• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen TESIS OLEH RYAN ISKANDAR /MAG (Halaman 16-21)

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Cabai merupakan kelompok komoditas sayuran buah yang banyak dibudidayakan oleh petani, komoditas cabai termasuk kelompok rempah yang tidak bersubstitusi. Besarnya kebutuhan cabai merah dalam negeri maupun luar negeri menjadikan cabai merah sebagai komoditas menjanjikan. Seperti halnya usaha pertanian pada umumnya, usahatani cabai merah juga memiliki karakteristik sebagai usahatani yang penuh risiko terhadap perubahan alam, bersifat biologis dan musiman, serta rentan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman. Faktor-faktor tersebut secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri dapat menyebabkan kerugian bagi petani. Dengan demikian, petani cabai merah secara terus menerus dihadapkan pada pilihan antara mendapatkan keuntungan yang besar tetapi dengan risiko yang tinggi atau memilih risiko yang lebih rendah tetapi dengan keuntungan yang kecil.

Sektor pertanian di Indonesia sebagaimana negara-negara berkembang lainnya menghadapi sejumlah masalah/resiko yang umum terjadi. Secara umum, petani memiliki kontrol (yaitu dengan keamanan yang sangat sedikit atas kepemilikan) hanya sebagian kecil lahan yang miskin hara atau habis dan sering terpecah-pecah, mereka memiliki tingkat modal sumberdaya manusia yang sangat rendah dalam hal pendidikan, pengetahuan dan kesehatan yang digunakan untuk bekerja, dan mereka menderita utang kronis dan kurangnya aksesibilitas untuk kredit kelembagaan dan input.

Resiko pertanian terjadi karena berbagai faktor, seperti keragaman dan perubahan iklim, bencana alam, ketidakpastian dalam produktivitas dan harga, kelemahan infrastruktur perdesaan, kelemahan pasar dan kurangnya pelayanan keuangan, termasuk terbatasnya span dan model dari instrumen-instrumen pengendalian resiko seperti kredit dan asuransi yang masih sedikit sekali menyentuh dunia pertanian. Faktor-faktor ini tidak hanya membahayakan kehidupan dan pendapatan para petani tetapi juga melemahkan kekuatan dan potensi sektor pertanian sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kemiskinan petani dan buruh pertanian.

Kabupaten Langkat merupakan salah satu sentra penghasil cabai merah di Sumatera Utara yang masih memiliki potensi untuk dapat mengembangkan usaha tani cabai merah, dilihat dari luas lahan, jumlah panen serta produktivitas usahatani cabai merah. Gambaran terkait usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat tahun 2010 - 2015 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 1.1. Produktivitas Cabai Merah (Kw/Ha) di Kabupaten Langkat Tahun 2010 s.d 2015

Tahun Luas Panen (Hektar)

Produksi (Ton) Rata-rata Produksi (Kwintal/Ha)

2010 330 1,142 34.61

2011 380 1,323 34.82

2012 464 1,707 36.79

2013 476 1,859 39.05

2014 445 1,777 39.93

2015 631 2,524 40.00

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Langkat, 2010-2015

Dari Tabel 1.1. Dapat dilihat bahwa dengan bertambahnya luasan panen (hektar) cabai merah di Kabupaten Langkat tetapi tidak secara signifikan meningkatkan penambahan rata-rata produktivitas (kwintal/ha) cabai merah di Kabupaten Langkat dalam penanggulangan risiko dalam usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan di lapangan kepada petani cabai merah di Kabupaten Langkat dilakukan wawancara kepada petani dan petugas penyuluh lapangan yang menyatakan, tanaman cabai merah bukan merupakan tanaman utama pertanian yang dibudidayakan oleh petani melainkan sebagai tanaman yang ditanam bersamaan dengan jenis tanaman hortikultura lainnya misalnya tomat, kubis, padi sawah dan sebagainya atau tanaman musiman yang ditanam diantara komoditi tanaman utama atau jenis tanaman hortikultura lainnya. Hal ini disebabkan kerena tidak adanya kepastian produksi terhadap usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat.

Menurunnya jumlah produksi merupakan resiko utama yang sering terjadi akibat pengaruh perubahan alam. Curah hujan yang berlebihan selama musim hujan kemungkinan akan menimbulkan resiko banjir dan meningkatnya suhu juga akan menciptakan kekeringan selama musim kemarau. Gabungan kekuatan dari variabilitas iklim dan perubahan iklim dapat memberikan dampak yang sangat dramatis terhadap produksi pertanian di Indonesia (Naylor et al., 2007) . Selain itu fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat mampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan hama dan penyakit tanaman atau organisme pengganggu tanaman (OPT). Hal ini merupakan beberapa pengaruh perubahan iklim yang berdampak buruk terhadap pertanian di Indonesia.

Para petani cabai merah di Kabupaten Langkat umumnya menghadapi pasar dan harga yang tidak stabil, mereka memiliki akses yang sedikit terhadap kontrol dan operasi dari lembaga-lembaga pedesaan, dan mereka tidak memiliki kekuatan sosial ekonomi untuk mendapatkan akses yang lebih baik ke layanan publik dan lainnya yang tersedia untuk seluruh anggota masyarakat. Akibatnya, keberadaan petani kecil itu sering berbahaya dan efek cuaca yang buruk atau harga dapat menjadi bencana bagi petani dan keluarganya

Sumber : Pusat Strategi Harga Pangan Nasional (PIHPS) Tahun 2019

Gambar 1.1. Grafik Perkembangan Harga Cabai Merah di Provinsi Sumatera Utara

Dari Gambar 1.1 dapat dilihat fluktuasi harga cabai merah yang terjadi sepanjang tahun 2019. Secara umum harga cabai ditentukan oleh jumlah pasokan/suplai dan jumlah permintaan/kebutuhan. Pada saat pasokan kurang dari permintaan maka harga meningkat, sebaliknya pada saat pasokan lebih besar dari permintaan maka harga anjlok. Permintaan/kebutuhan cenderung konstan setiap waktu, hanya pada waktu tertentu, seperti pada hari raya atau hari besar keagamaan

Rp10,000 Rp20,000 Rp30,000 Rp40,000 Rp50,000 Rp60,000 Rp70,000 Rp80,000

Masalah pemasaran dan harga hasil-hasil pertanian yang cenderung turun dan mengalami fluktuasi di pasaran domestik maupun dunia (Firdausy, 2005) . Dua faktor yang menyebabkan kecenderungan ini. Pertama hasil pertanian umumnya tidak tahan lama bahkan mudah rusak, karena itu tidak bisa disimpan lama tanpa teknologi pengawetan, dan sulit dijual ke tempat yang jauh. Kedua, produk pertanian bersifat musiman sehingga dalam waktu-waktu tertentu jika terjadi panen secara serempak, pasokan melimpah dan harga akan turun sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran.

Dalam hal ini dibutuhkan strategi dalam pengelolaan dan penanganan usahatani cabai merah melalui pendekatan teknologi pengolahan hasil pertanian, produk pertanian bisa lebih tahan lama dan meningkat nilai tambahnya. Tetapi industri pengolahan menginginkan harga yang murah dan dalam jumlah yang besar.

Selain beberapa faktor eksternal yang menjadi risiko dalam usahatani cabai merah, perlu juga diperbaiki faktor internal yang mencakup rendahnya kualitas sumberdaya manusia petani yang mencakup rendahnya tingkat pendidikan, keterampilan, dan penguasaan teknologi, lemahnya motivasi untuk berkembang dan mempertahankan hak-hak petani, serta kurangnya jiwa kepemimpinan di kalangan para petani itu sendiri untuk mengelola usahatani mereka secara mandiri.

Pertanian menawarkan studi kasus yang sangat menarik untuk menyelidiki perilaku risiko, karena semakin dihadapkan dengan risiko dan ketidakpastian yang timbul dari berbagai sumber seperti risiko produksi, harga, risiko pribadi dan perubahan kebijakan (Hardaker, 2004). Selain itu, keputusan dibuat sebagian besar oleh petani yang bertujuan tidak hanya memaksimalkan produksi dan profit tetapi juga mempertahankan pekerjaan pertanian (Willock et al., 1999). Karena itu,

individu Pilihan strategi manajemen risiko sangat penting untuk kelangsungan dan kelanjutan bisnis pertanian.

Mengingat banyaknya resiko usaha pertanian, sudah selayaknya perlu dilakukan analisis terkait usaha pertanian mendapat untuk memperkecil risiko.

Selain itu juga diperlukan cara-cara penanganan yang tepat terhadap risiko - risiko pada usaha pertanian khususnya di Kabupaten Langkat. Berdasarkan fenomena yang terjadi di atas, maka perlu dilakukan kajian mengenai perilaku petani dalam mengurangi risiko usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara.

Dalam dokumen TESIS OLEH RYAN ISKANDAR /MAG (Halaman 16-21)

Dokumen terkait