BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.12. Kerangka Konseptual
Penderita yang membutuhkan ventilasi mekanik karena gagal napas
Intubasi endotracheal tube dan
menggunakan ventilator invasif
1. Aspirasi organisme patogen 2. Inhalasi organisme patogen
Kolonisasi terjadi 24 jam pertama
Infeksi berkembang setelah 48 jam
Pengambilan sampel
Endotracheal aspirate Bronchoalveolar lavage
dengan cara selang kateter dengan cara bronkoskopi serat optik lentur
BAB 3
MANAJEMEN PENELITIAN
3.1. Desain
Penelitian ini dilakukan dengan cara Cross Sectional yang bersifat deskriptif.
3.2. Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilakukan di unit perawatan intensif (UPI) RSU. H. Adam Malik Medan. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan yaitu pada tangal 4 Mei 2010 sampai dengan 7 Agustus 2010 atau bila jumlah sampel sudah tercapai.
3.3. Populasi dan Sampel
3.3.1. Populasi
Semua penderita laki-laki dan perempuan dewasa yang menggunakan ventilator setelah 48 jam di unit perawatan intensif rumah sakit.
3.3.1.1. Populasi terjangkau
Penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam di unit perawatan intensif RSU. H. Adam malik Medan.
3.3.2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang memenuhi kriteria penderita yang diterima dan penderita yang ditolak serta dipilih secara non random consecutive.
3.4. Perkiraan Besar Sampel
n =
Keterangan:
• Zά = nilai baku normal dari tabel Z yang nilainya tergantung dari nilai ά untuk nilai ά 0,05, maka Zά = 1,96
• Z β = nilai baku normal dari tabel Z yang nilainya tergantung dari nilai β untuk nilai β 0,15, maka Zβ = 1,036
• Po = Proporsi penderita penderita VAP sebelumnya, nilainya adalah 8,6%, dalam angka desimal adalah 0,086.
• Qo = 1 – Po = 1 – 0,086 = 0,914
• Pa = Proporsi penderita VAP yang sekarang, nilainya adalah 14,8%, dalam angka desimal adalah 0,148
• Qa = 1 – Pa = 1 – 0,148 = 0,852
• Pa – Po adalah selisih proporsi yang diinginkan oleh peneliti, diambil nilainya adalah 20%, dalam angka desimal adalah 0,20.
• n = [1,96 √ (0,086) (0,914) + 1,036 √ (0,148) (0,852) ]2 ( 0,20)2
n = 0,549513536 + 0,367883585 0,04
n = 0,917397121 = 22,934928025 ~ 23 0,04
[Zα √PoQo + Zβ √PaQa]2
Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 23 orang.
3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
3.5.1. Kriteria inklusi
1. Seluruh penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan.
2. Umur penderita diatas 15 tahun
3.5.2. Kriteria eksklusi
1. Penderita yang meninggal 24 jam setelah menggunakan ventilator.
2. Penderita yang diektubasi sebelum 48 jam.
3. Penderita yang mempunyai kelainan anatomi
3.6. Cara Kerja
Semua penderita yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak terdapat kriteria eksklusi.
Penderita yang memenuhi kriteria kemudian dilakukan tindakan pengambilan endotracheal aspirate secara aseptik menggunakan selang kateter yang steril dengan mesin alat penghisap.
Penghisapan endotracheal aspirate dilakukan pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dan mempergunakan selang kateter yang berbeda pada setiap penderita serta teknik pengambilan dengan cara sebagai berikut :
Selang kateter dimasukan melalui pipa endotrakea atau trakeostomi dan kemudian dilakukan penghisapan pertama dari endotracheal aspirate, lalu dikeluarkan kedalam botol penampung untuk menghindari kontaminasi, sedangkan penghisapan yang kedua, selang kateter yang mengandung endotracheal aspirate dipotong dan diletakkan ke
dalam pot yang steril yang kemudian ditutup dengan almunium poil dan segera dikirim ke laboratorium Mikrobiologi RSU. H. Adam Malik untuk dilakukan pemeriksaan kultur endotracheal aspirate dan uji sensitiviti.
Kemudian dilanjutkan dengan tindakan pengambilan secara aseptik menggunakan bronkoskopi serat optik lentur yang sudah disterilkan dengan menggunakan Ortho-phthaldehyde (Cidex OPA) selama 20 menit setiap akan melakukan tindakan menggunakan bronkoskopi serat optik lentur. Tindakan bronkoskopi dilakukan pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam. Penggunaan bronkoskopi serat optik lentur yang telah disterilkan pada setiap penderita dan teknik bronkoskopi dengan cara sebagai berikut :
Bronkoskopi serat optik lentur dimasukan melalui pipa endotrakea atau trakeostomi, setelah bronkoskop berada pada daerah yang diinginkan, sesuai dengan tujuan pemeriksaan lalu dibilas dengan cara memasukan cairan NaCl 0,9% sebanyak 100-150 ml yang kemudian segera dihisap kembali. Cairan yang dihisap ditampung dalam wadah penampung khusus yang dipasang pada bronkoskopi serat optik lentur.
Tindakan tersebut diulang sampai dirasakan sudah didapati bahan pemeriksaan dan bahan pemeriksaan diletakkan ke dalam pot yang steril yang kemudian ditutup dengan almunium poil dan segera dikirim ke laboratorium Mikrobiologi RSU. H. Adam Malik untuk dilakukan pemeriksaan kultur cairan bronchoalveolar lavage dan uji sensitiviti.
Dan kemudian dilakukan penentuan jenis kuman.
a. Penentuan jenis kuman dengan cara isolasi bahan sampel yang diambil kemudian ditanam pada media agar darah, media Mac Conkey. Selanjutnya dimasukkan kedalam inkubator pada suhu 370C (Celsius) dan keesokan harinya ada pertumbuhan koloni dilanjutkan identifikasi kuman dengan perwarnaan gram.
b. Uji sensitiviti (kepekaan) bakteri terhadap antibiotik dilakukan dengan metode difusi cakram.
3.6.1. Kerangka Operasional
3.7. Identifikasi Variabel 3.7.1. Variabel bebas
a. Tindakan bronchoalveolar lavage (BAL) dengan cara bronkoskopi serat optik lentur.
b. Tindakan endotracheal aspirate (EA) dengan cara selang kateter.
3.7.2. Variabel terikat
Pola kuman dan uji sensitiviti Penderita yang
menggunakan ventilator invasif
t l h 48 j
Pola kuman dan uji sensitiviti Tindakan bronchoalveolar lavage
(BAL) dengan cara bronkoskopi serat optik lentur
Tindakan endotracheal aspirate (EA) dengan cara selang kateter
3.8. Definisi Operasional
a. Penderita yang menggunakan ventilator invasif adalah seseorang yang mengalami gagal napas dan memerlukan bantuan ventilasi mekanik (ventilator) untuk mengantikan fungsi paru dalam hal ventilasi.
b. Kultur endotracheal aspirate adalah proses memperbanyak organisme dengan memberikan keadaan lingkungan yang tepat dengan cara isolasi bahan sampel yang di ambil kemudian ditanam pada media agar darah, media Mac Concay.
c. Pola kuman merupakan gambaran kuman yang paling sering muncul.
d. Uji sensitiviti adalah untuk mengetahui kuman yang masih sensitif terhadap suatu antibiotik.
3.9. Bahan dan Alat
Bahan dan alat di gunakan pada penelitian ini :
1. Satu set peralatan bronkoskopi serat optik lentur:
Olympus BF type 1T30.
2. Selang kateter penghisap (suction).
3. Sarung tangan.
4. Masker.
5. Media tempat meletakkan cairan.
6. Kain penutup mata.
7. Cairan NaCl 0,9% hangat.
8. Spuit 20 cc
3.10. Manajemen dan Analisis Data
3.10.1. Sumber Data
Data diperoleh dari pemeriksaan kultur endotracheal aspirate dan uji sensitiviti yang dilakukan di Mikrobiologi RSU. H. Adam Malik Medan.
3.10.2. Metode Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data
Penelitian berupa pengambilan endotracheal aspirate dari saluran napas pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dan selang kateter.
3.10.3. Pengolahan Data
a. Editing
editing dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan data yang telah dikumpulkan dan bila terjadi kesalahan akan diperbaiki dan didata ulang.
b. Data
Data yang terkumpul dikoreksi ketepatannya dan kelengkapannya serta diberi kode untuk mempermudah pengelompokan data dan membaca hasil.
3.10.4. Analisa Data
Pada penelitian ini data dideskripsikan dan disajikan dalam bentuk tabulasi.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan selama 3 (tiga) bulan terhadap 23 orang penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam yang dirawat di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan dan telah dilakukan tindakan pengambilan endotracheal aspirate dengan cara selang kateter dan bronkoskopi serat optik lentur serta telah dilakukan pemeriksaan kultur dan kemudian dilakukan uji kepekaan terhadap hasil kultur.
4.1.1.Karakteristik Subjek Penelitian
Pada penelitian ini tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan serta penyakit yang mendasarinya, tetapi yang mau diketahui hanya pola kuman yang terbanyak dan yang sensitif serta resisten terhadap antibiotik pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara selang kateter dan bronkoskopi serat optik lentur di unit perawatan intensif RSU.
H. Adam Malik Medan.
Pada tabel 10 didapatkan karakteristik penderita menurut umur yang paling banyak adalah pada umur 41-60 tahun yaitu 10 orang (43,5%) dan umur yang paling sedikit yaitu pada umur kurang dari 20 tahun yaitu 2 orang (8,7%).
Karakteristik jenis kelamin penderita terbanyak adalah laki-laki sebanyak 13 orang (56,5%), sedangkan perempuan sebanyak 10 orang (43,5%) yang dapat dilihat pada tabel 11.
Karakteristik diagnosis penyakit pada penelitian ini paling banyak adalah post operation ventricel peritoneal shunt atas indikasi intra cranial haemorragic sebanyak 3 orang (13,1%) yang dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 10. Karateristik Penderita Berdasarkan Umur
Umur Jumlah (n) %
< 20 tahun 2 8,7
21-40 tahun 6 26,1
41-60 tahun 10 43,5
> 60 tahun 5 21,7
Total 23 100,0
Tabel 11. Karateristik Penderita Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah (n) %
Laki-laki 13 56,5
Perempuan 10 43,5
Total 23 100,0
Tabel 12. Karakteristik Penderita Berdasarkan Diagnosis
Diagnosis Jumlah (n)
%
Post Op. VP shunt a/i Hydrochepalus 1
4,34
Post Op. VP shunt a/i ICH 3
13,12
Post OP. Craniotomy a/i EDHT 2
8,70
Urosepsis ec. Abces pelvic 1
4,34
Post Op. Laparatomy a/i. Myoma uteri 1
4,34
Post Op. Borhole a/i. SDH 1
4,34
Respiratory Failure ec. PPOK eksaserbasi akut 2
8,70
Post Curetase a/i. Molahydatidosa 1
4,34
Post Op. Laparatomy a/i. Gaster perforasi 1
4,34
Post Op. SC a/i. Eklamsi + GGA 1
4,34
Stroke iskemik + PJK 1
4,34
Post Op. Craniotomy a/i. ICH 2
8,70
Post Op. Colonostomy a/i. Ileus obstruktif 1
4,34
Tumor Paru 1
4,34
Post Op. VP shunt a/i. Tumor otak 2
8,70
Glioblastoma multiple 1
4,34
Brain Stem Aneurisma 1
4,34
Total
23
100,00
4.1.2. Pemberian Antibiotik saat masuk UPI
Penderita yang masuk ke UPI RSU. H. Adam Malik umumnya sudah mendapatkan antibiotik sebelum didapatkan hasil kultur dan uji sensitiviti yang dapat dilihat pada tabel 13.
Tabel 13. Pemberian Antibiotik saat di UPI
Jenis Antibiotik Jumlah (n) %
Cefotaxime 6
26,10
Cefotaxime dan Ciprofloxacin 4
17,40
Cefotaxime dan Metronidazol 1
4,34
Cefotaxime dan Gentamicin 1
4,34
Meropenem 2
8,70
Meropenem dan Metronidazol 2
8,70
Ceftazidim dan Ciprofloxacin 2
8,70
Ceftazidim dan Metronidazol 1
4,34
Ceftriaxon 2
8,70
Ceftriaxon dan Metronidazol 1
4,34
Cefoperazone/Sulbactam 1
4,34
Total
23
100,00
4.1.3. Mikroorganisme yang di Isolasi dari Endotracheal Aspirate pada Penderita yang Menggunakan Ventilator setelah 48 jam dengan Cara Selang Kateter dan
Bronkoskopi Serat Optik Lentur
Mikroorganisme yang didapat dari hasil isolasi endotracheal aspirate yang diambil dengan cara selang kateter dijumpai pola kuman yang paling banyak adalah Citrobacter diversus 17,4% (n. 4) dan tidak dijumpai kuman sebanyak 26,1% (n.6), sedangkan yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dijumpai pola kuman yang paling banyak adalah Klebsiella pneumonia 21,7% (n.5) dan tidak dijumpai kuman sebanyak 8,7% (n.2) yang dapat dilihat pada tabel 14.
Pada tabel 15 dari hasil isolasi endotracheal aspirate yang diambil dengan cara selang kateter dijumpai pertumbuhan jamur yang paling banyak adalah Candida albican 7,8% (n.2), sedangkan yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dijumpai pertumbuhan jamur paling banyak adalah Candida albican 13,1% (n.3).
Pada pemeriksaan BTA Direct Smear dari endotracheal aspirate pada 23 penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dijumpai BTA positif sebanyak 2 orang (8,7%) yang diambil sampelnya dengan cara bronkoskopi serat optik lentur, sedangkan dengan cara selang kateter tidak dijumpai BTA positif dan dapat dilihat pada tabel 16.
Tabel 14. Pola Kuman yang di Isolasi dari Endotracheal Aspirate setelah 48 jam
Menggunakan Ventilator dengan Cara Selang Kateter dan Bronkoskopi Serat Optik lentur.
Tidak dijumpai bakteri 6 26,10 2 8,70
Total 23 100,00 23 100,00
Tabel 15. Pola Jamur yang di Isolasi dari Endotracheal Aspirate Pada Penderita yang Menggunakan Ventilator setelah 48 jam dengan Cara Selang Kateter dan Bronkoskopi Serat Optik lentur
Jenis Jamur Kultur EA
Tabel 16. Hasil Pemeriksaan BTA Direct Smaer dari Endotracheal Aspirate Pada Penderita yang Menggunakan Ventilator Setelah 48 jam dengan cara Selang Kateter dan Bronkoskopi Serat Optik Lentur
Dari 23 sampel yang dilakukan foto toraks setelah 48 jam menggunakan ventilator di unit perawatan intensif menunjukkan gambaran infiltrat pada parahilar kanan sebanyak 10 penderita, infiltrat pada lapangan tengah paru kanan sebanyak 2 penderita, infiltrat pada lapangan tengah kedua paru sebanyak 2 penderita, infiltrat pada lapangan tengah dan bawah paru kanan sebanyak 2 penderita, infiltrat pada lapangan tengah paru kiri sebanyak 1 penderita, infiltrat pada lapangan atas dan tengah paru kanan sebanyak 1 penderita, infiltrat pada parahilar kanan dan kiri sebanyak 1 penderita, infiltrat pada lapangan tengah dan bawah paru kanan serta infiltrat pada lapangan tengah paru kiri sebanyak 1 penderita, dan 1 penderita menunjukkan gambaran konsolidasi homogen pada lapangan tengah paru kiri.
4.1.4. Uji Kepekaan Bakteri Terhadap Antibiotik
Uji kepekaan bakteri dari endotracheal aspirate terhadap antibiotik yang diambil dengan cara selang kateter dijumpai mikroorganisme yang paling banyak sensitif terhadap antibiotik seperti Meropenem 58,8% (n.10), Cefoperazone/Sulbactam 52,9% (n.9), Levofloxacin 47,1%
(n.8), Amikacin 41,2% (n.7), dan yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dijumpai mikroorganisme yang paling sensitif terhadap antibiotik seperti Meropenem 52,4%
(11), Cefoperazone/Sulbactam 47,6% (n.10), Amikacin 42,9% (n.9), Levofloxacin 33,3% (n.7), sedangkan yang resisten terhadap antibiotik yang diambil dengan cara selang kateter seperti Ampicillin 94% (n.16), Ceftriaxon 76,5% (n.13), Cefotaxime 76,5% (n.13), Ciprofloxacin 70,6%
(n.12), Chloramphenicol 64,7% (n.11) dan yang resisten terhadap antibiotik yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur seperti Chloramphenicol 100% (n.21), Ampicillin
95,2% (n.20), Ciprofloxacin 85,7% (n.18), Ceftriaxon 81% (n.17), Cefotaxime 81% (n.17), dan dapat dilihat pada gambar 5-8.
Tabel 17. Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Mikroorganisme Citrobacter frundii,
Staphylococcus epidermidis, Pseudomonas aeroginosa yang diambil dengan Cara Selang Kateter
Tabel 18. Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Mikroorganisme Acinetobacter sp, Klebsiella pneumonia, Citrobacter diversus yang diambil dengan Cara Selang Kateter
Antibiotik Acinetobacter sp
Tabel 19. Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Mikroorganisme Staphylococcus aurius, Klebsiella ozaenae, Enterobacter agglomerans yang diambil dengan Cara Selang Kateter
Ampicillin - 1 - - - 1 - - 1
Tabel 20. Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Mikroorganisme Enterobacter cloacae, Citrobacter amalonaticus yang diambil dengan Cara Selang Kateter
Ciprofloxacin - - 1 - - 1
Tabel 21. Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Mikroorganisme Citrobacter freundii, Pseudomonas aeroginosa, Acinetobacter sp yang diambil dengan Cara Bronkoskopi Serat Optk Lentur
Tabel 22. Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Mikroorganisme Klebsiella pneumonia, Citrobacter diversus yang diambil dengan Cara Bronkoskopi Serat Optik lentur
Antibiotik Klebsiella pneumonia Citrobacter diversus S K R S K R Amikacin 4 1 - 1 1 - Ampicillin - - 5 - - 3 Cefotaxime - - 5 - - 4 Ceftazidim - - 5 - 1 3 Ceftriaxon - - 4 - - 4 Cefoperazone/
Sulbactam 2 1 2 3 - 1 Ciprofloxacin - - 5 - - 4 Gentamycin - 1 4 2 1 1 Levofloxacin 2 2 1 - 2 1 Meropenem 2 2 - 4 - - Chloramphenicol - - 5 - - 4
Tabel 23. Uji Kepekaan Antibiotik Terhadap Mikroorganisme Enterobacter cloacae, Citrobacter amalonaticus yang diambil dengan Cara Bronkoskopi Serat Optik
Gambar 5. Antibiotik yang Sensitif Terhadap Mikroorganisme Endotracheal Aspirate
Gambar 6. Antibiotik yang Sensitif Terhadap
Mikroorganisme Endotracheal Aspirate yang diambil dengan Cara Bronkoskopi Serat Optik Lentur
Jenis Antibiotik n
Gambar 7. Antibiotik yang Resisten Terhadap Mikroorganisme Endotracheal Aspirate yang diambil dengan Cara Selang Kateter
Gambar 8. Antibiotik yang Resisten Terhadap Mikroorganisme Endotracheal Aspirate yang diambil dengan Cara Bronkoskopi Serat Optik Lentur
Hospital Acquired Pneumonia (HAP), terdapat bentuk lain yang spesifik dan sering ditemui di unit perawatan intensif, yaitu Ventilator-associated Pneumonia (VAP). Hampir semua kasus HAP disebabkan aspirasi dari mikroorganisme di orofaring yang endogenus atau didapat dari rumah sakit, serta kadang dari aspirasi dari saluran gastrointestinal. Faktor resiko HAP mencakup hal-hal yang memicu terjadinya kolonisasi bakteri (contohnya penggunaan antibiotik sebelumnya, kontaminasi ventilator atau penurunan tingkat keasaman lambung), hal yang memfasilitasi terjadinya aspirasi (contohnya intubasi, penurunan kesadaran, atau menggunakan Jenis Antibiotik n
nasogastric tube, hal yang menekan mekanisme pertahanan terhadap infeksi di saluran pernapasan serta memungkinkan terjadinya pertumbuhan kuman patogen yang teraspirasi (contohnya chronic obstructive pulmonary disease, usia lanjut, atau operasi perut atas).58
Subjek yang diteliti berjumlah 23 orang yang menggunakan ventilator setelah 48 jam di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan dan dilakukan tindakan pengambilan endotracheal aspirate secara aseptik menggunakan selang kateter yang steril dengan mesin penghisap serta pada subjek tersebut juga dilakukan tindakan bronchoalveoalar lavage (BAL) di daerah segmen bronkus menggunakan bronkoskopi serat optik lentur. Karakteristik penderita berdasarkan umur yang paling banyak ditemukan umur 41-60 tahun sekitar 43,5% dan karakteristik penderita berdasarkan jenis kelamin didapatkan lebih banyak laki-laki dari pada perempuan yaitu laki-laki sebanyak 13 orang dan perempuan sebanyak 10 orang. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Carvalho EM dan kawan-kawan, yang melakukan penelitian tentang perbandingan dari penyebab diagnosis pneumonia nosokomial pada 22 penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam, dimana laki-laki sebanyak 13 orang dan perempuan 9 orang.20 Distribusi subjek menurut diagnosis penyakit yang paling banyak adalah post operation ventricle peritoneal shunt atas indikasi intra cranial haemorragic.
Pada penelitian ini menunjukkan penderita yang diteliti telah diberikan antibiotik sebelum didapatkan hasil kultur dan uji kepekaan. Hal ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Nair S dan kawan-kawan, bahwa sebagian besar penderita telah menerima antibiotik sebelum masuk ke unit perawatan intensif.59
Pada tabel 14 menunjukkan mikroorganisme yang didapat dari hasil isolasi endotracheal aspirate yang diambil dengan cara selang kateter dijumpai pola kuman yang terbanyak adalah Citrobacter diversus 17,4% (n.4), Citrobacter freundii 13,1% (n.3), Acinetobacter sp 8,7%,
Klebsiella pneumonia 4,3% (n.1), sedangkan yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur adalah Klebsilla pneumonia 21,7% (n.5), Citrobacter diversus 17,4% (n.4), Citrobacter freundii 17,4% (n.4), Enterobacter cloacae 17,4%. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Carvalho EM dan kawan-kawan, hasil isolasi mikroorganisme yang di peroleh dari endotracheal aspirate dijumpai pola kuman terbanyak adalah Staphylococcus aureus 31,8% (n.7), Pseudomonas aeruginosa 18,2% (n.4), Klebsiella pneumonia 18,2% (n.4), Coagulase-negative staphylococcus 18,2% (n.4), sedangkan yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur berupa bronchoalveolar lavage yang terbanyak adalah Klebsiella pneumonia 13,6% (n.3), Pseudomonas aeruginosa 13,6%, Coagulase-negative staphylococcus 9,1% (n.2), Staphylococcus aureus 4,5% (n.1).20
Nieto SJM dan kawan-kawan pada penelitian dampak kultur kuantitatif dari tindakan invasif dan non invasif pada hasil akhir dari ventilator associated pneumonia, dimana membagi dua kelompok yaitu kelompok A sebanyak 24 penderita yang dilakukan tindakan BAL, PSB dan EA, sedangkan kelompok B sebanyak 27 penderita yang dilakukan tindakan EA. Hasil yang diproleh dari isolasi bakteri dari kelompok A dijumpai bakteri pada BAL sebanyak 67% (n.16), PSB sebanyak 58% (n.14) dan EA 67% (n.16), sedangkan kelompok B dijumpai bakteri pada EA sebanyak 74% (n.20). Isolasi mikroorganisme yang paling sering muncul pada kelompok A adalah Pseudomonas aeruginosa (n.13) dan Acinetobacter calcoaceticus (n.5), sedangkan pada kelompok B isolasi mikroorganisme yang sering muncul adalah Acinetobacter calcoaceticus (n.8), Streptococcus pneumonia sebanyak (n.5) dan Hemophilus influenza sebanyak (n.5).60
Pada pneumonia mikroorganisme biasanya masuk secara inhalasi atau aspirasi.
Umumnya mikroorganisme yang terdapat di saluran napas bagian atas sama dengan saluran napas bagian bawah, akan tetapi pada beberapa penelitian tidak ditemukan jenis mikroorganisme yang sama.61
Sole-Violan dan kawan-kawan, menyatakan perbandingan antara pewarnaan gram dan kultur dari endotracheal aspirate dan bronchoalveolar lavage dalam menentukan mikroorganisme didapatkan korelasi sedang.62
Pada penelitian ini dari hasil isolasi endotracheal aspirate yang diambil dengan cara selang kateter dijumpai pertumbuhan jamur adalah Candida albican 7,8%, dan Candida tropicalis 4,3% (n.1), sedangkan yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dijumpai pertumbuhan jamur adalah Candida albican 13% (n.3), dan Candida tropicalis 4,3%
(n.1). Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Carvalho EM dan kawan-kawan, didapatkan hasil isolasi pertumbuhan jamur pada endotracheal aspirate adalah Candida albican 4,5% (n.1) dan tidak dijumpai Aspergillus fumigatus, sedangkan hasil isolasi dari bronchoalveolar lavage dijumpai pertumbuhan jamur adalah Candida albican 9,1%
(n.2) dan Aspergilus fumigatus 4,5% (n.1).20
Pada pemeriksaan BTA Direct Smear dari endotracheal aspirate dengan cara selang kateter tidak dijumpai BTA Direct Smear yang positif, sedangkan dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dijumpai BTA Direct Smear yang positif sebanyak 8,7% (n.2), sedangkan Rao dan kawan-kawan melakukan penelitian di India pada 55 penderita dengan hapusan dahak BTA negatif dan kemudian dilakukan tindakan bilasan bronkus dengan menggunakan bronkoskopi serat optik lentur dijumpai BTA positif sebanyak 27,3% (n.15).63
Pada pemeriksaan pewarnaan gram merupakan prosedur yang paling umum digunakan untuk mengidentifikasi morfologi bakteri yang dapat digunakan sebagai indikasi untuk pengobatan empiris awal.62
Pada penelitian ini, antibiotik yang paling banyak sensitif terhadap mikroorganisme dari endotracheal aspirate yang diambil dengan cara selang kateter adalah Meropenem 58,8%, Cefoperazone/Sulbactam 52,9%, Levofloxacin 47,1%, Amikacin 41,2%, sedangkan yang
diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur didapati antibiotik yang paling banyak sensitif terhadap mikroorganisme adalah Meropenem 52,4%, Cefoperazone/Sulbactam 47,6%, Amikacin 42,9%, Levofloxacin 33,3%. Antibiotik yang resisten terhadap mikroorganisme yang diambil dengan cara selang kateter adalah Ampicillin 94%, Ceftriaxon 76,5%, Cefotaxime 76,5%, Ciprofloxacin 70,6%, Chloramphenicol 64,7%, sedangkan antibiotik yang resisten terhadap mikroorganisme yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur adalah Chloramphenicol 100%, Ampicillin 95,2%, Ciprofloxacin 85,7%, Ceftriaxon 81%, Cefotaxime 81%.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.KESIMPULAN
1. Pada penelitian ini ditemukan jumlah kuman tidak berbeda bermakna dari endotracheal aspirate yang diambil dengan cara selang kateter dan bronkoskopi serat optik lentur.
2. Mikroorganisme yang didapat dari hasil isolasi endotracheal aspirate yang diambil dengan cara selang kateter dijumpai pola kuman yang paling banyak adalah Citrobacter diversus 17,4% (n. 4), Citrobacter freundii 13,1% (n.3), Acinetobacter sp 8,7%, Klebsiella pneumonia 4,3% (n.1), dan tidak dijumpai kuman sebanyak 26,1% (n.6), sedangkan yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dijumpai pola kuman yang paling banyak adalah Klebsiella pneumonia 21,7% (n.5), Citrobacter diversus 17,4% (n.4), Citrobacter freundii 17,4% (n.4), Enterobacter cloacae 17,4%, dan tidak dijumpai kuman sebanyak 8,7% (n.2)
3. Pada penelitian ini, antibiotik yang paling banyak sensitif terhadap mikroorganisme dari endotracheal aspirate yang diambil dengan cara selang kateter adalah Meropenem 58,8%, Cefoperazone/Sulbactam 52,9%, Levofloxacin 47,1%, Amikacin 41,2%, sedangkan yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur didapati antibiotik yang paling banyak sensitif terhadap mikroorganisme adalah Meropenem 52,4%, Cefoperazone/Sulbactam 47,6%, Amikacin 42,9%, Levofloxacin 33,3%.
5.2. SARAN
1. Penelitian ini merupakan penelitian yang pertama mengenai teknik invasif pengambilan sampel dengan mengunakan bronkoskopi serat optik lentur di unit perawatan intensif RSU.
H. Adam Malik Medan, maka penelitian ini diharapkan dapat menjadi konstribusi terhadap
penelitian selanjutnya pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam di unit perawatan intensif dengan sampel yang lebih homogen dan lebih banyak.
2. Pada penelitian ini jumlah kuman yang dijumpai tidah berbeda jauh, maka di daerah yang tidak mempunyai sarana bronkoskopi serat optik lentur, bisa menggunakan selang kateter yang steril untuk mendapatkan pola kuman dari endotracheal aspirate.
3. Pemberian antibiotik sebaiknya diberikan sesuai dengan hasil kultur mikroorganisme dan uji sensitiviti untuk mengurangi resiko resistensi kuman terhadap antibiotik.
4. Perlu ditingkatkan tindakan pencegahan terhadap infeksi nosokomial di unit perawatan intensif untuk mengurangi tingginya risiko infeksi nosokomial.
5. Perlunya pelatihan pencegahan infeksi nosokomial terhadap tenaga medis dan paramedis yang bertugas merawat penderita di unit perawatan intensif.
DAFTAR PUSTAKA
1. Lipalosaan P, Alakokko T, Lavila J. Intensive care aquired infection is an independent risk factor for hospital mortality, Jakarta. Crit Care; 2006 :16. Available from:
http://www.ccform.com/content/10/2/1266
2. Gillespie SH, Bamford KB. Patogenesitas dan Patogenesis Penyakit Infeksi. In: Astikawati R, Safitri A. At a Glance Mikrobiologi dan Infeksi. Edisi ke-3. Erlangga; Jakarta. 2008:12-13.
3. Ward JPT, Ward J, Leach RM, Wiener CM. Pneumonia yang Didapat dari Rumah Sakit. In:
Safitri A. At a Glance Sistem Respirasi. Edisi ke-2. Erlangga; Jakarta. 2008: 78-9.
4. Cendrero, Violan JS, Benitez AB. Role of different routes of tracheal colonization in the
4. Cendrero, Violan JS, Benitez AB. Role of different routes of tracheal colonization in the