemerintah dengan cara prosedur pelepasan hak atas tanah, sehingga banyak masyarakat yang dirugikan. Konflik dalam pengadaan tanah menjadi isu nasional karena jumlahnya yang tinggi dan banyaknya kendala dalam penyelesaiannya. Konflik pengadaan tanah yang rumit dan tak kunjung mereda dewasa ini disebabkan juga oleh karena kelemahan regulasi dan adanya kesalahan penerapan hukum pertanahan sehingga dalam pelaksanaannya kepentingan pemegang hak atas tanah tidak terlindungi dengan pasti.78 Banyaknya tumpang tindih dan tidak sinkronnya regulasi di negara kita juga menjadi penyebab tidak efektifnya suatu peraturan sehingga menyebabkan timbulnya konflik kepentingan.

Selain dari yang sudah disebutkan diatas, penyebab lain konflik dalam pengadaan tanah antara lain karena proses pengadaan tanah tidak sesuai atau tidak dilakukan dengan berlandaskan pada ketentuan-ketentuan peraturan yang masih berlaku (ketidakpatuhan pada prosedur). Masih banyak aparat pelaksana pengadaan tanah dan masyarakat yang tidak mengetahui bahkan mengerti mengenai proses-proses pengadaan tanah untuk pembangunan kepentingan umum, sehingga ketika terdapat pertanyaan atau permasalahan-permasalahan prosedural yang terjadi dalam praktek, aparat pelaksana tidak bisa menjelaskan dengan jawaban yang memuaskan

78Benhard Limbong, Op.Cit., hal. 6.

Universitas Sumatera Utara

kepada masyarakat, sehingga masyarakat terkadang hanya pasrah menerima pelaksanaan pengadaan tanah tersebut79

C. Cara Menghindari Terjadinya Konflik Dalam Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum

Masalah pokok yang tidak dapat dipungkiri menjadi sorotan atau perhatian dalam pelaksanaan pengadaan tanah adalah mengenai ganti rugi yang diberikan sebagai pengganti atas hak yang telah dicabut atau dibebaskan.80 Permasalahan mengenai ganti rugi acapkali menimbulkan konflik yang dapat menghambat pelaksanaan pengadaan tanah oleh Pemerintah.

Penyebab konflik adalah mengenai mekanisme pengadaan tanah yang sebaiknya dipahami baik oleh panitia pengadaan tanah ataupun pihak yang berhak atas tanah adalah tentang mekanisme pengadaan tanah itu sendiri. Tetapi pada prakteknya, pihak yang berhak atas tanah seringkali tidak tahu atau tidak mau tahu mengenai mekanisme pengadaan tanah tersebut, karena yang menjadi perhatian utama mereka hanyalah mengenai besaran ganti rugi yang akan diperoleh.81 Tetapi alangkah lebih baiknya apabila kedua belah pihak mengetahui dan memahami mekanisme pengadaan tanah yang dilaksanakan tersebut, sehingga masing-masing

79Hasil wawancara dengan Said Mukarram, Manajer Bidang Hukum, Komunikasi dan Pertanahan, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangkit Sumatera Kota Medan, pada tanggal 10 Januari 2018, pukul 16.00 WIB.

80Abdurrahman, Masalah Pencabutan Hak-hak Atas Tanah dan Pembebasan Tanah di Indonesia, Op.Cit., hal. 133.

81Hasil Wawancaradengan Said Mukarram, Op.Cit., pada tanggal 11 Januari 2018, pukul 16.00 WIB.

60

pihak bisa mengetahui tahapan-tahapan yang harus dilakukan, dan apabila ada keberatan-keberatan atau tidak sepakat mengenai sesuatu hal dapat mengambil langkah-langkah atau tindakan yang dapat memberikan jalan keluar yang terbaik sehingga memuaskan kedua belah pihak. Untuk aturan atau mekanisme pengadaan tanah sangat perlu untuk diketahui atau dipahami. Berikut akan diuraikan mengenai mekanisme pengadaan tanah tersebut.

1. Mekanisme Pengadaan Tanah Berdasarkan UU NO. 2 TAHUN 2012 dan Peraturan Pelaksanaannya

Mekanisme atau prosedur pengadaan tanah untuk kepentingan umum telah diatur secara jelas, mulai dari tahapan perencanaan, tahapan persiapan, tahapan pelaksanaan, sampai dengan penyerahan hasil berdasarkan UU NO. 2 TAHUN 2012 dan PERPRES NO. 71 TAHUN 2012 sebagai berikut :

a) Tahap Perencanaan

Setiap instansi yang memerlukan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum, agar menyusun Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah, yang sedikitnya memuat : (1) Maksud dan tujuan rencana pembangunan; (2) Kesesuaian dengan Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Prioritas Pembangunan; (3) Letak tanah; (4) Luas tanah yang dibutuhkan; (5) Gambaran umum status tanah; (6) Perkiraan jangka waktu pelaksanaan pengadaan tanah dan pelaksanaan pembangunan; (7) Perkiraan nilai tanah; dan (8) Rencana penganggaran.

Universitas Sumatera Utara

Dokumen perencanaan pengadaan tanah tersebut disusun berdasarkan studi kelayakan yang mencakup : (1) survei sosial ekonomi; (2) kelayakan lokasi;

(3) analisis biaya dan manfaat pembangunan bagi wilayah dan masyarakat; (4) perkiraan harga tanah; (5) dampak lingkungan dan dampak sosial yang mungkin timbul akibat pengadaan tanah dan bangunan, serta (6) studi lain yang diperlukan.

Dokumen Perencanaan tersebut selanjutnya diserahkan oleh instansi yang memerlukan tanah kepada Gubernur yang melingkupi wilayah dimana letak tanah berada.

b) Tahap Persiapan

Dalam tahap pelaksanaan, Gubernur membentuk Tim Persiapan dalam waktu paling lama 10 hari kerja, yang beranggotakan : (1) Bupati/Walikota; (2) Satuan kerja perangkat daerah provinsi terkait; (3) Instansi yang memerlukan tanah; dan (4) Instansi terkait lainnya. Untuk kelancaran pelaksanaan tugas Tim Persiapan, Gubernur membentuk sekretariat persiapan Pengadaan Tanah yang berkedudukan di Sekretariat Daerah Provinsi.

Adapun tugas Tim Persiapan sebagai berikut :

1) Melaksanakan pemberitahuan rencana pembangunan.

Pemberitahuan rencana pembangunan ditandatangani Ketua Tim Persiapan dan diberitahukan kepada masyarakat pada lokasi rencana pembangunan, paling lama 20 hari kerja setelah Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah diterima resmi oleh Gubernur. Pemberitahuan dapat dilakukan secara

62

langsung melalui sosialisasi, tatap muka, dan/atau surat pemberitahuan secara tidak langsung melalui media cetak maupun media elektronik.

2) Melakukan pendataan awal lokasi rencana pengadaan.

Pendataan awal lokasi rencana pengadaan meliputi kegiatan pengumpulan data awal lokasi rencana pengadaan meliputi kegiatan pengumpulan data awal Pihak yang Berhak dan Objek Pengadaan Tanah bersama aprat kelurahan/desa paling lama 30 hari kerja sejak pemberitahuan rencana pembangunan. Hasil pendataan dituangkan dalam bentuk daftar sementara lokasi rencana pembangunan yang ditandatangani Ketua Tim Persiapan sebagai bahan untuk pelaksanaan Konsultasi Publik rencana pembangunan.

3) Melaksanakan Konsultasi Publik rencana pembangunan.

Konsultasi Publik rencana pembangunan dilakukan untuk mendapatkan kesepakatan lokasi rencana pembangunan dari Pihak yang Berhak dan masyarakat yang terkena dampak dan dilaksanakan paling lama 60 (enam puluh) hari kerja sejak tanggal ditandatanganinya daftar sementara lokasi rencana pembangunan. Hasil kesepakatan atas lokasi rencana pembangunan dituangkan dalam berita acara kesepakatan. Apabila, dalam Konsultasi Publik, Pihak yang Berhak dan masyarakat yang terkena dampak atau kuasanya tidak sepakat atau keberatan, maka dilaksanakan Konsultasi Publik ulang paling lama 30 hari kerja sejak tanggal berita acara kesepakatan.

Jika dalam Konsultasi Publik ulang masih terdapat pihak yang keberatan atas rencana lokasi pembangunan, instansi yang memerlukan tanah melaporkan

Universitas Sumatera Utara

keberatan kepada Gubernur melalui Tim Persiapan. Selanjutnya, Gubernur membentuk Tim Kajian Keberatan yang terdiri atas :

(a) Sekretaris Daerah Provinsi atau pejabat yang ditunjuk sebagai ketua merangkap anggota;

(b) Kepala Kantor Wilayah BPN sebagai sekretaris merangkap anggota;

(c) Instansi yang menangani urusan Pemerintahan dibidang perencanaan pembangunan daerah sebagai anggota;

(d) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM sebagai anggota;

(e) Bupati/Walikota atau pejabat yang ditunjuk sebagai anggota;

(f) Akademisi sebagai anggota.

Tugas Tim Kajian Keberatan, meliputi :

(1) Menginventarisasi masalah yang menjadi alasan keberatan;

(2) Melakukan pertemuan atau klarifikasi dengan pihak yang berkeberatan;

(3) Membuat rekomendasi diterima atau ditolaknya keberatan yang

(3) Membuat rekomendasi diterima atau ditolaknya keberatan yang