• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

6. Analisis Data

Setelah pengumpulan data dilakukan, maka data tersebut dianalisa secara kualitatif. Analisa data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisir data, memilah-milah data menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistematisnya, mencari dan menemukan pola, menemukan yang penting dan apa yang dapat diceritakan orang lain.44

Setelah data sekunder terkumpul, maka langkah berikutnya adalah menganalisa, dan diteruskan dengan mengolah data. Hal pertama yang dilakukan yaitu mengelompokkan data sehingga mempermudah menemukan jawaban dari permasalahan yang ada di penelitian ini. Kemudian data yang teah terkumpul tersebut diklasifikasikan sehingga merupakan suatu urutan data (array) untuk selanjutnya mengambil kesimpulan.45

Adapun kesimpulan yang akan diambil dilakukan dengan caa deduktif yaitu proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap yang berkaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum. Proses

44 Burhan Bugin, Metodologi Penelitian Kualitatif, Akualisasi Metodologi Ke Arah Ragam Varian Kontemporer, Raja Grafindo, Jakarta, 2006, hal. 219.

45 Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Bineka Cipta, Jakarta, 1986, hal. 244.

penalaran ini disebut penalaran deduktif yang merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.46

46 Santoso, Penalaran Deduktif dan Induktif, di akses pada http,//santoso, blogspot.com/2008/08/penalaran-induktif-dan-deduktif-materi.html,tanggal13 Februari 2018.

BAB II

PROSEDUR PERCERAIAN MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG

PERKAWINAN

A. Perceraian Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) 1. Pengertian Perceraian

Perceraian merupakan salah satu penyebab putusnya perkawinan. Hal ini sesuai ketentuan Pasal 113 Kompilasi Hukum Islam (KHI), yang mengatur bahwa putusnya perkawinan dapat dikarenakan tiga alasan, yaitu kematian, perceraian, dan putusan pengadilan.47

Putusnya ikatan perkawinan karena kematian adalah berakhirnya ikatan suami istri disebabkan wafatnya salah seorang dari mereka. Adapun yang dimaksud dengan putusnya perkawinan karena perceraian adalah berakhirnya ikatan perkawinan karena perceraian yang dilangsungkan di pengadilan. Putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak oleh suami atau gugatan perceraian oleh istri. Sedangkan yang dimaksud dengan putusan pengadilan adalah putusnya ikatan perkawinan yang didasarkan atas putusan pengadilan selain cerai talak dan cerai gugat, seperti pembatalan perkawinan (fasakh).

Kata talak berasal dari bahasa Arab yang bermakna melepaskan atau mengurangi tali pengikat, baik tali pengikat itu bersifat konkret seperti tali pengikat kuda maupun

47Mohd. Idris Ramulyo,Hukum Perkawinan Islam Suatu Analisis dari Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam,cet. 2, Bumi Aksara, Jakarta, 1999, hal. 152.

bersifat abstrak seperti tali pengikat perkawinan.48 Dalam kamus Arab Indonesia, cerai adalah terjemahan bahasa Arab “Talak” yang secara bahasa artinya melepaskan ikatan.49

Dalam istilah Fiqh perceraian dikenal dengan istilah “Talaq” atau

“Furqah”. Talaq berarti membuka ikatan atau membatalkan perjanjian.

Sedangkan Furqah berarti bercerai yang merupakan lawan kata dari berkumpul.

Perkataan talaq dan furqah mempunyai pengertian umum dan khusus. Dalam arti umum berarti segala macam bentuk perceraian yang dijatuhkan oleh suami, yang ditetapkan oleh hakim. Sedangkan dalam arti khusus adalah perceraian yang dijatuhkan oleh pihak suami.50

Cerai secara bahasa talak bermakna pelepasan ikatan yang kokoh.51 Pengertian talak menurut istilah dari definisi oleh ahli hukum sangat beragam akan tetapi maksudnya sama yaitu talak dapat diartikan sebagai lepasnya ikatan pernikahan dan berakhirnya hubungan pernikahan.52

Talak adalah ikrar suami di hadapan sidang Pengadilan Agama yang menjadi salah satu penyebab putusnya pernikahan, dengan cara sebagai mana dimaksud dalam Pasal 129, 130, dan 131.53 Jadi, pada intinya talak adalah putusnya ikatan perkawinan antara suami istri yang diakibatkan oleh sebab-sebab

48Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN di Jakarta, Ilmu Fiqih, Departemen Agama,Jakarta, 1985, hal. 226.

49Ahmad Warsan Munawir, Al-Munawir, Kamus Arab Indonesia, Penerbit Pustaka Progresif, Surabaya,1997 hal. 207.

50Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974, PT. Liberti Yogyakarta, 2004, hal. 103.

51As-Sa‟any, Subulussalam diterjemahkan Abu Baker, Jilid III, Al-Ikhlas, Surabaya, 1995, hal.609.

52H.S.A. Al Hamdani, Risalah Nikah Hukum Perkawinan Islam. Pustaka Amani, Jakarta,2002, hal. 203.

53Ibid., hal. 176.

tertetu yang tidak dapat memenuhi tujuan dari diadakannya suatu perkawinan, yaitu keluarga yang Sakinah mawaddah warahmah.

Menurut H. A. Fuad Sa‟id yang dimaksud dengan perceraian adalah putusnya perkawinan antara suami-istri karena tidak ada kerukunan dalam rumah tangga atau sebab lain, seperti mandulnya istri atau suami dan setelah diupayakan perdamaian dengan melibatkan keluarga kedua belah pihak.54

Meskipun Islam mensyariatkan perceraian tetapi bukan berarti agama Islam menyukai terjadinya perceraian dari suatu perkawinan dan perceraian pun tidak boleh dilaksanakan setiap saat yang dikehendaki. Perceraian walaupun diperbolehkan tetapi agama Islam tetap memandang bahwa perceraian adalah sesuatu yang bertentangan dengan asas-asas Hukum Islam.55

Perceraian masih diperbolehkan dalam Islam selama perkawinan yang telah terjadi tidak dapat dipertahankan lagi. Ini merupakan cara yang terakhir ditempuh dalam suatu perkawinan jika perkawinan tersebut menemui masalah yang tidak dapat diselesaikan melalui jalan perdamaian. Adapun dasar dari diperbolehkannya talak, antara lain :

54Abdul Manan, “Problematika Perceraian Karena Zina dalam Proses Penyelesaian Perkara di Lingkungan Peradilan Agama”, dalam Jurnal Mimbar Hukum Al-Hikmah, DITBINBAPERA, Jakarta No. 52 Th. XII 2001, hal. 7.

55Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam dan Undang-undang Perkawinan, Cetakan Keenam, Liberty, Yogyakarta, 2007, hal. 104.

1) Al-Qur‟an

Terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 232 yang artinya :

“apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma‟ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”56

Selain itu Terdapat juga dalam Surah At-Thalaq ayat 1 yang artinya:

“Wahai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru.”57

2) Sunnah, Hadist riwayat Abud Daud dan Ibnu Majah dan Sanad yang sahih, yang artrinya Dan dari Ibnu Umar, bahwa sesungguhnya Rasullullah SAW bersabda :

“Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah Azza wa Jalla adalah Talak.58

3) Ijma‟, yaitu kesepakatan para fuqaha yang memperbolehkan talak, mengingat bahwa karena talak akan dapat terjadi atau dilakukan jika

56Kementerian Agama RI, Musaf Al-Qur’an dan Terjemahannya, Penerbit PT. Lentera Jaya Abadi, Jakarta, 2011, hal. 38.

57Ibid., hal. 559.

58Imam Hafiz,Sunan Abi Daud, Penerbit Dar Ibn Hazm,Beirut, 1998, hal. 334.

terdapat ketidakharmonisan dalam rumah tangga (pada keadaan suami istri). 59

c. Alasan Perceraian

Alasan perceraian menurut Kompilasi Hukum Islam terdapat pada Pasal 116 yang berbunyi perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan: 60

a. salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan, dalam kenyataan yang sering terjadi adalah suami atau istri melakukan perzinahan atau menjadi pemabuk karena pengaruh lingkungan sekitar serta kurang kuatnya keimanan salah satu pihak tersebut.

b. salah satu pihak mninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya, hal ini disebabkan salah satunya dikarenakan alasan pertama harus mencari nafkah, namun tidak kembali pulang kerumah setelah mendapat nafkah dengan sengaja tidak menghubungi keluarga yang ditinggalkan, sehingga keluarga yang ditinggalkan tidak bisa berbuat apapun, dikarenakan ketidamampuan secara ekonomi serta kurangnya kesadaran hukum.

c. salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung, setelah perkawinan berlangsung, ternyata ada gugatan dari pihak lain kepada salah satunya terutama suaminya atau ditangkap oleh pihak penyidik,

59Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh, Dar al Fikr, Beirut, 1989, hal 357

60Muhammad Yazid, Hukum Perkawinan Islam,Bumi Aksara, Jakarta, 2001, hal. 153.

dan ternyata istrinya tidak mengetahui tentang hal itu, ini dikarenakan kurangnya keterbukaan sesama pasangan hidup dan tidak adanya saling pengertian antara pasangan hidup.

d. salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain, atau kekerasan dalam rumah tangga, sebelum menikah tidak ada tanda-tanda bahwa calon suami atau istri kasar atau suka bermain tangan, namun setelah melakukan perkawinan, kepribadian pasangan terlihat dan salah satunya terbukti melakukan kekejaman, hal ini disebabkan karena tidak ada pengenalan kepribadian yang baik.

e. salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri, hal ini dikarenakan karena tidak melakukan cek kesehatan di instansi kesehatan yang terkait,

f. antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga, karena tidak ada yang mau mengalah, serta tidak mau menggunakan pihak ketiga sebagai mediator agak perselisihan cepat selesai,

g. Suami melanggar taklik talak, hal ini disebabkan karena ketidakyakinan suami tersebut yang masih menggantung talak.

h. peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga, hal ini biasanya terjadi karena

latar belakang keluarga besar serta adat tertentu, dan kurangnya keimanan suami atau istri tersebut.

Selain alasan yang diatur dalam Kompilasi Hukum Islam, terdapat suatu kondisi dimana penyebab ini dijadikan suami atau istri sebagai alasan untuk mengakhiri atau memutuskan tali perkawinan mereka. Setidaknya ada empat kemungkinan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga yang dapat menjadi penyebab timbulnya keinginan untuk memutus atau terputusnya perkawinan, yaitu terdiri dari : 61

1. Terjadinya nusyuz62 dari pihak istri

Nusyuz bermakna kedurhakaan yang dilakukan seorang istri terhadap suaminya. Hal ini dapat terjadi dalam bentuk pelanggaran perintah, penyelewengan dan hal-hal yang dapat menggangu keharmonisan rumah tangga. Terhadap hak tersebut ada beberapa pilihan yaitu sebagai berikut : a. Istri diberi nasehat dengan cara yang ma‟aruf agar ia segera sadar

terhadap kekeliruan yang dibuatnya;

b. Pisah Ranjang. Cara ini bermakna agar hukuman psikologis bagi isteri dan dalam kesendirian tersebut ia dapat melakukan koreksi diri terhadap kekeliruannya;

c. Apabila cara ini tidak berhasil langkah berikutnya adalah memberi hukuman fisik dengan cara memukulnya. Penting untuk dicatat, yang

61Ahmad Rafiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta, 1997, hal. 269-274.

62Secara bahasa berasal dari kata Nazyaza-yansyuzu-nasyazan wa nuzyuzan, yang berarti meninggi, menonjol, durhaka, menentang atau bertindak kasar. Nuzyuz juga diatur dalam Kompilasi Hukum Islam dalam Pasal 84.

boleh dipukul hanyalah bagian yang tidak membahayakan si isteri seperti betisnya.63

2. Terjadinya Nusyuz dari pihak suami.64

Nusyuz tidak hanya dapat terjadi dan dilakukan oleh istri, namun suami juga dapat berlaku nusyuz. Selama ini banyak kesalah pahaman bahwa nusyuz hanya datang dari pihak istri saja, padahal dalam Al-Qur‟an Surah An-Nisa‟ ayat 128 menyebutkan adanya nusyuz dari suami. Kemungkinan nusyuz seorang suami dapat terjadi dalam bentuk kelalaian dari pihak suami untuk memenuhi kewajibannya pada isteri, baik nafkah lahir maupun nafkah bathin.

3. Terjadinya perselisihan atau percekcokan antara suami istri (Shiqaq).65 Jika dua kemungkinan di atas menggambarkan salah satu pihak nusyuz sedangkan pihak lain dalam kondisi normal, maka kemungkinan yang ketiga ini terjadi karena kedua-duanya terlibat dalam percekcokan (shiqaq), misalnya disebabkan oleh kesulitan ekonomi sehingga keduanya sering bertengkar. Dalam hal ini Al-Qur‟an memberikan petunjuk dalam Surah An-Nisa‟ ayat 35, yang menjelaskan bahwa dipilihnya hakam (arbitrator) dari masing-masing pihak dikarenakan para perantara itu akan lebih mengetahu karakter, sifat keluarga sendiri. Ini lebih mudah untuk mendamaikan suami istri yang sedang bertengkar. Ulama sependapat bahwa mengirim juru damai itu diperbolehkan apabila terjadi perselisihan

63Ibid., hal. 270.

64Ibid., hal 270-271.

65Ibid., hal 272-273.

suami istri tanpa diketahui sebab-sebab perselisihan itu, yakni siapa yang benar dan siapa yang salah, dengan dasar Surah An-Nisa‟ tersebut di atas.66

4. Terjadinya salah satu pihak berbuat zina.

Hal ini juga disebut dengan fakhishah, yang mana menimbulkan saling tuduh menuduh antara keduanya. Cara penyelesaiannya adalah dengan membuktikan tuduhan yang di dakwakan kepada li‟an. Li‟an sesungguhnya telah memasuki gerbang putusnya perkawinan dan bahkan untuk selama-lamanya karena akibat li‟an adalah terajdinya talak ba‟in kubra.67

d. Bentuk dan Jenis Perceraian

Perceraian yang diatur dalam Kompilasi Hukum Islam sebagai hukum hukum materil Peradilan Agama di Indonesia secara garis besar adalah cerai talak, khulu‟ dan cerai gugat. Semua perceraian ini diakui sah oleh negara jika ikrar talaknya dilangsungkan di depan sidang Pengadilan Agama dan pada akad nikah yang memiliki kekuatan hukum dengan buku akta nikah yang legal sebagi bukti.68

Macam-macam talak terdri dari : 69

66Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid Analisa Fiqih Para Mujtahid, Penerjemah Imam Ghazali Said dan Ahmad Zaidun, Penerbit Pustaka Amani,Jakarta, 2007, hal. 625.

67Ahmad Rafiq, Op.Cit., hal. 273-274.

68Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia, Akademika Pressindo, Jakarta,1992, hal. 114

69Muhamad Idris Ramulya, Hukum Perkawinan Islam, Bumi Akasara, Jakarta , 1990, hal. 154.

1) Talak Raj’i yaitutalak yang dijatuhkan oleh suami kepada istrinya yang telah dicampurinya dan masih dalam masa iddah.(Pasal 118 KHI).Jelasnya talak raj‟i adalah talak yang dijatuhkan suami kepada istrinya sebagai talak satu atau talak dua. Apabila istri berstatus iddah talak raj‟i, suami boleh rujuk dengan istrinya tanpa akad nikah yang baru, tanpa persaksian dan tanpa mahar baru pula.70

2) Talak Ba'inadalah talak yang memisahkan sama sekali hubungan suami istri. Talak bain ini terbagi menjadi dua bagianyang dapat dibedakan atas talak Ba'in shughraa dan talak Ba'in kubraa (Pasal 119 KHI):

a) Talak ba'in shughraa adalah talak yang tidak boleh dirujuk tetapi diperbolehkan akad nikah baru dengan mantan suaminya meskipun dalam masa iddah. Adapun jenis talak ba'in shughraa dapat berupa : (1) Talak yang terjadi dalam keadaan qobla al dukhul (antara suami

istri belum pernah melakukan hubungan seksual selama perkawinannya);

(2) Talak dengan tebusan atau khuluk, yaitu perceraian yang terjadi atas permintaan istri dengan memberikan tebusan (iwadi) kepada suaminya atas persetujuan suami pula.

(3) Talak yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama.

b) Talak Ba'in kubraa adalah talak yang terjadi untuk ketiga kalinya.

Talak jenis ini tidak dapat dirujuk dan tidak dapat dinikahi kembali, kecuali apabila pernikahan itu setelah mantan istri menikah dengan

70Syaikh Hassan Ayyub, Fikih Keluarga, Pustaka al-Kautsar, Jakarta, 2004, hal 231

orang lain dan kemudian terjadi perceraian ba'da al dukhul dan habis masa iddahnya (Pasal 120 KHI).

Maksudnya apabila seorang suami menceraikan istrinya dengan talak tiga, maka perempuan itu tidak boleh dikawini lagi sebelum perempuan tersebut menikah dengan laki-laki lain.71

3) Talak Sunny, yaitu talak yang diperbolehkan dan talak tersebut dijatuhkan istri yang sedang suci serta tidak dicampuri dalam waktu suci tersebut (Pasal 121 KHI).

4) Talak Bid'i, yaitu talak yang dilarang, karena talak tersebut dijatuhkan pada waktu istri dalam keadaan haid, atau isteri dalam keadaan suci tetapi sudah dicampuri pada waktu suci tersebut (Pasal 122 KHI).

5) Talak Li'an yaitu talak yang terjadi karena suami menuduh istrinya berbuat zina atau mengingkari anak dalam kandungan atau anak yang sudah lahir dari kandungan istrinya, sedangkan istrinya menolak atau mengingkari tuduhan tersebut. Jenis talak Li'an ini menyebabkan putusnya perkawinan antara suami istri untuk selama-lamanya (Pasal 125 dan Pasal 126 KHI).

Perceraian bisa terjadi karena keinginan suami ataupun istri, berdasarkan hal tersebut maka bentuk-bentuk talak perceraian adalah : 72

71Tihami, Sohari Sahrani, Fikih Munakahat, PT Rajagrofindo Persada, Jakarta, 2003, hal 231.

72Muhamad Idris Ramulya, Hukum Perkawinan Islam, Bumi Akasara, Jakarta , 1990, hal. 154.

1. Cerai Talak

Perceraian atas kehendak suami dengan alasan tertentu dan kehendaknya itu dinyatakan dengan ucapan tertentu atau tulisan dan isyarat bagi yang tidak bisa berbicara (bisu). Artinya, bubarnya perkawinan akibat perceraian dituntaskan oleh suami. Dalam hal ini suamilah yang menjatuhkan talak, sehingga perkawinan itu dinyatakan bubar.73

Perceraian yang terjadi karena talak suami kepada istrinya ditandai dengan adanya pembacaan ikrar talak, yaitu ikrar suami di hadapan sidang Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan dan dilakukan sesuai tata cara perceraian yang diatur dalam Pasal 129, 130, dan 131 (Pasal 117 KHI).

2. Khulu’

Khulu’ adalah perceraian yang disertai dengan sejumlah harta sebagai iwadh yang diberikan istri kepada suami untuk menebus diri agar terlepas dari ikatan perkawinan. Talak ini yang diucapkan oleh istri dengan mengembalikan mahar yang pernah dibayarkan oleh suaminya. Artinya tebusan (iwadh) itu dibayarkan oleh seorang istri kepada suaminya agar suaminya dapat menceraikannya.74

Khulu‟ diatur dalam kompilasi Hukum Islam yaitu pada Pasal 119 dan Pasal 124. Dalam Pasal 119 dinyatakan bahwa khulu‟ adalah talak bain sugra, di

73Jasmani, Cerai Gugat Dalam Kompilasi Hukum Islam (Sebuah Analisis Fikih Indonesia), hal. 4, dikutip dari e-jurnal.stainwatampone.ac.id

74Jasmani, Cerai Gugat Dalam Kompilasi Hukum Islam (Sebuah Analisis Fikih Indonesia), hal. 4, dikutip dari e-jurnal.stainwatampone.ac.id

mana suami tidak mempunyai hak untuk merujuk istrinya walau dalam masa iddah kecuali dengan perkawinan yang baru dan akad yang baru berdasarkan persetujuan dari masing-masing pihak. Selanjutnya, dalam Pasal 124 dinyatakan bahwa khulu‟ terjadi karena alasan-alasan perceraian sebagaimana diatur dalam Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam.

Syarat-syarat khulu‟ adalah sebagai berikut : 75

a. Kerelaan dan persetujuan, dimana khulu‟ dilakukan berdasarkan kerelaan dan persetujuan suami dan istri, dengan maksud kerelaan dan persetujuan itu tidak dapat berakibat kerugian dipihak orang lain.

b. Istri adalah seorang yang berada di wilayah si suami dalam arti istrinya atau yang telah diceraikan, namun masih berada dalam masa iddah.

c. Khulu‟ harus diridhai oleh pihak yang memberikan ganti materi.

d. Khulu‟ dengan ganti materi yang sah sebagai mahar, yaitu setiap yang sah dijadikan sebagai harga dan imbalan.

3. Cerai Gugat

Menurut hukum Islam perceraian yang berdasarkan gugatan dari salah satu pihak dan dilakukan melalui proses pengadilan, berarti bahwa perkawinan itu diputuskan oleh hakim pengadilan Agama atas permintaan salah satu pihak.

Fasakh dapat terjadi karena sebab yang datang setelah berlakunya akad.

Pengertian cerai gugat menurut Kompilasi Hukum Islam khusus pada Pasal 132 ayat 1 adalah gugatan perceraian yang diajukan istri atau kuasanya pada Pengadilan Agama yang daerah hukumnya mewilayahi tempat tinggal

75Syaikh Muhammad Al-utsaimin. Sahih Fiqih Wanita, Akbar Media Eka Sarana, Jakarta, 2009, hal. 343-344.

penggugat kecuali istri meninggalkan tempat kediaman bersama tanpa seizin suami.76

Maksud dari cerai gugat bahwa istri mengambil inisiatif untuk melakukan perceraian terhadap suaminya dengan alasan tertentu yang telah diatur dalam Pasal 116 Kompilasi Hukum Islam.

Dalam hukum Islam hak talak ini hanya diberikan kepada suami (laki-laki) yang dimaksudkan agar terjadinya perceraian lebih dapat diminimalisir daripada jika hak talak diberikan kepada istri,77 serta berbagai pertimbangan yaitu : 78

a. Talak tetap ada di tangan suami sebab suami mempunyai sikap rasional, sedangkan istri bersifat emosional.

b. Talak dijatuhkan oleh suami atau pihak lain atas nama suami, seperti Pengadilan Agama.

c. Istri berhak mengajukan talak kepada suami dengan alasan tertentu lewat qadi (Pengadilan Agama).

d. Talak bisa kembali lagi antara kedua suami istri sesuai dengan ketentuan agama.

e. Bagi mantan istri ada masa iddah dan memiliki hak menerima mut’ah dan nafkah dari mantan suami.

76Abdul Manan dan M. Fauzan, Pokok-Pokok Hukum Perdata Wewenang Pengadilan Agama, Raja Grafindo Persada, 2002, hal. 51

77Abdul Ghofur Anshori, Hukum Perkawinan Islam (Perspektif Fikih dan Hukum Positif), UII Press,Yogyakarta, 2011, hal. 105-106.

78Slamet Abidin, Aminuddin, Fiqih Munakahat 2, Cetkan 1, Cv Pustaka Setia, Bandung, 1999, hal. 16

d. Perceraian Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

1. Pengertian Perceraian

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak terdapat pengertian tentang perceraian, hanya mengatur tentang putusnya perkawinan serta akibatnya. Pasal 38 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatur tentang putusnya perkawinan yang menyatakan bahwa:

“perkawinan dapat putus karena : a. Kematian;

b. Perceraian;

c. Atas putusan Pengadilan.

Putusnya perkawinan karena kematian salah satu pihak dari suami atau istri maksudnya adalah apabila salah seorang dari kedua suami istri itu meninggal dunia, maka perkawinannya putus karena adanya kematian tersebut. Atau perkawinan terhapus jikalau salah satu pihak meninggal.79

Putusnya perkawinan karena kematian salah satu pihak dari suami atau istri maksudnya adalah apabila salah seorang dari kedua suami istri itu meninggal dunia, maka perkawinannya putus karena adanya kematian tersebut. Atau perkawinan terhapus jikalau salah satu pihak meninggal.79