Bagan IV : Interaksi Sosial Informan IV
2) Lingkungan Masyarakat
Respon yang diberikan masyarakat disekitar tempat tinggal, memandang bahwa anak jalanan yang bekerja sebagai pengamen merupakan anak yang nakal, brutal yang hanya menjadi sampah sosial dimasyarakat dan mengganggu lingkungan sekitar yang ditempatinya (Informan 1,2,3,4,5). Dari pandangan masyarakat tersebut para pengamen jalanan tidak begitu peduli dan memperhatikan, mereka masih bersikap seperti biasa, mulai belajar untuk beradaptasi jika bertemu. Bahkan tidak sedikit dari pengamen jalanan sering berkomunikasi dan ngobrol. Hal ini terjadi karena frekuensi bertemu kurang bahkan jarang.
Hasil yang dapat disimpulkan bahwa keterampilan berinteraksi sosial yang dilakukan anak jalanan yang bekerja sebagai pengamen, baik itu interaksi yang dilakukan di lingkungan keluarga, tempat kerja, masyarakat berada pada tahap komunikasi (Informan 1,2 dan 4). Tahap kontak sosial(Informan 4dan5) serta Tahap keterlibatan (Informan3). Walaupun dalam lingkungan terminal Tirtonadi Surakarta tempat
124
informan bekerja interaksi sosial berada pada Tahap keterlibatan (Informan 1,2,3,4,5).
E. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi maka dilakukan analisis data, pada penelitian ini dapat diketahui tentang interaksi sosial pada pengamen di sekitar terminal Tirtonadi Surakarta. Informan dalam penelitian yang diambil adalah laki –laki berusia lebih dari 18 tahun sudah berada di jalanan minimal 5 tahun dan bekerja sebagai pengamen jalanan. Hal ini sesuai dengan Fitriani (2003) mendefinisikan anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah dan atau berkeliaran dijalanan dengan cara mereka sendiri bekerja sebagai pengamen jalanan, penyemir sepatu, penjual Koran, pengemis, atau bahkan melacur. Waktu yang dihabiskan dijalanan lebih dari 4 jam, bekerja untuk bertahan dan memenuhi kebutuhan hidup, mereka ada yang masih pulang kerumah namun ada juga yang memilih tidak pulang kerumah dan bahkan tidur dikost. Definisi dan kriteria PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial), Dinas Sosial mnyebutkan bahwa anak jalanan adalah anak yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari nafkah dan atau berkeliaran di jalanan maupun di tempat-tempat umum. Anak jalanan adalah sebuah istilah umum yang mengacu pada anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi di jalanan, salah satunya bekerja dengan mengemis dan menjadi pengamen, namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya.
Faktor eksternal yang menyebabkan menjadi pengamen adalah dari psikologis, ekonomi dan lingkungan. Sedangkan faktor internal dari pengamen adalah kemadirian untuk dapat memunuhi kebutuhan tanpa bergantung kepada orang lain. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Artidjo Alkastar (dalam Sudarsono, 1995) bahwa menyebabkan menuju kearah kehidupan jalanan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal yaitu faktor Internal meliputi : kemalasan, tidak mau bekerja keras, tidak kuat mental, cacat fisik dan psikis, adanya kemandirian hidup untuk tidak bergantung kepada orang lain dan faktor eksternal meliputi : faktor ekonomi, faktor geografis, faktor sosial, faktor pendidikan, faktor psikologis, faktor kultural, faktor lingkungan, dan faktor agama.
Para pengamen jalanan melakukan interaksi sosial dengan orang disekitar dengan baik, berawal kejalanan dari ajakan teman. Hal ini sesuai dengan Festinger (dalam Sugiarto, 2004) interaksi sosial merupakan proses saling mempengaruhi dan saling tergantung yang dapat ditimbulkan oleh adanya kebutuhan untuk menilai dirinya sendiri (selft-evalution) dan kebutuhan ini dipengaruhi oleh adanya pembandingan diri dengan orang lain.
Setelah berada dijalanan, maka banyak perilaku, penampilan dari teman yang ditiru, seperti mengenal obat-obatan terlarang, menindik dan menatto salah satu bagian tubuh informan. Menurut Dayaksini dan Hudaniah (2003) imitasi dapat mendorong individu atau kelompok untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik. Contoh dari imitasi eksternal, apabila seseorang telah dididik untuk mengikuti suatu tradisi tertentu yang melingkupi segala situasi sosial maka
126
orang tersebut akan memiliki suatu kerangka tingkah laku dan sikap moral yang dapat menjadi pokok pangkal guna memperluas perkembangan perilaku yang positif. Sedangkan dampak negatif dari pola imitasi dalam interaksi sosial apabila perilaku yang diimitasi adalah perilaku yang salah, baik secara moral maupun hukum, sehingga diperlukan upaya yang kuat untuk menolaknya. Imitasi merupakan salah satu faktor dari interaksi sosial.
Saling menghargai dan menghormati sesama pengamen dilakukan kepada semua orang. Perasaan ikut memiliki dan merasakan jika dalam kesedihan sudah biasa dilakukan pengamen jalanan. Hal ini sesuai dengan faktor interaksi sosial dari simpati yaitu perasaan rasa tertarik kepada orang lain, maka simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, melainkan atas dasar perasaan emosi. Dalam simpati orang merasa tertarik kepada orang lain yang seakan-akan berlangsung dengan sendirinya, apa sebabnya merasa tertarik sering tidak dapat memberikan penjelasan lebih lanjut. Disamping individu mempunyai kecenderungan tertarik pada orang lain, individu juga mempunyai kecenderungan untuk menolak orang lain yang sering disebut dengan antipati. Jadi jika simpati bersifat positif, maka antipati bersifat negatif.
Interaksi sosial yang terjalin dengan keluarga tidak begitu dekat, penyebab yang terjadi adalah karena waktu bertemu yang dilakukan jarang, status dan masalah yang terjadi didalam keluarga serta kondisi keuangan ekonomi yang mengharuskan untuk bekerja berada dijalanan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Walgito (2007) mengungkapkan untuk melihat baik buruknya interaksi dari setiap
individu, pada dasarnya dapat dilihat dari berbagai macam ukuran, diantaranya adalah : Frekuensi Interaksi, Intensitas Interaksi dan Popularitas Interaksi.
Syarat interaksi sosial yang terjadi pada pengamen disekitar terminal tirtonadi surakarta berada pada tahap kontak sosial, komunikasi dan keterlibatan. Kontak sosial berarti para pengamen mampu mengadakan kontak perseptual dengan orang lain,pada tahap ini setiap individu dapat melanjutkan interaksi atau berhenti. Komunikasi pada pengamen baik dilingkungan tempat bekerja dan didalam keluarga, dan pada tahap keterlibatan para pengamen mampu mengadakan hubungan penjajagan lebih lanjut. Hal ini sesuai dengan pernyataan Abdulsyani (2002) mengungkapkan bahwa interaksi sosial dapat terjadi jika telah memenuhi tiga tahapan yaitu : kontak sosial, komunikasi dan keterlibatan dan juga DeVito (dalam Walgito, 2007) mengemukakan seseorang berinteaksi haruslah memenuhi syarat dan tahapan : kontak, keterlibatan, dan keintiman.
128 BAB V PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan dari penelitian yang telah dilakukan pada interaksi sosial pada pengamen disekitar terminal tirtonadi Surakarta dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Faktor-faktor yang menyebabkan adanya pengamen disekitar terminal Tirtonadi Surakarta adalah faktor internal yaitu keinginan untuk mencukupi kebutuhan hidup secara mandiri dan faktor eksternal yaitu keadaan kondisi keluarga dan keadaan ekonomi keluarga.
2. Interaksi sosial yang terjadi pada pengamen disekitar terminal tirtonadi Surakarta di lingkungan keluarga terhambat pada komunikasi, yaitu intensitas bertemu kurang bahkan jarang,begitu juga dilingkungan masyarakat berada pada tahap kontak sosial, dan pada lingkungan tempat bekerja berada pada tahap keterlibatan.
B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan tersebut diatas maka saran penulis yang diharapkan dapat memberi manfaat adalah :
1. Pengamen di sekitar Terminal Tirtonadi Surakarta serta individu lain yang memiliki karakteristik yang hampir sama dengan informan penelitian agar dapat interaksi sosial dengan baik dengan lingkungannya sehingga interaksi sosial yang muncul adalah yang positif.
2. Masyarakat luas, khususnya para orang tua pengamen agar memberikan kasih sayang, ketentraman, penerimaan diri bahwa anak jalanan tidak hanya sebagai tulang punggung keluarga atau pencari nafkah utama sehingga orang tua dapat memberikan hak yang sama seperti anak-anak lainnya.
3. Masyarakat di sekitar Terminal Tirtonadi Surakarta tentang pengamen, sehingga pengamen merasa nyaman dan dilindungi keberadaanya.
4. Peneliti selanjutnya, diharapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dan acuan untuk mengungkap keragaman permasalahan dan pengalaman tentang berpikir positif yang belum tergali sehingga dapat menjadi rujukan dalam melakukan penelitian selanjutnya.
130