BAB I PENDAHULUAN
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian adalah berfokus perihal implementasi komunikasi interpersonal pegawai dalam melayani pemustaka pada koleksi layanan umum Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA 2.1 Komunikasi Interpersonal
Para pakar menyebutkan komunikasi interpersonal dengan istilah yang berbeda-beda, yakni ada yang menyebutkan dengan istilah komunikasi antarpribadi dan ada juga yang menyebutkan dengan istilah komunikasi antarpersonal. Menurut Beebe &
Redmond (2002) yang dikutip oleh Alo Liliweli dalam buku komunikasi antarpersonal (2015:27) bahwa:
Komunikasi antarpersonal adalah bentuk khas dari komunikasi manusia, yang tidak hanya mendefenisikan komunikasi yang terjadi oleh sejumlah orang tetapi juga berinteraksi dengan seseorang, melainkan waktu Anda memperlakukan orang sebagai individu yang istimewa.
Selain itu Liliweri, Alo (2015:175) menyatakan bahwa “komunikasi antarpersonal yakni proses komunikasi berupa bertukar ide, keyakinan dan nilai-nilai yang dilakukan oleh tiga orang”.
Mulyana, Dedy (2000:81) mendefenisikan bahwa:
Komunikasi antar-pribadi (interpersonal communication) sebagai komunikasi langsung yakni pesertanya saling pandang, sehingga dapat dipahami reaksi, baik berupa komunikasi verbal maupun komunikasi non-verbal oleh setiap peserta yang terlibat”
Dari berbagai gambaran komunikasi interpersonal secara defenitif, maka diinterpretasikan komunikasi yang pesertanya secara bergantian menjadi komunikan dan komunikator. dan memungkinkan para peserta dapat menerima reaksi verbal dan nonverbal disebut komunikasi interpersonal. Kualitas komunikasi interpersonal akan sangat bergantung dengan kejelasan dan kedekatan hubungan yang terjalin diantara peserta komunikasi tersebut (yakni komunikan dan komunikator). Sebagai contoh:
komunikasi interpersonal yang dilakukan seseorang dengan anggota keluarganya tentu
akan berbeda dengan komunikasi yang dilakukannya dengan orang tidak mmiliki kedekataan (impresional).
2.1.1 Tujuan Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal dilakukan tentu adanya tujuan yang ingin diraih dan tujuan komuikasi interpersonal pun beranekaragam. Menurut Liliweri, Alo (2015:88) bahwa:
Komunikasi interpersonal memberkan isyarat dalam bentuk empat tujuan yakni Saya ingin dipahami orang lain, saya mampu memahami orang lain, saya ingin dapat diterima orang lain, dan saya mendapatkan dan mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan orang lain.
Selain itu Aw, Suranto dalam buku Komunikasi Antarpribadi: Tinjauan Psikologi (2011:19) menjelaskan bahwa:
Tujuan komunikasi interpersonal itu bermacam-macam, yakni mengungkapkan perhatian kepada orang lain, menemukan diri sendiri, menemukan dunia luar, membangun dan memelihara hubungan yang harmonis, mempengaruhi sikap dan tingkah laku, mencari kesenangan atau sekedar tingkah laku, mencari kesenangan atau hanya menghabiskan waktu, menghilangkan kerugian akibat salah komunikasi, memberikan konseling
Menurut Devito, Joseph A (1995:21) menyatakan bahwa:
Tujuan dari komunikasi antarpribadi adalah untuk pembelajaran (untuk memperoleh pengetahuan tentang diri sendiri, orang lain dan dunia; untuk memperoleh keterampilan), untuk berhubungan (untuk membangun dan memelihara hubungan antarpribadi), untuk mempengaruhi (untuk mengkontrol, memanipulasi), untuk bermain (untuk melarikan diri dari pekerjaan, untuk bersahabat dengan diri sendiri), untuk membantu (untuk melayani kebutuhan orang lain, untuk menghibur).
Berlandaskan penjelasan tersebut, maka diinterpretasikan pada dasarnya tujuan komunikasi interpersonal yakni mengerti diri sendiri dan orang lain, yang nantinya akan
menyokong tercapainya tujuan-tujuan bersama dan terciptanya harmonisasi dan ikatan yang kuat dalam hubungan.
2.1.2 Hambatan Dalam Komunikasi Interpersonal
Hal yang wajib dimiliki setiap orang yakni kemampuan dalam berkomunikasi interpersonal. Namun pada praktiknya, sering kali ketidaksempurnaan komunikasi interpersonal terjadi karena adanya hambatan. Menurut Eisenberg (2010) yang dikutip oleh Alo Liliweri (2015:459) bahwa “ada empat jenis hambatan komunikasi efektif yakni hambatan proses, hambatan fisik, hambatan sematik dan hambatan psikologis”.
Selain itu, menurut Congara (2000: 145-149) yang dikutip oleh Deviana Almira (2019:17) menyatakan bahwa “inhibisi komunikasi terdiri tujuh macam yakni:
inhibisi dalam teknis, semantik, psikologis, fisik, status, kerangka berpikir dan budaya”.
Dari pernyataan tersebut, maka dapat dipahami bahwa hambatan yang membuat komunikasi interpersonal menjadi tidak efisien yakni ketidakmampuan komunikan dan komunikator, seperti ketidakmampuan dalam mengungkapkan yang mereka inginkan, ketidakmampuan untuk lebih banyak mendengar daripada banyak berbicara, dan kemampuan untuk menginterpretasikan pesan dengan baik, serta ketidakmampuan mengelola persepsi dan perspektif sosial.
2.1.3 Efektivitas Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal akan memberikan banyak manfaat bagi komunikan dan komunikator jika dilakukan dengan baik. Liliweri, Alo (2015:457-458) menyatakan:
Komunikasi antarpersonal yang kurang efektif yakni jika semua orang yang terlibat dalam komunikasi antarpersonal namun tidak mempunyai kedudukan yang sama sebagai seorang pembicara dan pendengar. Komunikasi antarpersonal yang efektif dimulai dengan memberikan perhatian penuh
“thoughtfulness” kepada orang lain.
Dari pendapat diatas, diinterpretasikan efektivitas komunikasi interpersonal terjadi jika pesertanya secara bergantian menjadi komunikator/komunikan. Dimana peserta komunikasi ketika menjadi komunikan dan komunikator akan memiliki tugas berbeda. Ketika menjadi komunikator, maka dituntut untuk mampu menyampaikan pesan sesuai dengan kemampuan komunikan menangkap makna pesan tersebut dan mempertimbangkan dengan baik bahwa pesan yang disampaikan tersebut tidak akan melukai perasaan komunikan.
Jadi komunikator harus memperhatikan juga persepsi komunikan bukan hanya persepsi komunikator dalam menyampaikan pesan. Sedangkan komunikan dituntut untuk mampu memberikan perhatian penuh pada pesan yang disampaikan komunikator dan mampu menindaklanjuti pesan tersebut dalam bentuk memberikan ekspresi balasan yang tepat kepada komunikator.
Liliweri, Alo (2015:463-465) menyatakan “jika komunikasi interperseonal efektif, maka akan diraih beberapa keuntungan yakni membangun relasi dengan orang lain, kepuasan lahir dan batin, mengurangi stres, saling memahami, menjalin persahabatan dan keakraban, hemat waktu, dan keberhasilan karier”.
Karena begitu esensialnya komunikasi interpersonal yang efektif, maka faktor-faktor yang memungkinkan memberikan pengaruh terhadap keefektifitan komunikasi interpersonal perlu dipahami. Menurut Lunadi (1994:85) yang dikutip oleh Mulyanto Hartono (2016:554) bahwa “faktor yang menyokong keberhasilan komunikasi
interpersonal yakni citra diri (self image) dan pihak lain (the image of the others), lingkungan fisik, lingkungan sosial, kondisi, dan bahasa tertentu”.
Oleh karena itu, untuk dapat tercapainya efektivitas komunikasi interpersonal maka dibutuhkan juga pemahaman perihal karakteristik komunikasi interpersonal yang efektif. Menurut Devito, Joseph A (2011:285) bahwa: “jika ditinjau dari pendekatan humanistis maka ada lima karakteristik komunikasi interpersonal yang efektif yakni keterbukaan (openness), empati (emphaty), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality”.
Sudut pandang humanistis yakni meliputi keterbukaan (openness), empaati (emphaty), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan
kesetaraan (equality) yang digunakan sebagai acuan untuk melihat implementasi komunikasi interpersonal pegawai dalam melayani pemustaka.
2.1.3.1 Keterbukaan (Openness)
Komunikasi interpersonal yang efektif dapat terjadi jika adanya keterbukaan (openness). Menurut Devito, Joseph A (2011:286) bahwa:
Keterbukaan dapat diartikan yakni pertama, mengacu pada keterbukaan dengan lawan bicaranya, namun tetap menjaga privasinya seperti riwayat hidupnya.
Kedua, mengacu pada kesedian komunikator bereaksi secara terbuka, Ketiga, bertanggungjawab atas perasaan dan pikiran.
Raudah, Hidayat dan Triana Santi (2018:264) menyatakan bahwa “keterbukaan berarti sikap menerima masukan dari orang lain, dan membagikan informasi penting kepada orang lain”.
Berlandaskan uraian tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa komunikasi interpersonal dengan karakteristik keterbukaan dapat tercipta karena peserta komunikasi
tersebut, memiliki sikap membuka diri (dalam arti mau membangun komunikasi dan terbuka terhadap lawan bicaranya, namun tetap memiliki batasan-batasan perihal yang dikomunikasikan, seperti tidak membukakan riwayat hidup), memiliki sikap bertanggungjawab atas perkataan yang telah diucapkan, dan adanya kerelaan untuk mau menerima saran maupun kritikan, serta berkenan untuk menyampaikan dan menyebarluaskan informasi penting yang diketahui.
2.1.3.2 Empati (Emphaty)
Empati juga ikut ambil andil dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Menurut Rakhmat, Jalaluddin dalam buku Psikologi Komunikasi (2015:132) bahwa “empati membuat kita mampu memposisikan diri kita diposisi orang lain, sehingga membuat kita masuk kedalam pengalaman orang lain secara emosional dan intelektual”.
Menurut Normasari, Mei (2016:18) bahwa “empati berupa kemampuan untuk memahami dan merasakan yang dialami orang lain, memahami suatu persoalan dengan perspektif yang sama dengan orang lain”
Selain itu, Raudah, Hildayat dan Triana Santi (2018:265) menjelaskan bahwa
“orang berempati mampu memahami pengalaman, perasaan, sikap, harapan dan keinginan mereka untuk masa mendatang”.
Berlandaskan penjelasan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi interpersonal dengan karakteristik empati memungkinkan peserta yang terlibat dalam komunikasi (baik itu komunikan dan komunikator) saling memiliki kedekatan emosional dan intelektual. Sehingga komunikan dan komunikator dapat memahami
suatu permasalahan dari perspektif yang sama, merasakan perasaan yang sama, dan memahami harapan dan keinginan masing-masing yang tentu berbeda antara keinginan komunikan dan komunikator.
2.1.3.3 Sikap Mendukung (supportiveness)
Efektivitas komunikasi interpersonal dapat terwujud karena adanya karakteristik sikap mendukung antara komunikan dan komunikator. Rakhmat, Jalaluddin (2015:133) menjelaskan:
Sikap supportif adalah pengurangan sikap defensif atau sikap tertutup dalam berkomunikasi. Secara hakiki komunikasi interpersonal dengan sikap defensif akan gagal, karena orang defensif lebih banyak melindungi diri dari bahaya sewaktu berkomunikasi dibandingkan menginterpretasikan pesan orang lain.
Selain itu, Devito, Joseph A (2011:288) menjelaskan bahwa “komunikasi yang terbuka dan empatik akan tersokong dengan suasana seperti memberikan sikap deskriptif, spontan, dan provisional”.
Menurut Wiemann, John (1977) yang dikutip oleh Ali Nurdin dalam buku Komunikasi Magis: Fenomena Dukun Di Pedesaan (2015:28) bahwa “bersikap deskriptif bukan evaluatif berarti mempersepsikan komunikasi sebagai permintaan informasi atau uraian tertentu, bukan komunikasi bernada menilai. Spontan bukan strategik berarti tidak menyembunyikan perasaannya untuk merangkai strategi tertentu”.
Jadi, dapat ditafsirkan komunikasi interpersonal dengan karakteristik sikap mendukung (supportiveness) adalah dalam berkomunikasi komunikan dan komunikator sepakat untuk memberikan respon/tindakan dan pesan yang menunjukan dukungan satu sama lain, dan menghindari bersikap defensif.
2.1.3.4 Sikap Positif (Positiveness)
Efektivitas komunikasi antarpribadi juga dipengaruhi oleh perilaku dan sikap yang positif yang diberikan/ditunjukkan oleh peserta komunikasi (yakni komunikan dan komunikator). Menurut Devito, Joseph A (2011:289), “mengkomunikasikan sikap positif dalam komunikasi antar pribadi dalam dua cara yakni mempraktikkan sikap positif dan mendorong teman kita bereaksi secara psoitif pula”.
Menurut Normasari, Mei (2016; 20) bahwa:
Sikap positif diwujudkan dalam sikap (berarti pihak yang terlibat dalam komunikasi interpersonal harus memiliki perasaan dan pikiran positif bukan prasangka dan curiga) dan perilaku (berarti tindakan yang dipilih relevan dengan tujuan komunikasi interpersonal yakni untuk melakukan terjalinnya kerjasama.
Dari penjabaran tersebut, diinterpretasikan komunikasi interpersonal karakteristik sikap positif (positiveness) maksudnya ketika berkomunikasi maka tunjukkanlah kepribadian yang positif, contoh: menghindari memotong pembicaraan dan berfokus pada saat lawan bicara menyampaikan pesan; berpikiran positif, contoh:
dengan tidak menaruh curiga berlebihan, seperti mencurigai pesan yang disampaikannya sebagai hal yang berbau kebohongan; memiliki suatu komitmen untuk mau menjalin hubungan kerjasama dengan berbagai pihak.
2.1.3.5 Kesetaraan (Equality)
Terkadang tanpa disadari dalam melakukan komunikasi interpersonal sering terjadi ketidaksetaraan. Menurut Carl Rogers yang dikutip oleh Devito, Joseph A (2011:291) bahwa “kesetaraan menuntut kita untuk mampu memberikan penghargaan yang positif tanpa syarat kepada siapa saja”.
Menurut Pradipta, Caesar Vioniken (2012) bahwa “kesetaraan ialah adanya pengakuan yang tersembunyi diantara kedua belah pihak untuk menghargai, berdampak, dan memberikan kontribusi positif. Kesetaraan menuntut pemberian penghargaan positif dan tanpa syarat kepada siapa saja”.
Lestari, Ema Puji (2015:34) menyatakan bahwa:
Kesamaan merupakan proses penerimaan dan persetujuan akan pihak luar yang menjadi lawan bicara. Dimana dengan kepahaman bahwa semua individu bernilai dan penting. Komunikasi interpersonal dengan kesetaraan tergambarkan melalui perputaran kedudukan sebagai komunikan dan komunikator.
Jadi dapat diinterpretasikan maksud dari komunikasi interpersonal karakteritik kesetaraan ialah dalam proses berkomunikasi interpersonal perlu adanya pengakuan diantara komunikan dan komunikator bahwa mereka sama-sama memiliki kedudukan dan nilai yang sama. Sehingga komunikasi interpersonal dapat berjalan dua arah, dimana yang menjadi komunikan ataupun komunikator secara bergantian. Dengan kesetaraan juga, komunikasi interpersonal dapat terjadi dengan suasana komunikasi yang nyaman, akrab dan tidak akan memaksakan kehendak salah satu pihak.
2.2 Keahlian Pustakawan Dalam Melakukan Komunikasi Interpersonal
Keahlian pustakawan dalam melakukan komunikasi interpersonal merupakan suatu keahlian yang penting untuk dimiliki pegawai perpustakaan, sehingga pegawai dapat berhasil menjalankan tugasnya. Sebab dalam kegiatan pelayanan perpustakaan, pegawailah yang berhadapan langsung dengan pemustaka. Jadi, dapat dikatakan bahwa pegawailah yang menjadi ujung tombak pelayanan perpustakaan.
Simahate, Tessa (2013:23) juga menyatakan bahwa “komunikasi interpersonal menjadi suatu pedoman bagi para pegawai perpustakaan untuk memiliki keterampilan dalam melayani pemustaka setiap harinya, dimana setiap pemustaka itu unik”.
DeVito (2011:285) menyatakan bahwa “keterampilan komunikasi interpersonal meliputi karaktersitik keterbukaan (openness), empati (emphaty), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality)”. Jika diimplementasikan di konteks perpustakaan, dapat dipahami sebagai berikut:
1. Keterbukaan (Openness)
Karakteristik keterbukaan dalam komunikasi interpersonal sangat perlu diimplementasikan. Menurut Pradipta, Caesar Vioniken (2012) bahwa “komunikasi interpersonal dengan keterbukaan dalam konteks perpustakaan adalah dimana pegawai perpustakaan bertanggung jawab atas ucapan dan pesan yang dilontarkan terhadap pemustaka”.
Daryono (2017:6) menyatakan bahwa:
Komunikasi interpersonal dengan keterbukaan meliputi tiga kategori yakni (1) Komunikator yakni pegawai perpustakaan harus terbuka kepada pemustakanya (sebagai komunkan). Contoh: pustakawan menawarkan bantuan kepada pemustaka untuk menanyakan apa yang dibutuhkan pemustaka. (2) adanya kesedian komunikator untuk memberikan reaksi atau respon yang jujur.
Apabila ada pemustaka yang diaam ddan tiddak tanggaap, maka pegawai harus menunjukkan keterbukaan dengan bersikao spontan terhadap pemustaka. (3) Komunikator bertanggungjawab atas perasaan dan pikiran yang telah dilontarkan kepada pemustaka.
Menurut Lestari, Ema Puji (2015;37) bahwa:
Keterbukaan maksudnya pustakawan dalam melayani pemustakanya wajib bersifat terbuka. Sering kali kita dapati pegawai perpustakaan yang tersirat seperti dogmatis. Dimana pegawai menyibukkan diri dengan tugasnya. Untuk dapat menanggulangi perihal tersebut maka pegawai haruslah cakap dalam mengembangkan pola komunikasi yang baaik dengan pemustaka. pola
Dari penjabaran tersebut, maka dapat diinterpretasikan komunikasi interpersonal dengan karakteristik keterbukaan dalam konteks perpustakaan yakni pegawai perpustakaan membuka diri untuk memulai berkomunikasi dengan pemustaka, mau menerima masukan ataupun kritikan yang diberikan pemustaka (selagi masukan ataupun kritikan tersebut berguna bagi pengembangan berkelanjutan), dan pegawai mau memberikan informasi penting kepada pemustaka, serta sikap pegawai yang bertanggungjawab dengan apa yang telah dikatakannya kepada pemustaka.
2. Empati (Emphaty)
Komunikasi interpersonal yang efektif dalam konteks perpustakaan ditandai dengan adanya “empati” pegawai perpustakaan kepada pemustaka. Komariah, Neneng (2009:17) menyatakan bahwa “empati berarti pegawai perpustakaan mampu memahami perasaan pemustaka dalam mencari informasi”.
Selain itu, Daryono (2017:6) juga menyatakan bahwa “empati adalah kecakapan seseorang untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Bila dikorelasikan dalam konteks pelayanan perpustakaan maka berarti pegawai memahami kesulitan pemustaka dalam mencari kebutuhan informasinya”.
Menurut Lestari, Ema Puji (2015:38) bahwa:
Pegawai perpustakaan haruslah mampu menyelami perasaan pemustaka, tanpa pegawai kehilangan jati dirinya. Contoh pemustaka mengalami kesulitan dalam mencari jurnal yang digunakan sebagai bahan rujukan untuk perkuliahan.
Namun jurnal tersebut sangat langka diperoleh, padahal pengumpulan tugas sudah deadline. Maka dalam hal ini, pegawai harus berempati terhadap apa yang dialami pemustakaanya dengan cara membantu pemustaka dalam menemukan jurnal yang diinginkan pemustaka dengan cepat.
Penjabaran tersebut membantu dalam membuat interpretasi bahwa komunikasi interpersonal dengan empati dalam konteks perpustakaan adalah pegawai perpustakaan memiliki kemampuan untuk menempatkan dirinya sebagai pemustaka, yang berimplikasi memudahkan pegawai untuk memahami permasalahan/kesulitan yang dihadapi pemustaka, sehingga pegawai akan tanggap bahwa pemustaka kesulitan dengan menawarkan bantuan kepada pemustaka. Dan membantu pegawai untuk memiliki kedekatan emosional maupun intelektual dengan pemustaka.
3. Sikap Mendukung (Supportiveness)
Sikap mendukung yang diberikan pegawai perpustakaan kepada pemustaka tentu akan menstimulus terciptanya komunikasi interpersonal yang efektif. Menurut Lestari, Ema Puji (2015:37) bahwa “dalam konteks sikap mendukung, pegawai menciptakan suasana yang nyaman bagi pemustaka, menunjukkan sikap yang menyenangkan pemustaka, dan menunjukkan sikap yang mampu memancing pemustaka untuk dapat berkomunikasi dengan pegawai”.
Menurut Krismayanti, Ika (2017: 137) bahwa:
Supportiveness berarti pegawai berusaha untuk dapat berkomunikasi dengan pemustaka, dengan tujuan dasar untuk memberikan pelayanan yang unggul.
Pegawai ramah dan suka menyapa pemustaka yang memanfaatkan jasa perpustakaan serta tak lupa pegawai menghaturkan kata terima kasih setiap pemustaka selesai bertransaksi.
Dari penjabaran diatas, maka dapat diinterpretasikan bahwa komunikasi interpersonal dengan sikap mendukung dalam konteks perpustakaan yakni mendukung pemustaka (seperti tindakan pegawai menciptakan suasana yang nyaman dan kondusif di lingkungan perpustakaan, meemberikan respon spontan dan respon deskripif). Jika
komunikasi interpersonal dengan karakteristik sikap mendukung ini, maka akan berimplikasi tidak ada lagi sekat pemisah antara pegawai dan pemustaka. Sehingga memudahkan terciptanya komunitas pemustaka yang puas dan loyal kepada perpustakaan.
4. Sikap Positif (Positiveness)
Sikap positif adalah kunci meraih keberhasilan, termasuk keberhasilan dalam menciptakan komunikasi interpersonal yang efektif. Menurut Daryono (2017:6) bahwa
“sikap positif (positiveness) yakni dimana pustakawan terhadap dirinya positif, menstimulus pemustaka untuk berpartisipasi, supaya interaksi pegawai dengan pemustaka menjadi lebih maksimal”.
Menurut Lestari, Ema Puji (2015:38) bahwa:
Positiveness; pegawai ketika melayani pemustaka memulainya dengan berkomunikasi terlebih dahulu dengan sikap positif. Pegawai menempatkan pemustaka sebagai orang penting yang wajib diberikan perlakuan yang istimewa. Adapun hal yang dapat dilakukan yakni memberi sapaan dengan kata-kata bijak, sopan dan disertai senyuman yang manis. Sehingga akan beimplikasi menghargai antara pegawai dan pemustaka.
Jadi, dapat diinterpretasikan bahwa komunikasi interpersonal dengan sikap positif dalam konteks perpustakaan yakni pegawai melakukan aktivitas yang dapat menjalin kerjasama dengan pemustaka, pegawai menunjukkan sikap menghargai pemustaka, pegawai juga berkenan memberikan pujian maupun penghargaan kepada pemustaka, dan pegawai selalu berpikiran positif teerhadap pemustaka.
5. Kesetaraan (Equality)
Efektivitas komunikasi interpersonal dapat tercapai jika adanya kesetaraan diantara komunikan dan komunikatornya. Menurut Komariah, Neneng (2009:29) bahwa
“equality adalah dimana pegawai perpustakaan menilai semua pemustakanya dengan nilai yang sama, memberikan hormat tak bersyarat dan pegawai juga dalam membantu pemustaka, jangan terlihat seperti menggurui pemustaka dengan merasa lebih pintar”
Menurut Krismayanti, Ika (2017: 137) bahwa “equality: pegawai selalu siap menolong pemustaka tanpa terlihat seperti menggurui, pegawai juga mendengarkan pemustaka dengan baik, dan pegawai dalam memberikan jawaban dilakukan dengan baik, supaya pemustaka tidak merasa rendah diri.
Menurut Lestari, Ema Puji (2015:38-39) bahwa:
Kesamaan maksudnya berorientasi terhadap bagaimana pegawai menghormati dan menghargai pemustaka, memandang pemustaka tanpa melihat syarat apapun, seperti SARA, jabatan, jenjang pendidikan maupun penampilannya.
Pegawai menempatkan diri sebagai pelayan publik, seperti menunjukkan jiwa kooperatif dengan membimbing pemustaka, dan membantu pemustaka tanpa membuat pemustaka merasa bodoh.
Dari penjabaran tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa komunikasi interpersonal dengan kesetaraan maksudnya pegawai perpustakaan dalam menjalankan tugasnya harus dengan prinsip kesetaraan. Dimana tidak membeda-bedakan perlakuan yang diberikan kepada pemustaka berdasarkan perbedaan yang ada seperti warna kulit, agama dan kepercayaan, suku, pendidikan bahkan penampilan. Dan tidak menganggap posisi atau kedudukannya lebih tinggi dari pemustakanya, sehingga ketika pegawai perpustakaan berkomunikasi dengan pemustaka tidak akan memaksakan kehendak, dan tidak juga bersifat menggurui.
2.3 Layanan Perpustakaan
Perpustakaan untuk dapat survive ditengah era revolusi industri 4.0 saat ini, maka perpustakaan harus mampu memberikan layanan perpustakaan yang prima dan unggul, sehingga perpustakaan perlu memperhatikan layanan yang diberikan kepada pemustaka. Menurut Rifauddin, Machsun (2017: 107) bahwa “layanan perpustakaan adalah proses aktivitas yang terdiri atas perencanan, penerapan dan pemantauan”.
Sedangkan menurut Istiana, Purwani dalam buku Layanan Perpustakaan (2014:1) bahwa “layanan perpustakaan adalah menyediakan bahan pustaka dan/atau sumber informasi lainnya secara tepat serta menyediakan layanan dan bantuan kepada pemustaka sesuai kebutuhannya”.
Menurut Hs, Lasa (2009:3) bahwa:
Layanan perpustakaan sangat diperlukan dengan tujuan:
a) Memberikan layanan yang memadai kepada masyarakat pemakainya, b) Mendorong terwujudnya informasi/information society,
c) Memanfaatkan teknologi informasi dalam peningkatan kualitas layanan, d) Mendorong kinerja yang profesional dengan pemahaman konsep dan
filosofi layanan pada petugas perpustakaan.
Dari penjabaran tersebut, maka dapat ditarik interpretasi bahwa layanan perpustakaan adalah layanan yang berorientasi kepada pemustaka, jadi layanan perpustakaan benar-benar dirancang sedemikian rupa, sehingga fasilitas perpustakaan dapat dimanfaatkan pemustakanya secara maksimal dan peran perpustakaan dapat tersalurkan melalui layanan perpustakaan.
Layanan perpustakaan prima dan unggul dapat terwujud jika perpustakaan dapat merespon kebutuhan pemustakanya. Untuk dapat merespon kebutuhan pemustakanya, maka komunikasi interpersonal pegawai dalam melayani pemustaka harus efektif. Karakteristik komunikasi interpersonal yang wajib dimiliki pegawai
dalam melayani pemustaka yakni keterbukaan (openness), empati (emphaty), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality).
Dengan adanya implementasi tersebut, pegawai dapat merespon kebutuhan pemustakanya, meningkatkan hubungan yang terjalin antara pemustaka dengan pegawai sehingga memudahkan terciptanya kedekataan baik secara emosional, maupun secara intelektual pegawai dengan pemustaka. Oleh karena itu, sangat perlu diperhatikan dan didukung supaya komunikasi interpersonal pegawai dalam melayani pemustaka berjalan dengan efektif.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian
Langkah terpenting pada penelitian yakni menentukan metode atau cara yang tepat, sehingga penelitian menjadi akurat. Adapun metode penelitian yang digunakan yakni deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.
Alasan yang mendasari pemilihan deskriptif dengan pendekatan kuantitatif adalah untuk dapat menguraikan implementasi komunikasi interpersonal pegawai dalam melayani pemustaka, dimana dengan menggunakan persentase sebagai tolak ukur nilai untuk dapat menyimpulkan secara lebih objektif.
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara yang berlokasi di Jalan Brigjen Katamso No. 45K Sei Mati, A U R, Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Data yang digunakan dapat berupa populasi, adapun populasi penelitian ini adalah seluruh pengguna layanan koleksi umum di Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara yang terdaftar dalam kategori anggota aktif adalah berjumlah
Data yang digunakan dapat berupa populasi, adapun populasi penelitian ini adalah seluruh pengguna layanan koleksi umum di Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara yang terdaftar dalam kategori anggota aktif adalah berjumlah