• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembaga-Lembaga Negara

Dalam dokumen PERKEMBANGAN DAN KONSOLIDASI (Halaman 58-65)

C. Badan Hukum Publik

1. Lembaga-Lembaga Negara

mak-sud untuk kepentingan umum dapat mempunyai status sebagai badan hukum yang mewakili kepentingan umum dan menjalankan aktiitas di bidang hukum publik. Mis-alnya Komisi Pemilihan Umum yang dalam menjalankan tugasnya menetapkan keputusan tentang partai politik yang berhak mengikuti pemilihan umum.

(2) Badan hukum yang mewakili kepentingan publik dan

menjalankan aktiitas di bidang hukum perdata.

Misal-nya, Bank Indonesia sebagai bank sentral menurut

ke-tentuan Undang-Undang Dasar 1945 mengadakan dan menandatangani perjanjian jual beli aluta asing dengan badan usaha lain.

(3) Badan hukum yang mewakili kepentingan perdata

pendirinya tetapi menjalankan aktiitas di bidang hu-kum publik. Misalnya, suatu yayasan yang dibentuk oleh pribadi-pribadi para dermawan untuk membantu pemberian bantuan obat-obatan dan fasilitas kesehatan bagi orang miskin atau pegawai negeri sipil golongan I di suatu daerah tertentu.

(4) Badan hukum yang mewakili kepentingan perdata

pendirinya dan menjalankan aktiitas di bidang per-data. Misalnya koperasi ataupun perseroan terbatas yang didirikan oleh pendirinya untuk kepentingan perdata dan menjalankan aktiitas perdagangan yang mendatangkan keuntungan perdata bagi yang bersang-kutan.

Badan hukum kategori pertama seperti Komisi Pe-milihan Umum (KPU) tersebut dapat diidentikkan dengan

lembaga negara. Tetapi tidak semua lembaga negara iden-tik dengan badan hukum publik ataupun sebaliknya tidak semua badan hukum publik adalah lembaga negara. Partai politik, seperti dikemukakan di atas bukanlah lembaga negara, tetapi dapat disebut sebagai badan hukum publik dan bukan merupakan badan hukum perdata.

Oleh sebab itu, antara lembaga negara dengan badan hukum publik memang tidak identik, meskipun ada diantara-nya yang merupakan badan hukum publik yang sekaligus

merupakan lembaga negara. Misalnya, Bank Indonesia

sebagai bank sentral dapat disebut sebagai badan hukum publik dan sekaligus merupakan lembaga negara.

Keberadaan berbagai organisasi-organisasi yang bu-kan termasuk pengertian lembaga negara seperti partai poli-tik, organisasi kemasyarakatan dan sebagainya, terkait pula dengan pengertian lembaga-lembaga negara atau non-pemerintah. Organisasi-organisasi seperti itu biasa disebut

pula sebagai Organisasi Non-Pemerintah (ORNOP) ataupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau yang dikenal

sebagai Non­Governmental Organizations (NGO’s).

Jika lembaga-lembaga semacam itu diberi status oleh undang-undang sebagai badan hukum (legal body) atau rechtspersoon, maka badan-badan dimaksud dapat disebut sebagai badan hukum publik atau setidaknya semi atau quasi

publik yang berbeda ciri-cirinya dari badan hukum perdata seperti perseroan, koperasi, dan sebagainya yang memang dimaksudkan untuk bergerak di lapangan hukum perdata.

Meskipun demikian, organisasi-organisasi seperti partai politik memang didirikan untuk tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan politik yang bukan bersifat perda-ta. Namun dalam kegiatannya sehari-hari, aktiitas-aktiitas yang dilakukannya dapat saja berkaitan dengan hal-hal yang bersifat publik atau semi publik ataupun dengan hal-hal yang berkenaan dengan soal hak dan kewajiban yang bersi-fat perdata. Sebagai partai politik sudah tentu kegiatannya berkaitan dengan dunia politik yang berkenaan dengan kepentingan rakyat banyak.

Tetapi sebagai badan hukum, partai politik itu dapat saja terlibat dalam lalu lintas hukum perdata, misalnya, mendapatkan hak atas tanah dan bangunan kantor, meng-adakan jual beli benda-benda bergerak seperti kendaran bermotor, alat-alat tulis kantor, dan lain-lain sebagainya.

Semua kegiatan tersebut bersifat perdata, dan partai politik yang bersangkutan sebagai badan hukum dapat bertindak sebagai subyek hukum yang sah. Dalam hal demikian itu, meskipun bertindak dalam lalu lintas hukum perdata, or-ganisasi partai politik tersebut tetap tidak dapat disebut sebagai badan hukum perdata, melainkan by nature meru-pakan badan hukum yang bersifat publik atau setidaknya semi atau kuasi publik.

Demikian pula suatu badan usaha, seperti perseroan terbatas ataupun koperasi yang didirikan oleh para pegawai suatu lembaga negara untuk maksud-maksud yang tiada lain bersifat perdata, meskipun didirikan oleh warga suatu lembaga negara yang bersifat publik tetap merupakan badan hukum yang bersifat perdata. Misalnya, karyawan dan pegawai serta para hakim konstitusi di Mahkamah Konstitusi bersama-sama membentuk Koperasi Mahkamah Konstitusi.

Tujuan pembentukan koperasi itu jelas bersifat perda-ta untuk kepentingan anggoperda-ta koperasi itu sendiri, sehingga oleh karenanya setelah koperasi tersebut memperoleh status sebagai badan hukum sebagaimana mestinya, tetap disebut sebagai badan hukum perdata atau priat, bukan badan hu-kum publik hanya karena yang mendirikannya adalah para anggota suatu lembaga negara. Dengan perkataan lain, krite-ria utama yang menentukan suatu badan hukum itu perdata atau publik terletak pada kepentingan yang diwakili badan hukum yang bersangkutan yang tercermin dalam tujuan dan kepentingan para pendiri badan hukum itu sendiri.

Namun, terlepas dari perbedaan antara publik atau perdata itu, atau apakah pembedaan itu memang diperlu-kan atau tidak, yang penting, seperti diuraidiperlu-kan di atas, ba-dan yang bersangkutan untuk dapat disebut sebagai baba-dan hukum haruslah memenuhi lima syarat. Kelima syarat itu

adalah: (i) adanya unsur harta kekayaan yang terpisah dari kekayaan subyek hukum yang lain; (ii) adanya tujuan ideal

tertentu yang hendak dicapai oleh badan yang bersangkutan yang tidak bertentangan dengan peraturan

perundang-undangan; (iii) adanya kepentingan sendiri yang diper

-juangkan atau dipertahankan dalam lalu lintas hukum; (iv)

adanya organisasi kepengurusannya yang bersifat teratur menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku;

dan (v) bahwa badan hukum itu terdaftar resmi atau diakui

sebagai badan hukum menurut peraturan yang berlaku, atau setidaknya termasuk salah satu dari tiga jenis badan hukum

menurut konstruksi Pasal 1653 BW seperti diuraikan di atas, yaitu (a) yang diadakan atau didirikan oleh pemerintah, (b) diakui oleh pemerintah, atau (c) yang dibentuk dengan

2) Presiden yang diatur keberadaannya dalam Bab III UUD 1945, dimulai dari Pasal 4 ayat (1) dalam

peng-aturan mengenai Kekuasaan Pemerintahan Negara

yang berisi 17 pasal;

3) Wakil Presiden yang keberadaannya juga diatur dalam Pasal 4 yaitu pada ayat (2) UUD 1945. Pasal 4 ayat (2)

UUD 1945 itu menegaskan, “Dalam melakukan ke­

wajibannya, Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden”;

4) Menteri dan Kementerian Negara yang diatur tersendiri dalam Bab V UUD 1945, yaitu pada Pasal 17 ayat (1), (2), dan (3);

5) Menteri Luar Negeri sebagai menteri triumvirat yang

dimaksud oleh Pasal 8 ayat (3) UUD 1945, yaitu

ber-sama-sama dengan Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pertahanan sebagai pelaksana tugas kepresidenan apa-bila terdapat kekosongan dalam waktu yang bersamaan dalam jabatan Presiden dan Wakil Presiden;

6) Menteri Dalam Negeri sebagai triumvirat

bersama-sama dengan Menteri Luar Negeri dan Menteri Perta-hanan menurut Pasal 8 ayat (3) UUD 1945;

7) Menteri Pertahanan yang bersama-sama dengan Men-teri Luar Negeri dan MenMen-teri Dalam Negeri ditentukan

sebagai menteri triumvirat menurut Pasal 8 ayat (3)

UUD 1945. Ketiganya perlu disebut secara

sendiri-sendiri, karena dapat saja terjadi konlik atau sengketa

kewenangan konstitusional di antara sesama mereka, atau antara mereka dengan menteri lain atau lembaga negara lainnya;

8) Dewan Pertimbangan Presiden yang diatur dalam Pasal 16 Bab III tentang Kekuasaan Pemerintahan Negara

yang berbunyi, “Presiden membentuk suatu dewan

pertimbangan yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden, yang selanjutnya diatur dalam undang­undang”;1

2

Lembaga Tinggi Negara

...

A. Lembaga Negara dalam UUD 1945

1. Lembaga-Lembaga Negara

Dalam setiap pembicaraan mengenai organisasi negara, ada dua unsur pokok yang saling berkaitan, yaitu

organ dan functie. Organ adalah bentuk atau wadahnya, sedangkan functie adalah isinya; organ adalah status ben-tuknya (Inggris: form, Jerman: vorm), sedangkan functie

adalah gerakan wadah itu sesuai maksud pembentukannya. Dalam naskah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, organ-organ yang dimaksud, ada yang disebut secara eksplisit namanya, dan ada pula yang disebutkan eksplisit hanya fungsinya. Ada pula lembaga atau organ yang disebut bahwa baik namanya maupun fungsi atau kewenangannya akan diatur dengan peraturan yang lebih rendah.

Jika dikaitkan dengan hal tersebut di atas, seperti su-dah diuraikan sebelumnya, maka dapat dikemukakan bahwa dalam UUD 1945, terdapat tidak kurang dari 34 organ yang disebut keberadaannya dalam UUD 1945. Ke-34 organ atau lembaga tersebut adalah:

1) Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) diatur dalam Bab III UUD 1945 yang juga diberi judul “Majelis Per

-musyawaratan Rakyat”. Bab III ini berisi dua pasal,

yaitu Pasal 2 yang terdiri atas tiga ayat, Pasal 3 yang juga terdiri atas tiga ayat;

na kedudukannya yang khusus dan diistimewakan, satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa ini diatur tersendiri oleh UUD 1945. Misalnya, status Pemerintahan Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintahan Daerah Otonomi Khusus Nangro Aceh Darussalam dan Papua, serta Pemerintahan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Ketentuan mengenai kekhu-susan atau keistimewaannya itu diatur dengan undang-undang. Oleh karena itu, pemerintahan daerah yang demikian ini perlu disebut secara tersendiri sebagai lembaga atau organ yang keberadaannya diakui dan dihormati oleh negara.

21) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang diatur dalam Bab VII UUD 1945 yang berisi Pasal 19 sampai dengan Pasal 22B;

22) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang diatur dalam Bab VIIA yang terdiri atas Pasal 22C dan Pasal 22D; 23) Komisi Penyelenggaran Pemilu yang diatur dalam

Pa-sal 22E ayat (5) UUD 1945 yang menentukan bahwa

pemilihan umum harus diselenggarakan oleh suatu komisi yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri. Na-ma “Komisi Pemilihan Umum” bukanlah naNa-ma yang ditentukan oleh UUD 1945, melainkan oleh Undang-Undang;

24) Bank sentral yang disebut eksplisit oleh Pasal 23D,

yai-tu “Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan, kedudukan, kewenangan, tanggung jawab, dan inde­ pendensinya diatur dengan undang­undang”. Seperti halnya dengan Komisi Pemilihan Umum, UUD 1945 belum menentukan nama bank sentral yang dimaksud. Memang benar, nama bank sentral sekarang adalah

Bank Indonesia. Tetapi, nama Bank Indonesia bukan

nama yang ditentukan oleh UUD 1945, melainkan oleh undang-undang berdasarkan kenyataan yang diwarisi dari sejarah di masa lalu.

9) Duta seperti diatur dalam Pasal 13 ayat (1) dan (2); 10) Konsul seperti yang diatur dalam Pasal 13 ayat (1); 11) Pemerintahan Daerah Provinsi2 sebagaimana dimaksud

oleh Pasal 18 ayat (2), (3), (5), (6) dan ayat (7) UUD

1945;

12) Gubernur Kepala Pemerintah Daerah seperti yang di-atur dalam Pasal 18 ayat (4) UUD 1945;

13) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, seperti yang diatur dalam Pasal 18 ayat (3) UUD 1945;

14) Pemerintahan Daerah Kabupaten sebagaimana dimak-sud oleh Pasal 18 ayat (2), (3), (5), (6) dan ayat (7) UUD

1945;

15) Bupati Kepala Pemerintah Daerah Kabupaten seperti yang diatur dalam Pasal 18 ayat (4) UUD 1945;

16) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten seperti yang diatur dalam Pasal 18 ayat (3) UUD 1945;

17) Pemerintahan Daerah Kota sebagaimana dimaksud oleh Pasal 18 ayat (2), (3), (5), (6) dan ayat (7) UUD

1945;

18) Walikota Kepala Pemerintah Daerah Kota seperti yang diatur dalam Pasal 18 ayat (4) UUD 1945;

19) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota seperti yang diatur oleh Pasal 18 ayat (3) UUD 1945;

20) Satuan Pemerintahan Daerah yang bersifat khusus atau istimewa seperti dimaksud oleh Pasal 18B ayat (1) UUD 1945, diatur dengan undang-undang.

Kare-1 Sebelum Perubahan Keempat tahun 2002, ketentuan Pasal 16 ini berisi 2 ayat, dan ditempatkan dalam Bab IV dengan judul “Dewan Pertimbangan Agung”. Arti-nya, Dewan Pertimbangan Agung bukan bagian dari “Kekuasaan Pemerintahan Negara”, melainkan sebagai lembaga tinggi negara yang berdiri sendiri.

2 Di setiap tingkatan pemerintahan proinsi, kabupaten, dan kota, dapat dibe-dakan adanya tiga subyek hukum, yaitu (i) Pemerintahan Daerah; (ii) Kepala Pemerintah Daerah; dan (iii) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Jika disebut “Pemerintahan” maka yang dilihat adalah subjek pemerintahan daerah sebagai satu kesatuan. Kepala eksekutif disebut sebagai Kepala Pemerintah Daerah, bukan “kepala pemerintahan daerah”. Sedangkan badan legislatif daerah dinamakan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

3 Dalam rancangan perubahan UUD, semula tercantum pengaturan mengenai Kejaksaan Agung. Akan tetapi, karena tidak mendapatkan kesepakatan, maka sebagai gantinya disepakatilah rumusan Pasal 24 ayat (3) tersebut. Karena itu,

yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman yang tidak secara eksplisit disebut dalam UUD 1945. Pasal

24 ayat (3) UUD 1945 menentukan, “Badan­badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang­undang”. Artinya, selain Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi, serta Komisi Yudisial dan kepolisian negara yang sudah diatur dalam UUD 1945, ma-sih ada badan-badan lainnya yang jumlahnya lebih dari satu yang mempunyai fungsi yang berkaitan dengan kekuasaan

kehakiman. Badan-badan lain yang dimaksud itu antara

lain adalah Kejaksaan Agung yang semula dalam rancangan Perubahan UUD 1945 tercantum sebagai salah satu

lem-baga yang diusulkan diatur dalam Bab tentang Kekuasaan

Kehakiman, tetapi tidak mendapat kesepakatan, sehingga pengaturannya dalam UUD 1945 ditiadakan.

Namun, karena yang disebut dalam Pasal 24 ayat (3)

tersebut di atas adalah badan-badan, berarti jumlahnya lebih dari satu. Artinya, selain Kejaksaan Agung, masih ada lagi lembaga lain yang fungsinya juga berkaitan dengan kekua-saan kehakiman, yaitu yang menjalankan fungsi

penyelidi-kan, penyidipenyelidi-kan, dan/atau penuntutan. Lembaga-lembaga

dimaksud misalnya adalah Komisi Nasional Hak Asasi

Manusia (Komnas HAM), Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK), dan sebagainya. Lembaga-lembaga

ini, seperti halnya Kejaksaan Agung, meskipun tidak secara eksplisit disebut dalam UUD 1945, tetapi sama-sama memi-liki constitutional importance dalam sistim konstitusional berdasarkan UUD 1945.

Misalnya, mengenai keberadaan Komnas Hak Asasi

man” dalam ketentuan tersebut dapat ditafsirkan salah satunya adalah Kejaksaan Agung. Di samping itu, sesuai dengan amanat UU, Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi atau KPK juga dapat disebut sebagai contoh lain mengenai badan-badan yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman.

4 Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 No. 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3889).

5 Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak

Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 137,

25) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang diatur tersend

-iri dalam Bab VIIIA dengan judul “Badan Pemeriksa Keuangan”, dan terdiri atas 3 pasal, yaitu Pasal 23E (3 ayat), Pasal 23F (2 ayat), dan Pasal 23G (2 ayat); 26) Mahkamah Agung (MA) yang keberadaannya diatur

dalam Bab IX, Pasal 24 dan Pasal 24A UUD 1945; 27) Mahkamah Konstitusi (MK) yang juga diatur

keber-adaannya dalam Bab IX, Pasal 24 dan Pasal 24C UUD

1945;

28) Komisi Yudisial yang juga diatur dalam Bab IX, Pasal 24B UUD 1945 sebagai auxiliary organ terhadap Mah-kamah Agung yang diatur dalam Pasal 24 dan Pasal 24A UUD 1945;

29) Tentara Nasional Indonesia (TNI) diatur tersendiri dalam UUD 1945, yaitu dalam Bab XII tentang

Per-tahanan dan Keamanan Negara, pada Pasal 30 UUD 1945;

30) Angkatan Darat (TNI AD) diatur dalam Pasal 10 UUD

1945;

31) Angkatan Laut (TNI AL) diatur dalam Pasal 10 UUD

1945;

32) Angkatan Udara (TNI AU) diatur dalam Pasal 10 UUD

1945;

33) Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) yang juga diatur dalam Bab XII Pasal 30 UUD 1945; 34) Badan-badan lain yang fungsinya terkait dengan

kehakiman seperti kejaksaan diatur dalam

undang-undang sebagaimana dimaksud oleh Pasal 24 ayat (3)

UUD 1945 yang berbunyi, “Badan­badan lain yang

fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang­undang”.3

Bahkan, jika diuraikan lebih rinci lagi, apa yang di-tentukan dalam Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 tersebut dapat

pula membuka pintu bagi lembaga-lembaga negara lain

kehaki-Undang Dasar 1945 terdapat lebih dari 34 buah lembaga yang disebut baik secara langsung ataupun tidak langsung. Ke-34 organ tersebut dapat dibedakan dari dua segi, yaitu dari segi fungsinya dan dari segi hirarkinya. Hirarki antar lembaga negara itu penting untuk ditentukan, karena harus ada pengaturan mengenai perlakuan hukum terhadap orang yang menduduki jabatan dalam lembaga negara itu. Mana yang lebih tinggi dan mana yang lebih rendah perlu dipas-tikan untuk menentukan tata tempat duduk dalam upacara dan besarnya tunjangan jabatan terhadap para pejabatnya.

Untuk itu, ada dua kriteria yang dapat dipakai, yaitu (i)

kriteria hirarki bentuk sumber normatif yang menentukan

kewenangannya, dan (ii) kualitas fungsinya yang bersifat

utama atau penunjang dalam sistem kekuasaan negara. Sehubungan dengan hal itu, maka dapat ditentukan bahwa dari segi fungsinya, ke-34 lembaga tersebut, ada yang bersifat utama atau primer, dan ada pula yang bersifat

sekunder atau penunjang (auxiliary). Sedangkan dari segi

hirarkinya, ke-34 lembaga itu dapat dibedakan ke dalam tiga lapis. Organ lapis pertama dapat disebut sebagai lembaga tinggi negara. Organ lapis kedua disebut sebagai lembaga negara saja, sedangkan organ lapis ketiga merupakan lem-baga daerah. Memang benar sekarang tidak ada lagi sebu-tan lembaga tinggi dan lembaga tertinggi negara. Namun, untuk memudahkan pengertian, organ-organ konstitusi pada lapis pertama dapat disebut sebagai lembaga tinggi negara, yaitu:

1) Presiden dan Wakil Presiden; 2) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR); 3) Dewan Perwakilan Daerah (DPD);

4) Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR); 5) Mahkamah Konstitusi (MK);

6) Mahkamah Agung (MA);

7) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Organ lapis kedua dapat disebut lembaga negara saja. Manusia. Materi perlindungan konstitusional hak asasi

ma-nusia merupakan materi utama setiap konstitusi tertulis di dunia. Untuk melindungi dan mempromosikan hak-hak asasi manusia itu, dengan sengaja negara membentuk sa-tu komisi yang bernama Komnas HAM (Komisi Nasional

Hak Asasi Manusia). Artinya, keberadaan lembaga negara

bernama Komnas HAM itu sendiri sangat penting bagi negara demokrasi konstitusional. Karena itu, meskipun pengaturan dan pembentukannya hanya didasarkan atas undang-undang, tidak ditentukan sendiri dalam UUD, tetapi keberadaannya sebagai lembaga negara mempunyai apa

yang disebut sebagai constitutional importance yang sama

dengan lembaga-lembaga negara lainnya yang disebutkan eksplisit dalam UUD 1945.

Sama halnya dengan keberadaan Kejaksaan Agung dan Kepolisian Negara dalam setiap sistem negara demokrasi konstitusional ataupun negara hukum yang demokratis.

Keduanya mempunyai derajat kepentingan (importance)

yang sama. Namun, dalam UUD 1945, yang ditentukan ke-wenangannya hanya Kepolisian Negara yaitu dalam Pasal 30, sedangkan Kejaksaan Agung sama sekali tidak disebut. Hal tidak disebutnya Kejaksaan Agung yang dibandingkan dengan disebutnya Kepolisian dalam UUD 1945, tidak dapat dijadikan alasan untuk menilai bahwa Kepolisian Negara itu lebih penting daripada Kejaksaan Agung.

Kedua-duanya sama-sama penting atau memiliki constitutional

importance yang sama. Setiap yang mengaku menganut prinsip demokrasi konstitusional atau negara hukum yang demokratis, haruslah memiliki perangkat kelembagaan kepolisian negara dan kejaksaan sebagai lembaga-lembaga penegak hukum yang efektif.

Dalam dokumen PERKEMBANGAN DAN KONSOLIDASI (Halaman 58-65)