BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.7. Patogenesis
Pneumonia nosokomial memerlukan organisme masuk ke dalam saluran pernapasan bagian bawah dalam jumlah yang besar atau dalam jumlah kecil, tetapi tingkat virulensinya lebih tinggi, yang mana dapat mengatasi host’s mechanical (epitel bersilia dan mukus) dan komponen humoral (antibodi dan komplemen) serta pertahanan seluler (leukosit, polimorfonuklear, makrofag dan limfosit serta sitokin-sitokin). Aspirasi dari patogen di orofaring ataupun masuknya bakteri akibat bocornya sekitar pipa endotrakea adalah rute utama masuknya bakteri ke trakea pada penderita dengan ventilasi mekanik. Sebagai tambahan, koloni bakteri di pipa endotrakea dapat terjadi embolisasi dalam alveoli setelah tindakan penghisapan atau bronkoskopi.
Inhalasi patogen dari aerosol yang terkontaminasi lebih jarang terjadi. Penyebaran
secara hematogen dari kateter intravaskular yang terinfeksi atau translokasi adalah rute
yang jarang dari patogenesis VAP. Kolonisasi bakteri di dalam lambung dan
sinus-sinus telah diperkirakan sebagai sarana yang potensial untuk bakteri membentuk
kolonisasi di orofaring dan trakea. Mikroorganisme yang sering mencapai paru dan
menyebabkan infeksi paru, yang terbanyak disebabkan bakteri gram negatif dan
beberapa kokus gram positif juga telah menunjukkan peningkatan kejadian.
43Gambar 3. Skema Patogenesis VAP
49Faktor penjamu
Pemberian awal antibiotik
Strategi invasif Kolonisasi saluran cerna Obat-obatan yang berpengaruh
terhadap pengosongan lambung dan pH
Air yang terkontaminasi, obat-obatan cair,
alat dan bahan terapi pernapasan Aspirasi
Inhalasi Bronkiolitis
Infeksi transtoraks
Bakteremia primer Bronkopneumonia Translokasi gastrointestinal fokal/multifocal
Bakteremia sekunder Bronkopneumonia berat
Systemic inflammatoryresponse syndrome
Disfungsi organ nonpulmoner Abses paru
Mekanisme pertahanan saluran napas bagian bawah &
sistemik penjamu
2.8. Faktor Risiko dan Predisposisi Timbulnya VAP
2.8.1. Faktor Risiko VAP
Tabel 2. Faktor-faktor risiko berkaitan dengan VAP di beberapa penelitian analisis multivariat43,50
2.8.2. Predisposisi Timbulnya VAP
1. Aspirasi dari sekret orofaring.
2. Balon pipa endotrakea (Endotracheal Tube Cuff).
3. Pipa endotrakea sebagai reservoir.
4. Pemakaian pipa oral atau nasal.
5. Penurunan kesadaran.
6. Aspirasi dari isi lambung.
7. Refluks.
8. Pencegahan stress ulcer.
9. Posisi tidur.51,52
2.9. Menegakkan Diagnosis 2.9.1. Manifestasi Klinis
Kriteria klinis yang ada kurang bagus, spesivisitinya rendah tetapi ada peningkatan penggunaan klinikal skor untuk diagnosis VAP. Guideline terakhir yang di publikasikan adalah guideline dari Health and Science Policy Committee of the
American College of Chest Physicians. Guideline tersebut menyebutkan bahwaepisode VAP seharusnya dicurigai pada pasien yang menerima ventilasi mekanik, jika dua atau lebih gejala klinis berikut dijumpai:
1. Suhu lebih dari 38
oC atau kurang dari 36
oC.
2. Leukositosis atau leukopenia.
3. Sekresi trakea purulen.
4. Penurunan PaO
2.Seperti sebuah komplemen, radiologis dapat membantu menunjukkan keparahan pneumonia (multilobular atau tidak) dan adanya komplikasi seperti emfisema atau kavitas.
43Pada awal tahun 1990, Pugin dan kawan-kawan mengembangkan Clinical
Pulmonary Infection Score (CPIS) untuk mendiagnosis VAP. Walau itu termasuk dataradiologi dan mikrobiologi, itu dapat digunakan bila dicurigai VAP. CPIS meningkatkan spesivisiti dari foto dada dalam mendiagnosis VAP. Mereka menemukan bahwa CPIS lebih dari enam dikaitkan dengan kemungkinan tinggi pneumonia dengan sensitiviti 93% dan spesivisiti 100%.
43,47Tabel 3. Clinical Pulmonary Infection Score (CPIS)43,53,54 Komponen Nilai Skor
Suhu (oC) ≤ 36,5 – ≥ 38,4 0 ≥ 38,5 – ≤ 38,9 1 ≤ 36,0 – ≥ 39,0 2 Leukosit per mm3 ≥ 4000 – ≤ 11000 0 < 4000 – >11000 1 50% band forms +1 Sekret Trakea Tidak dijumpai sekret 0 Ada sekret, tapi tidak purulen 1
Sekret purulen 2 Oksigenasi : > 240 atau terdapat ARDS 0 PaO2/FiO2(mmHg) ≤ 240 atau tidak ada ARDS 2 Foto toraks Tidak ada infiltrat 0 Bercak atau infiltrat difus 1 Infiltrat terlokalisir 2 Kultur dari aspirasi trakea
Kultur bakteri patogen jarang atau tidak menerangi kuantitas atau tidak ada petumbuhan 0
Kultur bakteri patogen sedang atau kuantitas berat 1 Kultur bakteri patogen sama, terlihat Gram stain +1
2.9.2. Gambaran Radiologis
Gambaran radiologis pneumonia nosokomial dapat ditegakkan atas dasar foto toraks terdapat infiltrat baru atau progresif. Perubahan radiologis secara progresif berupa pneumonia multilobar atau kaviti dari infiltrate baru.
15Pada penelitian kohort prospektif dari 129 penderita yang berkembang infiltrat di paru dan berhubungan dengan penderita pembedahan yang dirawat di UPI untuk menentukan prediktor dan hasil akhir dari infiltrat di paru. Penyebab yang paling sering infiltrat di paru adalah pneumonia (30% dari infiltrat di .paru), edema paru (29%), acute
lung injury (15%) dan atelektasis (13%). Skor CPIS yang lebih dari 6 menyingkirkan acute lung injury, edema paru, atau atelektasis sebagai penyebab infiltrat di paru.43Beberapa peneliti membuktikan bahwa pemeriksaan foto toraks berulang
memiliki akurasi diagnostik lebih dari 68% yang umumnya disertai air bronchogram.
Torres dan kawan-kawan, menyatakan bahwa diagnosis VAP meliputi tanda-tanda infiltrat baru atau progresif pada foto toraks disertai gejala demam, leukositosis maupun leukopeni dan sekret purulen. Gambaran foto toraks disertai dua dari tiga kriteria gejala tersebut memberikan sensitiviti 69% dan spesivisiti 75%.
14,17,552.9.3. Pemeriksaan Mikrobiologi
Tingginya mortaliti VAP membutuhkan terapi antibiotik yang tepat dan cepat, sehingga diperlukan informasi kuman patogen penyebab VAP dan resistensinya dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yang tepat. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan metode non invasif dan invasif. Metode non invasif yang sering dilakukan adalah endotracheal aspirate sedangkan protected specimen brush (PSB) dan bronchoalveolar lavage (BAL) merupakan metode invasif.
8,9Blot dan kawan-kawan, mengusulkan tiga keputusan untuk diagnosis dini dan penatalaksanaan terhadap tersangka VAP berdasarkan pada plugged telescoping
catheter (PTC), blind atau fiberopticallly guided, dan endotracheal aspirate (EA) gramstain analisis:
1. EA gram stain negatif : VAP sangat jarang. Tidak diperlukan pengobatan antibiotik empiris untuk pneumonia sampai hasil kultur telah keluar.
2. PTC gram stain positif, VAP sangat sering. Pengobatan antibiotik empiris
adalah pilihan berdasarkan hasil pewarnaan gram dari PTC dan atau EA
serta data epidemiologi. Ketika hasil kultur keluar, pengobatan antibiotik
dapat diteruskan, diganti ataupun dihentikan.
3. EA gram stain positif dan PCT gram stain negatif, tidak ada prediksi yang memuaskan, sebelum hasil kultur keluar. Keputusan dimulai dengan pengobatan empiris dan tergantung pada kondisi penderita serta keparahan sepsis.
43Untuk diagnostik akurat, direkomendasikan penggunaan dari diagnostik invasif dengan menggunakan bronkoskopi. Dua metode invasif yaitu: Protected specimen
brush (PSB) dan Bronchoalveolar lavage (BAL). Kuantitas kultur dengan PSB dan BAL,diharapkan hasil yang didapat untuk menegakkan diagnosis yang akurat sehingga dapat diberikan antibiotik yang optimal.
48,51,52,56Tabel 4. Perbandingan Sensitiviti dan Spesivisiti EA, PSB dan BAL untuk Diagnosis VAP
8EA PSB BAL
Sensitiviti (%) 38-100 33-100 42-93 Spesivisiti(%) 14-100 50-100 45-100
2.10. Penatalaksanaan
Dalam pemilihan terapi empiris untuk penderita yang baru menerima antibiotik,
sebuah usaha sebaiknya dibuat untuk menggunakan agen dari kelas antibiotik yang
berbeda, karena terapi antibiotik sebelumnya dapat menjadi prediposisi untuk resistensi
dan terapi yang tidak memadai jika kelas yang sama digunakan lagi. Terapi antibiotik
inisial sebaiknya diberikan secepatnya, karena penundaan pemberian antibiotik dapat meningkatkan mortaliti pada penderita VAP.
43Gambar 4. Strategi Manajemen Untuk Penderita Dengan Sangkaan HAP/VAP46
Pengambilan sampel dari saluran napas bawah untuk pemeriksaan biakan (kuantitatif/semi kuantitatif) dan mikroskopis
Kecuali jika dugaan pneumonia secara klinis dan mikroskopis negatif, pemberian antibiotik dapat
dimulai berdasarkan terapi empiris dan data mikrobiologi lokal
Pada hari kedua dan ketiga pemeriksaan kultur dan taksir respon klinis (temperatur, leukosit,
foto toraks, oksigenasi, sputum purulen, perubahan hemodinamik dan fungsi organ
Perbaikan klinis dinilai pada 48-72 jam
2.10.1. Rekomendasi Terapi Antibiotik
Kriteria utama dan rekomendasi untuk terapi antibiotik yang optimal ;
1. Terapi empiris untuk penderita dengan VAP menggunakan dosis antibiotik yang optimal untuk mendapatkan efikasi yang maksimal (Level I). Terapi awal dapat diberikan pada semua penderita secara intravena dan ditukar secara oral bila penderita sudah memberikan respon klinis yang baik dan berfungsinya traktus intestinal. Antibiotik seperti kuinolon dan linezolid bisa diubah ke terapi oral pada penderita (Level II).
Tidak
2. Antibiotik aerosol tidak terbukti memiliki angka keberhasilan untuk VAP (Level I).
Bagaimanapun dipertimbangkan sebagai terapi tambahan pada penderita dengan MDR gram negatif, dimana tidak respon terhadap terapi sistemik (Level III)
3. Kombinasi terapi bisa digunakan jika penderita infeksi menyerupai patogen MDR (Level II).
Tidak ada data pendekatan mana yang lebih baik dibandingkan monoterapi, kecuali untuk merubah inisial terapi empiris yang tepat (Level I).
4. Jika penderita menerima terapi kombinasi dengan aminoglikosida, bisa dihentikan setelah 5-7 hari jika penderita ada perbaikan (Level III).
5. Monoterapi yang tepat untuk kuman bisa digunakan untuk penderita VAP, selama tidak resisten (Level I). Penderita yang menerima terapi kombinasi pada awalnya, hingga hasil dari kultur traktus respiratorius bawah diketahui dan dikonfirmasi monoterapi bisa digunakan (Level II).
6. Jika penderita menerima antibiotik awal yang cocok dapat diusahakan untuk memperpendek dari durasi pengobatan, biasanya 14-21 hari menjadi periode lebih pendek menjadi 7 hari, asalkan penyebabnya bukan Pseudomonas aeroginosa, dan respon klinis penderita baik dengan perbaikan (Level I).46,50
Tabel 5. Terapi antibiotik empiris inisial pada penderita dengan tidak diketahui faktor risiko pada multidrug resisten patogen dan onset awal hospital acquired pneumonia pada semua infeksi berat dan bukan infeksi yang lain43
Potensial Patogen Antibiotik yang Direkomendasi Streptococcus pneumonia Cephalosporin generasi II/III Haemophilus influenza (cefotaxime, ceftriaxone) Methicillin-sensitive staphylococcus atau
aureus Quinolone generasi III/IV Antibiotik- sensitive enterik (levofloxacin, moxifloxacin) Gram –negatif bacilli atau
Escherichia coli β-Lactam, β-lactamase inhibitor Klebsiella pneumoniae (ampicillin/sulbactam)
Enterobacter species Serratia marcescens
___________________________________________________________
Tabel 6. Terapi antibiotik empiris inisial pada penderita dengan faktor risiko pada multidrug resisten patogen dengan onset awal dan lambat VAP pada semua infeksi berat 43,46
Potensial MDR patogen Terapi Antibiotik Kombinasi Pseudomonas aeruginosa Anti-pseudomonal generasi III/IV Cephalosporin (cefepime,ceptazidime) atau
Klebsiella pneumoniae (ESBL) Carbepenem (anti-pseudomonal) Acinetobacter species (imipenem, meropenem)
atau
β-Lactam, β-lactamase inhibitor (pipercillin-tazobactam)
plus
Fluoroquinolone generasi II/III
(Ciprofloxacin atau Levofloxacin dosis tinggi)
atau
Aminoglikosida
(amikasin, gentamicin, tobramycin) plus
Staphylococcus aureus Linezolid atau Vancomycin
resisten-methicillin
Tabel 7. Dosis inisial intravena terapi antibiotik empiris untuk penderita dewasa dengan onset penyakit lanjut atau faktor risiko untuk MDR46
Antibiotik Dosis
Ciprofloxacin
Pencegahan terhadap VAP dibagi menjadi dua kategori yaitu strategi farmakologi yang bertujuan untuk menurunkan kolonisasi saluran cerna terhadap kuman patogen serta strategi non farmakologi yang bertujuan untuk menurunkan kejadian aspirasi.57
Tabel 8. Strategi non farmakologi52
Strategi non farmakologi Tingkat
Merubah dari nasogastrik atau ETT bila secara klinis memungkinkan.
Menghindari dari intubasi ulang yang tidak diperlukan.
Menghindari distensi yang berlebihan dari lambung.
Pemberian nutrisi yang adekuat.
Menggunakan alat pengisapan yang sekali pakai.
Posisi setengah berbaring dari penderita.
Oral (non-nasal) intubasi.
Pemeliharaan yang adekuat terhadap tekanan balon ETT.
Perubahan posisi.
Cuci tangan sebelum kontak dengan penderita.
Fisioterapi paru.
Menggunakan kontrol program untuk mengatasi infeksi.
Menggunakan sarung tangan dan baju kamar operasi..
Penjadwalan pengaliran pada sirkuit ventilator.
Perubahan rutin dari sirkuit ventilator.
Pergantian rutin dari alat pengisapan dan kateter.
Pengisapan dari subglotik yang berkesinambungan.
Antibiotik untuk mengatasi demam yang menyebabkan neutropenia.
Terapi antibiotik kombinasi.
Pembatasan dari pencegahan Stress ulcer yang berisiko pada penderita.
Obat kumur Chlorhexidine.
Koloni granulosit yang merangsang untuk demam neutropenik Rotasi dari kelas antibiotik.
Vaksinasi Streptokokus pneumoniae, Haemophilus influenzae tipe b strain dan virus influenza.
Seleksi dari makanan yang bisa terkontaminasi . Profilaksis immunoglobulin.
Profilaksis antibiotik parenteral untuk pasien koma.
Profilaksis dengan antibiotik aeorosol.
D U B B
2.12. Kerangka Konseptual
Penderita yang membutuhkan ventilasi mekanik karena gagal napas
Intubasi endotracheal tube dan
menggunakan ventilator invasif
1. Aspirasi organisme patogen 2. Inhalasi organisme patogen
Kolonisasi terjadi 24 jam pertama
Infeksi berkembang setelah 48 jam
Pengambilan sampel
Endotracheal aspirate Bronchoalveolar lavage
dengan cara selang kateter dengan cara bronkoskopi serat optik lentur
BAB 3
MANAJEMEN PENELITIAN
3.1. Desain
Penelitian ini dilakukan dengan cara Cross Sectional yang bersifat deskriptif.
3.2. Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilakukan di unit perawatan intensif (UPI) RSU. H. Adam Malik Medan. Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan yaitu pada tangal 4 Mei 2010 sampai dengan 7 Agustus 2010 atau bila jumlah sampel sudah tercapai.
3.3. Populasi dan Sampel
3.3.1. Populasi
Semua penderita laki-laki dan perempuan dewasa yang menggunakan ventilator setelah 48 jam di unit perawatan intensif rumah sakit.
3.3.1.1. Populasi terjangkau
Penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam di unit perawatan intensif RSU. H. Adam malik Medan.
3.3.2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang memenuhi kriteria penderita yang diterima dan penderita yang ditolak serta dipilih secara non random consecutive.
3.4. Perkiraan Besar Sampel
n =
Keterangan:
• Zά = nilai baku normal dari tabel Z yang nilainya tergantung dari nilai ά untuk nilai ά 0,05, maka Zά = 1,96
• Z β = nilai baku normal dari tabel Z yang nilainya tergantung dari nilai β untuk nilai β 0,15, maka Zβ = 1,036
• Po = Proporsi penderita penderita VAP sebelumnya, nilainya adalah 8,6%, dalam angka desimal adalah 0,086.
• Qo = 1 – Po = 1 – 0,086 = 0,914
• Pa = Proporsi penderita VAP yang sekarang, nilainya adalah 14,8%, dalam angka desimal adalah 0,148
• Qa = 1 – Pa = 1 – 0,148 = 0,852
• Pa – Po adalah selisih proporsi yang diinginkan oleh peneliti, diambil nilainya adalah 20%, dalam angka desimal adalah 0,20.
• n = [1,96 √ (0,086) (0,914) + 1,036 √ (0,148) (0,852) ]2 ( 0,20)2
n = 0,549513536 + 0,367883585 0,04
n = 0,917397121 = 22,934928025 ~ 23 0,04
[Zα √PoQo + Zβ √PaQa]2
Jadi jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 23 orang.
3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
3.5.1. Kriteria inklusi
1. Seluruh penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan.
2. Umur penderita diatas 15 tahun
3.5.2. Kriteria eksklusi
1. Penderita yang meninggal 24 jam setelah menggunakan ventilator.
2. Penderita yang diektubasi sebelum 48 jam.
3. Penderita yang mempunyai kelainan anatomi
3.6. Cara Kerja
Semua penderita yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak terdapat kriteria eksklusi.
Penderita yang memenuhi kriteria kemudian dilakukan tindakan pengambilan endotracheal aspirate secara aseptik menggunakan selang kateter yang steril dengan mesin alat penghisap.
Penghisapan endotracheal aspirate dilakukan pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dan mempergunakan selang kateter yang berbeda pada setiap penderita serta teknik pengambilan dengan cara sebagai berikut :
Selang kateter dimasukan melalui pipa endotrakea atau trakeostomi dan kemudian dilakukan penghisapan pertama dari endotracheal aspirate, lalu dikeluarkan kedalam botol penampung untuk menghindari kontaminasi, sedangkan penghisapan yang kedua, selang kateter yang mengandung endotracheal aspirate dipotong dan diletakkan ke
dalam pot yang steril yang kemudian ditutup dengan almunium poil dan segera dikirim ke laboratorium Mikrobiologi RSU. H. Adam Malik untuk dilakukan pemeriksaan kultur endotracheal aspirate dan uji sensitiviti.
Kemudian dilanjutkan dengan tindakan pengambilan secara aseptik menggunakan bronkoskopi serat optik lentur yang sudah disterilkan dengan menggunakan Ortho-phthaldehyde (Cidex OPA) selama 20 menit setiap akan melakukan tindakan menggunakan bronkoskopi serat optik lentur. Tindakan bronkoskopi dilakukan pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam. Penggunaan bronkoskopi serat optik lentur yang telah disterilkan pada setiap penderita dan teknik bronkoskopi dengan cara sebagai berikut :
Bronkoskopi serat optik lentur dimasukan melalui pipa endotrakea atau trakeostomi, setelah bronkoskop berada pada daerah yang diinginkan, sesuai dengan tujuan pemeriksaan lalu dibilas dengan cara memasukan cairan NaCl 0,9% sebanyak 100-150 ml yang kemudian segera dihisap kembali. Cairan yang dihisap ditampung dalam wadah penampung khusus yang dipasang pada bronkoskopi serat optik lentur.
Tindakan tersebut diulang sampai dirasakan sudah didapati bahan pemeriksaan dan bahan pemeriksaan diletakkan ke dalam pot yang steril yang kemudian ditutup dengan almunium poil dan segera dikirim ke laboratorium Mikrobiologi RSU. H. Adam Malik untuk dilakukan pemeriksaan kultur cairan bronchoalveolar lavage dan uji sensitiviti.
Dan kemudian dilakukan penentuan jenis kuman.
a. Penentuan jenis kuman dengan cara isolasi bahan sampel yang diambil kemudian ditanam pada media agar darah, media Mac Conkey. Selanjutnya dimasukkan kedalam inkubator pada suhu 370C (Celsius) dan keesokan harinya ada pertumbuhan koloni dilanjutkan identifikasi kuman dengan perwarnaan gram.
b. Uji sensitiviti (kepekaan) bakteri terhadap antibiotik dilakukan dengan metode difusi cakram.
3.6.1. Kerangka Operasional
3.7. Identifikasi Variabel 3.7.1. Variabel bebas
a. Tindakan bronchoalveolar lavage (BAL) dengan cara bronkoskopi serat optik lentur.
b. Tindakan endotracheal aspirate (EA) dengan cara selang kateter.
3.7.2. Variabel terikat
Pola kuman dan uji sensitiviti Penderita yang
menggunakan ventilator invasif
t l h 48 j
Pola kuman dan uji sensitiviti Tindakan bronchoalveolar lavage
(BAL) dengan cara bronkoskopi serat optik lentur
Tindakan endotracheal aspirate (EA) dengan cara selang kateter
3.8. Definisi Operasional
a. Penderita yang menggunakan ventilator invasif adalah seseorang yang mengalami gagal napas dan memerlukan bantuan ventilasi mekanik (ventilator) untuk mengantikan fungsi paru dalam hal ventilasi.
b. Kultur endotracheal aspirate adalah proses memperbanyak organisme dengan memberikan keadaan lingkungan yang tepat dengan cara isolasi bahan sampel yang di ambil kemudian ditanam pada media agar darah, media Mac Concay.
c. Pola kuman merupakan gambaran kuman yang paling sering muncul.
d. Uji sensitiviti adalah untuk mengetahui kuman yang masih sensitif terhadap suatu antibiotik.
3.9. Bahan dan Alat
Bahan dan alat di gunakan pada penelitian ini :
1. Satu set peralatan bronkoskopi serat optik lentur:
Olympus BF type 1T30.
2. Selang kateter penghisap (suction).
3. Sarung tangan.
4. Masker.
5. Media tempat meletakkan cairan.
6. Kain penutup mata.
7. Cairan NaCl 0,9% hangat.
8. Spuit 20 cc
3.10. Manajemen dan Analisis Data
3.10.1. Sumber Data
Data diperoleh dari pemeriksaan kultur endotracheal aspirate dan uji sensitiviti yang dilakukan di Mikrobiologi RSU. H. Adam Malik Medan.
3.10.2. Metode Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data
Penelitian berupa pengambilan endotracheal aspirate dari saluran napas pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dan selang kateter.
3.10.3. Pengolahan Data
a. Editing
editing dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan data yang telah dikumpulkan dan bila terjadi kesalahan akan diperbaiki dan didata ulang.
b. Data
Data yang terkumpul dikoreksi ketepatannya dan kelengkapannya serta diberi kode untuk mempermudah pengelompokan data dan membaca hasil.
3.10.4. Analisa Data
Pada penelitian ini data dideskripsikan dan disajikan dalam bentuk tabulasi.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan selama 3 (tiga) bulan terhadap 23 orang penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam yang dirawat di unit perawatan intensif RSU. H. Adam Malik Medan dan telah dilakukan tindakan pengambilan endotracheal aspirate dengan cara selang kateter dan bronkoskopi serat optik lentur serta telah dilakukan pemeriksaan kultur dan kemudian dilakukan uji kepekaan terhadap hasil kultur.
4.1.1.Karakteristik Subjek Penelitian
Pada penelitian ini tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan serta penyakit yang mendasarinya, tetapi yang mau diketahui hanya pola kuman yang terbanyak dan yang sensitif serta resisten terhadap antibiotik pada penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dengan cara selang kateter dan bronkoskopi serat optik lentur di unit perawatan intensif RSU.
H. Adam Malik Medan.
Pada tabel 10 didapatkan karakteristik penderita menurut umur yang paling banyak adalah pada umur 41-60 tahun yaitu 10 orang (43,5%) dan umur yang paling sedikit yaitu pada umur kurang dari 20 tahun yaitu 2 orang (8,7%).
Karakteristik jenis kelamin penderita terbanyak adalah laki-laki sebanyak 13 orang (56,5%), sedangkan perempuan sebanyak 10 orang (43,5%) yang dapat dilihat pada tabel 11.
Karakteristik diagnosis penyakit pada penelitian ini paling banyak adalah post operation ventricel peritoneal shunt atas indikasi intra cranial haemorragic sebanyak 3 orang (13,1%) yang dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel 10. Karateristik Penderita Berdasarkan Umur
Umur Jumlah (n) %
< 20 tahun 2 8,7
21-40 tahun 6 26,1
41-60 tahun 10 43,5
> 60 tahun 5 21,7
Total 23 100,0
Tabel 11. Karateristik Penderita Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah (n) %
Laki-laki 13 56,5
Perempuan 10 43,5
Total 23 100,0
Tabel 12. Karakteristik Penderita Berdasarkan Diagnosis
Diagnosis Jumlah (n)
%
Post Op. VP shunt a/i Hydrochepalus 1
4,34
Post Op. VP shunt a/i ICH 3
13,12
Post OP. Craniotomy a/i EDHT 2
8,70
Urosepsis ec. Abces pelvic 1
4,34
Post Op. Laparatomy a/i. Myoma uteri 1
4,34
Post Op. Borhole a/i. SDH 1
4,34
Respiratory Failure ec. PPOK eksaserbasi akut 2
8,70
Post Curetase a/i. Molahydatidosa 1
4,34
Post Op. Laparatomy a/i. Gaster perforasi 1
4,34
Post Op. SC a/i. Eklamsi + GGA 1
4,34
Stroke iskemik + PJK 1
4,34
Post Op. Craniotomy a/i. ICH 2
8,70
Post Op. Colonostomy a/i. Ileus obstruktif 1
4,34
Tumor Paru 1
4,34
Post Op. VP shunt a/i. Tumor otak 2
8,70
Glioblastoma multiple 1
4,34
Brain Stem Aneurisma 1
4,34
Total
23
100,00
4.1.2. Pemberian Antibiotik saat masuk UPI
Penderita yang masuk ke UPI RSU. H. Adam Malik umumnya sudah mendapatkan antibiotik sebelum didapatkan hasil kultur dan uji sensitiviti yang dapat dilihat pada tabel 13.
Tabel 13. Pemberian Antibiotik saat di UPI
Jenis Antibiotik Jumlah (n) %
Cefotaxime 6
26,10
Cefotaxime dan Ciprofloxacin 4
17,40
Cefotaxime dan Metronidazol 1
4,34
Cefotaxime dan Gentamicin 1
4,34
Meropenem 2
8,70
Meropenem dan Metronidazol 2
8,70
Ceftazidim dan Ciprofloxacin 2
8,70
Ceftazidim dan Metronidazol 1
4,34
Ceftriaxon 2
8,70
Ceftriaxon dan Metronidazol 1
4,34
Cefoperazone/Sulbactam 1
4,34
Total
23
100,00
4.1.3. Mikroorganisme yang di Isolasi dari Endotracheal Aspirate pada Penderita yang Menggunakan Ventilator setelah 48 jam dengan Cara Selang Kateter dan
Bronkoskopi Serat Optik Lentur
Mikroorganisme yang didapat dari hasil isolasi endotracheal aspirate yang diambil dengan cara selang kateter dijumpai pola kuman yang paling banyak adalah Citrobacter diversus 17,4% (n. 4) dan tidak dijumpai kuman sebanyak 26,1% (n.6), sedangkan yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dijumpai pola kuman yang paling banyak adalah Klebsiella pneumonia 21,7% (n.5) dan tidak dijumpai kuman sebanyak 8,7% (n.2) yang dapat dilihat pada tabel 14.
Pada tabel 15 dari hasil isolasi endotracheal aspirate yang diambil dengan cara selang kateter dijumpai pertumbuhan jamur yang paling banyak adalah Candida albican 7,8% (n.2), sedangkan yang diambil dengan cara bronkoskopi serat optik lentur dijumpai pertumbuhan jamur paling banyak adalah Candida albican 13,1% (n.3).
Pada pemeriksaan BTA Direct Smear dari endotracheal aspirate pada 23 penderita yang menggunakan ventilator setelah 48 jam dijumpai BTA positif sebanyak 2 orang (8,7%) yang diambil sampelnya dengan cara bronkoskopi serat optik lentur, sedangkan dengan cara selang kateter tidak dijumpai BTA positif dan dapat dilihat pada tabel 16.
Tabel 14. Pola Kuman yang di Isolasi dari Endotracheal Aspirate setelah 48 jam
Menggunakan Ventilator dengan Cara Selang Kateter dan Bronkoskopi Serat Optik lentur.
Tidak dijumpai bakteri 6 26,10 2 8,70
Total 23 100,00 23 100,00
Tabel 15. Pola Jamur yang di Isolasi dari Endotracheal Aspirate Pada Penderita yang Menggunakan Ventilator setelah 48 jam dengan Cara Selang Kateter dan Bronkoskopi Serat Optik lentur
Jenis Jamur Kultur EA
Jenis Jamur Kultur EA