• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEUKOPLAKIA a. Definisi

Dalam dokumen Makalah Gigi dan Mulut (Halaman 76-83)

Leukoplakia adalah lesi putih keratosis berupa bercak atau plak   pada mukosa mulut yang tidak dapat diangkat dari mukosa mulut secara

usapan atau kikisan 44. b. Gambar

Gambar 17.1 Leukoplakia c. Etiologi dan Patogenesis

Etiologi dari leukoplakia digolongkan menjadi 2, yaitu faktor  lokal dan faktor sistemik 45:

1) Faktor lokal terdiri dari tembakau, alkohol, iritasi mekanis dan kemis, reaksi elektrogalvanik dan kandidiasis. Penggunaan rokok  merupakan faktor risiko utama penyebab leukoplakia, karena unsur  resin dan tar di dalamnya mudah mengiritasi mukosa.

2) Faktor sistemik terdiri dari defisiensi vitamin A, vitamin B kompleks, sifilis tertier dan anemia siderofenik. Keadaan ini disertai dengan glossitis atrofik sehingga pasien-pasien ini mudah sekali terkena leukoplakia dan karsinoma mulut.

Perubahan patologis mukosa mulut menjadi leukoplakia terdiri dari dua tahap.Yaitu tahap praleukoplakia dan tahap leukoplakia. Pada tahap praleukoplakia mulai terbentuk warna plaque abu-abu tipis, bening, translusen, permukaannya halus dengan konsistensi lunak dan datar. Tahap leukoplakia ditandai dengan pelebaran lesi ke arah lateral dan membentuk keratin yang tebal sehingga warna menjadi lebih putih,

 berfisura dan permukaan kasar sehingga mudah membedakannya dengan mukosa sekitarnya 45.

d. Klasifikasi

Berdasarkan bentuk klinisnya menggolongkan leukoplakia dalam 3 jenis:

1) Homogenous leukoplakia (leukoplakia kompleks)

Suatu lesi setempat atau bercak putih yang luas, memperlihatkan suatu pola yang relatif konsisten, permukaan lesi berombak-ombak  dengan pola garis-garis halus, keriput atau papilomatous.

2)  Nodular leukoplakia (bintik-bintik)

Suatu lesi campuran merah dan putih, dimana nodul-nodul keratotik  yang kecil tersebar pada bercak-bercak atrofik (eritro plaqueik) dari mukosa. Dua pertiga dari kasus menunjukkan tanda-tanda displasia epitel atau karsinoma pada pemeriksaan histopatologik.

3) Verrucous leukoplakia

Lesi putih di mulut, dimana permukaannya terpecah oleh banyak  tonjolan seperti papila yang berkeratinisasi tebal, serta menghasilkan suatu lesi pada dorsum lidah.

e. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan melakukan anamnesis lengkap,  pemeriksaan klinis rutin yang teliti (bentuk morfologi lesi, warna,  predileksi tempat dan perubahan-perubahan serta perbedaan-perbedaan dengan jaringan sekitar) dan yang terakhir dengan pemeriksaan biopsi 46:

1) Anamnesis

Anamnesis meliputi usia, jenis kelamin, pekerjaan, kesehatan umum, kebiasaan sehari-hari misalnya merokok, minum alkohol, mengunyah sirih dan menyuntil tembakau. Dahulu, penderita leukoplakia didominasi oleh usia lanjut akibat penurunan daya tahan tubuh. Namun sekarang lebih didominasi oleh usia muda akibat konsumsi rokok. Frekuensi penderita pria dan wanita adalah seimbang karena sudah banyak wanita yang merokok.

2) Gambaran Klinis

Pada keadaan awal, lesi tidak terasa pada perabaan, agak bening dan  putih keruh. Selanjutnya  plaque meninggi dengan tipe yang  berkembang tidak teratur. Lesi berwarna putih kabur. Kemudian lesi menjadi tebal, berwarna putih, menunjukkan pengerasan, membentuk fisura-fisura dan terakhir adalah pembentukan ulser. Gambaran klinis leukoplakia bentuk homogen (kecuali yang di dasar  mulut) cenderung mempunyai risiko displasia rendah, namun nodular,  speckled  dan erosiva mempunyai risiko tinggi, khususnya  jika mempunyai displasia berat. Bentuk-bentuk lesi leukoplakia yang kemudian berubah menjadi ganas adalah bentuk verukosa dan  bentuk nodular.

3) Pemeriksaan histopatologi

Pemeriksaan morfologi sel atau jaringan pada sediaan mikroskop dengan pewarnaan rutin Hematoksilin-Eosin (HE).

4) Pemeriksaan sitologik eksfoliatif 

Digunakan untuk menegakkan diagnosis keganasan. Pemeriksaan sitologik eksfoliatif memiliki kelebihan yaitu dapat mendeteksi keadaan keganasan sedini mungkin dan merupakan kontrol pada false negatif biopsi serta menghindari biopsi yang tidak perlu. Faktor  yang mempengaruhi ketepatan pemeriksaan adalah lokasi dan jenis lesi, ketebalan lapisan keratin atau keadaan hiperkeratotik akan menyebabkan sel-sel yang mengalami diskeratosis sulit untuk ikut teridentifikasi karena tersembunyi.

f. Terapi

Perawatan dan  pencegahan yang paling pas adalah mengurangi atau menjauhi faktor-faktor penyebabnya, seperti berhenti merokok atau konsumsi alkohol. Ketika cara itu sudah ditempuh dan tidak efektif atau menunjukkan tanda-tanda awal kanker, kemungkinan untuk  menyembuhkannya dengan operasi atau laser untuk menghancurkan sel-sel kanker 46.

g. Temuan Kasus

1) Identitas Pasien

 Nama : Ny. W.S.

Usia : 48 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Bangsal : Melati 1 / 7H

 No RM : 01-19-25-99

Diagnosis : Klinis B20 dengan DIH

2) Anamnesis

a) Keluhan Utama : Mual muntah  b) Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang dengan keluhan muntah-muntah sejak ± 5 bulan ini. Kurang lebih 1 minggu ini pasien mual muntah setiap kali makan. Mual (+), Nyeri ulu hati (+), Panas (-), BB menurun (+), BAB cair (-), Batuk (+) 1 bulan. Pasien ± 1 minggu SMRS melakukan pemeriksaan VCT ke dokter dan didiagnosa HIV (+). c) Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Darah Tinggi : disangkal Riwayat Penyakit Gula : disangkal Riwayat Penyakit Jantung : disangkal

Riwayat TB : (+)

Riwayat Transfusi : (+)

d) Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat Sakit Serupa : disangkal Riwayat Darah Tinggi : disangkal Riwayat Penyakit Gula : disangkal Riwayat Penyakit Jantung : disangkal e) Riwayat Kebiasaan

Merokok : disangkal

Minum alkohol : disangkal

3) Pemeriksaan Fisik 

Kondisi umum : Compos mentis, gizi kesan kurang, lemas

Vital Sign : TD 120/80 mmHg, Nadi 90x/menit, RR  26x/menit, T 36,30C

Kulit : warna sawo matang, pucat (-), ikterik (-),  petechie (-), venectasi (-), spider nevi (-), turgor   baik (+)

Kepala : bentuk mesocephal, luka (-), rambut warna hitam

Mata : cekung (-/-), conjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (+/+), reflek cahaya (+/+), pupil isokor  (3mm/3mm), oedem palpebra (-/-)

Telinga : sekret (-/-), darah (-/-), nyeri tekan mastoid (-/-) Hidung : napas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), epistaksis

(-/-)

Mulut : bibir kering (+), sianosis (-), stomatitis (-), mukosa pucat (-), gusi berdarah (-), lidah kotor 

(-), lidah hiperemis (-), lidah tremor (-), leukoplakia (+).

Tenggorokan : tonsil hiperemis (-), faring hiperemis (-)

Leher : simetris, trachea di tengah, JVP tidak  meningkat, KGB servikal membesar (-), tiroid membesar (-), nyeri tekan (-)

Thorax : normochest, simetris, retraksi supraternal (-), spider nevi (-), pernapasan tipe thoraco-abdominal

Jantung : I = Ictus cordis tidak tampak  P = Ictus cordis tidak kuat angkat P = Batas jantung tidak melebar 

A = BJ I-II intensitas normal, reguler, bising (-) Paru : I = Dinding dada simetris kanan dan kiri

P = Pengembangan dinding dada kanan=kiri P = Sonor/sonor 

A = SDV (+/+), ST (-/-)

Abdomen : I = Dinding perut sejajar dengan dinding dada P = Hepar lien tidak teraba

P = Timpani

A = BU (+) normal

Ektremitas : oedem (-/-), akral dingin (-/-), luka (-/-),

4) Assessment - B20 - DIH - Hepatitis viral - Hepatitis autoimun - Leukoplakia - TB paru

5) Terapi

- Bedrest

- Diet nasi 1700 kkal - Infuse D5% 20 tpm - Ranitidin 1 amp/12 jam - Cotrimoxsazole 1x960 mg

18. ORAL SQUAMOUS CELL CARCINOMA

Dalam dokumen Makalah Gigi dan Mulut (Halaman 76-83)

Dokumen terkait