• Tidak ada hasil yang ditemukan

Leviathan Yang Menghibur

Dalam dokumen Kompilasi berita Media. oleh HH (Halaman 80-84)

posted by Kristo,OFM Opini Friday, January 14th, 2011 http://www.formaddantt.com/leviathan-yang-menghibur/36/

Animo pemerintah daerah (Pemda ) NTT terhadap tambang sangat besar. Pemda begitu optimis, tambang membawa berkah bagi jutaan rakyat NTT. Berbagai Peraturan daerah (Perda ) pun di rancang untuk memuluskan investasi pertambangan dan menarik minat investor untuk berinvestasi ke NTT. Pertanyaanya, benarkah tambang untuk rakyat? Hanya Menghibur Rakyat

Pola pembangunan yang mengandalkan modal besar atau investasi asing kerap disebut trickle-down-effect (efek-tetesan-ke-bawah). Prinsipnya adalah pemerintah tidak perlu repot-repot mengeluarkan budget untuk pembangunan infrastruktur publik karena hanya akan menyebabkan defisit anggaran dan mengganggu pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, pemerintah tidak perlu menagih pajak pada orang kaya, karena uang orang kaya berdampak pada tetesan ke bawah, melalui investasi. Investasi serentak akan menampung tenaga kerja dalam jumlah masif.

Model pembangunan trickle-down-effect terlihat pada obesesi pemda menarik masuk perusahaan-perusahaan tambang. Perusahaan-perusahaan ini siap mengelolah Blok Migas di blok Sabu dan Blok Rote. Mengelolah areal pertambangan biji besi dan emas di Sumba Barat dan Sumba Timur dan mengeksplorasi mangan di daratan Flores dengan lahan garapan cukup luas. Untuk itu, Pemda sibuk melakukan propaganda pro tambang dan membangun opini ke masyarakat bahwa tambang menyejahterakan rakyat. Opini publik terlihat dari beberapa penulis yang mewakili Pemda. Mereka mengupas sisi-sisi positif sektor pertambangan tanpa sebuah data yang terukur dan berilusi, ‚jika tambang di dikelola secara profesional akan bermanfaat bagi rakyat‛.

Mereka membandingkan keberhasilan tambang di beberapa belahan dunia, seperti tambang modern di kota Perth, Australia. Mereka lupa, tambang di Australia sudah terkanalisasi dan upah di perusahaan pertambangan itu rata-rata mencapai 69.000 dollar AS. Pemain tambang di Perth dikuasai raksasa pertambangan BHP Billiton, Rio Tinto, produsen Migas Chevron dan Woodside Petrolium. Meskipun demikian, pemerintah Australia tetap memiliki saham di perusahaan tambang, sehingga sistem regulasinya berjalan baik.

Membandingkan model pembangunan yang sukses, ideal, di negara lain untuk dicangkokan di NTT disebut Zlavoj Zizek (2004) sebagai structure of fantasy. Model tambang yang mereka angkat dari negara lain tentu hanyalah sebuah ketakjuban memandang sebuah model tambang. Apa yang mereka fantasikan belum tentu sukses jika diterapkan di NTT. Seolah-olah semua negara atau daerah mengalami problem yang sama. Model pembangunan sektor pertambangan di Perth, belum tentu cocok jika diterapkan di NTT. Kita memang tidak kekurangan konsep di atas kertas. Yang kurang adalah kejujuran

81 dan kebersihan nurani. Akibatnya pelaksanaan investasi tambang menjadi masalah. Dari segi regulasi saja, disparitasnya sangat jauh. Mayoritas perusahaan tambang di Indonesia, tak terkecuali di NTT samasekali belum menjalankan amanat UU Minerba No.4 tahun 2009. Padahal dalam UU itu mewajibkan setiap KP/IUP melakukan reklamasi, sanksi administrasi bagi pelanggar, pelibatan masyarakat lingkar tambang dan sederetnya.

Pemda boleh saja berkilah, tambang memiliki dampak positif bagi NTT, karena pemerintah akan menerima royalty dari pendapatan perusahaan. Merujuk ke aturan umum, ‚bagian pemerintah daerah hanya sekitar 7,5 persen dari royalti yang diserahkan perusahaan pertambangan, sedangkan sisanya dinikmati pemerintah pusat. Pemda lupa membuat kalkulasi bahwa secara akuntasi, rakyat sebenarnya lebih banyak menanggung cost daripada benefit.

Dengan itu, janji-janji kesejahteraan rakyat dari tambang tak lebih sebagai leviathan yang menghibur. Istilah leviathan adalah percikan filosofis Thomas Hobbbes. Hobbes mengatakan, negara sama dengan leviathan atau monster raksasa yang menakutkan. Dalam Leviathan ia mengatakan, secara umum kekuasaan manusia adalah sari pati segala sarana yang dipakainya untuk meraih tujuan-tujuan di masa depan. Maka, hakikat kekuasan seperti rasa lapar dan saling memangsa-satu sama (homo homoni lupus ). Namun dibalik individu alamiah ini bertenggerlah kepentingan-kepentingan individu berjuis yang ingin mengejar kepentingan diri. Individu-individu ini bersembunyi dibalik keputusan pemerintah dan bahkan hadir dalam wajah penulis yang sangat antusias dengan tambang dan memberi gambaran ideal tentang tambang rakyat.

Menurut mereka tambang rakyat perlu dibenahi mulai dari sisi manajemennya. Beberapa penulis di Koran ini dan Wakil Gubernur NTT menganjurkan agar masyarakat lingkar tambang menjadi pemagang saham (shareholder). Manajemen seperti itu khas yang anjuran para manajer perusahaan dan penggagas neoliberalisme yang sekarang mendapat hujatan banyak pihak. Bukankan manajemen tambang yang demikian sebagai upaya privatisasi perusahaan-perusahaan pada tingkat lokal? Mereka lupa membangun manajemen tambang seperti ini hanya memperparah masalah korupsi di NTT. Investor kerap memiliki strategi state-capture (kiat menyandra aparat publik ). Anjuran mereka tentu tidak sepenuhnya salah, namun pembagian saham perushaan tambang ke masyarakat di tengah keroposnya akuntabilitas dan transparansi badan publik menimbulkan monopoli. Maka, menerapkan gagasan neoliberalisme tanpa adanya jaring pengaman sosial, seperti pendidikan hanya membuat rakyat tetap menderita. Soalnya dibalik proyek itu terbersit proyek antropologis, manusia harus kompetitif, produktif dan rakyat NTT harus menjadi entrepreneurship (wirausahawan).

Akibat langsung yang terlihat dengan mata telanjang bisa kita saksikan pada rakyat sekitar lingkar tambang. Rakyat NTT yang tidak berpendidikan dan tidak memahami dunia teknis pertambangan harus menjadi buruh kasar dengan imbalan upah rata-rata Rp 25.000 (pekerja perempuan) dan Rp 30.000 (pria). Semua itu sudah termasuk transportasi, makananan ataupun urusan kesehatan lainnya. Bukankah dengan cara seperti itu, perusahaan-perusahaan itu akan mendulang benefit besar, sementara cost harus ditanggung mahal oleh para buruh.

82 Dengan pertimbangan itu, saya mengajak publik agar kritis menanggapi berbagai wacana pro-tambang di media. Lihat saja lagak para penulis pro-tambang yang sok menjadi dokter. Dokter yang dapat memberi obat penyembuhan dan memberikan pertolongan dalam bentuk sikap bersahabat. Seolah-olah rakyat bisa dimanipulasi dengan janji kesejahteraan dan menyulap ekonomi NTT menjadi lebih sejahtera. Lebih konyol lagi, para penulis pro-tambang dan pemerintah menghubungkan begitu saja secara eksak bahwa investasi tambang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekian persen.

Menurut saya, mereka bagaikan dokter yang hanya memberi obat penenang, karena memang rakyat sedang putus asa akibat beban hidup terlalu tinggi. Mereka lupa, perusahaan-perusahaan tambang rentan berprilaku spekulatif dan ponzi. Investor berwatak ponzi adalah investor yang mengandalkan pinjaman tanpa equitas memadai untuk membayar utang. Risikonya, barangkali untuk jangka pendek belum terasa, namun dalam jangka panjang bukan tidak mungkin, jika sesekali pemodal raksasa itu mengalami sakit parah karena beban utang, justru yang terkena getahnya adalah perekonomian NTT. Banyak fakta telah berbicara kepada kita. Pada saat krisis menerjang, perusahaan bermodal besar itu justru banyak memangkas karyawan dalam jumlah besar. Justru yang menyelamatkan ekonomi kita secara nasional adalah sektor UMKM. Secara nasional, populasi UMKM mencapai 50,7 juta atau 99,9% dari total usaha di Indonesia. Jumlah penyerapan tenaga kerja UMKM mencapai 91,8 juta atau 97,3% dari PDB. Pada skala lokal NTT, pertumbuhan ekonomi pada medio 2009 yang mencapai 4,8 persen itu justru ditopang UMKM (sektor pertanian, pariwisata, kehutanan dan koperasi)? Pemerintah memang mengklaim sektor UMKM sudah ditopang sistem perbankan yang sehat, namun tetap saja ketimpangan terus terjadi. Buktinya, meskipun jasa perbankan, seperti BRI, Bank NTT, Bank BNI, Bank Mandiri dan BPR Lugas Ganda, telah beroperasi di sana, namun rakyat tetap sulit mendapat akses kredit.

Minimnya akses kredit karena dibatasi oleh ketiadaan agunan. Bank umumnya tidak mau memberikan kredit untuk modal awal usaha, tetapi hanya untuk usaha yang telah berjalan. Usaha yang dimaksud adalah kegiatan usaha non-pertanian. Kegiatan usaha bidang pertanian dianggap sebagai usaha ekonomi yang kelayakan kreditnya sangat rendah, sehingga sangat sulit bagi petani untuk mendapatkan kredit untuk budidaya pertanian atau usaha lainnya. Kondisi itu akan diperparah dengan munculnya sektor pertambangan. Dengan adanya investasi tambang di NTT, UMKM yang praktis memberi kontribusi ke pertumbuhan ekonomi akan ditinggal pergi sektor perbankan. Akibatnya, pertumbuhan ekspor mandek, budaya saving melemah dan income masyarakat terus merosot. Lantas bagaimana seharusnya membangun NTT?

Ekonomi Berbasis Kawasan

Pemerintah diharapkan dapat merancang model pembangunan solutif yang mampu merangkum kondisi lokal. Alasannya konteks sosial, politik dan budaya sangat dekat dengan ekonomi riil, seperti pertanian, perikanan atau peternakan. Sektor-sektor ini justru memberi peluang bagi penyerapan tenaga kerja dan secara perlahan dapat meredam gelombang urbanisasi besar-besaran warga NTT ke kota-kota besar atau ke negara lain, seperti Malyasia. Pembangunan sektor riil perlu juga memperhitungkan potensi setiap

83 daerah. Maka pembangunan ekonomi berbasis kawasan menjadi penting, karena daerah di NTT memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Manggarai misalnya, sebagai salah satu daerah sentra pertanian di pulau bunga. Tetapi area persawahan di sana hanya dapat panen dua kali setahun, inipun seringkali mengalami gagal panen. Bagi kebanyakan petani, hasil produksi padi sering tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai pada musim panen berikutnya. Mereka harus membeli kekurangan bahan pangan tersebut dari hasil penjualan tanaman perkebunan atau ternak babi dan ayam. Selain untuk membeli bahan pangan, hasil tanaman perkebunan biasanya juga digunakan untuk pembiayaan lainnya, seperti pendidikan anak dan pembangunan rumah, serta untuk biaya-biaya adat. Untuk mengisi kekurangan itu, pemda seharusnya memfasilitas tanah, irigasi untuk proses pertanian rakyat.

Hal yang sama bisa diterapkan di daerah-daerah lain yang memiliki potensi untuk mengembangkan peternakan atau pariwisata. Lalu bagaimana carannya? Sisihkan Rp 10-15 miliar APBD per tahun untuk proyek percontohan, pertanian, peternakan atau perikanan. Berbuatlah dari hal-hal kecil membangun perekonomian rakyat dan bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan nasib rakyat NTT akan berubah. (Ferdy Hasiman)

84

Surat Terbuka Kepada Pemerintah Kabupaten

Dalam dokumen Kompilasi berita Media. oleh HH (Halaman 80-84)

Dokumen terkait