BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Literatur Hasil Penelitian
Nama Penulis : Deva Febryan Permadi
Judul : Bentuk Koordinasi Antara Polri dan BNN Dalam Melakukan Penyidikan Perkara penyalahgunaan Narkotika (Studi di Polres Kota Blitar dan BNN Kabupaten Blitar)
Tahun : 2014
Jurnal : Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Diakses tanggal : 26 Oktober 2020
Akses / Link : http://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/263388 Latar Belakang:
1. Diantara APH yang juga mempunyai peran penting terhadap adanya perkara tindak pidana narkoba ialah " Penyidik ", dalam hal ini Penyidik POLRI dan BNN, dimana Penyidik diharapkan mampu membantu proses penyelesaian terhadap perkara pelanggaran tindak pidana narkoba;
2. Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dalam hal melakukan pemberantasan Narkotika, BNN diberi kewenangan untuk melakukan penyelidikan dan Penyidikan terhadap Penyalah Gunaan, peredaran Narkotika, dan prekusor Narkotika disertai denhgan kewenangan yang diberikan kepada penyelidik dan Penyidik BNN; dan 3. Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dalam hal melakukan
66
Penyidikan terhadap Penyalah Gunaan, peredaran Narkotika, dan prekusor Narkotika disertai denhgan kewenangan yang diberikan kepada penyelidik dan Penyidik BNN. Hasil:
1. Bentuk koordinasi antara Polri dan BNN dalam melakukan Penyidikan perkara penyalahgunaan Narkotika yaitu:
a. Penyelidikan yang dilakukan oleh anggota dari Polres Kota Blitar dengan BNN Kabupaten Blitar;
b. Pemetaan jaringan peredaran gelap Narkotika;
c. Melakukan sosialisasi ke wilayah rawan terjadi penyalahgunaan Narkotika; dan d. Melakukan koordinasi dengan lembaga yang ikut menangani permasalahan
penyalahgunaan Narkotika, seperti Kesbangpolinmas, dinas kesehatan, kodim, granat (gerakan anti Narkotika),dan lain sebagainya.
2. Kendala dalam pelaksanaan koordinasi antara POLRI dan BNN dalam melakukan Penyidikan perkara penyalahgunaan Narkotika antara lain:
a. Dalam melakukan tes urine pihak Polres Kota Blitar tidak mempunyai alat dan harus membawa ke dinas kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut;
b. BNN Kabupaten hanya sebatas memberikan informasi dan melakukan pemetaan jaringan saja dalam menganani perkara penyalahgunaan Narkotika, yang seharusnya BNN Kabupaten Blitar ini mengikuti semua proses sesuai dengan fungsi dan wewenang BNN sebagai lembaga khusus yang menangani masalah Narkotika; c. Dalam proses penyelidikan hingga Penyidikan pihak Polres Kota Blitar sering bekerja
sendiri tanpa BNN Kabupaten Blitar, walaupun BNN Kabupaten Blitar mengetahui bahwa ada proses penanganan perkara penyalahgunaan Narkotika tersebut; dan d. Kurang adanya kerjasama sehingga informasi yang didapat oleh Polres Kota Blitar
sedikit walaupun mempunyai informen khusus tetapi jika BNN Kabupaten Blitar ikut serta maka penyalahgunaan Narkotika di Blitar dapat segera ditangani dengan cepat karena mempunyai informasi yang cukup luas dari berbagai kalangan lembaga juga, seperti kesbangpolinmas, granat, kodim, dinas kesehatan dan lain sebagainya. 3. Dalam melakukan pengujian urine pihak Polres Kota Blitar sebaiknya bekerja sama dengan
BNN Kabupaten Blitar, karena di Laboratorium BNN Kabupaten Blitar sudah mempunyai standar kelengakapan alat yang dimiliki di setiap lembaga BNN, dan hal ini bisa menjadikan
67
koordinasi kedua lembaga menajadi solid dalam penanganan perkara penyalahgunaan Narkotika sehingga BNN Kabupaten mempunyai tugas dan aktif dalam melakukan perkara penyalahgunaan Narkotika, disamping sosialisasi terkait perkara penyalahgunaan Narkotika;
4. BNN Kabupaten Blitar seharusnya terus mengupayakan untuk memperbaiki kinerja BNN Kabupaten Blitar sesuai dengan tugas dan wewenang dari lembaga BNN, dengan aktif menyampaikan kekurangan yang ada di BNN Kabupaten Blitar kepada BNN Pusat, yaitu belum adanya anggota Penyidik di dalam BNN Kabupaten Blitar. Hal ini memberikan pesan juga kepada BNN Pusat untuk segera memberikan surat kepada Polda setempat untuk meminta anggota Penyidik dari Kepolisian yang akan ditempatkan di BNN Kabupaten Blitar sehingga kelengkapan anggota dari BNN Kabupaten Blitar ini terpenuhi mengingat tugas dan wewenang dari BNN Kabupaten dalam pemberantasan perkara penyalahgunaan Narkotika dan BNN adalah lembaga khusus yang menangani perkara Narkotika jadi mempunyai tugas dan wewenang yang besar sebagai lembaga khusus, seperti halnya proses penyelidikan hingga Penyidikan, tahap rehabilitasi, dan lain sebgainya; dan 5. Meningkatkan kerja sama dengan semua lembaga dan masyarakat dalam perkara
penyalahgunaan Narkotika ini sesuai dengan peraturan yang ada dan tidak adanya tumpang tindih dalam melaksanakan kewenangan dan tugas dari masing-masing lembaga mengingat bahwa tujuan dari semua lembaga yang menangani perkara penyalahgunaan Narkotika ini sama yaitu memberantas peredaran Narkotika dan perkara penyalahgunaan Narkotika
2. Literatur 2
Nama Penulis : Umar Anwar
Judul : Dampak Pemberian Remisi Bagi Narapidana Perkara Narkotika Terhadap Putusan Pidana Yang Dijatuhkan Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 Tentang Syarat Dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan
Tahun : 2016
Jurnal : Jurnal Legislasi Indonesia Diakses Tanggal : 26 Oktober 2020
68
Link : http://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/949935 Latar belakang:
1. Remisi menjadi salah satu hak yang diberikan kepada setiap narapidana dan anak pidana setiap Tahun yang memenuhi beberapa persyaratan yang ditentukan undang-undang; 2. Pemberian remisi dilakukan dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi setiap
narapidana dan anak pidana. Tidak semua narapidana dan anak pidana mendapatkan hak remisi sehingga negara memberikan peraturan tentang pembatasan dan syarat – syarat mendapatkan remisi;
3. Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomo 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan (PP 99/2012) sudah menghambat dan membatasi hakhak narapidana tersebut sehingga sebagian narapidana yang tidak memenuhi syarat tidak mendapatkan remisi, khususnya bagi Warga Binaan Pemasyarakatan perkara Narkotika; dan
4. jumlah narapidana khusus di DKI Jakarta Per Maret 2016 sejumlah 16.249 Orang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dan khusus LAPAS Klas IIA Narkotika Jakarta sejumlah 3.023 orang WBP.8 Khusus LAPAS Klas IIA Narkotika Jakarta jumlah tersebut sudah melebihi kapasitas LAPAS yang hanya menampung 1.084 penghuni.
Hasil:
1. Penerapan pemberian remisi pada perkara pidana Narkotika tetap mengacu kepada ketentuan PP 99/2012 Tentang Perubahan Kedua Atas PP 32/1999 Tentang Syarat Dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan Pasal 34A dan diperketat agar narapidana perkara Narkotika yang hukumannya di atas 5 (lima) Tahun tidak mendapatkan remisi;
2. Bahwa tidak semua perkara pidana Narkotika mendapatkan remisi ada pengecualian yang sudah diatur pada PP 99/2012 Pasal 34A tersebut sehingga perkara pidana Narkotika yang hukumannya di bawah 5 (lima) Tahun saja yang mendapatkan remisi; dan
3. Hubungan antara pemberian remisi terhadap putusan pidana yang dijatuhkan terhadap narapidana perkara Narkotika adalah bahwa putusan pidana Narkotika yang hukumannya di atas 5 (lima) Tahun tidak mendapatkan remisi dan yang dibawah 5 (lima) Tahun mendapatkan remisi, sehingga putusan pidana dapat mempengaruhi pemberian remisi
69
terhadap narapidana untuk mendapatkan remisi dan berdampak terhadap over kapasitas dan permasalahan di LAPAS/RUTAN.
3. Literatur 3
Nama Penulis : Ratih Y Stiungkir
Judul : Kebijakan Formulasi Hukum Pidana Dalam Upaya Penanggulangan Penyalahguna Narkotika Di Indonesia
Tahun : 2016
Jurnal : Diponegoro Law Review Diakses Tanggal : 26 Oktober 2020
Akses /Link : http://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/1441306 Latar Belakang:
1. Fenomena penyalahgunaan Narkotika di Indonesia membuat Pemerintah harus berperan dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika, yaitu membuat peraturan perundang-undangan tentang Narkotika dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika;
2. Pengaturan upaya rehabilitasi yang telah dirumuskan oleh Pemerintah dalam undang-undang dilatarbelakangi adanya sikap diskriminasi masyarakat yang menganggap penyalah guna Narkotika adalah sampah masyarakat, sehingga hal ini menimbulkan dehumanisasi terhadap penyalah guna Narkotika, sehingga Pemerintah harus mengambil sebuah kebijakan berupa pemberian rehabilitasi terhadap pecandu Narkotika atau penyalah guna Narkotika; dan
3. Tolak ukur tindakan yang dapat dikenakan bagi seorang Pecandu Narkotika dan diatur dalam Pasal 127 Jo 103 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, secara logika Pecandu Narkotika dan Penyalah Guna Narkotika sama dalam melakukan penyalahgunaan Narkotika, hanya saja untuk membedakannya perlu terlebih dahulu dilakukan satu asesmen atau pembuktian bagi tersangka atau terdakwa.
Hasil:
1. Perumusan pengaturan sanksi pidana terhadap penyalah guna Narkotika masih memiliki kelemahan, dengan adanya tumpang tindih pasal pemidanaan bagi penyalah guna Narkotika, hal ini terlihat dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika
70
yang tidak memberikan pembedaan yang jelas antara delik pidana dalam Pasal 127 dengan delik pidana lain dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika; 2. Kelemahan lainnya dalam pemidanaan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika tidak adanya pengaturan batas daluwarsa yang jelas atas tindak pidana yang dapat dikenakan bagi penyalah guna Narkotika yang telah mendapatkan rehabilitasi,sehingga dapat dikenakan pidana atas perbuatan yang lampau, berpeluang dapat dikenakan hukuman pidana; dan
3. perbandingan hukum di filipina dengan Indonesia khususnya terkait rehabilitasi adalah di filipina diberikan kesempatan rehabilitasi satu kali untuk menjalani rehabilitasi selama 6 (enam) bulan dan bila menggunakan Narkotika kembali maka akan dikenakan pidana penjara selama 1 (satu) hari sampai dengan 6 (enam) Tahun dan paling lama 12 (dua belas) Tahun, sedangkan di Indonesia belum ada pengaturan dimaksud.
4. Literatur 4
Nama Penulis : Ineke Ariani Motif
Judul : Upaya Penanggulangan Tindak Pidana penyalahgunaan Narkotika Oleh Badan Narkotika Nasional Kabupaten/Kota (Bnnk) Karawang Terhadap Remaja Di Kabupaten Karawang
Tahun : 2016
Jurnal : Diponegoro Law Review Diakses Tanggal : 27 Oktober 2020
Akses / Link : http://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/1440600 Latar Belakang:
1. Saat ini, penyalahgunaan Narkotika di Indonesia sudah sangat merajalela. Hal ini terlihat dengan semakin banyaknya Penyalah Guna dan peredaran Narkotika dari semua kalangan yang terus meningkat. Sekarang, Indonesia tidak lagi sekedar menjadi wilayah transit atau wilayah pemasaran Narkotika ataupun zat-zat adiktif lainnya, tetapi telah menjadi produsen dan eksportir obat-obatan terlarang;
2. Badan Narkotika Nasional (BNN) adalah lembaga pemerintahan non kementerian yang berkedudukan di bawah presiden dan bertanggung jawab kepada presiden. Badan
71
Narkotika Nasional sebagai lembaga independen diharapkan dapat bekerja lebih baik serta transparan dan akuntabel dalam menumpas kejahatan Narkotika; dan
3. Tindak pidana narkoba kian Tahun kian meningkat. Dari hasil penelitian BNNK Karawang pada Tahun 2012 Kabupaten Karawang merupakan daerah dengan peredaran narkoba terbesar peringkat ke 2 di Jawa Barat setelah Kota Depok.
Hasil:
1. Upaya penegakan hukum terhadap penyalahgunaan Narkotika oleh Badan Narkotika Nasional Kabupaten/Kota (BNNK) Karawang yakni dengan upaya preventif (pencegahan). Upaya pencegahan (preventif) ini terdiri dari 3 pendekatan diantaranya ialah :
a. Supply control, yakni kegiatan yang dilakukan dengan mengadakan razia pada tempat hiburan malam atau daerah rawan Narkotika di wilayah Kabupaten/Kota Karawang; b. Demand reduction, yakni dengan melakukan sosialisasi, penyuluhan dan advokasi
serta pembinaan tentang bahaya Narkotika dan P4GN yang dilaksanakan di lingkungan sekolah, lingkungan mahasiswa, ibu hamil, masyarakat, organisasi masyarakat, swasta, dan pemerintah; dan
c. Harm reduction, dengan melakukan kegiatan unggulan dari BNNK Karawang dalam Program Gerakan Nasional 100 Ribu Rehabilitasi Bagi Korban penyalahgunaan Narkotika.
2. Faktor penghambat Badan Narkotika Nasional Kabupaten/Kota (BNNK) Karawang dalam upaya penanggulangan tindak pidana Narkotika oleh remaja di Kabupaten/Kota Karawang diantarnya; kurangnya sumber daya manusia dan sarana serta prasarana.
5. Literatur 5
Nama Penulis : Irwan Muin
Judul : Efektivitas Penyidikan Tindak Pidana Narkotika: Studi Perkara Polrestabes Makassar
Tahun : 2018
Jurnal : Petitum
Diakses Tanggal : 27 Oktober 2020
Akses / Link : http://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/1466712 Latar Belakang:
72
1. BNN menyatakan bahwa masalah penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba) di Indonesia menunjukkan kecenderungan yang terus menerus meningkat dan bahkan telah sampai pada batas yang mengkhawatirkan kehidupan masyarkat, bangsa dan negara. Selanjutnya Indonesia saat ini bukan hanya sebagai tempat transit dalam perdagangan dan peredaran gelap narkoba, tetapi telah menjadi tempat produksi narkoba;
2. melihat beberapa aturan yang ada namun tidak juga mampu menurunkan angka pengguna Narkotika dalam wilayah Polwiltabes Makasaar Untuk itu perlu dipertanyakan keseriusan Penyidik Polri khususnya Penyidik Polwiltabes Makassar yang melakukan Penyidikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 jo Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika; dan
3. Peneliti mengasumsikan bahwa faktor yang mempengaruhi proses Penyidikan pidana Narkotika tersebut akibat pengaruh substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum masyarakat yang belum optimal. Diharapkan untuk kedepan pembangunan sumber daya manusia lebih ditingkatkan kualitasnya khususnya Penyidik tindak pidana Narkotika pada Polwiltabes Makassar sehingga hasil Penyidikan sesuai yang diharapkan (optimal) yang pada gilirannya dapat mengurangi kejahatan dibidang Narkotika.
Hasil:
1. Efektivitas Penyidikan Tindak Pidana Narkotika di Polrestabes Makassar cukup efektif, Namun masih perlu ditingkatkan agar pencapaian dapat lebih maksimal dan Substansi Hukum telah dapat mendukung Efektivitas Penyidikan Tindak Pidana Narkotika di Polrestabes Makassar walaupun ada Penyidik lain selain Penyidik Polri; dan
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi Efektivitas Penyidikan Tindak Pidana Narkotika di Polrestabes Makassar adalah : Sumber Daya Manusia yang belum memadai dari segi kualitas, Sarana dan Prasarana yang belum lengkap, Koordinasi dan kerja sama antara penegak Hukum lainnya dan Penyidik Tindak Pidana Narkotika sudah terjalin namun belum efektif, serta peran serta masyarakat yang sangat berpengaruh belum mendukung terhadap Efektivitas Penyidikan Tindak Pidana Narkotika di Polrestabes Makassar. 6. Literatur 6
73
Judul : Analisis Yuridis Penerapan Double Track System Bagi Pelaku penyalahgunaan Narkotika Menurut Uu Nomor 35 Tahun 2009
Tahun : 2017
Jurnal : Journal Hukum Khaira Ummah Diakses Tanggal : 28 Oktober 2020
Akses / Link : http://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/1341424 Latar Belakang:
1. Double track system merupakan sistem dua jalur mengenai sanksi dalam hukum pidana, yakni jenis sanksi pidana dari satu pihak dan jenis sanksi tindakan dipihak lain. Keduanya bersumber dari ide yang berbeda. Sanksi pidana bersumber pada ide dasar : “mengapa diadakan pemidanaan”. Sedangkan sanksi tindakan bertolak dari ide dasar : “untuk apa diadakan pemidanaan itu”;
2. Hukuman bagi pecandu dan korban penyalahgunaan Narkotika disepakati berupa pidana rehabilitasi. Paradigma baru ini selaras dengan konvensi-konvensi internasional tentang Narkotika yang menekankan penanganan Narkotika dengan pendekatan seimbang antara pendekatan demand, (pencegahan, pemberdayaan, rehabilitasi) dan supply (pemberantasan jaringan peredaran gelap) serta memberikan alternatif penghukuman rehabilitasi bagi pecandu dan korban penyalahgunaan Narkotika; dan
3. Pada double track system perumusan sanksi terhadap penyalahgunaan Narkotika merupakan kebijakan hukum pidana dalam formulasi ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai sanksi yang diberikan kepada pelaku penyalahgunaan Narkotika, yaitu berupa sanksi pidana dan sanksi tindakan mengingat pelaku penyalahgunaan Narkotika memiliki posisi yang sedikit berbeda dengan pelaku tindak pidana lainnya. Satu sisi pengguna Narkotika merupakan pelaku tindak pidana yang harus dihukum, namun disisi lain merupakan korban dari tindak pidana yang dilakukannya sendiri, sehingga perlu dilakukan suatu tindakan berupa rehabilitasi.
Hasil :
1. Penerapan double track system Bagi Pelaku penyalahgunaan Narkotika dalam Undang-Undang No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika pada prinsipnya bisa diketahui dari Naskah Akademik undang-undang tersebut. Latar belakang dibentuknya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika menyebabkan kriminalisasi terhadap penyalahgunaan
74
narkoba. Ketentuan pidana pada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika diatur dalam Pasal 111 sampai dengan Pasal 148. Dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika mengamanatkan kewajiban untuk menjalani perawatan dan pengobatan atau rehabilitasi bagi pecandu Narkotika atau korban penyalahgunaan Narkotika;
2. Hambatan penerapan Double Track System bagi pelaku penyalahgunaan Narkotika menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yaitu adanya aturan yang berbeda yang bisa diterapkan untuk perbuatan yang sama yaitu penyalahgunaan Narkotika; sarana dan prasarana serta petugas yang belum memadai untuk para pelaku yang diberikan sanksi tindakan; Pelaku Penyalah Guna Narkotika tidak di tahan memungkinkan melarikan diri; dan
3. DalamUndang- Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika ternyata undang-undang tersebut menganut konsep double track system dalam stelsel sanksinya. Hal tersebut diketahui karena dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika mengatur dua sanksi sekaligus yaitu sanksi pidana dan sanksi tindakan di dalamnya. Sanksi Pidana untuk tindak pidana Narkotika diatur dalam Pasal 111 sampai dengan Pasal 144 dan 147 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang meliputi pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan dan pidana denda. Sedangkan sanksi tindakan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yaitu Rehabilitasi yang diatur dalam Bab IX Pasal 53 sampai dengan Pasal 56 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
7. Literatur 7
Nama Penulis : Ni Putu Noni Suharyanti
Judul : Progresivitas Dalam Penegakan Hukum Penyalah Guna Narkotika
Tahun : 2017
Jurnal : Kertha Patrika Diakses Tanggal : 28 Oktober 2020
Akses / Link : http://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/1338249 Latar Belakang:
1. Penyebaran penyalahgunaan Narkotika sudah hampir tidak bisa dicegah, mengingat hampir seluruh penduduk dunia dapat dengan mudah mendapat Narkotika dari oknum-
75
oknum yang tidak bertanggung jawab. Upaya pemberantasan Narkotika pun sudah sering dilakukan, namun kenyataannya masih sedikit kemungkinan untuk menghindarkan Narkotika dari kalangan usia remaja maupun dewasa atau dalam usia produktif. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Narkotika Nasional (BNN), bahwa jenis Narkotika yang paling banyak digunakan di kalangan pelajar dan mahasiswa adalah Narkotika jenis ganja, baik pada kelompok coba pakai ataupun teratur/pecandu;
2. Sanksi pidana penjara bagi para Penyalah Guna Narkotika menimbulkan polemik. Banyak yang menilai penjara bukanlah solusi tepat dalam mengatasi masalah ini. Penyalah Guna Narkotika seharusnya diberikan pelindungan dan penyelamatan yakni dengan cara rehabilitasi. Pelaku dengan kualiikasi Penyalah Guna setelah menjalani pidana di LAPAS (LAPAS) justru masih bisa memperoleh Narkotika bahkan menjadi seorang bandar (pengedar) Narkotika; dan
3. Menghadapi persoalan tersebut, maka progresivitas dan profesionalisme APH sangat diperlukan karena pada dasarnya penggunaan Pasal 111 dan Pasal 112 harus dilekatkan pada maksud dan tujuan untuk apa Narkotika tersebut dan secara logika setiap orang yang menggunakan Narkotika pasti memenuhi unsur “memiliki, menyimpan dan menguasai”. Hasil:
1. Progresivitas memiliki peran penting dalam penegakan hukum yang ideal termasuk perkara Penyalah Guna Narkotika yang selama ini dalam prakteknya seringkali menimbul- kan dilema; dan
2. Progresivitas juga memiliki peran penting dalam menciptakan profesionalisme penegak hukum sehingga APH tidak lagi hanya memperhatikan keadilan prose- dural (keadilan berdasarkan teks hukum) melainkan spirit keadilan.
8. Literatur 8
Nama Penulis : Mohammad Mashulin Amjad
Judul : Tinjauan Yuridis Sanksi Rehabilitasi Terhadap Pengguna Narkotika
Tahun : 2020
Jurnal : Jurnal JURISTIC Diakses Tanggal : 29 Oktober 2020
Akses Link : http://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/1819336 Latar Belakang:
76
1. Kejahatan Narkotika dan obat-obatan terlarang telah bersifat transnasional yang dilakukan dengan modus operandi yang tinggi dan teknologi yang canggih, APH diharapkan mampu mencegah dan menanggulangi kejahatan tersebut guna meningkatkan moralitas dan kualitas sumber daya manusia di Indonesia khususnya bagi generasi penerus bangsa; 2. Penegakan hukum terhadap kejahatan di Indonesia, khususnya dalam hal pemidanaan,
seharusnya merujuk pada pendekatan norma hukum yang bersifat membina penjahat dengan cara melakukan pembinaan ataupun rehabilitasi medis maupun sosial. Pemberian sanksi rehabilitasi dapat memperbaiki pelaku sekaligus pemakai penyalahgunaan tindak pidana Narkotika. Seharusnya hal ini mampu memberikan wacana kepada para hakim dalam penjatuhan sanksi rehabilitasi kepada para pengguna Narkotika; dan
3. Dalam kenyataan empiris di bidang pemidanaan secara umum masih menganut konsep hanya menjatuhkan pidana penjara, tanpa adanya rehabilitasi medis dan sosial. Tanpa adanya rehabilitasi besar kemungkinan bahwa kejahatan tersebut hanya terhenti sesaat dan akan muncul kembali dalam lingkungan kehidupan sosial masyarakat.
Hasil:
1. Penegakan hukum Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang ideal harus disertai dengan kesadaran bahwa penegakan hukum sebagai bagian subsistem hukum, juga merupakan subsistem sosial, sehingga pengaruh lingkungan cukup berpengaruh terhadap prinsip-prinsip penegakan hukum dan asas-asas hukum yang berlaku di lingkungan bangsa-bangsa yang beradab. Hukum adalah kontrol sosial dari pemerintah;
2. Pengaturan tentang Rehabilitasi terhadap Penyalah Guna Narkotika kedepannya harus lebih tegas salah satunya diharapkan dirumuskan Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang Penyalah Guna yang harus melaksanakan rehabilitasi dan Penyalah Guna mana yang dapat dijatuhi pidana; dan
3. APH, dalam hal ini Penyidik, jaksa maupun hakim harus dapat dengan tegas merumuskan status seorang pelaku tindak pidana Narkotika yang dapat dijatuhkan rehabilitasi, apakah seorang Penyalah Guna, pecandu atau korban penyalahgunaan Narkotika, hal ini ditujukan agar nantinya dapt dijatuhkan sanksi yang seadil–adilnya serta aspek perlindungan hukum terhadap korban Penyalah Guna Narkotika dapat terwujud.
77 Nama Penulis : Muhammad Faisal Riski
Judul : Dasar Pertimbangan Hakim Menentukan Korban penyalahgunaan Narkotika Dalam Menjatuhkan Putusan Pemidanaan Rehabilitasi Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika (studi di pengadilan negeri malang)
Tahun : 2014
Jurnal : Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Diakses Tanggal : 29 Oktober 2020
Akses / Link : http://garuda.ristekbrin.go.id/documents/detail/188108 Latar Belakang:
1. Pada dasarnya Narkotika adalah obat legal yang digunakan dalam dunia kedokteran, namun dewasa ini Narkotika banyak disalahgunakan oleh berbagai pihak untuk kesenangan dan atau keuntungan diri sendiri. Oleh karena itu tidak sedikit orang dewasa bahkan kalangan anak terjerumus dalam penggunaan Narkotika;
2. Peran dari struktur penegak hukum sangatlah penting dalam penegakan hukum di Indonesia. Berjalannya suatu substansi hukum apabila adanya APH yang menjalankan substansi hukum tersebut. Salah satu contoh peran APH yang penting dalam penanganan Narkotika adalah Hakim yang diberi wewenang dan kekuasaan oleh Negara untuk