• Tidak ada hasil yang ditemukan

4.1 Gambaran umum

4.1.1 Letak geografis dan administratif

Secara administratif Kabupaten Deli Serdang terdiri dari 22 kecamatan, 14 kelurahan dan 380 desa, dengan luas wilayah 249.772 ha (2.497,72 Km2).

Kecamatan yang paling luas wilayahnya adalah Kecamatan Hamparan Perak yaitu seluas 23.015 ha atau sebesar 9,21% dari luas total Kabupaten Deli Serdang.

Sedangkan kecamatan yang memiliki luas paling kecil adalah Kecamatan Deli Tua yaitu hanya seluas 936 ha atau sebesar 0,37% dari luas Kabupaten Deli Serdang.

Adapun mengenai batas-batas wilayah administrasi Kabupaten Deli Serdang, dapat diuraikan sebagai berikut :

Sebelah Utara : berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Selat Malaka

Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun

Sebelah Barat : berbatasan dengan Kabupaten Langkat, Kota Binjai, dan Kabupaten Karo

Sebelah Timur : berbatasan dengan Kabupaten Serdang Bedagai.

Mengelilingi Kota Medan.

Universitas Sumatera Utara

53

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.1 dan Gambar 4.1 berikut : Tabel 4.1 Luas wilayah Kabupaten Deli Serdang

No Kecamatan Luas Wilayah (Ha) Persentase Wilayah (%)

1 Gunung Meriah 7.665 3,07

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang, 2020

Universitas Sumatera Utara

54

Gambar 4.1. Peta Administrasi Kabupaten Deli Serdang

Universitas Sumatera Utara

55 4.1.2 Penduduk

Jumlah penduduk Kabupaten Deli Serdang sebesar 2.195.709 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 879 jiwa per km2. Berdasarkan jenis kelamin Jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dari penduduk perempuan, Jumlah penduduk laki-laki mencapai 1.104.894 Jiwa dan Jumlah penduduk perempuan sebesar 1.090.815 Jiwa. Jumlah penduduk berdasarkan jenjang usia tertinggi berada pada kelompok usia 5 – 9 sebesar 224.980 jiwa dan jumlah penduduk terendah berada pada kelompok usia >74 sebesar 22.158 jiwa. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.2 Jumlah penduduk berdasarkan jenjang usia di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2020

No. Jenjang Usia

Laki-laki Perempuan Jumlah

1 0 – 4 112.698 107.876 220.574

1.104.894 1.090.815 2.195.709 Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang, 2020

Universitas Sumatera Utara

56 4.1.3 Ketenagakerjaan

Tenaga kerja adalah modal bagi geraknya roda pembangunan. Jumlah dan komposisi tenaga kerja akan terus mangalami perubahan seiring dengan berlangsungnya proses demografi. Bagian dari tenaga kerja yang aktif dalam kegiatan ekonomi disebut angkatan kerja. Pada kondisi 2019, di Kabupaten Deli Serdang terdapat 1.063.161 penduduk angkatan kerja, yang terdiri dari 1.002.187 jiwa terkategori bekerja dan sebesar 60.974 jiwa terkategori mencari kerja dan tidak bekerja (pengangguran terbuka).BPS 2020

Jumlah penduduk yang berkerja menurut lapangan usaha di Kabupaten Deli Serdang berdasarkan lapangan usaha sektor petani sebesar 128.827 jiwa, lapangan usaha sektor industri pengolahan sebesar 610.864 jiwa sedangkan lapangan Usaha sektor jasa sebesar 262.496 jiwa. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 4.3 berikut:

Tabel 4.3 Jumlah penduduk yang berkerja berdasarkan lapangan usaha di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2020

No. Lapangan Usaha

Laki-laki Perempuan Jumlah

1 Pertanian 87.714 41.113 128.827

2 Industri Pengolahan

435.067 175.797 610.864

3 Jasa-Jasa 115.747 146.749 262.496

Jumlah 638.528 363.659 1.002.187

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang, 2020 4.1.4 Pertanian

Kegiatan pertanian di Kabupaten Deli Serdang menurut BPS 2020 terdiri dari tanaman pangan, holtikultura, perkebunan rakyat. Dari sektor tanaman pangan komoditi unggulan adalah padi/beras, ubi kayu, dan jagung. Pada tahun

Universitas Sumatera Utara

57

2019 angka ketersediaan beras di Kabupaten Deli Serdang mencapai 296.579,37 ton dengan kebutuhan konsumsi mencapai 251.869,78 ton. Hal ini menandakan adanya surplus 44.709,59 ton. Angka ketersediaan Ubi Ka yu di Kabupaten Deli Serdang mencapai 97.097,71 ton dengan kebutuhan konsumsi mencapai 21.298,38 ton. Hal ini menunjukkan adanya surplus 75.799,33 ton. Angka ketersediaan Jagung di Kabupaten Deli Serdang mencapai 112.940,01 ton dengan kebutuhan konsumsi mencapai 878,28 ton. Hal ini menunjukkan adanya surplus 112.061,73 ton.

Sektor pertanian holtikultura di Kabupaten Deli Serdang seperti bawang merah, bayam, buncis, cabai besar, cabai rawit, kacang panjang, kangkung, ketimun, melon, sawi, semangka, terung dan tomat. Komoditas yang mempunyai nilai produksi terbesar pada sektor ini adalah tanaman kacang panjang dengan luas panen 321 ha total produksi 3978,6 ton/tahun sedangkan nilai produksi terendah dengan luas lahan 13 ha total produksi 129,8 ton/pertahun. seperti terlihat dalam Tabel 4.4 berikut:

Tabel 4.4 Luas panen dan produksi tanaman holtikultura menurut jenis tanaman di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2020

NO Jenis Tanaman Luas Panen(Ha) Produksi(ton/tahun)

1 Bawang Merah 18 279,1

58

NO Jenis Tanaman Luas Panen(Ha) Produksi(ton/tahun)

8 Ketimun 258 3853,5

Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang, 2020

Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu sentra perkebunan di Sumatera Utara. Komoditi penting yang dihasilkan perkebunan di Kabupaten Deli Serdangadalah karet, kelapa sawit, dan kelapa. Produksi karet pada tahun 2019 sebesar 1.756,16 ton sedangkan Tanaman kelapa sawit perkebunan rakyat ditanam di seluruh kecamatan di Kabupaten Deli Serdang dengan Produksi kelapa sawit (minyak sawit)sebesar 38.731,83 ton dan Produksi tanaman kelapa Mencapai 3.053,15 ton.

4.1.5 Pengunaan Lahan

Penggunaan lahan Kabupaten Deli Serdang berdasarkan peta penggunaan lahan tahun 2009 terdiri dari danau/waduk, hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, hutan magrove sekunder, hutan rawa sekunder, ladang, lahan terbuka, perkebunan kelapan sawit, permukiman, sawah, semak belukar, sungai, dan tambak. Berdasarkan data penggunaan lahan di Kabupaten Deli Serdang tahun 2009 pengunaan lahan paling besar yaitu hutan lahan kering primer dengan luas lahan 30859,26 Ha sedangkan penggunaan lahan paling kecil lahan terbuka dengan luas lahan 3,20 ha. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.5 dan Gambar 4.2 berikut :

Universitas Sumatera Utara

59

Tabel 4.5 penggunaan lahan tahun 2009 di Kabupaten Deli Serdang

NO Penggunaan Lahan Luas (Ha)

1 Danau/waduk 26,36

2 Hutan lahan kering primer 30.859,26

3 Hutan lahan kering sekunder 16.918,06

4 Hutan mangrove sekunder 3.354,07

5 Hutan rawa sekunder 135,75

6 Ladang 1.7802,25

7 Lahan terbuka 3,20

8 Perkebunan kelapa sawit 128.171,43

9 Permukiman 17.391,22

10 Sawah 31.889,09

12 Sungai 1.609,39

13 Tambak 3.654,03

Sumber: Peta penggunaan lahan Kab. Deli Serdang, Tahun 2009

Universitas Sumatera Utara

60

Gambar 4.2 Peta penggunaan lahan Kab. Deli Serdang, Tahun 2009

Universitas Sumatera Utara

61

Penggunaan lahan Kabupaten Deli Serdang berdasarkan peta penggunaan lahan tahun 2019 terdiri dari bandara, danau/waduk, hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, hutan magrove sekunder, hutan rawa sekunder, jalan, ladang, lahan terbuka, perkebunan karet, perkebunan kelapan sawit, perkebunan tebu, permukiman, pertenakana, sawah, semak belukar, sungai, taman kota dan tambak. Berdasarkan data penggunaan lahan di Kabupaten Deli Serdang tahun 2019 pengunaan lahan paling besar yaitu Perkebunan dengan luas lahan 83057,88 Ha sedangkan penggunaan lahan paling kecil taman kota dengan luas lahan 22,71 ha.seperti terlihat dalam Tabel 4.6 dan Gambar 4.2 berikut:

Tabel 4.6 penggunaan lahan tahun 2019 di Kabupaten Deli Serdang

NO Penggunaan Lahan Luas (Ha)

1 Bandara 1.267,87

2 Danau/waduk 282,01

3 Hutan lahan kering primer 16.162,45

4 Hutan lahan kering sekunder 18.58,34

5 Hutan mangrove sekunder 6.470,37

6 Hutan rawa sekunder 87,81

7 Jalan 203,28

8 Ladang 13.248,68

9 Lahan terbuka 619,63

10 Perkebunan karet 57.064,93

11 Perkebunan kelapa sawit 83.057,88

12 Perkebunan tebu 3.745,63

13 Permukiman 26.336,27

14 Peternakan 454,15

Sumber: Peta penggunaan lahan Kab. Deli Serdang, Tahun 2019

Universitas Sumatera Utara

62

Gambar 4.3 Peta penggunaan lahan Kab. Deli Serdang, Tahun 2019

Universitas Sumatera Utara

63

4.2 Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian

Menurut Lillesand dan Kiefer (1990) dalam Purwoko (2009) penggunaan lahan merupakan istilah yang berkaitan dengan jenis kenampakan yang ada dipermukaan bumi pada sektor pertanian lahan yang digunakan orang untuk areal persawahan, kebun dan ladang sedangkan untuk bidang lainya digunakan untuk permukiman, prasarana umum, pekarangan dan lain-lainya. Penggunaan lahan mengalami perubahan jika dilihat berdasarkan waktu, berdasarkan penggunaan lahan itu sendiri maupun posisinya yang berubah pada kurun waktu tertentu.

Perubahan penggunaan lahan pertanian dari tahun 2009 - tahun 2019 di Kabupaten Deli Serdang dalam retang waktu selama 10 tahun mengalami perubahan yang cukup signifikan. seperti terlihat dalam tabel 4.7 berikut:

Universitas Sumatera Utara

64

Tabel 4.7 Perubahan penggunaan lahan pertanian Tahun 2009 – Tahun 2019 di Kabupaten Deli Serdang

No

Sumber: Analisis data, 2021 (olahan data)

Universitas Sumatera Utara

65

Berdasarkan tabel 4.7 diatas dapat dilihat perubahan penggunaan lahan pertanian di Kabupaten Deli Serdang periode tahun 2009 - tahun 2019 yaitu seluas 75.452,93 ha. Perubahan penggunaan lahan di Kabupaten Deli Serdang terdiri dari perubahan penggunaan lahan ladang seluas 6.956,08 ha, perkebunan karet seluas 22.665,49 ha, lahan perkebunan sawit seluas 25083,24 ha, lahan sawah seluas 8.385,15 ha, bandara seluas 1.091,44 ha, lahan perkebunan tebu seluas 3.717,44 ha, lahan permukiman seluas 7.474,39 ha, lahan semak belukar seluas 72,02 Hha dan lahan pertenakan seluas 7,68 ha. Perubahan penggunaan lahan terluas pada yaitu penggunaan lahan perkebunan kelapa sawit seluas 25.083,24 ha dan penggunaan lahan karet seluas 22.665,49 ha sedangkan perubahan penggunaan lahan terkecil yaitu penggunaan lahan pertenakan seluas 7,68 ha.

Peta perubahan penggunaan lahan pertanian Kabupaten Deli Serdang gambar 4.4 berikut :

Universitas Sumatera Utara

66

Gambar 4.4 Peta Perubahan Penggunaan Lahan Pertanian Kabupaten Deli Serdang

Universitas Sumatera Utara

67

Menurut Sutomo (2019) menyatakan perubahan penggunaan lahan bertambahnya suatu penggunaan lahan dari satu sisi penggunaan ke penggunaan yang lainnya diikuti dengan berkurangnya tipe penggunaan lahan yang lain dari satu waktu ke waktu berikutnya atau berubahnya fungsi suatu lahan pada kurung waktu yang berbeda. Perubahan penggunaan lahan mengikuti proses geografi dimana daerah Rudal perubahan penggunaan lahan terjadi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan permukiman sedangkan di daerah urban perubahan penggunaan lahan terjadi dari lahan pertaian menjadi permukiman dan industri.

Silahooy at al (2012).

Dampak dari perubahahan penggunaan lahan fungsi hutan adalah banjir, erosi, sedimentasi dan penurunan produktivitas dan degradasi hutan, sedangkan dampak dari perubahan penggunaan lahan terbuka (kebun atau tegalan) menjadi lahan terbangun untuk permukiman maupun industri menyebabkan infiltrasi air permukaan berkurang, meningkatnya aliran permukaan dan pengisian kembali air tanah menjadi berkurang dan tercemarnya kualitas air akibat limbah industri.

Maka dari dampak yang akan terjadi perlunya analisis lingkungan untuk meminimalisir terjadinya dampak dari perubahan penggunaan lahan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Iksan (2015) menyatakan bahaya banjir dapat terjadi karena adanya perubahahan penggunaan lahan yaitu lahan sebelum di tempati merupakan lahan sawah atau kebun menjadi kawasan terbangun yaitu permukiman penduduk atau kegiatan perdagangan /jasa.

Penyebab adanya peningkatan pembangunan yang terjadi di Kabupaten Deli Sedang ini menjadikan adanya kebutuhan akan lahan, sementara lahan untuk menunjang pembangunan bersifat terbatas. Pembangunan lahan dalam kaitannya

Universitas Sumatera Utara

68

dengan pemanfaatan lahan untuk ruang pembangunan mempunyai hubungan dengan tata ruang. Analisis kesesuaian perubahan penggunaan lahan pertanian terhadap rencana pola ruang dalam Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Deli Sedang dilakukan untuk mengetahui kekonsiten tata ruang yang sudah disusun.

seperti terlihat dalam tabel 4.8 berikut:

Tabel 4.8 Kesesuaian perubahan penggunaan lahan pertanian terhadap RTRW Kabupaten Deli Serdang Tahun 2021-2041

No Kecamatan Kesesuaian RTRW (Ha)

Total (Ha)

9 Kutalimbaru 3.205,17 1.003,23 4.208,40

10 Labuhan Deli 1.631,32 1.664,05 3.295,37

20 Sibolangit 10.089,90 2.552,86 12.642,76

21 Sunggal 1.996,85 125,91 2.122,76

22 Tanjung Morawa 1.424,00 559,88 1.983,88

Total 59.279,99 16.172,95 75.452,93

Sumber: Analisis data, 2021 (olahan data)

Universitas Sumatera Utara

69

Berdasarkan tabel 4.8 Kesesuaian perubahan penggunaan lahan pertanian terhadap peta pola ruang RTRW Kabupaten Deli Serdang Tahun 2021-2041 diperoleh total luasan seluas 59.279,99 Ha yang sesuai dengan pola ruang RTRW Kabupaten Deli Serdang dan total luasan yang tidak sesuai pola ruang RTRW Kabupaten Deli Serdang seluas 16.172,95 Ha. Data di atas menunjukan Kecamatan Sibolangit merupakan kecamatan terbesar kesesuaianya terhadap pola ruang RTRW dengan luasan 10.089,90 Ha dan Kecamatan Deli Tua menjadi kecamatan dengan luasan terkecil kesesuaian nya terhadap pola ruang RTRW Kabupaten Deli Serdang dengan luasan 104,70 Ha. Kecamatan Percut Sei Tuan merupakan kecamatan terbesar dengan luas 2.970,26 Ha yang penggunaan lahannya tidak sesuai dengan pola ruang RTRW sedangkan Kecamatan Lubuk Pakam menjadi kecamatan luasan terkecil dengan luas 4,97 Ha yang penggunaan lahannya tidak sesuai dengan pola ruang RTRW Kabupaten Deli Serdang. Berikut peta kesesuaian perubahan penggunaan lahan pertanian terhadap RTRW Kabupaten Deli Serdang Tahun 2021-2041 gambar 4.5 berikut:

Universitas Sumatera Utara

70

Gambar 4.5 Peta kesesuaian perubahan penggunaan lahan pertanian terhadap RTRW Kabupaten Deli Serdang Tahun 2021-2041

Universitas Sumatera Utara

71 4.3 Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent)

Nilai ekonomi lahan dapat tercemin dari adanya tingkat harga nilai land rent yang dihasilkan. Land rent merupakan pendapatan bersih yang diperoleh suatu pelaku ekonomi melalui kegiatan yang dilakukan pada suatu unit ruang dengan teknologi dan efisiensi manajemen tertentu dan dalam suatu kurun waktu tertentu secara formal (biasanya satu tahun). seperti terlihat dalam tabel 4.9 berikut:

Tabel 4.9 Nilai land rent lahan pertanian di Kabupaten Deli Sedang

No Faktor Land Rent Total Lahan Pertanian (Ha)

1 Rata-rata total penerimaan (Rp/ha/tahun) 34.661.667 2

Rata-rata biaya operasional (Rp/ha/tahun)

10.778.733

3 Rata-rata pajak (Rp/ha/tahun) 240.733

5 Rata-rata land rend (Rp/ha/tahun) 23.642.200 Sumber: Analisis data, 2021 (olahan data)

Berdasarkan Tabel 4.9 Nilai ekonomi lahan (land rent) lahan pertanian di Kabupaten Deli Serdang rata-rata nilai land rent lahan pertanian adalah Rp 23.642.200,- ha/tahun. lend rent lahan pertanian Kabupaten Deli Serdang, rata-rata penerimaan yang didapatkan petani dalam mengolah lahan pertanian dalam kurun waktu satu tahun sebesar Rp 34.661.667,- ha/tahun dan rata-rata total biaya operasional yang di keluarkan oleh petani dalam mengolah lahan pertanian sebesar Rp 10.778.733,- ha/tahun dan rata-rata total biaya pajak sebesar Rp 240.733,- ha/tahun.

Hasiholan,et al (2021) menyatakan Kabupaten Deli Serdang merupakan salah satu kabupaten terbesar di Provinsi Sumatera Utara yang memiliki keanekaragaman sumber daya alam yang besar dengan potensi peluang investasi,

Universitas Sumatera Utara

72

komoditi utama di Kabupaten Deli Serdang adalah pertanian pangan, perkebunan rakyat dan perkebunan besar.

Berdasarkan kegiatan pertanian di Kabupaten Deli Serdang menurut BPS 2020 terdiri dari tanaman pangan, holtikultura, perkebunan rakyat. Dari sektor tanaman pangan komoditi unggulan adalah padi/beras, ubi kayu, dan jagung sedangkan Sektor pertanian holtikultura di Kabupaten Deli Serdang seperti bawang merah, bayam, buncis, cabai besar, cabai rawit, kacang panjang, kangkung, ketimun, melon, sawi, semangka, terung dan tomat, sektor perkebunan yaitu perkebunan rakyat maupun perkebunan swasta. Berdasarkan kegiatan pertanian di atas maka nilai land rent di klasifikasikan menjadi 3 yaitu lahan tanaman pangan,lahan holtikultura dan perkebunan. seperti terlihat dalam tabel 4.10 berikut:

Tabel 4.10 Klasifikasi Nilai land rent lahan pertanian di Kabupaten Deli Sedang

No Klasifikasi Land Rent Total Lahan

Pertanian (Ha) 1 Rata-rata land rent tanaman pangan (Rp/ha/tahun) 29.469.733 2 Rata-rata land rent holtikultura (Rp/ha/tahun) 14.408.333 3 Rata-rata lan rent perkebunan (Rp/ha/tahun) 31.440.000 Sumber: Analisis data, 2021 (olahan data)

Tabel 4.10 diatas menunjukan klasifikasi land rent lahan pertanian di Kabupaten Deli Serdang, hasil penelitian menunjukan rata-rata land rent tanaman pangan sebesar Rp. 29.469.733,- ha/tahun, rata-rata land rent holtikultura sebesar Rp. 14.408.333,- ha/tahun dan untuk rata-rata land rent perkebunan sebesar Rp.

31.440.000,- ha/tahun. seperti terlihat dalam Gambar 4.5 berikut:

Universitas Sumatera Utara

73

Gambar 4.6 Peta klasifikasi nilai land rent lahan pertanian di Kabupaten Deli Serdang

Universitas Sumatera Utara

74

Berdasarkan nilai land rent di atas nilai rata-rata lend rent perkebunan cukup tinggi, ini membuat sektor perkebunan merupakan salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan juga potensi utama dalam perekonomian masyarakat Kabupaten Deli Serdang, terdapat perkebunan rakyat dan perkebunan besar yang tersebar di Kabupaten Deli Serdang antara lain PT. Perkebunan Nusantara II yang tersebar di Kecamatan Labuhan Deli, Percut Sei Tuan, Pancur Batu, Tanjung Morawa, Batang Kuis, Hamparan Perak, Sunggal, Patumbak, STM Hilir, Pagar Merbau dan Pantai Labu. PT. Perkebunan Nusantara III berada di Kecamatan Galang, PT. London Sumatera berada di Kecamata Tanjung Morawa dan PT. Tamiang Sari berada di Kecamatan Bangun Purba. Hal ini juga menjadikan sebagian besar penggunaan lahan wilayah Kabupaten Deli Serdang penggunaan lahannya adalah perkebunan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan Maruhawa (2020) menyatakan berdasarkan perubahan penggunaan lahan tahun 2013 dan tahun 2019 di Kabupaten Deli Serdang penggunaan lahan perkebunan merupakan penggunaan lahan paling banyak mengalami perubahan yaitu seluas 24.487,21 ha. Penelitian Hasibuan (2015) menyatakan konversi lahan di Kabupaten Deli Serdang dari tahun 2009 - 2013 setiap tahun mengalami peningkatan dan secara varsial variabel konversi lahan secara signifikan berpengaruh negatif terhadap produksi pertanian di Kabupaten Deli Serdang.

Berdasarkan klasifikasi nilai land rent lahan pertanian di Kabupaten Deli Serdang dapat dilihat bagaimana perekonomian masyarakat sekitar atau nilai tambah yang tercipta dari kegiatan pengolahan lahan pertanian di Kabupaten Deli Serdang. Nilai tambah yang tercipta pada petani yang mengolah lahan pertanian

Universitas Sumatera Utara

75

tanaman pangan dan holtikultura untuk saat ini masih sangat rendah, hal ini dikarenakan kesadaran masyarakat yang memiliki potensi tanaman pangan dan holtikultura untuk memanfaatkan sebagai olahan alternatif dalam variasi makanan sehari-hari serta kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pengolahan menjadi makanan. Untuk kegiatan pengolahan dan industri kecil berkembang sangat lambat. Pada umumnya petani masih menjual dalam bentuk bahan baku yaitu hasil dari pengolahan lahan pertanian. Salah satu pertanian tanaman pangan yang nilai tambah didapat oleh petani dalam pengolahan ubi kayu, harga ubi kayu yang belum di olah yang masih menjadi bahan baku Rp. 1500,-/kg sedangkan setelah di olah menjadi keripik ubi Rp. 20.000,-/kg.

Perkembangan pembangunan perekonomian suatu daerah tergantung dari kondisi dan potensi sumber daya yang dimiliki masing-masing daerah. Ini menunjukan Kabupaten Deli Serdang salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi dan juga potensi utama dalam perekonomian masyarakat pada sektor pertanian pendapatan yang didapat cukup tinggi. Berdasarkan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Deli Serdang atas dasar harga konstan menurut lapangan usaha yahun 2016-2020 (persen) dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut :

Tabel 4.11 Laju pertumbahan PDRD Kabupaten Deli Serdang atas harga konstan menurut lapangan usaha Tahun 20216-2020.

Lapangan Usaha

76

Sumber : BPS Kabupaten Deli Serdang, Tahun 2020

Peran masing-masing sektor terhadap laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Deli Serdang atas harga konstan menurut lapangan usaha Tahun 20216-2020 dari tabel 4. 11 diatas terlihat di Kabupaten Deli Serdang terdapat 4 sektor yang nilai tinggi yaitu industri pengolahan, Perdagangan Besar dan Eceran Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, Konstruksi dan Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Pada sektor pertanian di Kabupaten Deli Serdang kontribusi terbesar pada tahun 2016 sebesar 10,83% dan terjadi penurunan angka pada tahun 2019 sebesar 10,08 % dan pada tahun 2020 angka naik kembali sebesar 10,46 %.

Universitas Sumatera Utara

77

4.4 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Nilai Ekonomi Lahan (Land Rent) pada Lahan Pertanian

Metode analisis yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi Nilai ekonomi lahan (land rent) pada lahan pertanian di Kabupaten Deli Serdang menggunakan analisis regersi berganda. Sebelum dilakukan analisis regresi berganda terkebih dahulu dilakukan analisis korelasi berganda terhadap variabel-varianbel penjelas.

4.4.1 Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas dilakukan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Pengujian ada tidaknya gejala multikolinearitas dilakukan dengan memperhatikan nilai matriks korelasi yang dihasilkan pada saat pengolahan data serta nilai VIF (Variance Inflation Faktor) dan Tolerance-nya. Nilai dari VIF yang kurang dari 10 dan tolerance yang

lebih dari 0,10 maka menandakan bahwa tidak terjadi adanya gejala multikolinearitas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi tersebut tidak terdapat problem multikolinieritas. seperti terlihat dalam tabel 4.12 berikut:

Tabel 4.12. Hasil Uji Multikolinieritas Coefficientsa

Total penerimaan 0,779 1,283

Biaya operasional 0,691 1,447

Pajak 0,739 1,354

Biaya ke pasar 0,896 1,116

a. Dependent Variable: Land rent

Universitas Sumatera Utara

78

Tabel 4.12 di atas menunjukkan bahwa nilai VIF dan tolerance sebagai berikut : Variabel Usaha Tani (X1) mempunyai nilai VIF sebesar 1,112 dan tolerance sebesar 0,899; Variabel Status lahan (X2) mempunyai nilai VIF sebesar

1,041 dan tolerance sebesar 0,961; Variabel Total Penerimaan (X3) mempunyai nilai VIF sebesar 1,283 dan tolerance sebesar 0,779. Variabel Biaya Operasional (X4) mempunyai nilai VIF sebesar 1,447vdan tolerance sebesar 0,691; Variabel Pajak (X5) mempunyai nilai VIF sebesar 1,354 dan tolerance sebesar 0,739; dan Variabel Jarak (X6) ke Pasar mempunyai nilai VIF sebesar 1,116 dan tolerance sebesar 0,896. Dari hasil tersebut dapat terlihat bahwa semua variabel mempunyai nilai VIF < 10 dan tolerance > 0,10 maka artinya tidak ada masalah multikolinieritas pada model analisis.

4.4.2 Uji Heterokedastisitas

Gambar 4.7. Grafik scatterplots (Land Rent) Lahan Pertanian

Universitas Sumatera Utara

79

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedastisitas dapat dilakukan dengan melihat grafik scatterplots. Grafik scatterplots pada Gambar 4.6 menunjukan bahwa model tidak terdapat heterokedastisitas, hal ini dijelaskan dari plot data antara nilai residual dengan nilai dugaan variabel responden bersifat acak atau tidak ada pola tertentu.

4.4.3 Uji Koefisien Determinasi ( R2)

Koefisien determinasi digunakan untuk menguji goodness-fit dari model regresi yang dapat lihat dari nilai R Square. Nilai R2 terletak antara nol dan satu, kalau R2 sama dengan satu, berarti bahwa garis regresi yang disesuaikan atau variabel-variabel bebas menjelaskan 100 persen variasi dalam variabel tidak bebas. Sebaliknya R2 sama dengan nol, model regresi tersebut tidak menjelaskan sedikitpun variasi dalam variabel tidak bebas. Kesesuaian model dapat dikatakan lebih baik apabila nilai koefisien determinasi majemuk (R2) semakin dekat dengan satu (Gujarati, 1978). seperti terlihat dalam tabel 4.13 berikut:

Tabel 4.13 Koofisien determinasi

a. Predictors: (Constant), Biaya Ke Pasar, Usaha Tani , Status lahan , Biaya Operasional, Total Penerimaan, Pajak

b. Dependent Variable: Land rent

Universitas Sumatera Utara

80

Hasil perhitungan nilai R Square adalah 0,980, ini berarti 98 persen land rent dapat dijelaskan oleh Jarak Ke Pasar, Usaha Tani, Status Lahan, Biaya

Operasional, Pajak dan Total Penerimaan di atas, sedangkan sisanya yaitu 2 persen dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak diamati dalam model analisis.

4.4.4 Uji Simultan (uji F)

Uji pengaruh simultan digunakan untuk mengetahui apakah variabel

Uji pengaruh simultan digunakan untuk mengetahui apakah variabel