• Tidak ada hasil yang ditemukan

TESIS OLEH RYAN ISKANDAR /MAG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TESIS OLEH RYAN ISKANDAR /MAG"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

OLEH

RYAN ISKANDAR 187039018/MAG

PROGRAM STUDI MAGISTER AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(2)

PROVINSI SUMATERA UTARA

TESIS

Tesis Sebagai Saah Satu Syarat Untuk Dapat Memperoleh Gelar Magister Pertanian Pada Program Studi Magister Agribisnis Fakultas

Pertanian Universitas Sumatera Utara

Oleh

RYAN ISKANDAR 187039018/MAG

PROGRAM STUDI MAGISTER AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2021

(3)
(4)

Tim Penguji

Ketua : Sri Fajar Ayu SP, MM, DBA Anggota : Dr. Ir. Rahmanta, M.Si

Dr. Ir. Tavi Supriana, MS Dr. Ir. Salmiah, MS

(5)
(6)

Risiko Usahatani Cabai Merah di Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara”.

Cabai merah merupakan salah satu komoditi yang sangat potensial untuk dibudidayakan.

kendati demikian petani cabai merah tidak selamanya mengalami keuntungan. Ada waktu dimana petani sering mengalami kerugian yang sangat besar. Situasi ketidakpastian selalu terjadi dalam bidang pertanian, sehingga berakibat pada hasil yang tidak pasti pula.

Penelitian ini penting dilakukan agar petani melakukan pertimbangan dalam pengelolaan dan perencanan usahatani cabai merah dimasa akan datang. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer yang diperoleh secara langsung dari responden melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner kepada 112 responden petani cabai merah di Kabupaten Langkat. Model analisis yang digunakan untuk melihat pengaruh prilaku petani terhadap risiko berdasarkan persepsi petani dan sikap risiko petani terhadap manajemen strategi risiko menggunakan analisis deskriptif berupa Partial Least Square (PLS). Dalam penelitian ini Partial least square (PLS) digunakan untuk menganalisis variabel-variabel yaitu persepsi petani, sikap risiko dan kaitan keduanya dengan strategi manajemen risiko. Hasil penelitian ini Persepsi risiko (X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap strategi manajemen risiko (Y). Sikap risiko (X2) berpengaruh positif dan signifikan terhadap strategi manajemen risiko (Y). Persepsi risiko (X1) berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap risiko (X2). Pengaruh tidak langsung persepsi risiko (X1) terhadap strategi manajemen risiko (Y) melalui sikap risiko (X2) berpengaruh positif dan signifikan sebagai pemediasi hubungan antara persepsi risiko (X1) terhadap strategi manajemen risiko (Y). Berdasarkan hasil pengujian nilai koefisien bahwa variabel sikap risiko (X2) adalah 0,437 yang berarti persepsi risiko (X1) mampu mempengaruhi sikap risiko (X2) sebesar 43,7%. Sedangkan nilai koefisien determinasi untuk variabel strategi manajemen risiko adalah 0,524, yang berarti persepsi risiko (X1) dan sikap risiko (X2) mampu mempengaruhi strategi manajemen risiko (Y) sebesar 52,4%.

Kata Kunci : Perilaku Petani, Strategi Manajemen Risiko, Pertial Least Square (PLS).

(7)

the Risk of Red Chili Farming in Langkat Regency, North Sumatra Province". Red chilies are one of the most potential commodities for cultivation. however, red chili farmers do not always experience profits. There are times when farmers often suffer enormous losses.

Uncertainty situations always occur in agriculture, resulting in uncertain yields as well.

This research is important to do so that farmers consider the management and farming planning of red chilies in the future. The data collected in this study include primary data obtained directly from respondents through structured interviews using questionnaires to 112 respondents of red chili farmers in Langkat Regency. The analytical model used to see the effect of farmer behavior on risk based on farmers' perceptions and risk attitudes towards risk management strategies using descriptive analysis in the form of Partial Least Square (PLS). In this study, partial least square (PLS) was used to analyze variables, namely farmer perceptions, risk attitudes and their relationship to risk management strategies. The results of this study are risk perceptions (X1) and have a positive and significant effect on risk management strategies (Y). The risk attitude (X2) has a positive and significant effect on the risk management strategy (Y). Perception of risk (X1) has a positive and significant effect on risk attitudes (X2). The indirect effect of risk perception (X1) on risk management strategy (Y) through risk attitude (X2) has a positive and significant effect as a mediator of the relationship between risk perception (X1) and risk management strategy (Y). Based on the test results, the coefficient value shows that the risk attitude variable (X2) is 0.437, which means that the risk perception (X1) is able to influence the risk attitude (X2) by 43.7%. Meanwhile, the coefficient of determination for the risk management strategy variable is 0.524, which means that risk perception (X1) and risk attitude (X2) are able to influence risk management strategy (Y) by 52.4%.

Keywords: Farmer Behavior, Risk Management Strategy, Pertial Least Square (PLS).

(8)

dan Ibu Erni. Penulis merupakan putra keempat dari enam bersaudara, Pendidikan formal yang pernah ditempuh penulis :

1. Tahun 1994 masuk Sekolah Dasar SD Negeri 1 No. 050724 Kecamatan Tanjung Pura, tamat pada tahun 2000

2. Tahun 2000 masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTP Negeri 1 Kecamatan Tanjung Pura, tamat pada tahun 2003

3. Tahun 2003 masuk Sekolah Lanjutan Tingkat Atas SMA Swasta Sri Langkat Kecamatan Tanjung Pura, tamat pada tahun 2006

4. Tahun 2012 diterima sebagai mahasiswa Strata 1 Program Studi Agronomi Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, tamat pada tahun 2010

5. Tahun 2018 melanjutkan pendidikan S2 di Program Studi Magister Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

(9)

segala rahmat serta ridho-Nya sehingga penulisan tesis ini dapat berjalan dengan baik. Adapun judul dari tesis ini adalah “Perilaku Petani dalam Mengurangi Risiko Usahatani Cabai Merah di Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara”.

Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Muryanto Amin. S.Sos, M.Si., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Ir. Hasanuddin, MS., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak Dr. Ir. Rahmanta, M.Si., selaku Ketua Program Studi Magister Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan komisi pembimbing, atas arahan yang telah diberikan kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini.

4. Ibu Sri Fajar Ayu, SP, MM, DBA., selaku ketua komisi pembimbing, atas bimbingan, arahan dan waktu yang telah diberikan kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini.

5. Ibu Dr. Ir. Tavi Supriana, MS. dan Ibu Dr. Ir. Salmiah MS., selaku komisi penguji, atas bimbingan, arahan, dan waktu yang telah diberikan kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini.

6. Seluruh staf pengajar dan staf administrasi Program Studi Magister Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

7. Kedua orang tua penulis, Mama Erni dan Papa Syafrul yang selalu mendoakan, mendampingi dan pemberi semangat terbesar dalam proses perjalan penyelesaian tesis ini.

8. Seluruh keluarga besar, abang, kakak adik, kakak ipar serta ponakan yang memotivasi dan memberikan dukungan yang luar biasa dalam melewati perjalanan tesis ini.

(10)

Seluruh Kepala Bidang, Kasi, staf serta Orsos yang penuh rasa kekeluargaan dalam mendukung dan memudahkan langkah ini dalam menyelesaikan S2 ini dengan sebaik-baiknya.

10. Seluruh keluarga besar Direktorat Jenderal Penanganan Fakir Miskin Wilayah I Kementerian Sosial Republik Indonesia di Salemba Raya Jakarta, terkhusus untuk Koordinator Daerah Program Sembako Provinsi Sumatera Utara atas semangat yang luar biasa dalam bekerja dan dukungan sehingga perkuliahan ini berjalan dengan lancar.

11. Seluruh sahabat tercinta serta rekan-rekan GG (Taufiq, Supriadi, ni’mal, nita dan lala) atas dukungan dan perjuangan bersama dalam penyelesaian tesis ini serta rekan seperjuangan H. Rizky Yunanda Sitepu, S.TP yang bersama menempuh S2 ini mulai dari perencanaan awal S2 hingga penyelesaian saat ini.

12. Rekan mahasiswa Magister Agribisnis Universitas Sumatera Utara, khususnya angkatan XIX atas bantuan dan dukungannya selama ini.

13. Pemerintah Daerah Kabupaten Langkat dimana saya bernanung hingga saat ini, khususnya Bapak/Ibu Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, BPS Kabupaten Langkat serta BPP Kecamatan yang menjadi lokus tempat dilaksanakan penelitian ini.

Penulis berharap semoga hasil dari penelitian tesis ini bermanfaat bagi banyak pihak, dan memberikan sumbangan pemikiran dalam kemajuan ilmu pengetahuan.

Medan, Januari 2021

Penulis

(11)

ABSTRAK ……….. i

ABSTRACT ……… ii

RIWAYAT HIDUP ……… iii

KATA PENGANTAR ……….……… v

DAFTAR ISI ……… vi

DAFTAR TABEL ………... viii

DAFTAR GAMBAR ……….. ix

DAFTAR LAMPIRAN ……….. x

I. PENDAHULUAN ………... 1

1.1. Latar Belakang ……… 1

1.2. Perumusan Masalah………. ………... 6

1.3 Tujuan Penelitian ……… 6

1.4 Kegunaan Penelitian ……….. 7

II. TINJAUAN PUSTAKA ……… 8

2.1 Petani dan Usaha Tani Cabai Merah……….. 8

2.2 Landasan Teori ……….. 11

2.2.1 Risiko Usahatani Cabai Merah ……… 11

2.2.2 Perilaku Petani………. 13

2.2.3 Persepsi Risiko……...……….. 15

2.2.4 Sikap Risiko ………….………...………... 17

2.2.5 Strategi Manajemen Risiko ………... 19

2.3 Penelitian Terdahulu ………. 26

2.4 Kerangka Pemikiran ……….. 28

2.5 Hipotesis ……… 29

III. METODE PENELITIAN ……… 30

3.1. Metode Penentuan Daerah Penelitian …………... 30

3.2. Metode Penentuan Sample ……….. 30

3.3. Metode Pengumpulan Data ………. 31

3.4 Metode Analisis Data ……….. 32

3.4.1 Evaluasi Model Pengukuran (Outer Model) ……... 35

3.4.1.1 Uji Validitas ……… 35

3.4.1.1.1 Validitas Konvergen………. 35

3.4.1.1.2 Validitas Diskriminan ……….. 36

3.4.1.2 Uji Reabilitas ………. 37

3.4.2 Evaluasi Model Struktural (Inner Model) ……… 38

3.4.2.1 R-Square (R2) ……… 38

3.4.2.2 Koefisien Jalur ………... 38

3.4.2.3 T-Statistik ……….. 39

3.4.3 Evaluasi Model Mediasi ………. 40

3.5 Definsi dan Batasan Operasional ……… 41

3.5.1 Definisi ………... 41

(12)

4.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Langkat ……… 45

4.1.2 Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat ………... 47

4.2 Karakteristik Responden ………... 48

4.3 Evaluasi Model Pengukuran………... 50

4.3.1 Uji Validitas ………. 50

4.3.1.1 Validitas Konvergen………..……….. 50

4.3.1.2 Validitas Diskriminan……….………. 52

4.3.2 Uji Reabilitas ……… 54

4.4 Evaluasi Model Struktural ……… 55

4.4.1 Uji Signifikansi Pengaruh Langsung……… 55

4.4.2 Uji Signifikansi Pengaruh Tidak Langsung ………. 59

4.4.3 R square ……….... 62

V. KESIMPULAN DAN SARAN ……… 64

5.1 Kesimpulan ……….. 64

5.2 Saran ……… 64

DAFTAR PUSTAKA ……….. 66

LAMPIRAN ………. 69

(13)

No Judul Hal 1.1 Produktivitas Cabai Merah (Kw/Ha) di Kabupten Langkat Tahun

2010 s.d 2015

2 3.1 Jumlah Petani Cabai Merah di Kabupaten Langkat 30 3.2 Skala Pengukuran dan Makna Skala pada setiap Variabel 34 3.3 Kriteria dan Deskripsi pada Evaluasi Model Pengukuran 37 3.4 Kriteria dan Deskripsi pada Evaluasi Model Struktural 39

4.1 Karakteristik Responden 49

4.2 Pengujian Validitas Diskriminan melalui uji Fornell-Larcker 52 4.3 Pengujian Validitas Diskriminan melalui Uji Cross Loading 53 4.4 Pengujian Reabilitas berdasarkan Composite Reability dan

Cronbach’s Alpha

54

4.5 Uji Signifikansi Pengaruh Langsung 55

4.6 Uji Signifikansi Pengaruh Tidak Langsung 59

4.7 Nilai Koefisien Determinasi 62

(14)

No Judul Hal 1.1 Grafik Perkembangan Harga Cabai Merah di Provinsi Sumatera Utara 4 1.2 Grafik Produksi Cabai Merah di Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017

dan 2018

3 2.1 Kerangka Penelitian Prilaku Petani dalam mengurangi Risiko Usahatani

Cabai Merah di Kabupaten Langkat

28 3.1 Evaluasi Struktural Model dan Measurement Model 34 4.1 Pengujian Validitas berdasarkan Loading Faktor 51

(15)

No Judul Hal

1. Kuisioner Penelitian 69

2. Data Karakteristik Responden 74

3. Tabulasi Data Hasil Kuisioner 112 Responden 77

4. Uji Normalitas Data 79

5. Pengujian Validitas berdasarkan Faktor Loading 80 6. Pengujian Validitas berdasarkan Average Variance Extracted (AVE)

dan Pengujian Reliabilitas berdasarkan Composite Reliability (CR) dan Cronbach’s Alpha (CA)

80

7. Validitas Diskriminan Berdasarkan Uji Fornell Farker 81 8. Validitas Diskriminan Berdasarkan Uji Cross Loading 81 9. Pengujian Signifikansi Pengaruh Langsung (Direct Variabel) 82 10. Pengujian Signifikansi Pengaruh Tidak Langsung (Indirect Variabel) 82

11. Nilai Koefisien Determinasi 82

12. Model Fit 82

13. Model Analisis Perilaku Petani Dalam Mengurangi Risiko Usahatani Cabai Merah

83

14. Dokumentasi Kegiatan Penelitian 84

(16)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Cabai merupakan kelompok komoditas sayuran buah yang banyak dibudidayakan oleh petani, komoditas cabai termasuk kelompok rempah yang tidak bersubstitusi. Besarnya kebutuhan cabai merah dalam negeri maupun luar negeri menjadikan cabai merah sebagai komoditas menjanjikan. Seperti halnya usaha pertanian pada umumnya, usahatani cabai merah juga memiliki karakteristik sebagai usahatani yang penuh risiko terhadap perubahan alam, bersifat biologis dan musiman, serta rentan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman. Faktor-faktor tersebut secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri dapat menyebabkan kerugian bagi petani. Dengan demikian, petani cabai merah secara terus menerus dihadapkan pada pilihan antara mendapatkan keuntungan yang besar tetapi dengan risiko yang tinggi atau memilih risiko yang lebih rendah tetapi dengan keuntungan yang kecil.

Sektor pertanian di Indonesia sebagaimana negara-negara berkembang lainnya menghadapi sejumlah masalah/resiko yang umum terjadi. Secara umum, petani memiliki kontrol (yaitu dengan keamanan yang sangat sedikit atas kepemilikan) hanya sebagian kecil lahan yang miskin hara atau habis dan sering terpecah-pecah, mereka memiliki tingkat modal sumberdaya manusia yang sangat rendah dalam hal pendidikan, pengetahuan dan kesehatan yang digunakan untuk bekerja, dan mereka menderita utang kronis dan kurangnya aksesibilitas untuk kredit kelembagaan dan input.

(17)

Resiko pertanian terjadi karena berbagai faktor, seperti keragaman dan perubahan iklim, bencana alam, ketidakpastian dalam produktivitas dan harga, kelemahan infrastruktur perdesaan, kelemahan pasar dan kurangnya pelayanan keuangan, termasuk terbatasnya span dan model dari instrumen-instrumen pengendalian resiko seperti kredit dan asuransi yang masih sedikit sekali menyentuh dunia pertanian. Faktor-faktor ini tidak hanya membahayakan kehidupan dan pendapatan para petani tetapi juga melemahkan kekuatan dan potensi sektor pertanian sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kemiskinan petani dan buruh pertanian.

Kabupaten Langkat merupakan salah satu sentra penghasil cabai merah di Sumatera Utara yang masih memiliki potensi untuk dapat mengembangkan usaha tani cabai merah, dilihat dari luas lahan, jumlah panen serta produktivitas usahatani cabai merah. Gambaran terkait usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat tahun 2010 - 2015 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 1.1. Produktivitas Cabai Merah (Kw/Ha) di Kabupaten Langkat Tahun 2010 s.d 2015

Tahun Luas Panen (Hektar)

Produksi (Ton) Rata-rata Produksi (Kwintal/Ha)

2010 330 1,142 34.61

2011 380 1,323 34.82

2012 464 1,707 36.79

2013 476 1,859 39.05

2014 445 1,777 39.93

2015 631 2,524 40.00

Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Langkat, 2010-2015

(18)

Dari Tabel 1.1. Dapat dilihat bahwa dengan bertambahnya luasan panen (hektar) cabai merah di Kabupaten Langkat tetapi tidak secara signifikan meningkatkan penambahan rata-rata produktivitas (kwintal/ha) cabai merah di Kabupaten Langkat dalam penanggulangan risiko dalam usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat.

Berdasarkan hasil studi pendahuluan di lapangan kepada petani cabai merah di Kabupaten Langkat dilakukan wawancara kepada petani dan petugas penyuluh lapangan yang menyatakan, tanaman cabai merah bukan merupakan tanaman utama pertanian yang dibudidayakan oleh petani melainkan sebagai tanaman yang ditanam bersamaan dengan jenis tanaman hortikultura lainnya misalnya tomat, kubis, padi sawah dan sebagainya atau tanaman musiman yang ditanam diantara komoditi tanaman utama atau jenis tanaman hortikultura lainnya. Hal ini disebabkan kerena tidak adanya kepastian produksi terhadap usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat.

Menurunnya jumlah produksi merupakan resiko utama yang sering terjadi akibat pengaruh perubahan alam. Curah hujan yang berlebihan selama musim hujan kemungkinan akan menimbulkan resiko banjir dan meningkatnya suhu juga akan menciptakan kekeringan selama musim kemarau. Gabungan kekuatan dari variabilitas iklim dan perubahan iklim dapat memberikan dampak yang sangat dramatis terhadap produksi pertanian di Indonesia (Naylor et al., 2007) . Selain itu fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat mampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan hama dan penyakit tanaman atau organisme pengganggu tanaman (OPT). Hal ini merupakan beberapa pengaruh perubahan iklim yang berdampak buruk terhadap pertanian di Indonesia.

(19)

Para petani cabai merah di Kabupaten Langkat umumnya menghadapi pasar dan harga yang tidak stabil, mereka memiliki akses yang sedikit terhadap kontrol dan operasi dari lembaga-lembaga pedesaan, dan mereka tidak memiliki kekuatan sosial ekonomi untuk mendapatkan akses yang lebih baik ke layanan publik dan lainnya yang tersedia untuk seluruh anggota masyarakat. Akibatnya, keberadaan petani kecil itu sering berbahaya dan efek cuaca yang buruk atau harga dapat menjadi bencana bagi petani dan keluarganya

Sumber : Pusat Strategi Harga Pangan Nasional (PIHPS) Tahun 2019

Gambar 1.1. Grafik Perkembangan Harga Cabai Merah di Provinsi Sumatera Utara

Dari Gambar 1.1 dapat dilihat fluktuasi harga cabai merah yang terjadi sepanjang tahun 2019. Secara umum harga cabai ditentukan oleh jumlah pasokan/suplai dan jumlah permintaan/kebutuhan. Pada saat pasokan kurang dari permintaan maka harga meningkat, sebaliknya pada saat pasokan lebih besar dari permintaan maka harga anjlok. Permintaan/kebutuhan cenderung konstan setiap waktu, hanya pada waktu tertentu, seperti pada hari raya atau hari besar keagamaan

Rp- Rp10,000 Rp20,000 Rp30,000 Rp40,000 Rp50,000 Rp60,000 Rp70,000 Rp80,000

(20)

Masalah pemasaran dan harga hasil-hasil pertanian yang cenderung turun dan mengalami fluktuasi di pasaran domestik maupun dunia (Firdausy, 2005) . Dua faktor yang menyebabkan kecenderungan ini. Pertama hasil pertanian umumnya tidak tahan lama bahkan mudah rusak, karena itu tidak bisa disimpan lama tanpa teknologi pengawetan, dan sulit dijual ke tempat yang jauh. Kedua, produk pertanian bersifat musiman sehingga dalam waktu-waktu tertentu jika terjadi panen secara serempak, pasokan melimpah dan harga akan turun sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran.

Dalam hal ini dibutuhkan strategi dalam pengelolaan dan penanganan usahatani cabai merah melalui pendekatan teknologi pengolahan hasil pertanian, produk pertanian bisa lebih tahan lama dan meningkat nilai tambahnya. Tetapi industri pengolahan menginginkan harga yang murah dan dalam jumlah yang besar.

Selain beberapa faktor eksternal yang menjadi risiko dalam usahatani cabai merah, perlu juga diperbaiki faktor internal yang mencakup rendahnya kualitas sumberdaya manusia petani yang mencakup rendahnya tingkat pendidikan, keterampilan, dan penguasaan teknologi, lemahnya motivasi untuk berkembang dan mempertahankan hak-hak petani, serta kurangnya jiwa kepemimpinan di kalangan para petani itu sendiri untuk mengelola usahatani mereka secara mandiri.

Pertanian menawarkan studi kasus yang sangat menarik untuk menyelidiki perilaku risiko, karena semakin dihadapkan dengan risiko dan ketidakpastian yang timbul dari berbagai sumber seperti risiko produksi, harga, risiko pribadi dan perubahan kebijakan (Hardaker, 2004). Selain itu, keputusan dibuat sebagian besar oleh petani yang bertujuan tidak hanya memaksimalkan produksi dan profit tetapi juga mempertahankan pekerjaan pertanian (Willock et al., 1999). Karena itu,

(21)

individu Pilihan strategi manajemen risiko sangat penting untuk kelangsungan dan kelanjutan bisnis pertanian.

Mengingat banyaknya resiko usaha pertanian, sudah selayaknya perlu dilakukan analisis terkait usaha pertanian mendapat untuk memperkecil risiko.

Selain itu juga diperlukan cara-cara penanganan yang tepat terhadap risiko - risiko pada usaha pertanian khususnya di Kabupaten Langkat. Berdasarkan fenomena yang terjadi di atas, maka perlu dilakukan kajian mengenai perilaku petani dalam mengurangi risiko usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang sebelumnya, maka dirumuskan beberapa masalah penelitian diantaranya adalah:

1. Bagaimana pengaruh antara persepsi risiko terhadap strategi manjemen risiko usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat?

2. Bagaimana pengaruh antara sikap risiko petani terhadap strategi manjemen risiko usahatani di Kabupaten Langkat?

3. Bagaimana pengaruh antara persepsi risiko terhadap sikap risiko dalam usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat?

4. Bagaimana pengaruh antara persepsi risiko terhadap strategi manajemen risiko cabai merah di Kabupaten Langkat yang dimediasi melalui sikap risiko?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

(22)

1. Untuk menganalisis pengaruh antara persepsi risiko terhadap strategi manjemen risiko usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat.

2. Untuk menganalisis pengaruh antara sikap risiko petani terhadap strategi manjemen risiko usahatani di Kabupaten Langkat.

3. Untuk menganalisis pengaruh antara persepsi petani terhadap sikap risiko usahatani di Kabupaten Langkat.

4. Untuk menganalisis pengaruh antara persepsi risiko terhadap strategi manajemen risiko yang dimediasi melalui sikap risiko usahatani di Kabupaten Langkat.

1.4 Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Sebagai alat analisis dalam mengidentifikasi persepsi risiko dan sikap risiko sebagai bagian dari prilaku petani serta risiko usaha tani cabai merah di Kabupaten Langkat sehingga dapat mengetahui strategi manajemen risiko yang tepat untuk usaha tani cabai merah yang baik dilaksanakan.

2. Sebagai informasi bagi petani sebagai pelaku usaha tani dalam melaksanakan keberlangsungan usahataninya sehingga menjadikan sektor usahatani nya tumbuh lebih baik.

3. Sebagai refrensi dan informasi bagi pemerintah dalam usaha peningkatan budidaya tanaman hortikultura (cabai merah) serta bagi pengembangan penelitian selanjutnya.

(23)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Petani dan Usaha Tani Cabai Merah

Peranan pertama dari petani adalah memelihara tanaman dan hewan guna mendapatkan hasil-hasilnya dan berfaedah pada tanaman. Pemeliharaan ini mencakup menyiapkan persemaian, menyebarkan benih, penyiangan, mengatur kelembaban tanah serta melindungi tanaman terhadap hama penyakit. Peranan lain yang dilakukan petani dalam usahataninya adalah sebagai pengelola. Apabila keterampilan bercocok tanam sebagai juru tani pada umumnya adalah keterampilan tangan, otot dan mata, maka keterampilan pengelola mencakup kegiatan pikiran yang didorong oleh kemauan juga tercakup didalamnya terutama pengambilan alternatif-alternatif yang ada ataupun keputusan-keputusan.

Usahatani adalah suatu jenis kegiatan pertanian rakyat yang diusahakan oleh petani dengan mengkombinasikan faktor alam, tenaga kerja, modal dan pengelolaan yang ditujukan pada peningkatan produksi (Agung et al., 2002) . Usaha tani dapat diartikan juga sebagai bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya.

Komoditas pangan harus mengandung zat gizi yang terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia. Kelompok tanaman budidaya yang tergolong komoditas ini meliputi kelompok tanaman pangan, tanaman hortikultura non tanaman hias, dan kelompok tanaman lain penghasil bahan baku produk yang memenuhi batasan pangan.

Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu komoditas

(24)

luas dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Pemanfaatan komoditas sayuran tersebut sebagian besar adalah untuk keperluan rumah tangga yang dikonsumsi dalam bentuk segar, kering, atau olahan. Selain itu cabai merah digunakan pula sebagai bahan baku industri untuk obat-obatan. Menurut data Direktorat Jenderal Hortikultura (2009), pada tahun 2007 luas areal tanam cabai merah di Indonesia mencapai 113.079 Ha dengan produksi total mencapai 736.019 ton dengan rata-rata produktivitas 6,51 ton/Ha, masih rendah jika dibandingkan dengan potensi hasilnya yang berkisar antara 12-20 ton/Ha (Sumarni & Muharam, 2005).

Selama periode tahun 2018, perkembangan harga produsen sektor pertanian secara umum mengalami kenaikan. Perbedaan pola fluktuasi harga yang terjadi di setiap kabupaten di Provinsi Sumatera Utara umumnya dipengaruhi oleh musim, perbedaan kualitas dan lokasi tempat tinggal petani. Volume produksi berfluktuasi antar musim, terutama antara musim panen dan musim tanam. Pada musim panen, ketersediaan produk melimpah sehingga apabila permintaan konstan maka harga akan turun, sedangkan pada musim tanam ketersediaan produk sangat terbatas, apabila permintaan konstan maka harga akan naik (BPS Provinsi Sumatera Utara, 2019)

Dari sisi penawaran menunjukkan bahwa proses penyediaan cabai merah belum sepenuhnya dikuasai para petani. Faktor utama yang menjadi penyebab adalah bahwa petani cabai merah adalah petani kecil-kecil yang proses pengambilan keputusan produksinya diduga tidak ditangani dan ditunjang dengan suatu peramalan produksi dan harga yang baik. Mengingat sifat unik dari komoditas hortikultura secara umum seperti mudah busuk, mudah rusak, volumenious,

(25)

produksinya bersifat musiman sementara konsumsi terjadi sepanjang tahun (Rahim et al., 2012).

Beberapa faktor pendukung yang bersifat teknologi yang diperlukan untuk mengembangkan bisnis budidaya cabai merah berskala usaha kecil, guna mengantisipasi peluang permintaan dapat terus dikembangkan dan ditingkatkan.

Penataannya mencakup perbaikan serta penyempurnaan dalam penerapan teknologi pada setiap siklus produksi, yang dimulai dari : (i) proses persiapan dan pembuatan pembibitan cabai merah, (ii) penyediaan benih cabai merah yang unggul dan bebas dari penyakit virus, (iii) persiapan lahan budidaya, (iv) penerapan teknologi penanaman cabai merah, (v) pemeliharaan tanaman, (vi) proses panen, (vii) proses penanganan hasil panen dan (viii) distribusi dan pemasaran hasil panen (produksi cabai merah). Perbaikan terhadap faktor pendukung penerapan teknologi tersebut pada prinsipnya bertujuan untuk dapat menekan risiko kegagalan produksi sampai pada tingkat yang sekecil mungkin.

Perilaku petani dalam melakukan kegiatan produksi sangat tergantung prilaku mereka terhadap risiko serta strategi dalam menghadapi risiko, baik itu risiko produksi maupun harga hasil pertanian. Dalam menjalankan usaha taninya petani cabai merah menghadapi masalah-masalah yang kompleks, baik masalah yang sifatnya internal maupun eksternal. Permasalahan Internal antara lain masalah sempitnya penguasaan lahan, rendahnya penguasaan teknologi dan lemahnya permodalan. Sedangkan masalah eksternal menyangkut masalah perubahan iklim, serangan organisasi pengganggu tanaman (OPT) serta masalah fluktuasi harga jual.

Permasalahan tersebut dapat menimbulkan risiko dan ketidakpastian bagi petani (Saptana et al., 2010).

(26)

Beberapa argument pentingnya melakukan penelitian perilaku petani dalam menghadapi risiko dan strategi manajemen risiko pada komoditas usaha tani cabai merah adalah:

(a) Masih terbatasnya studi secara mendalam tentang prilaku dan strategi manajemen risiko patani cabai merah dalam menghadapi risiko;

(b) Komoditas cabai merah disatu sisi tergolong sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi (high value commodity), namun pada sisi lain juga memiliki risiko yang tinggi (high risk commodity);

(c) Mempunyai daya adaptasi yang luas dan produktivitas yang tinggi, namun hingga kini tingkat produktivitasnya masih jauh dari produktivitas potensialnya;

(d) Usaha tani cabai merah bersifat intensif tenaga kerja, sehingga berpotensi untuk memecahkan masalah pengangguran dan kemiskinan di pedesaan (Fajri, 2018).

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Risiko Usahatani Cabai Merah

Risiko adalah suatu kejadian dimana hasil dari kejadian dan peluang terjadinya bisa diketahui (Pagoulatos et al., 1986). Dalam prakteknya informasi tidak semata mata menunjuk pada pengetahuan seseorang atas kejadian tertentu, melainkan lebih pada seberapa besar kepercayaan orang tersebut pada setiap peluang yang mungkin terjadi, hingga batas ini risiko bergeser dari sudut pandang obyektif menjadi subyektif.

Beberapa proposisi tentang risiko yaitu : (1) tidak terpenuhinya maksimisasi profit, (2) menyebabkan keengganan dan kelambanan petani untuk

(27)

mengadopsi inovasi, (3) menjadi alasan bagi petani untuk melakukan tumpangsari yang terbukti mampu menekan efek ketidakpastian, (4) fenomena risiko lebih terasa bagi petani miskin dibandingkan dengan keluarga petani yang memiliki kesempatan melakukan off farm (setiap pekerjaan selain usahatani milik sendiri yang menghasilkan pendapatan termasuk bekerja sebagai buruh tani dan kegiatan non pertanian), dan (5) ketidakpastian ini direduksi dengan meningkatkan integrasi pasar berkenaan dengan informasi, komunikasi, dan outlet pasar.

Risiko merupakan bagian yang tidak dapat dihindarkan dari usaha tani di negara maju dan berkembang. Sumber risiko yang bervariasi diantaranya risiko kerusakan akibat cuaca yang tidak wajar dan serangan hama dan penyakit adalah sumber utama risiko produksi atau hasil. Petani juga sering mengalami risiko pasar atau harga karena volatilitas input dan biaya output pertanian. Selain risiko produksi dan pasar, petani menghadapi risiko sumber daya manusia, risiko keuangan, dan risiko kelembagaan dan kebijakan. Risiko yang melekat atau "normal" berasal dari tren yang signifikan yang diakibatkan oleh faktor lingkungan pertanian, menciptakan ketidakpastian yang lebih besar bagi petani. Kecenderungan yang merugikan ini termasuk degradasi tanah dan air; perubahan iklim, menyebabkan peningkatan variabilitas iklim dan kejadian cuaca ekstrem; peningkatan risiko serangan, penyakit, dan gulma, dan meningkatnya kompetisi untuk tanah, air, dan energi (Kabir et al., 2019).

Risiko-risiko yang dihadapi petani pada dasarnya berkaitan dengan kemampuan manajemen petani (Kurniati, 2015). Kemampuan ini dapat membantu petani pada pengambilan keputusan untuk usahataninya. Keputusan tersebut biasanya berhubungan dengan jumlah input yang akan digunakan, sehingga dapat

(28)

mencegah terjadinya risiko yang mungkin terjadi selama proses budidaya.

Keputusan yang diambil petani juga akan berpengaruh pada pengambilan keputusan untuk berusahatani berikutnya.

Dalam tahapan manajemen risiko yang dibedakan secara tradisional (identifikasi, penilaian, dan respons terhadap risiko) karena subjek pekerjaan, yang terakhir, dimana ada keputusan tentang pemilihan instrumen manajemen risiko, tampaknya menjadi kunci penting. Akan tetapi, layak untuk ditunjukkan bahwa dalam jenis produksi ini instrumen manajemen risiko pertanian mungkin terkait dengan keputusan di tingkat kepemilikan pertanian maupun kebijakan Negara (Fajri

& Fauziyah, 2018).

2.2.2 Perilaku Petani

Pilihan individu untuk bertindak berdasarkan risiko, yaitu perilaku berisiko mereka tergantung pada penilaian individu terhadap risiko yang terlibat.

Karenanya, persepsi risiko adalah penentu penting perilaku berisiko. Faktor kunci lain dalam menentukan bagaimana petani merespons risiko diyakini sebagai sikap berisiko (Willock et al., 1999).

Perilaku petani terhadap risiko dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu: 1).

Upaya mengendalikan kemungkinan risiko; 2). Tindakan untuk mengurangi efek risiko. Ketika petani lebih menghindari risiko, itu lebih kemungkinan bahwa skala bisnis mereka tidak efisien; ketika petani lebih berani mengambil risiko, lebih besar kemungkinan skala bisnis mereka lebih efisien dalam hal biaya dan harga (Dhungana et al., 2004).

Keputusan untuk menjadi pengambil risiko pada dasarnya mengharuskan petani untuk mengelola pertanian mereka lebih serius, misalnya dengan

(29)

menerapkan teknologi yang lebih maju untuk meningkatkan produksi. Di sisi lain, menjadi penghindar risiko akan mengarah kepada keputusan bisnis yang sederhana dan tindakan bisnis sederhana, sehingga mendapatkan hasil yang tidak memadai.

Dengan kata lain, perilaku petani dalam menghadapi risiko memiliki peran penting dalam mempengaruhi produktivitas pertanian.

Selanjutnya, selain permasalahan eksternal yang berkaitan dengan lahan dan usahatani cabai merah perlu juga dilakukan analisa perilaku petani. Perilaku Petani penting dipahami terkait persepsi risiko dan sikap risiko yang akan dikaitkan dengan pilihan petani dalam menentukan strategi manajemen risiko yang dipilih.

Dalam penelitian ini, untuk menerapkan strategi manajemen risiko tertentu secara langsung didorong oleh persepsi risiko dan sikap risiko. Penentu lain mempengaruhi penerapan strategi risiko yang berbeda terutama secara tidak langsung, dimediasi oleh sikap risiko. Ini sejalan dengan penelitian sebelumnya Van Winsen et al., (2016) yang menempatkan persepsi dan sikap dalam peran utama yang menjelaskan perilaku risiko yang dimaksudkan.

Menurut (Ban & Hawkins, 1999) menyatakan bahwa walaupun manusia berada pada dunia yang sama dan menerima stimulasi yang sama pula melalui panca indera, namun dalam menginterpretasikan pengalaman, manusia akan berbeda beda. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan gaya kognitif, dimana pada setiap individu proses mentalnya bekerja dengan gaya masing masing. Hal hal tersebut sangat tergantung kepada faktor – faktor pribadi, misalnya tingkat keterbukaan, tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan yang dimiliki dan lain – lain.

(30)

2.2.3 Persepsi Risiko

Persepsi risiko dapat berbeda antara individu yang disebabkan oleh perbedaan dalam risiko obyektif yang dihadapi individu dan/atau karena interpretasi subjektif risiko berbeda. Diharapkan bahwa untuk individu dengan risiko yang lebih tinggi, niat untuk secara aktif terlibat dalam manajemen untuk mengendalikan risiko lebih besar.

Dalam Kamus Inggris-Indonesia, perception atau persepsi diartikan sebagai tanggapan, atau menanggapi sesuatu (Echols et al., 1989). Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan . Menurut Walgito, (1997) persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan yang merupakan proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptornya.

Persepsi merupakan proses kognitif yang dialami setiap orang dalam memahami informasi tentang ligkungannya, baik melalui penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman. Persepsi tersebut merupakan penafsiran yang unik terhadap situasi, bukan pencatatan yang benar terhadap situasi. Persepsi adalah pengetahuan mengenai sesuatu objek dalam kaitannya dengan usaha-usaha penyesuaian, sedangkan menurut Karn, persepsi merupakan suatu kesadaran yang terpilih dan terorganisasi terhadap rangsangan yang muncul dari luar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, persepsi adalah tanggapan yang mengandung makna yang terorganisasi tentang suatu rangsangan setelah melalui proses memahami, menafsirkan, menginterpretasikan, dan memikirkan secara sadar.

(31)

Munculnya persepsi masyarakat berkaitan dengan munculnya suatu program, kegiatan ataupun masalah-masalah yang timbul di masyarakat maupun suatu kelompok masyarakat. Munculnya risiko-risiko pertanian dan cara-cara mengatasinya, menimbulkan berbagai bentuk respon atau tanggapan berupa pernyataan, penilaian, komentar, argumentasi dari petani atau masyarakat yang disebut persepsi. Kualitas persepsi yang muncul tergantung dari kemampuan petani menafsirkan, menginterpretasikan, dan memahami informasi risiko-risiko pertanian yang diterima. Bentuk persepsi yang muncul dianggap sah, karena persepsi bukan pencatatan yang benar atas suatu rangsangan, tetapi hasil dari menafsirkan, menginterpretasikan, dan kemampuan memahami melalui proses berpikir atas suatu rangsangan.

Kegiatan ekonomi pada usaha tani berisiko tinggi dan sangat tidak pasti.

Kurangnya kapasitas untuk mengantisipasi risiko dan ketidakpastian telah menyebabkan kerugian besar akibat rendahnya produksi (Pasaribu, 2010).

Manajemen risiko berarti mengidentifikasi risiko dan berbagai pilihan, kemudian mengevaluasi, memilih dan menerapkan tindakan. Manajemen risiko bisnis berarti "mengetahui bisnis," dan melakukannya dengan cara yang terampil.

Yang termasuk risiko bisnis adalah risiko produksi; risiko harga atau pasar, risiko kelembagaan; dan risiko manusia atau pribadi.

1. Risiko produksi terlihat dari ketidakpastian proses perkembangan alami tanaman pangan dan peternakan. Risiko produksi timbul dari ketidakpastian tentang cuaca termasuk kekeringan, beku, curah hujan yang berlebihan pada saat panen, hama, penyakit, dan banyak faktor-faktor tak terduga lainnya yang mempengaruhi jumlah dan kualitas produksi.

(32)

2. Risiko harga atau pemasaran terjadi karena ketidakpastian harga yang diterima setiap menghasilkan produk pertanian atau harga yang harus dibayar petani untuk mendapatkan input. Sumber risiko pemasaran meliputi: risiko harga akibat kenaikan pasokan, atau permintaan berubah; hilangnya akses pasar karena relokasi atau penutupan pabrik pengolahan; dan kehilangan tenaga pemasaran karena ukurannya yang kecil.

3. Risiko institusional atau kelembagaan timbul karena ketidakpastian kebijakan pemerintah. Perubahan dalam aturan, hukum pajak, peraturan yang berhubungan dengan penggunaan bahan kimia, peraturan-peraturan tentang limbah peternakan, dan tingkat harga atau dukungan pendapatan merupakan contoh-contoh dari keputusan pemerintah yang dapat memberikan dampak yang besar terhadap usaha pertanian.

4. Risiko sumberdaya manusia mencakup beberapa kemungkinan seperti masalah pada kesehatan manusia atau hubungan pribadi yang dapat memberi pengaruh kepada usaha pertanian. Kecelakaan, sakit, kematian dan cerai juga merupakan contoh-contoh dari krisis personal yang dapat mengancam usaha pertanian.

Risiko finansial atau keuangan, berbeda dengan risiko bisnis. Risiko keuangan lebih menekankan pada masalah modal, penggunaan dana pinjaman, asuransi, dan kewajiban.

2.2.4 Sikap Risiko

Sikap risiko telah dijelaskan dalam literatur ekonomi dan psikologis. Dalam literatur ekonomi, sikap risiko dijelaskan dalam kerangka utilitas yang diharapkan (Pennings & Garcia, 2001). Inti dari teori utilitas yang diharapkan adalah asumsi pengembalian utilitas yang semakin menurun. Sikap risiko dapat diukur sebagai

(33)

kelengkungan fungsi utilitas, yaitu sejauh mana kenaikan nilai dianggap peningkatan yang sama dalam utilitas. Dengan demikian, sikap berisiko biasanya dianggap stabil dari waktu ke waktu, domain dan konteks yang berbeda (Dohmen et al., 2011). Namun, teori prospek, yang berasal dari pendekatan utilitas yang diharapkan, mengusulkan bahwa para pengambil keputusan adalah penghindar risiko dalam domain keuntungan dan pencarian risiko dalam domain kerugian.

Selain itu, sikap berisiko dijelaskan secara menyeluruh dalam literatur psikologis. Dalam tradisi ini, sikap risiko sering dianggap berbeda atas domain dan bahkan waktu, yaitu para pengambil keputusan dapat secara simultan mencari risiko dan menolak risiko dalam domain yang berbeda (Hansson & Lagerkvist, 2012).

Sebaliknya, baru-baru ini telah ditunjukkan bahwa perbedaan dalam perilaku berisiko di seluruh domain sering kali dapat dilanggani dengan persepsi risiko yang berbeda, sementara sikap risiko tetap stabil (Weber et al., 2002).

Secara konseptual sikap risiko dapat diartikan sebagai orientasi pribadi untuk mengambil atau menghindari risiko yang gigih dan stabil, tetapi berkembang seiring waktu sebagaimana dipengaruhi oleh pengalaman. Kami berharap bahwa semakin bersedia petani untuk mengambil risiko, yaitu semakin tinggi sikap risiko mereka, semakin kecil kecenderungan mereka untuk menerapkan strategi pengurangan risiko.

Sikap berisiko atau kadang-kadang disebut sebagai preferensi risiko, penolakan risiko atau kecenderungan risiko, adalah orientasi petani terhadap pengambilan risiko. Sikap risiko dapat bervariasi dari sangat tidak mau mengambil risiko (risk averse) hingga sangat bersedia mengambil risiko (risk seeking). Orang

(34)

yang berbeda memiliki sikap berbeda terhadap risiko yang menyebabkan mereka berurusan secara berbeda terlepas dari persepsi individu mereka.

Sikap risiko atau disebut sebagai preferensi risiko, adalah orientasi aktor terhadap pengambilan risiko. Sikap risiko dapat bervariasi dari sangat tidak mau mengambil risiko (risk averse) hingga sangat bersedia mengambil risiko (risk seeking). Orang yang berbeda memiliki sikap berbeda terhadap risiko yang menyebabkan mereka berurusan secara berbeda terlepas dari persepsi individu mereka.

Menurut Levis (2013) , Sikap dalam kasus tertentu bisa berubah menjadi persepsi, tergantung seberapa dekat objek tersebut menyentuh psikomotorik populasi atau responden. Di dalam ilmu penyuluhan atau pemberdayaan petani, terori ini telah dipakai sebagai dasar dalam pemberian penyuluhan jangka pendek yakni merubah perilaku petani, menumbuhkan sikap atau persepsi positif terhadap suatu inovasi atau program pembangunan pertanian, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani terhadap suatu inovasi yang diberikan kepada petani.

2.2.5 Strategi Manajemen Risiko

Sistem produksi dibedakan sesuai dengan spesies yang diproduksi dan tiga tingkat utama intensifikasi atau tipe pertanian yaitu pertanian ekstensif, semi intensif dan intensif. Respon yang memadai untuk memitigasi risiko bervariasi, dengan strategi manajemen risiko yang berbeda digunakan. Untuk beberapa kasus dapat dipertimbangkan strategi manajemen risiko dalam arti yang lebih luas, termasuk tidak hanya strategi pertanian dan adopsi teknologi (teknologi dan praktik pertanian, tingkat intensifikasi), tetapi juga strategi pembagian risiko (kontrak harga, asuransi), dan investasi pertanian Dalam proses adopsi strategi manajemen

(35)

risiko, persepsi tentang besarnya risiko dan kepercayaan diri untuk memitigasi jenis risiko tertentu keduanya memainkan peran penting. Adopsi yang diambil sebagai langkah-langkah untuk mengenali risiko dan menerapkan teknologi dan praktik untuk mengurangi itu (Joffre et al., 2018).

Selanjutnya Saptana et al., (2010) memaparkan bahwa pada dasarnya, kesediaan petani dalam mengambil keputusan untuk memilih ataupun bertindak atas risiko tergantung pada sifat bawaan, dan utility yang diperoleh petani berdasarkan produksi yang dihasilkan (output). Hal ini kemudian akan berdampak pada strategi yang akan digunakan petani. Atas dasar sifat pembawaan psikis masing-masing petani yang berbeda, juga akan menyebabkan perbedaan perilaku risiko petani. Perbedaan tersebut akan berdampak pada keputusan masing-masing petani dalam mengalokasikan input yang akan digunakan. Alokasi input yang dipakai selanjutnya akan mempengaruhi produktivitas dan capaian efisiensi petani.

Petani cabai merah yang berperilaku berani menghadapi risiko produktivitas akan cenderung mengalokasikan input produksi semakin tinggi, sehingga produktivitas yang dicapai lebih tinggi. Sebaliknya, petani yang berperilaku menghindari risiko produktivitas cenderung mengalokasikan input produksi lebih rendah, sehingga produktivitas yang dicapai lebih rendah. Usahatani cabai merah memang dikenal membutuhkan dana yang lebih besar untuk biaya produksi dibandingkan dengan mengusahakan tanaman pangan. Kemungkinan gagal panen juga cukup tinggi, disamping harga produknya juga sangat fluktuatif sepanjang tahun (Basyarahil et al., 2016).

Sebagian besar analisis empiris terhadap produksi pertanian menggunakan fungsi produksi yang tidak memasukkan risiko kedalam fungsi tersebut,

(36)

keterbatasan fungsi ini adalah dampak tambahan dari kenaikan penggunaan input akan selalu meningkatkan variabilitas output. Padahal dalam kenyataannya banyak ditemukan bahwa penambahan suatu input dapat menyebabkan penurunan variabilitas output atau sebaliknya yaitu pengurangan penggunaan suatu input akan meningkatkan variabilitas output. Konsekwensinya adalah akan diperoleh kesimpulan yang tidak benar.

Binici et al., (2003) menyatakan bahwa menganalisis perilaku petani menghadapi risiko sangat penting untuk memahami keputusan managerial mereka.

Jika petani masuk dalam kategori risk averse. Petani-petani membuat keputusan managerial lebih didasarkan pada tujuan untuk menurunkan risiko walaupun pendapatannya lebih rendah. Implikasinya adalah bahwa petani-petani itu harus diberikan jaminan / asuransi pada usahataninya. Strategi manajerial yang dapat ditempuh oleh petani diantaranya: (1) diversifikasi komoditas yang dihasilkan, (2) adopsi teknologi yang memiliki potensi untuk menurunkan risiko kegagalan, (3) pendapatan off farm, dan (4) akumulasi tabungan dalam bentuk kas daripada menginvestasikan dalam perbaikan kapital.

Pertanian menawarkan studi kasus yang sangat menarik untuk menyelidiki perilaku risiko, karena semakin dihadapkan dengan risiko dan ketidakpastian yang timbul dari berbagai sumber seperti risiko produksi, volatilitas harga, risiko pribadi dan perubahan kebijakan (Hardaker et al., 2004). Selain itu, keputusan dibuat sebagian besar oleh satu orang yang bertujuan tidak hanya memaksimalkan produksi dan laba tetapi juga mempertahankan pekerjaan pertanian (Willock et al., 1999).

(37)

Oleh karena itu, pilihan individu dari strategi manajemen risiko sangat penting untuk kelangsungan dan kelanjutan bisnis pertanian. Mengingat pentingnya manajemen risiko yang baik, manajer pertanian, agrikultur, dan penyuluh berusaha memahami proses pengambilan keputusan petani sehubungan dengan potensi strategi manajemen risiko. Produsen mungkin tidak selalu memahami bahwa pilihan mereka berbeda dari produsen lain karena perbedaan pribadi dalam persepsi dan sikap mereka, daripada didorong oleh pengaruh eksternal dan hambatan struktural. Lebih jauh, pembuat kebijakan pertanian semakin bertekad untuk meliberalisasi pasar pertanian dan pembentukan harga, dengan demikian menggantikan kebijakan regulasi pasar (seperti intervensi harga, subsidi ekspor dan kuota produksi) dengan instrumen manajemen risiko sektoral (seperti pembayaran langsung dan skema asuransi). Agar pembuat kebijakan mengantisipasi respons petani terhadap perubahan kebijakan pertanian tersebut, mereka juga membutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang niat petani untuk menerapkan strategi manajemen risiko yang berbeda.

Di negara-negara berkembang, kegiatan manajemen risiko secara tradisional dilakukan sebelum (ex-ante) dan setelah (ex-post) risiko itu muncul (Siegel & Alwang, 1999). Contoh strategi ex-ante mencakup akumulasi dari simpanan cadangan sebagai tabungan pencegahan dan diversifikasi pendapatan yang menghasilkan kegiatan melalui perubahan alokasi tenaga kerja (bekerja pada on farm dan usaha kecil off farm, dan migrasi musiman) atau berbagai praktek tanam (menanam tanaman yang berbeda, seperti varian tahan kekeringan, penanaman di lahan yang berbeda, tumpang sari, dan mengandalkan input berisiko rendah). Demikian pula, perusahaan dapat mengasuransikan diri melalui

(38)

kapitalisasi tinggi dan diversifikasi kegiatan usaha. Masyarakat secara kolektif mengurangi risiko cuaca dengan proyek irigasi dan pengolahan tanah konservasi yang melindungi tanah dan kelembaban. Contoh dari strategi ex-post adalah dengan petani melakukan pekerjaan yang bersifat off-farm, menjual hasil ternak atau asset pertanian lainnya, mengajak anak-anak bekerja sebagai buruh pertanian, dan meminjam uang kepada keluarga, teman atau tetangga (Hanan & Skoufias, 1998).

Strategi manajemen risiko dapat dianalisa melalui pendekatan indikator sebagai upaya dalam strategi risiko terhadap enam strategi berbeda, yakni diversifikasi, eksternal, optimisasi, koping, luar pertanian (off farm) dan Penyangga (buffer) (Van Winsen et al., 2016). Penentu perilaku risiko: efek risiko yang dirasakan dan sikap risiko terhadap adopsi petani strategi manajemen risiko, Jurnal Penelitian Risiko, sebagai berikut ;

1. Diversifikasi

Diversifikasi adalah usaha meningkatkan hasil pertanian melalui penganekargaman dengan cara memperbanyak jenis tanaman pada suatu lahan pertanian. Diversifikasi tanaman dilakukan agar pertanian tidak hanya menghasilkan satu jenis tanaman. Contoh diversifikasi pertanian adalah sistem tumpang sari yaitu menanam beberapa jenis tanaman secara bersamaan pada lahan yang sama. Misalnya, menanam secara bersama-sama ubi kayu, kedelai, dan jagung. Diversifikasi dapat dilakukan diantara dua musim tanam atau pada satu musim secara bersamaan. Dalam kaitan strategi manajemen usahatani dapat dilakukan melalui penganekaragaman sumber pendapatan petani yang berhubungan dengan usahatani, misalnya ; menjual hasil produksi dalam bentuk

(39)

olahan dsb dan diversifikasi produksi dilakukan melalui kegiatan usahatani dengan menanam jenis komoditi lainnya.

2. Eksternal

Pengelolaan risiko eksternal adalah pengelolaan risiko yang berhubungan dengan lingkungan di luar usahatani dan dapat diprediksi sejak awal, antaralain ; lingkungan makro pada pertumbuhan ekonomi, lingkungan hukum, kondisi sosial- budaya, persaingan bisnis, fluktuasi harga dan inflasi. Sedangkan Risiko eksternal yang tidak dapat diprediksi sejak awal, antara lain ; perubahan politik nasional, regulasi & perubahan kebijakan pemerintah, termasuk hal-hal berupa perubahan iklim dan force majeure seperti bencana alam.

Dampak yang ditimbulkan oleh risiko eksternal antara lain berupa kerugian finansial, penurunan produksi. Strategi pengelolaan risiko yang paling sesuai adalah mitigasi risiko dengan meminimalkan risiko yang mungkin terjadi setelah usahatani berjalan. Contoh langkah-langkah meminimalkan risiko eksternal pada usahatani adalah dengan melakukan kontrak harga serta asuransi usahatani.

3. Optimalisasi

Strategi manajemen risiko melalui optimalisasi yaitu melalui pendekatan pengelolaan usahatani yang dioptimalkan melalui penambahan input sumberdaya yang digunakan dalam usahatani tersebut. Strategi manajemen risiko melalui optimalisasi ini misalnya dapat digunakan input teknologi dalam budidaya serta penambahan luasan lahan untuk memperkecil risiko usahatani yang terjadi.Strategi ini juga merupakan usaha preventif yang dapat dilakukan sebelum terjadinya risiko usahatani tersebut.

(40)

4. Koping

Strategi manajemen risiko selanjutnya adalah koping. Koping adalah upaya – upaya yang dilakukan individu dalam menghadapi situasi penuh tekanan atau yang mengancam dirinya dengan menggunakan sumberdaya yang ada untuk mengurangi tekanan yang dialami.

Misalnya dalam penelitian ini strategi koping digambarkan melalui pendekatan usaha petani yang lebih keras/ekstra dalam mengelola usahatani serta menghemat pengeluaran pribadi untuk mengurangi dampak terjadinya risiko usahatani.

5. Luar Pertanian (off farm)

Strategi manajemen risiko off farm merupakan faktor pertama yang dibangun dengan satu item dan mengacu pada kecenderungan untuk memperoleh pendapatan di luar pertanian atau meminta orang lain di rumah tangga untuk mendapatkan penghasilan dari pertanian. Dalam strategi manajemen risiko dapat dilakukan melalui pendekatan, misalnya mendapatkan pendapatan selain dari berusahatani, misalnya usaha warung, pekerja non formal lainnya yang tidak berhubugan dengan pertanian. Selain itu manajemen risiko ini dapat dilakukan melalui strategi pendapatan dari anggota rumah tangga yang lain yang ikut membantu dalam mengurangi dampak risiko usahatani.

6. Penyangga (Buffer)

'Buffer' adalah faktor terakhir dan yang kedua diukur sebagai strategi dalam mengurangi risiko usahatani, hal tersebut dapat mencerminkan kecenderungan untuk menghindari risiko finansial dengan selalu menjaga buffer untuk saat-saat yang membutuhkan.Tujuannya adalah mencapai keseimbangan dalam menghadapi

(41)

risiko yang terjadi. Adapun upaya yang dilakukan dalam strategi ini adalah sama sekali menghidarkan diri dari segala yang dapat mengakibatkan risiko keuangan dan melakukan hal selektif dalam pengeluaran yang dianggap prioritas.

2.3 Penelitian Terdahulu

Penelitian ini mengacu pada penelitian sebelumnya untuk mempermudah dalam pengumpulan data, metode analisis data yang digunakan dalam pengolahan data, maka penulis mencantumkan hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran dalam menyusun kerangka pemikiran dengan harapan hasil pemikiran dapat tersaji secara akurat dan mudah dipahami, disamping itu untuk mengetahui persamaan dan perbedaan dalam beberapa penelitian sebagai kajian yang dapat mengembangkan wawasan berfikir peneliti.

Saptana, et all, (2010) Strategi Manajemen Risiko Cabai Merah Pada Lahan Sawah Dataran Rendah di Jawa Tengah. Petani cabai merah sebagai manajer usaha tani adalah mengelola risiko dan strategi manajemen risiko pada usaha tani cabai merah pada lahan sawah dataran rendah di Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan untuk mengadopsi pola tanam yang dominan merupakan pencerminan strategi menejemen risiko ex ante yang di tempuh oleh petani. Sementara itu, strategi manajemen risiko interactive dilaksanakan melalui penggunaan masukan yang cenderung berlebih bibit dan pestisida. Sementara itu, jika terjadi kegagalan yang mengganggu sumber pendapatan keluarga dan keberlanjutan usaha tani, petani cenderung menggunakan pendapatan dari usaha tani lainnya, mengambil tabungan, menjual sebagian asset serta meminjam dari pihak lain sebagai manifestasi strategi manajemen risiko ex post.

(42)

Pujiharto dan Sri Wahyuni (2017) Analisis Perilaku Petani Terhadap Risiko Usahatani Sayuran Dataran Tinggi: Penerapan Moscardi and de Janvry Model.

Tujuan dari penelitian ini adalah: menganalisis perilaku petani terhadap risiko usahatani sayuran dataran tinggi dengan menerapkan model Moscardi and de Janvry. Hasil penelitian menunjukkan kontribusi terbesar input yang mempengaruhi produktivitas kentang adalah tenaga kerja; kubis adalah tenaga kerja, tomat adalah benih dan bawang daun adalah tenaga kerja. Sebagian besar petani dalam menghadapi risiko usahatani sayuran dataran tinggi menunjukkan semua petani yang menanam kentang, kubis, tomat dan bawang daun bersifat menghindari risiko (risk averter).

Olivier M. Joffre, P. Marijn Poortvliet, Laurens Klerkx, (2018) Are shrimp farmers actual gamblers? An analysis of risk perception and risk management behaviors among shrimp farmers in the Mekong Delta. Budidaya udang dianggap sebagai "bisnis berisiko" dan sering dibandingkan dengan perjudian untuk petani.

Ini terkait dengan beragam risiko dan ketidakpastian, termasuk pasar yang mudah berubah, variabilitas iklim, dan risiko produksi. Untuk mengurangi dampak ketidakpastian, petani dapat memutuskan kepadatan stocking tertentu dan mengadopsi strategi manajemen risiko yang berbeda.

Dorma H. Sinaga, Hasman Hasyim, Sri Fajar Ayu (2017) Estimasi Pendapatan Dan Risiko Usahatani Cabai Merah (Capsicum annum L.) (Kasus : Desa Parbuluan I, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi). Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan perkembangan produksi cabai merah, besarnya pendapatan petani cabai merah, menganilisis pengaruh karakteristik (umur, tingkat pendidikan, lama berusahatani, jumlah tanggungan keluarga dan luas lahan)

(43)

terhadap pendapatan petani cabai merah, mengetahui risiko usahatani cabai merah dan mengestimasi pendapatan usahatani cabai merah di daerah penelitian.

Elys Fauziah (2018) Disertasi Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Pengaruh Perilaku Risiko Produksi Petani Terhadap Alokasi Input Usahatani Tembakau : Pendekatan Fungsi Produksi Frontir Stokastik. Tingkat produktivitas usahatani yang dihasilkan oleh petani, tidak terlepas dari perilaku petani dalam menghadapi risiko, karena pilihan perilaku tersebut dapat mempengaruhi alokasi input yang digunakan dan pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat produktivitas dan efisiensi yang dicapai.

2.4 Kerangka Pemikiran

Gambar 2.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Prilaku Petani dalam mengurangi Risiko Usahatani Cabai Merah di Kabupaten Langkat

(44)

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah disampaikan, prilaku petani dalam mengurangi risiko usaha tani cabai merah. Hal tersebut diindikasikan dengan adanya risiko risiko internal maupun eksternal yang dihadapi petani dalam usaha tani cabai merah di Kabupaten Langkat.

Dengan demikian, dalam penelitian ini, menyelidiki prilaku risiko yang dirasakan melalui persepsi risiko dan sikap risiko terhadap strategi manajemen risiko usahatani. Lebih lanjut, mengukur perilaku risiko yang dimaksudkan, yaitu sejauh mana petani menganggap strategi risiko yang berbeda sebagai pilihan yang valid untuk pertanian mereka. Disisi lain, pengaruh beberapa faktor tidak langsung seperti Sikap Bertani, Sosial Demografi dan Pengalaman masa lalu menjadi variabel tidak langsung dalam penelitian ini.

2.5 Hipotesis

Adapun hipotesis dalam pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Persepsi risiko berpengaruh positif dan signifikan terhadap strategi manajemen

risiko usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat.

2. Sikap petani berpengaruh positif dan signifikan terhadap strategi manajemen risiko usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat.

3. Persepsi risiko berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap risiko usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat.

4. Pesepsi risiko petani berpengaruh positif dan signifikan terhadap strategi manajemen risiko cabai merah di Kabupaten Langkat yang dimediasi melalui sikap risiko.

(45)

III. METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penentuan Daerah Penelitian

Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan mempertimbangkan Kabupaten Langkat termasuk salah satu wilayah di Provinsi Sumatera Utara sebagai sentra penghasil cabai merah.

3.2 Metode Penentuan Sampel

Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel (Sugiyono, 1999) . Untuk menentukan sampel dalam penelitian, terdapat berbagai teknik sampling yang digunakan. Adapun metode penentuan sampel pada penelitian ini adalah Sampling Jenuh adalah teknik penentuan sampel apabila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 1999). Hal ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel.

Tabel. 3.1 Jumlah Petani Cabai Merah di Kabupaten Langkat

No Kecamatan Desa

Nama Kelompok

Tani

Jumlah Anggota

(Orang)

Realisasi Responden

(Orang) 1 Bahorok Sei Musam

Kendit

Sri Handayani 9 -

2 Besitang PIR ADB Keluarga Sejahtera

17 -

3 Kuala Balai Kasih Pelita Jaya 21 30

4 Pematang Jaya

Pematang Tengah

Tani Sederhana

6 -

5 Pematang Jaya

Damar Condong Maju Tani 8 -

6 Secanggang Tanjung Ibus Harapan Tani 5 16

7 Secanggang Tanjung Ibus Karya Tani 5 7

8 Sei Bingai Namu Ukur Serasi Jaya 10 17

(46)

No Kecamatan Desa

Nama Kelompok

Tani

Jumlah Anggota

(Orang)

Realisasi Responden

(Orang) 9 Sei Bingai Pasar VI Kwala

Mencirim

Mulio 4 13

10 Sei Bingai Purwobinangun Harapan Jaya 8 14

11 Selesai Padang Cermin Sekar Wangi 12 -

12 Stabat Sidomulyo Songgomulyo 3 5

13 Stabat Mangga Rahmat II 2 4

14 Stabat Karang Rejo Tani Maju 5 6

15 Stabat Karang Rejo Suka Maju 5 -

Jumlah 120 112

Sumber : Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, (2019)

Dari 120 orang jumlah petani yang ada di Kabupaten Langkat, Adapun sampel dalam penelitian ini adalah petani cabai merah yang berjumlah 112 petani yang ada di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai petani dengan panduan kuesioner yang terstruktur. Data-data yang dikumpulkan terkait dengan tulisan ini mencakup: karakteristik responden yang berkaitan dengan umur, pendapatan usahatani, lama berusahatani, luasan usahatani cabai merah serta pendidikan petani. Aspek yang terkait dengan perilaku petani dalam menghadapi risiko adalah persepsi petani, sikap risiko, serta pengaruhnya terhadap pemilihan strategi manajemen risiko usahatani yang akan dilakukan serta informasi lain yang terkait dengan kajian ini.

Di samping itu, juga dilakukan wawancara dengan informan kunci, seperti kelembagaan kelompok tani, penyuluh pertanian lapang (PPL), Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Langkat, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Langkat, Kecamatan, Desa serta pihak lainnya sebagai informasi dan menambah

(47)

bahan pengetahuan dalam merumuskan pembahasan serta saran dalam hasil penelitian.

3.4 Metode Analisis Data

Analisis data untuk mengetahui persepsi risiko, sikap petani dan strategi manajemen usahatani cabai merah dalam mengurangi risiko usahatani cabai merah di Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara dilakukan dengan metode stuctural equation modeling (SEM) dengan menggunakan Partial Least Square (PLS) atau PLS-SEM.

Partial Least Square (PLS) merupakan metode analisis yang powerful karena dapat diterapkan pada semua skala data, tidak membutuhkan banyak asumsi dan ukuran sampel tidak harus besar. PLS selain dapat digunakan sebagai konfirmasi teori juga dapat digunakan untuk membangun hubungan yang belum ada landasan terorinya atau untuk pengujian proposisi.

Dalam penggunaan Partial Least Square (PLS) dikenal dengan 2 Model Indikoator, yakni Model indikator refleksif dan Model indikator formatif. Dalam Penelitian ini digunakan Model Indikator Formatif yang dikembangkan berdasarkan pada classical test theory yang mengasumsikan bahwa variasi skor pengukuran variabel laten merupakan fungsi dari true score ditambah error. Ciri- ciri model indikator reflektif adalah: 1. Arah hubungan kausalitas seolah-olah dari variabel laten ke indikator 2. Antar indikator diharapkan saling berkorelasi (memiliki internal consitency reliability) 3. Menghilangkan satu indikator dari model pengukuran tidak akan merubah makna dan arti variabel laten dan 4.

Menghitung adanya kesalahan pengukuran (error) pada tingkat indicator.

(48)

Model PLS-SEM terdiri dua komponen, yaitu model structural dan model pengukuran. Pada model struktural, yang disebut juga sebagai model bagian dalam (inner model) semua variabel laten dihubungan satu dengan yang lain dengan didasarkan pada teori substansi. Variabel laten dibagi menjadi dua, yaitu eksogenous dan endogenous. Variabel laten eksogenous adalah variabel penyebab atau variabel tanpa didahului oleh variabel lainnya dengan tanda anak panah menuju ke variabel lainnya (variabel laten endogenous). Model Pengukuran atau model bagian luar (outer model) yakni menghubungkan semua variable manifest atau indikator dengan variable latennya. Dalam kerangka PLS, satu variabel manifest hanya dapat dihubungkan dengan satu varabel laten. Semua variabel manifest yang dihubungkan dengan satu variabel laten disebut sebagai suatu ‘blok’.

Dengan demikian setiap variabel laten mempunyai blok variabel manifest. Suatu blok harus berisi setidak-tidaknya satu indikator. Cara suatu blok dihubungkan dengan variable laten dapat reflektif (variabel-variabel manifest berperan sebagai indikator yang dipengaruhi oleh konsep yang sama dan yang melandasinya) atau formatif (indikator – indikator yang membentuk atau menyebabkan perubahan pada variabel laten) (Wijanto, 2008).

Dalam penelitian ini model struktural yang dibangun menjadikan Persepsi petani dan Sikap Risiko sebagai variabel laten eksogen, yang dihubungkan dengan Strategi Manajemen Risiko sebagai variabel laten endogen. Model jalur diagram hubungan antar variabel, sedangkan pengambilan data variabel laten dan indikatornya menggunakan kuesioner yang disederhanakan dengan menggunakan skala likert 1 sampai 5, dimana nilai tersebut bermakna sebagai berikut :

Gambar

Gambar  1.1.  Grafik  Perkembangan  Harga  Cabai  Merah  di  Provinsi  Sumatera Utara
Gambar 2.1.  Kerangka  Pemikiran  Penelitian  Prilaku  Petani  dalam  mengurangi  Risiko  Usahatani  Cabai  Merah  di  Kabupaten  Langkat
Tabel 3.2. Skala Pengukuran dan Makna Skala pada setiap Variabel  Skala  Persepsi Risiko  Sikap Risiko  Strategi Manajemen
Tabel 4.1. Karakteristik Responden
+3

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk, (1) Untuk mengetahui perbedaan pendapatan usahatani cabai merah petani penerima kredit dan petani non kredit di Kecamatan Adiluwih Kabupaten

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh harga jeruk impor, harga jeruk lokal, pendapatan, pendidikan, dan jarak tempuh terhadap permintaan buah jeruk di Kota

Sehingga perlu dilihat tingkat konsumsi dan preferensi konsumen terhadap bawang merah segar baik dari sisi harga, ukuran umbi, kelembaban/kekeringan maupun aromanya yang

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh harga jeruk impor, harga jeruk lokal, pendapatan, pendidikan, dan jarak tempuh terhadap permintaan buah jeruk di Kota

2 0 2 0.. Pemasaran Gula Merah dari Nira Kelapa Sawit di Kabupaten Serdang Bedagai”. Penulisan tesis ini di bimbing oleh ibu Dr. Tavi Supriana, MS selaku Ketua Komisi