BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
2.3 Lalu Lintas
Pengelolaan lalu lintas dalam jaringan jalan pada Kawasan Stasiun Besar Kereta Api Medan yang dapat menimbulkan persoalan lalu lintas yang sering ditanggapi oleh masyarakat sebagai kesemrawutan dan kemacetan lalu lintas. Selain itu, kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas terjadi karena volume lalu lintas tinggi
yang disebabkan bercampurnya lalu lintas menerus dan lalu lintas lokal sehingga dapat meningkatkan faktor kinerja jalan pada ruas jalan pada wilayah penelitian.
Kebutuhan akan jalan tidak sebanding dengan banyaknya jumlah kendaraan yang ada, sehingga hal ini akan menimbulkan dampak negatif terhadap pergerakan lalu lintas (misalnya terjadi peningkatan volume lalu lintas pada ruas jalan dalam wilayah penelitian yang mengakibatkan terjadinya kemacetan pada jam-jam sibuk).
Kinerja lalu lintas perkotaan dapat dinilai dengan menggunakan parameter lalu lintas10, antara lain:
1. Untuk ruas jalan, dapat berbentuk V/C Ratio dan kecepatan;
2. Untuk persimpangan, dapat berupa tundaan dan kapasitas sisa.
Kinerja yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah:
a. V/C Ratio, yang menunjukkan kondisi ruas jalan dan melayani volume lalu lintas yang ada;
b. Kecepatan perjalanan rata-rata yang juga dapat menunjukkan waktu tempuh dari titik asal ke titik tujuan di dalam wilayah pengaruh yang akan menjadi tolok ukur dalam pemilihan rute per-ruas jalan;
c. Tingkat pelayanan yang akan menjadi indikator yang mencakup gabungan beberapa parameter baik secara kuantitatif maupun kualitatif dari ruas jalan dan persimpangan. Penentuan tingkat pelayanan jalan ini akan disesuaikan dengan kondisi lalu lintas yang ada.
10 Warpani, S. 2002. Pengelolaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Institut Teknologi Bandung, Bandung
Nilai VCR untuk ruas dan persimpangan di dalam jaringan jalan (daerah pengaruh) akan didapatkan berdasarkan hasil survei volume lalu lintas di ruas dan persimpangan serta survei inventarisasi jalan untuk mendapatkan besarnya kapasitas jalan eksisting.
Dalam penelitian ini akan lebih fokus dengan indikator berupa tingkat pelayanan jalan (level of service), waktu, jarak dan kecepatan rata-rata perjalanan.
Tingkat pelayanan jalan adalah suatu ukuran yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas suatu ruas jalan tertentu dalam melayani arus lalu lintas yang melewatinya11. Tingkat pelayanan ditemukan berdasarkan nilai kuantitatif seperti VCR, kecepatan perjalanan dan berdasarkan nilai kualitatif seperti kebebasan pengemudi dalam bergerak/memilih kecepatan, derajat hambatan lalu lintas serta kenyamanan (Morlock, 1988). Untuk mengetahui kinerja jalan dapat diketahui dari tingkat pelayanan dari jalan yang ada. Berdasarkan MKJI 1997, ditetapkan bahwa untuk kondisi normal nilai V/C > 0,75 yang terjadi pada suatu segmen jalan dinyatakan bermasalah. Masalah dimaksud adalah keterbatasan kapasitas atau keterbatasan volume akibat gangguan pergerakan di sepanjang ruas jalan yang ditinjau.
Karakteristik tingkat pelayanan jalan dapat dijelaskan pada Tabel 2.1.
11 Radityatama, Derry, 2012. Prediksi Dampak Pembangunan Kawasan Summarecon Bekasi Terhadap Kinerja Jalan di Kota Bekasi. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, ITB, Bandung
Tabel 2.1 Karakteristik Tingkat Pelayanan Jalan (LoS) Tingkat
Pelayanan Jalan (LoS)
Karakteristik Arus Lalu Lintas V/C Ratio
A
Kondisi arus bebas dengan kecepatan tinggi dan volume lalu lintas rendah.
Pengemudi memiliki kebebasan yang diinginkan tanpa hambatan.
Pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan. 0,45 – 0,74 D Arus mendekati tidak stabil, kecepatan masih
dikendalikan V/C masih dapat ditolelir. 0,75 – 0,84 E Volume lalu lintas mendekati/berada pada kapasitas.
Arus tidak stabil,kecepatan terkadang terhenti. 0,85 – 1,00
F
Arus dipaksakan atau macet, kecepatan rendah,volume di bawah kapasitas.
Antrian panjang dan terjadi hambatan-hambatan yang besar.
1,00
Sumber: Morlok, 1988 dalam Derry Radityatama, 2012
Merancang dan mengoperasikan sistem-sistem transportasi dengan tingkat efisiensi dan keselamatan yang paling baik adalah hal yang sangat penting.
Memahami prinsip-prinsip dasar teori kinerja arus lalu lintas merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut. Parameter utama yang berhubungan dengan kinerja arus lalu lintas adalah kecepatan (V), tingkat arus (q) dan kepadatan (k)12.
12 Khisty C. Jotin, Lall B. Kent. 2005. Dasar-dasar Rekayasa Transportasi. Erlangga, Jakarta
1. Kecepatan
Didefinisikan sebagai suatu laju pergerakan, seperti jarak per-satuan waktu (km/jam). Karena beragamnya kecepatan individual di dalam aliran lalu lintas, maka menggunakan kecepatan rata-rata.
2. Volume dan tingkat arus
Volume dan tingkat arus adalah dua ukuran yang berbeda. Volume adalah jumlah sebenarnya dari kendaraan yang diamati atau diperkirakan melalui suatu titik selama rentang waktu tertentu. Sedangkan tingkat arus adalah jumlah kendaraan yang melalui suatu titik dalam waktu kurang dari 1 jam, tetapi di ekivalenkan ke tingkat rata-rata per-jam.
3. Kepadatan
Kepadatan (density) didefinisikan sebagai jumlah kendaraan yang menempati suatu panjang tertentu dari lajur atau jalan, dirata-ratakan terhadap waktu, dinyatakan dengan kend/jam.
Menurut Dittmar dan Ohland (2004) karakteristik bagnkitan pergerakan dan parkir yang ditimbulkan oleh TOD memiliki 2 (dua) komponen, yaitu:
a. Pergerakan yang dibangkitkan oleh fasilitas transit secara mandiri terlepas dari land use kawasan TOD;
b. Pergerakan yang dibangkitkan oleh land use kawasan TOD. Pergerakan ini adalah jenis pergerakan yang dibangkitkan oleh besar pembangunan land use tertentu pada TOD.
2.3.1 Manajemen lalu lintas
Manajemen lalu lintas adalah pengelolaan dan pengendalian arus lalu lintas dengan melakukan optimasi penggunaan prasarana yang ada untuk memberikan kemudahan kepada lalu lintas secara efisien dalam penggunaan ruang jalan dan memperlancar sistem pergerakan. Hal ini berhubungan dengan kondisi arus lalu lintas dan sarana penunjangnya pada saat sekarang dan bagaimana mengorganisasikannya untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
Terdapat 3 (tiga) strategi manajemen lalu lintas secara umum yang dapat dikombinasikan sebagai bagian dari rencana manajemen lalu lintas. Teknik-teknik tersebut dijelaskan pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2 Strategi dan Teknik Manajemen Lalu Lintas
Strategi Teknik
Manajemen Kapasitas 1. Manajemen ruas jalan:
- Pemisahan tipe kendaraan - Kontrol parkir di badan jalan - Pelebaran jalan
2. Area traffic control:
a. Sistem jalan satu arah b. Koordinasi lampu lalu lintas Manajemen Prioritas 1. Prioritas bus, missal jalur khusus bus
2. Akses angkutan barang 3. Daerah pejalan kaki 4. Rute sepeda
5. Kontrol daerah parkir Manajemen Permintaan a) Kebijakan parkir
b) Penutupan jalan c) Batasan fisik
Sumber: Traffic Management, DPU-Dirjen Bina Marga DKI Jakarta
a. Manajemen kapasitas
Langkah pertama dalam manajemen lalu lintas adalah membuat penggunaan kapasitas dan ruas jalan seefektif mungkin, sehingga pergerakan lalu lintas yang lancar merupakan syarat utama. Jika akses dan parkir diperlukan, survey dapat dengan mudah menentukan demand-nya.
Perlunya fasilitas pejalan kaki dapat dengan mudah disurvei. Oleh sebab itu, manajemen kapasitas adalah hal yang termudah dan teknik manajemen lalu lintas yang paling efektif untuk diterapkan.
b. Manajemen prioritas
Manajemen prioritas dapat berupa prioritas bagi kendaraan penumpang umum yang menggunakan angkutan massal karena angkutan massal dapat bergerak dengan membawa jumlah penumpang yang banyak sehingga efisiensi penggunaan ruas jalan dapat tercapai. Teknik yang dapat dilakukan antara lain adalah dengan penggunaan:
1) Jalur khusus bus;
2) Prioritas persimpangan;
3) Jalu bus;
4) Jalur khusus sepeda;
5) Prioritas bagi angkutan umum.
c. Manajemen permintaan
Strategi manajemen permintaan yang dapat dilakukan adalah:
1. Merubah rute kendaraan pada jaringan dengan tujuan untuk memindahkan kendaraan dari daerah yang macet ke daerah tidak macet;
2. Merubah moda perjalanan dari angkutan pribadi ke angkutan umum yang berarti penyediaan prioritas bagi angkutan umum;
3. Kontrol terhadap penggunaan tata guna lahan.
Teknik yang dapat dilakukan dalam manajemen permintaan antara lain adalah dengan melakukan kebijakan parkir, penutupan jalan dan batasan fisik.
2.3.2 Bangkitan dan tarikan pergerakan lalu lintas
Bangkitan lalu lintas adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tata guna lahan dan jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu tata guna lahan atau zona. Pergerakan lalu lintas merupakan fungsi tata guna lahan yang menghasilkan pergerakan lalu lintas. Bangkitan lalu lintas ini mencakup lalu lintas yang meninggalkan suatu lokasi dan lalu lintas yang menuju atau tiba ke suatu lokasi. Hal keluaran dari perhitungan bangkitan dan tarikan lalu lintas berupa jumlah kendaraan, orang atau angkutan barang per-satuan waktu (kend/jam)13.
13 Morlock, Edward K. 1991. Pengantar Teknik dan Perencanaan Transportasi, Jakarta, Penerbit Erlangga.
Bangkitan lalu lintas adalah banyaknya lalu lintas yang ditimbulkan oleh suatu zona atau daerah per-satuan waktu. Jumlah lalu lintas bergantung pada kegiatan kota, karena penyebab lalu lintas adalah adanya kebutuhan manusia untuk melakukan kegiatan dan mengangkut barang kebutuhannya14.
Tujuan dari suatu bangkitan pergerakan adalah menghasilkan model hubungan yang mengkaitkan tata guna lahan dengan jumlah pergerakan yang menuju ke suatu zona atau jumlah pergerakan yang meninggalkan suatu zona dan bertujuan mempelajari serta meramalkan besarnya tingkat bangkitan pergerakan dengan mempelajari beberapa variasi hubungan antara ciri pergerakan dengan lingkungan pada tata guna lahan (Morlock dalam Tamin, 2000).
Bangkitan dan tarikan lalu lintas tergantung pada 2 (dua) aspek tata guna lahan15, yaitu:
a. Jenis tata guna lahan
Jenis guna lahan yang berbeda seperti permukiman, perdagangan dan pendidikan mempunyai ciri bangkitan lalu lintas yang berbeda pada jumlah arus lalu lintas, jenis lalu lintas serta lalu lintas pada waktu yang berbeda. Jumlah dan jenis lalu lintas yang dihasilkan oleh setiap tata guna lahan merupakan fungsi parameter sosial dan ekonomi.
14 Warpani, S. 2002. Pengelolaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. ITB, Bandung.
15 Hobbs, FD. 1995. Perencanaan Teknik Lalu Lintas. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
b. Intensitas aktivitas tata guna lahan
Bangkitan pergerakan tidak hanya beragam disebabkan oleh jenis tata guna lahan, tetapi juga oleh tingkat aktivitasnya. Semakin tinggi tingkat pemanfaatan lahan, semakin tinggi pergerakan arus lalu lintas yang dihasilkan. Jenis kegiatan kawasan bangkitan perjalanan dijelaskan pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Bangkitan Perjalanan Kawasan di Indonesia No Jenis Kegiatan
3 Apartemen 218 hunian 6,47 org/hunian/hari 4 Pusat perbelanjaan 12.750 m² luas
lantai terbangun
6,53 smp/100 m²/hari 5 Hotel/motel/penginapan 249 kamar 0,60 org/kamar/hari
libur
6 Rumah sakit - 0,61 org/tempat
tidur/hari 7 Sekolah/universitas 13.231 siswa 2,25 org/ruang
parkir/jam puncak 8 Restoran 102 tempat duduk 1,54 org/tempat
duduk/hari 9 Tempat
pertemuan/tempat hiburan/pusat olahraga
14.000 orang 0,01 org/hari
10 SPBU 4 nozzle 44,40
kendaraan/nozzle/jam puncak
Sumber: Pedoman Bahan Konstruksi Bangunan Dan Rekayasa Sipil, 2008
2.3.3 Sistem pergerakan/sirkulasi
Sistem pergerakan/sirkulasi kota sebagai perangkat fisik kota terdiri dari berbagai aspek yaitu pola, bentuk, perlengkapan jalan, aspek lalu lintas dan tempat parkir. Struktur jalan terdiri dari badan jalan yang merupakan daerah sirkulasi kendaraan dan bahu jalan yang merupakan daerah sirkulasi pejalan kaki, tempat perlengkapan jalan (street furniture), utilitas dan penghijauan.
Komponen sistem pergerakan adalah:
1. Aksesibilitas
Areal perkembangan lahan baru harus terhubung dengan baik ke jalan eksisting. Semakin banyak penghubung langsung ke jalur eksisting, maka semakin baik pula integrasi antara areal lama dan baru.
2. Sistem transportasi
Sistem transportasi mempengaruhi nilai lahan dan berinteraksi dengan perubahan guna lahan. Ketersediaan pelayanan transportasi menunjukkan potensi untuk menghubungkan jaringan jalan. Di samping sebagai pemberi akses ke bangunan, jalan merupakan elemen ruang publik yang sangat penting. Kenyamanan dan kemudahan pergerakan di dalam ruang kota dapat diciptakan dengan membuat rute-rute dengan jarak tempuh pendek langung mencapai tujuan dan jalur-jalur penghubung antara fasilitas perkotaan yang penting. Semakin banyak penghubung antar jalan-jalan arteri, maka semakin besar potensi bagi guna lahan campuran,
penghubung ini tidak harus berbentuk jalan untuk kendaraan namun bisa berupa jalur khusus pejalan kaki.
Perencanaan transportasi pada dasarnya bertujuan untuk:
a. Memperbaiki pola pergereakan di kawasan kota;
b. Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi;
c. Mendorong penggunaan transportasi umum;
d. Memperbaiki aksesibilitas ke kawasan perdagangan/jasa kota.
Jaringan jalan direncanakan continue dan menerus serta sebagian besar mengadopsi bentuk grid, keuntungannya adalah mempermudah pergerakan lalu lintas dan sistem manajemen lalu lintas.