• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertumbuhan Tingkat Perjalanan (Tahun 2015 - 2017)

4.7 UPAYA PENANGANAN

Dengan adanya permasalahan yang ditemukan, maka perlu dilakukan penanganan baik dari segi manajemen maupun rekayasa terhadap kebutuhan lalu lintas. Adapun alternatif-alternatif penanganan yang dilakukan, yaitu:

1) Pembatasan kendaraan dengan membatasi jumlah penumpang kendaraan pribadi.

Kemacetan lalu lintas adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan lalu lintas yang terjadi di pusat Kota Medan telah dimulai sejak pukul 07.00 wib yaitu jam masuk kantor dan pukul 16.00 wib jam keluar kantor, bahkan hingga pukul 18.00 wib di beberapa ruas jalan tertentu.

Faktor-faktor penyebab terjadinya kemacetan lalu lintas di pusat Kota Medan yaitu:

a) Faktor Jalan Raya (ruang lalu lintas jalan)

Buruknya kondisi ruang lalu lintas jalan serta sempit/terbatasnya ruang jalan akan menghambat pergerakan pengguna jalan. Penyebab buruknya kondisi ruang jalan raya antara lain: pemanfaatan ruang jalan untuk urusan yang bukan semestinya atau pemanfaatan yang keliru, missalnya parkir kendaraan. Terbatasnya lahan jalan dapat diartikan daya tampung (kapasitas) yang rendah dari ruang lalu lintas

jalan, disebabkan jumlah kendaraan yang melintas/beredar melebihi daya tampung ruang jalan dan pemanfaatan yang keliru dari ruang lalu lintas jalan.

b) Faktor Kendaraan

Faktor kendaraan adalah faktor-faktor yang berasal dari kondisi kendaraan yang melintasi di jalan. Berbagai hal yang menyangkut kondisi kendaraan bisa berupa: jenis, ukuran, kuantitas (jumlah) dan kualitas kendaraan yang melintas di jalan raya. Misal: jumlah kendaraan yang beroperasi/melintas melebihi daya tampung jalan raya, beroperasinya jenis dan ukuran kendaraan tertentu yang berpotensi memacetkan arus lalu lintas.

c) Faktor Manusia

Faktor manusia adalah faktor-faktor yang berasal dari manusia selaku pemakai jalan. Berbagai hal menyangkut manusia antara lain: sikap, perilaku dan kebiasaan yang kurang tepat ketika menggunakan jalan raya menyebabkan kemacetan lalu lintas dan membahayakan pihak lain, misal: sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri, tidak mau mengalah, arogan, menganggap bahwa melanggar aturan berlalu lintas adalah hal biasa serta tidak mengetahui atau tidak mau peduli bahwa gerakannya mengganggu bahkan membahayakan keselamatan pengguna jalan lain.

Kemacetan lalu lintas yang terjadi di pusat Kota Medan tentunya menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat maupun pemerintah, yang dapat dirasakan langsung atau tidak langsung, yaitu :

1. Dampak negatif dari kemacetan lalu lintas terhadap masyarakat maupun pemerintah. Kerugian ekonomi karena boros bahan bakar (BBM), terganggunya jadwal bisnis dan kegiatan keluarga dengan segala macam dampak yang mengikutinya.

2. Stress dan kelelahan dengan segala akibatnya, seperti mudah tersinggung, mudah marah, dan turunnya produktivitas.

3. Penurunan kualitas udara di Kota Medan akibat meningkatnya kadar zat-zat pencemar utama yang berasal dari emisi gas buang kendaraan bermotor dengan rentetan dampak lainnya seperti penyakit dan berkontribusi besar pada terjadinya pemanasan global dan perubahan cuaca.

Dengan adanya faktor-faktor penyebab kemacetan lalu lintas dan dampak negatif yang ditimbulkan dari kemacetan lalu lintas, seperti yang dijelaskan di atas, maka dapat dilakukan upaya-upaya untuk mengatasi kemacetan lalu lntas tersebut. Diantaranya adalah mengeluarkan kebijakan pembatasan kendaraan dengan membatasi jumlah penumpang kendaraan.

Kendaraan yang dimaksud disini adalah mobil penumpang bukan umum, mobil bus bukan umum dan mobil barang yang memasuki dan atau berada dikawasan pembatasan kendaraan (pengendalian lalu lintas) wajib mengangkut penumpang paling sedikit 3 orang per-kendaraan termasuk pengemudi. Kawasan pembatasan jumlah penumpang kendaraan yang ditetapkan pada seluruh ruas jalan dalam jaringan wilayah penelitian.

(Gambar 4.1). Pembatasan kendaraan dengan membatasi jumlah penumpang kendaraan pribadi lebih jelas dilihat pada Tabel 4.18.

Tabel 4.18 Hasil Kinerja Jalan

No Ruas Penggal Jalan Lebar C

Tabel 4.18 (Lanjutan) kawasan stasiun kereta api Medan. Dimana pada kondisi eksisting terjadi penurunan tingkat pelayanan jalan hampir di semua ruas jalan dalam jaringan (wilayah penelitian). Setidaknya dapat menimbulkan kesadaran bagi masyarakat pengguna jalan untuk bersama-sama mewujudkan lalu lintas yang tertib dan lancar, masyarakat berfikir sebaiknya menggunakan angkutan umum ataupun kenderaan pribadi yang memiliki penumpang minimal 3 orang (termasuk pengemudi) selama berada di kawasan pembatasan jumlah penumpang (pengendalian lalu lintas). Selain itu adanya kekhawatiran masyarakat terhadap sanksi yang diberikan oleh aparat penegak hukum terhadap pengendera kendaraan yang memiliki

penumpang satu atau dua orang (termasuk pengemudi). Peningkatan kinerja jalan dijelaskan pada Tabel 4.19.

Tabel 4.19 Peningkatan Kinerja Jalan Tahun 2015 s/d 2017

No Ruas Penggal Jalan Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017

VCR LoS VCR LoS VCR LoS

211 md. Medan Center Point

s/d Sp. Jl. HM. Yamin 0.37 B 0.40 B 0.48 C

Bila konsep ini masih terus diterapkan hingga tahun 2017, jaringan transportasi di wilayah penelitian masih terkendali sehingga dampak yang ditimbulkan masih dapat teratasi. Rata-rata tingkat pelayanan jalan dalam jaringan di tahun 2017 adalah C dengan rata-rata VCR 0,42 (Gambar 4.16).

Gambar 4.16 Sebelum dan Sesudah Penanganan

Antisipasi dampak yang timbul jika konsep tersebut dilaksanakan antara lain:

a) Munculnya lahan pekerjaan baru yang dapat menimbulkan masalah lalu lintas baru yaitu adanya joki

Sebelum Penanganan

Sesudah Penanganan

Para joki ini tak hanya berdiri di trotoar, tetapi mereka berdiri di tempat yang sudah memakan badan jalan, dengan maksud agar para pengendara kendaraan bisa melihat keberadaannya. Tentunya hal ini menimbulkan permasalahan baru berupa rawannya terjadi kecelakaan lalu lintas, kemacetan lalu lintas dapat bertambah dan ketertiban serta kelancaran lalu lintas tidak dapat terwujud.

b) Semakian berkurangnya disiplin masyarakat terhadap peraturan atau kebijakan yang telah dibuat oleh pemerintah, hal ini dapat diketahui masyarakat mudah mengakali terhadap kebijakan ini sehingga tidak terkena sanksi dari aparat penegak hukum. Masyarakat pengguna jalan saat memasuki kawasan pembatasan jumlah penumpang kendaraan hanya cukup mengikutsertakan joki di kendaraannya, sehingga penumpang kendaraan berjumlah 3 orang (termasuk pengemudi) kemudian membayar joki tersebut. Sehingga otomotis pengemudi tersebut tidak melanggar aturan yang terdapat dalam kebijakan ini.

2) Manajemen parkir

Pengendalian parkir dilakukan untuk mendorong penggunaan sumber daya parkir secara lebih efisien dan digunakan sebagai alat untuk membatasi arus kendaraan ke suatu kawasan yang perlu dibatasi lalu lintasnya. Parkir sebagai instrumen dari Transit Oriented Development (TOD) sebagai manajemen kebutuhan transportasi di kota-kota yang

mengalami pertentangan paradigma antara „kelancaran lalu-lintas” dengan

“meningkatkan pemasukan keuangan daerah (PAD)”. Kondisi pelayanan parkir yang tidak baik memberikan gangguan sangat berarti bagi sistem lalu lintas secara keseluruhan. permasalahan parkir di kota-kota Asia termasuk Medan adalah lemahnya penegakan hukum dan rendahnya tarif parkir.

Permasalahan parkir antara lain:

a. Terganggunya arus lalu lintas menerus akibat arus keluar-masuk parkir on-street dalam bentuk efek blocking;

b. Lemahnya akses parkir off-street dan tidak terkoordinirnya sirkulasi arus lalu lintas internal dan eksternal;

c. Tidak seimbangnya permintaan (demand) dengan ketersediaan (supply) pada waktu tertentu (jam puncak) dan lokasi tertentu (pusat kota);

d. Ruang parkir menutup kemudahan pergerakan pejalan kaki;

e. Tidak tersedianya SPM untuk parkir on-street dan off-street;

f. Kurang berkembangnya fasilitas park and ride untuk mendukung perpindahan moda dari kendaraan pribadi ke angkutan umum massal

Data survei parkir menunjukkan beberapa pola yang digunakan pada parkir di badan jalan adalah pola sejajar (0), bersudut (45) dan tegak lurus (90). Pola parkir ini akan memberikan dampak pengurangan lebar

jalan yang dapat digunakan oleh lalu lintas yang pada giliran selanjutnya akan mengurangi kapasitas ruas jalan. Disamping pengurangan lebar jalan dampak terhadap arus lalu lintas ruas akan terjadi pada saat manuver kendaraan masuk dan keluar area parkir. Berdasarkan hasil analisa parkir di tepi jalan umum, lokasi parkir on-street di sekitar kawasan stasiun kereta api Medan sudah melebihi dari kapasitas area yang disediakan.

Sehingga dapat menimbulkan dampak kemacetan di kawasan tersebut.

Lokasi parkir on-street dijelaskan pada Tabel 4.20.

Tabel 4.20 Parkir On-Street di Sekitar Kawasan Stasiun Kereta Api Medan

Jumlah parkir on-street 505 271 614.84 Sumber: Hasil Analisa, 2015

Berdasarkan data pada Tabel 4.20, terdapat jumlah volume parkir pada badan jalan khususnya kendaraan roda empat sebesar 505 kend/jam yang sangat berdampak pada kemacetan pada ruas-ruas jalan lokasi parkir tersebut. Sehingga sangat membutuhkan manajemen strategi untuk mengurangi parkir di badan jalan street). Parkir dibadan jalan

(on-street) secara teoritis dan fakta memberikan gangguan terhadap pengguna jalan yang berdampak pada penurunan kinerja akibat pengurangan kapasitas efektif jalan. Namun demikian pendapatan daerah Kota Medan dari parkir secara umum dapat meningkat. Untuk itu perlu dilakukan optimasi terhadap masalah ini. Kriteria umum pengelolaan parkir di badan jalan adalah kondisi arus lalu lintas yang tidak terganggu secara signifikan. Berdasarkan kriteria ini maka ambang batas kinerja lalu lintas yang diperbolehkan adanya parkir di badan jalan perlu ditetapkan.

a. Konsep penanganan parkir

Melihat permasalahan parkir yang ada di Kota Medan (khususnya di wilayah penelitian) dimana perkembangan volume lalu lintas yang semakin meningkat dari tahun ke tahun tidak sebanding dengan pertumbuhan kapasitas jalan. Selain itu minimnya fasilitas angkutan umum massal yang handal menyebabkan banyaknya penggunaan moda kendaraan pribadi dimana secara otomatis hal ini menyebabkan banyaknya kebutuhan lahan parkir. Disamping itu terpusatnya tujuan perjalanan hanya di wilayah-wilayah tertentu di pusat kota seperti kawasan perdagangan, perkantoran, sekolah dan daerah hiburan.

Oleh karena itu penanganan permasalahan parkir tidak bisa hanya dilihat dari aspek parkir saja tetapi harus dilihat dari sistem transportasi secara utuh dimana parkir merupakan sub-sistem dari

sistem transportasi. Bahkan secara umum penanganan parkir harus selaras dengan pembangunan yang dijalankan oleh pemerintah.

Harapan untuk memiliki sistem parkir yang handal memerlukan upaya besar karena akan melibatkan aspek-aspek diluar parkir, selain itu tentu akan memerlukan biaya yang besar dan waktu yang panjang.

Oleh karena itu diperlukan suatu pentahapan program penanganan sehingga mudah untuk dijalankan dan koreksi dapat dilakukan pada setiap tahap sehingga mengurangi resiko terjadi kesalahan yang besar.

Dari hasil analisa parkir yang telah dilakukan oleh peneliti, diusulkan penangan parkir di Kawasan Stasiun Besar Kota Medan dalam wilayah penelitian secara ringkas diuraikan pada Tabel 4.21.

Tabel 4.21 Program Penanganan Parkir di Kawasan Stasiun Kota Medan PROGRAM

a) Memaksimalkan parkir di luar badan jalan

b) Zona larangan parkir di badan jalan

c) Zona parkir tarif tinggi d) Zona parkir tarif menengah e) Zona parkir tarif murah

Pengadaan Data Base

a) Pengurangan lokasi parkir di badan jalan

b) Pengembangan lokasi parkir diluar badan jalan

Tabel 4.21 (Lanjutan)

a) Integrasi system manajemen parkir dan manajemen lalu lintas

b) Sistem Informasi lokasi, jadwal dan tarif parkir c) Sistem pengarah lokasi parkir

d) Otomatisasi pungutan parkir e) Sistem keamanan parkir

b. Program penanganan jangka pendek

Penambahan sarana parkir tidak dapat diwujudkan dalam waktu singkat karena memerlukan perencanaan dan pembangunan agar sesuai dengan kebutuhan. Karena itu konsep penanganan parkir jangka pendek diarahkan untuk mengoptimalkan kondisi lahan parkir eksisting dengan mengupayakan agar parkir kendaraan lebih menyebar sehingga diharapkan gangguan terhadap arus lalu lintas berkurang khususnya di ruas-ruas jalan yang rawan macet (Jl. Jawa, Jl. Stasiun dan Jl. Balai Kota).

Dalam upaya lebih mendistribusikan parkir kendaraan di badan jalan.

Pada program penanganan jangka pendek ini dibuat rencana penerapan hambatan parkir di badan jalan yang berbeda-beda untuk setiap ruas jalan berupa pengaturan:

i. Larangan Parkir

Penetapan larangan parkir dilakukan pada ruas-ruas jalan dengan lalu lintas padat dengan kriteria rasio volume per kapasitas di atas satu (VCR>1) atau ruas-ruas jalan dimana terdapat instansi-instansi penting pemerintah atau instansi-instansi-instansi-instansi diplomatik yang membutuhkan standar keamanan tinggi. Selain itu sesuai dengan ketentuan umum berlaku larangan parkir sebagai berikut:

a) Sepanjang 6 meter sebelum dan sesudah tempat penyeberangan pejalan kaki yang telah ditentukan;

b) Sepanjang 50 meter sebelum dan sesudah jembatan;

c) Sepanjang 25 meter sebelum dan sesudah persimpangan;

d) Sepanjang 6 meter sebelum dan sesudah akses bangunan gedung.

ii. Penerapan Tarif Parkir Tinggi

Penerapan tarif parkir tinggi di badan jalan diberlakukan pada ruas-ruas jalan dengan kriteria:

a) Lebar badan jalan lebih dari 12 meter ( >12 m);

b) Lalu lintas padat ( 0,7 < VCR < 1,0);

c) Potensi kebutuhan parkir tinggi;

d) Satuan Ruang Parkir Terbatas (SRP Terbatas).

iii. Penerapan Tarif Parkir Sedang

Adapun Penerapan tarif parkir sedang di badan jalan diberlakukan dengan kriteria:

a) Lebar badan jalan lebih dari 12 meter (>12 m);

b) Lalulintas agak padat (0,5 < VCR < 0,7);

c) Potensi Kebutuhan Parkir Sedang.

iv. Penerapan Tarif Parkir Rendah

Adapun penerapan tarif parkir rendah di badan jalan diberlakukan dengan kriteria:

a) Lebar badan jalan kurang dari 12 meter ( <12 m ) b) Lalu lintas rendah sampai padat ( VCR < 1.0 )

Dari hasil analisa yang dilakukan, maka pengaturan hambatan parkir di badan jalan dilakukan sebagai berikut (Tabel 4.22 dan Gambar 4.17):

Tabel 4.22 Penanganan Parkir di Kawasan Stasiun Kota Medan Lokasi Parkir On-Street

Sekitar Kawasan Stasiun

Volume

(smp/jam) VCR Lebar Penanganan Parkir

Gambar 4.17 Peta Penanganan Parkir

c. Program penanganan jangka menengah

Program penganan parkir jangka menengah haruslah sejalan dan dengan target yang jauh lebih maju dari program jangka pendek, selain itu juga harus dapat dijadikan dasar penyusunan program penanganan jangka panjang.

Dalam kurun waktu sampai 2 (dua) tahun ke depan diperkirakan volume kendaraan parkir akan semakin tinggi seiring dengan jumlah kendaraan yang semakin besar. Pola pendistribusian permintaan parkir seperti yang dilakukan pada penanganan jangka pendek menjadi tidak efektif untuk meningkatkan kinerja jaringan jalan. Langkah penanganan jangka menengah adalah mengurangi sebanyak mungkin parkir di badan jalan dan mengalihkannya pada parkir diluar badan jalan, khususnya untuk kawasan perdagangan, perkantoran dan perbelanjaan.

Kawasan disekitar stasiun kereta api merupakan kawasan perdagangan/pertokoan, perkantoran dan pemerintahan yang sangat sibuk.

Pada kawasan ini kebutuhan akan sarana parkir sangat tinggi namun ketersediaan lahan untuk pembangunan gedung parkir hampir tidak memungkinkan kecuali merubah peruntukan lahan yang ada menjadi gedung parkir. Saat ini kemungkinan tersebut hampir tidak mungkin namun kedepan hal ini sangat mungkin terjadi karena kebutuhan tempat parkir yang terus meningkat sehingga akan peluang bisnis pada usaha penyedian jasa parkir ataupun pemerintah daerah sendiri yang menyediakan gedung parkirnya.

Seperti yang telah direncanakan oleh Pemerintah Kota Medan, akan menyediakan taman parkir di sisi timur Lapangan Merdeka sebagai pendukung stasiun besar kereta api. Pembangunan taman parkir bertujuan untuk menampung kendaraan parkir stasiun. Konsep ini merupakan bagian dari konsep TOD yaitu untuk meningkatkan peran angkutan umum massal khususnya kereta api dengan implementasi konsep park and ride. Park and ride merupakan salah satu konsep untuk mendukung TOD di kawasan stasiun besar kereta api Medan yang berguna mempermudah pencapaian dan perpindahan moda dan juga sebagai media promosi pelayanan kereta api serta perpanjangan pelayanan kereta api tersebut (Gambar 4.18).

Gambar 4.18 Desain Taman Parkir di Lapangan Merdeka

Taman Parkir yang disediakan oleh Pemerintah Kota Medan terletak di Jl. Stasiun (depan stasiun besar kereta api Medan), memiliki kapasitas untuk Roda Empat (R4) sebanyak 226 SRP dan Roda Dua (R2) sebanyak 96 SRP. Dari hasil analisa parkir di Jl. Stasiun, diperoleh volume parkir R4 sebanyak 115 SRP dan R2 sebanyak 271 SRP. Bila sudah berjalan Taman Parkir tersebut akan mengurangi permasalahan kemacetan pada ruas Jl. Stasiun (penurunan tingkat pelayanan jalan), tetapi menimbulkan permasalahan baru yang diakibatkan kurangnya penyediaan kapasitas ruang parkir, khususnya ruang parkir untuk kendaraan roda dua (sepeda motor). Permasalahan tersebut tidak berdampak besar bagi kelancaran arus lalu lintas di ruas Jl. Stasiun.

d. Program penanganan jangka panjang

Saat ini sudah banyak lembaga pengelola parkir menggunakan sistem ini baik di luar negeri maupun di dalam negeri pada sekala kecil seperti beberapa gedung parkir di Jakarta. Bila program penanganan jangka pendek dan jangka menengah diikuti dengan konsisten maka pada akhir program jangka menengah sistem ini sudah terbangun sekitar 50%, karena sistem informasi parkir sebagai dasar sistem pengelolaan parkir pintar ini sudah dapat dioperasikan. Beberapa hal

penting yang harus dibentuk agar sistem ini dapat berjalan dengan baik adalah:

1) Sistem perencanaan yang baik sehingga tingkat kebutuhan parkir dapat terlayani oleh sarana parkir yang disediakan (on/off street);

2) Sistem pengoperasian parkir lapangan yang baik dengan SPM yang selalu dijaga;

3) Pembuatan aturan atau perundangan yang mengatur hak dan kewajiban dari semua stake holder dalam mendukung berjalannya sistem;

4) Ketersedian aparat pemerintah yang dapat menegakan semua aturan yang ditetapkan sistem.

Disamping itu sistem parkir ini harus terintegrasi dalam sistem manajemen lalu lintas agar dapat memberikan arahan cara menuju lokasi parkir yang tersedia dengan cepat dan aman. Sistem keamanan khususnya pencurian dapat diminimalisir, karena keluar- masuk kendaraan akan selalu terawasi.

Kekurangan sistem ini adalah kecilnya tolerasi kesalahan, karena bila terjadi kesalahan pada suatu bagian maka akan berpengaruh pada seluruhnya dan berujung pada akurasi informasi yang rendah bahkan keliru. Untuk menghindari kesalahan dibutuhkan kedisiplinan dari

semua stakeholder baik pengguna maupun pengelola untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.