BAB 1 PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
Metode (Inggris: method, Latin: methodus, Yunani: methodos-meta berarti sesudah, diatas, sedangkan hodos, berarti suatu jalan, suatu cara). Mula-mula metode diartikan secara harfiah sebagai suatu jalan yang harus ditempuh, menjadi penyelidikan atau penelitian berlangsung menurut suatu rencana tertentu.40
Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisanya, disamping itu juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahannya yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan.41
1. Jenis Penelitian dan Sifat Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam tesis ini adalah penelitian yuridis normatif yaitu penelitian hukum yang menggunakan sumber data sekunder atau data yang diperoleh melalui bahan-bahan pustaka dengan meneliti sumber-sumber bacaan yang relevan dengan tema penelitian, meliputi penelitian terhadap asas-asas hukum, sumber-sumber hukum, teori hukum, buku-buku, peraturan perundang-undangan yang bersifat teoritis ilmiah serta dapat menganalisa
39Pasal 1 ayat (8) Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 4 Tahun 2014 tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan Pengesahan Badan Hukum Dan Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar dan Perubahan Data Perseroan Terbatas
40Tampil Anshari Siregar, Metodologi Penelitian Hukum Penulisan Skripsi, (Medan : Pustaka Bangsa Press, 2005), hal. 15.
41Suratman dan Philips Dillah, Metode Penelitian Hukum, (Bandung : Alfabeta, 2013), hal. 31.
permasalahan yang dibahas.42
Penelitian hukum normatif dikonsepkan sebagai apa yang tertulis di dalam peraturan perundang-undangan (law in the books) atau hukum yang dikonsepkan sebagai kaidah atau norma yang merupakan patokan berprilaku manusia yang dianggap pantas.43
Dalam hal ini dilakukan studi pustaka yang segala sesuatunya berkaitan dengan pengaturan hukum mengenai Akibat Hukum Terhadap Perseroan Terbatas atas Keterlambatan Pengajuan Permohonan Persetujuan dan Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar Pada Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia.
Penelitian ini juga bersifat deskriptif analitis, artinya bahwa penelitian ini termasuk lingkup penelitian yang menggambarkan, menelaah dan menjelaskan secara tepat serta menganalisis peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan akibat hukum terhadap Perseroan Terbatas atas keterlambatan pengajuan permohonan persetujuan dan pemberitahuan perubahan anggaran dasar pada Menteri Hukum dan HAM.
2. Sumber Data Penelitian
Berhubung karena metode penelitian adalah penelitian hukum normatif maka sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari bahan penelitian yang berupa bahan-bahan hukum, yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier, seperti:
a. Bahan Hukum Primer yaitu bahan-bahan hukum atau dokumen peraturan yang mengikat dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang berupa bahan pustaka
42Johny Ibrahim, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, (Malang : Bayu Media Publishing, 2008), hal. 25-26.
43Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : UI Pers, 2007), hal. 43.
yang berisikan peraturan Perundang-undangan, yang antara lain terdiri dari:
1. Kitab Undang-undang Hukum Perdata;
2. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas;
3. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris;
4. Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan Pengesahan Badan Hukum dan Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar Serta Penyampaian Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar dan Perubahan Data Perseroan Terbatas.
b. Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan yang erat kaitannya dengan bahan hukum primer berupa buku-buku yang berhubungan dengan objek yang diteliti.
c. Bahan hukum tersier, yakni yang memberikan informasi lebih lanjut mengenai bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum dan kamus besar Bahasa Indonesia.44
Selain data sekunder sebagai sumber data utama, dalam penelitian ini juga digunakan data pendukung yang diperoleh dari wawancara dengan pihak yang telah ditentukan sebagai informan yaitu pada Kantor Notaris di Medan.
3. Teknik Pengumpulan Data
Adapun untuk mendapatkan data yang diperlukan, pengumpulan data dilakukan melalui tahap-tahap penelitian antara lain sebagai berikut:
a. Studi Kepustakaan (Library Research)
Studi kepustakaan yaitu menghimpun data dari hasil penelaahan bahan
44Ibid., hal. 23-24.
pustaka atau data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Untuk memperoleh data sekunder yang berupa bahan hukum primer, hukum sekunder dan hukum tersier dalam penelitian ini akan menggunakan alat penelitian studi dokumen/pustaka atau penelitian pustaka (library research) yaitu dengan cara mengumpulkan semua peraturan Perundang-undangan, dokumen-dokumen hukum dan buku-buku yang berkaitan dengan rumusan masalah penelitian.45
b. Pedoman Wawancara
Wawancara adalah situasi peran antar pribadi bertatap muka, ketika seseorang yakni pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban-jawaban yang relevan dengan masalah penelitian tesis ini kepada seorang responden.46
Jenis wawancara ada 3 (tiga), yaitu :
1. Wawancara bebas yaitu pewanwancara bebas menayakan apa saja, tetapi juga mengingat akan data yang dikumpulkan;
2. Wawancara terpimpin yaitu wawancara yang dilakukan oleh pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan dan terperinci; dan
3. Wawancara bebas terpimpin yaitu wawancara yang di kombinasi antara wawancara bebas dan terpimpin.47
Jenis wawancara yang akan digunakan dalam tesis ini adalah wawancara
45Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010), hal. 156-159.
46Amiruddin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006), hal.82.
47Moh. Yamin, Pelatihan Peningkatan Kaulitas Penelitian Hukum : Metode Penelitian Hukum Normatif dan Empirik serta Aplikasinya, (Surakarta : Fakultas Hukum UNS, 2007), hal.4.
bebas terpimpin, dengan menyiapkan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan sebagai pedoman wawancara, tetapi tidak menutup kemungkinan juga adanya pertanyaan lain yang sesuai dengan kebutuhan tesis ini.
Hasil wawancara yang diperoleh akan digunakan sebagai data pendukung dalam penelitian ini. Data tersebut diperoleh dari pihak-pihak yang telah ditentukan sebagai informan yaitu Notaris Suprayitno,S.H., M.Kn di Medan, dan Notaris Indira Teratai Anniezoen Harahap, S.H di Kota Medan.
4. Analisis Data
Dalam suatu penelitian sebelumnya perlu disusun secara sistematis kemudian akan dianalisis dengan menggunakan prosedur logika ilmiah yang sifatnya kualitatif. Kualitatif berarti akan dilakukan analisa data yang bertitik tolak dari penelitian terhadap asas atau prinsip sebagaimana yang diatur di dalam bahan hukum primer.48
Semua data sekunder yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (libraryresearch) kemudian disusun secara berurutan dan sistematis dan selanjutnya dianalisa dengan menggunakan metode kualitatif sehingga diperoleh gambaran secara menyeluruh tentang gejala dan fakta yang terdapat dalam masalah yang akan diteliti. Selanjutnya ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode deduktif, yaitu cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang umum untuk selanjutnya menarik hal-hal yang khusus dengan menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum seperti teori-teori, dalil-dalil atau prinsip-prinsip dalam bentuk proposisi-proposisi untuk menarik kesimpulan terhadap fakta-fakta yang bersifat khusus.49
48Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 2009), hal. 105.
49Mukti Fajar ND dan Yulianto Achmad, Op.Cit., hal. 109.
BAB II
PERAN DAN TANGGUNG JAWAB NOTARIS TERHADAP PERUBAHAN ANGGARAN PERSEROAN TERBATAS
A. Pemberlakuan Sistem Administrasi Badan Hukum (SABH) Secara Elektronik Dalam Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas
Dalam rangka memenuhi tuntutan masyarakat untuk memperoleh layanan yang cepat, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas mengatur tata cara :
1. Pengajuan permohonan dan pemberian pengesahan status badan hukum;
2. Pengajuan permohonan dan pemberian persetujuan perubahan anggaran dasar;
3. Penyampaian pemeberitahuan dan penerimaan pemberitahuan perubahan anggaran dasar atau pemberitahuan dan penerimaan pemberitahuan perubahan data lainnya.50
Selanjutnya Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, khususnya Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum, mempunyai unit kerja yang mempunyai tugas untuk menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang pelayanan administrasi hukum umum. Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum terdiri dari :
1. Sekretariat Direktorat Jenderal;
2. Direktorat Perdata;
3. Direktorat Pidana;
4. Direktorat Tata Negara;
5. Direktorat Otoritas Pusat dan Hukum Internasional, dan;
6. Direktorat Teknologi Informasi.51
50Penjelasan Umum Atas Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Direktorat yang berperan dalam Sistem Administrasi Badan Hukum, yaitu:
a. Direktorat Perdata yang mempunyai fungsi sebagai pelaksana kebijakan, menganalisa, pertimbangan, dan penyusunan struktur akses.
b. Direktorat Teknologi Informasi yang mempunyai fungsi sebagai pengelola teknis perangkat keras dan perangkat lunak, jaringan dan fasilitas akses seperti log ini, password, dan open-close acces.52
Direktorat Perdata berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 29 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, terdiri dari :
1. Subdirektorat Hukum Perdata Umum;
2. Subdirektorat Badan Hukum;
3. Subdirektorat Jaminan Fidusia;
4. Subdirektorat Harta Peninggalan dan Kurator Negara;
5. Subdirektorat Notariat.
Subdirektorat badan hukum mempunyai unit kerja yang memberikan pelayanan jasa hukum kepada masyarakat di bidang badan hukum yang salah satunya berbentuk Perseroan Terbatas. Pelayanan tersebut dilaksanakan dalam suatu sistem yang disebut dengan Sistem Administrasi Badan Hukum (SABH).
Sistem Administrasi Badan Hukum yang dahulu disebut dengan SISMINBAKUM memiliki berbagai macam pengertian. SISMINBAKUM adalah sistem komputerisasi dalam proses pengesahan dan/atau persetujuan pendirian
51Pasal 284 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 29 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.
52EDITED_Paparan-Direktur-acara-PPATK-versi-tambahan-2.pdf, diakses pada tanggal 6 Februari 2017.
suatu badan hukum oleh Direktorat Jendral Administrasi Badan Hukum Umum Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia.53
SISMINBAKUM merupakan jenis pelayanan jasa hukum yang diberikan kepada masyarakat dunia usaha dalam proses pengesahan badan hukum Perseroan Terbatas, pemberian persetujuan dan perubahan anggaran dasar Perseroan Terbatas, penerimaan pemberitahuan perubahan anggaran dasar Perseroan Terbatas dan perubahan data Perseroan Terbatas serta pemberitahuan informasi lainnya secara elektronik melalui jaringan komputer dan internet yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum disingkat dengan DITJEN AHU pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.54
Perkembangan teknologi informasi telah menyebabkan aktivitas di berbagai sektor kehidupan, khususnya di bidang sosial dan ekonomi, berkembang semakin cepat dan pesat. Bahkan hubungan-hubungan di internasional, boleh dikatakan telah memasuki suatu masyarakat yang beriorentasi kepada informasi.
Hubungan-hubungan melalui teknologi informasi tersebut tidak lagi secara fisik sebagaimana yang terjadi selama ini, namun interaksi tersebut sudah secara virtual atau cyberspace.55
Keseluruhan informasi yang dikomputerisasikan tersebut perlu dikembangkan menurut standar tertentu, sehingga perangkat sistem yang
53Muhammad Azhari dan Rudi Indrajaya, Mengenal Sisminbakum, Cetakan II, (Bandung : Cv Dinamikan Putra, 2001), hal.17
54Iswi Hariyani, R.Serfianto Dibyo Purnomo, Cita Yustisia Serfiyani, Panduan Praktis SABH, (Jakarta : Pustaka Yustisia, 2011), hal.13.
55E.Saefullah Wiradipraja, Perspektif Hukum Internasional Tentang Cyberlaw, (Jakarta : ELIPS, 2002), hal.89.
dikembangkan bersifat computable satu sama lain dan dapat saling terkait dalam jaringan sistem informasi yang integritas secara nasional melalui sistem otomatis elektronik.56
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka pemberlakuan SABH atau SISMINBAKUM dimulai pada pada tanggal 4 Oktober 2000 berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman dan HAM RI Nomor M-01.HT.01.01 Tahun 2000.
Pemberlakuan SABH didasarkan atas pertimbangan untuk mengantisipasi perkembangan bisnis yang sangat cepat dan kompetitif di era globalisasi ini.
Dalam era globalisasi ini diperlukan peningkatan fungsi pelayanan jasa hukum di lingkungan DITJEN AHU guna mendukung kemajuan dunia usaha di tanah air.
Dengan adanya sistem online melalui SABH, pengurusan badan hukum Perseroan Terbatas diharapkan dapat lebih cepat, lebih mudah, lebih murah dan lebih terbuka.57
Perubahan SISMINBAKUM menjadi Sistem Administrasi Badan Hukum (SABH) merupakan bentuk optimalisasi pelayanan hukum oleh pemerintah kepada masyarakat yang dilakukan dengan menggunakan jejaring teknologi informasi online. Dimana Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia khususnya Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum terus bergerak memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.58
Menurut Daulat Pandapotan Silitonga, SH, M.Hum menyatakan bahwa Sistem Adminitrasi Abdan Hukum adalah pelayanan jasa hukum pengesahan
56Asri Sitompul, Hukum Internet, Pengenalan Mengenai Masalah Hukum di Cyberspace, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 2001), hal.89.
57Ibid., hal.14.
58SABH-NG Menjawab Tantangan Zaman, Diapresiasi Banyak Negara, Majalah Renvoi Nomor 7/79, Desember, Th 07/2009.
badan Perseroan, Yayasan, dan Perkumpulan dengan menggunakan sistem teknologi informasi secara elektronik dan dapat diakses melalui secara online yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum.59
Sistem Administrasi Badan Hukum ini dipergunakan sebagai pengelolaan, baik di dalam pengurusan akta perusahaan sampai pengesahannya maupun perubahan anggaran dasar Perseroan Terbatas. Sistem ini akan terus berkembang dengan pengembangan ke aplikasi keseluruh instansi yang terkait, sehingga pada akhirnya seluruh proses yang berhubungan dengan pengurusan dan eksistensi perusahaan dapat dilakukan dengan menggunakan pelayanan satu atap yang akan mempermudah para Notaris dalam proses pengadministrasian dan pendaftaran badan hukum.
Sistem online bukan saja untuk meningkatkan pelayanan Notaris dalam pengesahan perseroan terbatas tetapi juga untuk membantu kinerja Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia dalam mengadministrasi dan mengembangkan suatu penyimpanan data-data tentang Perseroan Terbatas, agar lebih tertib administrasi dan lebih mudah untuk melakukan penelusuran data serta badan hukum lainnya.
B. Anggaran Dasar dan Perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dalam Pasal 1 angka 1 mendefinisikan Perseroan Terbatas sebagai :
“Badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang
59EDITED_Paparan-Direktur-acara-PPATK-versi-tambahan-2.pdf, diakses pada tanggal 6 Februari 2017.
seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya”.
Mengenai pendirian Perseroan Terbatas pada dasarnya telah diatur dalam ketentuan Pasal 7 sampai dengan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Salah satunya adalah Perseroan Terbatas didirikan berdasarkan perjanjian. Oleh karena itu untuk dapat mendirikan sebuah Perseroan Terbatas, paling sedikit harus ada 2 (dua) orang yang berjanji satu sama lainnya, sebagaimana yang dimaksud dengan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyatakan bahwa :
“Perseroan didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih dengan akta Notaris yang dibuat dalam bahasa Indonesia”. Bentuk nyata dari perjanjian tersebut adalah anggaran dasar, anggaran dasar Perseroan Terbatas pada dasarnya merupakan pedoman dasar atau aturan main dalam menjalankan kegiatan dan mengelola Perseroan Terbatas. Anggaran dasar Perseroan Terbatas merupakan hasil kesepakatan para pendiri yang dibuat berdasarkan akta Notaris.60
Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menyebutkan bahwa : “Akta pendirian memuat anggaran dasar dan keterangan lain berkaitan dengan pendirian Perseroan”. Akta pendirian harus memuat anggaran dasar Perseroan yang rumusan dan keterangannya meliputi : a. Telah disepakati oleh para pendiri; dan
b. Dengan ketentuang anggaran dasar tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas termasuk dengan ketentuan pelaksanaannya.
60Mans.Sastrawidjaja dan Rai Mantili, Perseroan Terbatas Menurut 3 Undang-Undang, (Bandung : Alumni Cetakan Ke-1, 2008), hal.64.
Akta pendirian yang tidak memuat anggaran dasar tidak memenuhi syarat materil, oleh karena itu akta pendirian tersebut meskipun berbentuk akta Notaris tidak akan sah dan tidak dapat dijadikan dasar untuk memberi pengesahan Perseroan sebagai badan hukum.
Dalam Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, menyatakan bahwa anggaran dasar Perseroan Terbatas sekurang-kurangnya memuat :
a. Nama dan tempat kedudukan Perseroan Terbatas;
Mengenai nama dan tempat kedudukan Perseroan telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, antara lain:
1. Mengenai cara pencantuman nama Perseroan sesuai dengan Pasal 16 ayat (2) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yaitu : nama Perseroan harus di dahului dengan frase “Perseroan Terbatas”
atau disingkat dengan “PT”, dan sedangkan untuk Perseroan Terbuka, selain pada awal didahului frase “Perseroan Terbatas” atau “PT” pada akhir nama Perseroan juga ditambahkan atau ditulis kata singkatan
“Tbk”.61Perseroan tidak boleh menggunakan nama yang :
a) Telah dipakai secara sah oleh Perseroan lain atau sama pada pokoknya dengan nama Perseroan lain;
b) Bertentangan dengan ketertiban umum dan/atau kesusilaan;
c) Sama atau mirip dengan nama lembaga negara, lembaga pemerintah atau lembaga internasional kecuali telah mendapat izin dari yang bersangkutan;
d) Tidak sesuai dengan maksud dan tujuan serat kegiatan usaha;
e) Terdiri atas angka atau rangkaian angka, huruf atau rangkaian huruf yang tidak membentuk kata, atau;
61I.G. Rai Widjaya, Hukum Perusahaan,Cetakan ke-7, (Jakarta : Kesaint Blanc, 2007),hal.166.
f) Mempunyai arti sebagai Perseroan, badan hukum atau persekutuan perdata.62
2. Tempat Kedudukan, terdiri dari :
a) Tempat kedudukan harus berada dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI);
b) Tempat kedudukan sekaligus menjadai kantor pusat dan alamat Perseroan;
c) Tempat kedudukan selain di Ibu Kota negara atau provinsi, dapat juga di daerah Kota atau Kabupaten, bahkan dapat bertempat kedudukan di desa atau di kecamatan sesuai dengan penjelasan Pasal 17 ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentan Perseroan Terbatas;
d) Tempat kedudukan merupakan domisili hukum (legal domicile) yang sah demi Perseroan;
e) Tempat kedudukan merupakan yuridiksi hukum (legal jurisdiction) bagi Perseroan melakukan kegiatan usaha;
f) Tempat kedudukan merupakan tempat utama (principal place) bagi Perseroan mengatur pelaksanaan maksud dan tujuan serta kegiatan usaha.
b. Maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan Terbatas
Substansi lain yang harus diatur dan dicantumkan dalam anggaran dasar adalah maksud dan tujuan serta kegiatan usaha. Ketentuan tentang pencantuman ini telah ditegaskan dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Perseroan harus mempunyai maksud dan tujuan serta kegiatan usaha yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, ketertiban umum dan/atau kesusilaan. Aspek hukum yang menyangkut dengan maksud dan tujuan tersebut, antara lain :
1. Pencantuman maksud dan tujuan serta kegiatan usaha dalam anggaran dasar bersifat imperatif;
2. Pencantuman maksud dan tujuan memegang fungsi prinsipil untuk membatasi kapasitas Perseroan atau pengurus Perseroan melakukan tindakan hukum;
3. Cara pencantuman maksud dan tujuan berdasarkan teori dan praktrik;
4. Maksud dan tujuan yang dilarang;
62M.Yahya Harahap, Op.Cit., hal.193.
5. Perubahan maksud dan tujuan, termasuk perubahan anggaran dasar tertentu yang harus mendapat Keputusan Persetujuan Menteri;
6. Tindakan yang tidak sesuai dengan maksud dan tujuan dikategorikan sebagai “ultra vires”;
7. Setiap pemegang saham berhak mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri terhadap tindakanm ultra vires yang dilakukan oleh Perseroan.63
c. Jangka waktu berdirinya Perseroan
Pasal 6 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas menegaskan bahwa :
“Jangka waktu Perseroan didirikan untuk jangka waktu terbatas atau tidak terbatas sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar”.64
Mengenai hal ini jangka waktu berdirinya Perseroan, antara lain :
1. Cara menyatakan jangka waktu berdirinya Perseroan, dalam anggaran dasar boleh terbatas untuk jangka waktu tertentu dan boleh juga untuk jangka waktu tidak terbatas;
2. Perubahan jangka waktu merupakan perubahan anggaran dasar tertentu yang harus mendapat Keputusan Persetujuan Menteri;
3. Permohonan persetujuan perubahan anggaran dasar mengenai jangka waktu.65
d. Besarnya jumlah modal dasar, modal yang ditempatkan, dan modal yang disetor
Modal dasar Perseroan pada prinsipnya merupakan total jumlah saham yang dapat diterbitkan oleh Perseroan. Anggaran dasar sediri yang menentukan berapa banyak jumlah saham yang dijadikan modal dasar. Menurut Pasal 31 Undang-Undang Perseroan Terbatas bahwa :
1. Modal dasar Perseroan terdiri atas seluruh nominal saham;
63Ibid., hal.194.
64Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007 tentang Peseroan Terbatas.
65Rudhi Prasetya, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas, (Jakarta : Pradnya Paramita, 2005), hal.77.
2. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak menutup kemungkinan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal mengatur modal Perseroan terdiri atas saham tanpa nominal.
Aspek hukum yang berkenaan dengan modal dasar Perseroan, antara lain : 1. Jumlah modal dasar harus disebut dalam anggaran dasar;
2. Batas minimal modal dasar adalah jumlah yang paling rendah yang dibenarkan oleh undang-undang dicantumkan dalam anggaran dasar, apabila kurang dari jumlah batas minimum tersebut tidak dibenarkan.
Dalam Pasal 32 ayat (1) menyatakan modal dasar Perseroan paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah);
3. Undang-undang yang mengatur kegiatan usaha tertentu, dapat menentukan jumlah minimum yang lebih besar;
4. Perubahan besarnya modal dasar, merupakan perubahan anggaran dasar tertentu.66
Modal ditempatkan merupakan salah satu struktur modal Perseroan. Modal ditempatkan adalah jumlah saham yang sudah diambil pendiri atau pemegang saham, dan saham yang diambil itu ada yang sudah dibayar dan ada pula yang belum dibayar.67 Berdasarkan Pasal 33 ayat (1) Undang-Undang Perseroan Terbatas, “paling sedikit 25% (dua puluh lima) persen dari modal dasar, harus ditempatkan”.
Struktur modal Perseroan yang ketiga adalah modal disetor, yakni saham yang telah dibayar penuh oleh pemegang atau pemiliknya. Jadi modal disetor adalah modal yang sudah dimasukkan pemegang saham sebagai pelunasan pembayaran saham yang diambilnya sebagai modal yang ditempatkan dari modal dasar Perseroan. Pasal 33 ayat (1) menyatakan bahwa “paling sedikit 25% (dua puluh lima) persen dari modal dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 harus ditempatkan dan disetor penuh”.
66M.Yahya Harahap, Op.Cit., hal.233-234.
67Achmad Ihsan, Hukum Dagang Lembaga Peserikatan, Surat-Surat Berharga, Aturan-aturan angkutan, (Jakarta : Pradya Paramita, 1987), hal.167
e. Jumlah saham, jumlah klasifikasi saham apabila ada berikut jumlah saham
e. Jumlah saham, jumlah klasifikasi saham apabila ada berikut jumlah saham