2 TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Lembaga Keuangan Mikro
Lembaga pembiayaan yang ada secara umum masih belum menyentuh pada kegiatan usaha yang dilakukan oleh masyarakat dengan nilai investasi rendah. Terhambatnya penyaluran kredit kepada usaha kecil selain dianggap sebagai usaha yang berisiko tinggi juga karena tidak memiliki aset yang cukup yang dapat diandalkan sebagai agunan guna memperoleh pembiayaan usahanya. Bila aksesibilitas pembiayaan tidak diberikan bagi para pelaku usaha kecil yang tidak memiliki aset, maka kesenjangan akan terus berlangsung dan tujuan yang esensial untuk mengentaskan kemiskinan dan mendorong perkembangan ekonomi lokal akan tetap tidak memiliki solusi yang baik. Upaya-upaya yang dilakukan untuk dapat memberikan layanan pembiayaan bagi masyarakat dengan skala usaha kecil adalah terbentuknya lembaga keuangan mikro yang menggunakan pendekatan Grameen Bank.
a. Sekilas Tentang Grameen Bank
Pendekatan Grameen Bank yang dilakukan oleh Muhammad Yunus, seorang Profesor Ekonomi dari Universitas Chittagong adalah dengan melaksanakan program kredit kepada masyarakat miskin akibat dari rasa kepeduliannya yang tinggi terhadap nasib orang-orang miskin di Bangladesh. Landasan pemikiran Muhammad Yunus untuk memilih kredit sebagai pilihan aksi adalah membebaskan orang dari kesengsaraan akibat kemiskinan yang parah. Situasi kemiskinan telah menyebabkan orang miskin tidak memiliki peluang untuk hidup secara manusiawi. Kemiskinan menyebabkan kaum miskin tidak dapat mengakses apa yang sebenarnya menjadi haknya. Situasi kemiskinan dengan sendirinya akan menihilkan seluruh hak asasi yang dimiliki kaum miskin, dimana kemiskinan merupakan penyangkalan terhadap hak-hak dasar manusia (Yunus dan Jolis, 2003).
Salah satu masalah besar yang dihadapi kaum miskin adalah modal. Sistem perbankan dan lembaga keuangan formal yang ada telah menetapkan syarat yang tidak memungkinkan kaum miskin untuk memperoleh modal dari lembaga keuangan tersebut. Ketersediaan agunan (yang tentunya sangat sulit dipenuhi), keharusan mendatangi lembaga keuangan (yang tentunya berimplikasi kepada biaya transportasi), dan keengganan kaum miskin untuk masuk ke kantor
lembaga formal merupakan faktor-faktor yang menjauhkan kaum miskin dari lembaga keuangan. Biaya operasional bagi pelayanan kredit kecil dengan begitu banyak nasabah dirasakan sangat tinggi. Hal ini semakin menjauhi akses kredit bagi kaum miskin. Hal ini akan menutup peluang kaum miskin untuk maju dan semakin memperlebar kesenjangan mereka dengan anggota masyarakat lainnya (Bornstein, 2005)
Dengan penentuan kriteria tersebut, sistem perbankan telah membuat diskriminasi pemberian kredit justru kepada pihak-pihak yang paling membutuhkan kredit. Padahal kredit merupakan salah satu faktor penting dalam pengembangan usaha. Menutup akses kaum miskin terhadap kredit berarti menutup kesempatan kaum miskin tersebut untuk berusaha mencapai taraf hidup yang lebih layak, sebagaimana yang dijamin dalam konvensi hak asasi manusia. Pendekatan kredit bagi masyarakat miskin merupakan salah satu upaya dalam pengentasan kemiskinan. Dengan demikian, secara tidak langsung menutup akses masyarakat miskin terhadap kredit berarti pelanggaran hak asasi manusia.
Pemikiran dan kepedulian ini selanjutnya dituangkan dalam program riset aksi di Desa Jobra, Bangladesh antara tahun 1976 – 1979. Pada tahun 1979 dilakukan replikasi di Distrik Tangail dengan dukungan Bank Sentral Bangladesh. Sukses replikasi ini diikuti dengan program perluasan ke Distrik Dhaka, Rangpur, dan Putuakhali pada tahun 1982 – 1983. Usaha ekonomi kecil di berbagai distrik akan sukses selama dilakukan dengan baik dan memperbaiki setiap kesalahan (kegagalan) yang terjadi (Yunus, 2009).
Pada awalnya Grameen Bank bukan merupakan bank tersendiri, melainkan satu bagian atau unit kecil dari Bank Krishi. Namun saat ini Grameen Bank telah menjadi lembaga keuangan pedesaan terbesar di Bangladesh, dimana manfaatnya telah dirasakan oleh hampir semua pedesaan, baik yang potensial usaha ekonomi kecilnya maupun yang masih dalam perintisan (Yunus, 2009). Pada tahun 1999 Grameen Bank telah memiliki lebih dari 1100 cabang yang melayani lebih dari 39.000 desa (dari total 68.000 desa) di 60 distrik (dari 64 distrik) yang ada di Bangladesh. Selain pinjaman umum, program pinjaman yang ditawarkan telah berkembang menjadi beberapa jenis pinjaman seperti pinjaman musiman,
pinjaman untuk perumahan umum, pinjaman untuk perumahan dasar, pinjaman kesehatan, dan pinjaman pendidikan.
Kisah sukses pendekatan Grameen Bank telah menjadi salah satu contoh terbaik program kredit mikro di seluruh dunia. Pola Grameen Bank telah direplikasi melalui 257 program di 59 negara. Program-program tersebut dapat membantu keluarga miskin untuk keluar dari keterpurukan ekonomi. Semakin kerja yang baik dan menyisihkan sebagian keuntungan yang didapat untuk pengembangan usaha ekonomi merupakan prinsip utama dari Grameen Bank, sehingga mimpi keluarga meskin menjadi kenyataan (Bornstein, 2005).
b. Mikro Mitra Mina
Mikro Mitra Mina (M3) merupakan lembaga keuangan mikro yang melayani aktifitas simpan pinjam berskala kecil menggunakan pendekatan Grameen Bank bagi kelompok miskin di wilayah pesisir, guna membiayai kegiatan ekonomi pokok maupun tambahan serta mengembangkan budaya menabung (capital formation), dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan dan mengembangkan kemandirian usaha.
Sebagai bentuk replikasi pendekatan Grameen Bank, maka segala aktifitas yang menyangkut pembentukan lembaga, perekrutan anggota dan kelompok, transaksi simpan, pinjam, pengembalian pinjaman, dan aktifitas lainnya mengikuti metoda yang digariskan Grameen Bank. Modifikasi dapat dilakukan sesuai kebutuhan lokal setempat, namun esensi-esensi pokok Grameen Bank harus tetap dipertahankan, terutama terkait dengan peluang pelaku usaha kecil untuk mewujudkan mimpinya, yaitu maju dan terus berkembang hingga masa mendatang (Bornstein, 2005).
Skema dimaksudkan untuk membiayai kegiatan ekonomi pokok maupun tambahan. Ini berarti bahwa modal pinjaman harus digunakan untuk aktifitas produktif baik aktifitas pokok yang berkaitan dengan perikanan atau pesisir, maupun aktifitas lain yang dilakukan oleh anggota keluarga dalam rangka meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan.
Skema ini mengintegrasikan simpanan atau tabungan (wajib dan sukarela) sebagai suatu komponen yang tidak terpisahkan dengan aktifitas pinjaman. Komponen tabungan dirasakan semakin penting dalam pengelolaan keuangan dan
usaha, serta dalam rangka pembentukan dan pemupukan modal guna meningkatkan kemandirian usaha.
Mikro Mitra Mina secara khusus didesain untuk memberikan layanan pembiayaan bagi masyarakat miskin di wilayah pesisir yang secara umum masih sangat rendah aksesibilitasnya terhadap lembaga pembiayaan formal. Sebagai sebuah alternatif, skema ini diharapkan dapat menghilangkan ketergantungan masyarakat miskin terhadap para pelepas uang (informal money lenders) yang umum beroperasi di wilayah pesisir.Hal ini terjadi karena peluang pengembangan bisnis di daerah pesisir lebih baik tidak hanya dari usaha berbasis di darat tetapi juga pada usaha perikanan tangkap yang aktifitas utamanya di perairan (BRI, 2008)
Skema ini didesain untuk dapat ikut berperan dalam upaya pengentasan kemiskinan di wilayah pesisir. Salah satu faktor yang paling mudah untuk dipengaruhi adalah kurangnya modal usaha. Penambahan modal akan mempengaruhi faktor-faktor lainnya.
c. Model Pembinaan Usaha Kecil oleh BUMN
Model pembinaan usaha kecil oleh BUMN adalah sebuah model pembinaan dengan memanfaatkan dana dari bagian laba BUMN, dimana pembinaannya dapat berupa pendidikan, kemampuan kewirausahaan, manajemen serta keterampilan teknis produksi termasuk juga pinjaman modal kerja dan investasi, jaminan kredit, pemasaran dan promosi hasil produksi serta bantuan penyertaan. Misalnya Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan berupa: (i) kebijakan memberikan sebagian laba (keuntungan) BUMN (1%-5%), dan (ii) kebijakan alokasi subsidi non BBM. Bahkan telah dikembangkan lembaga keuangan mikro dengan menerapkan sistem kredit komersial pada tingkat bunga yang serendah mungkin, dimana pemerintah dapat berperan sebagai penjamin dan pembina teknis, sementara pihak perbankan berperan dalam penyediaan dana dan pembinaan manajemen keuangan dan organisasi. Bank Indonesia mengatur dan mengontrol proses pembiayaan , terutama terkait dengan suku bunga yang diberlakukan (Bank Indonesia, 2007)
d. Model Kemitraan
Kemitraan adalah kerjasama antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar, dimana terjadi proses pembinaan dan pengembangan terhadap usaha kecil oleh usaha menengah atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan. Misalnya, sejak tahun 2000 Pemerintah juga menerapkan sistem dana bergulir dalam Program Pemberdayaan Ekonomi Pesisir (PEMP) yang bukan bersifat
charity (hadiah), tetapi lebih diarahkan untuk empowerment (pemberdayaan), sehingga diharapkan dapat terus berkembang dan menyentuh sebagian besar masyarakat nelayan. Selain itu, ada juga dana bergulir dari pemerintah yang dikelola oleh Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir (LEPP), yang disampaikan langsung kepada masyarakat sebagai stakeholders utama dengan fokus pada peningkatan lapangan kerja dan kesempatan berusaha, berbasis pada sumber daya lokal, berorientasi pada masa depan dan berkelanjutan, serta bertumpu pada pengembangan sumberdaya manusia dan penguatan kelembagaan lokal yang bersifat partisipatif. Hal ini penting karena lembaga lokal merupakan motivator, media aspirasi masyarakat, serta tolok ukur penerimaan program di suatu kawasan (Imron, 2003)
Adapun mekanisme penyaluran pembiayaan tersebut dari lembaga keuangan selain sumber perbankan (Depkominfo, 2007 dan Purba, 2009) adalah: 1) Dana disalurkan melalui instansi terkait atau langsung kepada lembaga pengelola dana mikro, yaitu sebuah organisasi yang bersifat nirlaba, berbadan hukum dan memenuhi semua persyaratan sesuai peraturan yang berlaku serta berpengalaman di bidang pengelolaan penyaluran pembiayaan mikro dan pengembangan masyarakat; atau langsung disalurkan melalui Lembaga Keuangan Masyarakat Pesisir setempat, yaitu unit lapangan dari Lembaga Pengelola Dana Mikro.
2) Kemudian dana tersebut disalurkan pada kelompok masyarakat yang terdiri dari 5 (lima) anggota, dimana setiap anggota tidak diperbolehkan memiliki hubungan keluarga. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema berikut :
Gambar 2. Skema penyaluran pembiayaan dari lembaga keuangan selain perbankan (Depkominfo, 2007 dan Purba, 2009) dimodifikasi
Bagi sumber pembiayaan yang berasal dari perbankan, mekanisme penyaluran pembiayaannya mengikuti prosedur standar komersial, dimana calon nasabah dapat memperoleh informasinya di kantor cabang bank yang bersangkutan. Untuk mendukung mekanisme penyaluran tersebut, telah dibentuk kelembagaan usaha berupa Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir Mikro Mitra Mina (LEPP-M3) sebagai embrio badan usaha untuk membantu pengembangan usaha produktif masyarakat pesisir. Sebagian besar LEPP masih berfungsi sebagai Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang kegiatannya terbatas pada perguliran dana produktif yang dialokasikan pemerintah. Dalam hal ini pihak Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) menggandeng PT Permodalan Nasional Madani (Persero) dan Pemerintah Daerah, untuk memperkuat dan merevitalisasi LEPP menjadi bank pesisir yang mengakar dan berlandaskan keswadayaan masyarakat yang berkelanjutan.