BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.6 Letak Kelumpuhan pada Stroke
Gangguan muncul akibat daerah otak tertentu tak berfungsi yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. Gejala yang muncul bervariasi, bergantung bagian otak yang terganggu (Harsono, 2003). 2.6.1 Kelumpuhan sebelah Kiri (Hemiparesis Sinistra)
Apabila stroke merusak belahan otak sebelah kanan (hemisfer serebri dextra) maka sisi tubuh yang sebelah kiri yang terkena pengaruhnya. Penderita dengan kelumpuhan sebelah kiri sering memperlihatkan ketidakmampuan persepsi visuomotor, yaitu tidak mampu menggambar atau membuat copy gambar dan tidak mampu mengenakan pakaian (apraxia) (Harsono, 2003).
Apraxia juga adalah seseorang yang tidak akan mampu melaksanakan instruksi-instruksi, tetapi secara fisik tampaknya tidak mengalami kelumpuhan atau kelemahan-kelemahan ada sensornya. Sebenarnya memahami instruksi-instruksi yang diberikan dan langsung mengirimkan pesan kepada otot yang dimaksudkan tetapi otot-otot tersebut tidak bereaksi (Shimberg, 1998).
Penderita juga mengalami gangguan visuospasial, yaitu gangguan pengenalan tempat dan pengenalan wajah.Penderita mengalami pelemahan ingatan dan menunjukkan perilaku yang impulsif, seringkali salah satu sisi tubuhnya terabaikan, dalam hal ini penderita tidak lagi menyadari keberadaan sisi sebelah kiri tubuhnya yang disebut juga sebagai hemineglect (Shimberg, 1998). 2.6.2 Kelumpuhan sebelah Kanan (Hemiparesis Dextra)
Apabila serangan stroke menyerang belahan otak sebelah kiri (hemisfer
serebri sinintra) dapat mengakibatkan kelumpuhan atau kelemahan motorik (daya
gerak otot) yang ada pada sisi tubuh sebelah kanan.
Mengalami Aphasia yaitu apabila daerah ini terkena stroke, maka akan menimbulkan berbagai macam masalah komunikasi. Termasuk dalam kesulitan- kesulitan ini adalah ketidakmampuanmemahami apa yang sedang dikatakan orang lain, ketidakmampuan menggunakan kata-kata secara tepat, hilangnya kemampuan membaca dan menulis, bahkan sekaligus kehilangan kemampuan berhitung yang disebut aleksia. Namun persepsi dan memori visuomotornya sangat baik, sehingga dalam melatih perilaku tertentu harus dengan cermat diperlihatkan tahap demi tahap secara visual. Dalam komunikasi kita harus lebih banyak menggunakan body language(bahasa tubuh) (Shimberg,1998).
2.6.3 Hemiparesis Duplex
Karena adanya sclerosis pada banyak tempat, penyumbatan dapat terjadi pada dua sisi belahan otak hemisfer serebri yang mengakibatkan kelumpuhan satu sisi diikuti sisi lain. Timbul gangguan psedobulber (biasanya hanya pada vaskuler) dengan tanda-tanda hemiplegi dupleks, sukar menelan, sukar berbicara
dan juga mengakibatkan kedua kaki sulit untuk digerakkan dan mengalami hipereduksi (Shimberg,1998).
2.7 Epidemiologi Hipertensi
2.7.1 Distribusi dan Frekuensi Hipertensi a. Berdasarkan orang
Hipertensi dapat menyerang siapa saja, baik muda maupun tua. Hipertensi merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia (Shadine, 2010). Boedi Darmoyo dalam penelitiannya menemukan bahwa antara 1,8% -28,6% penduduk dewasa adalah penderita Hipertensi (Depkes RI, 2006). Data laporan AHA, penduduk Amerika yang berusia diatas 20 tahun menderita Hipertensi telah mencapai angka hingga 74,5 juta jiwa, namun hampir sekitar 90-95% kasus tidak diketahui penyebabnya (Kemenkes RI, 2013).
AHA juga melaporkan 69% dari penderita serangan jantung, 77% dari penderita stroke, dan 74% dari penderita gagal jantung mengidap Hipertensi (Shadine, 2010).
Pada usia dini tidak terdapat bukti nyata tentang adanya perbedaan tekanan darah antara pria dan wanita. Akan tetapi, mulai pada masa remaja, pria mulai menunjukkan aras rata-rata yang lebih tinggi. Perbedaan ini lebih jelas pada orang dewasa muda dan orang setengah baya (Laporan Komisi Pakar WHO, 2001).
Namun, setelah memasuki menopause, prevalensi Hipertensi pada wanita meningkat. Bahkan setelah usia 65 tahun, terjadinya Hipertensi pada wanita lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang diakibatkan oleh faktor hormonal (Depkes RI, 2006).
Penelitian di Indonesia prevalensi yang lebih tinggi terdapat pada wanita. Prevalensi Hipertensi berdasarkan jenis kelamin Riskesdas tahun 2007 maupun Riskesdas tahun 2013, prevalensi Hipertensi perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki yakni pada tahun 2007 prevalensi Hipertensi pada laki-laki sebesar 31,3% sedangkan pada perempuan sebesar 31,9%, pada tahun 2013 prevalensi Hipertensi pada laki-laki sebesar 22,8% sedangkan pada perempuan sebesar 28,8% (Kemenkes RI, 2015).
Berdasarkan hasil penelitian Kamso (2000), prevalensi Hipertensi di kalangan usia lanjut cukup tinggi, yaitu sekitar 40%, dengan kematian sekitar di atas 65 tahun. Pada usia lanjut, Hipertensi terutama ditemukan hanya berupa kenaikan tekanan darah sistolik. Sedangkan menurut WHO memakai tekanan diastolik sebagai bagian tekanan yang lebih tepat dipakai dalam menentukan ada tidaknya Hipertensi. Penelitian yang dilakukan di 6 kota besar seperti Jakarta, Padang, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Makasar terhadap usia lanjut (55-85 tahun), didapatkan prevalensi Hipertensi sebesar 52,5% (Depkes RI, 2006).
Menurut National Basic Health Survey 2013 prevalensi Hipertensi di Indonesia pada kelompok usia 15-24 tahun adalah 8,7 %, pada kelompok usia 25-34 tahun adalah 14,7 %, 35-44 tahun 24,8 %, 45-54 tahun 35,6 %, 55-64 tahun 45,9 %, 65-74 tahun 57,6 %, dan lebih dari 75 tahun adalah 63,8 %. Dengan prevalensi yang tinggi tersebut, Hipertensi yang tidak disadari mungkin jumlahnya bisa lebih tinggi lagi. Hal ini karena Hipertensi dan komplikasi jumlahnya jauh lebih sedikit daripada Hipertensi tidak bergejala (InaSH, 2014).
b. Berdasarkan tempat
Indonesia peluang masyarakat menderita Hipertensi belum sebesar di negara maju. Namun, ancaman penyakit ini tidak boleh diabaikan begitu saja. Terlebih bagi masyarakat perkotaan yang lebih mudah mengakses gaya hidup modern yang tidak sehat, seperti banyak mengonsumsi makanan cepat saji, alkohol, dan merokok (Dalimartha, 2008).
Data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 dengan menggunakan unit analisis individu menunjukkan bahwa secara nasional 25,8% penduduk Indonesia menderita penyakit Hipertensi. Terdapat 13 provinsi yang persentasenya melebihi angka nasional (25,8%) dengan tertinggi Prevalensi Hipertensi di Indonesia yang didapat melalui pengukuran pada umur ≥18 tahun yaitu Bangka Belitung (30,9%), diikuti Kalimantan Selatan (30,8%), Kalimantan Timur (29,6%), Jawa Barat (29,4%), Gorontalo (29,0%), Sulawesi Tengah (27,1%), Kalimantan Barat (28,3%), Sulawesi Selatan (28,1%), Sulawesi Utara (27,1%), Kalimantan Tengah (26,7%), Jawa Tengah (26,4%), Jawa Timur (26,2%), dan Sumatera Selatan (26,1%) (Kemenkes RI, 2013).
c. Berdasarkan waktu
Masalah hipertensi di Indonesia cenderung meningkat. Hasil Survey Kesehatan Rumsh Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan bahwa 8,3% penduduk menderita hipertensi dan meningkat menjadi 27,5% pada tahun 2004. Hasil SKRT 1995, 2001, dan 2004 menunjukkan penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit nomor satu penyebab kematian di Indonesia dan sekitar
20-35% dari kematian tersebut disebabkan oleh hipertensi (Rahajeng dan Tuminah, 2009).
2.7.2 Faktor Risiko Stroke pada Hipertensi
Faktor risiko bagi stroke adalah kelainan atau penyakit yang membuat seseorang lebih rentan terhadap serangan stroke. Faktor risiko yang kuat berarti faktor risiko yang besar pengaruhnya terhadap kemungkinan mendapatkan stroke, yaitu hipertensi. Bila faktor risiko hipertensi penyebab kerusakan organ target seperti otak yaitu penyakit stroke maka kemungkinan untuk mendapat stroke dapat dikurangi atau ditangguhkan (Lumbantobing, 2013).
a Obat antihipertensi
Tatalaksana hipertensi dengan obat anti hipertensi yang dianjurkan (Depkes, 2006) :
a.1 Diuretik: hidroclorotiazid dengan dosis 12,5 -50 mg/hari `a.2 Penghambat reseptor angiotensin II : Captopril 25-100 mmHg
a.3 Penghambat kalsium yang bekerja panjang : nifedipin 30 -60 mg/hari a.4 Penghambat reseptor beta: propanolol 40 -160 mg/hari
a.5 Reseptor alpha central (penghambat simpatis}: reserpin 0,05 -0,25 mg/hari Berdasarkan laporan penelitian Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan alat Kesehatan menyatakan bahwa jika pasien yang menghentikan terapi antihipertensinya lima kali lebih besar kemungkinan terkena stroke (Depkes RI, 2006).
Hipertensi merupakan faktor risiko stroke terpenting yang dapat dimodifikasi. Hipertensi berat meningkatkan risiko stroke hingga 7 kali lipat, dan
hipertensi ringan meningkatkan risiko 1,5 kali lipat. Pengurangan rata-rata 9/5 mmHg dapat mengurangi risiko stroke hingga 34-35% dalam 2-3 tahun terapi, dan manfaat meningkat bagi pasien > 80 tahun (Goldszmidt, 2011).
Penderita Hipertensi sekitar 40% hingga 90% ternyata menderita Hipertensi sebelum terkena stroke. Sejumlah penelitian menunjukkan obat-obatan anti Hipertensi dapat mengurangi angka kematian karena stroke sebesar 40% (Shadine, 2010).
b. Obesitas
Obesitas merupakan faktor predisposisi penyakit kardiovaskuler dan stroke. Hal ini disebabkan keadaan obesitas berhubungan dengan tingginya tekanan darah dan kadar gula darah. Jika seseorang memiliki berat badan berlebih maka jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh, sehingga dapat meningkatkan tekanan darah darah. Orang obesitas kan meningkatkan risiko stroke karena obesitas merupaka faktor risiko untuk terjadinya hipertensi, penyakit jantung, arteriosklerosis, dan diabetes mellitus. Serta hipertensi sebagai faktor risiko mayor stroke (Wahjoepramono, 2005).
Berdasarkan penelitian Framingham didapatkan bahwa pria gemuk yang berat badannya diturunkan sebanyak 15%, tekanan sistoliknya berkurang sebanyak 10% (Lumbantobing, 2013).
Menurut Depkes RI 2002, Indeks massa tubuh adalah perbandingan berat badan dalam kilogram terhadap tinggi badan dalam meter persegi, dengan rumus (Asmadi, 2008) :
� � � � ℎ (���) � � (��
Tabel 2.3 Kategori Indeks Massa Tubuh di Indonesia
Keadaan Kategori IMT
Kurus Kekurangan berat
badan tingkat berat
< 17 Kekurangan berat
badan tingkat sedang
17,0 – 18,5
Normal 18,5 – 25, 0
Gemuk Kelebihan berat badan tingkat ringan
>25,0 – 27,0 Kelebihan berat badan
tingkat berat
>27,0
Sumber : Depkes 2002
c. Stres
Stress adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh adanya transaksi antara individu dengan lingkungannya yang mendorong seseorang untuk mempersepsikan adanya perbedaan antara tuntutan situasi dan sumber daya (biologis, psikologis, dan sosial) yang ada pada diri seseorang (Depkes RI, 2006). Stres bisa memicu sistem saraf simpatik sehingga meningkatkan aktifitas jantung dan tekanan pembuluh darah. Peningkatan aktifitas saraf simpatis dapat meningkatkan tekanan darah secara intermitten (tidak menentu). Apabila stress berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan darah menetap tinggi (Shadine, 2010). Sehingga orang yang mudah stres berisiko terkena hipertensi, dan jika berkombinasi dengan faktor risiko lain seperti ateriosklerosis berat, penyakit jantung akan memicu dan membuiat risiko penderita stroke semakin berat. Stres meningkatkan risiko terkena stroke hampir dua kali lipat (Notoatmodjo, 2011).
Dalam penelitian Framingham dalam Yusida tahun 2001 bahwa bagi wanita berusia 45-64 tahun, sejumlah faktor psikososial seperti keadaan tegangan, ketidakcocokan perkawinan, tekanan ekonomi, stress harian, mobilitas pekerjaan,
dan kemarahan terpendam didapatkan bahwa hal tersebut berhubungan dengan peningkatan tekanan darah dan manifestasi klinik penyakit kardiovaskuler apapun (Depkes RI, 2006).
d. Kebiasaan Merokok
Zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel pembuluh darah arteri,dan mengakibatkan proses artereosklerosis, dan tekanan darah tinggi (Depkes RI, 2006). Nikotin dalam rokok menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah yang dapat mengakibatkan naiknya tekanan darah. Arteri juga mengalami penyempitan dan dinding pembuluh darah menjadi mudah membeku. Selain itu, merokok dapat menurukan kadar HDL dalam darah. Semua efek pada nikotin dari rokok dapat mempercepat proses aterosklerosis dan penyumbatan pembuluh darah, yang kemudian aterosklerosis adalah fakor risiko utama stroke. Orang yang memiliki kebiasaan merokok cenderung lebih berisiko dua sampai empat kali lebih besar untuk terkena penyakit jantung dan stroke dibandingkan orang yang tidak merokok (Stroke Association, 2014).
e. Konsumsi Alkohol Berlebihan
Konsumsi alkohol berlebihan pada laki-Iaki yaitu tidak lebih dari 2 gelas per hari dan pada wanita yaitu tidak lebih dari 1 gelas per hari (Depkes RI, 2006). Peningkatan konsumsi alkohol menaikkan tekanan darah sehingga memperbesar risiko stroke, baik stroke iskemik maupun hemoragik (Shadine, 2010). Konsumsi alkohol secara berlebihan juga dapat memengaruhi jumlah platelet sehingga
memengaruhi kekentalan dan penggumpalan darah yang menjurus ke pendarahan otak serta memperbesar risiko stroke iskemik (Harsono, 2003).
Edisi 18 November 2000 dari The New England Jurnal of Medicine, dilaporkan bahwa Physicians Health Study memantau 22.000 pria yang selama rata-rata 12 tahun mengkonsumsi alkohol satu kali sehari ternyata hasilnya menunjukkan adanya penurunan risiko stroke secara menyeluruh. Klaus Berger M.D dari Bringham and Woman’s Hospital di Boston beserta rekan-rekan juga menentukan bahwa manfaat ini masih terlihat pada konsumsi seminggu satu minuman. Walaupun demikian disiplin menggunakan manfaat alkohol dalam konsumsi cukup sulit dikendalikan dan efek samping alkohol justru jauh lebih berbahaya (Shadine, 2010).
f. Hiperlipidemia/Hiperkolesterolemia
Kelainan metabolisme lipid (Iemak) yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, kolesterol LDL dan/atau penurunan kadar kolesterol HDL dalam darah. Kolesterol merupakan faktor penting dalam terjadinya aterosklerosis yang mengakibatkan peninggian tahanan perifer pembuluh darah sehingga tekanan darah meningkat. Penyakit jantung, ateroskleosis, dan tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko terjadinya serangan stroke. Oleh karena itu pemeriksaaan kadar kolesterol sangat penting dilakukan, karena tingginya kadar kolesterol dalam darah merupakan faktor risiko untuk terjadinya stroke (Depkes RI, 2006; Shadine, 2010).
Berdasarkan data Laboratorium Klinik Prodia 2002-2005 menyatakan Batasan Kadar Lipid/Lemak dalam Darah (Depkes RI, 2006) :
Tabel 2.4 Batasan Kadar Lipid/Lemak dalam Darah
Komponen Lipid Batasan (mg/dl) Klasifikasi
< 200 Yang diinginkan
Kolesterol Total 200 – 239 Batas tinggi
>240 Tinggi Kolesterol LDL < 100 Optimal 100 – 129 Mendekati optimal 130 – 159 Batas tingi 160 – 189 Tinggi > 190 Sangat tinggi Kolesterol HDL < 40 Rendah > 60 Tinggi Trigliserida < 150 Normal 150 – 199 Batas tinggi 200 – 499 Tinggi > 500 Sangat tinggi
Sumber : Depkes RI, 2006
g. Konsumsi Asupan Garam
Batasan mengonsumsi garam perhari yaitu 2 gr perhari. Bila mengonsumsi garam diturunkan sampai 2gr sehari, tekanan darah diastolik dapat diturunkan sampai 5 mmHg (Lumbantonbing, 2013).
Berdasarkan penelitian Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Ekowati Rahajeng, hipertensi bisa dicegah dengan mengurangi konsumsi makanan asin bisa meningkatkan risiko hipertensi 4,35 kali dibandingkan orang yang tak mengonsumsi makanan asin. Pengurangan konsumsi garam 2,9 gram perhari bisa menekan 50% orang yang perlu obat anti hipertensi, 22% kematianakibat stroke, dan menurunkan 16% kematian akibat penyakit jantung koroner (National Geographic Indonesia).
h. Penggunaan kontrasepsi oral
Hal ini berkaitan dengan terjadinya fluktuasi dan perubahan hormonal yang memengaruhi seorang wanita dalam berbagai tahapan dalam kehidupannya.
Peneliti memerlihatkan bahwa kontrasepsi oral jenis lama dengan kandungan estrogen yang tinggi dapat memperbesar risiko stroke pada wanita. tetapi, kotrasepsi oral jenis baru dengan kandungan estrogen lebih rendah secara nyata tidak meningkatkan risiko stroke pada wanita (Shadine, 2010).
2.8 Upaya Pencegahan Hipertensi