• Tidak ada hasil yang ditemukan

LERAI PERTIKAIAN ”MADE IN” KANTOR PUSAT IHYA’UT TUROTS KUWAIT

(Dilema Ihya’ut Turots, Antara Tuntutan Dana, Popularitas Diri & Upaya

Mencari Sensasi)

48

Andi Muhammad Arief:

Ba’da Tahmid, Tsana’ wa Sholah, saya adalah muwadhof di Jam’iyah Ihya Turats Islamy (JITI) Maktab Indonesia dan silahkan anda-anda semua membaca AD/ART nya sehingga akan tahu bagaimana itu JITI. Jazakumullah ya Ustadz Abdullah Taslim atas perjuangan menegakkan islam diatas manhaj yang benar. Saya berani bersumpah atas nama Allah bahwa Manhaj SALAF / Ahlussunnah adalah manhaj yang benar dan selamat.

(Tanggapan Andi Muhammad Arief Terhadap Artikel Abdullah Taslim cs, Muslim.or.id, April 12th, 2006 10:31)

Luar biasa. BUKU EMAS (pujian tertinggi, terdahsyat dan mengerikan dari Abu Salma)49 “Lerai Pertikaian, Sudahi Permusuhan” buah karya Abu ‘Abdil Muhsin Firanda bin Abidin As-Soronji seolah menjadi buku wajib bagi Sururiyyin dan Turotsiyyin. Berupaya keras untuk memahamkan kepada umat bahwa permasalahan dakwah yang terjadi selama ini hanyalah persoalan Khilafiyyah Ijtihadiyyah yang tidak boleh padanya diterapkan prinsip- prinsip Al-Wala’ dan Al-Bara’. Firanda menyebutkan nama-nama Kibar Ulama yang telah mentazkiyah Ihya’ut Turots dan menekankan bahwa jumlah mereka lebih banyak daripada “murid-murid para ulama Kibar tersebut, dengan jumlah lebih sedikit” yang telah meng-hizbi- kan yayasan tersebut.

Kalau Firanda menganggap bahwa “Salafiyyin” menuduh Kibar ulama tidak tahu fiqhul waqi’ karena membenarkan fatwa dan bukti-bukti ‘shighar’ ulama yang memperingatkan umat dari kesesatan Ihya’ut Turots, bukankah dia sebenarnya sedang merobohkan kaidah dia sendiri (Lerai…,hal.225)?! Bukankah pernyataannya itu juga berarti bahwa “shighar ulama” dia tuduh tidak tahu fiqhul waqi’ pula karena “berani” mentahdzir Ihya’ut Turots yang di”tazkiyah” oleh Kibar ulama?50 Baginya, burhan dan Hujjah yang dibawa oleh “murid-murid para ulama Kibar” bukan lagi menjadi parameter kebenaran yang harus diperhatikan. Lebih nahas lagi, “murid-murid ulama Kibar tersebut” (yang meng-hizbi-kan Ihya’ut Turots) ternyata jumlahnya lebih sedikit. Jadi, tidak ada alasan lagi untuk mempercayai tahdzir dari “murid- murid ulama Kibar tersebut yang jumlahnya lebih sedikit”. Allahul Musta’an.

Firanda juga menggarisbawahi bahwa dana yayasan ini “datangnya dari kaum mukminin”(Lerai…,hal.241). Juga “Sekali lagi kami tekankan, bahwa dana yang dimiliki oleh yayasan tersebut bersumber dari kaum Muslimin yang dermawan”(ibid)51.

48 Apakah anda teringat dengan sebuah artikel berjudul “Dilema Tahdzir, Antara Sebuah Tuntutan Dakwah dan

Tumbal Sensasi Seorang Da’i” tulisan Muhammad Arifin Badri ?

49 Suatu pujian yang tidak pernah diucapkan dan dituliskan oleh Salaful Ummah terhadap hasil karya para ulama

Ahlus Sunnah yang terbaik sekalipun! Allahu a’lam.

50 Lihatlah saudaraku bagaimana dia menyatakan bahwa kemudharatan-kemudharatan ketika bermuamalah dengan

yayasan Hizbiyyah ini dikatakannya tidak terjadi!! Sebaliknya justru dia menegaskan betapa banyak manfaat yang dapat diambil jika Salafiyyin bermuamalah dengan yayasan Hizbiyyah ini!! Padahal para Masyayikh benar-benar menegaskan dengan bukti-bukti nyata betapa yayasan ini telah menyebarkan malapetaka bagi dakwah Salafiyyah di seluruh dunia!! Bukankah statemen Firanda itu secara tidak langsung telah menuduh “Shighar Ulama” tidak tahu fiqhul Waqi”? Yang mana mereka berfatwa mengikuti hawa nafsunya!! Menceritakan kejadian yang tidak ada kenyataannya?! Kesemuanya merupakan bukti nyata bahwa Firanda telah menghancurkan kaidah-kaidah yang dia buat sendiri untuk menghantam Salafiyyin!! Bagaikan membangun istana pasir kemudian dia sendiri yang mendatangkan angin ribut!!

Telah datang bukti kepada kita –Alhamdulillah- bahwa salah satu kaum mukminin(!?) yang menjadi dermawan yayasan ini adalah dari kaum “Syi’ah Rafidhah”, bahkan bukti nyata bagaimana Ihya’ut Turots menggandeng Partai Politik Ikhwanul Muslimin. Bukankah bukti ini menjadi petunjuk kuat betapa “ada yang tidak beres” dari manhaj yayasan ini?

Jangan terburu-buru menyatakan:”Kalau benar yang kalian katakan, maka perkaranya bukan pada pusat yayasan tersebut, namun masalahnya kembali ke cabang yayasan tersebut” (Lerai…, hal.236-237)52.

Kita katakan:”Justru bukti-bukti ‘ketidakberesan manhaj” tersebut terjadi di Kuwait!! Tempat dimana Ihya’ut Turots dilahirkan!!”

Kalau engkau jujur -wahai Firanda- dan mau berfikir secara jernih tentang isi tahdzir dan peringatan “murid-murid ulama Kibar yang jumlahnya lebih sedikit” itu, justru penyimpangan yang ditunjukkan oleh Ihya’ut Turots di Kuwait-lah yang menjadi sebab paling besar mengapa yayasan ini ditahdzir oleh “murid-murid ulama Kibar” tersebut!!

Adapun penyimpangan-penyimpangan cabang-cabang yayasan ini yang terjadi di beberapa negeri bukankah merupakan dampak dari “uswah sayyi’ah” yang diperagakan oleh Ihya’ut Turots Kuwait?

Apakah karena kelompok-kelompok bid’ah wal Hizbiyyah yang dapat mengambil dana dari cabang-cabang Ihya’ut Turots kemudian Ihya’ut Turots Kuwait dapat “mencuci tangan” dari penyimpangan dan penyelewengan cabang-cabangnya(Lerai…, hal.236-237)?

Bagaimana mungkin Ihya’ut Turots Kuwait dapat mencuci tangan dari penyimpangan ini sementara setiap pengajuan dana kepada yayasan haruslah membuat proposal terlebih dahulu dan harus pula mendapat acc persetujuan pencairan dana? Bahkan setiap alokasi dana mengharuskan penerima dana tersebut membuat laporan pertanggungjawaban dan dikirimkan ke Ihya’ut Turots Kuwait lengkap bersama foto-fotonya? Ini adalah ciri khas Ihya’ut Turots!!53

Sebagaimana –persaksian Al-Akh Abdurrahman- dana yang disalurkan Ihya’ut Turots Kuwait melalui Al-Irsyad cabang Kuwait kepada PP. Al-Irsyad dan yayasan As-Sunnah Cirebon, maka kedua lembaga ini telah mengirimkan laporan pertanggungjawaban kepada Al-Irsyad cabang Kuwait dan Ihya’ut Turots Kuwait!! Apakah Ihya’ut Turots Kuwait tidak memiliki data-data siapa saja penerima dananya dan peruntukannya serta laporan pertanggungjawaban para “pasien” nya yang karenanya dapat dijadikan alasan untuk berkelit dan cuci tangan dari penyimpangan cabang-cabangnya? Dan bukankah Ihya’ut Turots Kuwait juga harus memberikan laporan kepada para donatur “mukminin” itu?! Bagaimana tanggapan donaturnya jika Ihya’ut Turots Kuwait menyatakan tidak tahu menahu kemana dana mereka disalurkan?! Bukankah logika Firanda adalah logika yang tidak logis?!

Dengan dana Ihya’ yang berasal dari kaum “mukminin” ini, sesuatu yang tidak mungkin terjadi dapat dilakukan oleh “Salafiyyin”, bergabung dan berkoalisi dengan gembong- gembong Ikhwanul Muslimin!! Tidak perlu terlalu jauh, (satu contoh saja –bukti-bukti lainnya telah berlalu di bab-bab sebelumnya) Aunur Rafiq dan kawan-kawannya, di bawah bendera Al-Sofwa Al-Muntada bergabung dengan Mudzakir Arif sang Pembesar Ikhwanul Muslimin di Markas Besarnya di Sulawesi, ia sekaligus seorang “kader tangguh” partai Ikhwanul Muslimin Indonesia. Bagaimana mungkin “rombongan du’at Salafiyyin’ bergabung dengan du’at Ikhwanul Muslimin di markas besar mereka?! Apa yang tidak mungkin? Dana kaum “mukminin” Ihya’ut Turots dapat mewujudkan “impian” mereka!!

51 Syaikh Muqbil Rahimahullah berkata:” Jum’iyyah Ihya At-Turots ilmunya adalah mengumpulkan harta, kemudian

setelah itu mengumpulkan manusia agar bersama mereka…. Kenyataannya bahwa harta yang sampai ke mereka para pengurus Jum’iyyah digunakan untuk memerangi Ahlus Sunnah di Sudan, di Yaman, di bumi Haramain (Makkah dan Madinah, pen), Najed dan di Indonesia dan dalam banyak Negara Islam.” (ibid)

52 Syaikh Ubaid Hafidhahullah menyatakan:” Yang aku jadikan sebagai keyakinanku terhadap Allah dengannya,

bahwa tidak boleh bekerja sama dengan yayasan ini, dan juga dengan yayasan yang lainnya dari yayasan-yayasan yang menyimpang, walaupun hanya ikut pada cabangnya saja. Juga tidak boleh pula belajar di sekolah-sekolah khusus mereka, dan tidak pula pada halaqah-halaqah mereka. Serta tidak boleh kerjasama dengannya dalam kaset- kaset dakwah mereka, sebab yayasan ini telah jelas pada kami bahwa mereka memerangi Ahlus Sunnah di Kuwait.” (http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=203)

53 Lihatlah bagaimana muslim.or.id mengambil foto-foto pasca kejadian musibah gempa bumi di Jogja, beberapa

diantaranya tampak foto-foto makhluk hidup yang dicoret-coret bagian wajah dan kakinya sehingga tampak seperti laki-laki yang musbil. Adapun negatif fotonya? Ya tetap saja. Apakah negatifnya untuk pengajuan dana ke Ihya’ut Turots?! Wallahu’alam.

Apakah rombongan du’at Salafy” tersebut hendak berusaha menyadarkan dan mendakwahi Mudzakir Arif agar lepas dari kungkungan Hizbiyyahnya partai Ikhwanul Muslimin?! Tidak, bahkan mereka bergabung untuk berkolaborasi dakwah bersama-sama54. Allahul Musta’an. Tetapi “fiqhul waqi’” di sisi Firanda ternyata tidaklah sama dengan “Waqi’” di alam nyata… Tidak ada artinya bagi Firanda bukti-bukti kejahatan Ihya’ut Turots yang disampaikan oleh “murid-murid Kibar ulama yang jumlahnya lebih sedikit” itu!

Firanda berkata:”Yang tampak, kemudharatan-kemudharatan yang dikhawatirkan sa’at bermuamalah dengan yayasan tadi tidaklah terjadi, alhamdulillah. Bahkan sebaliknya justru kemaslahatan yang di dapat dengan mu’amalah dengan yayasan ini”. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!!

Syaikh Muqbil Rahimahullah berkata: “Saya (Syaikh Muqbil) menganggap ia (Abdurrahman Abdul Khaliq-peny) memecah-belah barisan Ahlus Sunnah dengan membuat tipu daya melalui hartanya, tidak melalui pemikirannya. Ia bangkit dari Kuwait ke Indonesia (Abu Nida cs, red), Mesir dan beberapa negara lainnya. Saya berpendapat tidak benar menyerahkan dana kepada Yayasan Ihya'ut Turots karena mereka gencar memecah-belah dakwah Ahlus Sunnah sehingga Ahlus Sunnah di Jeddah dan Sudan terpecah. Di Yaman banyak orang yang tertipu oleh kekayaannya bukan pemikirannya. Saya beritahukan kepada pemuda-pemuda Salaf Kuwait bahwa Yayasan Ihya'ut Turots memberikan dana yang menimbulkan bencana kepada orang-orang yang tertipu tersebut. Abdul Qadir Asy-Syaibani dan Muhammad Abdul Jalil saling bermusuhan gara- gara dana Ihya'ut Turots”.( http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=549)

Sungguhpun Firanda telah berusaha keras untuk meyakinkan umat bahwa Ihya’ut Turots adalah yayasan Ahlus Sunnah sebagaimana nama-nama Kibar ulama yang disebutnya telah mentazkiyah yayasan tadi, tetapi tampaknya keraguan tentang status yayasan “Al-Khairiyyah” Ihya’ut Turots masih menyelimuti dirinya.

Firanda berkata:”Dana tersebut akhirnya tidak tersalurkan kepada ahli bid’ah. Jika dana ini tidak segera diambil dan dimanfaatkan oleh Ahlus Sunnah, semnetara para dermawan terus menyalurkan kelebihan harta yang mereka miliki, bisa jadi akhirnya yang memanfaatkan dana tersebut adalah ahli bid’ah, sehingga bid’ahpun semakin berkembang” (Lerai…, hal.242)

Kita katakan:”Kenapa anda harus kuatir –wahai Firanda- bahwa yayasan ini –sebanyak apapun dana yang berhasil dihimpunnya- dari “kaum Mukminin-Muslimin” akan disalurkannya kepada ahli bid’ah sehingga bid’ah semakin merajelela?! Bukankah yayasan ini adalah “yayasan Ahlus Sunnah” yang banyak membantu Salafiyyin dan dakwah Salafiyyah sebagaimana kampanye yang sedang anda kibarkan?

Kenapa Yayasan Ahlus Sunnah ini harus berpikir untuk membantu dan menyerahkan dana mukmininnya kepada Ahlul Bid’ah sehingga bid’ah semakin merajalela?!

Sesungguhnya, ucapan anda ini jelas-jelas menunjukkan keragu-raguan anda terhadap Status Ahlus Sunnahnya Ihya’ut Turots sebagaimana yang anda gembar-gemborkan kepada umat! Jangan menipu nurani anda!! Allahul Musta’an.

Lalu apa artinya tulisan:”Yang nampak, kemudharatan-kemudharatan yang dikhawatirkan saat bermu’amalah dengan yayasan tadi tidaklah terjadi, alhamdulillah” (Lerai…,hal.242)?! Kalau demikian kenyataannya, (lagi-lagi) kenapa anda harus kuatir bahwa yayasan ini akan menyalurkan dananya kepada Ahli Bid’ah?! Apakah hati nurani anda sendiri sebenarnya meragukan statemen yang anda tulis wahai Firanda? Ataukah anda tidak mampu menutup kenyataan bahwa yayasan Hizby ini selama ini memang benar-benar telah terbukti membantu Ahlul Bid’ah wal Hizbiyyah?! Apakah anda hendak meruntuhkan pernyataan anda sendiri ?!

Sesungguhnya, kalaulah anda benar-benar serius untuk “Melerai Pertikaian dan Menyudahi Permusuhan” ini, tentulah anda tunjukkan secara lengkap isi fatwa Kibar ulama yang anda katakan telah merekomendasikan yayasan tersebut. Kenapa cuma anda sebutkan nama- nama mereka? Ataukah anda kuatir bahwa fatwa-fatwa itu diketahui oleh umat “ternyata”

54 Firanda!! Apakah perselingkuhan manhaj seperti ini hanya terjadi di cabangnya di Indonesia? Tidak, bahkan hal ini

sudah menjadi “trade mark” Ihya’ut Turots di mana-mana!

Berkata Syaikh Rabi’ Hafidhahullah:” Maka Inilah data-data yang paling kuat yang menunjukkan bahwa Ihya at- Turots tidaklah jujur dalam mengarahkan dirinya kepada manhaj Salafi. Pengaruh Abdurrahman Abdul Khaliq telah diketahui [dimana dia] tidak membawa manhaj Salafi dengan sesungguhnya secara bersih dan murni. Diantara dalil bahwa ia tidak komitmen dengan manhaj ini, bahwa ia bersikap loyal kepada kaum takfir di Yaman, Jum’iyyatul Hikmah dan yang semisalnya. Juga bersikap loyal kepada selain mereka, Ikhwanul Muslimin. Dimana kesungguhan mereka dalam menghadapi pemikiran Iikhwani ini ? Mereka tidak punya keinginan (membantah pemikiran ikhwan, pen) kecuali untuk menarik diri dari manhaj Salafi” (ibid)

termasuk juga rekomendasi tentang “pencetakan Al-Qur’an” dan rekomendasi tentang “Maktabah Thalabul ‘Ilm”?! Untuk menunjukkan bahwa: “Bahkan sebagian mereka merekomendasi yayasan ini berulang-ulang”(Lerai…, hal.226-227)?! Allahul Musta’an. Kalau anda benar-benar hendak menjadi hakim yang adil dan obyektif dalam permasalahan “khilafiyyah Ijtihadiyyah” ini, bukankah membeberkan isi fatwa-fatwa “murid-murid ulama Kibar” yang “jumlahnya lebih sedikit” dan bukti-bukti yang mendukungnya juga merupakan langkah yang mesti ditempuh?!

Bagaimana mungkin anda menjadi hakim yang adil dengan menekankan bahwa “banyak kemaslahatan yang didapat dengan bermu’amalah dengan yayasan ini”(Lerai…,hal.242), sementara anda tidak menyinggung sedikitpun (minimal menguji keabsahan dan kebenaran pernyataan Syaikh Muqbil Rahimahullah tentang tersebarluasnya kemudharatan-kemudharatan besar dan penyelewengan manhaj dari yayasan ini dengan bukti-bukti yang beliau ungkapkan di berbagai negeri :”Jadi dakwah Ihya”ut Turots memecah belah umat. Dalam “Shahih Bukhari” disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda (yang artinya), “Muhammad pemisah manusia,” atau dalam riwayat lain berbunyi, “Muhammad memisahkan manusia.” Artinya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam memisahkan antara istri dengan suami, karena kadang istri menjadi muslimah si suami kafir, atau sebaliknya. Atau memisahkan anak dengan orang tua yakni kadang anaknya muslim sedangkan

orang tuanya kafir, atau sebaliknya.

Sedangkan Ihya'ut Turots memisahkan ahlus sunnah di banyak negeri seperti Mesir, Yaman, Kuwait, Emirat Arab, Haramain dan negeri lainnya (termasuk di Indonesia, red)” (http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=549).

Apakah ucapan beliau ini hanya “omongkosong” belaka?! Masyayikh telah berdusta?? Ataukah engkau hendak mengatakan bahwa:”Mengenai mudharat yang dikhawatirkan mungkin saja terjadi,. Namun, kalaupun memang ada maka harus dibandingkan dengan maslahat” (Lerai…,hal.244). Tentu saja –di sisimu- bahwa mudharat “pecah belah umat” yang dilakukan oleh “dana” Ihya’ut Turots tidaklah sebanding dengan besarnya kemanfaatan, kemaslahatan dan kebaikan yang telah ditebarkannya kepada umat. Bukankah demikian wahai As-Soronji?!55

55 Adapun Syaikh Muqbil Rahimahullah? Syaikh Rabi’ Hafidhahullah? Syaikh Khalid, Syaikh Muhammad, Syaikh

Ayyid? Syaikh Ahmad Najmi? Hafidhahumullah?Tentu berbeda timbangan “manfaat dan madharat” beliau Hafidhahumullah dengan timbangan As-Soronji!! Syaikh Muqbil berkata:” Dan saya perhatikan bahwa dosanya yang paling besar adalah memecah-belah Ahlus-Sunnah, memecah dai-dai ilallah. Na'am, dia sesatkan para da’i dengan dinarnya, bukan dengan pemikiran-pemikirannya. Maka dia [Abdurrahman Abdul kholiq] mendirikan pusat- pusat [dakwah]. Yaa miskiin Ihyaut Turots! Dia mendirikan pusat-pusat dakwah dari Kuwait ke Indonesia, dari Kuwait ke Mesir, dari Kuwait ke Emirat Arab, dari Kuwait ke yang lainnya (Indonesia, yakni Abu Nida' cs, lihat http://www.salafy.or.id/download/atturots/).

Membangun pusat-pusat dakwah dan Jam'iyah Ihyaut Turots yang akan membiayainya. Saya katakan: Ini adalah suatu kesalahan jika memberi dana [sebagai donatur] kepada Jam'iyah Ihyaut Turots. Ini adalah kesesatan yang besar karena mereka memecah-belah ahlussunnah. Mereka memecah-belah ahlussunnah di Jeddah, memecah-belah ahlussunnah di Sudan, dan mereka memanggil para pengikutnya dengan [nama] jamaah sesuai hawa nafsunya.

Na'am, dan disitu ada golongan sampah juga, yang kepadanya dia mengemis dinarnya, bukan pemikirannya. Dan kita beri kabar baik untuk para pemuda Salafy dari Kuwait, bahwa Jam'iyah Ihyaut Turots telah menghabiskan dana yang sangat besar untuk mereka yang telah berubah di sini, di Yaman [agar menjadi pengikut mereka]. Akan tetapi seruan mereka mati dan tak berpengaruh. Na'am, dan telah dikatakan oleh beberapa orang di Kuwait [dari kalangan mereka] bahwa kita tidak memiliki dakwah selama Muqbil masih di Yaman. Na'am, ini ni'mat dari Rabb-ku, karena kamu telah memisahkan dirimu sendiri wahai orang yang berkata 'bahwa kita tidak memiliki dakwah di Yaman selama Muqbil masih di Yaman' (www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=548)

Dan sekarang lihatlah wahai saudaraku, bagaimana Firanda begitu heroiknya dalam membela Ihya’ut Turots dan berusaha mematahkan statemen Syaikh Muqbil dan “murid-murid ulama kibar” tentang “dakwah pecah belah umat” yang dilakukan oleh yayasan tersebut.

Firanda berkata: “Jawabnya: Perpecahan tersebut tidaklah terjadi kalau saja kita bersikap benar dalam menghadapi perbedaan pendapat yang ada di kalangan ulama Ahlus Sunnah. Salaf memiliki manhaj dalam menyikapi orang- orang yang berselisih dengan mereka dalam permasalahan khilafiyyah ijtihadiyyah…”

Bahkan Firanda melakukan “serangan balik”: ”Selanjutnya kita balik pernyataan kalian. Keadaan kalian yang melakukan tahdzir dan hajr tanpa pengikuti aturan yang benar itulah yang menimbulkan perpecahan di kalangan Salafiyyun. Karena antum menyelisihi manhaj salaf dalam menyikapi masalah khilafiyyah ijtihadiyyah. Apakah maslahat yang antum dapatkan dari tahdzir yang antum lakukan selain fitnah di kalangan Ahlus Sunnah?” (Lerai…, hal. 246-247). Tampaknya, Syaikh Muqbil Rahimahullah dan murid-murid ulama kibar –di sisi Firanda- masihlah “harus belajar lagi di alam nyata” untuk benar-benar meyakini bahwa dakwah Ihya’ut Turots adalah dakwah yang memecahbelah umat, kenyataannya? Justru sikap beliau “yang melakukan tahdzir dan hajr tanpa pengikuti aturan yang benar itulah yang menimbulkan perpecahan di kalangan Salafiyyun. Karena antum menyelisihi manhaj salaf dalam menyikapi masalah khilafiyyah ijtihadiyyah. Apakah maslahat yang antum dapatkan dari tahdzir yang antum –wahai Syaikh Muqbil Rahimahullah- lakukan selain fitnah di kalangan Ahlus Sunnah?” Allahul Musta’an.

Ataukah engkau takut jika alasan-alasan “ulama Shighar yang jumlahnya lebih sedikit’ itu dalam mentahdzir Ihya’ut Turots engkau sebutkan pula, maka umat dapat dengan mudah mengetahui mana pendapat yang lebih “rajih” dari permasalahan “khilaf ijtihadiyyah” tentang Ihya’ut Turots?!

Kalau engkau sedikit ilmiyyah, tentu akan engkau tunjukkan kesalahan dan kelemahan tahdzir dan bukti-bukti kesesatan serta penyimpangan Ihya’ut Turots yang disampaikan oleh Syaikh Muqbil Rahimahullah, Syaikh Rabi’ Hafidhahullah, Syaikh Khalid Raddadi Hafidhahullah, Syaikh Ahmad Najmi Hafidhahulah, Syaikh Muhammad bin Hadi Hafidhahullah, Syaikh Ayyid Asy-Syamiri Hafidhahullah dan beberapa “murid-murid ulama Kibar” lainnya. Adapun hanya sekedar “menyebutkan kemaslahatan-kemaslahatan yang di dapatkan jika bermu’amalah dengan yayasan ini” tanpa menyebutkan kemudharatan- kemudharatan yang karenanya para “murid-murid ulama Kibar” mentahdzirnya?! Duhai alangkah ilmiyyahnya jalan tarjih yang sedang engkau tempuh!

Walhasil, keberanian As-Soronji untuk “menghadapi” Salafiyyin dengan berupaya “menetralisir” tahdzir yang dilakukan oleh “murid-murid ulama Kibar yang jumlahnya lebih sedikit” itu hanyalah bermodalkan sebuah risalah berjudul: “Syahaadaat Muhimmah li Ulama’ al-Ummah fi Manhaj wa A’maal wa Isdaaraat Jum’iyyah Ihyaa’ at-Turots al-Islami” (Lerai…, hal.226)!! Kita tidak tahu, kenapa Firanda tidak menyebutkan keterangan lebih lengkap bahwa risalah ini diterbitkan oleh Kantor Pusat Ihya’ut Turots di Qurtuba, Kuwait. Sengaja atau tidak, penyebutan lebih lengkap tentang penerbit risalah ini hanyalah akan mengundang komentar umat :”Ooo ternyata buku propaganda Ihya’ut Turots, pantas…”.

Beberapa ulama “shighar” telah dihubungi untuk mengetahui komentar mereka tentang buku terbitan kantor pusat Ihya’ut Turots ini yang dijadikan rujukan utama oleh Firanda, secara umum mereka menyatakan bahwa buku ini “hanyalah talbis Ihya’ut Turots” semata. Jika demikian waqi’nya, maka pantas saja Salafiyyin di negeri-negeri Arab dan sekitarnya “tenang-tenang saja” walaupun Ihya’ut Turots mengeluarkan buku ‘sedahsyat ini”. Kenapa? Karena mereka sudah tahu betul dan paham trik-trik yang dilakukan oleh yayasan Hizby ini untuk mentalbis umat. Buku yang tidak laku di pasaran luar negeri tadi akhirnya oleh Firanda diekspor ke Indonesia dan dielu-elukan sebagai “Buku Emas56” oleh Abu Salma dan orang-orang yang semanhaj dengannya. Allahul Musta’an. Betapa tidak, bukankah umat Islam Indonesia yang jauh jaraknya dari ulama menjadi potensi besar untuk melemparkan talbis “Tazkiyah Kibar Ulama terhadap Ihya’ut Turots”?! Siapa pula yang menyangsikan bahwa Kibar ulama adalah orang-orang yang sangat dihormati oleh Salafiyyin?

Hanya saja Firanda lupa bahwa Salafiyyin Indonesia tidaklah terputus hubungannya dengan saudara-saudara mereka yang ada di Jazirah Arab dan sekitarnya terutama saudara- saudara mereka di Kuwait yang menjadi basis terdepan dalam menghadapi serangan Ihya’ut Turots! Merekalah yang akan “membocorkan” trik-trik jahat” dan “talbis-talbis beracun” Ihya’ut