• Tidak ada hasil yang ditemukan

Strategi Manajemen Risiko

Dalam dokumen TESIS OLEH RYAN ISKANDAR /MAG (Halaman 34-41)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Landasan Teori

2.2.5 Strategi Manajemen Risiko

Sistem produksi dibedakan sesuai dengan spesies yang diproduksi dan tiga tingkat utama intensifikasi atau tipe pertanian yaitu pertanian ekstensif, semi intensif dan intensif. Respon yang memadai untuk memitigasi risiko bervariasi, dengan strategi manajemen risiko yang berbeda digunakan. Untuk beberapa kasus dapat dipertimbangkan strategi manajemen risiko dalam arti yang lebih luas, termasuk tidak hanya strategi pertanian dan adopsi teknologi (teknologi dan praktik pertanian, tingkat intensifikasi), tetapi juga strategi pembagian risiko (kontrak harga, asuransi), dan investasi pertanian Dalam proses adopsi strategi manajemen

risiko, persepsi tentang besarnya risiko dan kepercayaan diri untuk memitigasi jenis risiko tertentu keduanya memainkan peran penting. Adopsi yang diambil sebagai langkah-langkah untuk mengenali risiko dan menerapkan teknologi dan praktik untuk mengurangi itu (Joffre et al., 2018).

Selanjutnya Saptana et al., (2010) memaparkan bahwa pada dasarnya, kesediaan petani dalam mengambil keputusan untuk memilih ataupun bertindak atas risiko tergantung pada sifat bawaan, dan utility yang diperoleh petani berdasarkan produksi yang dihasilkan (output). Hal ini kemudian akan berdampak pada strategi yang akan digunakan petani. Atas dasar sifat pembawaan psikis masing-masing petani yang berbeda, juga akan menyebabkan perbedaan perilaku risiko petani. Perbedaan tersebut akan berdampak pada keputusan masing-masing petani dalam mengalokasikan input yang akan digunakan. Alokasi input yang dipakai selanjutnya akan mempengaruhi produktivitas dan capaian efisiensi petani.

Petani cabai merah yang berperilaku berani menghadapi risiko produktivitas akan cenderung mengalokasikan input produksi semakin tinggi, sehingga produktivitas yang dicapai lebih tinggi. Sebaliknya, petani yang berperilaku menghindari risiko produktivitas cenderung mengalokasikan input produksi lebih rendah, sehingga produktivitas yang dicapai lebih rendah. Usahatani cabai merah memang dikenal membutuhkan dana yang lebih besar untuk biaya produksi dibandingkan dengan mengusahakan tanaman pangan. Kemungkinan gagal panen juga cukup tinggi, disamping harga produknya juga sangat fluktuatif sepanjang tahun (Basyarahil et al., 2016).

Sebagian besar analisis empiris terhadap produksi pertanian menggunakan fungsi produksi yang tidak memasukkan risiko kedalam fungsi tersebut,

keterbatasan fungsi ini adalah dampak tambahan dari kenaikan penggunaan input akan selalu meningkatkan variabilitas output. Padahal dalam kenyataannya banyak ditemukan bahwa penambahan suatu input dapat menyebabkan penurunan variabilitas output atau sebaliknya yaitu pengurangan penggunaan suatu input akan meningkatkan variabilitas output. Konsekwensinya adalah akan diperoleh kesimpulan yang tidak benar.

Binici et al., (2003) menyatakan bahwa menganalisis perilaku petani menghadapi risiko sangat penting untuk memahami keputusan managerial mereka.

Jika petani masuk dalam kategori risk averse. Petani-petani membuat keputusan managerial lebih didasarkan pada tujuan untuk menurunkan risiko walaupun pendapatannya lebih rendah. Implikasinya adalah bahwa petani-petani itu harus diberikan jaminan / asuransi pada usahataninya. Strategi manajerial yang dapat ditempuh oleh petani diantaranya: (1) diversifikasi komoditas yang dihasilkan, (2) adopsi teknologi yang memiliki potensi untuk menurunkan risiko kegagalan, (3) pendapatan off farm, dan (4) akumulasi tabungan dalam bentuk kas daripada menginvestasikan dalam perbaikan kapital.

Pertanian menawarkan studi kasus yang sangat menarik untuk menyelidiki perilaku risiko, karena semakin dihadapkan dengan risiko dan ketidakpastian yang timbul dari berbagai sumber seperti risiko produksi, volatilitas harga, risiko pribadi dan perubahan kebijakan (Hardaker et al., 2004). Selain itu, keputusan dibuat sebagian besar oleh satu orang yang bertujuan tidak hanya memaksimalkan produksi dan laba tetapi juga mempertahankan pekerjaan pertanian (Willock et al., 1999).

Oleh karena itu, pilihan individu dari strategi manajemen risiko sangat penting untuk kelangsungan dan kelanjutan bisnis pertanian. Mengingat pentingnya manajemen risiko yang baik, manajer pertanian, agrikultur, dan penyuluh berusaha memahami proses pengambilan keputusan petani sehubungan dengan potensi strategi manajemen risiko. Produsen mungkin tidak selalu memahami bahwa pilihan mereka berbeda dari produsen lain karena perbedaan pribadi dalam persepsi dan sikap mereka, daripada didorong oleh pengaruh eksternal dan hambatan struktural. Lebih jauh, pembuat kebijakan pertanian semakin bertekad untuk meliberalisasi pasar pertanian dan pembentukan harga, dengan demikian menggantikan kebijakan regulasi pasar (seperti intervensi harga, subsidi ekspor dan kuota produksi) dengan instrumen manajemen risiko sektoral (seperti pembayaran langsung dan skema asuransi). Agar pembuat kebijakan mengantisipasi respons petani terhadap perubahan kebijakan pertanian tersebut, mereka juga membutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang niat petani untuk menerapkan strategi manajemen risiko yang berbeda.

Di negara-negara berkembang, kegiatan manajemen risiko secara tradisional dilakukan sebelum (ex-ante) dan setelah (ex-post) risiko itu muncul (Siegel & Alwang, 1999). Contoh strategi ex-ante mencakup akumulasi dari simpanan cadangan sebagai tabungan pencegahan dan diversifikasi pendapatan yang menghasilkan kegiatan melalui perubahan alokasi tenaga kerja (bekerja pada on farm dan usaha kecil off farm, dan migrasi musiman) atau berbagai praktek tanam (menanam tanaman yang berbeda, seperti varian tahan kekeringan, penanaman di lahan yang berbeda, tumpang sari, dan mengandalkan input berisiko rendah). Demikian pula, perusahaan dapat mengasuransikan diri melalui

kapitalisasi tinggi dan diversifikasi kegiatan usaha. Masyarakat secara kolektif mengurangi risiko cuaca dengan proyek irigasi dan pengolahan tanah konservasi yang melindungi tanah dan kelembaban. Contoh dari strategi ex-post adalah dengan petani melakukan pekerjaan yang bersifat off-farm, menjual hasil ternak atau asset pertanian lainnya, mengajak anak-anak bekerja sebagai buruh pertanian, dan meminjam uang kepada keluarga, teman atau tetangga (Hanan & Skoufias, 1998).

Strategi manajemen risiko dapat dianalisa melalui pendekatan indikator sebagai upaya dalam strategi risiko terhadap enam strategi berbeda, yakni diversifikasi, eksternal, optimisasi, koping, luar pertanian (off farm) dan Penyangga (buffer) (Van Winsen et al., 2016). Penentu perilaku risiko: efek risiko yang dirasakan dan sikap risiko terhadap adopsi petani strategi manajemen risiko, Jurnal Penelitian Risiko, sebagai berikut ;

1. Diversifikasi

Diversifikasi adalah usaha meningkatkan hasil pertanian melalui penganekargaman dengan cara memperbanyak jenis tanaman pada suatu lahan pertanian. Diversifikasi tanaman dilakukan agar pertanian tidak hanya menghasilkan satu jenis tanaman. Contoh diversifikasi pertanian adalah sistem tumpang sari yaitu menanam beberapa jenis tanaman secara bersamaan pada lahan yang sama. Misalnya, menanam secara bersama-sama ubi kayu, kedelai, dan jagung. Diversifikasi dapat dilakukan diantara dua musim tanam atau pada satu musim secara bersamaan. Dalam kaitan strategi manajemen usahatani dapat dilakukan melalui penganekaragaman sumber pendapatan petani yang berhubungan dengan usahatani, misalnya ; menjual hasil produksi dalam bentuk

olahan dsb dan diversifikasi produksi dilakukan melalui kegiatan usahatani dengan menanam jenis komoditi lainnya.

2. Eksternal

Pengelolaan risiko eksternal adalah pengelolaan risiko yang berhubungan dengan lingkungan di luar usahatani dan dapat diprediksi sejak awal, antaralain ; lingkungan makro pada pertumbuhan ekonomi, lingkungan hukum, kondisi sosial-budaya, persaingan bisnis, fluktuasi harga dan inflasi. Sedangkan Risiko eksternal yang tidak dapat diprediksi sejak awal, antara lain ; perubahan politik nasional, regulasi & perubahan kebijakan pemerintah, termasuk hal-hal berupa perubahan iklim dan force majeure seperti bencana alam.

Dampak yang ditimbulkan oleh risiko eksternal antara lain berupa kerugian finansial, penurunan produksi. Strategi pengelolaan risiko yang paling sesuai adalah mitigasi risiko dengan meminimalkan risiko yang mungkin terjadi setelah usahatani berjalan. Contoh langkah-langkah meminimalkan risiko eksternal pada usahatani adalah dengan melakukan kontrak harga serta asuransi usahatani.

3. Optimalisasi

Strategi manajemen risiko melalui optimalisasi yaitu melalui pendekatan pengelolaan usahatani yang dioptimalkan melalui penambahan input sumberdaya yang digunakan dalam usahatani tersebut. Strategi manajemen risiko melalui optimalisasi ini misalnya dapat digunakan input teknologi dalam budidaya serta penambahan luasan lahan untuk memperkecil risiko usahatani yang terjadi.Strategi ini juga merupakan usaha preventif yang dapat dilakukan sebelum terjadinya risiko usahatani tersebut.

4. Koping

Strategi manajemen risiko selanjutnya adalah koping. Koping adalah upaya – upaya yang dilakukan individu dalam menghadapi situasi penuh tekanan atau yang mengancam dirinya dengan menggunakan sumberdaya yang ada untuk mengurangi tekanan yang dialami.

Misalnya dalam penelitian ini strategi koping digambarkan melalui pendekatan usaha petani yang lebih keras/ekstra dalam mengelola usahatani serta menghemat pengeluaran pribadi untuk mengurangi dampak terjadinya risiko usahatani.

5. Luar Pertanian (off farm)

Strategi manajemen risiko off farm merupakan faktor pertama yang dibangun dengan satu item dan mengacu pada kecenderungan untuk memperoleh pendapatan di luar pertanian atau meminta orang lain di rumah tangga untuk mendapatkan penghasilan dari pertanian. Dalam strategi manajemen risiko dapat dilakukan melalui pendekatan, misalnya mendapatkan pendapatan selain dari berusahatani, misalnya usaha warung, pekerja non formal lainnya yang tidak berhubugan dengan pertanian. Selain itu manajemen risiko ini dapat dilakukan melalui strategi pendapatan dari anggota rumah tangga yang lain yang ikut membantu dalam mengurangi dampak risiko usahatani.

6. Penyangga (Buffer)

'Buffer' adalah faktor terakhir dan yang kedua diukur sebagai strategi dalam mengurangi risiko usahatani, hal tersebut dapat mencerminkan kecenderungan untuk menghindari risiko finansial dengan selalu menjaga buffer untuk saat-saat yang membutuhkan.Tujuannya adalah mencapai keseimbangan dalam menghadapi

risiko yang terjadi. Adapun upaya yang dilakukan dalam strategi ini adalah sama sekali menghidarkan diri dari segala yang dapat mengakibatkan risiko keuangan dan melakukan hal selektif dalam pengeluaran yang dianggap prioritas.

Dalam dokumen TESIS OLEH RYAN ISKANDAR /MAG (Halaman 34-41)

Dokumen terkait