BAB IV KEBERADAAN PENITIPAN GANTI KERUGIAN PADA
B. Riwayat Konsinyasi Dalam Pengadaan Tanah
Istilah konsinyasi dalam aturan pengadaan tanah semula dipergunakan dalam surat fatwa Mahkamah Agung RI Nomor
578/1320/88/IIUM-TV/PDTtanggal 16 November 1988 dalam kasus pembebasan tanah untuk pembangunanWaduk Kedung Ombo, yang memuat fatwa sebagai berikut:
124Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, (Jakarta: Intermasa, 2001), hal. 157.
125 Yahya Harahap, Op. Cit, hal. 142.
126Ibid.
132
“Bahwa untuk mengatasi hambatan dalam melaksanakan proyekpembangunan untuk kepentingan umum, dalam hal pemilik tanah tidakbersedia menerima uang ganti rugi, maka terdapat cukup alasan untukmenggunakan lembaga hukum konsinyasi uang kepada Pengadilan berdasarkan Pasal 1404 KUH Perdata.”127
Kemudian istilah konsinyasi tersebut dimunculkan kembali dalam KEPPRES NO. 55 TAHUN 1993, Pasal 17 ayat (2) yang menyatakan:
“Dalam hal tanah, bangunan, tanaman atau benda yang berkaitan dengan tanah yang dimiliki bersama oleh beberapa orang, sedangkan satu atau beberapa orang dari mereka tidak dapat ditemukan, maka ganti kerugian yang menjadi hak orang yang tidak dapat diketemukan tersebut, dikonsinyasikan di Pengadilan Negeri setempat oleh Instansi Pemerintah yang memerlukan tanah.”
Seiring berjalannya waktu, istilah konsinyasi tersebut tidak dimunculkan lagi secara eksplisit didalam PERPRES NO. 36 TAHUN 2005 juncto PERPRES NO. 65 TAHUN 2006 namun istilah yang dipergunakan kemudian adalah
“menitipkan”. Dalam UU NO. 2 TAHUN 2012 istilah dititipkan tersebut digunakan kembali:
“Dalam hal Pihak yang Berhak menolak bentuk dan/atau besarnya Ganti Kerugian berdasarkan hasil musyawarah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, atau putusan Pengadilan Negeri/Mahkamah Agung, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, Ganti Kerugian dititipkan di Pengadilan Negeri setempat.”128
Pengaturan mekanisme konsinyasi dalam KUHPerdata adalah yang melatarbelakangi mekanisme pengaturan konsinyasi dalam proses pengadaan tanah untuk kepentingan umum. Dalam peraturan perundang-undangan Negara Indonesia
127 Lieke Lianadevi Tukgali, Op.Cit. hal 332.
128 Pasal 42 ayat (1) UU 2/2012
Universitas Sumatera Utara
pengaturan mekanisme konsinyasi dalam pengadaan tanah untuk kepentingan umum tertuang dalam beberapa regulasi:
a. KEPPRES NO. 55 TAHUN 1993, bahwa konsinyasi hanya dimungkinkan manakala yang akan diganti rugi dimiliki oleh beberapa orang sedangkan satu atau beberapa orang dari mereka tidak dapat ditemukan, bagiannya dikonsinyasikan diPengadilan Negeri setempat.129
b. PERPRES NO. 65 TAHUN 2006, memberlakukan konsinyasi sepanjang musyawarah tidak tercapai kesepakatan dan terjadi sengketa kepemilikan.
Uang ganti rugi di konsinyasikan 100% ke pengadilan, setelah sengketa selesai baru dapatdiambil oleh yang berhak.130
c. UU NO. 2 TAHUN 2012 , bahwa konsinyasi baru dapat dilakukan apabila masyarakat pemegang hak atas tanah menolak bentuk dan besarnya ganti kerugian berdasarkan hasil musyawarah. Dalam undang-undang ini terlebih dahulu diberikan mekanisme pengajuan keberatan ke Pengadilan Negeri dan kasasi keMahkamah Agung.131
d. PERMEN ESDM NO. 33 TAHUN 2016, bahwa dalam hal Penyelesaian Teknis terhadap tanah, bangunan, dan/atau tanaman tidak dapat dilaksanakan, maka dapat melakukan penitipan sejumlah yang yang ditetapkan untuk Penyelesaian Teknis kepada kantor Pengadilan Negeri setempat.132
129 Pasal 17 ayat (2) Keppres 55/1993.
130 Pasal 10 ayat (2) Perpres 65/2006.
131 Pasal 38 UU 2/2012.
132 Pasal 6 PERMEN ESDM 33/2016.
134
e. PERMA NO. 3 TAHUN 2016, tentang tata cara pengajuan keberatan dan penitipan ganti kerugian ke Pengadilan Negeri dalam pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum.
C. Keberadaan Lembaga Hukum Konsinyasi Pada Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum
Istilah lembaga hukum konsinyasi dipergunakan oleh sejumlah ahli hukum secara eksplisit untuk mendefinisikan mekanisme penitipan uang ganti rugi ke pengadilan dalam kegiatan pengadaan tanah yang merujuk pada ketentuan Pasal1404-1412 KUH Perdata.133
Membicarakan persoalan konsinyasi di dalam pengadaan tanah, tentu tidak terlepas dari salah satu penyebabnya adalah karena terjadi penolakan ganti rugi yang akan diberikan kepada pemilik tanah. Pemberian ganti rugi adalah sebagai bukti terhadap pengakuan, penghormatan, dan perlindungan terhadap hak-hak atas tanah. Pengadaan tanah pada hakikatnya merupakan hubungan hukum jual beli yang masuk dalam ruang lingkup perdata.
Dalam pengadaan tanah tersebut dilakukan dengan musyawarah antar pemegang hak atas tanah dengan panitia pengadaan tanah. Mekanisme musyawarah ini juga murni perdata. Didalam hubungan keperdataan pada asasnya berintikan kesepakatan antar kedua belah pihak. Kesepakatan inilah yang menjadi undang-
133 Lieke Lianadevi Tukgali, Op.Cit, hal. 332.
Universitas Sumatera Utara
undang yang mengikat bagi pihak-pihak tersebut.134 Namun, apabila tidak terdapat kesepakatan mengenai ganti kerugian dalam mekanisme musyawarah, Pemerintah secara sepihak telah mengambil langkah untuk meneruskan pelaksanaan pengadaan tanah dan menitipkan uang ganti rugi milik warga yang tidak sepakat tersebut ke Pengadilan Negeri.
Syarat instansi terkait dapat melakukan penitipan ganti rugi harus sesuai dengan Pasal 42 UU NO. 2 TAHUN 2012 bahwa penitipan ganti kerugian ke Pengadilan Negeri terjadi karena disebabkan oleh:
1. Pihak yang berhak menerima ganti kerugian menolak bentuk dan/atau besarnya ganti kerugian berdasarkan hasil musyawarah ataupunberdasarkan putusan pengadilan atau Mahkamah Agung;
2. Pihak yang berhak menerima ganti kerugian tidak diketahui keberadaannya; atau
3. Objek Pengadaan Tanah yang akan diberikan ganti kerugian:
a. Sedang menjadi objek perkara di Pengadilan;
b. Masih dipersengketakan kepemilikannya;
c. Diletakkan sita oleh pejabat yang berwenang; atau d. Menjadi jaminan di bank.
Berdasarkan Pasal 42 UU NO. 2 TAHUN 2012 tersebut di atas, dinyatakan secara eksplisit bahwa penitipan uang ganti kerugian ke Pengadilan Negeri dapat dilaksanakan apabila pihak yang berhak atas tanah tidak sepakat akan bentukdan/atau besarnya ganti kerugian yang diberikan kepadanya, padahal sebagaimana diketahui bahwa pengadaan tanah hanya dapat dilakukan atas dasar persetujuan dari pemegang hak atas tanah, baik mengenai bentuk maupun besarnya ganti rugi yang diberikan
134 Pasal 1338 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
136
terhadap tanahnya. Persetujuan tersebut harus didapatkan melalui musyawarah untuk mencapai kata sepakat, baik mengenai penyerahan tanah yang bersangkutan maupun pada pemberian ganti ruginya. Sebab pada dasarnya pengadaan tanah tersebut mengandung asas kesepakatan. Asas kesepakatan bermakna bahwa seluruh kegiatan pengadaan tanah dilakukan berdasarkan kesepakatan antara para pihak dan ganti rugi telah diserahkan.135
Konsinyasi hanya bisa diterapkan untuk pembayaran ganti rugi untuk pengadaan tanah dilakukan oleh Instansi Pemerintah untuk kepentingan umum, dengan catatan memang telah ada kesepakatan diantara kedua belah pihak yang membutuhkan tanah dan pemegang hak atas tanah dan pemilik bangunan, tanaman dan/atau benda-benda yang ada di atas tanah.136
Pengadaan tanah pada hakikatnya merupakan hubungan hukum jual beli yang masuk dalam ruang lingkup perdata. Dalam pengadaan tanah tersebut dilakukan dengan musyawarah antar pemegang hak atas tanah dengan panitia pengadaan tanah. Mekanisme musyawarah ini juga murni perdata. Didalam hubungan keperdataan pada asasnya berintikan kesepakatan antar kedua belah pihak. Kesepakatan inilah yang menjadi undang-undang yang mengikat bagi pihak-pihak tersebut.137
135 Maria S.W.Sumardjono, Tanah Dalam Perspektif Hak Ekonomi Sosial Dan Budaya, (Jakarta: Kompas, 2008), hal. 282.
136 Oloan Sitorus Dayat Limbong, Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum, (Yogyakarta: Citra Kebijakan Tanah Indonesia, 2004), hal. 59.
137 Pasal 1338 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
Universitas Sumatera Utara
Dalam pengadaan tanah ada tiga prinsip yang dapat dijadikan patokan bahwa suatu kegiatan benar-benar untuk kepentingan umum yaitu:138
1. Kegiatan tersebut benar-benar dimiliki oleh Pemerintah. Mengandung batasan bahwa kegiatan kepentingan umum tidak dimiliki oleh perorangan atau swasta. Dengan kata lain, swasta dan perorangan tidak dapat memiliki jenis-jenis kegiatan kepentingan umum yang membutuhkan pembebasan tanah-tanah hak maupun negara.
2. Kegiatan pembangunan tersebut dilakukan oleh Pemerintah. Prinsip ini maumemberikan batasan bahwa proses pelaksanaan dan pengelolaan suatukegiatan untuk kepentingan umum hanya dapat diperankan oleh Pemerintah.
3. Tidak mencari keuntungan. Membatasi fungsi suatu kegiatan untukkepentingan umum sehingga berbeda dengan kepentingan swasta yangbertujuan mencari keuntungan.
Penitipan ganti rugi di Pengadialan Negeri dilakukan oleh Instansi yang memerlukan tanah dengan surat permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri.
Surat permohonan diajukan dengan melampirkan beberapa hal, sebagai berikut : 1. Surat keterangan dari Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah mengenai alasan
penitipan ganti rugi;
2. Nama pihak yang berhak atas ganti rugi yang dititipkan;
3. Undangan pemberian ganti rugi;
4. Surat-surat, terdiri atas :
a. Berita acara kesepakatan musyawarah;
138 Adrian Sutedi, Op.Cit, hal. 75-76.
138
b. Berita acara pihak yang berhak menolak bentuk dan/atau besarnya ganti rugi berdasarkan hasil musyawarah dan tidak mengajukan keberatan ke Pengadilan;
c. Berita acara yang berhak menolak bentuk dan/atau besarnya ganti rugi berdasarkan putusan Pengadilan Negeri/Mahkamah Agung yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;
d. Berita acara pihak yang berhak tidak diketahui keberadaannya;
e. Berita acara pihak yang berhak telahdiundang secara patut tidak hadir dan tidak memberikan kuasa;
f. Berita acara objek pengadaan tanah yang akan diberikan ganti rugi sedang menjadi objek perkara di Pengadilan;
g. Berita acara objek pengadaan tanah yang akan diberikan ganti rugi masig dipersengketakan kepemilikannya;
h. Berita acara objek pengadaan tanah yang akan diberikan ganti rugi diletakkan sita oleh pejabat yang berwenang;
i. Berita acara objek pengadaan tanah yang akan diberikan ganti rugi menjadi jaminan di bank atau jaminan hutang lainnya.139
139 Jarot Widya Muliawan, Op.Cit, hal. 76-77
Universitas Sumatera Utara
Tabel 7. Rekapitulasi Konsinyasi PLTA Asahan 3 (Kabupaten Asahan)
Sumber Data : PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera
140
Tabel 8. Rekapitulasi Konsinyasi PLTA Asahan 3 (Kabupaten Toba Samosir)
Sumber Data : PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera
Universitas Sumatera Utara
Tabel 9. Rekapitulasi Data Konsinyasi PLTA Asahan 3
Sumber Data : PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera
142
D. Keberagaman Sikap Masyarakat Atas Pelaksanaan Ganti Rugi Dengan Metode Konsinyasi di Proyek PLTA Asahan 3
Merujuk pada uraian bab sebelumnya Pengadaan tanah pada hakikatnya merupakan hubungan hukum jual beli yang masuk dalam ruang lingkup perdata.
Dalam pengadaan tanah tersebut dilakukan dengan musyawarah antar pemegang hak atas tanah dengan panitia pengadaan tanah. Mekanisme musyawarah ini juga murni perdata. Didalam hubungan keperdataan pada asasnya berintikan kesepakatan antar kedua belah pihak. Kesepakatan inilah yang menjadi undang-undang yang mengikat bagi pihak-pihak tersebut,140
Mengingat Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 ayat (38) memberikan kesempatan kepada pemilik tanah apabila tidak terjadi kesepakatan mengenai bentuk dan/atau besarnya ganti kerugian, pihak yang berhak dapat mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri setempat dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja setelah musyawarah penetapan ganti kerugian dilaksanakan.
Namun apabila dalam hal Pihak yang Berhak menolak dan/atau besarnya nilai Ganti Kerugian, tetapi tidak mengajukan keberatan dalam waktu sebagaimana diatur dalam Pasal 38 ayat (1), Karena hukum Pihak yang Berhak dianggap menerima bentuk dan besarnya Ganti Kerugian yang telah disampaikan pada saat musyawarah penetapan ganti kerugian.
140 Pasal 1338 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
Universitas Sumatera Utara
Pasal 6 PERMEN ESDM No. 33 Tahun 2016 mengatur bahwa dalam Penyelesaian Teknis terhadap tanah, bangunan, dan/atau tanaman tidak dapat dilaksanakan, maka PT PLN (Persero) dapat melakukan penitipan sejumlah uang yang ditetapkan untuk Penyelesaian Teknis kepada kantor Pengadilan Negeri setempat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Setelah dilakukannya penitipan sejumlah uang tersebut kepada Pengadilan Negeri, Pasal 7 PERMEN ESDM No. 33 Tahun 2016 PT PLN (Persero) berhak untuk memanfaatkan tanah yang telah dilakukan Penyelesaian Teknis atau telah dilakukan penitipan sejumlah uang kepada Kantor Pengadilan Negeri setempat.
Proses Permohonan konsinyasi yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera yang diwakili oleh Weddy Bernadi Sudirman, selaku General Manager PT PLN (Persero) UIP Pembangkit Sumatera, melibatkan Jaksa Pengacara Negara dalam hal ini telah memberikan kuasa kepada DR. Bambang Sugeng Rukmono, selaku Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 24 Januari 2018 yang disebut sebagai Pemohon Konsinyasi. Setelah adanya permohonan konsinyasi dari Pemohon, Ketua Pengadilan Negeri memerintahkan Jurusita Pengganti Pengadilan Negeri untuk melakukan penawaran pembayaran uang ganti kerugian disertai dengan 2 (dua) orang saksi.141
141 Wawancara dengan Ferdyan Hijrah Kusuma, Manager Pertanahan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera, (Medan, tanggal 29 Februari 2019).
144
Sesuai Pasal 27 Peraturan Mahkamah Agung No. 3 Tahun 2016 sebagai berikut :
(1) Panitera menyampaikan berkas permohonan yang sudah di registrasi kepada Ketua Pengadilan;
(2) Ketua Pengadilan menerbitkan penetapan yang memerintahkan Juru Sita Pengadilan dengan disertai oleh 2 (dua) orang saksi untuk melakukan penawaran pembayaran kepada Termohon di tempat tinggal Termohon.
(3) Juru Sita dengan disertai 2 (dua) orang saksi menjalankan perintah Ketua Pengadilan tersebut dengan mendatangi Termohon di tempat tinggal Termohon.
(4) Juru Sita menyampaikan langsung kepada Termohon atau kuasanya kehendak untuk menawarkan pembayaran uang sejumlah nilai Ganti Kerugian yang diajukan Pemohon kepada Termohon berikut segala akibat dari penolakan penawaran pembayaran tersebut.
(5) Juru Sita membuat berita acara tentang pernyataan kesediaan untuk menerima atau menolak uang Ganti Kerugian yang ditawarkan tersebut dengan ditandatangani oleh Juru Sita, saksi-saksi dan Termohon.
(6) Tidak ditandatanganinya berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (5) tidak mempengaruhi keabsahan berita acara.
(7) Salinan berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disampaikan pula kepada Termohon.
Bahwa atas penawaran tersebut, termohon menyatakan menolak uang ganti kerugian, maka telah didengarkan keterangan Pemohon dan Termohon yang pada pokoknya tetap berkehendak untuk menitipkan uang ganti kerugian ke Pengadilan Negeri. Berdasarkan Pasal 38 Undang-Undang No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum, Termohon yang keberatan mengenai besarnya ganti kerugian tersebut oleh Pemohon, berhak mengajukan keberatan ke Pengadilan, akan tetapi dalam hal sejak ditetapkannya besarnya ganti kerugian tersebut, Termohon tidak pernah mengajukan keberatan, oleh karenanya berdasarkan ketentuan dalam
Universitas Sumatera Utara
Pasal 39 UndangUndang No. 2 Tahun 2012, Termohon berdasarkan hukum dianggap menerima bentuk dan besarnya ganti kerugian tersebut.
Keberagaman sikap masyarakat atas pelaksanaan ganti rugi dengan metode konsinyasi di Proyek PLTA Asahan 3 yaitu :
1. Bagi masyarakat yang menerima atau setuju atas adanya konsinyasi disebabkan antara lain :
a. Pada saat pengajuan permohonan konsinyasi dari pihak Pemohon atau yang memerlukan tanah kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk dilakukan konsinyasi, masyarakat/Pihak yang Berhak merasa nilai ganti kerugian tersebut cukup, sehingga tidak perlu lagi untuk dimasukan kedalam daftar konsinyasi. Salah satu contoh Pemilik Tanah atau Penguasa Lahan atas nama Pardomuan Siregar yang terletak di Wilayah Kabupaten Toba Samosir dengan luas tanah sebagai berikut:142
- Luas 1.265,63 m² dilokasi Proyek Construction Facility Yard nilai ganti kerugian sebesar Rp 69.528.919,- (enam puluh sembilan juta lima ratus dua puluh delapan ribu sembilan ratus sembilan belas rupiah);
- Luas 7.496,00 m² dilokasi Proyek Access Road Power Site nilai ganti kerugian sebesar Rp 327.370.013,- (tiga ratus dua puluh tujuh juta tiga ratus tujuh puluh ribu tiga belas rupiah); dan
142 Wawancara dengan Ferdyan Hijrah Kusuma, Manager Pertanahan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Pembangkit Sumatera, (Medan, tanggal 29 Februari 2019).
146
- Luas 1.907,07 m² dilokasi Proyek Contractor Office Access Road nilai ganti kerugian sebesar Rp 89.118.876,- (delapan puluh sembilan juta seratus delapan belas ribu delapan ratus tujuh puluh enam rupiah);
b. Saat sosialisasi penawaran kembali pembayaran uang ganti kerugian yang disampaikan oleh Juru Sita Pengganti Pengadilan Negeri, pihak yang berhak bersedia menerima uang konsinyasi di Pengadilan Negeri, hal ini disebabkan pihak yang berhak merasa hasil dari penawaran tersebut dapat diterima secara baik dan telah mencapai kata sepakat untuk melepaskan hak penguasaan atas tanah konsinyasi kepada masyarakat terkait akan dilaksanakannya konsinyasi (penitipan ganti kerugian) melalui Pengadilan Negeri setempat, seperti yang dilakukan oleh atas nama Fredy Dwp. Sianturi/ Darmansyah Panjaitan pemilik lahan yang bersengketa memiliki luas tanah 1.776,11 m² terletak di lokasi area Intake Left, akhirnya sepakat untuk berdamai dalam hal pembagian uang ganti kerugian berdasarkan Surat Keterangan No.
0006/SKT/STH.00.01/KITSUM/2018 yang diterbitkan oleh PT PLN (Persero) tanggal 3 April 2018, dengan rincian sebagai berikut :
- Freddy Dwp. Sianturi berhak atas uang pemberian ganti kerugian sebesar Rp 41. 506.787,- (empat puluh satu juta lima ratus enam ribu tujuh ratus delapan puluh tujuh rupiah);
- Darmansyah Panjaitan berhak atas uang pemberian ganti kerugian sebesar Rp 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah).
Universitas Sumatera Utara
c. Ketika pemanggilan persidangan konsinyasi yang dilakukan oleh Ketua Pengadilan Negeri setempat, Termohon yang menolak Penyelesaian Teknis/ ganti kerugian berjumlah 13 (tiga belas) orang dan Pihak yang bersengketa terdapat 4 (empat) orang, dari jumlah tersebut tidak ada yang menyatakan keberatan atas nilai ganti kerugian yang telah ditawarkan, hal ini cukup beralasan bagi Ketua Pengadilan Negeri untuk memerintahkan kepada Panitera Pengadilan Negeri untuk melakukan penyimpanan uang ganti kerugian yang telah ditetapkan dan memberitahukannya kepada Termohon. Sehingga Para Termohon untuk seluruhnya tidak dapat menolak nilai ganti kerugian yang telah ditetapkan.
Setelah keluar hasil Penetapan dari Ketua Pengadilan Negeri tersebut, sebanyak 11 (sebelas) orang memilih untuk mengambil uang yang telah dititipkan/ disimpan di Pengadilan Negeri (Konsinyasi) karena bagi Termohon hasil Penetapan yang di keluarkan oleh Ketua Pengadilan adalah solusi terakhir karena para Termohon tidak ada yang melakukan keberatan/ upaya hukum, oleh karenanya Termohon bersedia/ setuju melepaskan hak atas tanahnya dengan metode konsinyasi. Sebagai contoh Termohon yang mengambil Konsinyasi antara lain:
- Mangindangi Siregar luas tanah 60,59 m² yang berada dilokasi area Access Road Work Adit 2 dengan nilai ganti kerugian / Penyelesaian
148
Teknis sebesar Rp 4.234.326,- (empat juta dua ratus tiga puluh empat ribu tiga ratus dua puluh enam rupiah);
- Rambina Siagian, luas tanah 90,80 m² yang berada dilokasi area Access Road Work Adit 2 dengan nilai ganti kerugian / Penyelesaian Teknis sebesar Rp 15.163.269,- (lima belas juta seratus enam puluh tiga ribu dua ratus enam puluh sembilan rupiah); dan
- Jamider Siagian, luas tanah 10.706,76 m² yang berada dilokasi area Construction Facility Yard 2 dengan nilai ganti kerugian / Penyelesaian Teknis sebesar Rp 549.023.927,- (lima ratus empat puluh sembilan juta dua puluh tiga ribu sembilan ratus dua puluh tujuh rupiah).
Bagi masyarakat yang menerima atau setuju atas adanya konsinyasi, maka dalam hal pengambilan uang konsinyasi bagi pihak yang berhak menerima konsinyasi sebagai berikut:
a. Pihak Pemohon atau yang memerlukan tanah, menerbitkan surat keterangan kepada Termohon atau pihak yang berhak menerima penitipan ganti kerugian, yang menyatakan pihak yang berhak bersedia melepaskan hak penguasaan tanah tersebut yang diketahui oleh Ketua Tim Pengadaan Tanah dalam hal ini Penyelesaian Teknis Kawasan Hutan serta disetujui oleh Ketua Pengadilan Negeri setempat;
b. Pihak yang berhak membawa surat keterangan tersebut ke Pengadilan Negeri setempat untuk mengambil uang yang telah dititipkan dipengadilan.
Universitas Sumatera Utara
2. Bagi masyarakat yang menolak atau tidak setuju atas adanya konsinyasi disebabkan oleh antara lain :
a. Adanya penolakan dari masyarakat mengenai pengadaan tanah yang berada di area penguasaan hak atas tanah milik masyarakat dari awal sampai akhir yaitu :
- Jeprin Harahap, yang terltak di area lokasi Spoil Bank 1 dan Intake Right (Tobasa), dengan luas 11.527,14 m² dengan nilai ganti kerugian Rp 420.646.034,- (empat ratus dua puluh juta enam ratus empat puluh enam ribu tiga puluh empat rupiah).
b. Adanya ketidaksepakatan harga yang dikeluarkan oleh Lembaga Penilai/ Appraisal karena harganya dinilai terlalu rendah salah satu masyarakatnya adalah :
- Marwahal Butar-butar, lokasi berada di area Spoil Bank 2, Headrace Channel, CFY (Heappond) dengan luas 13.063.83 dengan nilai ganti kerugian Rp 592.080.731,- (lima ratus juta sembilan ratus dua juta delapan puluh ribu tujuh ratus tiga puluh satu rupiah).
c. Adanya sengketa antar keluarga, sengketa kepemilikan dan sengketa tata batas antara lain :
- Lahan Sengketa antara Amiruddin Panjaitan dengan Pineria Br.
Siagian lokasi berada di area Headpond & Chuteaway dengan luas
150
7.664.80 m² dengan nilai ganti kerugian Rp 300.617.627,- (tiga ratus juta enam ratus tujuh belas ribu enam ratus dua puluh tujuh rupiah).
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang telah disebutkan diatas apabila pihak yang berhak menolak konsinyasi, maka permohonan Pemohon cukup beralasan, Ketua Pengadilan Negeri memerintahkan kepada Panitera Pengadilan Negeri untuk melakukan penyimpanan uang ganti kerugian sesuai nilai ganti kerugian yang telah ditetapkan dan memberitahukannya kepada Termohon, maka sesuai ketentuan Pasal 29 Peraturan Mahkamah Agung No. 3 Tahun 2016 yang berbunyi :
(1) Dalam hal Termohon menolak untuk menerima uang sejumlah nilai Ganti Kerugian yang ditawarkan untuk dibayar, Ketua Pengadilan menetapkan hari sidang untuk memeriksa permohonan penitipan Ganti Kerugian dan memerintah kan Juru Sita untuk memanggil Pemohon dan Termohon yang akan dilaksanakan pada hari, tanggal dan jam dengan membuat berita acara tentang pemberitahuan akan dilakukan penyimpanan terhadap uang Ganti Kerugian di kas Kepaniteraan Pengadilan.
(2) Ketua Pengadilan menerbitkan penetapan dengan amar:
a. mengabulkan permohonan Pemohon;
b. menyatakan sah dan menerima Penitipan Ganti Kerugian dengan menyebutkan jumlah besaran ganti kerugian, data fisik dan data yuridis bidang tanah dan/atau bangunan serta pihak yang berhak menerima;
c. memerintahkan panitera untuk melakukan penyimpanan uang Ganti Kerugian dan memberitahukannya kepada Termohon;
d. membebankan biaya perkara kepada Pemohon.
Universitas Sumatera Utara
(3) Panitera membuat berita acara penyimpanan penitipan uang Ganti Kerugian yang ditandatangani oleh Panitera, Pemohon dan 2 (dua) orang saksi dengan menyebutkan jumlah dan rinciannya untuk disimpan dalam kas Kepaniteraan Pengadilan sebagai uang penitipan Ganti Kerugian.
(4) Salinan berita acara sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan pula kepada Pemohon dan Termohon.
(5) Ketidakhadiran Termohon dalam penyerahan uang Ganti Kerugian tidak menghalangi dilakukannya penyimpanan uang Ganti Kerugian.
152 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Seperti yang telah dirinci pada sub-bab diatas, bahwa UU NO. 2 TAHUN 2012 tidak dapat diimplementasikan di lapangan. Hal ini terjadi karena lokasi
1. Seperti yang telah dirinci pada sub-bab diatas, bahwa UU NO. 2 TAHUN 2012 tidak dapat diimplementasikan di lapangan. Hal ini terjadi karena lokasi