HASIL DAN PEMBAHASAN
M. Logam Berat (cadmium (Cd), copper (Co), zinc (Zc), besi (Fe), tembaga (Cu), mercury (Hg) dan timbal (Pb))
Hasil identifikasi terhadap konsentrasi logam berat di kolom air menunjukkan nilai yang hampir semua berada di bawah baku mutu yang ditentukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup yaitu berdasarkan Kepmen-LH No. 51 Tahun 2004 (Untuk Biota Laut).
Hanya jenis logam berat jenis tembaga (Cu) yang berada di atas baku mutu, yaitu Stasiun 1 (0,011 mg/l), Stasiun 2 (0,009 mg/l), Stasiun 4 (0,343 mg/l), Stasiun 5 (0,011 mg/l), dan Stasiun 6 (0,01 mg/l). Baku mutu logam berat jenis tembaga dalam air laut untuk peruntukan budidaya yaitu 0,008 mg/l. Data hasil analisis logam berat di lokasi studi selengkapnya ditampilkan pada tabel 31.
Kualitas perairan sangat ditentukan oleh adanya logam berat (Chou, et al. 2004). Logam berat (Pb, Cu, Cr, Zn dan lainnya) biasanya sangat sedikit sekali ditemukan dalam air secara alamiah yaitu kurang dari 1 mg/liter. Bila terjadi pencemaran yang disebabkan oleh buangan limbah dan bahan kimia lainnya kosentrasi logam berat (Pb) akan meningkat.
0,056-0,154 0,099-0,115 0,000 0,100 0,200 0,300 0,400 0,500 0 1 2 3 4 5 6 Stasiun Nitrat (mg/l) 0,005-0,01 0 0,001 0,002 0,003 0,004 0,005 0,006 0,007 0,008 0 1 2 3 4 5 6 Stasiun Phosphat (PO4-P) (mg/l)
Contoh kasus di perairan Teluk Loreto California Mexico ditemukan rumput laut yang hidup di sekitarnya mengandung kadmium (Cd) dalam kosentrasi cukup tinggi yang bersumber dari buangan limbah industri dan peleburan timbal (Pb) (Rodriquez, et al. 2002). Apabila dalam rumput laut mengandung logam berat (Pb) yang cukup tinggi dapat menurunkan nilai jual bahkan dapat ditolak oleh konsumen.
Tabel 38. Hasil Analisis Logam Berat di Kolom Air Jenis Logam Berat St. 1 St. 2 St. 3 Baku Mutu Sub St.1a Sub St.1b Sub St.1c Sub St.2a Sub St.2b Sub St.3a Sub St.3b Sub St.3c Raksa (Hg) 0,0004 0,0005 <0,0002 <0,0002 0,0003 <0,0002 <0,0002 0,0004 0,001 Cromium (Cr6+) <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,005 Arsenik (As) 0,0004 0,0004 <0,0002 <0,0002 <0,0002 <0,0002 <0,0002 0,0003 0,012 Cadmium (Cd) <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,001 Tembaga (Cu) 0,011 0,005 0,007 0,009 <0,005 0,005 0,005 0,008 0,008 Plumbum (Pb) <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 0,05 Seng (Zn) 0,009 0,006 0,007 0,016 <0,005 0,006 0,011 0,008 0,05 Nikel (Ni) <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 0,05 Jenis Logam Berat St. 4 St. 5 St. 6 Baku Mutu Sub St.4a Sub St.4b Sub St.4c Sub St.5a Sub St.5b Sub St.5c Sub St.6a Sub St.6b Raksa (Hg) <0,0002 0,0003 <0,0002 0,0004 <0,0002 0,0003 <0,0002 0,0003 0,001 Cromium (Cr6+) <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,005 Arsenik (As) <0,0002 0,0004 <0,0002 0,0003 <0,0002 <0,0002 <0,0002 0,0003 0,012 Cadmium (Cd) <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 <0,001 0,001 Tembaga (Cu) 0,005 0,005 0,343 <0,005 0,005 0,011 0,008 0,01 0,008 Plumbum (Pb) <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 0,007 <0,005 <0,005 0,05 Seng (Zn) 0,008 <0,005 0,038 <0,005 0,006 0,009 <0,005 0,009 0,05 Nikel (Ni) <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 <0,005 0,05
Sumber: Hasil Analisis Lab. Proling MSP FPIK IPB, 2011 (angka dalam satuan mg/l) Kandungan logam berat telah digunakan oleh Mubarak, et al. (1990) dalam Utojo, et al. (2007) dalam membangun matrik kesesuaian. Kadar logam berat <0,01 mg/l masuk dalam kelas sangat sesuai, kadar 0,01-0,04 mg/l masuk dalam kelas sesuai, kadar 0,03-0,06 mg/l masuk dalam kelas sesuai bersyarat dan kadar >0,06 mg/l masuk dalam kelas tidak sesuai. Pada tujuh jenis logam berat yang dianalisis hampir semuanya masuk dalam kelas sangat sesuai. Hanya pada sub-stasiun 1, 2, dan 3 untuk tembaga, walaupun masuk dalam kisaran sangat sesuai tetapi menurut aturan baku mutu kementerian lingkungan hidup memiliki nilai di atas baku mutu. Pengaruh logam berat dalam rumput laut akan hilang ketika proses pengolahan rumput laut menjadi karaginan dilakukan sesuai prosedur yang berlaku.
N. Pencemaran
Di perairan yang berdekatan dengan lokasi Pelabuhan Poto Tano ditemukan cukup banyak limbah plastik yang berasal dari penumpang kapal laut. Sehingga akan mengurangi kelayakan budidaya rumput laut sekitar kawasan ini.
Hal serupa juga ditemukan di perairan Labu Lalar. Pemukiman nelayan yang cukup padat dikawasan menumbulkan buangan sampah plastik dan limbah rumah tangga yang cukup banyak. Sehingga, nilai kelayakan untuk budidaya laut menjadi berkurang. Perairan yang telah tercemar oleh limbah rumah tangga, industri, maupun limbah kapal laut harus dihindari. Semua bahan cemaran dapat menghambat pertumbuhan rumput laut.
Analisis Kesesuaian Budidaya Rumput Laut
Berdasarkan hasil analisis GIS diperoleh kawasan yang sesuai untuk aktivitas budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii meliputi Stasiun 1 yang terdiri dari wilayah pesisir Labu Beru dan sekitar pelabuhan Poto Tano, Stasiun 3 yang meliputi wilayah pesisir Sagena, Kuang Busir, dan Tua Nanga yang masih termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Poto Tano, Stasiun 4 yang meliputi wilayah Teluk Kertasari dan sekitarnya yang masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Taliwang , dan Stasiun 6 yang meliputi wilayah Pantai Teluk Jelenga yang masuk kedalam wilayah administratif Kecamatan Jereweh. Peta lokasi kesesuaian untuk budidaya rumput laut selengkapnya dapat dilihat pada gambar.
Penentuan kesesuaian lokasi sendiri menggunakan Tabel 37 dan Tabel 38 yang diperoleh dari hasil kajian perbandingan dari beberapa literatur. Matriks kesesuaian lokasi untuk budidaya rumput laut yang telah dimodifikasi dapat dilihat pada tabel tersebut (detail hasil tabulasi GIS dilampirkan). Pembobotan pada setiap faktor pembatas/parameter ditentukan berdasarkan pada dominannya parameter tersebut terhadap suatu peruntukan.
Untuk setiap parameter dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) kelas yaitu sangat sesuai (S1) diberi skor klas 3, sesuai (S2) diberi skor klas 2, dan tidak sesuai (N) diberi skor klas 1. Untuk menyimpulkan tingkat kesesuaian lokasi (stasiun) maka dilakukan penjumlahan nilai akhir seluruh parameter pada stasiun yang bersangkutan (Y = Σ Nilai Bobot x Skor). Untuk mendapatkan nilai selang kelas (X), maka nilai S1 ditambah S2 dibagi dua, nilai S2 ditambah N dibagi dua. Dengan demikian untuk kategori kesesuaian lokasi budidaya rumput laut berada pada kisaran sebagai berikut :
Kategori Sangat Sesuai (S1) : Y > 250
Kategori Sesuai (S2) : Y = 150 - 250
Kategori Tidak sesuai (N) : Y < 150
Berdasarkah hasil kajian diperoleh daerah yang sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai untuk budidaya rumput laut, yang selengkapnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
jkkjsdnmndms
Potensi Budidaya Rumput Laut
Berdasarkan hasil kajian kesesuaian ekologis dan analisa GIS yang dilakukan pada perairan kecamatan pesisir yang Kabupaten Sumbawa Barat diperoleh luasan perairan yang sesuai beserta rekomendasi teknologi untuk budidaya rumput laut di tampilkan pada tabel berikut ini.
Tabel 39. Luasan perairan, rekomendasi teknik dan identifikasi aktivitas budidaya di perairan pesisir Kabupaten Sumbawa Barat
Kecamatan Pesisir
Luas Perairan Sesuai Untuk Syarat
Ekologis Rumput Laut Rekomendasi Teknologi Budidaya Aktivitas Budidaya Sangat Sesuai Sesuai Sub Total
Pototano 410 ha 395 ha 805 ha Metode Long Line Sudah Ada
Taliwang 70 ha - 70 ha Metode Tancap
Dasar
Sudah Ada
Jereweh - 86 ha 86 ha Metode Tancap
Dasar
Tidak Ada
Total 468 ha 481 ha 961 ha
Sumber: Hasil Analisis, 2012
Berdasarkan hasil analisis diperoleh luasan perairan yang sesuai untuk budidaya rumput laut untuk Kecamatan Poto Tano adalah 795 ha dengan rincian sebesar 400 Ha telah dimanfaatkan untuk kegiataan budidaya (existing), masih ada peluang untuk pengembangan untuk kedepannya dengan luasan mencapai 395 Ha. Untuk Desa Kertasari, Kecamatan Taliwang yang merupakan sentra pembudidaya rumput laut dengan metode tancap dasar peluang untuk pengembangan sudah tidak memungkinkan mengingat areal lahan budidaya hampir 100 persen telah dimanfaatkan dengan luasan mencapai 68 ha. Di Kecamatan Jereweh, tepatnya di Pantai Teluk Jelenga. Peluang untuk pengembangan budidaya rumput laut masih terbuka. Mengingat saat ini areal seluas 86 Ha belum termanfaatkan untuk aktivitas budidaya rumput laut.
Beberapa Teknologi dan Pengelolaan Budidaya Rumput Laut Sistem dan Metode Budidaya
Metode budidaya rumput laut E. cottonii yang pernah dilakukan diperairan pesisir Kabupaten Sumbawa Barat adalah Sistem atau Metode Longline dan Metode Tancap Dasar. Secara umum, terdapat beberapa sistem budidaya rumput laut di laut, yakni a) sistem mengapung dan b) sistem dasar (Effendi 2011).
Pada sistem mengapung, budidaya dilakukan dan mengapung dekat permukaan air dengan bantuan pelampung, sedangkan pada sistem dasar budidaya dilakukan di dasar laut pada perairan dangkal. Sistem budidaya mengapung terdiri dari longline, rakit atau kombinasi longline dan rakit. Penerapan sistem budidaya didasarkan kepada kondisi biofisik lokasi. Sistem mengapung umumnya dilakukan pada perairan laut dengan kisaran pasang-surut yang tinggi, sebaliknya untuk sistem dasar.
A. Sistem Longline
Longline adalah sistem budidaya rumput laut yang menggunakan tambang/tali yang mengapung sebagai substrat pelekat. Sistem ini terdiri dari beberapa komponen, yaitu:
- Tambang utama/bantalan/biang (polyethelene, PE, Ø 8-10 mm, 25 m) - Tambang ris (PE, 5 mm, 100 m)
- Tali pengikat (PE, D27)
- Tambang jangkar (PE, 20 mm, 30 m) - Jangkar
- Pelampung utama (40-50 l) - Pelampung antara (0,6-1,0 l).
Tambang ris berfungsi sebagai tempat (substrat) penempelan rumpun rumput laut dengan bantuan tali pengikat. Sejumlah tambang ini selanjutnya diikatkan ke tambang utama yang dilengkapi jangkar dan tambangnya. Tambang ris dan tambang utama selalu mengapung di bawah dan dekat permukaan air karena dilengkapi dengan pelampung. Pelampung utama untuk tambang utama dan pelampung antara untuk tambang ris. Di Perairan pesisir Sumbawa Barat metode budidaya rumput laut Sistem Longline pernah dilakukan di perairan pesisir Poto Tano. Berikut ditampilkan pada Gambar 21.
Gambar 21. Budidaya rumput laut dengan sistem atau metode longline (Dokumentasi pribadi, 2012)
B. Sistem dasar
Pada sistem ini rumput laut diikatkan pada tambang. Tambang dibentangkan sekitar 50-100 m dari dari dasar laut dengan cara mengikatnya pada patok yang ditancapkan di dasar laut (Gambar 22). Budidaya rumput laut dengan sistem dasar seperti memelihara padi di sawah. Sistem dasar diterapkan di perairan dengan kisaran pasang surut yang sempit.
Gambar 22. Budidaya rumput laut metode atausistem dasar.
Adapun sistem budidaya lain yang masih digunakan adalah model rakit, jalur dan kombinasi. Sejauh ini metode budidaya yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat masih mempertahankan model yang sudah ada karena dinilai sudah cukup efektif. Akan tetapi, masyarakat setempat masih mengeluhkan produksi yang terganggu oleh aktivitas hama pengganggu sepertu ikan baronang dan jenis bulu babi.
Gambar 23. Jenis hama pengganggu yang ditemukan
C. Sistem Rakit
Sistem rakit untuk budidaya rumput laut seseungguhnya sama dengan sistem longline, hanya saja bahan yang digunakan berupa bambu yang dirangkai menjadi seperti rakit. Tempat pelekatan rumput laut berupa tambang (tambang ris) yang diikatkan kepada rakit bambu (Gambar 24).
Gambar 24. Budidaya rumput laut dengan menggunakan metode rakit D. Metode Jalur (Kombinasi)
Metode ini merupakan kombinasi antara metode rakit dan metode long line. Kerangka metode ini terbuat dari bambu yang disusun sejajar. Panjang bambu yang digunakan adalah 5 m pada kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali ris PE diameter 0,6 mm sehingga membentuk persegi panjang. Satu unit terdiri dari 7 – 10 petak sehingga panjang unit berkisar 49 – 70 m. Pada kedua ujung setiap unit diberi jangkar seberat 100 kg. Sejajar dengan tali ris, di set tali jalur, jarak antar tali jalur penanaman dimulai dengan mengikat bibit rumput laut ke tali jalur yang telah dilengkapi tali PE 0,2 cm sebagai pengikat bibit rumput laut. Setelah bibit diikatkemudian tali jalur tersebut di-set pada kerangka yang telah tersedia dengan jarak tanam yang digunakan minimal 25 cm.
E. Metode Keranjang
Metode kantong jaring adalah metode budidaya rumput laut dengan menggunakan kantong jaring sebagai wadah produksi. Kantong jaring tersebut digantungkan pada tambang apung (long line) atau rakit. Metode ini merupakan solusi budidaya rumput laut dalam mengatasi masalah serangan hama ikan lingkis (baronang) dan penyu. Dalam metode ini digunakan kantong jaring bermata jaring 1- 1,5 inchi yang terbuat dari benang PE ukuran D18-21. Kantong memiliki diameter 30-50 cm dan tinggi 50-75 cm dan ditunjang oleh rangka kawat. Kantong jaring digantungkan ke tambang long line atau rakit dengan jarak 50-100 cm antar kantong, dan pada kedalaman 50-150 cm dari permukaan air.
Persyaratan aplikasi metode ini adalah adanya arus laut yang relatif lebih kuat (0.25-0.40 m/detik), sehingga memungkinkan sirkulasi air laut menembus kantong dan biomasa rumput laut di dalamnya. Apabila arus laut kurang kuat (< 0.25 m/detik) bisa menyebabkan rumput laut di dalam kantong mati dan membusuk. Hal ini disebabkan sirkulasi air laut tidak cukup untuk mensuplai oksigen dan nutrien ke dalam biomasa rumput laut di dalam kantong. Beberapa pengalaman penggunaan metode ini adalah sebagai berikut: a) biomasa saat awal penanaman adalah 0,5 kg; b) lama pemeliharaan 45-60 hari; c) biomasa akhir setelah dipelihara 45-60 hari adalah menjadi 7-10 kali lipat dari biomasa awal (bisa mencapai 5 kg/kantong). Bahan-
bahan dan peralatan untuk aplikasi metode ini adalah sebagai berikut: - Kantong jaring
- Tambang utama (12 mm) - Tambang ris (10 mm) - Tambang jangkar (20 mm)
- Jangkar Pelampung utama (volume 40 l) - Pelampung antara (volume 1-5 l)
Potensi Produksi, Kualitas dan Strategi Pengembangan
Potensi hasil panen petani rumput laut Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) jika dihitung berdasarkan asumsi bahwa Jika diasumsikan berdasarkan perhitungan lapangan bahwa ada sekitar 949 Ha lahan lahan yang sesuai untuk penanaman budidaya rumput laut di KSB maka dengan asumsi petani rumput laut menggunakan metode tanam long line. Hasil panen per hektar yang di peroleh petani rumput laut adalah tiap 1 Ha yaitu 10.000 m persegi membutuhkan tali utama sebanyak 100 buah dengan panjang 100 m untuk menanam benih. Di KSB tiap 100 gram bibit rumput laut di peroleh sekitar 600 gram panen per rumpun (idealnya 100 gram bibit menghasilkan 1000 gram = 1 kg panen). Jika di KSB diperoleh luasan lahan rumput laut yang bisa di tanami 949 Ha maka 300 rumpun per tali utama di kali 3 rumpun membujur (sesuai gambar) di kali 100 buah tali utama maka diperoleh 90.000 rumpun, lalu di kali 0,6 kg bobot rumpun panen diperoleh 54.000 Kg atau 54 Ton basah rumput laut. 54 Ton Basah dikali 949 Ha lahan di kali 0,7 (koreksi lahan yang terpakai untuk lalu lintas perahu) maka diperoleh 35.872,2 Ton Basah Atau 35,872 Ton Kering per panen (45 hari) (Gambar 25).
Kualitas rumput laut yang baik banyak merujuk pada kualitas gel strength dan kandungan karaginan Menurut Doty (1985) tentang CAY (standar kadar karaginan) bagi rumput laut sebesar 40%. Menurut Dawes, C.J (1981) bahwa kadar karaginan sangat dipengaruhi oleh kondisi setempat, dimana siklus hidup algae juga berperan dalam menentukkan kualitas karaginan. Zaitsev (1969) dalam Syaputra (2005) menyatakan bahwa kandungan karaginan dari rumput laut sangat bervariasi tergantung spesies, tahap pertumbuhan dan kondisi lingkungan setempat.
Adapun strategi pengembangan yang perlu dilakukan dalam hal budidaya rumput laut secara umum dapat dilakukan dengan melalui upaya pengelolaan lingkungan perairan berbasis ekologis, penataan kawasan sesuai daya dukung lingkungan, dan aspek teknologi dalam budidaya. Dalam hal pengelolaan lingkungan perairan berbasis ekologis perlu adanya penataan, pengaturan jumlah tali yangboleh beroperasi dan jarak tanam yang sesuai dengan daya dukung lingkungan. Dalam kasus budidaya di teluk kertasari jarak tanam antar rumpun hanya 15 cm sampai 20 cm sedangkan jarak tanam antar rumpun ideal adalah 30 cm. Jarak tanam yang terlalu rapat akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan cabang thalus rumput laut disamping itu akan menyebabkan kompetisi dalam hal nutrient, serta menimbulkan penyakit. Menurut Scones (1993) dalam Bengen (2006) bahwa daya dukung ekologis adalah jumlah maksimum individu pada suatu lahan yang dapat didukung tanpa mengakibatkan kematian karena faktorkepadatan, serta terjadinya kerusakan lingkungan secara permanen.
Menurut Dahuri (2004), konsep pembangunan berkelanjutan dari dimensi ekologis adalah menjelaskan bagaimana mengelola semua kegiatan pembangunan yang ada disuatu wilayah, yang berhubungan dengan pesisir, agar total dampaknya tidak melebihi kapasitas fungsionalnya bagi kehidupan manusia yang meliputi antara lain sebagai penerima limbah. Dengan demikian untuk pengembangan budidaya rumput laut di Kabupaten Sumbawa Barat harus mengacu pada konsep pembangunan berkelanjutan yang berbasis ekologis dimana total dampak kegiatan budidaya rumput laut di daerah ini tidak melebihi kapasitas fungsionalnya bagi manusia di sekitarnya atau dengan perkataan lain kegiatan budidaya rumput laut yang ada tidak boleh atau dicegah menghasilkan limbah yang berbahaya bagi manusia yang ada disekitarnya.
Gambar 25. Estimasi perhitungan produksi rumput laut
Bengen (2006) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan dalam dimensi ekologi memiliki prasyarat a) aktivitas harus didasari pada pertimbangan ekologi dan perencanaan spatial. Perencanaan penggunaan lahan merupakan puncak aktivitas yang sangat penting, b) kegiatan yang ada saat ini dan di masa mendatang harus terencana dan dikelola agar limbah yang dihasilkan dibawah kapasitas asimilasi lokal, c) sumberdaya alam yang dapat diperbaharui hendaknya tidak dieksploitasi melebihi kapasitas regenerasinya.
Pada strategi penataan kawasan budidaya rumput laut ini perlu juga dipertimbangkan dukungan penerapan teknologinya seperti teknologi budidaya yang digunakan. Khususnya bagi kegiatan budidaya rumput laut yang dilakukan secara intensif akan memungkinkan berdampak pada lingkungan perairan selain memiliki konsekuensi meningkatnya biaya operasional. Penggunaan lahan yang efisien untuk pengembangan budidaya rumput laut diharapkan dapat mengalokasikan sumber daya budidaya pada lokasi yang dinilai layak dan tidak melebihi daya dukung lingkungan perairan, sehingga diharapkan memberikan peluang bagi keberlanjutan usaha budidaya. Oleh karena itu daya dukung ekologi harus diperhitungkan dalam mengembangkan usaha budidaya rumput laut.
30 Cm 100 m 1 m 30 Cm